
**pengumuman.
karena banyak yang mau Al sama Quen. Ok. saya kabulkan dengan catatan cukup ikuti alur saja, gapapa ikutin jejak emak bapaknya, tapi caranya berbeda seperti hasil dari 3x3\=9 5+4\=9 intinya banyak hal berbeda yang biasa dilakukan manusia tapi sebenarnya tujuan mereka sama.
dan dari kisah Al dan Quen ini akan mengajarkan pada kita, sekuat apapun kita berusaha memperjuangkan jika bukan jodoh akan gagal. Andai memaksa menikah juga tidak akan bahagia bahkan bercerai. sebaliknya, jika sudah jodoh sekuat apapun menolah antara keduanya dengan alasan apapun kelak akan bersatu juga. jadi jangam bosen dengan kejutan dan alur yang gak ketebak ini ya. biar aku juga punya ciri khas sebagai penulis. todak melulu seperti sinetron. ok happy reading๐๐๐**
Sejak kejadian itu Al banyak diam,kecuali ketika sedang berkomunikasi dengan Nayla. Tunggu. Selama ini apa yang dirasakan pada Clara, ya? Lalu pada Nayla? Semua jelas sangat berbeda.
Al berdecak kesal, dikeluarkannya sebatang rokok dan menyalakannya. Dihisabnya dalam-dalam rokoknya lalu meniupkan asab diudara.
"Di sini kau rupanya, Al."
Al menoleh ke belakang.
"Papa nyari, Al?"
"Kemana saja kau akhir-akhir ini jarang ada di rumah?" tanya Vano, duduk di sebelah putranya.
"Kan Al kerja di cafe om Reza, Pa. Kadang kalau cif pagi, siangnya ke panti asuhan."
Vano tersenyum kecil, merasa ada sesuatu di sana sehingga putranya sering ke sana. Terlebih sendiri, tidak bersama adiknya. Vano menatap Al penuh selidik.
"Ada apa kok sering ke sana? Sudah dewasa ya rupanya putra papa."
Al nampak salah tingkah, sepertinya Vano menangkap gelagatnya.
"Pa, perasaan kasian, ikut merasa perih ketika melihat seorang wanita sedih dan menangis itu kenapa, ya? Rasanya Al tuh kaya ingin selalu melindunginya, menukar dukanya dengan kebahagian, padahal baru kenal."
"Siapa? Zahara?"
"Tentu saja bukan."
"Kau jatuh cinta pada gadis itu?"
"Al tidak yakin, Pa. Sebelumnya Al suka pada seseorang dia hebat, baik dan memiliki hati yang tulus bagaikan permata, Al suka dan ingin mencari istri seperti itu, Al tidak terima melihatnya sedih dan ingin membalas orang yang menyakitinya, kurasa Al jatuh cinta dengan dia, dengan yang ini hanya sebatas kasihan," kilah Al bersikukuh.
"Dengan gadis pertana kau hanya kagum, Nak. Tapi dengan gadis kedua, itulah cinta yang sebenarnya, kau menganggapnya sebagai rasa kasihan, kau tahu kasihan iti dalam bahasa jawa adalah Welas asih. Sementara cinta itu, tresno. Welas asih lebih besar dari rasa cinta. Cinta lebih terkesan menuntut walau hakikat cinta sendiri sebenarnya tidaklah harus memiliki. Tapi, apakah kau mampu? Berawal dari kasian, ingin melindungi dan terus membuatnya bahagia cinta yang hebat akan tumbuh di hatimu. Kelak kalau kau melihatnya dekat dengan pria lain, kau tidak akan terima."
Al meresapi ucapan Vano. Selama ini ia biasa saja jika melihat Clara menangis, ikut sedih iya, tapi, tidak sampai hatinya perih seperti melihat Nayla.
__ADS_1
"Nikmati saja dulu perasaanmu, ingat pesan papa, jangan sampai mempermainkan hati wanita. Jika memang suka segera seriuslah dengannya, jika tidak, jangan memberinya harapan, Nak." Vano menepuk pundak Al memberinya semangat sebelumnya dia pergi ke dalam rumah.
๐ธ ๐ธ ๐ธ
"Apa, Pak? Axel sakit? Sakit apa dia?"
"...."
"Baiklah, aku akan segera ke sana, Pak." gadis itu mematikan sambungannya lalu berganti pakaian dan pergi ke kediaman orang tua Aditya.
Benar saja, sesampai di sana tidak terlihat Axel bermain seperti biasanya, atau anak laki-laki berlari menyambut kedatangannya.
Quen membuka pintu pagar yang hnya di slotkan saja tanpa di kunci. Ia segera menuju rumah dengan setengah berlari.
"Kau sudah datang, Quen? Axel ada di kamar dengan mamaku, dari kemarin tidak mau maman," ucap Aditya sedih.
Quen tidak begitu peduli dengan Aditya. Dia segera ke kamar Axel untuk menemuinya.
Di sana Axek terbaring dengan wajah yang pucat, sementara di sebelahnya Livia berusaha keras membujuk cucunya agar mau makan.
"Axel," panggil Quen.
"Kak, Quen? Kau kemari, Kak?" ucap anak itu nampak bahagia.
"Jagoan kok sakit? Ayo makan dulu yuk, kakak suapin." Bujuk Quen seraya menyodorkan sesendok bubur di mulut Axel.
"Gak enak makan, Kak. Rasanya pahit." Anak itu pun mengeleng sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Axel, mau sembuh gak?"
Anak itu mengangguk sambil menatap Quen penuh dengan isyarat yang memelas.
"Kalau tidak mau makan, gimana bisa sembuh? Kecuali diinfus."
"Jangan infus aku, Kak," teriak Axel dengan cepat.
"Makanya, ayo makan ini, lalu minum obat. Tidakkah kau tahu papamu adalah dokter, dan kak Quen calon dokter, loh."
"Iya, aku mau makan tapi kakak harus tidur di sini malam ini."
__ADS_1
"Kenapa gitu?"
"Kalau gak mau, ya udah, Axel gak mau makan."
"Baiklah, ayo makan dulu. Kakak janji deh." Akhirnya gadis itu pun mengalah demi kesembuhan bocah di depannya.
Sampai malam tiba, Quen masih menemani Axel karena masih mengigau.
Karena terlalu lelah, Quen pun tertidur dalam posisi duduk sambil kepalanua di sandarkan di tepi ranjang.
Merasa Quen sangat lama di dalam kamar Axel, Aditya menyusul ke kamar melihat apa yang terjadi. Ternyata mereja sudah tidur.
Aditya memperhatikan Quen yang nampak lelah ia ingin menggendong dan membawanya kemarnya. Tapi, baru saja keluar dari pintu kamar putranya Quen sudah terbangun.
"Pak Adit, apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" Seru Quen.
"Ssstttt... Jangan keras-keras, nanti mamaku bangun."
"Turunkan aku, aku bisa jalan sendiri." Quen berusaha meronta agar pria itu menurunkannya.
"Kau tenang saja, tidur di sini, ya?" ucap Aditya sambil meletakan Quen di atas kasurnya.
"Kamar siapa ini?" tanya Quen sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar.
"Ini kamarku, tidak perlu sungkan."
"Lalu Bapak mau tidur di mana?"
"Ya di sini, kita tidur bersama, Quen." Aditya menyeringai, melepaskan kemejanya dan hanya mengenenakan kaus selengan yang presbody.
"Tidak, aku akan pulang saja, Pak. Atau aku akan tidur di ruang tamu saja tidak apa-apa." Quen pun bergegas bangun.
Dengan sigap Aditya menangkap tubuh Quen memelukanya dari belakang.
"Sayang, kita cuma tidur bersama, tidak akan terjadi masalah. Yang bermasalah dan bisa mengakibatkan kehamilan itu, jika kita beraktifitas malam bersama. Tidur sama aku, ya calon istriku," bisik Aditya dari belakang Quen.
Quen mendesah kesal, tapi, tiba-tiba ide jailnya pun muncul. Ia menyeringai kecil, "Baiklah, awas jangan apa-apain aku sebelum aku resmi jadi istrimu.
Quen pun tidur miring menghadap Aditya ia menggeser tubuhnya semakin dekat pada pria di depannya.
__ADS_1
"Calon suamiku, kenapa kau tampak gugup dan menghindar? Peluklah aku dalam dekapanmu agar aku pulas malam ini, cuma berpelukan saat tidur juga tidak membuat hamil, kan?"
Quen tersenyum puas sukses mengerjai Aditya, sementara Aditya menyesali keputusannya, ia semalam penuh gelisah terus tidak bisa tidur. Sementara Quen tidurnya sangat nyenyak. Beruntung mereka bangun senelim Livia. Jadi, wanita itu tidak tahu kalau mereka sekamar. Livia mengiranya Quen tidur di kamar Axel bersama cucunya.