
Usai mandi dan berseragam rapi Quen menuju dapur, di sana ia lihat mamanya sedang membantu kak Lyli menyiapkan sarapan.
"Sayang, kau sudah rapi sepagi ini?" sapa Clara saat melihat Quen duduk di meja makan.
Quen hanya diam menatap ke arah dapur dengan lesu.
Clara menghampiri putri remajanya dengan segelas susu dan piring berisi roti sanwich telur buatannya.
"Anak mama kok murung gitu, sih? Ada apa?" Dengan lembut Clara berusaha membujuk Quen.
"Ma, aku kok ngrasa kakak brubah, dia gak sayang lagi sama Quen, ya?" tanya nya sambil memangku dagu dengan kedua tangannya.
"Kenapa kau berpikir demikian? Jelas saja, tidak. Kakak akan terus sayang sama adiknya, lah."
"Kemarin lihat aku ikut jemput dia tidak ada reaksi, pas Quen peluk juga dia datar banget gak seperti dulu, Ma." Mata Quen menatap Clara dengan serius.
"Oh, ya? Mungkin kak Al malu. Kan kalian uda gede, dilihat orang lain juga akan nimbilin ilfeel lho. Masak kamu mau minta gendong kaya dulu lagi?" ucap Clara tersenym setengah menggoda purtinya.
"Ah, Mama gitu!" Seru Quen sambil mengambil roti sanwich dan menggigitnya.
Tak lama kemudian datang papanya dengan mengenakan kemeja biru muda tengah memasang jam tangan sambil mengalungkan asal dasi di lehernya.
Quen hafal betul kebiasaan papanya yang manja, dan ternyata benar saja.
Dari ujung matanya ia melihat samar-samar mamanya memasangkan dasi papanya, dan membawakan sarapannya di meja makan.
"Gadis papa sudah siap berangkat ya?" sapa Vano pada Quen.
"Iya, Pa. Kakak nanti yang mau ngantar," jawan Quen.
" Di mana kakakmu?"
"Sebentar lagi juga turun, Pa."
"Panjang umur, itu Kakak," ucap Clara saat melihat Al turun mengenakan kaos pres body bewarna abu-abu gelap dengan paduan jeans panjang biru dongker serta rambutnya yang basah tertata tidak begitu rapih, tapi memberi kesan macho.
"Kita berangkat sekarang, Quen? Tanya Al sambil memainkan kunci motor di tangannya.
"Kakak gak sarapan dulu?"
"Nanti aja, kakak gak biasa sarapan sepagi ini," jawab Al.
"Yaudah kita berangkat sekarang saja, yuk." Quen pun bangkit sambil mencangklong tasnya.
Ia pun berpamitan pada pada papa dan mamanya.
Begitu Quen berangkat, clara me gantarkan teh hangat pada Andrean dan Andreas yang tengah berjemur di belakang. Sementara Vivian, jam segini biasa ia pergunakan untuk menyirami tanaman di halaman depan.
Saat itu Quen sedang berpamitan pada kedua kakeknya, Clara meminta selang air dari Vivian. Karena sebentar lagi pasti Quen akan berpamitan kepada neneknya.
Clara dan Vivian berdiri di depan gerbang sambil memperhatikan Quen dan Al yang tengah berboncengan.
"Melihat mereka berdua, seperti melihat masa remajamu dengan Vano, Ra."
Tanpa sadar Vivian bergumam.
"Tapi kan Quen tidak tahu kalau Al kakak angkatnya, Ma," bantah Clara.
"Iya saat ini dia tidak tahu, jika suatu saat Allah menujukan, membuat dia mengetahuinya, apakah kau akan menolak kenyataan?"
"Semoga saja, Quen tidak kecewa, dan tetap menghormati Al sebagai kakaknya selamanya."
Vivian tersenyum geli, rupanya Clara tidak faham dengan maksut dari.perkataannya barusan.
"Mama juga berharap demikian," ucap Vivian sambil tersenyum.
"Sayang! sepatuku di mana?"
Terdengar teriakan Vano dari dalam.
"Kau melupakan bayimu yang lain, Ra," tegur Vivian sambil tertawa geli.
"Iya, nih Ma. Biasanya kan Quen ke sekolah bareng papanya," ucap Clara lalu berlari ke dalam.
"Sayang, ini sepatumu ada di sini!" seru Clara sambil membawa sepasang sepatu pantopel berwarna coklat yang sudah mengkilat.
"Wah, uda disikat, ya? Makasih istriku." Vano mengecup pipi kanan Clara dan menatapnya dengan tatapan lembut penuh kasih sayang.
"Kamu duduk, gih. Aku bantu pasangkan," ucap Clara mulai mebungkuk.
Dengan cepat Vano memegangi kedua lengan atas Clara, menahannya.
"Biar kupasang sendiri saja," ucapnya sambil tersenyum.
Usai memasang kedua spatunya, Clara mencium punggung tangan kanan Vano dan memberikan tas kerjanya. Begitupun Vano, ia tak lupa mencium kening istrinya setiap kali mau berangkat kerja dan sepulangnya.
Setelah suaminya berangkat, Clara kembali ke dapur untuk memasak sayur untuk sarapan, karena orang tuanya terbiasa makan nasi untuk sarapan di jam delapan nanti, kecuali Andreas, karena sudah biasa hidup di luar negeri, ia sepotong roti dan kopi saja cukup sampai jam makan siang. Cuma karena di sini berkumpul dengan saudaranya, ia kembali menjadi orang indonesia tulen yang menyebut belum sarapan kalau tidak makan nasi.
"Lyli, kita masak apa hari ini?" tanya Clara. Pada asisten rumah tangga mamanya.
"Tadi pagi Nyonya minta saya masak sop buntut sama sambalnya, Non."
"Kamu uda rebus buntutnya?"
"iya, sudah Non."
"Lyli, tolong kamu ambil dua kantong iga di freeser, rendam dengan air dingin. Aku mau bikin iga bakar."
__ADS_1
"Baik, Non."
"Ly, udah dua bulan kayaknya kamu tidak ambil libur sama sekali, apa kamu tidak rindu keluargamu?" tanya Clara sambil sibuk menyiapkan bumbu-bumbu.
"Tidak tahu saya, Non. Kadang ya pengen pulang menjenguk orang tua saya, tapi... Saya pasti akan menyesal setibanya." Lyli berkata dengan lesu, wajahnya pun juga berubah murung.
"Kok, bisa?"
"Iya, saya betah di sini, melihat Nona dan Den Vano serta nyonya dan Tuan kalian baik pada saya, hubungan di rumah ini juga mencerminkan kekeluargaan yang sebenarnya, beda dengan di rumah, ayah sama ibu saya setiap hari selalu ribut ada saja yang diributkan."
"Oh, maaf ya Ly. Kamu jadi mengingat sesuatu yang tidak menyenangkan dalam hidupmu," ucap Clara merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, kelak jika saya sudah menikah, saya mengharapkan rumah tangga yang seperti kalian, selalu akur, saling mengalah dan meminta maaf jika ada masalah. Melihat Tuan setiap pagi seperti itu pada Nona, saya suka." Gadis itu menunjukan senyumannya yang tulus dari hatinya.
"Saya doakan, kau kelak dapat menemukan kebahagiaanmu, pilihlah laki-laki yang benar mencintaimu dengan tulus, bukan cinta karna nafsu," ucap Clara.
Satu jam kemudian, mereka pun sudah siap memasak, tinggal menyajikannya di atas meja makan. Sementara Al juga sudah tiba dari mengantar Quen sejak tadi.
Saat Clara usai mandi, ia mengeringkan rambutnya dengan hari dlayer di depan meja riasnya. Ia melihat tumbukan meja kerja suaminya yang nampak berantakan, ia merapihkannya setelah menyisir rambutnya.
Tiba-tiba secarik kertas terlipat jatuh dari antara beberapa dokumen lain, karena penasaran, Clara membuka isinya.
Hati Clara terasa mendidih saat membaca isi tulisan tangan dari kertas itu.
'Pak Vano, maafkan saya jika telah lancang mengungkapkan perasaan ini, saya sudah lama menaruh hati pada anda sejak saya bekerja menjadi asisten anda'
Alda.
Clara duduk sesaat, ia langsung mengganti pakaiannya dari baju santai ke out fit berwarna putih dengan pundak terbuka dan setelan jens biru tua. Dengan segera Clara meraih hand bakcnya lalu bergegas keluar.
Sedangkan di bawah orang tua dan putranya tengah menantinya di meja makan.
"Mau kemana kamu, Clara?" tanya Andreas.
"Ada dokumen yang Vano tinggalin, Ayah. Sepertinya ini penting, jadi, Clara mau antar dulu," Jawab Clara bohong.
"Kamu tidak sarapan dulu?" sahut Andrean.
"Tidak, Pa. Takutnya nanti dia keburu rapat dan tahu-tahu ini tidak ada, kan kasihan."
"Al antar, Ma." Al bangkit dari duduknya bergegas berjalan mendekati Clara.
"Oh, tidak perlu, Sayang. Kau sarapan sama kakek nenek saja dulu, mama akan segera pulang." Clara pun bergegas keluar. Dengan di antar sopir ia pun pergi ke kantor.
Tiba di kantor Clara buru-bur keluar menuju kantor Vano.
"Pak, anda boleh pulang, saya nanti bisa naik taxi saja," ucap Clara pada Pak Makmur.
"Baik, Non." Pak makmur pun melajukan kendaraannya menjahui kantor majikannya.
Di depan resipsionis, Clara nampak buru-buru untuk segera masuk ke ruangan Vano.
"Pak Vano ada di ruangannya?" tanya Clara datar.
"Iya, Bu, ada, kebetulan beliau sedang tidak ada klien."
"Baik, trimakasih."
Tanpa mengetuk pintu Clara lansung membuka pintu ruangan Vano.
Vano yang tengah serius membuka dokumen di dalam lap topnya benar-benar dikerjutkan oleh kedatangan istrinya.
"Sayang, apa yang membawamu kemari sepagi ini?" tanya Vano senang.
Tapi, Vano melihat ada yang aneh dengan Clara, dia sedikitpun tidak menunjukan senyumnya, apakah dia marah?"
"Siapa itu, Alda?" tanya Clara to the point.
"Dia asistenku sayang, kenapa?"
"Aku ingin lihat dia,"
"Baik, aku panggil dia kemari." Vano pun menekan nomor dari telfon kantornya.
"Alda, cepat kemari bawakan laporan bulan lalu, segera, ya." Vano pun langsung meletakn gagang telfon di tempatnya.
Merasa ada yang tidak beres dengan istrinya, ia menebak kalau dia tengah cemburu, Vano pun menghampiri Clara yang masih berdiri di depan mejanya.
Tanpa berkata apapun Vano memeluk dan berusaha mencium Clara meskipun Clara berusaha menghindar dan mendorong tubuh Vano.
"Gak, mau, jangan gitu!" Seru Clara menolak ciuman Vano.
"Kalau aku tidak mau, bagaimana, Sayang?" goda Vano sambil tersenyum nakal.
Bersamaan dengan itu, Alda sudah masuk dan melihat apa yang dilakukan big bosnya di dalam ruangannya.
"Permisi, maaf ini pak laporan yang bapak minta," Ucap Alda.
Clara menoleh melihat gadis dengan badan berisi rambut lurus terurai sepinggang dengan pakaian serba mini. Bahkan rok yang ia kenakan saja, pasti akan memperlihatkan dalamannya jika ia membungkuk.
Clara memutar bola matanya merasa mual melihat penampilan Alda. Wanita kira-kira berumur dua puluh tujuh tahun ini, tadi sempat satu lift dengannya. Dan sempat memperhatikan dirnya cukup lama.
"Lepasin aku," ucap Clara sambil melepaskan lengan Vano yang melingkar di pinggang rampingnya.
"Kamu boleh pergi, Da, letakan saja di sana!" Seru Vano.
Setelah Alda pergi Vano masih tersenyum menggoda istrinya.
__ADS_1
"Itu Alda, kenapa kamu tiba-tiba nanya dia? Aku gak bakalanlah tergoda dengan dia, istriku saja masih seperti ABG, gitu," ucap Vano sambil mencium pipi Clara.
"Baiklah, pindahkan dia di kantor lain, cari asisten lain, kalau perlu laki-laki saja! Jika tidak, Pecat dia."
"Baik, biar aku hubungin pihak HRD dulu, sayang."
"Reyna, pindahkan Alda di kantor cabang yang ada di Bandung, katakan vasilitas mess sudah di sediakan oleh perusahaan, jika dia menolak artinya keluar. Dan Ivan, minta dia ke ruangan saya, beritahu padanya, dia menggantikan posisi Alda," ucap Vano lalu mematikan telfonnya.
Ia pun menarik Clara dalam pangkuannya, dan berusaha menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu kenapa sih, Sayang?"
Tanpa menjawab, Clara mengeluarkan secarik kertas dari dalam tasnya dan memberikan kepada Vano.
Vano nampak mengerutkan keningnya, dia tidak tahu menahu tentang kertas ini. Lalu, bagaimana Clara bisa mendapatkannya?
"Kamu mendapatkan ini dari mana, Sayang?" tanya Vano serius.
"Aku tidak sengaja melihatnya terjatuh saat merapikan meja kerjamu tadi," jawab Clara.
"Percaya sama aku ya, aku ga bakalan ada main belakang dengan wanita lain, aku cuma sayang dan cinta sama kamu saja." Vano meletakan kepala Clara di dada bidangnya.
Vano memeluk erat Clara dan memejamkan matanya menikmati aroma wangi yang lembut dari kepala istrinya.
Tiba-tiba terdengar suara bunyi perut Clara keroncongan.
Vano tertawa, " Kamu belum sarapan, ya?"
"Belum sempat, lihat ini aku langsung kesini, tadi."
"Ya udah, buat nebus petmintaan maafku, kita cari sarapan saja, yuk. Kamu mau di kantin kantor atau di luar?"
"Aku pengen nasi goreng kari di kantin saja," ucap Clara.
Vano pun bangkit berjalan meninggalkan ruangan sambil memeluk pinggang istrinya, membawanya pergi ke kantin kantor untuk sarapan.
Sepanjang ia berjalan yang kebetulan berpapasan dengan para karyawan yang lalu lalang, semuanya menatap dengan tatapan kagum dan mungkin juga iri.
Hanya karyawan baru lah yang mengira usia istri CEO nya sekitar dua puluh ima sampai tiga puluh tahun, padahal aslinya juga sudah tiga puluh tujuh tahun.
Mungkin sifatnya yang masih manja dan kekanak-kanakan kepada Vano yang membuatnya tetap cantik dan awet muda. Hingga membuat para wanita yang melihatnya menjadi iri.
"Kamu mau minum apa, Sayang?" tanya Vano setelah memesan dua porsi nagor kari spesial.
"Apa ya? Jeruk hangat saja deh kayaknya biar lemaknya rontok," ujarnya sambil tertawa.
"Uda gak perlu terlalu jaga penampilan! Seperti apapun kamu, aku tetap cinta kok sama kamu?"
Clara mencubit lengan suaminya, ia merasa malu karena saat Vano mengatakan itu barengan dengan pelayan kantin mengantarkan orderan mereka.
"Aduh! Kok nyubit si, Sayang?" ucap Vano meringis kesakitan sambil menggosok bekas cubitan wanitanya.
"Kamu mau minum apa, Van?" tanya Clara mengalihkan pembicaraan.
"Kita samaan saja, deh."
"Jeruk hangat dua ya, mbak," ucap Clara seraya mengacungkan dua jarinya pada pelayan kantinbsambil tersenyum.
Saat mereka asik menikmati nasi goreng sebuah pesan chat dari ponsel Vano masuk, karena penasaran, Vano mengeluarkan benda pipih bewarna biru dari saku kemejanya.
Merasa penasaran, Clara pun bertanya, "Dari siapa?"
"Alda," jawab Vano singkat.
Tanpa aba-aba Clara langsung meraih gawai dari tangan suaminya dan melihat isi pesannya.
'Bapak memindahkan saya karena istri anda ya? Wajarlah anda begitu setia dan mencintainya, dia sangat cantik dan masih sangat muda'
Begitu membaca isi pesan dari Alda, Clara tersipu malu. Mengembalikan ponselnya kepada Vano.
"Sudah, jangan di pikirkan, ayo makan dulu keburu dingin nasinya."
****
Pagi ini Al merasa bosan tanpa kegiatan. Ia pun bersantai duduk di taman belakang sambil menikmati sebatang rokok.
Ia menghisap dalam-dalam dan meniupkan asapnya ke udara hingga membentuk kepulan putih bagaikan awan yang menutupi wajahnya.
Tanpa ia sadari, dari seberang kolam renang sorang gadis sambil menyapu memeperhatikan gerakannya.
Pandangannya hanya tertuju pada Al tanpa peduli sekitar, tau-tau pria yang duduk di seberang gadis itu terkejut oleh suara benda yang jatuh ke dalam kolam renang.
Tanpa ba bi bu Al langsung melompat ke dalam kolam dan berenang dengan gesit menolong Lyli yang tanpa sengaja tercebur ke dalamnya.
"Ma... Maaf, Tuan. Saya tidak memperhatikan sekitar," ucap Lyli terbata-bata sambil menggeser tubuhnya dari Al.
Al masih ada di dalam kolam, sementara Lyli didudukan olehnya di tepi kolam renang.
Ia baru sadar kalau Lyli tercebur saat menyapu sekitar kolam karena melihat ada sapu lidi yang mengambang di sana.
"Kamu kalau nyapu jangan lihat kemana-mana. Ya sudah, ganti pakaianmu," ucap Al, sambil naik dari kolam.
"Hey, kalian berdua kenapa? kok basah-basahan!" teriak Andreas dari pintu belakang.
Lyli nampak bingung mukanya pucat, ia hanya menunduk tak berani memandang ke arah Tuannya.
"Ayo! Tidak akan terjadi apa-apa." Al mengulurkan tangannya pada Lyli yang masih duduk.
__ADS_1
Dengan ragu-ragu Lyli menerima tangan Al, jantungnya semakin tidak
Karuan. Bahkan, kalau bisa memilih, ia akan memilih pingsan saja.