Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 93


__ADS_3

Silau matahari sore hari menembus jendela menusuk netra Quen yang masih terpejam. Ia membuka mata perlahan. Dilihatnya Alex sudah tidak ada do tempatnya. Ia bangkit perlahan memeriksa kamar mandi kamar. Tapi, kosong. Ia pun merambat perlahan keluar kamar. Bersamaan dengan ia membuka pintu berdiri Alex dengan menggunakan celemek putih di badamnya sementara kedua tangannya membawa nampan berisi pancake dengan potongan strowberry dan kiwi yang disiram madu san segelas besar susu hangat. Mungkin itu susu kusus untuk wanita hamil.


"Alex!" Quen menutup mulut dengan kedua tangannya ia menatap takjjb pada pria di depannya. Walau ini bukan kali pertama bagi wanita itu. Tapi, setiap kali Alex membuatkan masakan, Quen selalu merasa terharu dan entahalah. Semacam rasa bangga diri mendapatkan suami tampan, mencintai dia dan jago masak.


"Aku tahu, di tri smester awal wanita hamil akan tidak menyukai nasi. Kuharap kau dan bayi kita di sana menyukai ini, ya?" ucap Alex.


Quen pun menggeser tubuhnya memberi akses jalan untuk Alex melewatinya.


Alex mulai memotong pncake itu dan menusuknya dengam garpu lalu menyuapkanmya kepada Quen.


"Bagaimana? Apakah ini cukup enak?" tanya Alex penuh perhatian.


"Memang kapan aku pernah tidak menyukai masakanmu, Alex?" ucap Quen sambil tersenyum.


Saat keduanya asik bercanda, tiba-tiba ponsel Alex berdering. Dilihatnya na kontak yang tertera di situ, ternyata telfon dari Helena.

__ADS_1


"Helena," ucap Alex sambil memandang ke arah Quen dengan ekspresi sungkan dan tidak nyaman.


"Angkat saja!" Seru Quen yang masih asik dengan pancake buatan suaminya itu.


Dengan ragu dan tidak nyaman pula tentunya Alex mengangkat panggilan itu dengan di louspeker.


"Hallo, ada apa, Len?" jawab Alex dengan nada datar.


"Kau sedang apa? Apakah kau sibuk hari ini?" sahut suara gadis dalam panggilan itu.


"Ada apa memangnya? Apakah ada yang penting?" tanya Alex, nampam tak sabar ingin segera mengakhiri panggilan itu.


"Dia? Istriku sedang makan. Dua susah makan akhir-akhir ini."


"Jika kau tidak sibuk, bisakah kau keluar sebentar. Aku ada di jalan depan rumahmu. Aku ingin membawamu ke suatu tempat. Di sana ada beberapa pilihan gaun yang sangat bagus. Aku perlu pendapatmu, bisakah kau memilihkannya untukku?" ucap Helena terus terang.

__ADS_1


Quen yang mendengar celotehan gadis mantan pacar suaminya itu tiba-tiba memperlambat kunyahannya.


Ia berhenti meletalan piring itu lalu berlari ke toilet. Tiba-tiba saja ia merasa mual mengetahui wanita gagal move on dari mantan yang sudah menikah dan tak lagi menginginkannya tapi masih berharap dan berusaha merayu.


"Helena, kalau itu hal yang perlu kau sampaikan, ok jawabannya aku tidak bisa. Aku menemani istriku." Alex pun langsung mematikan telfon lalu pergi menyusul Quen.


"Quen, apakah kau baik-baik saja?" tanya Alex, panik karna mendengar suara istrinya yang masih mutah-mutah dan pintu kamar mandi dikunci dari dalam.


Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Quen memasang wajah bersalah dan berkata, "Maaf, pancake nya keluar semua... Benar-benar tak biasa ditahan. Ini bukan mauku."


Alex menarik Quen ke dalam pelukannya. "Apakah kau mual mendengar Helena?"


Quen tersenyum dalam palukan Alex. Dalam hati ia bergumam memang pria inilah yang paling mengerti dia dengan baik setelah papa dan kakaknya. Wajar saja kalau dia tetap ada rasa cinta meski bertahun-tahun berpisah dan tak lagi bersama. Dan mungkin juga ini kenapa alasan Helena sampai tak tau malu begitu mempertaruhkan harga dirinya meminta dipilihkan gaun pada pria yang sudah bersuami.


"Di kampus pasti banyak para mahasiswi yang caper sama kamu, bukan?" ucap Quen dengan nada berlagak marah.

__ADS_1


"Aku bilang kalau aku sudah menikah. Kau tahu layar kuncindan walpaper hp ku juga foto saat pernikahan kita. Di dompetpun sama."


"Aku percaya sama kamu, kalau kau sampai menghianatiku, aku akan membunuhmu!" Kalimat itu lagi dan lagi yang selalu Quen ucapkan kepada Alex.


__ADS_2