
"Sudah, tidak ada balasan yang pantas dia terima selain karma. Dipukul sampai dia matipun, tak akan bisa kembalikan keprwananku. Lepaskan saja dia, kak."
"Oke jika itu maumu. Tapi, aku akan memberi dia bonus." Seketika Axel memberi satu tinjuan dengan keras tepat di tengah-tengah wajahnya. Sampai kursinya terpelanting jatuh ke belakang, saking kerasnya juga, pria tua itu pun pingsan.
"Haah.... " Bilqis terkejut dengan apa yang Axel lakukan. dia hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua tangannya saja.
"Sudah tidak apa-apa. Kita kembali sekarang?" tanya Axel pada Bilqis.
"Tentu saja, mau ngapain memang di sini?" timpal gadis itu.
"Oke, karena kau ingin kita segera kembali, ayo, tutup matamu lagi," ucap Axel sambil menyiapkan dasi miliknya yang tadi ia gunakan untuk menutup mata Bilqis saat berangkat kemari.
"Kak Axel. Boleh aku bertanya padamu?"
"Apa?" jawab Axel sambil mengikat dasinya di belakang kepala Bilqis.
"Kenapa harus menutup mataku? Apakah tempat ini sangat rahasia? Tempat apa ini sebenarnya?" Rupanya gadis itu sangat penasaran. Ia memang tida pernah tahu, seperti apa pekerjaan papa tirinya dulu selain seorang pengusaha. Dia juga seorang mafia. Jangankan Bilqis, Nayla saja tidak tahu akan itu.
Axel diam, mencoba berfikir bagaimana cara dia memberi jawaban pada Bilqis, sekiranya dia tidak membawa nama papa Al tentang tempat dan masalah yang ada di dalam tempat ini.
"Kak Axel?" Panggil Biqlis lagi, karena ia tak mendapati jawaban apapun.
"Iya, Bilqis," jawab Axel sedikit tergagap.
"Kukira kau pergi meninggalkan aku sendiri," timpal gadis itu, sambil mengangkat kedua tangannya ke depan, meraba udara, karena ia takut ada sesuatu yang nanti akan dia tabrak. Karena dia tidak bisa melihat apapun. Pandangannya gelap gulita.
"Bagaimana bisa aku pergi sambil menuntunmu keluar?" jawab Axel dengan nada bicara yang jauh berbeda dari sebelumnya.
"Habis, aku tanya kau diam saja."
"Ini adalah milik temanku. Ini adalah tempat berlatih ilmu bela diri. Tapi, hanya anggota resmi yang sudah lama bergabung saja yang tahu tempat ini."
"Kenapa begitu, kak?" tanya Bilqis penasaran.
"Ya, karena tempat seperti ini banyak diincar. Banyak kan organisasi bela diri yang saling serang? Itu dilakukan demi menghindari mata-mata. Jadi, jangan berfikir macam-macam terkait tempat ini, oke?"
"Baik."
Mereka pun akhrinya tiba di dalam mobil, karena kondisi mata Bilqis tertutup, Axel memasangkan sabuk pengaman untuk Bilqis.
"Kau mau kuantar pulang ke mana? ke rumah mama Queen, atau.... "
"Ya, ke rumah mama Queen saja. Mamaku sudah pulang setelah makan malam tadi," timpal gadis itu cepat. Memotong kalimat Axel.
"Oke." Kalimat itu rupanya jadi kalimat terakhir yang terucap dari bibir Axel Keduanya sama-sama membisu sampai tiba di tujuan.
Tiba di depan pagar, Axel memanggil Bilqis sebelum dia keluar dari mobil miliknya.
"Bilqis!"
"Iya, Kak?"
Gadis itu menoleh sambil tak meneruskan gerakan tangannya yang hendak membuka pintu mobil.
"Kau tadi berkata akan karama. Apa perlu kucari anak istri atau cucu perempuannya diperlakukan sepertimu? Bukankah itu pantas?" ucap Axel. Banyak bergaul dengan Vico dan sering ikut berlatih di sana, membuat Axel sedikit terpengaruh saja. Meskipun dia tidak akan benar-benar melakukannya. Tapi, lain lagi ceritanya kalau Bilqis nanti mengiyakan.
"Kak, apakah jika kau digigit anjing kau akan gigit balik anjingnya?"
Axel tidak menjawab. Dia hanya diam menatap Bilqis saja. Dia tidak akan pernah grogi dengan gadis yang tidak ia cintai. Coba saja jika ini Berlyn yang mengatakannya. Sudah jelas ia akan kikuk dan cengar-cengir sendiri.
"Aku heran sama kamu, Bilqis. Tidak menyangka kamu bisa berfikir demikain," ucap Axel.
__ADS_1
"Justru aku yang heran denganmu, Kak. Kenapa kau bisa berubah menjadi begitu jahat dan tega?"
"Ini naluri laki-laki, Bilqis. Dia tidak akan terima saudari perempuannya ditindas. Bukankah kau tahu, mama Queen dan papa Al dulu adalah saudara angkat?"
"Iya, kau benar. Oh Iya, Kak. Kau menginap, apa pulang?" tanya Bilqis.
"Aku pulang saja. Kasian Adiel," jawab Axel. Kemudian ia melajukan kendaraannya setelah Bilqis turun dari mobil. Tanpa melambaikan tangan dan langsung lurus saja.
***
Sementara setelah menemani keponakan angkatnya melakukan apa yang ingin dilakukannya, Vico langsung menghubungi Al kalau Axel baru dari markasnya bersama Bilqis.
Al yang sudah berada di kamar bersama Queen, sebenarnya merasa sedikit terganggu dengan pangilan dari Vico. Sebab, bocah itu sering tak tahu diri memerintah dirinya yang sebenarnya adalah bosnya tanpa kenal waktu. Bodohnya lagi, Al juga mau-maunya menuruti itu layaknya abdi sejati. Namun, walau begitu, Vico juga tahu diri dan mengerti batasan. Hanya saking akrabnya aja, mereka seperti saudara saja. Tak ada istilah bos dan bawahan antara mereka berdua.
"Siapa, malam-malam begini telfon?" tanya Queen dengan tatapan mata tajam menatap ke arah Suaminya.
"Ini dari Vico. Aku agkat sebentar, ya? Kali saja dia ngasih info penting," ucap Al meminta izin pada istrinya yang sudah bersungut-sungut.
"Terserah! Tidur di luar juga tidak apa-apa," timpal Queen. Ngambek langsung tarik selimut dan membelakangi Al yang tengah memegang ponselnya.
Tak ingin istrinya ngambeg, Al tidak keluar dari kamar. Jangankan keluar, menjauh dari ranjang saja tidak. Dia mengangkat panggilan itu sambil rebahan di atas ranjangnya. Sedangkan tangan sebelahnya ia gunakan untuk mengelus punggung Queen, berharap dia tidak jadi ngambeg atas tindakannya.
"Halo, ada apa, Vic?"
"Kau ada masalah dengan keluargamu kenapa tidak cerita aku, sih? Apa kau sebenarnya tidak peduli dengan anak tirimu itu?"
"Bilqis, maksutmu?" Al sudah bisa menebak jalan pikiran Vico. Tapi, apa yang baru saja terjadi, dia memang benar-benar tidak mengerti. Tapi, jika memang Vico tahu akan permasalahn ini, tahu dari mana dia?
"Iya, Barusan Axel ke sini bersama Bilqis."
"Apa?" tanya Al terkejut, seketika ia langsung bangkit dan duduk. Ada banyak hal yang ia khawatirkan terkait masalah ini.
"Kau cerita jangan setengah-setengah. Jadi, kemungkinan Bilqis tidak tahu, dia berada di mana, ya?"
"Ya, tepat sekali. Sebelumnya dia meminta bantuanku untuk mencari tiga orang. Tapi, aku baru menemukan seorang saja, dia adalah salah satu orang yang melecehkan anak tirimu itu. Axel menghajarny tanpa ampun di depan Bilqis."
Al diam tidak menjawab, ia berfikir, apakah dia mulai membuka hati pada Bilqis? Lagi pula, sejauh ini dia berusaha mendekati putrinya, dia juga tidak pernah merespon. Berlyn justru lebih ceria harinya saat ia bersama Adriel, adiknya Axel sendiri.
"Kenapa kau diam? Apakah kita berfikiran sama?"
"Kurasa begitu. Oke, karena ini sudah malam, aku harus menemani nyonyaku dulu. Dia lelah seharian ini, byee." Al pun mematikan panggilannya. Takut Vico menerornya, ia pun menonaktifkan panggilan. Dari pada malamnya terganggu, mencegah bukankah lebih baik?
****
"Bagaimana? Apakah sudah ada perkembangan?" tanya seorang gadis berambut lurus yang memiliki wajah cantik dan sorot mata yang tajam pada dua pria bermata sipit di depannya.
"Satu pelaku berhasil di tangkap oleh orang yang berada di Indo, Nona. Kabarnya, juga sudah dihajar habis-habisan oleh tuan Axel." jawab salah satu pria Jepang itu dengan wajah menunduk dan santun pada gadis yang mungkin sangat pantas menjadi anak, atau keponakannya.
"Lalu, bagaimana mereka akan mengurus bandot tua itu selanjutnya, Paman?" tanya Clarissa dengan sopan. Sekalipun dia memiliki posisi tertinggi, dia juga tahu diri, usianya sangat muda. Tak pantas baginya memanggil nama pada orang yang lebih tua darinya. Jika yang masih berusia duapuluhan, dia juga memanggilnya kakak.
"Kemungkinan besar juga akan kembali dilepaskan, Nona."
Oke, minta orang kita menguntit, saat dia dilepaskan, usahakan kalian bisa mengambilnya dengan cepat. Jangan sampai ada yang tahu, karena papaku tidak tahu masalah ini," ucap Clarissa kemudian ia pun meminta dua pria itu keluar dari ruangannya.
Sementara Clarissa bingung harus berbuat apa. Tetap melakukan dengan cantik tanpa ikut terlibat demi keselamatan Berlyn, atau turun tangan sendiri? Untuk mengurangi rasa stressnya,ia coba memukul-mukulĀ pulpoin di tangannya ke atas meja. Kemduan matanya diedarkan pada sebuah kalender meja yang dia beri coretan sama seperti yang di lakukan Berlyn di sana. Kemudian, gadis itu tersenyum jail. Jika sudah begini, pasti dia memiliki ide gila yang membuat banyak orang jantungan.
Dengan cepat, dia meraih ganggang telfon di hadapannya dan meminta pada anak buahnya agar menyiapkan penerbangan ke Indonesia saat ini juga.
"Oke ini akan kuanggap liburan. selagi urusanku belum sukses, aku akan merahasiakan ini dari yang lain," umaumnya seorang diri
Empat hari sebelum dia dan saudarinya berulang tahun, ia sudah berada di Inonesia. Negara di mana dia di lahirkan. Dengan cepat dicarinya Tiara dan tiga orang yang telah melakukan kekerasan seksual pada Bilqis.
__ADS_1
"Sudah ada informasi belum, Paman?"
"Kita tidak tahu wajah yang dua orang itu, Nona Jenny."
"Lakukan introgasi pada pria itu. Pintai alamat dan kontaknya yang jelas," pinta Jenny.
"Baik, Nona. Lalu, sekarang anda ingin kami lakukan apa? Lagian, juga sudah ada sebagian mengintrogasinya?"
"Cari Tiara. Dia sudah jadi buronan polisi. Kita harus mendapatkannya lebih dulu dari mereka.
"Baik, Nona. Ya sudah kerjakan saja dulu. Aku harus menemui Alyn. Aku kangen sama dia."
"Perlu kami menculiknya, Nona?" tanya salah satu orang yang dulu jua pernah melakukan hal itu pada Berlyn saat keduanya tengah bertukar tempat dan peran.
"Jangan! Jangan bikin dia takut. Aku akan menghubunginya besok," jawab Clarissa.
Clarissa mengirimkan pesan pada kembaranya. dia memberitahu akan kalau dirinya sekarang berada di Jakarta dan ingin bertemu meskipun tidak saat ini mungkin nanti juga bisa. Asal, hari ini juga.
kebetulan juga hari ini Berlyn juga ada acara diluar bersama Axel untuk menjadi suporter tim Adriel saat melakukan pertandingan bola basket antar sekolahan.
"Jadi jam berapa kita bisa ketemu? Tolong, rahasiakan ini dari papa dan mama, ya? Ama pun juga tidak tahu tentang ini," pesan Clarissa
"Oke, beres. Aku akan merahasiakannya. Nanti aku akan cari alasan agar mereka bisa pulang lebih dulu," jawabnya. Melalui pesan WhatsApp
"Berlin! Kak Axel sudan datang. Kau sudah siap, apa belum, Nak?" panggil Queen dari luar.
Berlin berlari menuju pintu kamarnya. Lalu mengintip keluar. Benar saja di ruang tamu dia melihat Axel tengah duduk bersama papanya dia sudah bersiap dengan kaos suporter dari tim Adriel.
Karena dia belum mendapatkan kaos suporter, dan kata Adriel miliknya dititipkan pada Axel. Maka gadis itu pun keluar meminta kaos suporter untuk mendukung timnya Adriel.
"Apa kau sudah siap, Lyn? Ini punya kamu, kegedean apa tidak? Itu sudah ukuran paling kecil," jawab Axel sambil menyodorkan kaos oblong berwarna biru dengan logo nama tim bola basket Adriel di bagian depannya.
Gadis itu menerima dengan senang hati gadis itu menerima kaus tersebut dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Tidak berselang lama dia keluar dan sudah siap dengan rambut yang ia ikat ekor kuda. Membuat ia terlihat sangat energik sekali. Axel sendiri bahkan sempat terpana dibuatnya.
"Kau sudah siap? Ayo kita bersngkat sekarang," ajak Axel kemudian pria itu memamitkan Berlyn pada papa dan mamanya.
Sesampai di mobil, Axel mencondongkan tubuhnya ke samping ke arah Berlyn sehingga gadis itu jadi sedikit salah tingkah dan gelagapan. Jika saja dia bisa bicara, pasti gadis itu sudah bertanya, 'Apa yang mau kau lakukan?' Tapi, karena dia memiliki keterbatasan, jadi hanya lewat ekspresi wajah saja. Seban, mundur pun juga tak bisa.
"Kenapa ekspresi mu seperti itu, Berlyn? Aku memasangkan sabuk pengaman, aku tidak mau kena tilang lagi," ucap Axel sambil tertawa dan menyentil hidung bangir cewek di sebalahnya.
Memang, mereka pernah keluar bersama dan ketika Axel pulang dari kampus ia mendapat surat tilang dari polisi karena penumpang di sebelahnya tidak mengenakan sabuk pengaman, dan itu adalah Berlyn.
Gadis itu tersenyum malu-malu sambil membuang wajah ke arah jendela mobil.
"Berlyn!"
Seketika gadis itu menoleh ke arah Axel.
"Dari ekspresi kamu barusan Sepertinya kau berfikir aku akan mencium mu, ya? Kurasa tak masalah. Kau sudah dewasa sekarang. Lusa juga usiamu sudah tujuh belas tahun." Axel kembali mendekatkan tubuh dan wajahnya pada wajah Berlyn.
Berlyn yang hampir tidak percaya ini ia hanya diam terpaku. Gerakannya juga sekarang sudah tidak bebas lagi.
Kali ini Axel benar-benar nekat dan tak bisa lagi menahannya. Dia benar-benar mencium bibir gadis itu cukup lama. Jantung keduanya berdegup kencang setelahnya. Axel menatap Berlyn dengan lembut.
Sementara Berlyn tidak berani menatap wajah Axel sedikitpun. Dia merasa grogi dan nervous.
"Biar aku katakan sekarang, aku sangat mencintaimu, Berlyn." Lagi, pria itu mencium tangan gadis di sampingnya.
Tapi, Berlyn masih tidak memberi respon. Ekspresinya juga tetap sama.
"Oke, kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Mungkin bisa nanti, atau kapan-kapan. Mungkin juga di hari ulang tahunmu. Aku berjanji akan selalu menyayangimu dan mencintai setelus hati. Akan kujaga dan kubahagiakan kau seumur hidupku," ucap Axel. Ia segera menyalakan mobil karena suasana menjadi kaku dan canggung. Tapi, di setiap kesempatan pria itu tidak ada bosan-bosannya menatap wajah Berlyn dari samping. Baru kali ini ia merasa sangat bahagia meskipun ia sendiri tak tahu apa jawaban Berlyn.
__ADS_1