
Setelah beberapa kali melakukan relaksai pikiran dengan
menghirup napas dalam-dalam, menahannya beberapa detik dan mengeluarkannya dari
mulut perlahan, wanita itu membuka matanya dan berkata pada dirinya sendiri,
“Hidupku sangat indah. Tidak apa-apa bercerai dan tak ada satupun dari dua
anakku yang ikut bersamaku, tidak masalah. Aku bisa menikmati masa tuaku dengan
mengembangkan bisniskusendiri.”
Kemudian, wanita itu memutar badannya dari jendela dan mulai
menata barang-barang keperluan dapur dan keperluan rumah lainnya yang baru saja ia beli ke tempatnya
masing-masing. Tiba-tiba ia terngiang lagi suara peramal cina itu. Awalnya ia
menangkis kalau dua putranya akan baik-baik saja bersama papanya. Bahkan anak
keduanya yang dulu mengalami kelainan hati juga sudah menerima cangkokkan hati.
Tapi, kenapa, ramalan itu sangat kuat sekali pengaruhnya.
“Degh!” Tiba-tiba saja dadanya merasa sakit. Bersamaan
dengan itu barulah ia teringat sebuah nama yang harusnya tak boleh dia lupakan.
“Al… Ya ampun, Al. Mami selama ini telah melupakanmu.
Maafkan mami, nak. Selama dua tahun ini mami banyak masalah yang menguras tenaga, pikiran
dan seluruh harta benda yang mami miliki, jadi sampai tak sempat ingat dirimu, Nak… “ keluh Jeslyn dalam hati.
Memang dalam dua taun belakangan ini Jeslyn mengalami badai
cobaan yang sangat berat dalam hidupnya. Ia mendapati suaminya selingkuh. Tapi,
saat dirinya tidak terima, justru suami yang marah-marah dan menyita seluruh
harta benda warisan yang dia miliko dari kedua orang tuanya sendiri sampai ia benar-benar
miskin dan tak memiliki apapun. Beruntung, di Singapura dia sudah lama tinggal
di sini. Jadi, untuk membuat izin berwira usaha dia tak mengalami kendala. Untuk modal ia meminjam
beberapa S$(dolar singapura) pada seorang sahabat yang ia miliki, keduanya sudah lama bersahabat, dan akhirnya usahanya
pun mengalami peningkatan pesat. Bahkan apartemen ini juga baru dia beli baru
minggu-minggu ini. Dia sengaja mencari apartemen daerah Pasirys karena dia
ingin menjauh dari kehidupan mantan suami, dan dekat dengan sahabatanya.
Walaupun jauhnya tak seberapam Kalian pasti juga tahu,
seluas apa Singapura itu? Hanya butuh satu hari untuk mengelilingi negara ini, itu sudah sampai ke pelosok dan tempat terpencil. Namun, uniknya negara ini,
yang luasnya, mungkin juga tak seluas propinsi jawab Timur saja, di sini masih ada hutan yang
asri dan terdabat beberapa satwa di dalamnya.
Misal, Sungai Buloh. Yang kulturnya sama seperti di
Kalimantan dan Malaysia. Tipe hutannya rindang, juga terdapat sungai mengalir
di dalamnya.
Southern Ridges. Hutan keren yang dibangun dengan apik
karena menyatu dengan perkotaan yang dapat dilihat dari jalan setapak yang
mulus dan di lengkapi fasilitas umum lainnya. Di sana juga
terdapat mount faber yang berada di ketinggian. Uniknya lagi, kita bisa
menempuhnya dengan naik bis, dan sampai sana, kita bisa menikmati sunset dan
bersantai di Altivo dan Glass Bar.
Serta masih ada hutan-hutan lain dan berbagai kejutan di
dalamnya, seperti Bukit Timah, Botanical Garden dan lain-lain.
Jeslyn segera berlari ke kamarnya, ia membuka salah satu
laci, mengambil buku rincian modal usahanya yang baru berkembang sekitar satu
tahun ini, memilah mana uang untuk membesarkan perusahaan dan uang pribadi dari
laba yang di dapat. Merasa budget cukup, ia berniat datang ke Indosnesia untuk
menjenguk Al, putra kandungya yang diadopsi oleh pasangan Vanon dan Clara.
Wanita itu tersenyum begitu melihat tabungannya sudah lebih
dari cukup untuk bisa pergi ke Indonesia. Ia yakin, yang dimaksut peramal cinta
tadi itu adalah putranya Al.
“Apakah istrimu Nayla sedang hamil, Al? Jika kau mimiliki dua anak kelak, biarkan mami yang mengasuh salah satu dari mereka. Batinnya sambil memandang foto putranya yang tersisa.
Begitulah seorang ibu, sejauh apapun dengan anak rasa sayang
tetap ada dan melekat. Jika susah tidak mau mencari anaknya dengan dalih tak ingin merepotkan. Tapi, jika kesuksesan sudah diraih, walau ke ujung dunia pun ia pasti akan mencari.
Jeslyn yang mulanya hendak masak untuk makan siang pun
urung. Ia pergi ke rumah sahabatya yang meminjaminya uang untuk memulai usaha
sekitar satu setengah tahun lalu, guna meminta tolong mengurus perusahaannya.
Selama dia ada keperluan di Indosnesia.
Sahabatnya Jeslyn adalah orang India yang juga sudah lama menetap
di sini. Dia bahkan juga kelahiran Singapura. Berawal dari kakek dan neneknya
yang mulanya merantau dan pindah ke warga negaraan. Di Singapura memang terkenal dari tiga suku penduduk. Melayu, Cina dan india. Jadi, ada banyak
Bahasa di sini. Orang cina saja ada yang memakai Bahasa Mandarin, Hokian, Cantoneses, dan juga Thai. Jadi, Bahasa nasionalnya, adalah Bahasa ingris.
Di sana Jeslyn bercerita mengenai masa lalunya yang
diam-diam mmebawa putranya ke Indonesia dan menaruhnya di depan pagar sebuah
panti asuhan sampai ia bertemu, kalau anaknya sudah dewasa dan jadi orang hebat
di sana, karena diadopsi oleh keluarga berada dan baik tentunya. Jika tidak
baik, tidak mungkin Al putranya akan memiliki fasilitas yang setara dengan anak kandung mereka.
“Oh, my good. I thought two years ago it was your dark and
bad time, Jeslyn. Turn out yau have a lot of sadness.”
(Ya tuhan, kukira dua tahun silam itu adalah masa kelam dan
keterpurukanmu, Jes. Ternyata kau banyak mengalami kesedihan.) Seketika wanita bernama Zuya itu langsung memeluk sahabatnya yang sudah mulai berisi.
__ADS_1
Sebelumnya, dia sangat kurus dan seperti tinggal tulang saja.
“Yes that’s it, Zuya. Which mother can see her child sick?
Let aline kill him for the healing of his other children? So I cant’t bear to
do that. I was a women who was cruel and didn’t deserve to be called mother.”
(Begitulah Zuya. Ibu mana yang tega melihat anaknya sakit?
Apalagi membunuh anaknya yang lain untuk kesembuhan anaknya yang sakit. Jadi, tega gak tega, aku melakukan itu. Aku adalah wanita kejam yang tak pantas
dipanggil ibu.)
Seketika, air mata yang sudah sedari tadi ia bendung pun
akhirnya tumpah juga. Mengalir deras membasahi kedua pipinya.
“No, nobody blames you. Whoever the mother is in this world
if she in that position, will surely do the same thing, Jes. Already, don’t
cry.whaen do yo to plan to go?”
(Tidak, tidak ada
yang menyalahkanmu. Siapapun ibu di dunia ini jika ada dalam posisi itu pasti akan melakukan hal yang sama, Jes. Sudah, jangan nangis. Kau kapan rencana akan pergi?)
“The sooner the better. How about tomorrow?”
(Lebih cepat lebih baik. Bagaimana jika esok?)
Zuya hanya mengangguk, dan meminta sahabatnya untuk segera
pergi menemui putranya.
“Do you already have a passport? If you already have, why
not just order tickets? Who knows there are still tickets for flight today?
Even if it gets late at night, it’s okay, right?”
(Apakah kau sudah memiliki passport? Jika memang kau sudah
memiliki, kenapa tidak langsung pesan tiket saja? Siapa tahu masih ada tiket untuk penerbangan hari ini, kalau pun tiba malam apakah masalah?)
Jeslyn hanya menggelengkan kepanya perlahan. Kemudian ia
berpamitan pada Zuya, dan menitipkan perusahaan serta anak buhanya. Ia juga
menyeraahkan buku note berisi nomor-nomor Indonesia tempat ia biasa memesan berbagai jenis seafood.
Setelah mempacking segala keperluan pribadinya, Jeslyn
langsung memesan taxi menuju Changi airpot, satu-satunya bandara yang ada di Singapura.
Dua jam perjalanan di udara, Jeslyn pun sudah landas di
bandara soekarno hatta. Karena sudah malam, wanita itu memutuskan untuk
menginap di sebuah hotel. Beruntung dia masih ingat jalan dan alamat daerah
sini. Ia hanya berharap semoga alamatnya tetap. Walau Cuma dua tahun, tapi
tanpa komunikasi, pasti sedikit banyak akan ada perbuhan. Untuk menelfon dia sudah tak lagi memiliki normor talfon putranya dan juga orang tua yang mengadopsi Al.
*****
Pagi itu, Novita tengah berjemur bersama bayinya. Sementara
Axel, dia sudah berangkat ke sekolah sejak pukul enam lewat tiga puluh menit tadi.
bercanda, dan memanggil manggil putranya yang di beri nama Adriel.
“Nov, air hangat untuk mandinya Adriel sudah siap. Sini,
biar mama yang memandikannya,” ujar Livia kepada menantunya.
“Oh, iya, Ma. Terimakasih, ya Ma. Harusnya mama itu
beristirahat dan hanya menimang cucu saja bukan mengurusi semua keperlan dia,”
jawab Novita, sedih.
“Sudahlah, mama masih sehat. Kenapa kalau ini tugas dan
tanggung jawabmu? Dia juga cucu mama dan mama berhak untuk ini.”
“Aku merasa tidak enak sama mama. Mama sudah dari dulu
ngurus Axel, sekarang Adriel.”
Sudah, kau segeralah sarapan, jangan sampai cucu mama
kekurangan asi,’ tukas Livia lalu membawa cucunya untuk dimandikan.
Novita pun mulai sarapan dan kemudian ia membersihkan kamar
dan juga box bayi Adriel, agar setelah mandi ia bisa tidur dengan nyaman.
Sekitar pukul Sembilan dan bayinya sudah tidur, Novita
bersantai di ruang keluarga bersama ibunya. Keduanya bercengkrama, dan
menceritakan apapun yang bisa diceritakan dan membuat keduanya sama-sama
tertawa.
“Ting tong!”
Keduanya diam saat mendengar
suara bel berbunyi, siapa? Pikir mereka.
“Biar Novi saja yang membukakan
pintunya, Ma.” Wanita itu pun langsung beranjak ke depan. Begitu pintu terbuka,
ternyata Al dan Queen yang datang untuk menengok bayinya.
Novi memeluk Queen dan saling
cium pipi kanan dan kiri, kemudian memepersilahkan keduanya untuk masuk dan
mengobrol. Sementara Al, yang membawa dua tas kresek besar berisi kado
untuk bayinya Novi. Ia meletakkannya di datas kursi ruang tamu.
“Siapa yang datang, Nov?” sahut
Livia dari dalam.
“Al sama Queen, Ma.”
Mendengar suara wanita itu dari
dalam, Al sedikit merasa tidak enak. Bagaimana pun putranya terbunuh juga
karenanya. Tapi, berkat dorongan dan semangat yang Queen berikan saat mereka
__ADS_1
hendak berangkat dan selama di perjalanan. Ia masih bisa bersikap tenang.
Membunuh orang memang sudah biasa baginya. Tapi, sekalipun ia tak pernah membayangkan akan bertemu dengan ibu dari orang yang dibunuhnya. Pasti itu akan
sangat sakit.
“Oh, mereka? Suruh masuk, Nov.
Sebentar, biar kuambil Adriel dan kubawa dia ke sana,” timpalnya lagi.
“Kalian kenapa repot-repot bawa
hadiah sebanyak ini?” ucap Novita pada Al dan Queen. Bahkan sedikitpun tak ada
garis kesedihan pada wajahnya, karena melahirkan anak tanpa seorang suami.
“Ah, tidak repot kok. Karena aku
tahu bayinya lucu, jadi aku tahu mana yang pantas untuknya atau tidak,” jawab Queen dan dua wanita itu pun sama-sama tertawa.
“Kalian tunggu di sini dulu, ya?
Aku ambilkan minum untuk kalian berdua.” Wanita itu beranjak dan pergi menuju dapur.
Setelah Novita pergi, Queen
memperhatikan wajah Al yang jelas ia panik dan tak siap untuk bertemu dengan
tante Livia. Ia bisa melihat dari titik keringat seperti embun yang berbaris di kumis tipisnya dan juga keringat yang mulai mengalir pada kedua sisi pelipisnya.
Queen menunduk, mencari tangan Al
yang di letakkan di atas sofa sebelah dirinya. Ia pun langsung menggenggam erat
tangan itu, seraya berbisik, “Tidak akan terjadi apa-apa. Kau percayalah!”
Al hanya mengangguk patuh. Queen segera
melepaskan tangannya saat mendengar suara tante Livia hendak kemari, terdengar
ia berkata, ”Ada om Al dan tante Queen yang akan menjenguk cucu nenek, ayo kita
temui mereka, Adriel ga boleh nangis, ya?’’ Kedengarannya wanita itu juga sangat bahagia atas kelahiran cucunya yang kedua dari mendiang putranya.
Begitu wanita itu muncul di hadapan
mereka berdua, Livia juga bersikap wajar dan normal-normal saja. Mengganggap tidak
pernah ada masalah di masa silam. Hanya saja Al yang masih terlihat canggung saat
bertemu dengan wanita itu.
“Nak, Al tumben jam segini kemari
bukan di hari libur pula, apakah tidak ke kantor?” tanya Livia, mencoba
menghilangkan kecanggungan anak muda di depannya.
“Iya, Nanti saya ke kantor,
tante. Ke sini dulu menemani Queen. Dia hamil muda, saya takut akan terjadi sesuatu kalau bepergian sendiri.”
“Oh, ya? Selamat, ya? Sudah
berapa bulan?” Bahkan wanita itu menunjukkan rasa suka citanya mendengar kabar
tersebut.
“Baru dua bulan tante.”
“Ya semoga ibu dan anak sama-sama
sehat dan lahir dengan selamat. Nanti kalau sudah besar, bisa main dan sekolah
bareng sama Adriel, iya kan, Driel…”
Novita pun kembali dari dapur
dengan membawa nampan berisi satu toples kue kering dan dua gelas minuman coklat
hangat, kemudian menyajikan hidangan itu kepada tamunya. Lalu, mereka berempat
pun saling mengobrol.
***
Menyadari kalau dirinya bangun kesiangan, Jeslyn segera ke kamar mandi dan bersiap menuju ke kediaman Clara. Ia
tahu, jam segini, Al pasti sudah ada di kantor. Tapi, Clara dan Nayla tak
pernah pergi kemana-mana. Seingat dia begitu, dan semoga saja akan begitu.
Pukul Sembilan tiga puluh, ia
sudah tiba di sebuah rumah besar dan mewah. Di sana tertulis nomor rumah 39. Benar
ini adalah rumahnya.
Dengan langkah perlahan, namun
pasti, wanita itu pun memencet bel. Tak lama kemudian seorang pria dengan
pawakan kecil tinggi berkulit sawo matang datang membuka pagar. Melihat wanita asing, serta memiliki tampang bule, membuat pria itu bertanya dalam Bahasa ingris
dengan logat yang kaku ala-ala sunda. Membuat Jeslyn harus menahan tawa.
“Sorry, Miss. Who are you? And looking for who?”
(Maaf, nona. Anda siapa? Dan mencari
siapa?)
Dengan sangat jelas Jeslyn menjawab
pertanyaan pria itu dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Karena perutnya sudah
mulas mendengar logat yang baginya sangat lucu itu.
“Saya Jeslyn, dan mencari ibu
Clara. Dia adalah kerabat saya, apakah dia ada?”
Tidak langsung percaya, Dedi pun
terus menanyai wanita bule itu. Tidak ada niat untuk mempersulit, dia hanya
ingin lebih waspada saja. Karena, kebetulan di rumah hanya ada dia, nyonya nya dan juga bik Yul saja.
Jeslyn memahami itu, jadi. Dia
langsung memberikan kartu identitas dirinya pada pria itu dan memintanya agar menyerahkan pada Clara.
“Saya bukan orang jahat. Ini
berikan padanya, saya juga tahu, dia dan Vano memiliki dua anak, Al dan Queen. Keduanya sudah menikah, bukan?”
Akhirnya, Dedi pun menerima kartu
itu, mengunci kembali pagar dan membiarkan Jeslyn berada di luar sendirian.
__ADS_1
Dalam hati, Jeslyn memuji penjaga rumah yang sekarang. Dia sangat waspada, dan tidak gampang percaya sekalipun sudah memberika. Kartu identitas diri yang asli. Bahkan, sempat ia menyebutkan nama-nama tuan rumah masih saja tidak membuatnya puas.