
Nayla sudah lebih dulu keluar ruangan, ia merasa gerah berada di ruangan itu, beruntung Al masih menutupi kesalahanya yang terus membuat Al merasa tertekan.
"Al, jangan keluar dulu!" Seru Clara.
Al yang mulanya sudah berdiri kini urung beranjak, dia kembali duduk di kursinya menghadap ke arah Clara dan Vano.
"Mungkin kamu tidak enak jika berbicara di depan Nayla, ada apa sebenarnya?" tanya Clara.
Al masih diam, tapi, karena mamanya terua mencecar dengan berbagai pertanyaan dan sedikit pengakuan dari Quen kalau ia merasa kakaknya bertengkar, akhirnya Al pun menjawab dengan jujur.
"Iya, Ma. Al memang berantem sama Nayla. Habis aku tuh kesal dengannya semakin hari tidak semakin baik malah kian menjadi saja." Keluh Al.
"Memang apa masalahnya? Apakau kau selalu menekannya?" tanya Vano.
"Tidak, Pa. Al tidak pernah menekan Nayla, bahkan selama.ini aku selalu memberinya kebenasam dalam hal apapun, dia terlalu posesif cemburu pada orang yang seharusnya tidak pantas ia cemburui," jelas Al panjang lebar.
"Apa, cemburu? Kau dekat dengan pekerja atau teman wanita di sana?" tanya Clara berusaha menebak, seraya sedikit melirik suaminya yang memang memiliki cap buaya.
Dan jelas pasti sangat jelek sekali ekspresi papa Vano kali ini.
"Bukan, Al tidak pernah dekat dengan siapapun selain dengen Quen." bagia menyebut nama adiknya pria itu mengatakannya dengan lirih. Dia sebenarnya tak ingin mama papanya tahu, tapi dengan situasi yang seperti ini, mau bagaimana lagi?
"Apa, cemburu sama Quen? Bagaimana bisa? Kau jelaskan kalian sudah tumbuh bersama sejak Quen bayi dan kau anggap dia adik kandung. Begitupun Quen," ucap Clara kaget dan hampir tak percaya.
"Biarkan saja dia, aku sudah lelah menjelaskannya tapi Nayla masih saja keras, sekarang sadar besok balik lagi." Keluh Al merasa lelah.
π π π π π
Di dalam kamarnya Quen mengobrol dengan Aditya melalui telfon seluler, kali ini tidak seperti biasa, dia lebih banyak diam dan hanya menjawan satu dua pertanyaan yang Aditya lontarkan.
"Kau ada masalah apa? Cerita donk. Jangan tiba-tiba males dan batalin acara kita, kamu bisa berbagi sama aku, belajar tetbuka sama aku ya mulai sekarang?" ucap pria itu dari seberang.
Quen hanya diam tangannya memainkan bulpoin di atas lembaran kertas HVS putih membuat coretan tak beraturan.
Gadis itu mendesah kesal dan berniat mengakhiri panggilannya dengan pria yang akan dia nikahi dalam beberapa hari mendatang.
"Dit, aku ngantuk. Aku istirahat dulu, ya?" ucap Quen.
Cukup lama Aditya memberikan jawaban pada Quen dan akhirnya pria itu pun akhirnya menjawan, "Ok, kau istirahat dulu, Sayang."
Quen merasa muak dengan panggilan itu dari Aditya, ia merasa tak layak mendapatkan panggilan itu.
Tanpa menjawan sepatah katapun Quen memutus panggilannya.
Took...tok...tok...
Quen menoleh ke arah pintu begitu mendengar tiga kali ketukan.
"Siapa? Masuk saja!" Serunya malas beranjak.
Tak lama kemudian Al masuk ke dalam dan membiarkan pintu kamar Quen terbuka setengahnya.
Gadis itu melihat ke arah Al dan membenarkan posisi duduknya.
"Ada apa, Kak? Apakah mau ganti perban?" tanya Quen penuh perhatian.
Al hanya tersenyum dan ikut duduk di tepi ranjang adiknya.
"Oh, iya kakak belum minun obat, kan malam ini?" sebentar aku ambilkan," serunya sambil beranjak mengambil kotak obat. Dan kembali memberi obat penghilang rasa sakit dan antibiotik kepada Al.
"Minum dulu gih, Kak. Itu minun saja air ku di atas nakas. Aku ambilkan kasa dan alkoholnya dulu."
__ADS_1
Karena merasa sakit berlenih di tangannya pria itu segera meraih air putih yang ditunjukan Quen.
Tak lama kemudian Quen kembali dengan kotak putih di tangannya.
Ia duduk menghadapnke arah al dengan menaikan satu kakinya di atas seperti orang bersila sedangkan kaki sebelahnya tetap bergelantung menyentuh lantai. Dengan telaten gadis itu membuka ikatan perbam pada tangan Al dan membersihkan bekas lukanya dengan alkohol lalu kembali membalutnya setelah lima menit dibiarkan terbuka.
"Barusan telfon sama siapa?" tanya Al pura-pura tidak tahu.
"Sama Aditya, Kak. Rasanya aku benar-benar ragu dan tak ingin menikah dengannya saja kak, apa ini arti di balik mimpiku kemarin, ya?" ucap Quen seraya mengedarkan pandangan pada gaun pengantin hang terpajang indah di sudut meja riasnya.
"Kalau memang ragu, tinggalkan saja dia, beri kejelasan dan ketegasan apa alasanmu membatalkan pernikahannya." Jawab Al dengan tegas.
"Tapi, bagaimana dengan kehormatan keluarga kita, Kak?"
"Tenang, ada kakak di sini. Kau jangan takut, ok!"
Ucap Al berusaha memberi semangat dan ketenangan kepada adiknya.
Quen tidak menjawab apapun selain tersenyum dan memandang wajah Al dalam dalam.
Di sisi lain Aditya merasa ada kejanggalan dengan Quen. Entah Quen atau memang nasibnya aja sedang buruk.
Pasalnya dua dua minggu jelang pernikahannua sungguh hal-hal yang tak terduga datang bertubi tubi. Mulai dari sang mantan istri kembali mengajak rujuk, serta sifat Quen yang seolah berubah menghindarinya.
Aditya menjambak rambutnya sendiri sebagai bentuk kekesalannya.
"Aarrg... Ada apa sih ini sebanarnya?" keluhnya kesal.
"Ada apa, Dit?" sapa Livia yang melihat putranya nampak depresi
"Kenapa hidupku begini amat, Ma? Bebrapa minggu lalu Novita memaksaku rujuk, dan sekarang Quen seolah terus menghindariku terus."
Livia tersenyum melihat kegundahan.putranya dia enggan berkomentar apapun. Malah menanyakan perasaannya terhadap dua wanita itu yang tak lain adalah Novita dan Quen.
"Lalu, apa pendapat Mama tentang Quen dan Novita? Siapa yang paling baik dan mama suka?" jawan Adit malah balik melempar pertanyaan.
"Mereka berdua sebenarnya sama-sama baik, hanya saja Novita kurang perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya, beda dengan Quen dari prilaku dan ucapannya saja jelas dia anak yang terdidik dengan baik. Sementara Novita, mungkin dia sudah menjadi lebih baik setelah kepahitan yang dia alami. Mengorbankan anak dan suami demi pria lain, dan akhirnya di campakan. Tapi, semua terserah padamu, Nak. Mama tidak bisa memilih, kau yang menjalani rumah tangga iniΒ dengarkan apa kata hatimu dan tentukan sendiri pilihanmu mana yang bagimu baik."
Aditya terpaku sesaat mendengarkan nasehat mamanya. Bahkan wanita itu sedikit pun tidak ada dendam di hatinya ataa apa yang dilakukan menantunya dulu. Sungguh luar biasa. Tapi, kini Aditya benar benar dilema dalam pilihan yang sulit.
"Ya Tuhan... Aku harus bagaimana? Aku mencintai Quen, tapi di hatiku masih menyimpan rasa untuk Novi," keluh Aditya dalam hati.
Aditya pun berjalan menuju kamar Axel, dipandanginya wajah bocah delapan tahun itu yang tengah pulas tertidur. Dibelai-belainya dahinya secara perlahan agar tidak terbangung dan diciuminya pipi anak itu.
"Sayang, sejujurnya kau lebih bahagia jika papa rujuk dengan mamamu, atau menikahi tante Quen?" ucap Aditya pada Axel yang tidur.
"Kamu jujur saja, jangan takut akan hati papa, papa menikah hanya demi kebahagyaanmu, bukan untuk yang lain, soal cinta, papa benar-benar mencintai tante Quen, tapi, hati ini juga masih ada cinta untuk mamamu, Sayang." Aditya berdialok terus seolah Axel adalah anal dewasa yang sudah mengerti cinta, dan dalam keadaan sadar. Padahal, anaknya jelas-jelas tengah tidur dengan lelapnya.
Hah,Adit, kau benar-benar gila, bocah delapan tahun kau ajak membahas persoalan cinta? Mana doa tabu dan mengerti? Dasar bodoh! Umpatnya dalam hati, seraya bergeleng dan tertawa seorang diri.
Apakah Aditya sudah gila? Sampai harus begitu? Dia adalah doktet THT, bukan Dokter gila.
π π π π
Aditya berdiri di bawahnya terik mentari, ia bersandar di depan mobilnya sejak sepuluh menit lalu sambil melihat para maha siswa berlalu lalang lewat di depannya. Tapi, sosok yang dia tunggu tak kunjung muncul.
Namun, pria itu masih enggan menyerah, ia terus menunggu sambil sesekali memandang ke arah jam tangannya.
Lima menit kemudian muncup seorang gadis berambut pirang sepinggang berjalan dengan gadis berambut sebahu yang dicat maroon.
"Quen," teriak Aditya memanggil wanitanya. Matanya nampak berbinar setelah hampir duapuluh menit berdiri di bawah teriknya mentari dan terbakar, gadis itu muncul juga.
__ADS_1
"Ehem... Cieee uda dijemput calon suami saja, Nih. Ya udah, gih sana, byee!" ucap gadis di sebelah Quen langsung pergi tanpa menyapa Aditya terlebih dahulu, padahal dulu, ia sekelas dengan Quen, dan jelas sjaa Aditya juga pernah jadi dosennya.
"Gea... Kau mau ke mana?" teriak Quen pada sahabatnya, tapi, rupanya gadis berambut maroon itu tidak menggubris panggilan sahabatnya.
Dengan rasa sedikit malas dan tentinya terpaksa Quen berjalan enxekati Aditya dan menyapa ala kadarnya, canggung, kaku dan entahpah susah di jelaskan. Gadis itu tak lagi seluwes dulu semenjak mengetahui tentang mantan istri Aditya yang mengajak rujuk kembali.
Jika saja dia tidak sadar ia berada di mana, ingin rasanya ia berkata, "Aditya, pergilah! Jangan temui aku lahi, kembalilah kau pada mantan istrimu." tapi, ini di area kampus, hampir seluruh mahasiswa dan para dosen kususnya yang di bidang kedokteran tahu akan kisah cinta mereka, jadi, Quen hanya bisa menahannya saja.
Tanpa di perintah Quen langsung membuka pintu mobil dan duduk di sebelah kemudi, di dalam mobilpun bahkan ia tidak banyak bicara. Hanya diam bersandar pada kursi dan tangan kanannya di letakan di atas kepala sambil memijit-mijit kedua pelipisnya lembut dengan telunjuk dan ibu jarinya.
"Kau kenapa? Sakit?" tanya Aditya tanpa menoleh, sebab, ia juga merasa canggung dengan sikap Quen yang tiba-tiba bwrubah dengan drastis.
"Aku cuma sedikit pusing saja, mungkin terlalu lelah," jawan Quen, menolehkan kepala ke arah jendela.
"Bawa rilex, saja. Kau jangam terlalu tegang dan lelah agar di hari pernikahan kelak tidak sakit, ok?" Adiya berusaha memberikan senyuman terbaiknya meski sebemarnya ia sangat berat melakukannya, sebab, kenyataannya ada dua cinta di hatinya.
Quen hanya diam dan bergeming pada posisi sebelumnya. Oa hanya mengumpat dal hati, "Aku pening juga gara-gara ku, bahkan untul pernikahan kita, aku tak yakin bisa diteruskan atau tidak jika terus begini.
"Kita makan siang dulu, yuk! Kau pasti belum makan siang, kan?" tanya Aditya berusaha mengalihkan pembicaraan.
Quen menarik napas dalam-dal dan mengeluarkannya dari mulut lalu menjawab, "Boleh, tapi jangan lama-lama, ya?"
"Baik, Tuan Putri." Aditya masih terus berusaha tersenyum meski dalam hayinya tengah hancur.
"Ya tuhan, aku harus bagaimana? Aku bahkan hanya memiliki satu hati tapi, kenapa harus terisi oleh dua wanita sekaligus? Ini sungguh membuatku hancur, lalu, bagaimana dengan Quen nanti jika dia tahu soal Novita? Aku terlanjur mengatakan kalaunaku mencintainya," keluh Aditya dalam hati.
Tiba di sebuah cafe bernuansa jadul dengan gazebo bambu Quen duduk bersila di depan Aditya, segera ia memilih menu yang ingin dia makan tanpa Aditya tawarkan terlebih dahulu, benar-bemar tidak seperti dirinya yang biasanya.
Dengan cekatan di ambilnyankertas nota yang sengaja disediakan untuk menulis orderan pembeli yang biasanya satu orang memesan lebih dari satu jenis makanan.
Quen menuliskan stik ayam, lemon hangat dan tahu cryspi. Lalu menggeser kertas itu ke arah aditya tanpa sepatah katapun.
"Tumben cepat banget, Sayang?"
"Aku pusing, Dit," jawab Quen singkat
"Ok, baiklah, aku akan memsan menu yang sama denganmu, cuma mau nambah udang bakar saja, deh, sama cumi cryspi dan gado-gadi."
Quen mengerutkan alisnya menatap heran pada pria di depannya.
"Apakah kau terlalu lapar sampai harus memesak makanan segitu banyak?"
"Memangnya kau bisa kenyang hanya dengan lima potong tahu dan seporsi stik ayam?" ledek Aditya setengah tertawa.
"Kan aku masih bisa makan di rumah," jawab Quen.
"Ok, baru ingat kalau mama tidak izinin kamu sering makan di luar, ya?" ucap Aditya.
seiring berjalannya waktu, Quen mulai rilex bersama Adot, walau tak seperti biasanya, tapi, ini jauh lebih baik dari sebelumnya.
sesekali Aditya juga menggoda Quen dan menyuapi makanannya. bagaimana pun, ia tidak mampu melihat pujaan hatinya bermuram durja.
"Quen, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan sama kamu, makanya, aku memilih tempat ini untuk kita bicara kuharqp, kau tidak tersulut emosi, dengerin aku dulu, ya?" ucap Aditya dengan perlahan, begitu selesai makan.
Dari gelagat atau bahasa tubuh yang npak dari pasangannya itu, Quej sudah mampu menangkap dan memahamu apa kiranya yang akan Aditya bahas, berdasarkanbsifatnya yang gantle man, jelas ia pasti akan bahas soal mantan istrinya itu.
"Apa, Dit? bicara saja," ucap Quen pura-pura tenang. padhal sebenarnya dia sudah tidak sabar mendengarkan kalimat yang akan keluar dari mulut Aditya.
"Sebenarnya aku tidak perlu mengatakan ini padamu, tapi, jika aku terus menyembunyikannya aku aku juga salaj, jadi, aku harap kau bisa ngerti dan berjanjilah jangan marah, kita sudah sama-sama dewasa, jadi. aku mau terbuka saja dengan apa masalahku saat ini, karena sebentar lagi kau adalah istrinku," ucap Adit.
"Apa memang, Dit,? kau bilang saja ke intinya," ucap Quen mulai tegang. tiba-tiba saja ia merasa kawatir kalau Aditya akan membatalkan pernikahannya yang sudah disiapkan jauh hari sebelum hari H yang tinggal kurang sepuluh harian itu.
__ADS_1
Ok lanjut besok ya, author capeo dan pusing banget. seharian maksa buat Up 2x karna lama ga up. ini kepala dah berkunang2 aja.
sesuai janji ini Bang Al ya, gimana? ganteng, kan? pantes kan jadi anak papa Vano?π