
Setiba di rumah Al mendapati pagar terkunci rapat. Dia tidak memencet bell yang tersedia. Sebab, ia mengira tidak ada seorang pun di dalam rumah besar itu. Tanpa pikir panjang lagi pria itu pun memutuskan untuk memanjat pagar.
Begitu berhasil, segera is berlari menuju pintu utama dan... Pintu tidak terkunci.
"Bagaimana Nayla bisa seceroboh ini pintu rumah dibiarkan tidak terkunci?" gerutunya dalam hati.
Begitu pintu terbuka dan hendak masuk, Al mendapat kejutan. Sebuah seseorang memukulinya habis-habisan tanpa ampun dengan kemoceng.
"Dasar, maling kamu, ya? Mau nyuri kamu saat majikan saya tidak ada," teriak wanita itu yang sudah bersiap untuk menyerangnya.
"Aduh... Aduh! Ampun, Bik. Ampun... Anda, siapa?"
"Siapa? Saya pembantu rumah ini, dan sudah kewajiban saya menjaga rumah saat manjikan tidak di rumah," ucapnya sambil terus menyerangnya.
"Maaf, Bi, maaf saya kakaknya Quen. Putra pak Vano dan bu Clara," ucap Al sambil melindungi area kepala dan wajah dengan kedua tangannya.
"Eh, yang katanya namanya Al Al siapa itu ya, suaminya Non Nayla? Walah... Maafin Bibik, ya Den... Waduh... Mana bager pisan mirip banget sama papaknya... Habis, manjat pagar bibi kira maling jadi kena gebukin, deh," ucap bi Yul merasa bersalah.
"Oh, bibi baru ya? Maaf, saya tidak tahu, saya baru saja dari Jepang, soalnya, Bi."
"Bibi juga baru tadi pagi, Den."
Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara sirine ambulance bersahut-sahutan. Al menduga kalau itu pasti jenazah nenek dan kakeknya. Sebab Jenazah pak Makmur sudah di antar ke kampung halamannya hanya saja ia terlalu sibuk dan Quen juga drop jadi belum bisa melayat dan mengucapkan ucapan bela sungkawa ke sana.
Al menoleh ke arah pagar. Sebagai laki-laki dan kakak dari adiknya ia harus tetap berdiri tangguh di hadapan siapapun terutama Quen, meski sebenarnya hatinya benar-benar remuk dan rapuh melihat sosok wanita yang dicintainya terbujur tak berdaya berjuang antara hidup dan mati dalam sokongan alat penopang kehidupan, bersama sosoo pria yang memberinya kasih sayang seorang ayah secara penuh semasa kecil hingga dewasa. Dan nenek serta kakek yang mendidiknya dari bocah panti yang tak tahu apa-apa bahkan makan saja sering kurang hingga menjadikannya seperti saat ini malah terbujur kaku tak bernyawa dengan kondisi yang tak lagi utuh penuh darah.
"Bi, tolong bukakan pagar, ambulan itu membawa jenazah kakek dan nenekku."
Bi Yul terkejut tiada terfikir baru saja dia datang beberapa jam di sini dan menikmati seuasana bahagia bersama majikannya lengkap malah sudah mendengar dua dari mereka meninggal. Ada apa ini?
"Cepat, Biii," lirih Al tak berdaya. Ia pun terhuyung dan menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa ruang tamu. Dunianya seolah terasa hancur dan langit pun runtuh menimpanya pandangannya kabur.
Bersama beberapa petugas rumah sakit Nayla dan Bilqis ikut pulang sementara Quen tidak nampak bersama mereka. Tak lama kemudian para tetangga berdatangan setelah datang pengumiman meninggalnya mereka untuk melayat dan memandikan jenazah.
Nayla mendekati Al yang melamun matanya memerah dan sembab meski dia tak melihat air mata suaminya. Hanya pandangannya saja yang nampak kosong dan nanar.
"Yang kuat ya, Mas. Kasian Quen. Dia butuh kamu untuk menguatkan hatinya. Aku tahu ini berat. Tapi, selain Alex, Quen cuma punya kamu, jika kah juga down bagaimana dengannya, ia juga tengah hamil."
"Ya, Nay. Aku gak papa. Aku pasti kuat. Kita bantu mereka mandiin jenazah, kau memandikan jenazah nenek, aku bantu mandiin jenazah kakek, Andreas, ya?"Β
Pria itu mantap berdiri mencoba untuk tegar tapi, beberapa langkah ia pun ambruk tak sadarkan diri.
"Mas, All. Tolong! Pak, tolong pak, suami saya tak sadarkan diri," ucap Nayla kian panik dan pikirannya makin tal keruan. Kedua mertua tak berdaya di ICU, kakek neneknya tak sadarkan diri, iparnya sudah tiga kali pingsan dalam beberapa jam dan sekarang malah suaminya.
Beberapa pelayat pun berdatangan membantu Nayla mengankat Al dan membaringkannya di atas sofa.
Bik Yul pun juga ikut sedih dan menangis di dekat Nayla.
"Masyaallah, Non. Bibi tidak menyangka kenapa jadi seperti ini. Padahal baru tadi pagi bibi datang tapi... Apa bibi ini pembawa sial, ya Non?" ucap Bi Yul.
"Sudah, Bik. Gak ada istilahnya pembawa sial. Semua ini sudah takdir. Doakan papa mama dan kakek Andreaa segera sadar dan sehat dan kembali bersama kita di sini, ya? Dan doakan semoga Quen tabah dan mampu melewati semua ini. Di rumah sakit tiga kali dia pingsan. Semoga gak terjadi apa-apa dengan kandungannya."
"Iya, Non. Iya... Bibi cuma bisa bantu doa... Ya Allah kenapa jadi begini?" Bahkan wanita itu pun terus terisak.
Sekitar lima menit, Al kembali sadar. Quen pun juga pulang bersama Alex, aditya dan juga Novita. Turut menghadiri acara pemakaman.
Bersamaan dengan itu para staf kantor dan relasi kerja berdatangan. Serta papan bunga berdatangan dari berbagai pihak.
"Quen, sabar, ya? Kita doakan yang sudah pergi semoga mereka tenang di sisinya. Dan papa, mama dan kakek Andrean semoga segera sadar." Nayla menghampiri Quen yang duduk di atas kursi roda kengkar dengan infusnya. Wanita itu nampak iba dengan iparnya. Padahal pagi tadi dia masih ceria dan tidak kenapa-napa. Tapi, saat ini dia malah pucat tak berdaya seperti mayat hidup.
"Kakek, dia lukanya tidak parah, Kak Nay. Dia ikut bersamaku," bisik Quen tidak bertenaga.
"Benarkah? Di mana dia?"
"Dia melihat jenazah nenek dan kakek Andreas di mandikan."
Nayla melihat ke luar dan ternyata benar. Ia melihat Kakeknya duduk dengan kaki di pasang gif dan beberapa luka di lengannya. Sementata area kepala beliau tampat baik-baik saja.
Nayla beralih ke arah Al. Ia memberitahukan kalau kakek Andrean turut hadir. Dengan dua suster di belakangnya.
Nayla melihat dari jauh kira-kira berjarak sepuluh meteran. Nampak Novita membujuk Quen untuk makan atau minimal meminum susu hamil agar dia ada tenaga dan tidak terjadi hal buruk pada janinnya.
"Lex, siapa yang menunggu papa dan mama? Bagaimana mereka apakah sudah sadar?" tanya Nayla, mumpung dia tidak sedang dengan Quen. Kawatir Quen jadi makin sedih jika mendengarnya.
__ADS_1
"Mereka masih belum sadar kak. Dokter bilang semoga ada mikzizat agar mereka...." Alex tidak melanjutkan kalinatnya. Tapi, dari situ Nayla sudah menangkap maksut Alex.
"Apakah mereka sendiri?" tanya Nayla lagi.
"Tidak. Banyak teman-tenan mama. Siapa saja tadi. Tante Yuna juga ada di sana soalnya.
Jenazah pun sudah di sholatkan, dan akan segera dimakamkan.
Al mendekari Nayla berpesan agar dia tidak usah ikut ke pemakaman. Menjaga Quen saja di sini bersama kak Novi. Sementara dia, Alex dan Aditya ikut serta.
"Quen, di sini sama kak Novi dan kak Nay, ya?" bujuk Al.
"Gak boleh ikut ya, kak?" Mata Quen memandang ke arah kakaknya dengan tatapan melas.
Al pun berjongkok sambil memegang kedua pundak adiknya. Biasanya dia memang tidak bisa menolak keinganan Quen, tapi kali ini ia harus bisa.
"Kakak takut terjadi apa-apa sama kamu, bukannya Almarhum nenek dulu berpesan wanita hamil pamali datang ke pemakaman untuk menyaksikan acara pemakaman? Biar kami yang laki-laki saja yang ke sana ya? Kakak nemani kakek Andrean."
Quen mengangguk berusaha tersenyum tapi, mata itu tetap saja tak dapat menyembunyikan bagai mana hatinya. Bulir bening meloncat dari netra membasahi kedua pipinya.
"Yang kuat, ya? Jangan nangis lagi," ucap Al sambil mengusap air mata di kedua pipi Quen lalu ikut pergi ke pemakaman bersama dua jenazah yang sudah di naikan ke dalam mobil.
Quen memandang dengan pilu dan beruraian air mata pada para pelayat yang mengantar jenazah kakek neneknya me pemakaman. Sementara Novita membantu bik Yul mengurusi para tamu. Dan di belakangnya, Nayla setia menemaninya sambil mengusap kedua bahu Quen.
"Kak, aku mau ke kamar mama dan papa," lirih Quen pada Nayla.
"Iya," lirih Nayla. Dengan langkah gontai dan bergetar wanita itu mendorong kursi roda yang di duduki Quen menuju kamar mertuanya.
Tiba di ambang pintu Quen meminta Nayla pergi. "Kak, kakak temui Bilqis dulu, kasian dia pasti belum makan. Aku tidak apa-apa sendiri di sini," ucapnya, memaksa tersenyum.
Mendengar hal itu, malah Nayla yang menangis, bagaimana bisa dia masih mengingat bocah yang sebenarnya bukan siapa-siapanya. Selain anak tiri Al. Al juga hanya kakak angkatnya saja. 'Pantas saja Quen kau selalu mendapatkan cinta dari semua orang. Hatimu mulia penuh cinta dan kasih meski kau dalam kondisi suasana hati yang benar-benar hancur, kau masih sempat memikirkan isi pertut gadis kecil itu,' batin Nayla. Tiba-tiba saja dia merasa nyesek dan terisak. Lalu pergi hanya dengan menepuk beberapa kali pundak Quen tanpa sepatah kata pun.
Menyadari sudah tidak ada siapa-siapa, Quen melajikan kursi rodanya mendekati nakas. Dipandanginya album foto kecil papa dan mamanya yang berdiri di sana cukup lama. Seoalah foto dua insan itu memberinya kekuatan baru untuk dia berdiri dan melangkah, bahkan ia melepas paksa jarum infus dari punggung tangan kirinya.
Quen meraih dan memeluk foto itu sambil menangis dan berkata seorang diri, "Pa, bukannya tadi pagi kau janji setelah pulang dari Prancis kau akan banyak-banyak menemaniku sampai cucumu lahir? Tapi kenapa, Pa? Kenapa begini? Kau dan mama dulu bilang, akan sering jenguk aku di rumah suamiku saat jam istirahat dan menyempatkan untuk menjemputku di rumah sakit tempatku praktik?" Kembali Quen menatap foto itu, dipandanginya lekat-lekat. Jemari lentiknya menyapu pada kaca album yangΒ basah oleh tetesan air matanya.
Sementara dari belakang, Nayla mengawasi Quen dengan air matab
yang tak kalah deras mengalir. Ia menutup mulut dengan kedua telapak tangannya agar suara isayakannya tertahan.
Tapi, beberapa saat kemudian, ia terkejut melihat tubuh Quen jatuh ke lantai. Dengan cepat dia berlari menghampiri Quen yang kembali terjatuh ke atas lantai dan tak sadarkan diri.
"Quen, sadarz Quen... Jangan bikij kakak takut dengan kondisimu? Kau yang kuat, ya?" ucap Nayla sambil terus terisak.
Beruntung Quen pingsan tidak selama tadi. Ia pun kembali tersadar sebelum Alex, Al dan yang lainnya kembali dari pemakaman.
"Quen, jangan terlalu banyak fikiran, ya? Tenang-tenangkan hati kamu. Kau harus bisa rilex. Kasian janin dalam rahimmu jika kau terlalu stres begini. Dia sangat peka dan juga bjsa ikut menangis jika kau menangis, apalagi kau sampai empat kali pingsan seharian ini? Kau tidak mau terjadi apa-apa dengan janin mu, kan?" bujuk Nayla.
"Iya, aku harus bisa, aku harus tegar kak. Sebab tadi pagi papa sudaj janji sama aku, kak. Dia bilang akan sering-sering meluangkan waktunya menemaniku hingga cucunya lahir. Dia bahkan juga janji akan selalu menjemputku dari rumah sakit selama dia tidak keluar kota. Aku tahu, papa akan tepati janjinya, dia akan bangun dan menjemputku saat Alex sibuk dengan pekerjaannya nanti, sekarang aku tinggal menunggu saja dua minggu jika dia tidak bangun aku akan menagih jani papa dan mama... "
Hanya itu yang mampu Nayla dengar. Ia tak sanggup lagi mendengarkan kata demi kata yang terucap dari curahan hati Quen terdalam tentang perasaannya. Ia pun tak kalah terisaknya membayangkan bagaimana jika ia berada di dalam posisi itu. Pasti tidak akan sanggup.
Kehilangan kedua orang tua dia bukan tak tahu seperti apa rasanya. Dia pun juga sudah tidak memiliki orang tua lagi, tapi, tuhan mengambilnya dengan cara lain dan jauh berbeda, mereka sakit dan tidak bersamaan diambil ayah dulu baru sang ibu. Itu pun berjarak tujuh tahun. Sementara Quen... Mereka tidak sakit mereka sehat dan bahkan akan pergi berlibur.
"Quen, kau tahu bukan mereka semua sayang sama kamu? Sudah jangan nangis lagi, ya? Mereka pasti akan berjuang melawan maut dan akan bangun untuk menepati janjinya padamu tadi, kau percaya bukan? Bahkan kau tahu sendiri kalau kakek Andrean juga sudah mampu ikut ke pemakaman. Pasti sebentar lagi papa dan mama juga akan sadar."
Nayla terus sesenggukan sambil memeluk Quen. Hanya itu yang mampu dia ucapkan untuk meredam kesedihan Quen, agar Quen tidak mengucapkan lagi kata-lata yang membuat hatinya terasa pilu dan hatinya teriris.
"Iya, aku tidak apa-apa, Kak. Sebentar lagi Tante Eren, Om hans dan Hanifah juga datang. Mereka mengirimiku ku chat. Katanya. Dan nanti malam Momy Jeslyn juga akan kemari, aku pasti akan terhibur dengan kedantangan mereka." Bibir Quen memaksa tersenyum meski air matanya belum kering dan terus mengalir.
π π π π
Al dan Alex ikut turun ke pemakaman menerima jenzaah sang kakek, sedangkan Alex ia menerima jenazah nenek mertuanya.
Sementara saat itu, Andrean meminta dua suster di balekangnnya untuk mendorong kursi rodanya agat lebih dekat dengan liang lahat untuk melihat dua wajah orang terkasinya untuk yang tedakhir kalinya.
Padahal baru tadi pagi, Kak kita meributkan urusan kolam ikan kita. Bagaimana jika ikan-ikan ini tidak terawat dan mati kalau ditinggal sampai dua minggu? Dan sang istri Vivian pun turut menyahut agar dia menikmati liburan jangan terus empang saja yang terus dipikirkan.
Memang, kejadian itu baru tadi pagi. Tapi karena kejadian ini menimbulkan luka yang amat mendalam dalam hatinya, rasanya kapan tepatnya mereka berda ia sudah lupa. Semua momori itu seolah terputar dalam benak Andrean seperti role film yang hanya dia saja yang dapat menyaksikannya.
"Pa, dua minggu di Paris ya? Mama sudah setuju, kok. Ya?" ucap Vano dengan senyuman penuh hasut. Sementara Clara terkikik geli melihat ekspresi keberatannya sambil bergelandut manja pada lengan keponakan yang sudah ia anggap layaknya putranya sendiri itu.
Andrean pun menoleh ke arah sang kakak yang pura-pura cuek, karena di balik ketegasan yang ia miliki, dia sebenarnya sedikit lemah jika menolak permintaan anak cucunya itu.
__ADS_1
"Mas, sekali-kali nurutin maunya anak kenapa sih? Cuma dua minggu aja, kan?"
"Tapi, Ma bagaimana dengan nasib ikan-ikan itu?" elak Andrean.
"Kamu itu, bapaknya anak-anak, apa bapak para ikan, sih, Mas?" ucap Vivian cemberut dan memalingkan wajahnya.
"Baiklah, baik... Iya dua minggu gak apa-apa. Tidak apa-apa kan, Kak?" ucap Andrean sambil tertawa canggung.
"Ya gak apa-apa, kapan lagi kita bisa rekreasi bersama begini? Iya, kan? Cucu juga pada pengantin baru sendiri-sendiri. Al sibuk urus bisnis dan Quen selain masih dalam masa pendidikan juga hamil, kan?"
"Baiklah, ayo kita otw!" Seru andrean dan disambut dengan suka cita.
* * *
"Pak, jangan kencang-kencang napa? Jangan kawatir terlambat. Pesawat pribadi yang kita pakai," seru Andrean.
Pak Makmur hanya diam, tertawa canggung matanya sibuk melirik kiri kanan dan ke arah kaca di atas mobil untuk melihat penumpang yang duduk di kursi belakang.
Alih-alih mengurangi kecepatan, Pak Makmur hanya diam seolah menutupi kegugupannya. Terlihat keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Kakinya berkali-kali menginjak rem. Namun, tak ada hasol. Kepanikan pun tak bisa ditutupinya lagi saat mobil hendak melewati tikungan.
"Pak, Bu... Rem nya Blong!" teriak Pak makmur. Teriakan seriakan dan lafaldz Allahuakbar terdengar nyaring dadi ke enam penumpang itu saat mobil sudah kian denkat degan pembatas jalan.
Benar saja, mobio yang mereka tumpangi pun menabrak dan terbalik sampai terpental ke tengah jalan hingga mengakibatkan banyak korban susulan yang mengakibatkan kecelakaan beruntun. Saat ia masih tersadar, ia melihat Clara dan Vano saling bergandengan tangan dengan erat. Memang aneh, tapi itu faktanya. Padhal, Clada duduk di belakang pak Makmur dan Vano duduk di sebelah pak Makmur.
Sementara Vivian, ia sudah nampak tak sadarkan diri dan Andreas, dia tidak menemukan kakaknya sampai akhirnya tersadar kembali ia berada di ruang IGD bersama Clara dan Vano.
***
"Selamat jalan, Kakak. Selamat jalan istriku sayang... Kami damailah kalian di sana. Kami di sini akan selalu meningat dan menyapa kalian berdua dalam setiap doa kami. Semoga, kelak kita dipertemukan dalam syurganya dan berkumpul dan tak pernah terpisah lagi." Andrean tersenyum tapi bulir bening itu semakin deras meloncat membasahi netranya.
Ia pun sakit dan merasa kehilangan. Tapi, melihat dua wajah yang nampak putih berseri seolah mereka tengah tertidur dengan pulasnya, ia pun paham kalau mereka hanya perlu di ikhlaskan kepergiannya saja.
Terlebih sang istri, ia terpejam dengan wajah yang nampak cantik jelita dan tersenyum manja. Seolah senyuman itu memang ditujukan pada dirinya saja. Awalnya Andrean mengira ini hanyalah sebuah halusinasi. Tapi, banyak dia mendengar dari para pelayat, mereka mengatakan hal serupa.
"Ibuk Pak Vano ternyata cantik ya? Lihat saja, jenazahnya putih bersih dan tersenyum. Pas hidupnya pasti lebih cantik dari itu."
"Iya, ya?"
Dan jelas, yang berbicara pasti karyawan atau staf baru. Sebab, jika karyawan lama, jelas mereka sudah tahu pastinya.
Al dan dan Alex, kembali naik ke atas. Lubang kubur pun kini ditimbun tanah. Al merasa tak kuat dan tak sanggup lagi melihat dua sosok yang memberinya cinta dan kasih sayang tak berdaya dalam pelukan perut bumi seperti ini.
Kepada Andreas, dialah sosok yang membuat anak panti yang tak diharagi, yang bukan siapa-siapa dan tak punya apa-apa menjadikan dirinya seperti Al yang saat ini. Sosok Al yang dikenal dunia sebagai penerus perusahaan sang kakek dan sukses membawa banyak keuntungan. Al pemuda tampan kaya dan penuh kharisma.
Dan teruntuk Vivian... Baru beberapa hari sebelum dia kepang keduanya sempat ngeteh ngeteh sambil terapi ikan di halaman utara rumah. Keduanya ngobrol menceritakan masa mudanya dulu, juga bagaimana mamanya yang dia rasa sifatnya sama persis bahkan lebih keras dari Quen.
Neneknya juga sempat memberinya pesan agar tidak selalu sibuk dalam.pekerjaan. dia sudah berkeluarga kalau bisa urusan keluarga dan kerjaan jangan sampai ringan sebelah. Yang adil dan imbang sesuai porsi masing-masing. Bahkan sang nenek juga sempat menyingung soal Quen dan Nayla.
"Al, Nenek tahu kau sudah tumbuh dari kecil bersama Quen. Kau juga anggap dia seperti adik kandung. Tapi, di depan Nayla kau jangan terlalu menunjukan kedekatan dengannya. Kasian Nayla, dia cemburu," ucap mendiang neneknya terngiang-ngiand di telinga.
"Dasarnya Nay aja, Nek yang posesif," jawab Al tanpa memandang ke arah sang nenek.
"Tidak begitu. Kalian sudah sama-sama menikah. Bagaimana kalau kedekatan itu menimbulkan rasa sayang yang berbeda. Yang semula adik dan kakak berubah cinta. Ingin saling memiliki dan bersama? Kalau sama-sama masih bujang enak, tinggal nikahin kalian berdua beres." Vivian tampak terkekeh sambil memandangi dirinya.
"Ngaco Nenek ini kalau bicara. Gak lucu kah Nek kalau Al menikah sama adek sendiri," kilah Al sambil tersenyum kecut.
'Kalau semudah itu, aku mau nikahi mama Clara saja,lebih dewasa dan pokoknya yang kumau banget' ucap Al dalam hati.
Vivian masih terkekeh memandangi cucu laki-lakinya itu yang nampak cemberut menunjukan penolakan besar. Sambil mengusap punggungnya ia berkata, "Kau belum begitu faham akan urusan cinta yang sebenarnya cucuku."
"Cinta memberi kebebasan dan tak harus memiliki, kan Nek?" jawab Al.
Dan lagi-lagi Vivian terkekeh. Kali ini dia tersenyum dan memberinya tatapan yang lembut.
"Semua itu ada kadarnya masing-masing, Cu. Kadang ada yang begitu, kadang pula ada yang berjuang keras dan mati-matian harus dapat. Kelak seiring berjalannya waktu, kau juga akan tahu. Dulu papa dan mamamu juga gitu, kok."
Wanita itu menepul pundak Al dan meminta bantuannya untuk berdiri dan pergi dari kolam.
Acara pemakaman pun selesai ditutup dengan doa. Para pelayat satu persaru juga meninggalkan makam hanya tinggal Andrean Al Alex dan dua suster yang menjaganya.
Al mendekati Alex, dan berbisik pada iparnya, "Tidakkah kau sebaiknya pulang dulu saja? Kasian Quen. Biar aku temani kakek dulu sebentar dan ku bujuk dia agar kembalinke rumah sakit. Jika aku lama, mungkin aku menemani kakek di sana."
"Iya, baik kak. Aku pergi dulu."
__ADS_1
Alex pun meninggalkan Area pemakaman yang sudah sepi, tinggal Al, Kakek Andrean dan dua orang suster tersebut yang masih di di sana.