Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 3 PART 20


__ADS_3

Novita duduk berhadapan dengan Axel putranya yang kini sudah


mulai beranjak dewasa. Tapi, ia masih bingung harus dari mana memulainya.


Sedangkan, dengan perasaannya sendiri saja ia tidak bisa mengerti. Lantas, untuk apa mengajak Axel duduk dan berbicara? Dalam hati wanita itu menertawakan dirinya


sendiri.


“Baiklah kalau mama tidak bisa memulai. Apakah mama


diam-diam menyukainya?”


“Eh, apa, Xel?’’


“Mama apa diam-diam suka sama om Candra? Mungkin tidak


masalah. Adriel menyukainya. Dan apalagi, dia mirip dengan mendiang papa.”


“Tidak, Xel. Bukan begitu. Papamu, ya tetap papamu. Tidak


akan pernah tergantikan oleh siapapun termauk juga om Candra sekalipun yang


memiliki paras yang sama persis dengannya.”


“Baik. Kala itu aku sudah besar. Cukup mengerti permasalahan kalaian. Aku juga tahu, kronologi bagaimana papa terbunuh oleh om Al. mama seharusnya membenci papa. Tapi, karena mama yang sudah terlanjur


cinta. Sedikitpun tak ada dendam di hati mama. Lalu, bagaimana dengan om Candra?”


Novita terdiam. Ia berusaha sebisa mungkin agar air matanya


tidak sampai terjayuh. Apalagi di depan putranya sendiri. Dia memang  lemah. Tapi, tak mau kelemahannya diketahui oleh putranya sendiri.


“Apakah mama masih tetap ingin menyendiri seperti ini? Tak


mau memulai kembali hidup bersama dengan seseorang. Axel rasa om Candra memiliki cinta dan ketulusan untukmu, Ma.”


“Sayang. Mungkin saat ini hati mama sudah hambar untuk


papamu. Tapi, bisa saja rasa itu tumbuh jika melihat papamu. Tapi, tidak baik, Nak kalau menjalin hubungan seperti ini.


Andai kau berada di posisi om Candra. Dan kau pada akhirnya tahu kalau dia mirip dengan suami mama yang dulu, apakah kau tidak sakit hati? Tidakkah kau merasa hanya dijadikan pelampiasan saja?"


Kali ini giliran pria remaja itu yang diam. Dia tak tahu rasanya bagaimana karena ia tidak pernah ada di posisi itu. Jika jatuh cinta mungkin juga sudah. Tapi, entah pada siapa dan benarkah itu cinta atau hanya sebatas rasa kagum saja yang ada di hatinya?


“Benar kata mama. Aku ini masih anak-anak dan mungkin juga


belum cukup umur untuk mengerti urusan orang dewasa seperti kalian.”  Axel tertawa miring kemudian ia beranjak ke dapur. Mungkin ia sudah tak kuat berpura-pura untuk tidak lapar.


Novita tersenyum seorang diri mendapati bagaimana tingkah


putranya. Lucu juga.


“Kamu mau makan apa?” tanya wanita itu saat mendapati putranya


merebus air dalam panci dan mengambil sebungkus mie instan.


“Mama tidak masak, kan?”


“Tentu saja masak. Kenapa berfikir begitu?”


“Lalu, kenapa tadi om Candra kesini dan membawa makanan?”


“Gak tahu, mungkin dia lagi pengen makan bersama.”


“Ma, aku dengar apa yang kalian obrolkan di luar tadi,” ucap


Axel, sambil menuangkan mie instan yang sudah matang  ke dalam mangkuk yang sudah ia kasih  bumbu-bumbu.


Memang tadi ia berfikir kalau mereka di luar akan lama.


Jadi, Axel yang sudah merasa sangat lapar pun keluar berniat membuat mie instan dengan telur dan tambahan sayur lalu memakannya di dalam kamar. Tapi, tanpa sengaja telinganya menangkap pembicaraan yang bisa dikataka serius.


“Tentang apa?”


“Tentang om Candra yang akan dipindah, dan kembali ke Jogja.


Jika memang mama merasa sepi tanpanya, katakana saja kalau mama mau hidup bersamanya, dan jangan biarkan dia pergi.”


“Kenapa kau malah ada di pihaknya sekarang? Bukankah selama


ini kau membencinya?”


“Apakah Axel pernah berkata demikian?” Axel meniupi mie yang


masih panas, yang masih mengepulkan asap tipis


, lalu melahapnya.


“Ya, tidak pernah sih. Tapi, mama berfikir demikan. Kau


tidak pernah close setiap melihatnya. Lain halnya dengan Adriel.”


“Terus, apa yang Mama daptkan dari ini?”


“Ya anggapan kalau kau tidak menyukainya. Apa lagi?”


Axel tertawa. Kemudian melanjutkana kembali makanannya.


Sementara Novita masih saja bingung dengan apa yang putranya maksutkan.


“Tidakkah mama merasa kalau om Candra itu


bersungguh-sungguh? Jika saja dia tidak serius dengan perasaannya… untuk apa dia tetap datang dengan modal menebalkan muka serta menggadaikan rasa malunya?


Karena aku dan mama tidak menerima dia dengan baik. Tidak pernah.”


Novita diam, ia membenarkan apa yang baru saja Axel


katakana. Memang semua itu tepat dan tidak salah sedikit pun.


“Jika saja aku baik dan ramah padanya, perjuangannya terlalu


mudah. Kurasa mama tahu lah, sesuatu yang didapat dengan mudah, seseorang tidak


akan begitu menghargainya. Sama halnya dengan dua hiasan dinding itu. Walau sudah lama kenapa tidak dibuang atau taruh Gudang saja? Karena mahal, dan mama


mendapatkannya dari luar negeri.”


“Axel… lalu, bagaimana menurutmu dengan om Candra?”


“Aku dari awal sudah menyukainya. Jika mama juga, kenapa


kalian tidak menikah saja? Pergilah bersama Adriel ke luar pulau Jawa untuk menjadi nyonya Candra. Di sini aku punya om dan tante.”


Novita tersenyum dan memeluk putranya. Dia benar-benar


terharu. Tak menyangka kalau Axel bisa berfikir dan bertindak ssmpai sejauh itu.


“Tapi, Xel. Bagaimana jika kelak dia tahu kalau dia sangat


mirip dengan mendiang papa kalian? Dia akan kecewa dan kemungkinan terburuk


akan membenci kita.”


“Makanya, jelaskan. Ajak ketemu, dan kalian berdua


bicaralah!”  Axel beranjak, meletakkan

__ADS_1


mangkuknya ke tempat encucian piring tanpa mencucinya. Sedangkan Novi, segera


menuju kamar dan menghubungi Zahara, bertanya, kira-kira Adriel mau diantar pulang kapan?


Jika bukn besok, ia akan mengatur waktu untuk bisa bertemu dengan Candra.


***


Di sebuah café, seorang pria nampak tengah duduk di salah


satu gazebo yang berjajar. Sesekali ia melihat jam tangan yang melingkar di


pergelangannya. Tak jarang pula, pria itu memandang ke arah pintu masuk café.


Sesekali ia menyesap minuman yang sudah ia pesan untuk


mengilangkan rasa dahaganya di siang yang terik. Tapi, karena sudah lama


menunggu, dan yang ditunggu tak juga kunjung datang, ia mulai meragukan kalau


yang membuat janji lupa. Mana siang-siang begini lagi.


“Nov, kamu ingat gak, sih dengan hari ini?” gumamnya seorang


diri. pria itu pun membuka layar sentuhnya dan mencrol kontak, mencari nomor


ponsel wanita itu untuk dihubungi.


“Candra! Maafkan aku terlambat. Tadi macet, dan taxi online


yang aku tumpangi bannya kempes.”


Pria itu menoleh ke sumber suara tersebut. Ia melihat wanita


berdiri sambil melepaskan sendalnya dan hendak masuk ke dalam gazebo tempatnya.


“Tidak masalah,” jawab pria itu, tenang.


“Astaga! Maafkan aku, ternyata aku telat hampir satu, jam.


Oke, sebagai permintaan maafku, bagaimama kalu kali ini aku yang traktir?”


Novita teringat bagaimana tadi ia saat hendak bersiap-siap


untuk berangkat menemui Candra. Ada saja halangan dan rintangan yang ia lalui.


Mulai dari sabun dan sampo habis. Pasta gigi tidak ada di tempatnya. Saat badan penuh busa tiba-tiba kran air mati cukup lama. Belum lagi baju yang sudah ia


siapkan hilang. Ia tahu itu kerjaan Axel. Dan ketika diintrogasi, jawab nya,


pria sejati harus rela menunggu wanitanya. Sekalipun lama. Padahal, selama enam


tahun ini Candra juga sudah cukup menderita. Penderitaan itu juga termasuk


dalam mkategori menunggu, bukan?


Novita duduk bersimpuh behadapan dengan Candra di depan meja


kecil. Sambil mengambil tisu dan mengeringkan keringat di keningnya.


“Aku, ditraktir wanita? Jangan! Pantang sekali bagiku jika


harus ditraktir oleh wanita,” jawab pria itu sambil menyodorkan daftar menu


pada Novita.


“Ya, kan tidak selalu. Anggap saja sebagai permintaan


maafku. Kan tidak masalah.” Novita membuka daftar menu makanan dan minuman, kemudian mencatat pada nota yang sudah disediakan.


“Tidak. Kalau kau memang benar-binar minta maaf. Bukan


“Baiklah, kalau begitu. Kamu mau pesan apa?”


“Apapun yang kau pesan, tambah satu porsi untukku.”


“Tapi, ini aku memasukkan tumis… “ Belum sempat Novita


melanjutkan kalimatnya, Candra malah memotongnya.


“Apapun. Tumis empedu aku juga doyan asal kau suka itu. Aku


gak mau tahu. Yang kau pesan aku juga memesannya. Awas kalau sampai ada yang


kau kurangi,” ucap pria itu dengan serius.


“Oh, oke!” jawab Novita, dengan ragu-ragu juga, ia menulis


angka dua pada beberapa  menu yang ia


pesan.


Keduanya berbincang membahas hal-hal yang ringan. Belum ke


inti dari apa yang ingin Novita bicarakan kepada Candra.


Pembicaraan mereka terhenti saat menu yang dipesan datang.


Dua gelas es jeruk, dua bolol air mineral, dua piring nasi putih, krengsengan


hati ampela yang pedasnya level 9. Dan juga tumis pare, dan untuk hidangan


penutup, Novi memesan dua porsi rujak buah dengan duabelas cabe.


“Kamu pesen pare?” Candra terbelalak melihat dua porsi paren


dengan orak-arik tekur dan  banyak irisan


cabe rawit.


“He’emb… katanya kamu mau memesan apapun yang aku pesan? Pare, tidak sepahit empedu, loh."


“Kenapa harus pare kau ikut sertakan?” protes pria itu, seolah


ia adalah manusia yang terdzolomi saja di muka bumi ini.


“Memang kamu memberiku waktu untuk mejelaskannya?” Novita


balik bertanya pada Candra, yang kedengarannya malah terkesan mengejek.


“Baiklah, aku akan memakannya.”


Pria itu langsung menyendok sedikit tumis pare, meletakkan pada


nasinya. Lalu apa yang terjadi? Ia sampai merem melek setelah mencicipi seperti


apa rasanya. Dengan cepat diraihnya segeas es jeruk. Wajahnya memerah karena rasa pedas di atas kemampuannya, dan pahit pula.


“SSHHH hah… bagaimana kau bisa menyukai makanan pahit dan


sepedas ini sih, Nov?”


“Ya gak tahu, aku memang pecinta pedas, dan suka banget sama


yang namanya pare,” jawab wanita itu dengan santai. Bahkan, saat ia menikmati


kresngse gan hati ampela dan pare itu juga ekspresinya nampak biasa saja. Tak nampak

__ADS_1


sedikitpun kalau ia tengah merasa kepedasan.


 Sedangkan Candra, ia


sudah menghabiskan seluruh minumannya. Termasuk air mineral. Tanpa sungkan-sungkan,


diraihnya es jeruk novita, ia menyerputnya dan hanya menyisakan setengahnya


saja.


Melihat Candra yang nampk tersiksa dengan rasa pedasnya,


wanita itu melambaikan tangan dan memanggil salah satu pelayan. Ia memesan segelas air hangat yang sedikit panas untuk candra yang tengah kepedasan. Sekitar


lima menit, seorang pelayan yang sama datang dan membawa nampan di tangannya


berisi air putih panas.


“Cepat kamu minum itu,” ucapnya.


Tanpa menunggu perintah kedua, Candra langsung menyeruput air


itu, dan rasa panas di bibirnya yang tengah kepedasan semakin mak nyos saja.


“Hah, kau meracuniku? Aku sudah sangat kepedasan, bukannya


memsankan aku air es, malah air panas,” protes candra lagi. Wajahnya memerah


dan penuh dengan kringat.


“Sudah minum saja kalau kau ingin sembuh dari rasa pedasmu


itu. Coba sekali saja nurut sama aku,” ucap Novi, mulai jutek.


Dengan sangat terpaksa Candra meminumnya. Tapi, ia hanya


mampu sampai setengah saja. Selebihnya ia sudah menyerah.


“Bagaimana? Sudah baikan, bukan? Tidak sepedas tadi, kan?”


“Eh, iya juga, ya? Saat minum es rasanya seperti kian pedas


saja.”


 Novita hanya tersenyum.


Karena mereka sudah selesai makan, Novita mulai serius membawa obrolannya.


“Kamu tahu, kenapa kau mengajakmu bertemu di sini?”


“Kenapa? Boleh aku menebak?” tanya Candra balik.


"Tentu saja, silahkan tebak. Jika benar aku akan langsung to


the point.”


“Kau mau kasih aku jawaban, bukan?”


“Ya. Kau benar.”


“Apa jawabannya? Sesuai janji. Kau harus langsung to the


point,lo.”


“Baik, kau menerima lamaranmu.”


“Apa? Kamu serius, Nov?”


"Tapi, tunggu dulu. Aku bahkan tidak yakin kau mau melanjutkan


hubungan ini, setelah kau mengerti semuanya.


“Apa? Apakah ada masalah, atau sarat yang harus aku lakukan?”


Tanpa menjawab , novita mengambil sebuah kertas dari


dalamnya dan menunjukkan pada pria di depannya.


Ternyata kertas itu adalah sebuah foto berukuran lima R.


Candra menerima foto tersebut dan nampak sedikit terkejut


saat melihat gambar pria yang seperti dirnya, memakai jas putih khas seorang dokter. Lengkap dengan stetoskop yang dikalungkan pada lehernya.


“Hah, apa ini?” Candra memandang Novita lekat. Dan masih


menggam foto tersebut.


“Dia adalah dokter Aditya. Spesialis THT terbaik di kota


ini, dulu. Dia sudah meninggal sejak tujuh tahun silam.”


“Lalu, apa hubungannya denganku?” tanya Candra bingung.


“Harusnya tidak ada. Tapi, karena kau suka padaku, dan


berniat melamarku. Maka, kau harus tahu itu. Tidakkah kau berfikir kalau dia sepertimu? Dan Adriel putraku juga mirip denganmu?”


Candra menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu bergumam


lirih namun masih bisa didengar Novita.


“Iya, juga ya. Siapamu dia?”


“Dia adalah mendiang suamiku. Papa dari kedua anakku. Itu alasannya


aku selama ini berusaha menjauh darimu.”


“Kenapa? Apkah dia pernah menghianatimu? Kau sakit hati


karenanya, dan jika melihatku hanya mengingatkanmu dengan luka lama? Maafkan aku, Nov. aku tidak tahu kenapa aku harus memiliki wajah yang sama persis dengan mendiang ayah dari kedua anakmu itu. Aku juga tidak… “


“Cukup! Kau salah. Justru aku sangat mencintainya. Begitupun


dia. Dia sangat mencintaiku. Tapi, setelah kami resmi bercerai, dan dia pergi untuk selama-lamanya aku sadar. Klau aku tidak harus meratapi nasib kehilangan


dirinya. Dia sudah tenang di alamnya sendiri. Sementara aku harus fokus dengan


hidupku, dan kedua putraku. Tapi, saat aku hamil tua, Tuhan malah mempertemukan


aku padamu.”


Novita mulai terisak. Ia tak sanggup mengingat kenangan


indah saat bersama mendiang suaminya, meskipun rasa cinta itu sudah musnah


untuk Aditya. Sedikitpun penghianatan, ia tidak mengingatnya. Karena ia sadar,


yang membuat Aditya begitu adalah dirinya sendiri. Jika saja ia tidak mencegah Aditya


melanjutkan hubungannya dengan Queen. Atau ia yang tidak meninggalkan Aditya


demi pilot yang seorag fake boy, ini tidak mungkin terjadi.


“Aku takut kau tersakiti, dan menganggap kau kujadikan pelampiasan


saja, Ndra,”  ucap Novita lagi. Sementara

__ADS_1


Candra, ia hanya bisa diam saja menyaksikan untuk pertama kali wanita yang ia


cintai menangis karena dilemma antara masa lalu, dan masa depannya.


__ADS_2