
Di gym semua mata tertuju pada Alex dan Quen para gadis menatap dengan tatapan tidak suka terhadapnya.
Tapi, Quen berusaha cuek, toh dia tidak kenal mereka. Mereka murid Alex, dan Alex adalah teman baiknya.
Satu jam di gym, Quen sudah semakin tidak nyaman saja.
"Lex, pulang, yuk!"
"Kenapa? Kau sudah capek, ya? Ok, ayuk!"
Selama di mobil Quen banyak diam, tatapan dari para gadis itu benar-benar membuat moodnya hancur. Tiba di apartemen, Quen terkejut melihat Aditya di sana menunggunya.
Kedua pria itu saling tatap. Ada tatapan tidak suka dari Aditya terhadap Alex, Quen menangkap gelagat aneh itu. Tapi, kenapa? Apakah mereka saling kenal?
"Quen, aku balik dulu, ya?" ucap Alex. Lalu berlari ke arah mobilnya. Tidak menunggu gadis itu masuk dal lifp.
"Ada perlu apa Pak kemari?"
"Dia alasanmu menolak lamaranku kemarin? Kalian dekat sekali, ya?"
"Kami berteman sejak SMA, Pak. Sepertinya anda juga sudah tahu itu."
"Baiklah, mungkin kau capek istirahatlah, tadi awalnya aku akan menjemputmu untuk jalan-jalan dengan Axel."
Aditya pun pergi meninggalkan Quen. Harusnya dia senang, karena tidak pernah menyukai pria itu selain Alex, tapi, kenapa tiba-tiba melihat Aditya kecewa dan marah padanya hatinya pun jadi sedih.
Aditya mengendarai mobilnya dengan sangat cepat. Ia berusaha mengejar mobil Alex dan menghadangnya di tempat yang sepi.
Merasa terganggu, dengan gentle Alex pun keluar, begitu pun dengan Aditya.
"Kenapa kau mendekati Quen?" tanya Aditya dengan wajah datar.
"Kenapa? Memangnya tidak boleh, hah? Apa hubungannga denganmu?"
"Aku menyukainya dan telah melamarnya, jadi. Lebih baik kau menjauh saja darinya."
"Kalau kau inginkan dia, jangan pengecut. Ayo kita bersaing secara jantan!" Seru Alex, menantang Aditya.
"Kau yakin tetap menginginkan dia? Kau boleh saja mengambil dariku. Tapi, kau tidak tahu, kan kalau Axel menyukainya? Bukankah paman ya g baik adalah dia yang peduli pada keponakannya?"
Alex langsung diam mendengar nama Axel disebut oleh Aditya.
Pria itu megepalkan tangannya kuat-kuat, dipukulkannya pada mobilnya lalu berjalan masuk ke dalam mobil.
"Singkirkan mobilmu, atau aku akan menghancurkannya!" Seru Alex.
Sejak saat itu, Alex lebih menghindari Quen. Sementara Aditya, kembali mendekati Quen.
🌸 🌸 🌸
"Kau sudah pulang, Sayang? Lihat siapa yang datang?" ucap Vivian menyambut Quen.
Quen melihat ke arah wanita duduk di ruang tamu, siapa? Dia tidak pernah lihat sebelumnya.
"Siapa dia, Nek?" tanya Quen.
"Dia Kak Nayla, calon istri kakakmu. Kau kenalan saja!"
Quen berjalan mendekati wanita itu, ia tersenyum ramah dan menyapanya, "Hay, Kak."
"Nayla, ini Quen. Adiknya Al," ucap Vivian mengenalkan.
Tak lama kemudian Al datang dari belakang sambil menggendong Bilqis.
"Itu tante Quen namanya, tantenya Bilqis," ucap Al sambil mendekati Quen.
__ADS_1
Quen semakin bingung saja, bahkan dia tidak tahu apa-apa. Anak siapa? Apakah Nayla janda? Yang bener saja masa iya menantu papa dan mama janda dan duda gini? Umpat Quen dalam hati.
"Seminggu yang lalu kau tidak mau pulang, Quen. Aku dan Nayla udah tunangan. Rencana dua minggu lagi kami akan menikah," ucap Al menjelaskan.
"Bukannya minggu lalu kakak bilang kalau wanita yang kakak sukai iti tinggal bersama Umi Fatiya di panti, ya? Jadi kak Nayla juga di sana?"
"Iya, Quen. Kakakmu menitipkan aku ke sana," jelas Nayla.
Quen masih belum bisa berdamai dengan suasana hatinya, dia harusnya senang dengan kabar ini, tapi. Masalah antara Alex dan Aditya minggu lalu sungguh benar-benar mengganggu pikirannya.
Harusnya dia senang Adit marah padanya dan mengira dia ada hubungan dengan masa lalunya, tapi, kenapa Quen justru malah merasa kehilangan?
Akhirnya Quen pun mempunyai cara, dia mengambil ponselnya dan menghubungi si kecil Axel melalui video call.
Tidak meninggu lama setelah panggilan tersambung, seorang bocah laki-laki mengankat panggilan videonya. Anak itu nampak girang dan berlari sambil berteriak, "Papa, kakak menelfonku, kau lihat dia!"
Serunya sangat senang.
"Papa boleh bicara sebentar dengannya, Axel?"
"Dia menelfon di ponsel oma, artinya dia menelfonku, Pa." Protes anak itu. Sedangkan yang dilihat oleh Quen di layarnya hanyalah langit-langit rumah.
"Sebentar saja, bukankah kau sudah lebih dari tigapuluh menit bermain ponsel."
"Ok, baiklah, Axel akan pergi belajar."
Tak lama kemudian muncul wajah Aditya di layar, keduanya membisu saling tatap.
"Kangen aku, ya?"
"Narsis, aku kangen Axel, lah. Di mana dia?" tanya Quen.
"Kenapa kemarin tidak ke kampus?"
"Aku sudah izin."
Quen tersipu malu mendengar ucapan Aditya. Entah sejak kapan, dia mulai menyukai bersama pria itu.
"Di mana Axel, Pak?"
"Dia sedang belajar. Kau apakah tidak sibuk?"
"Aku akan sibuk akhir-akhir ini. Kakakku mau menikah, ya sudah. Aku pergi bantu-bantu dulu, ya pak. Byee."
Dengan segera Quen mematikan VC nya lalu beranjak meninggalkan kamarnya.
🌸 🌸 🌸 🌸
Quen berada di kamar Al, ikut merias kakaknya ala kadarnya. Sebenarnya dia tidak dirias. Hanya mengenakan teksudo dan berlatih melantunkan ijab qobul saja.
Quen merasa bahagia sekaligus terharu. Tapi, begitu mendengar kalau Al akan tinggal di Jepang bersama keluarga barunya, Quen tidak mampu menahan air matanya. Ia sedih tidak akan ada sosok kakak lagi yang akan menemaninya, membelanya saat bermasalah dengan orang. Terlebih, sekarang Al akan fokus dengan keluarga kecilnya selain perhsahaan yang sudah dialihkan padanya.
"Quen, kau kenapa?" tanya Al panik.
"Tidak, Kak. Aku cuma bahagia saja, akhirnya kakakku yang tua ini melepaskan masa lajangnya," ucap Quen sambil tersenyum.
"Ini semua berkat kau, jika tidak, aku tentu saja akan melupakan usiaku dan menikmati kesendirianku."
Al meraih adiknya ke dalam pelukan bermaksut menenangkannya. Tapi, perlakuan itu justru malah membuat Quen merasa terharu dan ia semakin menjadi. Ia malah lemah saat ada yang berusaha menguatkannya.
"Sudahlah, jangan menangis, ayuk kita ke bawah. Kau lihat kak Nayla sudah siap, apa belum!" Seru Al sambil memberikan sebuah tisu yang diraihnha dari nakas untuk Quen.
"Srooooot"
"Ih, Quen kau jorok sekali, lihatlah teksudoku, bahkan terkena ingusmu!" Seru Al seraya tersenyum sambil menunjuk kain bagian dadanya.
__ADS_1
"Ya mana kutahu, Kak. Setiap nangis bukan cuma air mata aja yang keluar, ingusnya juga," ucap Gadis itu sambil terkekeh lalu pergi.
Ia beralih ke kamar tamu yang ditempati Nayla. Nayla memang sudah tinggal di sini sejak satu minggu yang lalu, karena dia sudah tidak punya orang tua dan saudara di sini. Dia aslinya orang Jambi.
Quen mendapati Nayla yang dipasangi mahkota. Riasannya kini sudah 100% selesai.
Quen berjalan mendekat di sebelah perias. Tatapan mata keduanya ketemu di pantulan cerimin besar di hadapan mereka.
"Kakak cantik sekali," ucap Quen.
Nayla berdiri memutar tubuhnya dan memeluk erat gadis yang akan me jadi adik iparnya beberapa menit kedepan. Keduanya saling terharu dalam kebahagiaan yang sangat luar biasa.
"Aku sebenarnya masih ingin tinggal di sini lebih lama. Tapi, kakakmu bilang dia harus segera pergi ke Jepang. Aku akan merindukanmu di sana!"
"Iya, Kak. Aku titip kakakku ya di sana? Jaga dan sayangi dia, kau tahu, kau wanita pertama dalam hidupnya yang benar-benar dia pilih. Memang dulu dia pun pernah menjalin hubungan dengan perempuan. Tapi, itu dia jalani karena terpaksa."
"Benarkah? Siapa gadis itu?"
"Kau kenal." Quen tersenyum penuh arti melihat pada Nayla.
"Siapa?" Nayla nampak berfikir keras, "Apakah Zahara?" tanyanya. Karna ia merasa kalau gadis itu memang menyukai Al. Bahkan ketika Clara menjemputnya dan mengatskan bahwa Nayla akan segera menikah dengan Al gerlihat kebencian tersirat di wajah gadis cantik itu.
"Kenapa kau berpikir Zahara? Apakah dia menyukai kakakku?" tanya Quen sambil berkerut kening.
Nayla tersenyum. Sepertinya jawabannya salah. Lalu, siapa? Ah, belum sempat Nayla menanyakannya pengantin wanita sudah dipanggil.
Pernikahan berjalan dengan hikmat. Suasana haru menyelimuti pasangan pengantin yang baru saja di sahkan.
Clara memeluk Al sambil beruraian air mata. "Kau sudah dewasa dan berkeluarga sekarang, Nak. Jaga diri baik-baik, di sana ya? Jika ada waktu, berkunjunglah kemari, dan kerumah momy mu," ucap Clara.
Dan bergantian kini Jeslyn yang memeluk putra kandungnya itu. Lalu pandangannya tertuju pada Nayla, "Aku titip putraku, ya? Kau sekarang adalah wanita yang paling dekat dengannya saat ini. Belajarlah memahaminya!" Seru Jeslyn lalu memeluk Nayla.
🌸 🌸 🌸 🌸
Selepas Al pergi ke Jepang bersama istri dan anak tirinya, Quen memutuskan kembali pulang kerumah, dengan maksut agar rumah tidak sepi. Kalaupun Al tidak ada, setidaknya saat ini Quen berada di rumah.
"Ma, aku berangkat kuliah dulu, ya?" Pamit Quen ketika mendapati mamanya merapikan tanaman di taman depan.
"Kau masuk pagi hari ini? Ya sudah hati-hati," ucap Clara.
Sesampai di kampus, Quen melihat sekilas Aditya masuk di kelas lain. Memang hari ini bukan dia dosennya.
Di dalam kelas Quen menyadari ada getaran dari dalam tasnya. Karena penasaran, ia melihat siapa yang mengirininya chat di saat pelajaran begini.
Ternyata Aditya telah mengirikan stiker hay kepadanya.
Quen tersenyum seorang diri, lalu membalasnya dengan cepat. "Pak dosen, fokuslah pada materimu."
Tak lama kemudian, Aditya mengirimkan foto siswa di kelasnya dengan tulisan mereka tengah mengerjakan tugas yang kuberikan.
Mau kah kau ke rumah dulu untuk bertemu Axel nanti? Doa merindukanmu.
"Ok, baik." Dengan segera Quen memusakan kembali ponselnya dan fokus pada materi yang tengah di sampaikan.
Quen duduk di taman kampus cukup lama, berkali-kali ia melirik jam di tanhannya. Namun. Yang ditunggunya tidak kian muncul. Gadis itu hampir saja prustasi. Berniat bangkit pergi meninggalkan tempat itu.
Tapi, sekuntum mawar merah tiba-tiba berdiri di hadapannya. Seseorang telah menyodorkan mawar itu dari belakaang.
Quen mengamati bunga itu dengan seksama, lalu mendongak melihat ke belakang.
"Kau rupanya? Aku hampir saja pergi meninggalkanmu!" Seru gadis itu sambil memukuk lengan pria yang kini sudah duduk di sebelahnya.
"Maaf, kamu terima bunga ini, ya sebagai bukti kau memaafkanku." Pria itu kembali menyodorkan pada Quen.
Quen menerima bunga itu dengan cuma-cuma, lalu tersenyum geli. "Kau mencuri bunga ini dari mana? Kebun dekat kantin, kan?" Quen pun tidak mampu menahan tawanya.
__ADS_1
"Kau tidak perlu tahu aku dapat dari mana, yang perlu kau ketahui adalah ketulusanku saat memberikannya padamu," ucap Aditya.
Keduanya pun pergi meninggalkan tempat itu berjalan berjajar sambil tangan Aditya memeluk pinggang Quen.