
Tidak beberapa lama Berlyn duduk bersama papa dan mamanya, menyimak cerita mereka seperti apa perjalanan menuju kampung halaman bi Yul, terdengar ada suara kendaraan yang masuk ke dalam halaman rumah merekeka.
Sepertinya datang seorang tamu. Mulanya mereka mengira yang datang itu adalah Bilqis. Tapi, semua juga ragu. Mana mungkin sudah datang ke sini kembali? Bukankah letak rumahnya dengan rumah mereka juga cukup lumayan? Kalaupun naik go jek juga ga bakal masuk ke halaman juga, kan motornya?
Tapi, Berlyn berfikir yang datang itu adalah Adriel. Sebab, ketika ia berada di dapur membuat minuman tadi, pria itu berkata kalau ia akan datang ke mari. Apakah secepat itu? Atau mungkin saat ia mengirimi pesan juga sudah berada dalam perjalanan? pikir Berlyn.
"Siapa yang datang, Sayang?" tanya Al pada Queen sambil sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan mencpba melihat ke arah luar pintu dari tempat ia duduk.
"Tidak tahu. Tapi, dari kedengerannya kayak motornya Adriel," jawab Queen memperkirakan.
Tidak berselang lama, sebuah salam terdengar di ambang pintu. "Assalamualaikum." Bedirir seorang pria remaja di ambang pintu mengenakan celana jeans panjang biru gelap dan jaket jemper berwarna dark gray.
"Waalaikumssalam. Masuk, Adiel." jawab Queen dan Al hampir bersamaan.
Pria itu pun masuk dan memberi salam pada dua orangtua asuhnya, yang dulu mengasuhnya kala ia masih kecil dan ditinggal oleh mama dan ayah tirinya pergi untuk selama-lamanya. Baru setahunan ini, Adriel dan Axel tinggal berdua di rumah peninggalan mendiang kedua orang tua mereka. Namun, meski begitu, keduanya masih sering berkunjung ke mari dan tak jarang pula mereka menginap.
"Hey," sapa Adriel pada Berlyn yang sedari tadi tersenyum tipis sambil memandang ke arahnya.
Berlyn bedriri dari tempat duduknya dan mempersilahkan teman sepermainannya itu untuk duduk di tempatnya. Sementara dia pergi meninggalkan ruang tamu.
Baru beberapa kali gadis itu melangkah kan kakinya, Adriel memanggil nama gadis tersebut, dan bertanya. Berlyn! Kemana, kau?"
"Aku akan membuatkanmu minum. Pasti kau haus, kan?" jawab gadis itu dengan bahasa isyarat.
Adriel hanya tersenyum lembut dan mengangguk pelan. Terlena dengan keelokan wajah yang Berlyn miliki. Sampai-sampai, ia tidak bisa mendengarkan kalau orang di sekitarnya tengah memanggil dan berusaha mengajaknya bicara beberapa kali.
"Adriel!" teriak Queen sampai mmbuat remaja itu terperanjat karena kaget. Mungkin sudah terlalu dalam dia melamun.
"Eh, iya Ma. Ada apa?" tanya Adriel sedikit tergagap.
"Di tanya papa, tuh. Diem saja. Nglamunin apa, sih?" ucap Queen kala melihat Adriel sedikit gelagapan dan sedikit tergagap.
"Tidak ada. Liatin Berlyn saja," jawab bocah itu. Meski sebenarnya apa yang ada dalam pikirannya Queen dan Al juga sudah bisa menebaknya.
"Apa acaramu malam minggu ini, Driel?" taya Al. kembali mengulang pertanyaannya yang tadi.
"Ya, pengennya sih bakar-bakar apa gitu, di belakang. Jagung, sosis atau barbique, kek. Tapi, misal diajak jalan sama papa dan mama ya tidak menolak, hehehe," jawab Adriel sambil cengar-cengir dan memggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kita sudah membeli enam tiket, ini! ucap Queen sambil menunjukkan tiket yang tadi ia juga tunjukkan pada Berlyn dan Bilqis.
"Kok enam, Ma? Memangnya siapa saja yang akan ikut?" tanya Adriel penasaran.
"Siapa saja, ya? Ini kak Bilqis gak tahu, jadi apa tidak. Coba kamu hubungi kak Axel," saran Queen.
__ADS_1
"iya." Kemudian Adriel mengambil benda pipih yang berada di dalam saku celananya. Ia mencroll kontak dan menelpon nomor kakaknya, Axel.
"Halo, kak. Kau ada di mana, sekarang?" Sepertinya, pria yang ditelfon sudah mengangkat panggilannya. Adriel mulai berbicara tanpa melihat ke arah Al dan Queen.
"Aku ada di rumah. Ada apa? Di mana kau sekarang? Kenapa tidak pulang?" tanya Axel begitu menjawab panggilan sekaligus pertanyaan langsung dari sang adik.
"Ini aku berada di rumahnya Berlin Mama Queen mau ngajak nonton loh kakak mau ikut tanya adriel
Seketika ada yang aneh dengan cara bicara Axel. Tiba-tiba nada bicaranya menjadi datar dan cuek. Padahal, sebelumnya biasa-biasa saja. "Oh, di sana rupanya? Maaf aku tidak bisa ikut. Aku lagi di rumah dan ada banyak kegiatan ucapnya nya.
"Kegiatan apa, sih Kak? Ini malam Minggu Kak. Tidak biasanya malam Minggu ada kegiatan. Ayo lah, sekali-kali kita bersenang-senang bersama. Mau kapan lagi?" tanya ada Adriel setengah memaksa.
"Tidak bisa Driel. Lain kali saja, ya? Ada banyak soal-soal yang harus kakak koreksi malam ini juga. Sebab besok, kakak harus mempersiapkan soal baru untuk latihan para siswa menghadapi semester.
"Sejak kapan kau jadi berubah seperti itu? Kok sekarang kesannya sok sibuk banget. Tidak seru ah," ucapan Adriel lagi. Berlagak merajuk.
Axel yang sedang tidak berada dalam mood yang baik ia tidak mau berdebat dan memperpanjang urusan. Dia benar-benar tidak mood,dan langsung mematikan panggilan adiknya tanpa sepatah kata pun
Sementara Al dan Queen menunggu jawaban dari Adriel dan terus menatap remaja itu. "Bagaimana? Apakah dia mau?" tanya Al dan Queen hampir bersamaan.
Dengan rasa penuh kecewa Adriel menggelengkan kepala dan berkata, "Dia tidak mau. Entahlah, benar sibuk apa lagi gak mood, dia tuh. Ya sudah biarkan saja kalau memang tidak mau kita bisa pergi sendiri," jawabnya kemudian.
"Masa cuma berempat sayang dua tiket, dong kalau hangus."
"Katanya Kak Bilqis mau ikut," tanya Adri kemudian.
Kemudian Al memberi saran agar Queen menelponnya dan menanyakan langsung padanya. Dia bisa, atau tidak. "Coba hubungi dia sayang. Kan ada HP. Kenapa nggak dimanfaatkan?" ucap pria itu.
"Iya aku akan mencoba menelponnya," ucap Queen sambil mengambil benda pipih yang berada di dalam tasnya kalaupun nanti Axel tidak mau ikut kita bisa berikan satu tiket ini pada Dedi imbuh Queen lagi.
"Halo Bilqis. Kau di mana, Sayang? Apakah kau jadi ikut bersama kami?" tanya Queen begitu panggilannya yang diangkat
"Aku lagi diajak mama Nay, Mama Queen," jawab gadis itu.
Queen diam sesaat ia merasa ada yang aneh dengan nada bicaranya Bilqis. Ada apa? Kenapa dia seperti baru menangis? Apakah ada masalah dengan Nayla? pikirnya.
"Ya sudah jika memang itu penting, hati-hati ya. Salam buat mama Nay," ucap Queen hendak mematikan panggilan tapi dengan cepat Bilqis mencegah nya.
"Tunggu dulu mama Queen! Jangan dimatiin," ucap gadis itu.
"Iya. Ada apa, Bilqis? Kau di mana sekarang? Apakah ada masalah?" tanyanya lagi penuh perhatian.
Cukup lama gadis itu diam tak menjawab sepatah kata pun pertanyaan dari Queen. Hingga Di menit ketiga Queen mendengar kalau Gadis itu menangis terisak ia berusaha keras menahan suara tangisnya. Tapi, akhirnya meledak juga membuat Queen kian panik dan binggug. Kemudianbertanya pada gadis itu, "Bilqis, kau kenapa Sayang? kenapa kau tiba-tiba menangis? Apakah kau baik-baik saja? sekarang kau ada di mana, Sayang? Cerita sama mam Queen jika ada masalah," tanya Queen lagi. Tak lagi bisa sembuyikan kepanikannya.
__ADS_1
Tetap sama tidak ada jawaban selain isak tangis dari Bilqis.
"Bilqis, kamu ngomong sama mama. Jika mama sama papa di sini bisa bantu, kita akan bantu sebisa mungkin. Tapi jika kau tetap diam begini, bagaimana kita bisa pikirkan solusinya?" bujuk Queen lagi.
"Solusi apa, Ma? Semua juga sudah terlambat. Tidak ada lagi solusi dari semua ini. Semuanya sia-sia, dan gak ada gunanya. Aku sudah dibuang. Mamaku mungkin tidak akan mau lagi padaku, dan mungkin kau dan papa Al juga tidak akan mau lagi denganku," ucap Bilqis sambil terus menangis.
"Kenapa kau bicara seperti itu? memangnya ada apa? kamu cerita, Bilqis. Biar kita tahu. Apapun keadaannya, kami tidak akan pernah menolakmu. Begitupun mama Nay. Tidak akan," ucap Queen dengan gemas. Ia penasaran. Tapi gadis itu malah berkata yang aneh-aneh, dan tidak langsung ke inti. Membuat wanita berusia tiga puluh enam tahun itu kian panik takut dan berpikiran yang macam-macam.
"Ada, apa?" tanya Al dengan raut wajah yang tak kalah penasaran mendapati bagaimana ekspresi dan nada bicara istrinya ketika menelpon anak tirinya.
Queen hanya menggelengkan kepala. Ia menyerah kemudian memberikan benda pipih itu kepada suaminya. "Coba kau bicaralah padanya," ucap Queen
"Bilqis. Kau di mana, Sayang?" tanya Al.
Yang didapat pun sama. Tetap tak ada jawaban selain malah Gadis itu mematikan panggilannya dan tak mengangkatnya lagi ketika Al mencoba menghubunginya kembali.
Karena tidak mendapatkan jawaban apa-apa Al meminta Queen untuk menelepon Nayla menanyakan ada masalah apa antara dia dan Bilqis. Sebab, tadi siang gadis itu berpamit pada mereka untuk pulang karena ditelepon mamanya.
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Queen langsung menghubungi Nayla begitu wanita itu menjawab panggilannya, ia langsung menanyakan tentang Bilqis yang tiba-tiba berubah menjadi aneh.
"Halo, Kak. Maaf, kalau aku ikut campur urusan kalian. Bilqis di mana sekarang? Tadi, saat aku menelfon-nya menanyakan jadi ikut nonton apa tidak kok malah nangis. Apakah kalian ada masalah?" tanyanya dengan sedikit was-was.
Tidak ada jawaban yang memuaskan juga dari Nayla. Wanita itu diam kemudian menjawab dengan nada yang sedikit mengeluh. "Queen! Apakah aku ini gagal menjadi seorang, ibu? Aku tidak bisa mengurus satu anak saja. Semua masalah ini memang salahku. hmAarusnya aku pun diskusikan dulu pada mu. Sekarang apakah aku harus kehilangan rasa hormat dari putriku?" ucapnya lagi membuat jantung Queen kian berdetak kencang dan berfikir yang lebih horor dari pikiran sebelumnya. Saat menelfon Bilqis tadi.
"Kak kamu kalau ngomong yang jelas, dong. Biar aku busa bantu pikirkan solusi dan jalan keluarnya. Jika inti dari permasalahannya saja aku tudak tahu, bagaimana bisa, kak? Memangnya, kenapa ngomong saja sama aku. Tidak apa-apa. Barusan aku ngomong sama Bilqis dia juga tidak menjawab, dia malah menangis," ucap Queen yang sudah tak sabar mengetahui jawabannya, sambil tepuk jidat karena telah dibuat pusing oleh pasangan ibu dan anak ini dalam satu waktu.
"Mungkin kita bisa bertemu, dan berbicara secara langsung. Kau ada acara, apa tidak?" tanya Nayla.
Queen diam. Ia memandang ke arah suaminya. Karena panggilan ia speaker, Al bisa mendengar dengan jelas apa yang Nayla katakan. Pria itu mengangguk memberi izin dan memberi isyarat kalau dia yang akan temani anak-anak nonton nanti. Walau, sebenarnya mereka bisa sendiri. Tapi, Al dan Queen tidak membiasakan mereka pergi sendiri. Sudah segede apa anak jika masih belum menikah, mereka tetaplah anak-anak yang jadi amanah kedua orang tuanya dan harus tetap dijaga dengan baik.
"baik, kak. apakah perlu ketemu sekarang? Ketemu di mana? Aku ke rumah kakak, atau di tempat lain?" tanya Queen. Sengaja ia tidak menawari wanita mantan istri dari suaminya itu untuk datang ke rumahnya. Selain Nayla akan menolak, di rumah juga ada Al. Sejak bercerai, Al memang menghindari bertemu langsung dengan Nayla. Komunikasi langsung dari hp ke hp saja tidak pernah. Paling-paling kalau tidak berpesan pada Bilqis ya minta istrinya yang mengatakannya.
"Terserah. Kau juga bisa datang ke rumahku. Aku berada di rumah sekarang," jawab Nayla.
Queen mematikan panggilan. Lalu, kemudian mematikan panggilannya dan berpamitan pada Adriel, Berlin dan suaminya. Tanpa menunda lagi, wanita itu pergi ke rumah Nayla. Padahal sebenernya ia masih merasa capek dan lelah setelah menempuh perjalanan jauh dan belum sempat merebahkan badannya.
Acara malam mingguan yang sudah direncanakan kini telah gagal gara-gara sebuah masalah. Entahlah masalah apa. Serius atau tidak, Queen sendiri juga tidak tahu. Dan baru akan mencari tahu setelah tiba di rumah Nayla nanti.
"Mama mau ke mana?" tanya Berlin dengan bahasa isyarat kepada bapaknya ketika ia kembali dari dapur dan membawakan sebuah minuman untuk Adriel.
Mama mu sekarang enggak bisa ikut kita jalan-jalan, dulu Sayang. Dia mau ke rumahnya mama Nay dulu. Ada hal yang perlu dibicarakan. Kemungkinan kita pergi ke bioskop hanya bertiga saja. Apakah tidak masalah, Sayang?" tanya Al pada putrinya.
Berlin mengangguk kemudian ia nampak berpikir keras menanyakan Axel dengan cepat Adriel menjawab kalau kakaknya tidak bisa ikut karena sebuah urusan akhirnya Berlin memiliki ide tiga tiket itu diberikan kepada tante Zahara Om Alex dan juga Om Dedi jadi tidak ada satu pun yang sia-sia.
__ADS_1
Mengetahui ide dari putrinya, Al tertawa dan mencium kening Berlyn dengan bangga. "Kok pintar sekali, kamu sayang? baiklah papa kan menelpon Om Alek dan menanyakan padanya," ucap Al.
Dan ternyata Alex pun menyetujuinya kebetulan minggu ini dia belum ada acara dan berpikir akan jalan-jalan saja bersama Zahra dan putranya Luthfi jadi malam nanti mereka akan keluar berenam tanpa Queen dan juga Bilqis.