
"Al, aku mohon tetaplah di sini." Gadis itu berusaha mengejar Al, tak peduli di luar pintu ia memeluk pinggang Al dari belakang dengan sangat erat.
"Haruka, aku bilang lepaskan aku." Al berusaha penuh untuk tetap tenang meski emosinya sudah tinggi.
Dengan pelan namun kasar Al melepas kedua lengan gadis Jepang itu lalu memutarkan badan saling berhadapan.
"Kau jangan menguji kesabaranku, Haruka."
Bibir gadis itu terkatup rapat saat mendapi sorot mata pria di hadapannya tak lagi sama.
Perlahan-lahan ia mundur memegang ganggang pintu kamarnya.
"Selamat malam, Al. Bisakah kau besok pagi kemari lebih awal?"
"Ya," jawab Al singkat lalu ia pergi meninggalkan tempat itu.
****
"Kak, dari mana, kau?" tanya Quen saat melihat kakaknya baru masuk.
Sementara Lyli yang juga ikut makan tengah malam tersedak mendengar Quen menyapa seseorang dengan panggilan kakak.
Quen tersenyum geli melihat ke arah Lyli.
"Bahkan saking nervousnya kau sampai seperti, ini?" bisik Quen, lirih.
"Kalian ngapain semalam ini di sini?" tanya Al.
"Kami makan, kakak yang dari mana semalam ini berkeliaran."
"Aku ada urusan, ya sudah, kakak capek mau istirahat dulu, kalian cepatlah tidur."
Quen memperhatikan wajah kakaknya yang tidak seperti biasa, ia nampak terlihat sangat lelah.
"Non, tuan Al kenapa, ya?" tanya Lyli memberanikan diri.
"Aku tidak tahu, dulu dia tidak seperti itu."
*****
Pagi-pagi sekali Al sudah berdandan rapih, ia bergegas buru-buru pergi.
"Pagi sekali, Al. Mau kemana?" tanya Vano yang tengah bersantai sambil memegang koran.
"Ada urusan sebentar, Pa. Nanti Al akan segera kembali."
Anak itu pun langsung pergi begitu saja.
"Putramu sudah dewasa, Van. Usia duapuluh tiga tahun kau juga sudah pacaran, kan?" sahut Andreas sambil terkekeh.
"Oh, mana ku tahu, Ayah. Dia tidak seperti orang yang berpacaran."
"Hahaha, dia kan tidak sepertimu, Van. Kau dulu brapa gadis saja yang kau pacari? Kau kira ayah tidak tahu?" Lagi-lagi Andreas terkekeh sambil menyerupit secangkir kopi di hadapannya.
Lyli diam mematung di depan tempat cuci piring saat mendengar obrolan tuan tua dan tuan nya itu. Pikirannya menerawang entah kemana, mungkinkah dia patah hati?"
"Lyli. Apakah wortelnya sudah kau cuci? Lyli... Lyli, halo!" Seru Clara berulang kali.
"Ah, maaf Non. Ini sudah."
Clara mengamati Lyli yang sedari pagi terlihat banyak melamun. Menurutnya ini aneh.
Dari atas tangga Quen turun dengan hot pans dan kaus strit yang memamerkan lekuk tubuhnya berwarna putih berjalan lengkap dengan running shoes putih sambil mengikat ekor kuda rambutnya.
"Kau mau kemana, Quen?" tanya Vano.
"Mau jalan-jalan sama temen, Pa."
"Tidak sarapan dulu?"
"Nanti saja, daaa." Gadis itu pun dengan semangat berlari keluar rumahnya.
Cukup lama ia berjalan dengan orang-orang di sekitar rumahnya. Bahkan dialah yang paling muda, dan gadis.
Kebanyakan dari mereka juga kaum ibu-ibu pkk seusia mamanya.
Meski tak jarang para lelaki bujang yang turut menyapa dan ikut ngobrol dengan Quen.
__ADS_1
Quen anaknya memang ramah, dia baik pada siapapun. Hampir seluruh RW di tempat ia tinggal semuanya di kenalnya.
"Quen, sendiri saja, nih?" sapa pak RT yang juga joging bersama kedua anak dan istrinya.
"Iya, Pak. Dari dulu juga selali sendiri, kan, saya." Quen tersenyum ramah.
"Sini, Quen gabung sama kita!" Seru bu RT.
"Kamu kelas berapa sekarang?" tanya bu RT lagi.
"Kelas dua SMA, Bu."
"Oh, kurang satu tahun setengah lagi lulus, donk. mau lanjut ke Universitas mana?"
"Belum tahu juga, Bu. Belum kepikiran soalnya," jawan Quen.
"Atau ingin seperti abangnya saja, nih. Kuliah di Jepang?" tanya Pak RT.
Kini mereka bertiga terlibat obrolan yang akrab, hanya Rico saja, putra sulung pak RT yang masih kuliah smester empat nampak diam dan malu-malu pada Quen.
"Eh, sebentar, Pak, Bu. Ada telfon." Quen pun berlari mencari tempat yang jauh dari keramaian.
Ia mengangkat panggilan dan dengan segera pergi.
"Pak, RT, Bu RT. Mohon maaf saya pamit dulu ada keperluan," ucap nya sopan lalu pergi dengan mengendarai ojek online yang sudah di pesannya.
Tiba di tempat tujuan, terlihat olehnya dua pria dan wanita tampak berdebat, si wanita terus protes dan marah-marah sementara prianya diam dan memasang Ekspresi dingin.
"Ini, pak." Quen memberikan selembar uang puluhan ribu.
"Mbak, kan uda bayar lewat aplikasi."
"Ini, tips buat bapak," ucap Quen lalu berlari ke arah dua orang yang dilihatnya.
"Sayang, kau kemana saja?" Quen mengalungkan kedua lengannya di leher pria itu lalu mencium pipinya, sedikit mengenai bibir.
Sementara pria itu hanya diam tak menjawab, tangan kirinya memeluk pinggang Quen.
"Iam sorry, who is you, Miss?" Quen bertanya pada gadis Jepang yang masih berdiri di depan mereka.
"Al, siapa dia? Apakah kau sudah mempunyai pacar? Kenapa kau hanya diam saja selama ini?" tanya gadis itu dengan bahasa Jepang.
"I am his wife, do you like my husband, miss?"
Haruka berlari sambil menahan air matanya tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Urusannya sudah beres, ayuk kita pulang, Kak."
Quen melangkah berjalan sekitar sepuluh meter ia baru sadar kalau Al masih tertinggal di belakang.
"Kak, kau mau berjemur dengan berdiri saja di sana?" teriak Quen.
Dengan gugup pria itu menyusul adiknya, dan mengajaknya ke mobilnya yang diparkirkan tidak jauh dari sana.
"Kenapa melamun? Kau menyesal mematahkan hati wanita itu?"
"Tidak, trimakasih, ya."
"Gak bisa cuma trimakasih saja," jawab Quen cemberut.
"Lalu kau minta apa? Traktir?"
"Hmm biar kupikirkan dulu aku mau apa, sekarang masih belum ada maunya."
****
Haruka kembali ke kamar hotelnya sambil berlinangan air mata. Gadis itu menutup menggebrak pintu dengan kasar saat tiba dikamar, ia menangis dan membanting semua barang-barang di nakasnya untuk melampiaskan emosinya.
Dengan cepat ia menyalakan laptonya, melakukan panggilan video dengan seseorang.
Tak lama kemudian muncul wajah seorang pria bermata sipit usinya sekitar lima puluh tahunan di layar monitornya.
"Haruka, apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?" tanya pria itu dengan ekspresi khawatir.
"Ayah, Al ternyata sudah memiliki istri, kenapa selama ini aku tidak tahu?" ucap Haruka sambil sesenggukan.
"Ayah sudah bilang padamu, Al bukanlah pria yang bisa kau sentuh, memang dia bukan asli orang Jepang, tapi kekuatannya melebihi mafia nomor satu Jepang."
__ADS_1
"Srooooott!" Gadis itu membuang ingusnya dengan tisu yang ada di hadapannya, lalu melanjutkan bicara.
"Memang tidak adakah jalan lain ayah untuk aku bisa dengannya?"
"Ayah sudah bilang, dengan dia mau bekerja sama dengan kita saja itu sudah bagus, artinya tidak akan ada musuh yang berani mengusik perusahaan kita, kau jangan menghancurkannya!" Seru pria dalam monitor itu lalu layarpun kosong.
Haruka semakin menangis menjadi-jadi saat sang ayah juga angkat tangan.
Tiga puluh menit kemudian, saat ia sudah mulai tenang. Terdengar ketukan suara pintu dari luar kamarnya.
Dengan segera Haruka beranjak membukakan pintu berharap itu adalah Al.
Tapi, ternyata dia salah, dua orang pria dan seorang wanita berdiri di ambang pintu. Orang suruhan ayah haruka yang berada di Indonesia.
"Nona, kami akan bantu anda berkemas-kemas, kita akan ikut penerbangan malam ini kembali ke Jepang." Wanita itu langsung membereskan barang-barang Haruka yang berserakan di sana sini.
"Kalian bereskan saja dulu, jangan ada yang tertinggal, aku akan pergi sebentar," ucap Haruka lalu beranjak sambil menylempangkan tas tangannya.
Haruka berjalan-jalan di sekitaran hotel dan kembali ke tempat yang tadi pagi dia kunjungi dengan Al.
Ia mengelurkan gawainya lalu memanggil seseorang, Al.
"Al, bisakah kita bertemu sebentar di tempat kita sarapan tadi pagi?"
"...."
"Aku janji tidak akan seperti kemarin, aku akan kembali ke Jepang nanti malam. Tolong, temui aku sebentar saja."
"...."
Sekitar dua puluh menit setelah ia mematikan panggilannya muncul di hadapannya pria dengan gaya rambut cepak ala Abri berdiri dengan kaus berwarna hitam dan jens abu-abu gelap.
Haruka memandangnya dengan tatapan yang susah dijelaskan, bibirnya tersenyum, namun, matanya menitikan buliran bening di pipinya.
"Benar kata ayahku jika kau memang pria yang tidak bisa kusentuh, Al. Dan aku sadar, pria sepertimu pasti sudah mengalami banyak kesusahan sampai bisa berdiri sendiri di antara jajaran orang-orang penting kelas Internasional. Dan jelas, aku tidak pantas bersanding denganmu. Aku cuma gadis manja yang hanya bisa mengandalkan kekuatan orang tuaku, tidak seperti istrimu, pasti dia juga demikian, kan?"
Gadis itu menyeka air matanya dan meraih tangan Al dan meletakan sesuatu padanya.
"Berikan pada istrimu, agar hubungan kalian bisa abadi selamanya, itu adalah gelang keberuntungan. Selamat tinggal, Al." Gadis itu berbalik dan langsung pergi meninggalkan Al sambil terus menyeka air matanya.
"Nona, kita akan ke bandara sekarang, apakah anda sudah siap?" tanya seorang wanita yang tengah menjemput Haruka di hotel sejak siang tadi.
Haruka tidak menjawab apapun, ia mengangguk pergi sambil menenteng tas tangannya.
Ia berhenti sejenak lalu menoleh ke arah kamarnya lagi saat ingatannya tertuju pada kejadian kemarin malam, ia memeluk erat Al dari belakang dan melarangnya pergi.
Kini tidak ada rasa selain membenci dirinya sendiri yang dirasakan Haruka saat tahu Al adalah suami orang.
****
Al berdiri di atas loteng belakang kamarnya sambil mengamati gelang manik berwarna hitam pemberian Haruka sore tadi, lalu memasukannya ke dalam saku celananya.
"Al, kenapa diam di sini sendiri? Ayuk kita makan malam!" Ajak Clara yang tiba-tiba saja muncul dari belakangnya.
Al menolah tidak menjawan atau sekedarĀ meng iyakan ajakan mamanya, ia malah terpaku melihat mamanya yang tiba-tiba saja muncul.
"Hey, sayang. Kau, melamun?" tanya Clara sambil melambaikan tangannya di depan wajah putranya seraya tersenyum.
"Ah, Mama ini. Al tidak melamun, kok," jawab Al tersenyum canggung.
"Lalu kenapa? Ayuk makan malam dulu, semua sudah menunggu di bawah."
"Mama." panggil Al saat Clara melangkah meninggalkannya.
"Ia, Sayang?"
Al berjalan menyusul Clara meraih tangan kirinya dan memakaikan gelang manik hitan di pergelangan mamanya.
"Apa, ini? Wah, keren sekali. Kau, dapat dari mana, Sayang?" tanya Clara tersenyum senang.
"Dari teman di Jepang. Beberapa hari ini dia kemari dan saat berpamitan padaku akan kembali memberika itu padaku, Ma," jawab Al sambil tersenyum.
"Dan kau memberikan ini pada mama?"
"Keberuntungan Al bukanlah gelang itu, tapi Mama dan papa yang sudah..."
"Ssttt!" Clara memotong kalimat Al sambil meletakan telunjuk di depan bibirnya.
__ADS_1
"Jangan kau bahas, kami tidak ingin Quen, atau siapapun tahu mengenai hal ini, ya. Kami tidak menganggapmu sebagai anak angkat lagi. Jadi, jangan bikin kami sedih, ya?" ucap Clara lembut.
Al melihat wanita itu melangkah dengan anggun berjalan mulai menjauhinya.