
Novita duduk berhadapan dengan Axel putranya yang kini sudah
mulai beranjak dewasa. Tapi, ia masih bingung harus dari mana memulainya.
Sedangkan, dengan perasaannya sendiri saja ia tidak bisa mengerti. Lantas, untuk apa mengajak Axel duduk dan berbicara? Dalam hati wanita itu menertawakan dirinya
sendiri.
“Baiklah kalau mama tidak bisa memulai. Apakah mama
diam-diam menyukainya?”
“Eh, apa, Xel?’’
“Mama apa diam-diam suka sama om Candra? Mungkin tidak
masalah. Adriel menyukainya. Dan apalagi, dia mirip dengan mendiang papa.”
“Tidak, Xel. Bukan begitu. Papamu, ya tetap papamu. Tidak
akan pernah tergantikan oleh siapapun termauk juga om Candra sekalipun yang
memiliki paras yang sama persis dengannya.”
“Baik. Kala itu aku sudah besar. Cukup mengerti permasalahan kalaian. Aku juga tahu, kronologi bagaimana papa terbunuh oleh om Al. mama seharusnya membenci papa. Tapi, karena mama yang sudah terlanjur
cinta. Sedikitpun tak ada dendam di hati mama. Lalu, bagaimana dengan om Candra?”
Novita terdiam. Ia berusaha sebisa mungkin agar air matanya
tidak sampai terjayuh. Apalagi di depan putranya sendiri. Dia memang lemah. Tapi, tak mau kelemahannya diketahui oleh putranya sendiri.
“Apakah mama masih tetap ingin menyendiri seperti ini? Tak
mau memulai kembali hidup bersama dengan seseorang. Axel rasa om Candra memiliki cinta dan ketulusan untukmu, Ma.”
“Sayang. Mungkin saat ini hati mama sudah hambar untuk
papamu. Tapi, bisa saja rasa itu tumbuh jika melihat papamu. Tapi, tidak baik, Nak kalau menjalin hubungan seperti ini.
Andai kau berada di posisi om Candra. Dan kau pada akhirnya tahu kalau dia mirip dengan suami mama yang dulu, apakah kau tidak sakit hati? Tidakkah kau merasa hanya dijadikan pelampiasan saja?"
Kali ini giliran pria remaja itu yang diam. Dia tak tahu rasanya bagaimana karena ia tidak pernah ada di posisi itu. Jika jatuh cinta mungkin juga sudah. Tapi, entah pada siapa dan benarkah itu cinta atau hanya sebatas rasa kagum saja yang ada di hatinya?
“Benar kata mama. Aku ini masih anak-anak dan mungkin juga
belum cukup umur untuk mengerti urusan orang dewasa seperti kalian.” Axel tertawa miring kemudian ia beranjak ke dapur. Mungkin ia sudah tak kuat berpura-pura untuk tidak lapar.
Novita tersenyum seorang diri mendapati bagaimana tingkah
putranya. Lucu juga.
“Kamu mau makan apa?” tanya wanita itu saat mendapati putranya
merebus air dalam panci dan mengambil sebungkus mie instan.
“Mama tidak masak, kan?”
“Tentu saja masak. Kenapa berfikir begitu?”
“Lalu, kenapa tadi om Candra kesini dan membawa makanan?”
“Gak tahu, mungkin dia lagi pengen makan bersama.”
“Ma, aku dengar apa yang kalian obrolkan di luar tadi,” ucap
Axel, sambil menuangkan mie instan yang sudah matang ke dalam mangkuk yang sudah ia kasih bumbu-bumbu.
Memang tadi ia berfikir kalau mereka di luar akan lama.
Jadi, Axel yang sudah merasa sangat lapar pun keluar berniat membuat mie instan dengan telur dan tambahan sayur lalu memakannya di dalam kamar. Tapi, tanpa sengaja telinganya menangkap pembicaraan yang bisa dikataka serius.
“Tentang apa?”
“Tentang om Candra yang akan dipindah, dan kembali ke Jogja.
Jika memang mama merasa sepi tanpanya, katakana saja kalau mama mau hidup bersamanya, dan jangan biarkan dia pergi.”
“Kenapa kau malah ada di pihaknya sekarang? Bukankah selama
ini kau membencinya?”
“Apakah Axel pernah berkata demikian?” Axel meniupi mie yang
masih panas, yang masih mengepulkan asap tipis
, lalu melahapnya.
“Ya, tidak pernah sih. Tapi, mama berfikir demikan. Kau
tidak pernah close setiap melihatnya. Lain halnya dengan Adriel.”
“Terus, apa yang Mama daptkan dari ini?”
“Ya anggapan kalau kau tidak menyukainya. Apa lagi?”
Axel tertawa. Kemudian melanjutkana kembali makanannya.
Sementara Novita masih saja bingung dengan apa yang putranya maksutkan.
“Tidakkah mama merasa kalau om Candra itu
bersungguh-sungguh? Jika saja dia tidak serius dengan perasaannya… untuk apa dia tetap datang dengan modal menebalkan muka serta menggadaikan rasa malunya?
Karena aku dan mama tidak menerima dia dengan baik. Tidak pernah.”
Novita diam, ia membenarkan apa yang baru saja Axel
katakana. Memang semua itu tepat dan tidak salah sedikit pun.
“Jika saja aku baik dan ramah padanya, perjuangannya terlalu
mudah. Kurasa mama tahu lah, sesuatu yang didapat dengan mudah, seseorang tidak
akan begitu menghargainya. Sama halnya dengan dua hiasan dinding itu. Walau sudah lama kenapa tidak dibuang atau taruh Gudang saja? Karena mahal, dan mama
mendapatkannya dari luar negeri.”
“Axel… lalu, bagaimana menurutmu dengan om Candra?”
“Aku dari awal sudah menyukainya. Jika mama juga, kenapa
kalian tidak menikah saja? Pergilah bersama Adriel ke luar pulau Jawa untuk menjadi nyonya Candra. Di sini aku punya om dan tante.”
Novita tersenyum dan memeluk putranya. Dia benar-benar
terharu. Tak menyangka kalau Axel bisa berfikir dan bertindak ssmpai sejauh itu.
“Tapi, Xel. Bagaimana jika kelak dia tahu kalau dia sangat
mirip dengan mendiang papa kalian? Dia akan kecewa dan kemungkinan terburuk
akan membenci kita.”
“Makanya, jelaskan. Ajak ketemu, dan kalian berdua
bicaralah!” Axel beranjak, meletakkan
__ADS_1
mangkuknya ke tempat encucian piring tanpa mencucinya. Sedangkan Novi, segera
menuju kamar dan menghubungi Zahara, bertanya, kira-kira Adriel mau diantar pulang kapan?
Jika bukn besok, ia akan mengatur waktu untuk bisa bertemu dengan Candra.
***
Di sebuah café, seorang pria nampak tengah duduk di salah
satu gazebo yang berjajar. Sesekali ia melihat jam tangan yang melingkar di
pergelangannya. Tak jarang pula, pria itu memandang ke arah pintu masuk café.
Sesekali ia menyesap minuman yang sudah ia pesan untuk
mengilangkan rasa dahaganya di siang yang terik. Tapi, karena sudah lama
menunggu, dan yang ditunggu tak juga kunjung datang, ia mulai meragukan kalau
yang membuat janji lupa. Mana siang-siang begini lagi.
“Nov, kamu ingat gak, sih dengan hari ini?” gumamnya seorang
diri. pria itu pun membuka layar sentuhnya dan mencrol kontak, mencari nomor
ponsel wanita itu untuk dihubungi.
“Candra! Maafkan aku terlambat. Tadi macet, dan taxi online
yang aku tumpangi bannya kempes.”
Pria itu menoleh ke sumber suara tersebut. Ia melihat wanita
berdiri sambil melepaskan sendalnya dan hendak masuk ke dalam gazebo tempatnya.
“Tidak masalah,” jawab pria itu, tenang.
“Astaga! Maafkan aku, ternyata aku telat hampir satu, jam.
Oke, sebagai permintaan maafku, bagaimama kalu kali ini aku yang traktir?”
Novita teringat bagaimana tadi ia saat hendak bersiap-siap
untuk berangkat menemui Candra. Ada saja halangan dan rintangan yang ia lalui.
Mulai dari sabun dan sampo habis. Pasta gigi tidak ada di tempatnya. Saat badan penuh busa tiba-tiba kran air mati cukup lama. Belum lagi baju yang sudah ia
siapkan hilang. Ia tahu itu kerjaan Axel. Dan ketika diintrogasi, jawab nya,
pria sejati harus rela menunggu wanitanya. Sekalipun lama. Padahal, selama enam
tahun ini Candra juga sudah cukup menderita. Penderitaan itu juga termasuk
dalam mkategori menunggu, bukan?
Novita duduk bersimpuh behadapan dengan Candra di depan meja
kecil. Sambil mengambil tisu dan mengeringkan keringat di keningnya.
“Aku, ditraktir wanita? Jangan! Pantang sekali bagiku jika
harus ditraktir oleh wanita,” jawab pria itu sambil menyodorkan daftar menu
pada Novita.
“Ya, kan tidak selalu. Anggap saja sebagai permintaan
maafku. Kan tidak masalah.” Novita membuka daftar menu makanan dan minuman, kemudian mencatat pada nota yang sudah disediakan.
“Tidak. Kalau kau memang benar-binar minta maaf. Bukan
“Baiklah, kalau begitu. Kamu mau pesan apa?”
“Apapun yang kau pesan, tambah satu porsi untukku.”
“Tapi, ini aku memasukkan tumis… “ Belum sempat Novita
melanjutkan kalimatnya, Candra malah memotongnya.
“Apapun. Tumis empedu aku juga doyan asal kau suka itu. Aku
gak mau tahu. Yang kau pesan aku juga memesannya. Awas kalau sampai ada yang
kau kurangi,” ucap pria itu dengan serius.
“Oh, oke!” jawab Novita, dengan ragu-ragu juga, ia menulis
angka dua pada beberapa menu yang ia
pesan.
Keduanya berbincang membahas hal-hal yang ringan. Belum ke
inti dari apa yang ingin Novita bicarakan kepada Candra.
Pembicaraan mereka terhenti saat menu yang dipesan datang.
Dua gelas es jeruk, dua bolol air mineral, dua piring nasi putih, krengsengan
hati ampela yang pedasnya level 9. Dan juga tumis pare, dan untuk hidangan
penutup, Novi memesan dua porsi rujak buah dengan duabelas cabe.
“Kamu pesen pare?” Candra terbelalak melihat dua porsi paren
dengan orak-arik tekur dan banyak irisan
cabe rawit.
“He’emb… katanya kamu mau memesan apapun yang aku pesan? Pare, tidak sepahit empedu, loh."
“Kenapa harus pare kau ikut sertakan?” protes pria itu, seolah
ia adalah manusia yang terdzolomi saja di muka bumi ini.
“Memang kamu memberiku waktu untuk mejelaskannya?” Novita
balik bertanya pada Candra, yang kedengarannya malah terkesan mengejek.
“Baiklah, aku akan memakannya.”
Pria itu langsung menyendok sedikit tumis pare, meletakkan pada
nasinya. Lalu apa yang terjadi? Ia sampai merem melek setelah mencicipi seperti
apa rasanya. Dengan cepat diraihnya segeas es jeruk. Wajahnya memerah karena rasa pedas di atas kemampuannya, dan pahit pula.
“SSHHH hah… bagaimana kau bisa menyukai makanan pahit dan
sepedas ini sih, Nov?”
“Ya gak tahu, aku memang pecinta pedas, dan suka banget sama
yang namanya pare,” jawab wanita itu dengan santai. Bahkan, saat ia menikmati
kresngse gan hati ampela dan pare itu juga ekspresinya nampak biasa saja. Tak nampak
__ADS_1
sedikitpun kalau ia tengah merasa kepedasan.
Sedangkan Candra, ia
sudah menghabiskan seluruh minumannya. Termasuk air mineral. Tanpa sungkan-sungkan,
diraihnya es jeruk novita, ia menyerputnya dan hanya menyisakan setengahnya
saja.
Melihat Candra yang nampk tersiksa dengan rasa pedasnya,
wanita itu melambaikan tangan dan memanggil salah satu pelayan. Ia memesan segelas air hangat yang sedikit panas untuk candra yang tengah kepedasan. Sekitar
lima menit, seorang pelayan yang sama datang dan membawa nampan di tangannya
berisi air putih panas.
“Cepat kamu minum itu,” ucapnya.
Tanpa menunggu perintah kedua, Candra langsung menyeruput air
itu, dan rasa panas di bibirnya yang tengah kepedasan semakin mak nyos saja.
“Hah, kau meracuniku? Aku sudah sangat kepedasan, bukannya
memsankan aku air es, malah air panas,” protes candra lagi. Wajahnya memerah
dan penuh dengan kringat.
“Sudah minum saja kalau kau ingin sembuh dari rasa pedasmu
itu. Coba sekali saja nurut sama aku,” ucap Novi, mulai jutek.
Dengan sangat terpaksa Candra meminumnya. Tapi, ia hanya
mampu sampai setengah saja. Selebihnya ia sudah menyerah.
“Bagaimana? Sudah baikan, bukan? Tidak sepedas tadi, kan?”
“Eh, iya juga, ya? Saat minum es rasanya seperti kian pedas
saja.”
Novita hanya tersenyum.
Karena mereka sudah selesai makan, Novita mulai serius membawa obrolannya.
“Kamu tahu, kenapa kau mengajakmu bertemu di sini?”
“Kenapa? Boleh aku menebak?” tanya Candra balik.
"Tentu saja, silahkan tebak. Jika benar aku akan langsung to
the point.”
“Kau mau kasih aku jawaban, bukan?”
“Ya. Kau benar.”
“Apa jawabannya? Sesuai janji. Kau harus langsung to the
point,lo.”
“Baik, kau menerima lamaranmu.”
“Apa? Kamu serius, Nov?”
"Tapi, tunggu dulu. Aku bahkan tidak yakin kau mau melanjutkan
hubungan ini, setelah kau mengerti semuanya.
“Apa? Apakah ada masalah, atau sarat yang harus aku lakukan?”
Tanpa menjawab , novita mengambil sebuah kertas dari
dalamnya dan menunjukkan pada pria di depannya.
Ternyata kertas itu adalah sebuah foto berukuran lima R.
Candra menerima foto tersebut dan nampak sedikit terkejut
saat melihat gambar pria yang seperti dirnya, memakai jas putih khas seorang dokter. Lengkap dengan stetoskop yang dikalungkan pada lehernya.
“Hah, apa ini?” Candra memandang Novita lekat. Dan masih
menggam foto tersebut.
“Dia adalah dokter Aditya. Spesialis THT terbaik di kota
ini, dulu. Dia sudah meninggal sejak tujuh tahun silam.”
“Lalu, apa hubungannya denganku?” tanya Candra bingung.
“Harusnya tidak ada. Tapi, karena kau suka padaku, dan
berniat melamarku. Maka, kau harus tahu itu. Tidakkah kau berfikir kalau dia sepertimu? Dan Adriel putraku juga mirip denganmu?”
Candra menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu bergumam
lirih namun masih bisa didengar Novita.
“Iya, juga ya. Siapamu dia?”
“Dia adalah mendiang suamiku. Papa dari kedua anakku. Itu alasannya
aku selama ini berusaha menjauh darimu.”
“Kenapa? Apkah dia pernah menghianatimu? Kau sakit hati
karenanya, dan jika melihatku hanya mengingatkanmu dengan luka lama? Maafkan aku, Nov. aku tidak tahu kenapa aku harus memiliki wajah yang sama persis dengan mendiang ayah dari kedua anakmu itu. Aku juga tidak… “
“Cukup! Kau salah. Justru aku sangat mencintainya. Begitupun
dia. Dia sangat mencintaiku. Tapi, setelah kami resmi bercerai, dan dia pergi untuk selama-lamanya aku sadar. Klau aku tidak harus meratapi nasib kehilangan
dirinya. Dia sudah tenang di alamnya sendiri. Sementara aku harus fokus dengan
hidupku, dan kedua putraku. Tapi, saat aku hamil tua, Tuhan malah mempertemukan
aku padamu.”
Novita mulai terisak. Ia tak sanggup mengingat kenangan
indah saat bersama mendiang suaminya, meskipun rasa cinta itu sudah musnah
untuk Aditya. Sedikitpun penghianatan, ia tidak mengingatnya. Karena ia sadar,
yang membuat Aditya begitu adalah dirinya sendiri. Jika saja ia tidak mencegah Aditya
melanjutkan hubungannya dengan Queen. Atau ia yang tidak meninggalkan Aditya
demi pilot yang seorag fake boy, ini tidak mungkin terjadi.
“Aku takut kau tersakiti, dan menganggap kau kujadikan pelampiasan
saja, Ndra,” ucap Novita lagi. Sementara
__ADS_1
Candra, ia hanya bisa diam saja menyaksikan untuk pertama kali wanita yang ia
cintai menangis karena dilemma antara masa lalu, dan masa depannya.