Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 42


__ADS_3

Al lebih awal bangun, ia datang ke dapur menamani mamanya yang tengah menyiapkan sarapan bersama Lyli.


"Tumben kau di sini, kenapa, Al?" tanya Clara penuh slidik.


"Masak apa sih, Ma?" tanya balik Al.


"Bikin nasi goreng, kenapa?"


"Sarapannya Al bungkusin ya, Ma," ucap Al sambil cengar cengir.


"Kau mau ke cafe om Reza lagi?"


"Iya, kan kemarin gajian," jawab Al.


Clara hanya mengelengkan kepalanya. Ia merasa ada perubahan pada putranya.


Sebelum pukul setengah tujuh, Al sudah sampai di kos-kosan Naila, dia membawa nasi goreng dari rumah untuk sarapan Naila.


"Kau makanlah, ini ibuku yang bikin tadi." Al menyodorkan bungkusan kresek berisi satu box ukuran sedang nasi goreng.


"Mas, kenapa repot-repo?" ucap Naa merasa sungkan.


"Sepertinya ibuku membawakan banyak, itu cukup untuk kita bertiga. Kelihatannga tidak pedas. Kau bisa menyuapi Bilqis sekalian."


Al duduk bersandar pada tembok, memikirkan nasib Nayla jika kelak dia sudah beragnkat ke Jepang. Mungkin bisa saja dia bekerja, tapi anaknya dengan siapa? Dia pulang mungkin juga satu bulan sekali dan cuma beberapa hari saja di rumah, itupun jika tidak banyak kerjaan.


Al diam sejenak berusaha memutar pikirannya mencari cara bagaimana baiknya.


Tapi, karena ia beleum menemukan cara, jadi setelah sarapan dia pergi ke cafe.


Bersamaan ia membuka bersama Reza dan dua karyawan lain Zahara sudah datang di cafe dengan membawa box entah apa isinya. Reza tersenyum pada Al dengan penuh Arti. Sepertinya tahu maksut gadia berhijab itu.


"Mas, Al. Tadi Zahara bikin kue banyak sekali, mungkin Mas Al bisa mencobanya," ucap gadis itu dengan suara lembut, mirip sekali uminya, umi Fatiya.


"Zahara, kenapa repot-repot? Makasih, ya?" ucap Al sambil Menerima box dari tangan Zahara.


"Sama-sama Mas. Ya sudah, Zahara berlanja dulu untuk kebutuhan dapur." Gadis itu pun memohon diri.


Karena Al merasa sudah kenyang dia menawarkan kuenya kepada Reza dan dua rekannya. Dan dalam sekejab kue itu sudah ludes tak tersisa.


"Siap itu, Al?"


"Dia? Anaknya pengurus Panti, Om."


"Cantik, ya?"

__ADS_1


"Namanya perempuan semuanya ya cantik," jawab Al cuek.


Reza tertawa kecil, menepuk pundak Al beberapa kali. "Coba kau peka sedikit, gadis itu menyukaimu, sebelum kau ke Jepang apa salahnya nayatakan cintamu padanya, dari pada kau menyesal!"


Mendengar nasehat Reza, Al menemukan solusi tentang Nayla, dia bisa dititipkan di panti asuhan. Dia bisa membantu pekerjaan umiĀ  Fatiya dan Bilqis, pasti senang di sana banyak temannya. Kalaupun seandainya mantan suami Nayla menemukannya di sana. Dia pasti tidak bisa berbuat apa-apa.


"Makasih, Om aku akan cuti dulu hari ini, atau tukar cif aja, aku masuk nanti cif malam, ya?" ucap Al buru-buru pergi.


Reza hanya tersenyum mendapati kelaluan Al. Dia mengiranya pemuda itu mengejar Zahara, padahal tidak.


Al berjalan masuk gang kos-kosam Nayla, ketika itu dia sedang menjaga anaknya sambil menyapu teras depan rumahnya.


"Loh, Mas Al, kenapa kembali?" tanya wanita itu heran dan penuh tanda tanya.


"Kau ikut aku sebentar," ucap Al terkesan memerintah dan harus dituruti.


Tanpa ba bi bu, Nayla meletakam sapunya masuk ke dalam sebentar dan ia pun keluar lalu mengikuti Al.


"Masuk!" perintah Al seraya mebukakan pintu mobil.


"Mobil Mas Al?" tanya Nayla.


"Tentu saja bukan. Ini milik bosku, sudahlah jangan banyak tanya nanti kai akan tahu."


Sekitar empat puluh menit, keduanya tiba di panti asuhan yang diurus oleh Umi Fatiya.


pikirannya pun mulai ke mana-mana.


"Kenapa kita ke panti, Mas?"


"Katanya kau mau bayar utangmu ke aku? Ya kerja di sini bantu rawat anak-anak. Di mana lagi kau bisa bekerja tanpa meninggalkan Bilqis?" jawab Al sekenanya. Dalam hati dia juga ingin tertawa mendapati eskpresi Nayla dan jawaban yang baru saja dilontarkannya.


"Iya, Mas Al benar. Terimakasih ya Mas, uda bantu Nayla banyak banget, semoga tuhan membalasnya dengan lebih kebaikan yang berlipat padamu, Mas."


"Ya kamu juga harus membalas baik sama aku, donk! Sudah ayo kita turun."


Kali ini bukan Umi Fatiya yang membukakan pintu melainkan Zahara. Gadis itubtersenyum semang mendapati Al yang datang, tapi, begitu melihat di belakang Al ada seorang wanita yang seumuran dengannya menggondong anak, senyumnya kian lama kian memudar.


"Masuk, Mas. Umi masih ada di belakang biar Zahara panggilkan umi dulu." Gadis itu pun berjalan ke belakang. sementara Al mengajak Nayla duduk di dalam.


Tak lama kemudian muncul wanita paruh baya dengan pakaian khasnya, hijab syar'i menghampiri keduanya.


"Assalamaualaikum."


"Waalaikumssalam, Umi." Al berdiri berdiri lalu mencium tangan wanita itu.

__ADS_1


"Ada perlu apa Nak, Al, tumben pagi-pagi kesini tidak dengan Nak Quen."


"Begini Umi, ini Nayla. sebenarnya Al mau minta tolong pada Umi untuk memberinya tempat tinggal di sini. Dia tidak punya saudara di sini. Semalam Al bertemu dengannya dia diteror mantan suaminya, Umi. Tolong, ya. Kasian dia," ucap Al memohon.


Umi menghela napas dalam tersenyum lalu mulai mengintrogasi Nayla.


"Nak Nayla, berapa usiamu?" tanya Umi Fatiya dengan senyumnya yang lembut dan memancarkan ketulusan.


"Saya, berusia duapuluh tiga, Umi."


"Itu putrinya, ya? Usia berapa?"


"Baru satu tahun setengah," jawan Nayla sambil memandang ke wajah anak dalam pangkuannya itu.


"Ada masalah apa sebenarnya kau dengan suamimu, Nayla?"


"Begini Umi, umur duapuluh tahun saya menikahinya, suka sama suka awalnya, tapi, setelah pernikahan berjalan tiga bulan, sifatnya kian berubah menjadi kasar, bahkan saat Bilqis berusia dua bulan, dia menceraikan saya secara sepihak demi wanita lain, dan beberpa bulan ini dia kembali meminta rujul karena dicampakan wanitanya, saya menolak karena lelah menjadi korban KDRT dan kasian Bilqis pula jika harus melihat kejadian seperti ini, saya berniat menghindar saat dia datang malah dia mengejar, beruntung semalam bertemu mas Al."


Nayla menyeka air matanya, kesedihan yang berusaha ditutupinya seolah terkuak kembali dengan dia menceritakan hal ini kepada Umi.


Al memperhatikan Nayla, dia tidak tega melihat wanita itu menangis, ingin rasanya dia memberikan bahunya untuk bersandar, tapi, apakah pantas sementara di depan mereka ada Umi Fatiya.


"Begitu, ya? Kasihan sekali, kau Nak. Kau seusia dengan putri umi tadi, Zahara, dia juga berusia duapuluh tiga. Maulai sekarang kau bisa tinggal di sini, dan ikuti aktifitas di sini. Dan Bilqis pasti senang, ya banyak teman di sini.


"Zahara, Nak. Tolong ajak Bilqis bermain dengan teman-temannya, ya."


Tak lama kemudian Zahara datang setengah berlari, lalu mengajak Bilqis kebelakang.


Sekitar tigapuluh menit ketiganya mengobrol kesana kemari, Akhirnya Al harus memohon diri. Umi Fatiya kebelakang dulu memberi waktu untuk keduanya berbicara. Barangkali ada yang perlu disampaikan secara pribadi.


"Mas, sekali lagi terimakasih, ya?" ucap Nayla tersenyum. Namun air matanya berair.


Dengan spontan Al menyapu air mata itu dengan ujung ibu jarinya.


"Sudah jangan menangis lagi, kau baik-baik di sini bersama Bilqis, ya. Aku janji akan sering-sering kemari."


"Iya, Mas. Iya, terimakasih." Wanita itu kian terisak karena haru. Masih tidam percaya dengan takdirnya yang begitu beruntung dapat bertemu dengan Al, dan bahkan Al membawanya di sini untuk menjamin keselamatannya dan Bilqis.


Al mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya dan memberikan sebuah amplop putih uang gaji yang diterimanya kemarin dari Reza dan sebuah ponsel berwarn rose gold kepada Nayla.


"Kamu pakai ini untuk menghubungiku jika ada apa-apa. Dan ini buat pegangan, sewaktu-waktu kau perlu sesuatu kau bisa membelinya."


"Apa lagi ini, Mas?" tangisan Nayla semakin pecah, dia tidak pernah diperlakukan baik dan penuh perhatian selama ini sebelumnya, jila pun pernah mungkin dulu saat di kampung, ia juga sudah lupa bagaimana rasanya kasih sayang dari orang lain semenjal tiga tahun silam.


Al merangkul Nayla dalam pelulannya, dia tidak tega melihanya menangis, entah kenapa, dia tiba-tiba saja merasa ingin melindungi dan memberi kenyamanan pada Nayla.

__ADS_1


"Aku kembali bekerja dulu, ya Nay. Kau baik-baik di sini."


__ADS_2