Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 151


__ADS_3

Mama Rita merasa badannya bergetar darahnya seolah mendidih melihat Helena di depannya ingin dia marah dan memaki-makinya tapi, ia tahu, tidak mungkin. Biarlah semua terbongkar dengan jelas dulu.


Tak lama kemudian, Novita dan suaminya pun datang. Alex mempersiapkan mereka masuk ke dalam dan meminta bibi membuatkan minuman untuk tamu-tamunya.


Alex mulai bimbang saat mendapati wajah kakak satu-satunya itu terlihat ceria dan semangat. mau di lanjut, atau tidak ini? pikirnya.


Tapi, dadanya sudah terlanjur sesak. Kejahatan Aditya dan Helena tak bisa dibiarkan. Jika menutupi kebohongan demi kebahagiaan kakaknya, sama aja dia membunuh Novita pada akhirnya kelak. Karena tak ada sedikitpun kejahatan yang mampu dicover dengan sempurna.


"Helena, kamu sejak kapan kenal baik dengan saudara iparku?" tanya Alex sambil menatap tajam pada wanita yang baru dinikahinya itu.


"Kenal baik gimana, Lex? Bukankah kita ini saudara?" jawab Helena, bingung. Sebab ia merasa kalau Alex tak mengetahui apapun tentang hubungannya dengan Adit.


"Oh, ya? Ok. Sekarang aku mau tanya sama kak adit apakah setiap wanitaku itu menarik bagimu? Tidak Queen, tidak Helena semuanya sama ingin kau mendapatkan. Hanya saja Helena terlalu murahan sampai mau kau tiduri dan bahkan rela mengandung anakmu."


Novita menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Terkejut atas apa yang dikatakan adiknya.


'Tidak, ini cuma salah paham saja, kan? Aditya cuma mencintai ku saja. Jangankan Helana, wanita sehebat Quen saja ia tinggal demi aku. Alex salah paham ini tidak benar,' batin Novita.


"Lex, kamu pasti salah paham. Selidiki dulu semua dengan jelas, jangan asal menuduh," ucap novita dengan suara yang sakit dan tertekan.


"Sudah ada bukti, Kak. Apa yang perlu dijelaskan lagi? ini bukan salah paham, tapi fakta," ucap alex teguh dengan pendiriannya.


"Lex, kakak tahu hubungan kamu dengan kakak ipar mu itu tidak baik semenjak Queen hadir dalam hidup kak ipar mu. Tapi, kamu nggak bisa gini dong. Menyalahkan dia dengan alasan seolah-olah dia mengambil apa yang jadi milik kamu. mungkin wajar jika Aditya dan Helena itu kenal baik. Mereka juga sih sama ipar, kan?"


"Iya, tapi gak seharunya melakukan hubungan badan juga, itu yang dikandung Helena anak Aditya, bukan anakku."


Helen menangis sejadi-jadinya sambil berkata, "Lex, ada apa sebenarnya sama kamu? Kemarin kau tampak senang dengan kehadirannya di rahimku. Lalu, kenapa kau malah menuduhku yang bukan-bukan sekarang?"


"Aku nuduh atau tidak? Ayo adakan tes DNA untuk bayi itu!" Tantang Alex dengan geram.


Aditya masih tampak tenang di tempatnya. Ia hanya mengamati Alex dengan tatapan yang seolah mencemooh.


"Sejak kau bercerai dengan Quen sepertinya ada yang salah dengan, mu. Lihatlah dirimu, terlihat menyedihkan, tidak?" ejek Aditya.


"Setidaknya, aku tidak menggunakan cara licik seperti yang kalian lakukan!"


Alex pun meraih remote dan menyalakan lcd di ruang tamunya. Dan terlihatlah sebuah rekaman yang menunjukan di mana Helena dan Aditya berbuat mesum, dan juga obrolan mengenai anak serta rencana kerja sama agar Helena bisa bersama Alex, sementara Aditya bisa dengan Quen.


Helena gelagapan, raut wajahnya berubah pucat. Ia hanya menunduk. Bahkan berkata untuk mengelak, mengangkat mukanya saja ia tidak berani.


Namun, beda halnya dengan Aditya, ia nampak tenang dan seolah ia tidak terlibat dalam video itu.


Novita menjerit keras menyaksikan hal itu, bahkan lututnya terasa lemas hingga ia terjatuh karena tak mampu menyangga berat badannya sendiri.


"Dit, kau sudah berubah. Kau baukan Aditya yang ku kenal dulu. Jika memang kau sudah terlanjur cinta dengannya dulu, kenapa kau mau rujuk denganku? Bukankah aku sudah merelakan kalian, dulu?"


Novita terus menangis histeris. Mama Rita dan papa Nicolas berada disampingnya berusaha menenangkan putrinya.


Alex merasa bersalah telah membuat sang kakak sedih, tapi, ia bisa apa? Menutupi kebusukan Aditya sama saja membiarkan sang kakak terus hidup dalam kebohongan, lagi pula jika ini semakin lama dibiarkan, bukankah akan lebih sakit lagi nantinya?


"Nov, kau tahu selama ini aku memang selalu ada perselisihkan dengan Alex semenjak ada Queen. Apa kamu tidak curiga video itu hanyalah rekayasa?" tanya Aditya dengan tenang dan tidak merasa bersalah. Ketakutan pun di wajahnya juga tak nampak. Dia masih tetap tenang dan seolah mimik wajahnya menunjukan pria yang ada dalam video itu bukanlah dirinya.


"Ya sudah, lakukan tes DNA untuk bayi yang dikandung Helena saja, tidak di rumah sakit kau bekerja juga tidak di rumah sakit Quen bekerja, agar adil!" seru Alex. Geram.


Novita masih menangis tersedu-sedu. Ia yakin itu adalah video asli, ia hapal bagaimana Alex. Dari kecil mereka tumbuh bersama, saat orang tua mereka memilih membesarkan usahanya di New York, mereka berdua di bawah asuhan bini pengurus rumah tinggal di rumah ini sampai akhirnya Novita menemukan cintanya dan menikah, Alex selalu mendukung dan berupaya membuat dirinya bahagi.


"Dit. Aku memang merasa kau berubah Akhir-akhir ini. Sementara Alex dari dulu tetap begitu. Kau enyahlah! Besok kita urus perceraian kita."


Aditya tersenyum dan berkata, "Memang darah lebih kental dari air. Kau bahkan menceraikan ku begitu saja tanpa menyelidiki kebenaran dari isi video itu. Baiklah, Nov jika itu maumu. Tapi, jangan harap kau bisa melihat Axel selama-lamanya."


"Kita lihat dipengadilan besok, hak asuh akan jatuh pada siapa?" ucap Novita berlagak tak peduli. Tapi, setelahnya ia menangis meraung meratapi nasibnya juga putra satu-satunya.


Sementara Alex, memandang tajam ke arah Helena yang masih bergeming di tempatnya.


"Helena, jika kau tahu malu, kemasi barangmu, dan pergilah. Kau tak perlu risau urus persidangan, semua sudah kuatur. Dan saat ini juga, aku menjatuhimu talak tiga sekaligus."


Mungkin Helena masih bisa merayu jika orangtua dan kakaknya Alex tidak ada di sini. Tapi, tatapan mata mereka yang menyorot padanya penuh kebencian membuatnya tak berdaya, ia hanya bersujud di depan Alex dan menyentuh kedua lutut pria itu. Helena terus menangis sejadi-jadinya. Maaf, maaf dan hanya kata maaf itu saja yang keluar dari bibirnya.


"Kesalahanmu terlalu besar untuk dimaafkan, tapi aku akan berusaha memaafkanmu walaupun tidak saat ini. Sekarang, sebelum aku berubah pikiran melaporkanmu pada polisi atau menyakitimu, pergilah dari sini! Kemasih barangmu jangan sampai ada yang tertinggal."


Alex menyentuh keningnya dengan tangan kanannya, lalu merobohkan diri di atas kursi dan memejamkan mata, berusaha berdamai dengan hati serta pikirannya. Sedangkan Novita masih menangis sesenggukan dalam pangkuan mamanya.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ

__ADS_1


Helena berjalan menembus kegelapan dengan menyerap koper serta menyangkong tas yang berisi barang-barangnya. Ia hendak pergi ke rumah lamanya, wanita itu sudah tak peduli meskipun nanti di sana kedua orangtuanya tak mengakuinya. yang penting baginya adalah tempat menaruh barang-barang sebanyak ini dulu.


Helena merasa lelah, ia ingin berhenti sejenak mencari tempat untuk duduk sambil mengumpat, "Sialan, paket data sudah habis masa, di jalanan lagi malam-malam. Mana banyak nyamuk."


Tidak lama kemudian, sebuah cahaya mobil dari belakang. Helena berdiri berharap bisa menumpang. Tapi, siapa sangka itu adalah mobil milik Adit. Dan benar saja mobil itu berhenti dan turun seorang pria berpakaian rapi mengenakan kemeja hitam.


"Adit.... "


Helena menatap pria itu, berusaha memahami ekspresi pria itu di balik remang malam.


Pria itu hanya diam menatap tajam ke arah Helena.


"Bagaimana ini bisa sampai terungkap?" ucap pria itu, dengan nada tinggi.


"Aku gak tahu, Dit. Bahkan saat Alex pulang dia sudah aneh dan mendiamkanku. Aku sedikitpun bahkan tidak menyangkanya."


"Bagaimana mungkin?"


"Kamu bertanya seolah aku penyebab dari terbongkarnya rencana kita, bahkan lebih buruk dari itu, kau menuduhku aku melakukan ini dengan sengaja, coba pikirkan, jika aku memang sengaja, apa bedanya dengan aku menggali kuburan ku sendiri?"


Aditya menyeringai saat mendengar kata terakhir dari kalimat yang Helena lontarkan baru saja.


"Menggali liburanmu sendiri,ya? Heh, menarik. Ayo ikut aku!"


Helena diam, dari sorot mata Aditya ini ada yang tak wajar, dia tidak sedang mengajak berembut tapi, lebih akan mencelakai dia dan bayinya.


"Kau pulang, lah. Akuย  bisa pergi sendiri," ucap Helena sambil kembali melangkah menyeret kopernya.


"Helena, masuk ke dalam mobilku!"


Sedikitpun Helena tidak menggubris pria itu, ia tetap berjalan. Karena geram, Aditya mengejar Helena dan menjambak rambutnya dari belakang hingga kepalanya mendongak ke atas.


"Aku bakan bicara sama kamu tapi kau tak mau hiraukan aku? Masuk!" Bersamaan dengan kata terakhirnya, mendarat pula tamparan Adit ke wajah Helena.


"Aku nggak mau, Dit!" seru Helena. Ia berusaha memberontak.


Menyadari dirinya dalam bahaya, dan tak mau mengalami nasib buruk serupa, ia pun berlari meninggalkan barang-barangnya, berlari kencang setelah menendang ************ Adit hanya membawa tas tangannya ya g berisi barang-barang penting.


Aditya mengerang kesakitan, sambil memegangi selangkangannya. Ia mengumpat dalam hati, menyumpah seraoahi Helena.


Dengan langkah tertatih-tatih ia pun melangkah kembali ke mobil untuk mengejar, Helena. Tidak lama kemudian, ia nampak melihat Helena yang berlari menghindari dirinya.


Tak mau kehilangan kesempatan. Aditya sudah bertekad dan merasa kalau wanita di depannya tak ada gunanya lagi, ia pun menginjak gas kencang dan menabrak tubuh Helena hingga terpelanting.


Melihat dari kclecepatan dan bagaimana kondisi Helena tadi, jelas, wanita itu sudah tak akan tertolong lagi.


Aditya menghentikan mobilnya, melihat kondisi Helena yang tergelatak di jalan dalam keadaan bersimbah darah. Wanita itu nampak terkelapar beberapa kali lalu diam tak bergerak.


Aditya tertawa, jelas saat itu adalah proses ajalnya tiba. Dia tertawa dengan sangat girangnya dapat melakukan dan menyaksikan sendiri bagaimana ia membunuh Helena.


"Hahaha... Kau jangan main-main sama aku, kau pikir kau ini siapa baraninya macam-macam. Lihat, kau yang bahkan akan membesarkan bayi itu sendiri. Aku mewujudkan, hiduplah berdua dan besarkan dia di alam kubur, hahahaha." Tawa Aditya dengan sangat girang dan penuh kemenangan.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Queen menatap air hujan yang turun deras dari balik jendela. Sudah hampir tiga puluh menit lamanya ia melamun di situ. Entah apa yang ada di kepalanya. Yang jelas, ia masih teringat dengan obrolannya bersama Diaz melalui selulernya.


Dalam hati Quen memuji betapa besar jiwa pria itu. Rasanya ia kian jatuh hati saja.


"Queen, ayo makan malam," panggil Nayla dari balik pintu.


Wanita itu menoleh kebelakang lalu menjawab, "Iya, Kak. Habis ini aku turun ke bawah."


Nayla pun turun sementara Quen masih tetap bergeming di tempatnya memandangi hujan.


Wanita itu kembali tersenyum ketika teringat saat-saat bersama Diaz.


Di balik sifatnya yang pendiam kalem dan nampak tenang, siapa sangka kalau dia tipe pria yang juga romantis. Kala itu ia bermain gitar sambil menyanyikan lagu milik wali band yang berjudul jamin rasaku.


Senyuman Quen tak pernah pudar, ia membuka lebar-lebar jendelenya dan mengulurkan tangannya menyentuh air hujan saat teringan di bagian lagu


Lihat hujanpun turun begitu lebat


Begitu deras hitunglah titik airnya

__ADS_1


Sebanyak itulah rasa cintaku


"Aku kangen kamu, Diaz," ucap Quen seorang diri. Lalu ia pun meninggalkan kamar dan turun ke bawah bersama ipar, kakek dan keponakannya makan malam.


"Sudah ada kabar dari Al belum, Nay?" tanya kakek Andrean.


"Sudah, Kek. Katanya dia baru saja tiba. Apakah mas Al belum menelfon kakek?"


"Belum," jawab Andrean singkat.


Saat mereka sama-sama menikmati makanan masing-masing. Sebuah panggilan dari ponsel Quen masuk ternyata Gea.


Quen mengerutkan alisnya dan dan berfikir, ada apa dengannya? Bukannya tadi ia bilang kalau saat ini ia masih di rumah sakit.


"Halo, Ge. Ada apa?"


"Queen kamu dah tahu belum, Helena mati," jawab wanita itu dengan suara yang tak tenang menggambarkan dirinya shock.


"Apa? Mati?"


Seketika Andrean dan Nayla pun mengentikan aktivitasnya, turut memandang tegang ke arah Quen yang memasang ekspresi kaget. Mereka khawatir bahwa yang menelfon Quen adalah petugas rumah sakit Bhayangkara yang memegang tanggung jawab atas kedua anaknya Clara dan Vano.


"Iya, Quen... Ya Allah aku juga gak nyangka, tragis banget, tau gak sih."


"Memang mati kenapa? Bagaimana bisa kemarin aku lihat dia baik-baik saja."


Barulah pada kalimat itu Nayla dan Andrean baru bisa bernapas lega. Ekspresi tegang di wajah mereka pun berkurang.


"Entahlah, kematiannya masih dalam penyelidikan. Sepertinya dia jadi korban tabrak lari di sebuah gang sepi."


"Ok, baiklah aku akan segera kesana. Apakah pihak keluarganya sudah dikabari?"


"Sudah, Quen. Papa mamanya kebetulan juga ada di Indonesia. Dan juga su... "


"Alex? Ok. Aku akanย  segera ke sana sekarang."


Quen pun memarikan telfonnya dan memandang ke arah kakek dan iparnya.


"Ada apa Queen?" tanya Andrean dan Nayla hampir bersamaan.


"Gea baru saja menelpon, dia mengabari kalau ada seseorang yang menemukan mayat wanita lalu membawanya ke rumah sakit. Dan itu adalah Helena. Aku akan segera kesana untuk melihatnya langsung."


Dengan cepat wanita itu pun segera berlari ke tangga untuk mengambil tasnya.


Begitu ia kembali dan akan berpamitan kepada ipar dan kakeknya, Andrean melarangnya pergi.


"Queen, ini sudah malam, jangan pergi. Tidak ada laki-laki yang menemanimu, kakek khawatir nanti terjadi apa-apa." Ujar Andrean.


"Tidak apa-apa, Kek. Queen akan bawa mobil, kok."


"Tapi, Quen. Kakek kawatir iya, kalau ada Diaz dia bisa jaga kamu. Diaz di Bandung dan kakakmu sendiri juga sedang di Jepang."


Queen tersenyum dan berjongkok di sebelah kanan kursi roda sang kakek. Wanita itu menyentuh punggung tangan kakeknya sambil diciumi berulang kali.


"Doain Quen agar selamat dan baik-baik saja, Kek?"


Andrean hanya menghela napas panjang dan memalingkan wajah dari cucunya. Walaupun dia lembut dan feminim, tapi sifat Clara benar-benar diwariskan padanya. Apapun yang dia inginkan harus terwujud dan kalau sudah maunya tidak bisa diganggu gugat.


"Ya sudah, pergilah! hati-hati."


Quen pun bangkit dan memeluk sang kakek, makasih banyak, ya Kek," ucapnya.


"Kek, bagaimana kalau aku ikut nemenin Queen?" Usul Nayla.


"Jangan, Kak. Kasian Bilqis. Bukannya besok dia sekolah?" jawab Quen.


"Tidak apa-apa. Bilqis sudah besar, besok ada bibi yang bantu nyiapin Bilqis, ya? Seragam sama buku pelajaran juga sudah siap kalau misal mama bangun telat, ia kan Bilqis?"


Bocah itu pun hanya menjawab dengan anggukan karena mulutnya penuh dengan makanan.


Queen tidak langsung meng iyakan, iaย  menatap dulu ke arah sang kakek untuk meminta persetujuan beliau.


Dan kakek Andrean pun mengangguk pelan sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


"Baiklah. Ayo kak." Ajak Quen.


ย 


__ADS_2