
Dengan perlahan wanita itu menoleh ke belakang dan tersenyum. “Hay, Queen,” sapa wanita yang mengenakan baju terusan lengan panjan tersebut.
“Astaga, Bella! Kau kah itu? apa kabar kau?” tanya Queen sambil berjalan cepat ke arah wanita tersebut dan berpelukan melepas rindu
setelah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu. Bella adalah salah satu sahabatnya di masa SMA-nya dulu. Di SMA dulu, kemanapun Queen pergi, pasti ada Shinta dan Bella. Tapi, setelah lulus SMA dia los contack dan setelah bertahun-tahun lamanya
dia kembali membawa kejutan dan pake acara ngeprank segala.
“Kabarku seperti yang kau lihat sekarang. Aku baik-baik
saja, Queen. Maaf sudah lama menghilang. Tak ada di saat kau jatuh dan terpuruk. Aku turut berduka atas kematian papa dan mama kamu, ya?” ucap Bella setelah keduanya berpelukan.
“Kau ke mana saja selama ini?”
“Ceritanya panjang. Yang penting aku dah lihat kamu
baik-baik saja cukup, jawab Bella.
Keduanyapun saling berbicang. Dari obrolan itu, barulah
Queen tahu. Bagaimana Bella tahu semua mengenai dirinya. Ternyata tahu dari Shinta.
“Jadi, selama ini kau di mana sebenarnya, Bell? Bagaimana
bisa tidak ada satu pun media social kamu yang tidak aktif?” tanya Queen sekali
lagi karena penasaran.
“Selama ini aku berada di Brunei, Queen. Di sana aku menikah
dengan seorang pria kaya. Ya, walaupun dia bukanlah pangeran atau putra raja. Tapi, kehidupan dalam keluarganya tak kalah dengan kehidupan di istana.peraturannya sangat ketat. Gak boleh bermedsos lah, keluar jika bukan karena ada urusan penting dan sakral juga tidak bisa sembarangan. Tapi, dari situ aku
sadar kalau harta bukanlah segalanya. Yang kuinginkan adalah kebebasan. Walau semua sudah tercukupi, apa yang kumau juga bisa kudapatkan, aku seperti hidup
di dalam penjara saja bertahun-tahun. Akhirnya aku memutuskan untuk bercerai.
Sulit memang. Karena mantan suamiku tidak terima itu. sampai tiga tahun proses
baru semua itu kelar, Queen. Sekali lagi, maafkan aku, ya yang tidak ada di
kala kau jatuh dan butuh,” ucap Bella lagi
“Sudahlah. Aku tidak apa-apa. Sekarang semua juga sudah
berjalan normal, bukan?” ucap Queen lagi. Dia asik berbincang sampai melupakan apapun. Saking rindunya mungkin. Terakhir ada komuniasi dan bertemu juga saat pernikahannya dengan Alex dulu. Itupun ia juga datang sebagai tamu undangan saja. Tidak lebih.
***
Seorang bocah kecil berambut lurus menghentakkan kakinya
saat sebuah mobil al-phard hitam berhenti di depannya saat sekolahan sudah
hampir sepi.
“Kenapa sih om Dedi jemputnya lama?” batin bocah itu.
“Non Berlyn, maafkan saya telat. Saya pikir yang akan jemput
Nona tadi adalah Nyonya Queen sendiri,” ucap pria seumuran dengan papanya itu.
tapi, Berlyn yang terlanjur marah dia tidak mau masuk ke dalam mobil tersebut.
Ia malah masuk ke sebuah mobil Avanza warna hitam yang baru saja sampai.
Rupanya gadis kecil itu sudah lama menunggu, sampai-sampai ia memesan taxi
online.
“Non, mau ke mana? Saya sudah datang ini jangan naik mobil
orang lain,” cegah Dedi sambil memegang lengan gadis kecil berusia enam tahun
itu.
Tapi, respon Berlyn sangat di luar dugaan. Dihempaskannya
tangan Dedi dari lengannya dengan kasar dan melotot ke arahnya dengan sorot mata
tajamnya menunjukkan kemarahannya.
“Non, saya tahu saya terlambat. Mohon dimaafkan,” ucap Dedi
lagi. Tapi, gadis kecil tersebut tidak mau tahu dan terus masuk ke dalam mobil
avaza tersebut dan berkata dengan tegas pada sopir taxi online tersebut, “cepat
pak. Jangan sampai orang itu mengikuti kita.”
“Baik, Dek. Ke klinik Permata Bunda, kan kita?”
“Ya,” jawabnya. Lalu kemudian bocah itu mengeluarkan
ponselnya dari dalam tas, dan bermain entah apa. Tapi, wajahnya terlihat cukup serius juga.
Sementara Dedi hanya geleng-geleng kepala saja melihat
bagaimana sikap Berlyn, putri dari majikannya.
‘Hah, anak jaman sekarang gitu amat, ya? serba canggih.
Keknya pak dan emaknya gak gitu amat. Bagaimana dia bisa seperti itu? telat juga cuma kali ini saja. Tapi, sudah tak dimaafkan. Di balik kelembutan non Berlyn ternyata kalau marah persis bapaknya,’ umpat Dedi dalam hati. Kemudian pria itu mengemudikan mobilnya menuju ke rumah. Sebab, ia berfikir kalau Berlyn akan pulang kerumah dengan mengendarai taxi online yang dia pesan tadi.
Dua puluh menit menempuh perjalana dari sekolahannya Berlyn
yang ternyata adalah Clarissa itu tiba di klinik. Gadis itu melihat seorang
wanita duduk lemah bersandar pada pagar klinik mamanya. Awalnya gadis itu
merasa iba. Dengan pelan dihampirinya wanita itu. dia juga sudah mengeluarkan
sebuah coklat dan botol berisi air minum dari dalam tasnya untuk di berikan
pada wanita tersebut.
‘Kasian sekali, pasti dia belum makan. Apakah dia seorang
gelandangan?’ batin gadis kecil itu dan terus melangkah, dan Ketika jaraknya
hanya beberapa cm saja, diulurkannya coklat dan botol minumnya pada wanita itu sambil tersenyum tanpa sepatah kata pun.
Mulanya wanita itu hanya diam. Tak langsung merespon, dengan
mata sayu dan lemah dipandangnya gadis kecil yang berbelas kasihan padanya itu.
“Kau, putrinya Queen, bukan?” tanya wanita itu dengan sorot
mata yang sudah berbeda.
“Iya, kenapa? Kau kenal mamaku?”
Wanita itu tidak menjawab, ia justru menguatkan diri berdiri
dan mencekik gadis kecil itu yang ternyata adalah Clarissa.
“Ibumu merampas banyak hal dariku, kau harus mati!” pekik Lyli.
“Kau ini gila apa? Kau ini siapa? Oh, aku ingat. Kau yang
tempo hari hampir menabrakku di zebracross itu, kan?” ucap Clarissa
terbata-bata, sambil kedua tanggan berusaha melepaskan cekikkan kedua tangan
Lyli pada lehernya.
“Ya, benar! Dan aku bisa jadi seperti ini gara-gara mamamu,
harusnya kutabrak saja kau sampai mati. Aku biarkan kau dan turun untuk meminta maaf karena kala itu aku tidak tahu kalau kau anak Al dan Queen aku benci mereka dan juga kau!” teriak Lyli. Membuat banyak orang yang tidak sedang memperhatikan ke arah mereka jadi melihat dan berusaha melerai.
“Ada anak kecil dicekik sama orang gila di depan klinik!”
teriak seseorang, dan diikuti oleh orang-orang yang lain sehingga suara itu sampai terdengar hingga dalam klinik. Termasuk Queen dan Bella yang asik mengobrol pun juga turut keluar melihat apa yang terjadi.
“Ya Allah, Berlyn!” teriak Queen saat ia berhasil menembus
kerumunan orang-orang yang mengelilingi gadis kecil itu yang sudah nampak lemas.
“Ini di depan klinik! Kenapa kalian semua hanya diam saja
tidak segera membawanya ke sana? Kalau sampai dia mati bagaimana?” teriak Queen
pada orang-orang yang ada di sana. Sebab, ia melihat putrinya sudah sangat lemas dan di lehernya sudah membekas biru.
Sementara sebagian orang, yang kebanyakan laki-laki dia
menghajar Lyli.
Queen sempat melihat, Lyli di hajar. Beberapa perawat
mengambil tabung oksigen dan alatnya keluar. Jadi, Clarisa yang disangka adalah Berlyn segera mendapat penanganan di luar.
__ADS_1
Tak lama kemudian sebuah ambulan putih mengusung Lyli.
Ternyata, itu adalah ,mobil ambulan dari salah satu rumah sakit jiwa yang ada di Jakarta. Dua orang pria berseragam serba putih dengan cekatan membawa Lyli
dengan paksa masuk ke dalam mobil tersebut.
Karena putrinya sudah mendapatkan pertolongan dan napasnya
juga sudah mulai stabil, Queen menghampiri Lyli dan berkata. “Aku tidak habis pikir sama kamu, Lyli. Tak puas kau menghancurkan keluargaku, sekarang kau malah mencoba membunuh anakku. Apa salahku padamu sebenarnya?”
“Aku benci sama kamu. Sekalipun aku mati dan hidup kembali
sampai tujuh kali, aku juga akan tetap membencimu, Queen!” teriak Lyli sambil terus berusaha berontak.
“Ibu Queen. Maafkan saya. Dulu saya kira dia sudah waras.
Jadi, saya ambil dia dari rumah sakit jiwa dan saya beri fasilitas layaknya pembantu rumah tangga di rumah saya. Tapi, benar kata orang. Banyak orang gila itu berlagak waras. Dia itu pembantu tapi, merasa dirinya boss,” ucap pak Darto pyang tiba-tiba muncul di depan Queen.
Queen yang sudah gelap hati melihat putrinya sampai menjadi
korban seperti itu, ia lantas marah dan tidak terima pada pak tua itu.
“Saya tidak mau tahu. Dia sudah merugikan saya, dia yang
membunuh papa mama saya, dia juga yang membuat papa mama dan kakek saya kecelakaan parah, dan sekarang, dia mencoba untuk bunuh saya. Saya tidak terima ini! Saya ingin, anda yang bertanggung jawab karena anda yang waras dan bosnya dia.”
“Saya yang akan urus untuk anda. Anda mau dia bagaimana?”
tanya pak tua itu dengan kesungguhan.
“Terserah!” ucap Queen dengan kasar lalu pergi meninggalkan
kakek Sugiono kw dan beberapa orang yang berkerumun di sana sambil menghapus air matanya di pipi dengan kasar.
“Queen, sabar, ya? dia itu siapa? Kenapa bisa sedendam itu
padamu?”
“Apakah Shinta tidak crita sama kamu?” jawab Queen berusaha
menutupi air matanya di hadapan Bella.
“Siapa dia?” tanya Bella dengan suara yang kian lirih.
“Dia Lyli. Mantan pembantu di rumah mama dulu.”
“Dia masih menyukai kak Al?”
“ya, begitulah. Aku juga tidak mengerti dia.”
“kenapa tidak kau bawa ke jalur meja hijau saja, Queen?
Sudah criminal ini!”
“Tidak. Biarkan dia menemukan karmanya sendiri,” ucap Queen
sambil memalingkan sedikit mukanya dari Bella. Bagaimana pun, ia tidak boleh kelepasan apa yang alasan sebenarnya kenapa dia tidak mau memenjarakan Lyli. Karena, jika sampai ia melapor, sama saja, ia juga menggali kan lubang kuburan untuk suaminya.
***
Sementara Lyli, ia dibawa oleh pak Darto ke suatu tempat.
Kembali dia dimasukkan ke rumah sakit jiwa dan di pasung. Dia perlakukan
seolah-olah dia benar-benar orang gila yang mengamuk. Padahal kejiwaan Lyli
yang sebenarnya tidak mengalami masalah apapun. Trauma dengan kejadian tujuh
tahun silam yang dilakukan oleh Al padanya juga sudah tak menjadikan momok bagi dirinya. Karena berawal dari hal itu pula, dia kini bisa menjadi wanita simpanan orang kaya. Meskipun pada akhirnya dibuang dengan bekal cambukan entah berapa kali karena kesahalannya sendiri. Dia memang terlalu ceroboh dan gegabah.
“Kau sudah tahu, kan kalau berani main-mai denganku? Jangan
kau anggap remeh aku,” ucap pak Darto berdiri dengan sombongnya pada Lyli yang kini tertunduk lemah sambil memeluk lututnya sendiri.
Setelah itu,pria itu pun pergi. Karena ini masih area rumah sakit jiwa. Jadi, dia tidak akan khawatir kalau Lyli akan kabur. terlebih wanita itu kini dimasukkan ke dalam ruang isolasi.
Sementara di tempat lain Karin dan Bondan tengah bersantai di
rumah yang dulu Lyli tempati. Karena kebetulan tidak ada tugas kusus dari boss
mereka yang masih sibuk mengunjungi beberapa rumah sakit jiwa yang ada di
Jakarta.
“Bondan, aku mau nanya serius sama kamu, tuh. Emang apa yang
dikatakan Lyli itu benar, ya?” tanya Karin dengan pelan dan sangat
“Lalu menurutmu benar apa tidak?” tanya Bondan malah balik
bertanya pada Karin dan memandang dengan tatapan enggan.
“Ya mana aku tahu. Jika aku tahu, ngapain aku harus bertanya
sama kamu.”
“Kamu pikirkan saja sendiri. Kalau emang ada dia yang bisa
ditunggangi secara gratis, nagapain aku harus cari cinta satu malam di bar?
Buang-buang duit gak sih?”
Bondan tetap mempertahankan rahasianya. sekalipun dia tahu kalau Karin paling bisa dipercaya. Itu saat ini. Untuk kedepannya bagaimana, tidak ada yang tahu. Jadi, dalam hal seperti ini akan tetap lebih baik jika percaya pada diri sendiri. Bukan pada orang lain.
“Iya juga sih. Keknya juga gak mungkin jika sudah bersama
Lyli cari yang lain. Selain kamu gak mau buang banyak duit, juga keknya tu
bocah Hyper juga, kan si bos datang seminghu sekali, walau dalam semalam lima kali dia mampu keknya,” timpal Karin lagi. Kemudian menyeruput secangkir kopi yang
sudah sejak setengah jam tadi disajikan.
“Lagian, mau sama dia sama dengan cari mati. Gali kuburan
sendiri pula kalau ketahuan. Eh, emang benar ya yang dikatakan istrinya pak Al
dia itu alumni rumah sakit jiwa, Rin?” tanya Bondan tiba-tiba saja keponya
akut.
“Benar. Aku yang menjemputnya mengaku sebagai familynya dan
menebus utang perawatannya sebanyak tiga ratus jutaan kalau tidak salah.”
Bondan diam dan nampak berfikir. Dalam raut wajahnya yang
tenang terbesit sedikit keterkejutan.
“Kenapa? Kau pasti berfikir bagaimana boss mau dengan orang
gila sepertinya, kan?” tanya Karin sambil tertawa tertahan.
“Ya, kenapa emang. Bagaimana bisa beliau mau?” tanya Bondan. Padahal, ia sudah bisa menerka apa jawabannya. apa lagi kalau bukan Servis yang wanita itu berikan? orang faktanya dia sendiri juga sudah berkali-kali merasakan dan dibuat merem melek oleh Lyli.
“Aku juga tidak tahu. Aku diminta mengaku sebagai keluarga
wanita itu dan menebus lalu mengajaknya ke rumah. Kukira dia mau jadi apa. Aku
juga kaget saat ternyata wanita itu dijadikan wanita piaraan oleh boss. Padahal selama ini dia tidak kekurangan wanita cantik yang berkelas dan waras.”
“Biar jadi misteri saja buat kita. Alasan pastinya, cukup si
bos dan tuhan saja yang tahu,” jawab Bondan.
Mereka memang terlihat dingin, kaku dan bahkan garang saat
bertugas. Tapi, di jam-jam santai seperti ini, bisa luwes juga dan saling
bercanda. Ada saja yang diobrolkan oleh mereka yang membuat keduanya tertawa. Agar saraf tidak tegang.
****
Begitu menerima telfon dari istrinya dan mendengar kabar atas
apa yang menimpa Berlyn, Al segera meninggalkan kantor dan menyerahkan
urusannya pada Juna. Sebab, kurang lebih tiga puluh menit lagi seorang clien
yang akan mengajak bekerja sama sudah akan tiba. Tapi, bagaimana pun, bahi Al tender yang nilainya milyaran juga tak ada apa-apanya jika dibandingkan anak dan
keluarganya.
Tiba di klinik ia langsung memarikkan asal mobilnya dan
segera berlari ke dalam untuk bisa melihat putrinya. Sesampainya di ruang
rawat, ia melihat Queen tengah memberikan minum pada Berlyn putrinya.
“Sayang, bagaimana keadaan Brerlyn sekarang?” tanya Al
__ADS_1
dengan napas yang terengah-engah karena baru saja berlari.
“Dia sudah tidak apa-apa, Al. dia juga sudah sadar. Cuma
bekas cekikan di lehernya masih membiru,’’ jawab Queen.
Dengan segera Al menghampiri putrinya dan mengelus
keningnya. Al benar-benar marah saat mendapati bekas cekikkan itu. tangannya
mengepal keras menahan emosi.
“Bagaimana bisa sampai seperti ini, Sayang?” tanya Al pada putrinya.
“Clarissa hanya diam. Sebab, ia tidak begitu menguasai
Bahasa isyarat selain yang penting-penting saja. Mau bicara juga tidak mungkin. Sebab, jika sampai ia berbicara dan menjelaskan bagaimana kronologinya, akan ketahuan jika yang ikut
papanya kala itu adalah dia, dan yang tinggal di Singapura bersama amanya
adalah Berlyn. Dia sendiri memang sengaja dan sudah berembuk dengan ama dan kembarannya. Sengaja bertukar agar dia bisa melacak siapa sebenarnya dalang dibalik pembangunan kakek dan juga neneknya. Entah, dia hanya ingin tahu saja, atau ingin melakukan sesuatu, tidak ada yang tahu.
Clarissa membuang pandangan dari Al mengisyaratkan kalau ia
enggan berbicara.
“Sudah biarkan saja dulu dia, Al. mungkin dia masih sedikit
trauma,” ucap Queen pada Al.
‘Trauma apaan? Aku sudah menemukan tentang Lyli dari data
yang ku kumpulkan di leptop memarin. Dia suka sama papa makanya gila begitu. Ah, papaku memang ganteng. Banyak banget wanita yang suka padanya,’ batin Clarissa.
“Queen. Clarissa tadi ke sini sama siapa? Bagaimana bisa
sampai kecolongan?” tanya Al penasaran.
“Iya, ya Al. bagaimana bisa aku tidak kepikiran sampai
situ,” ucap Queen dan menatap putrinya yang masih berseragam lengkap.
‘Duh, mati aku. Mungkin ini aku kualat sama om Dedi pakek
acara marah-marah segala,’ umpat Clarissa dalam hati.
“Aku telfon Dedi dulu dan kutanyakan padanya,” jawab Al
Setelah sepuluh menit, Al kembali dan mengatakan apa yang
Dedi katakan. Ia tidak bisa menyalahkan Dedi sepenuhnya. Sekalipun dia
menjemputnya sedikit terlambat, setidaknya masih melihat Clarissa di sana. Soal taxi online yang sudah terlanjur Clarissa pesan juga bisa dicansel dan tetap
membayar. Tapi, ia juga tidak tahu, bagaimana putrinya yang biasa sangat lembut dan sabar bisa berubah 180 drajat begitu.
“Ya sudah, semua sudah terlanjur. Lain kali, Berlyn lebih
lah hati-hati, ya? nurut pada yang lebih tua, jangan semaunya sendiri,” ucap
Queen dengan lembut.
“Sayang, dia sudah tidak apa-apa, kan? Kenapa tidak dibawa
pulang saja?” tanya Al yang rupanya sudah lelah berdiri.
“Oh, iya. Berlyn. Kita kembali ke rumah ya? papa juga akan
nemanin kamu dulu hari ini,” ucap Queen. Karena putrinya tadi hanya butuh bantuan oksigen saja dan sekarang juga sudah dilepas karena sudah bisa bernapas
dengan normal.
“Hari ini papa tidak akan kembali ke kantor lagi. Papa dan
mama akan nemani kamu, oke?” ucap Al pada putrinya.
Sesampai rumah, Al dan Queen menemani Berlyn dan
menyuapinya. Setelah itu, mereka bergantian membacakan cerita dongeng sampai putrinya terlelap.
“Bagaimana bisa Lyli ada di klinik kamu? Memang, selama ini
dia tahu dari mana kalau dia adalah Berlyn putri kita?” tanya Al pada istrinya
Ketika sudah berada di luar kamar putrinya.
“Aku juga tidak tahu. Pertama datang sepertinya aku juga
sudah liat dia, Al. hanya saja aku tidak sadar kalau dia itu adalah Lyli. Dia
duduk lemas bersandar pada pagar yang tidak jauh dari gerbang. Awalnya aku ingin menghampiri dan melihatnya. Tapi, aku malah kena prank duluan.”
“Bella ngerjain kamu ya? Minta pada perawat yang bekerja di
sana mengatakan padamu kalau ada pasien darurat dan tak ada dokter?” tanya Al sambil menatap teduh pada istrinya.
“Iya, kamu kok bisa tahu, Sih?” tanya Queen.
“Kan Vico crita sama aku.”
“Dasar, suka ngrumpi,” ledek Queen.
Sebuah panggilan menderingkan ponsel Al. ternyata itu adalah
pak Darto. Al sebenarnya sudah tahu, apa yang akan si tua itu sampaikan
padanya, hanya saja, dia tetap pura-pura tidak tahu, terus mengikuti arus
permainan yang pak tua itu ciptakan agar Lyli mendapat balasan yang bisa
diketahui secara langsung oleh istrinya yang pasti sakit hati sekali dengan
wanita itu, atas apa yang sudah dilakukannya.
“Halo, pak, ada apa?” tanya Al dan dengan sengaja dia
melouspeker panggilannya.
“Anda berada di mana sekarang, Pak?” jawab suara lelaki dari
seberang sana.
“Saya berada di rumah bersama istri saya. Ada apa, Pak?”
tanya Al memberi kode pada salah satu anak buah elitnya yang setia padanya,
sekalipun ia sudah lama menghilang dan tak menampakkan diri.
“Begini, saya kabarkan, saya sudah membawa Lyli yang
mencekik putra anda di rumah sakit jiwa. Dia dimasukkan ke ruang isolasi dan dipasung kakinya karena terus mengamuk. Apakah anda ingin melihatnya?”
“Sebentar, saya tanyakan pada istri saya dulu. Dia ingin
melihatnya apa tidak. Nanti saya kabari lagi. Terimakasih atas tindakannya,
Pak,” ucap Al kemudian mematikan panggilannya.
“Lyli sekarang sudah berada di rumah sakit jiwa. Kamu mau
lihat?” ucap Al pada Queen. Tapi, dalam hati, ia bergumam, jika Queen
melihatnya, itu adalah yang terakhir kalinya. Jika tidak, ya yang tadi itu.
“Boleh. Aku ingin melihat seperti apa dia. Dia itu benar-benar gila, atau hanya dendam saja.”
Keduanya pun bersiap, menitipkan putri mereka yang baru saja
tidur pada bibi dan juga Dedi.
“Kamu kok diam saja, ada apa?” tanya Al pada Queen yang
tampak melamun saat di dalam mobil.
“Tidak ada apa-apa. Heran saja. Kapan hari dia muncul
sebagai orang kaya. Tapi, sekarang malah muncul jadi gelandangan. Pak Darto bilang dia dijadikan pembantu di rumahnya Ketika sudah keluar dari rumah sakit
jiwa. Sepertinya aneh. Setidak tahu-tidak tahu dirinya seorang pembantu keknya
gak mungkin sampai kayak gitu,” jawab Queen.
“Lalu, apa yang ada dalam pikiranmu?”
“Dia bukan pembantu. Tapi simpanannya pak tua itu. mungkin
saja berkata demikian terlalu malu untuk mengakui,” ucap Queen lagi. Seketika
Al pun tertawa. Ia berencana menceritakan semuanya pada istrinya nanti setelah
__ADS_1
kembali ke rumah sakit jiwa.