
Tanpa terasa sudah dua bulan usia kandungan Queen. Bahkan
Clara juga sudah mulai bisa berjalan meski hanya beberapa langkah. Setidaknya
tidak begitu terlalu tergantung dengan kursi roda.
Sore itu, Queen tengah menemani mamanya di taman samping
sambil merendam kaki pada kolam yang di dalamnya terdapat banyak ikan
kecil-kecil untuk menerapi.
“Pasti banyak kesulitan yang kau alami selama ini, Queen.
Maafkan mama, ya tidak berada di sampingmu,” ucap Clara memulai obrolan.
“Tidak apa-apa, Ma. Mungkin memang sudah takdirnya begini.”
Wanita muda itu tersenyum lembut sambil memandang mamanya yang bahkan masih
terlihat sangat muda dan lebih cantik darinya.
“Oh, iya. Apa penyebab perceraianaamau dengan Alex? Dan,
kalau boleh tahu, bagaimana ceritanya kau bisa menikahi kakakmu?” tanya Clara
penuh penasaran.
“Aku tidak menikahinya, Ma. Tapi, ia yang memaksaku untuk
menikah dengannya. Panjang ceritanya. Mama mau dengar?” Terlihat raut wajah
Queen mulai memerah. Mungkin juga ia malu jika teringat bagaimana dulu dia
dengan Al.
“Tentu saja, Nanti sebagai gantinya mama juga akan bercerita
bagaimana awal mula mama kenal dan jatuh cinta pada papamu. Bahkan cerita
bagaimana kami mengadopsi Al, kau juga tidak tahu, kan?”
“Akum au tahu, Ma! Gimana ceritanya?” Kali ini giliran Queen
yang menjadi sangat poenasaran da benar-benar ingin tahu
“Eh, tunggu duli. Sesuai janjki awal. Kamu harus bercerita
dulu pada mama. Bagaimana kamu bisa dengan Al? Mama tahu sedikit dari papamu
kalau kau sempat dekat dengan suaminya Hanifah, ya?”
“Mama… “
“Berceritalah! Mama akan mendengarkannya.”
“Apakah papa dan kakek belum menceritakan padamu, Ma?”
Clara hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya saja
beberapa kali sambil menatap putrinya yang sudah dewasa dengan penuh harapa.
“Semua berawal dari
Alex mengalami kecelakaan dan lupa ingatan setelah beberapa bulan kalian
kecelakaan itu, Ma. Saat ia sadar, ia melupakan aku sebagi istrinya. Ia hanya
mengingat kejadian beberapa tahun silam saja di mana saat itu kami mash mantan
dan dia masih pacarana sama Helena. Akhirnua Alex menikah dengan Helena. Terus
karena aku selalu diabaikan aku minta cerai.” Queen diam sejenak.
“Lalu kau dekat dengan Diaz?” tanya Clara.
“Sebelum cerai kami dah dekat dan dia juga sudah menunjukkan
rasa Sukanya terhadapku, Ma. Karena bikang suka aku dan aku juga suka dia, aku
bercerai agar bisa dengannya. Tapi, aku juhga tidak sadar kalau kak Al
diam-diam menyukaiku. Mungkin karena terbiasa kami bersama saat di kantor itu. Bahkan dia mulai mengaturku,
melarang aku bertemu Diaz dan puncaknya, saat akum au tunanagn dia menghilang
selama tida hari, baru muncul saat hari H aku bertunangan dia datang dalam
keadaan dekitl dan bau miras menyeretku pergi dan membawaku ke tempat yang
sangat jauh. Dan di sini, kakek berinisiatif menggantikan calon tunangan wanita
dengan Hanifah. Hanifah sendiri juga sudah lama mencintai Diaz.”
“Lalu, apa yang terjadi, saat Al membawamu ke tempat yang
jauh itu?”
Queen diam. Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya
juga, kan? Boleh lah jujur tapi, jangan semua walaupun pada mama sendiri. Tentu
masih tersisa rasa malu untuk mengatakan hal itu.
“Apakah dia melakukan hal yang ekstrem, padamu?” Seolah
Clara sudah mengerti apa yang terjadi. Sekalipun Al bukanlah anak kandungnya
sendiri, ia sudah dari kecil merawatnya, dan paling paham bagaimana karakter
putranya itu. Terlebih mimic Queen ayng sangat mendukung kuat dugaannya.
“Dia marah-marah sama aku, Ma. Aku dibentak saat memberontak
dan mengatakan kalau dia cinta sama Queen dan ga bisa lihat Queen dengan yang
lain termasuk Diaz. Itu aja. Sebulan
kemudian, dia memaksaku menikah dan ya, benci menjadi cinta. Aku yang menjebak
Nayla, Mama,” jawab Queen.
Clara tersenyum dan mengelus rambut putrinya. “Jadi,
duapuluh satu tahun silam tanpa sadar mama dan papa telah mengasuh calon
__ADS_1
menantu untuk diri kami sendiri. Al baik, kan?”
“Baik. Tapi, dia sedikit psychopath,” jawab Queen sediki
jengkel.
“Tapi, kau sekarang mencintaniya, bukan?”
“Ah, Mama… Lalu, gimana kalian bisa bersama? Apakah kakak
sepupu begitu tampan sampai hati Mama tertawan?” tanya Queen dengan penuh
semangat.
“Tidak! Sebenarnya kakek Nadrean itu papa tiri mama.
Awalnya, Nenek adalah seorang janda. Untuk memncukupi kebutuhan sehari-hari dan
biaya Pendidikan mama dia bekerja di perusahaan garmen yang sekarang di kelola
papamu itu. Ketika mama naik kelas tiga SMA, nenek berkata ada pria yang
mendekatinya. Dia adalah bosnya dengan status duda anak satu. Anaknya adalah
papamu. Saat itu dia berusia kalau tidak salah duapupuh tiga tahun dan sudah
terjun turut membantu pekerjaan di perusahaan papanya.”
“Bukankah papa anak kakek Andreas, Ma?” tanya Queen mulai
bingung.
“Ya. Tapi, kita tidak ada yang tahu. Hal itu kakek simpan
baik-baik karena tidak mau papa sedih, Saat ia berusia dua tahun kakek Andreas
yang seorang pilot bertugas melakukan penerbangan ke luar negeri. Tapi, peawat
yang ia kemudikan mengalami kerusakan taka da satupun yang selamat. Dan sampai lama
jenazah kakek tidak ketemu dan dinyatakan hilang, Sampai dua tahun, papa Andrean
yang baru berusia Sembilan belas tahun melamar nenek Amanda demi menjadi ayah
bagi papamu. Tapi, papa Andres kembali ketika mama hamil kamu enam bulan kalau
tidak salah.”
“Jadi kalian itu tahunya saudara tiri dan saling cinta?”
tebak Queen dengan semangat.
Clara tertawa dan mengangguk, iya sayang. Papa mu dulu
adalah seorang play boy. Dia,mantannya banyak banget. Saat kamu masih bayi
berusia enam bulan ada mantan dia yang
kembali datang dalam kehidpan kami membawa seorang anak bernama Revan. Usianya
enam tahun. Tapi, ia memalsukan data, bilangnya lima tahun. Mama yang tak lagi
berfikir jernih mengira anak laki-laki itu adalah anak papamu. Tapi, saat di tes
Queen mengerutkan
dahinya dan bertanya, “Atas dasar apa mama bisa memiliki ansumsu kalau anak itu adalah anak papa dan mantannya?
Papa itu mantan buaya darat, ya?”
Mmendengar pertanyaan putrinya yabg terkesan sangat lucu itu
Clara tertawa terkikik. Sungguh nampakmkompak dan persis sekali keduanya, Seperti
bukan anak dan ibu. Melainkan seperti kaka dan adik.
“Iya, papamu dulu adalah buaya darat. Kau harusnya bersyukur
Al, suamimu adalah tipikal pria tampan baik dan setia.”
Queen menghela napas Panjang dan sedikit memalingkan
wajahnya dari mama Clara. Dalam hati ia mengumpat, ‘Papa buaya tapi dia lembut.
Al, setia tapi psycopat, bahkan aku pernah dibentak ditampar saat itu.’
“Atas dasar apa mama beranggapan kalau anak itu anak papa?”
“Karena dia sangat mirip sekali dengan papamu. Cara bicara, selera
dalam berolah raga, hobi makanan vavorit bahkan wajahnya. Kau tahu siapa dia?
Dia adalah suamimu yang sekarang.”
“Hah, Al?” tanya Queen setengah berteriak.
“Iya, Sayang. Mama sudah tahu bagaimana karakter dia. Dia
itu memang keras sifatnya, dan penuh ambisi. apa yang diam au harus dia dapat,
jika sudah tidak lagi menginginkan, dipaksa yang seperti apapun juga dia tidak
akan pernah mau.”
Queen diam dan melamun, mengingat bagaimana Al sikapnya terhadap
dirinya dan juga Nayla. Memang dulu saat ia menyukai Nayla dan hendak menikahinya
juga taka da pertimbangan apapun. Siapa wanita itu dia juiga tidak menyelidiki
lebih lanjut. Sekali memiliki kesalahan yang mungkin juga awalnya tidak seberapa,
langsung saja dia tidak mau menyentuhnya.
Dari halaman depan, terdengar suara deru mobil. Dari suaranya,
sepertinya itu adalah monbil Al. Kedua wanita itu menoleh, dan ternayat benar,
terlihat ferarri merah melintasi halaman dari pintu gerbang menuju garasi mobil.
“Itu, suamimu sudah tiba, sambutlah dia!” seru Calara.
“Ayo, Ma kita masuk,” ajak wanita itu.
“Mama masih inigin di sini dulu. Sebentar lagi papamu juga
__ADS_1
pasti akan tiba.”
“Baiklah.” Baru saja Queen hendak beranjak, Al sudah terlihat
berjalan kea rah mereka berdua.
“Kalian ngapain?” tanya pria itu sambil menenteng kopernya,
sementara tangannya yang lain melonggarkan dasinya.
“Terapi ikan. Sambil menunggumu sama papa,” jawab Queen
sambil melempar senyuman pada Al, suaminya.
Al tersenyum, berdiri di depan istrinya dan mengelus-elus
perut istrinya yang masih bisa dibilang belum terlihat, karena baru dua bulan
usia kandungannya.
“Dia rewel tidak?” bisik Al, karena malu sama mamanya.
Sementara Clara hanya tersenyum saja. Ia bisa maklum. Tapi,
setidaknya ia lega, karena cinta mereka tak terhalang apapun, lain halnya
dengan dia dan Vano dulu. Kedua orang tua tidak merestui, banyak bahaya dan
kesulitan yang mereka alami.
“Masih saja suka mual-mual kalau makan papaun jika tidak ada
kamu,:” jawab Queen dengan manja.
“Aku mandi dulu ya?” Al pun mengajak mamanya dan juga Queen
masuk ke dalam karena hari juga sudah mulai larut. Sejak saat itu, Al dan Vano
jadi jarang lembur. Apapun itu selama tidak begitu mendesak selalu mereka
menyerahkan pada bawahan masing-masing.
****
Sepulang kerja, Nayla
mendapati sebuah mobil ruhs warna hitam terparkir di depan rumahnya. Tak jauh
dari mobil itu, terlihat seorang gadis kecil dan seorang pria seperti tengah
mengobrol. Nayl pun segera mempercepat langkahnya, berjalan mendekati dua orang
itu.
“Sejak kapan kau tiba di sini, Jev?”
“Belum lama. Kebetulan aku lihat Bilqis bermain di sini. Jadi,
aku memanggilnya.”
“Bilqis… Bilqis! Ayo kita main di sana!”
“Om Jevin, Mama, aku main dulu, ya?” ucap Bilqis lalu segera
berlari mengejar teman-temannya.
“Hati-hati, Sayang!” teriak Nayla, sambil melihat putrinya
yang berlari-lari dengan teman-teman sebayanya dari belakang.
“Ya sudah, ayo masuk!” ajak Nayla mempersilahkan tamunya.
Nayla berjalan ke dapur hendak membuatkan Jevin kopi. Tapi, pria
itu turut mengikuti Nayla sampai di dapur, di sana, pria itu langsung merangkul
tubuh wanita di depannya dari belakang.
“Jev, apa yang kau lakukan? Awas nanti kelihatan Bilqis!”
“Satu bulan kita bertemu dan tak melakukan, apakah kamu
tidak kangen?” bisik Jevin di belakang telinga Nayla.
Awalnya Nayla ingin menolaknya. Tapi, rayuan dan permainan
tangan Jevin di area sensitifnya membuat ia jadi terlena, dan terhanyut oleh
permainan pria itu. Bahkan, ia pasrah saja saat tubuhnya di angkat dan di bawa
masuk ke dalam kamarnya.
Usai melakukan permainan kilat, buru-buru Nayla memungut
pakaiannya dan emnegnakannya sebelum putrinya kembali. Begitu pun juga dengan Jevin,
ia melakukan hal yang sama.
Melihat Bilqis juga masih belum kembali, Jevin berusaha menjelaskan apa yang terjadi padanya selama sebulan terakhir ini. Entah, itu benar atau tidak, Nayla pun percaya saja. dan bajakan hubungan keduanya kembali membaik seperti sebelumnya.
sampai pada akhirnya, saat Nayla hendak memberikan kejutan datang ke rumah Jevin secara diam-diam. Justru malah dialah yang dibikin shock.
"Siapa, ya? kok asal masuk dan buka pintu saja bertamu ke rumah orang?" sahut seorang wanita cantik dan masih sangat muda kepada Nayla. Tak ada kemarahan di benak wanita itu sedikitpun.
"Eh, maaf. Saya kemari mencari Jevin. Di mana dia? Bukankah dia sedang libur?" tanya Nayla sopan dan sangat bersahabat.
"Ya, untuk apa mencarinya? kamu hamil anak dia? gugurkan saja. Jevin tidak akan pernah mau mengakuinya.
"Maaf, kamu Luna, ya?" potong Nayla. karena ia merasa kenal dengan sosok yang ada di depannya ini.
"Ya, benar. ada apa? apakah kau kenal aku?"
"Tidak,Jevin banyak bercerita tentangmu."
"Ya sudah, to the point saja. Saya ini istrinya, bukan saudaranya. Dan mbak kesini bukanlah wanita yang pertama. ada yang hamil pula datang kemari. tapi, aku percaya sama suamiku, di hatinya tetap ada aku."
ucapan wanita itu terasa seperti suara petir di siang bolong.
"Apa? Mana mungkin bisa seperti itu? berati apa ya g Quen katakan adalah benar? lalu, kenapa aku masih saja terkena rayuannya?" batin Nayla.
Tak mau mendengar apapun wanita itu segera keluar rumah tersebut dan kembali pulang. Ia menangis dan sedih sesedih-sedihnya. bagaimana tidak. Pria yang kini mulai membuat hatinya nyaman dan sedikit mampu melukapan Al malah menipunya. Bahkan rasa sakit yang ia rasakan saat ini jauh lebih sakit dari yang ia alami ketika berpisah dengan Al.
'Jevin... tega kau Jev setelah apa yang aku berikan. Kau bikang dipecat dari kantor, dan butuh duit. kurelakan tabunganku yang kukumpulkan sedikit-sedikit untukmu malah kau berikan wanita itu yang telah menjadi istrimu. awas kau Jev,' ratap Nayla.
Sejak saat itu, Nayla menjadi stres. bahkan kesehatannya juga menurun. dia jadi sakit-sakitan. Namun, tetap ia paksakan untuk bekerja demi kebutuhan sehari-hari dan menyekolahkan anaknya.
__ADS_1