
“bagaimana acara semalam akhirnya, jun? Apakah buyar dan
rombongannya Diaz kembali pulang?”
Queen enggan bergerak, ia masih tiduran dengan posisi
miring mendengarkan Al yang tengah menelfon Juna . Menanyakan prihal acara
semalam setelah ia mebawa dirinya pergi dari acara pertunangannya sendiri.
“Apa? Bagaimana bisa? Ok, but not bat lah. Dengan begitu
setidaknya keluarga Diaz tidak merasa malu dan kecewa.”
Queen mengerutkan kedua alisnya, sebenarnya ia ingin tahu
apa yang terjadi sebenarnya malam itu. Tapi, jangankan bertanya pada Al,
memandangnya saja juga dia sudah merasa muak. Dia saat ini sangat membenci Al.
Rasanya ingin sekali ia membawanya ke Gedung tertinggi dan mendorngnya agar
jatuh sampai mati dan remuk badannya tak berbentuk. Sukur saja kalau jatuh
tepat di atas rel kereta api, kemudian keretanya melintas, biar habis tubuhnya
tercincang.
“Oh, kau punya videonya? Baik, kirimkan padaku cepat!” Pria
itu pun mematikan panggilannya lalu meletakkan ponselnya di atas meja
dan menggambil segelas susu hangat yang baru dibikinnya dan membawanya ke
ranjang untuk diberikan kepada Queen yang masih meringkuk membelakanginya di balik selimut.
Karena memang tidak ada satu pun pakaian wanita di dalam vila ini. Pakaian Al
saja hanya ada beberapa dan tidak banyak. Karena ini adalah tempat
rahasianya, dan Queen adalah orang pertama yang mengetahui tempat ini.
“Minumlah ini dulu, setelah itu, kita bisa pergi mencari
sarapan bersama!” seru Al sambil menyodrokan segelas susu tersebut kepada Queen.
Queen masih bergeming di tempatnya. Jangankan bergerak,
melirik cairan putih yang ada di gelas itu saja tidak.
“Queen, kamu dengar apa tidak? Ayo diminum Queen! Kau tak
perlu cemaskan pakaianmu yang sudah kurusak, sebentar lagi ada driver ojol yang
akan mengantarkan baju untukmu, lalu kita bisa jalan.”
“PINK!”
Al menoleh kearah meja di mana ia meletakan ponselnya, ia
menebak yang masuk itu adalah video pertunangan antara Diaz dan Hanifah semalam
yang dikirimkan oleh Juna.
“Kau masih memikirkan pangeranmu itu? Apa kau yakin dia itu
setia padamu?” Al menyeringai, lalu beranjak mengambil benda pipih berwarna
hitam itu dan memastikan apakah benar-benar video dari Juna atau bukan yang
masuk.
“Sayang, kau menangisi Diaz sejak kemarin ini sudah jam
tujuh pagi lebih. Kasian, wajahmu jadi sembab dan tak cantik lagi. Coba sini
lihat apa yang ada dalam video ini bisa merubah pikiranmu atau tidak?”
Al pun memberikan gawainya yang sudah siap memutar video itu
kepada Queen, Queen pertama melihatnya dengan biasa saja. Tapi kian lama saat
kakek Andrean seolah terus menjalankan pertunangan itu dia kian penasaran,
Bagaimana bisa ini tetap berjalan, sedangkan dirinya tidak ada di sana.
Matanya terbelalak kaget seolah tidak percaya dengan
penglihatan serta pendengarannya di mana sang kakek menyebutkan nama Hanifah
dan Diaz, bahkan dakam video itu ada adekan dimana dua insan itu yang sama
sekali bukan sepasang kekasih bisa bertungkar cincin dan diresmikan sebagai
tunangan.
'Bagaimana ini bisa terjadi? terlintas dalam benaknya saja tak pernah apalagi membayangkan. Tega sekali kakek. dan Hanifah, kenapa dia mau-maunya seperti itu?' batin Queen kian tergoncang saja.
“Tidak! Ini tidak bia terjadi, Diaz itu milikku kenapa kakek
justru malah menjadikan dia dengan Hanifah?” teriak Queen histeris sambil
melempar layar sentuh yang sama sekali bukan miliknya, ia menangis menjerit
sejadi-jadinya, ia merasa dunia dan semua orang-orang tidaklah adil padanya,
kakek yang ia sayangai mlah berpihak pada saudarinya, yang bahkan bukan cucu
dari anaksang kakek.
Al menoleh ke arah di mana ponselnya di lemparkan. Beruntung
dia memakai pelindung hp yang baik, jika tidak….
"Sayang, kan sudah kukatakan,
jika memang Diaz sayang sama kamu, dia lebih memilih untuk gagal tunangan
daripada bertunangan dengan orang lain. Kecuali dia juga diam-diam ada rasa
dengan Hanifah.”
“Kau diam! Aku begini juga karena kamu!” bentak Queen dengan
keras.
“Tenagamu sudah pulih hanya dengan menonton adegan kecil
dari video itu? bagaimana jika mereka sudah menikah nanti? Yang jelas, mereka
juga akan melakukan apa yang kita lakukan semalam. Bagaimana apakah kau
menyukainya? Jika ya, aku akan selalu ada untukmu memberikan kepuasan itu.” Al terkekeh seorang diri lalu kemudian keluar ketika mendengar
suara bel berbunyi sebanyak tiga kali. Ia yakin kalau yang datang adalah driver
ojol yang membawakan baju-baju yang ia pesan untk Queen.
Queen menghapus air matanya dengan kasar, ia sadar ia tidak
bisa selamaya begini. Dia harus tegar demi menyelesaikan masalah ini,bukannya larut terlalu dalam. Itu hanya akan menghancurkan dirinya saja. 'Aku harus tetap bahagia!' serunya dalam hati.
Wanita itupun beranjak menuju ke lamari pakaian yang ada
di dalam kamar tersebut, dibukanya lemari itu, benar apa yang di katakana Al
satupun tidak ada pakaian wanita, akhirnya ia pun menggambil handuk bermodel
kimono berwarna biru muda itu untuk ia kenakan menutup tubuhnya, Kemudian
matanya tertuju pada sebuah dasi milik Al. Wanita itu tersenyum dan mengambil
kain yang panjangnya kurang lebih satu meter itu.
“Sayang, bersiaplah mandi dan kita akan keluar bareng hari
ini!” seru Al dari luar. Pria itu mengedarkan pangdangannya ke seluruh penjuru
kamar, kamar itu kosong.
“Queen, kau di mana sayang?” teriaknya sekali lagi, lalu
melangkah masuk, barang kali wanita itu ada di dalam kamar mandi untuk
bebersih.
Tapi, siapa sangka kalau Queen justru malah bersembunyi di
balik pintu, tangannya memegang kedua ujung sisi dasi, perlahan ia melangkah
mendekati Al yang memanggil-manggil Namanya. Ketika tubuh Al sudah ada dalam
jangkauannya, dengan sigap wanita itu mengalungkan dasi itu di leher Al dan
menariknya keebelakang dengan kencang sehingga pria itu tercekik.
“Arghh… Queen, aa… Apa, Ya… ng kau … “ ucap Al, terbata-bata.
Wanita itu tidak peduli, hanya kebencian saja yang ada di
dalam dirinya saat itu, masih dengan air mata yang beruraian ia berkata, “Kau
__ADS_1
tak layak hidup, Al! Kau harus mati, mati… Kau mati saja.”
Al berpikir cepat mencari cara, bagaimana pun dia tetap
tidak ingin mati konyol sekalipun itu di tangan wanita yang dia cintai. Ia
tidak rela jika kelak dia benar-benar mati, Queen malah kembali dengan Diaz
atau bersama pria lain. Ia masih mencari cara untuk melepaskan diri namun tidak
menyakiti Queen. Bagaimana caranya?
Al menjatuhkan tas yang berisi pakaian milik Queen, ia
berpura-pura lemah, roboh dan tak berdaya. Sedangkan Queen ia hanya berdiri
mematung di tempatnya. Dalam hati ia juga takut kalau Al sanpai benar-benar
mati.
‘Dia tidak mati, kan? Dia masih hidupkan?’ ucap Queen dalam
hati, ia mulai ketakutan, bahkan tubuhnya pun juga bergetar.
Perlahan wanita itu mendekati Al dan berjongkok, dibaliknya
posisi pria itu dengan hati berdebar tak mempercayai kalau dia telah membunuh
seseorang.
Begitu tubuh itu terlentang Queen kian panik, ia berusaha
menjulurkan tangannya yang bergetar pada hidung Al untuk memastikan dia masih
bernapas atau tidak, belum sampai ia mendekatkan jarinya pada hindung Al. Kedua
tangan pria itu merangkul tubuh Queen sambil berkata, “Apakah kau takut aku
mati sayang?’’
“Tidak, aku hanya memastikan saja, jika kau mati aku kan
membuang jasatmu ke hutan,” bentak Queen.
Al dudk di sebelah Queen tangannya kembali diletakkan di
pundak wanita itu, pria itu tersenyum tipis dan mendekatkan wajahnya kearah
wajah wanita itu, ia menciumi pipinya, sampai ke bibirnya.
“Uh, apa yang kau lakukan!” Queen mendorong tubuh Al. Tapi,
beberapa detik kemudaia Al malah memeluk
erat tubuh itu, dan kian menempel seperti gurita.
“Kau mandilah, habis ini kita jalan. Tidak perlu risaukan
pekerjaanmu aku sudah izinkan dirimu selama seminggu ini.”
“Beraninya kau ikut campur urusanku,” ucap Queen.
“Kau tidak mau semuanya melihat bekas biru di lehermu itu
kan? Untuk acara kita kali ini kau tak perlu kawatir, aku sudah memesankan baju
kusus untukmu. Sekarang kau segera mandilah.”
Queen masih diam di tempatnya sambil mengalihkan wajahnya
tak mau menghadap kearah Al.
“Sayang, apakah kau mau kumandikan?”
“Kenapa kau peduli denganku setelah menghancurkan semuanya?”
Al menjambak rambutnya sendiri dan menarik napas Panjang
lalu berkata, “Mau berapa kali kuulangi perkataanku Queen? Aku tidak bisa kau
dengan laki-laki manapun. Aku cinta sama kamu.”
Queen hanya tertawa miring menghina kepada Al. “Aku heran,
bagaimana pria yang sudah berkluarga sepertimu bisa jatuh cinta pada wanita
lain. Bahkan tak bisa untuk setia, kelak setelah aku juga akan ada lagi yang
kedua, ketiga dan seterusnya.”
“Tidak, di hatiku tak ada cinta lagi untuk Nayla selain kamu, Queen. Sebenarnya
semenjak dari Jepang itu aku dan… “
bilang. Aku butuh makan dan pulang untuk minta penjelasan pada kakek, apa
maksutnya semua ini.
Wanita itu pun mandi dan mengambil cape dres yang krahnya
sampai leher, dia tersenyum, dengan begitu dia bisa menyembunyikan bekas
cupakan yang tak akan hilang dalam waktu satu dua hari itu, bahkan mungkin bisa
juga sampai satu minggu.
Tapi tunggu! Bukankah dress ini terlalu pendek, hello… ‘Al,
dress ini kupakai saja seatas lutut, setengah dari pahaku terekspose dan jika
aku berjongkok, celana dalamku pun pasti akan terlihat dari belakang, mana beliin dalaman
semuanya G-string lagi, keluh Queen dalam hati. Tapi, ini lebih baik dari pada pakai yang lainnya dengan model dada rendah.
🍁🍁🍁🍁
Di kediaman rumah Andrean, Hans dan Eren duduk di teras
belakang bersama kakek Andrean. Mereka nampak mencemaskan sesuatu, Jelas hal
itu pasti mengenai Queen Diaz dan juga Hanifah.
“Om, Bagaimana jika nanti Queen pulang dan mengetahui semua
ini? Apakah dia tidak akan kecewa?” tanya Hans nampak sekali kalau kepalanya
pening.
Semalam dia sebenarnya menolak, tak izinkan Hanifah lakukan pertunangan demi Queen. Tapi, putri tunggalnya itu menangis memohon padanya dan malah berkata jika dia sudah lama mencintai Diaz.
“Ya, dihadapi, la mau bagaimana lagi? Cepat atau lambat dia
juga pasti akan tahu, bukan? Percuma membohonginya juga. Lagi pula Hanifah juga
sudah lama mencintai pria itu, jauh sebelum Queen ada rasa dengan Diaz, biarkan
saja.” Jawab Andrean sangat enteng dan santai.
“Tapi Diaz hanya mencintai Queen, Om,” timpal Eren.
“Kamu tidak percaya apa kalau cinta itu hadir karena
terbiasa? Sudahlah biarkan semua mengalir apa adanya saja.”
“Tunggu, Om. Memang selama ini ada masalah apa sih antara
Queen dan Al? Apakah dia kan mengikuti jejak Clara dan Vano?” tanya Hans
tiba-tiba.
“Garis besarnya iya, Cuma lain ceritanya, Al dari dulu
semenjak Queen berstatus janda dia mulai tumbuh rasa cinta karena mereka
ngantor dan kemanpun bersama, Al juga sangat aktif mengantar jemput Queen saat
pulang atau berangkat praktek. Hanya saja bocah itu belum menyadari perasaannya
itu adalah cinta. Dan ketika sadar saat Queen akan bertunangan dengan Diaz
ini.”
“Jadi, Queen belum mencintai Al?”
Andrean hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala saja lalu
berkata, “Jika nanti mereka sadar, anaknya sudah akan jadi sepasang suami istri
sperti dirnya.
Mereka pun tertawa, Tapi Cuma sebentar karena setelah ini
akan ada banyak ,masalah yang akan menimpa mereka karena masalah semalam.
🍁🍁🍁
Di di sisi lain, di rumah kontrakan Umik Halimah dan juga Fatimah masih belum
juga kembali ke Bnadung. Mereka masih ingin menamani Diaz yang hatinya dapat di
katakana terguncang. Putranya masih saja diam di dalam kamarnya, seolah untuk
__ADS_1
keluar saja sangat Enggan.
“Diaz, umik tahu bagaimana perasaanmu, tapi memang
masalahnya semalam itu juga sangat rumit. Mungkin, memang Hanifah lah yang akan
ditakdirkan menjadi jodohmu, Umik lihat, dia sangat tulus mencintaimu, Nak,”
ucap wanita itu sambil mengelus punggung putranya.
“Apakah Queen tidak memiliki ketulusan padaku, Umik? Diaz
merasa dia juga sangat mencintai Diaz.”
Umik Halimah tersenyum tipis. Putranya masih belum cukup
mengerti tentang cinta sebenarnya. Jika pun dijelaskan saat ini, ia tidak akan
terima dan akan kekeh dengan pemahaman dirinya, yang tidak semuanya benar.
Jika Hanifah cinta pada pandangan pertama dan bahkan cinta
itu tetap bertahan sampai sekarang, tidak berpaling pada siapapun selama satu
tahunan ini. Tapi, Queen, wanita itu mencintai karena putranya selalu jadi
sandaran hatinya saat jatuh, jika sekali saja tanpa sadar atau disengaja, Diaz
menggores hatinya, maka cinta itupun akan musnah seketika. Lain halnya dengan
Hanifah yang cintanya benar-benar murni dari hati, sesakit apapun gadis itu
akan tetap bertahan, sampai ia benar-benar berada di ujung lelahnya.
“Umik sudah siapkan sarapan untukmu, Nak. Cepat di makan
sebelum dingin, ya?’’ Wanita itu pun pergi meninggalkan Diaz yang hanya berdiam
diri saja di dalama kamarnya sejak pulang dari rumah Queen semalam. Memang ini akan
terasa sangat sakit dan mengecewakan, tapi umik halimah yakin, kelak juga akan
menemukan jalan keluarnya.
Diaz melihat ponselnya berdering, Hanifah yang memanggilnya,
Artinya saat ini Queen masih bersama Al entah ada di mana, sedangkan ia juga
tahu sendiri, Queen meninggalkan ponselnya di tempat ia duduk bersama Hanifah
semalam, jadi, ia tidak akan bisa menghubunginya.
“Halo, Di… Kamu lagi apa?” ucap wanita itu dari seberang
sana begitu panggilannya sudah diangkat’
Tak ada sepatah katapun dari Diaz. Pria itu enggan menjawab.
“Aku tahu kau kecewa dan mungkin akan sangat marah kepadaku,
tapi ingatlah semalam itu keadaannya sangat genting. Tidak hanya kamu yang akan
menghadapi amarah dan kekecewaan Queen. Tapi aku juga, Diaz, kau ini hanya
orang lain, orang luar, jika pun memberinya penghianatan akan mudah baginya
melupakan tapi aku? Siapa yang paling sakit sekarang antara aku dan kamu?
Semalam aku bisa saja menolak permintaanmu dan kakek Andrean demi saudariku
itu. Tapi, tidakkah kau berfikir bagaimana perasaan keluarga besarmu itu, hah?
Aku lelah kau salahkan terus, aku pun juga sakit. Semua ini terjadi begitu saja
walau terkesan seperti drama, percayalah! Kami benar-benar tidak merencanakan
ini. Bahkan sore harinya aku menangis karena tak mampu membayakan jika aku
harus melihatmu bertukar cincin dengan Queen, Di…” ucap Hanifah Panjang lebar
sambil menangis terisak. Memang apa yang dikatakan Hanifah semuanya benar,
bahkan kakek Andrean pun juga tidak akan menyangka kalau semuanya akan begini
akhirnya.
“Hanifah, biarkan aku sendiri dulu, aku butuh waktu untuk
berfikir. Aku tidak akan marah sama kamu, bagaimana reaksi Queen jika
mengetahui ini pun juga kita belum, tahu, kita Cuma cukup menunggu saja dulu.”
Diaz pun mematikan panggilannya. Meletakkan gawainya dan berfkir, apa yang
kira-kira Al lakukan pada Queen apakah diam-diam pria itu jatuh cinta pada
adiknya sendiri? Diaz tidak mengerti, kalau mereka bukanlah saudara kandung.
Karena merasa lelah menebak apa yang Al bakal lakukan dan juga bagaimana perasaan Queen, Diaz pun memutuskan keluar untuk
menikmati sarapannya.
***
Hanifah menghampiri kakek Andrean begitu melihat papa dan
mamanya sudah tak lagi bersamanya.
“Kek, apakah ada waktu untuk mengonbrol sebentar?”
“Iya, Hanifah? Duduklah di sini, ada apa?”
“Kakek jawab jujur, apakah sebenarnya kau dan kak Al ada
merencanakan hal ini sebelumnya?”
“Tentu saja tidak, kakek hanya minta Al untuk menyiapkan
segala keperluan Queen bahkan dia pula yang akan memandu acara mulai dari
sambutan sampai acara tukar cincin. Tapi, dua hari sebelum hari H dan setelah
memasrahkan semua pada anak buahnya ia justru
malah menghilang, dan tahu-tahu dia muncul daklaym kondisi yang seperti itu, dan…
seperti yang kau lihat, kakek juga kaget, tapi harus berlagak tenang.’
“Apakah diam-diam kak Al suka sama Queen, Kek? Dia cemburu bila
Queen bersama pria lain makanya mebawanya lari dalam acara tersebut. Lalu kakek
memanfaatkan situasi tersebut untuk mewujudkan mimpiku?”
Andrean tersenyum sambil mengangguk, sedangkan Hnaifah diam,
memang kisah cinta di kehidupan nyata tak seindah dalam cerita dongeng drama Korea yabg sering tayang di tv. Jika
dalam dongeng, Al dan Queen mereka sudah bahagia, begitupun ia dan Diaz. Tapi,
sayangnya ini tidak, akan masih ada masalah besar menunggu bersama kedatangan
Queen kembali.
🍁🍁🍁🍁
Al terpana ketika
melihat Queen dalam balutan cape dress berwaarna hitam yang baru dibelinya
melalui online tersebut, wanita itu tampak cantik meskipun matanya masih
sembab.
“Kau sudah siap sayang?”
Queen tidak menjawab, ia justru memalingkan wajahnya dari
pandangan Al.
Al hanya tersenyum melihat adiknya masih marah dengannya,
memang kalau dipikir-pikir dia juga keterlaluan, sih. Tapi, mau gimana lagi?
Semalam dia juga masih sangat mabuk, jadi kesadarannya pun juga tidaklah penuh.
Al menghampiri Queen, ia tidak tahan untuk tidak mencium
wanita di depannya itu, sekarang ia tak peduli meskipun mau di kata gila atau
apa, yang jelas tak ada lagi yang perlu ditutup-tutupi lagi, toh dalam keadaan
kacau dia juga sudah mengakui perasaannya tak peduli meskipun di tolak dan
dibenci ia akan berusaha keras untuk memenangkan hati Queen.
Al melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Queen lalu ******* bibir merah alamai tanpa polesan lipstik itu dengan lembut. Queen hanya diam. tidak ada respon, namun juga tidak menolak. Al berfikir kalau dia sudah lemas dan tak ada lagi tenaga untuk memberontak.
Sedangkan Queen, dalam hatinya terjadi peperangan batin yang hebat. "Dirinya menolak dan sangat jijik dengan Al. Tapi, ke apa tubuhnya seolah bereaksi lain? Sekalipun tangan Al sudah meraba di bagian-bagian sensitifnya. Apalah dia diam-diam sangat merindukan sentuhan pria karena sudah lama tidak lagi mendapatnnya?
Tiba-tiba ibgatannta membawanya ke kejadian tadi malam, di mana Al yang dengan garangnya melakukan hal itu padanya, semua teringat bagaikan potongan pazel yang baru saja tersusun Mulai dari tatapan buas itu, matanya yang mengerjap penuh kenikmatan serta bagaimana ia memberikan gigitan di area leher dan dadanya dengan nafsu yang menggebu-gebu, membuat dirinya berkeringat bersama.
__ADS_1
Tak mau terlena dengan ingatannya sendiri, Queen pun mendorong tubuh Al dan berkata, "Cepat bawa aku pulang, aku ingin menemui kakek!"
"Baik, ayo!" Al mengulurkan tangannya hendak menggandeng Quen. tapi, wanita itu mengabaikanya dan berjalan sendiri menuju mobil.