Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 54


__ADS_3

Dengan wajah lelah dan langkah gontai Quen pulang kerumah. Bahkan ia juga memarkir asak mobilnya, ia masuk ke dalam segera menuju ke kamar, melemparkan tasnya dan berbaring di atas kasur begitu saja.


Gadis itu mengehembuskan napas panjang, tatapan matanya kosong menerawang memandang ke arah langit-langit kamarnya.


Rupanya kepalanya dipenuhi dengan. Banyangan-bayangan buruk yang sejujurnya tak pernah dia inginkan.


Quen memejamkan matanya dengan erat, seolah ingin melepaskan semua beban pada pundaknya.


"Kenapa jadi begini? Ya tuhan yang maha pemilik hati, jatuhkan cinta ini pada sosok yang tepat. Jangan biarkan cintaku ini membawa luka dan duka pada semua pihak. Akupun juga tak ingin sakit dan terluka.


Dreeeet... Dreeeettt.... Dreeeet!


Quen memandang ke arah tasnya begitu mendengar getaran dari dalamnya.


Dengan malas diraihnya tas itu dan mengambil benda pipih dari dalamnya. Terlihat olehnya nama Aditya yang tengah menelfonnya.


Quen melihatnya sekilas juga tersenyum, senyumnya sangat kecut. Tak cukup lama membiarkannya hingga me panggilan kedua ia baru mengangkatnya.


"Halo,"


"Sayang, kau di mana? Apakah kau akan datang ke rumah siang ini?"


"Maaf, Dit. Aku capek, nanti juga mama ajak aku lihat gaun, sory ya tadi aku gak bisa jemput Axel, dan nanti aku juga tidak bisa ke mana-mana."


"Ya sudah, kau istirahat saja sayang. Tapi aku kangen banget sama kamu. Boleh, kan aku menemuimu nanti?"


"Kapan?"


"Bagaimana kalau kiya makan malam di luar berdua saja?" Usul Aditya.


"Boleh, ya sudah aku istirshat dulu, ya?" Gadis itu pun mematikan panggilannya. Dengan asal dilemparkannya benda pipih itu dan bergulung ke tepi ranjang meraih kalender meja yang berdiri di sebelah lampu kamar pada nakasnya. Ia melihat seluruh tanggalan dan menghitung dari hari ini menuju pada tanggal yang dilingkar kurang duabelas hari.


Kembali gadis itu mendesah pelan dan mengembalikan kalender itu. Dan masih baringan dengan malas ia menutup wajahnya dengan bantal.


Merasa bosan ia pun bermaksut keluar kamar, turun ke bawah mencari sesuatu yang bisa di makak untuk sekedar ngilangin stres.


Tanpa sengaja Quen mendengar sesuatu yang aneh dari dalam kamar kakaknya, terlebih, pintu itu tidak ditutup sempurna, masih sedikit terbuka. Quen tersenyum kecil, jelas saja mereka lupa karena terbiasa di Jepang rumah sendiri, asal Bilqis sudah tidur atau bermain pasti bebas melakukan apapun.


Dengan cuek Quen turun ke bawah dan langsung menuju dapur, di ruang tengah ia melihat Lyli yang tengah asik menonton tv.


"Nona, Quen sudah pulang?" sapa gadis itu dengan ramah.


"Iya nih, kak. Mama kemana kok sepi banget rumahnya?"


"Ibu ngantar Nyonya, katanya mengantarkan undangan ke rumah saudara."


"Oh, nganter undangan, ya? Di kulkas ada apa kak? Katanya kakek kemarin beliin aku brownies ya?" tanya Quen sambil ngeloyong menuju dapur.


"Iya non, ada masih utuh, saya simpan bersama dengan buah-buahan," jawab Lyli sambil beranjak membantu Quen mengambilkan yang dia mau.


"Wah ada puding juga, Kak Lyli yang bikin?" tanya Quen terlihat tertarik.


"Nona Nayla yang bikin, Non. Buat Bilqis katanya," jawab Lyli sambil memotong kue untuk Quen.


"Oh, ua sudah, aku makan ini saja deh, makasih ya kak. Ucap Quen lalu kembali ke ruang tengah duduk bersandar di atas sofa sambil menonton tayangan tv yang baginya tidak ada menarik-menariknya.


Sedangkan Lyli ia kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


Tak lama kemudian terdengar derat kangkah kaki dari anak tangga. Semakin lama suara itu mendekat. Karena penasaran, Quen menoleh ke belakang ternyata kakanya, berjalan ke arahnya dengan mengenakan kaus berwarna hitam dengan tulisan SUPRIME di bagian dadanya.


Al duduk di sebelah Quen sedikit jauh hanya berjarak beberapa cm saja. Quen memperhatikan badan kakaknya yang masih berpeluh,mia tersenyum tertahan dengan tatapan aneh.


"Capek, Kak?" tanya Quen begitu melihat bekas merah yang mengintip pada lehernya. Karena sebahian besar tertutup oleh kaus yanh dia kenakan.

__ADS_1


"Aku baru saja istirahat kenapa harus capek?" jawan Al berlagak polos.


Quen diam saja, ia memalingkan pandangannya mengambil.satu suap brownies dan memakannya perlahan. Lalu kembali menoleh ke arah Al.


"Kak, apakah lehermu gatal setelah digigit nyamuk? Mau kuambilkan minyak kayu putih?" tawarnya masih dengan tawa tertahannya.


"apa, sih Quen?" tanya Al benar-benar bingung.


Akhirnua Quen mengambil smart phonenya, menyalakan kamera depan dan meminta Al untuk melihat bagian leher yang dia maksut.


"Nyamuk apa itu yang menggigitmu. Bahkan tidak bentol tapi warnanya... Hahaha." Gadis itu pun tidak mampu menahan tawanya.


Al melihat ke arah kamera sambil mengusap tanda merah pada lehernya, lalu memandang ke arah Quen dengan tatapan yang sudah di artikan. "Kau mau tahu ini nyamuk apa? Menggigitnya tidak sakiy dan juga tidak gatal, ia hanya meninggalkan bekas nikmat saja, lo. Kau mau mencobanya?" ucap Al dengan tatapan yabg seolah serius.


Mendengar kalimat itu dan ekspresi Al demikian  Quen merasa ngeri sendiri, walau dia pernah melakukan hal yang lebih dari ciuman, jika pun itu terjadi pasti akan kebablasan. Selain Al sudah beristri, dia juga pernah memberikan dirinya sendiri pada kakakknya tiga tahun silam.


"Aku akan menaruh piringku dulu lali mandi, sebelum mama datang, sebab hari ini dia mengajakku untuk melihat gaunku yang sudah jadi." Buru-buru Quen pergi ke dapur menghindar.


Ia juga berfikir kenapa kakaknya jadi berani begitu kepadanya. Padahal selama bertahun-tahun hidup bersama dia tidak pernah berkata seperti itu. "Ah, ini semua salahku, harusnya aku diam saja jangan menggodanya," batin Quen.


Al pun pergi meminggalkan ruangan itu. Ia kembali ke kamarnya bermaksut untuk tidur siang, tapi, ia urungkan saat melihat Quen berdiri di balkon. Masih ada hal yang mengganjal hatinya untuk di tanyakan. Terlebih begitu ia tahu kalai semalam ia mimpi buruk yabg berkaitan dengan pernikahannya.


"Quen, ada yang mau kakak tanyakan sama kamu." Al pun mendekati Quen berdiri di sampingnya.


"Mau tanya apa, Kak?"


Al menghela napas dalam-dalam. Dan mulai bertanya dengan sangat hati-hati. "Apakah kau yakin dengan pria yang akan kau nikahi ini?"


Quen terperanjat melihat ke arah Al. "Kenapa kakak menanyakan soal ini?" tanyanya sedikit tergagap, sebab dia tahu siapa Al, asal dia mau saja menyelidiki tentang orang yang ia kehendaki. Dalam duapuluh empat jam saja sudah lengkap ia dapatkan data diri orang tersebut.


"Aku ini kakakmu, tidak berhakkah peduli tentang hidup adikku sendiri?" tanya Al dengan serius.


Quen terdiam dan menunduk sejenak. "Awalnya aku tidak ada keraguan sama sekali terhadapnya. Dia sosok yang baik, penyayang dan setia, tapi semakin ke sini aku semakin bingung. Bahkan rasanya aku sulit berdamai dengan hatiku, kak."


"Ada apa? Ceritakan pada kakak."


"Tapi apa? Kamu bilang yang jelas, Queen!" tanya Al mulai tak sabar.


"Awal kenal dia pernah bercerita kalau akan setia menunggu mantan istrinya kembali dalam keadaan apapun demi Axel putra merek, dan tadi siang aku melihat mantan istrinya menemuinya di sekolahan Axel, aku berniaat menjemputnya, karena melihat kak Novita memohon sampai bersujut pada Aditya, aku pergi pulang..." Quen menjatuhkan air matanya dan tak sanggup lagi meneruskan kalimatnya.


Karena merasa iba, Al meraiu Quen dalam pelukannya sambil terus mengelus belakang kepala adiknya.


Ia mengambil kesimpulan sendiri berdasarkan cerita Quen, Aditya lebih memperhatankan adiknya dari pada mantan istrinya itu, tapi dari kebimbabgan Quen dia juga dapat merasakan kalau ia tak ingin merusak keutuhan keluarga orang. Bahkan keraguannya untuk melangkah juga demi calon anak tirinya agar tetap hidup bersama kedua orang tua kandung yang utuh.


"Kamu sabar, ya? Sekarang kamu maunya bagaimana? Memperhatankan Aditya, atau melepaskannya?" tanya Al dengan lembut.


"Aku gak tahu, Kak harus bagaimana. Jika aku lanjutkan pasti mantan istrinya akan terus menganggu kami, jika aku melepas, bagaimana kak? Undangan sudah tersebar luas dan aku tidak jadi menikah nama keluarga kita yang jadi taruhan." ucap Quen kesal sambil memukul dada Al.


Al tidak berkomentar apapun, semua yang dikatakan Quen adalah benar. Ia semakin erat memeluk Quen dan terus menenangkannya.


"Quen, kau tahu sesuatu?"


"Apa?"


"Lebih baik kau menyesal atas apa yang urung kau lakukan dari pada terlanjur terjadi."


"Apa maksut kakak?"


"Coba renungkan! Kau ragu menikah dengan Aditya karna mantan istrinya sudah mengajak kembali. Jika kau terus melanjutkan, apakah kau tenang? Siapkan kau berbagi suami? Sekalipun kau bercerai mereka yang tidak tahu tetap menganggapmu menjadi wanita ketiga. Tapi, jika kau mengurungkan benar nama baik keluarga kita lah yang jadi taruhannya. Tapi, itu hanya sebatas kata dari bibir-ke bibir, tidak akan menyiksa batinmu, tidak ada luka dan cemburu, memang semua ini ada resikonya dan perlu kau ingat keputusanmu hari ini akan terus berdampak pada kehidupanmu yang akan mendatang."


Quen diam memikirkan nasihat dari kakaknya memang benar, tap8 dia tidak sampai hati berlaku egois seperti itu terbayang wajah papa mama dan kakek neneknya silih berganti tersenyum padanya, apakah ia akan membalas kebaikan mereka dengan luka dan rasa malu?


Quem semakin terisak dalam pelukan Al.

__ADS_1


"Sudah, jangan nangis lagi, ya?" ucap Al sambil menyeka air mata Quen.


Quen pun menggangguk dan pergi ke dalam kamarnya.


Begitupun dengan Al ia masuk ke dalam kamarnya untuk melihat Nayla, sudah rapi atau belum, sebab, sebentar lagi Clara akan segera tiba.


"Nay, kau sudah siap, Sayang?" tanya Al begitu melihat istrinya sudah berpakaian rapi, tinggal menguncir rambut putrinya.


Nayla hanya diam tidak menjawab selain memandang sebentar ke arah suaminya.


"Bilqis main ke luar dulu, ya? Bisa, kan turun tangga hati-hati dan pegangan ya sayang," ucap Nayla begitu selesai mengikat dua rambut putrinya.


Dengan ceria bocah itupun keluar kamar dan menuruni tangga.


"Kau kenapa, Nay?" tanya Al mendekati ke arah istrinya.


"Kau pikir saja, Mas. Barusan apa yang kau lakukan dengan Quen?" tanya Nayla kesal.


Sementara Al diam sejenak, dia tahu dan paham kalau Nayla itu rasa cemburunya sangat besar. Tapi, apakah pantas dia cemburu pada Quen?


"Aku cuma menenangkan dia saja, Nay. Dia sedang dalam keraguan," jawab Al dengan nada rendah.


"Tapi kenapa harus pake peluk-pelukan, Mas? Tidak bisakah berbicara biasa? Aku ini istrimu, ada aku saja kau berani seperti itu bagaimana jika tidak ada aku?" cetus Nayla dengan suara sedikit meninggi.


"Nay, rendahkan suaramu!" Seru Al dengan nada datar.


"Kenapa? Kau takut adikmu tahu? Dia hanyalah adik angkatmu, agar diantahu diri dan mengerti batasan tidak pantas baginya peluk-peluk kakak angkat seperti itu, saudara kandungpun kalau sudah dewasa juga tidak akan begitu," ucap Nayla semakin meninggi.


"Nay!" Seru Al dengan keras, rupanua dia mulai geram terlihat dari sorot matanya yang semakin menajam, wajahnya juga tampak memerah dan tangannya dikepalkan kuat-kuat.


"Apa? Kau begitu menjaga perasaannya dari pada aku yang istrimu, Mas. Atau jangan-jangan.kalian sebenarnya saling suka? Momy mu pun juga sangat terlihat bagaimana perlakuannya tergadap aku dan Quen, dia lebih menyukai Quen, Kan? Wajar saja, aku berpendidikan rendah, miskin, janda dengan anak satu status sosial tidak punya, aku cuma orang jalanan sementara Quen.... "


"Cukup Nayla, kau jangan selalu cari masalah!" Teriak Al sambil memukul meja kaca dihadapannya hingga pecah.


Mendengar suara benda pecah dengan spontan Quen bangkit dan berlari menuju kamar Al yang tertutup rapat.


"Kau jangan cari masalah di sini, Nay. Aku dari kecio dibesarkan di rumah ini, dari kecil Quan hanya tahu aku ini kakak kandungnya, belum ada setahun setelah aku menikahimu dia baru tahu kalau aku ini anak angkat karena Lyli, apa yang Momy Jeslyn lakukan tak lebih dari sebagai ucapan terimakasih saja. Sedangkan kau ini tetaplah menantunya." Geram Al lalu keluar. Dia tidak ingin kehilangan kendali atau sampai memukul wanita. Selama di Jepang dia juga hanya diam mengalah sampai-sampai jarang menghubungi Quen jika bukan Quen chat duluan.


Beruntung Quen tidak mendengar pertengkaran mereka, karena mendengarkan musik melalui head phone. Bersamaan dengan lagu habis Al memukul meja kaca itu hingga pecah.


Al keluar tanpa peduli dengan darah yang mengucur di tangannya. Sementara Nayla dia kaget melihat Al yang bisa semarah itu. Ia menangis sambil menutupi wajah dengan kedua tangan antara menyesal dan merasa bersalah atas apa yang ia lakukan selama ini.


Ia sadar kalau dia itu keterlaluan. Ia hanya terlalu takut kehilangan suami sebaik Al, sebab pernikahannya dengan ayahnya Bilqis dulu ia gagal karna sekain KDRT, mantan suaminya doyan selingkuh.


Nayla masih terisak di dekat kasurnya.


"Kakak, barusan suara apa? Ya ampun, Kaaak, itu tangan kamu kenapa berdarah begitu?" Quen terlihat panik sampai-sampai ia menggigit ujung lengan kaus panjangnya. Berjalan mondar mandir antara masuk kamar atau ke bawah. Dan akhirnya ia menarik Al ke dalam kamarnya, karena ia juga memiliki P3K di dalam kanarnya.


"Kak, ini parah banget, harus di jahit," ucap Quen ketika melihat luka yabg lumayan dalam dan lebar saat membersihkan darah di tangan kakaknya.


"Ya sudah, kamu jahit, kamu ada, kan alatnya?" jawab Al dengan Cuek.


"I... Iya, ada kok. Aku suntik bius dulu, ya?" ucap Quen menyiapkan suntikan.


"Kamu ambil jurusan spesialis apa?" tanya Al dengan santai seolah tidak merasa sakit sedikitpun sejak awal.


"Dokter umum saja."


"Kenapa tidam ambil spesialis?"


"Sebab, orang yang tidak mampu hanya datang ke dokter umum karena lebih murah. Kecuali jika tidak ada jalan saja dan kepepet baru ke dokter spesialis. Sudah, kau jangan banyak bicara, ini cukup empat jahitan saja jangan sampai kena air, ya?" ucap Quen dengan serius.


Al hanya memandang adiknya yang nampak panik dan kawatir atas dirinya.

__ADS_1


Al menyeringai, ia merasa kalau Nayla akan tahu kalau dia sekarang berada di dalam kamar Quen. Entah iseng, emosi atau merasa selalu dituduh oleh istri, begitu Quen selesai memberikan jahitan di tangannya ia meraih belakang kepala Quen dan mengecup pipinya dengan waktu yang tidak singkat.


Quen hanya diam saja, karena dari dulu dia juga terbiasa, bahkan ia lupa kalau Al adalah kakak angkatnya, sebab ia sudah terbiasa dengan kebohongan kalau Al adalah benar-benar kakaknya. Terlebih memang ada sedikit kemiripan dengan papanya. Hanya saja, katanya papanya dulu play boy, sedangkan Al dia sangat pasif dan dingin sedingin gunung es.


__ADS_2