Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 76


__ADS_3

"Tamparanmu bahkan masih sangat terasa sakit sampai sekarang, Al. Oh, iya. Memang ada apa ke New York?" tanya Vico penuh rasa curiga. Sebab, sejauh ini pengalamannya ikut Al ke luar negerti pasti ada hal buruk ayaj sesuatu yang tidak enak saja terjadi, jadi, dia akan lebih bsrhati-hati dan takut untuk bermimpi.


"Kita ke acara nikahan adikku, Quen." jawab Al singkat sambil membuka jendela mobil.


"Tunggu, maksutmu Quen?"


Al menjawab dengan anggukan sambil menghisab dalam-dalam rokoknya.


"Bukannya dia sudah nikah sebulan yang lalu? Kenapa nikah lagi dan itupun kok ya jauh banget New York."


"Orang tua suaminya ada di sana. Kemarin saat menikah suaminya tidak bilang pada orang tuanya selain kakaknya, jadi, mereka mengadakan pesta pula di sana," jawab Al sambil melempar asal puntung rokoknya di jalanan lalu menutup kaca mobilnya.


"Oh, kenapa cuma kamu yang datang, Al?" tanya Vico penasaran, sesekali menoleh ke arah sahabatnya lalu kembali fokus ke jalanan.


"Papa dan kakek Andrean sibuk, mama nemenin nenekku. Dan jika kakek Andreas turut serta, kan kawatir jika tidak ada laki-laki yang jaga mereka di rumah, ya, sebagai perwakilan dari mereka ya aku lah." Al memejamkan matanya sambil bersandar. Dia merasa pusing dan sangat mengantuk, karena beberapa hari ini disebukan dengan dua pekerjaan sekaligus, dan masalah dengan Nayla yang tak kunjung usai.


"Dih, lu bawa apaan di belakang itu, Al,?" tanya Vico saat tanpa sengaja matanya melihat beberapa bungkus kado di jog belakang.


"Itu? Titipan dari orang tua buat besan, biasalah."


"Kau kelihatan lelah sekali, Al. Emang berapa ronde semalam?" goda Vico sambil tertawa.


Al langsung membuka matanya dan memukul Vico sekenanya. "Berapa ronde palamu? Aku beberapa hari i i sibuk dengan kerjaan, mana di kontruksi papa juga bisnis di Jepang. Apanya yang berapa ronde?" jawab Al sambil kembali membetulkan posisinya.


Sementara Vico, dia malah terus tertawa cekikan mendapti ekspresi Al yang seperti itu.


"Emang udah berapa lama kamu gak melakukan itu? Lupa rasanya, kah? Hahaha. Lagian kenapa sih bini mu si Nayla itu marah-marah terus? kurang lama, apa pas kamu *** nama mama Clara yang kau teriakan?"


"Jangan sebut nama mamaku dengan mulutmu yang kotor itu, atau aku akan menotong lidahmu." Masih dalam keadaan terpejam dan tangan dilipat di depan dada Al berkata.


"Woah, kau ini cuma takut mama, ya? Coba kalah mama tak lebih dari sekedar mama atau ibu di hati, sepertinya kau akan menikmati sebagai ketua geng mafia, Al. Sudah sangat menyatu dalam dirimu rupanya."


"Sudah, cepatlah sedikit aku sudah sangat ngantuk," ucap Al.


"Baik, Tuan muda."


Tiba di privat jetnya, Al langsung meminta Vico untuk meminta sarapan pada koki yang sudah dipekerjakan di dalam pesawatnya, sementara dia sendiri menuju tempat tidur untk istirahat. Sebelum tidur dia menyempatkan untuk memvideo call adiknya yang tengah menunggu kedatangannya.


Cukup lama Quen mengankat panggilan darinya. Hingga ia mencoba untul yang keduakalinya gadis itu baru mengankatnya. Al tidak begitu mendengar kata-kata Quen, dia hanya menebaknya melalui gerakan bibir adiknya. Melihat situasi sekitar serta gaun yang dikenakan Quen. Rupanya ia tengah menghadiri sebuah pesta.


Akhirnya Al mematikan panggilannya dan memilih mengirimkan pesan chat sebelum pesawatnya terbang..


"Kakak bersama Vico akan ke New York hari ini, ini sudah berada di pesawat."


Tak lama kemudian ponsel Al bertenting balasan dari Quen telah masuk.


"Hati-hati ya kak. Maaf aku tadi tidak bisa mendengar suaramu dengan baik, di sini sangat bising karna ini adalah pesta ulang tahun mama mertuaku," Tulis Quen.


Al hanya tersenyuk dan mengalihkan ponselnya menjado mode penerbangan. Karna sebentar lagi sudah akan terbang. Ia juga sudah sangat mengantuk dan tak tahan lagi dengan matanya, lalu akhirnya ia pun terlelap. Sedangkan Vico ia menikmati sarapannya sambil membaca majalah kusus pria dewasa yang ada di ruang keluarga sambil menikmati secangkir kopi.


"Haaah, enak banget ya jadi Al itu. Baru usia barapa sudah jadi pembisnis besar, bisnis pesawat jet begini, huh... Benar-benar beruntung dia, terlahir ganteng pinter kaya... Hah, tapi sayang nikah dapat bini janda, hahaha." umpat Vico dalam hati sambil asik memanjakan matanya dengan pemandangan foto wanita yang berpose menantang dengan pakaian vulgar dannberani.


🍁 🍁 🍁

__ADS_1


Quen berjalan sambil menjijing gaunnya yang terlalu panjang mencari Alex. Setelah menengok ke sekuruh area pesta ia mendapatkan pria yang dicarinya juga memanggilnya dan memberi isyarat untuknya kesana.


"Kau dari mana saja, Sayang?" ucap Alex sangat mesra sambil mendekatkan wajahnya dengan wajah Quen.


"Kak Al barusan memvideo call aku, Lex. Dia sudah berada di privat jetnya."


"Oh, ya? Bagus, benar papa dan mama tak bisa ikut?"


"Iya, tapi dia bersama temannya kemari," jawab Quen.


Jawaban Quen membat Alex sedikit berfikir sebagai pria yang sudah menikah, kenapa harus bersama teman? Tidakkah dengan istri dan anaknya akan jauh lebih baik?


"Kukira dia bersama kak Nayla kemari," ucap Alex sambil meraih pinggang Quen menggandenganya mengajak berjalan bersdiri di depan panggung. Karna sebentar lagi acara potonf kue akan di mulai.


"Aku pikir juga begitu. Tapi, kakak kalau sudah memutuskan sesuatu mana bisa di ganggu gugat? Di tawar saja susah," ucap Quen sambil tertawa.


"Ayo kit kedepan, habis ini mama dan papa kan mengenalkanmu pada rekan juga saudaraku yang juga turug hadir di sini." kali Alex mendeng tangan kanan Quen sementara yang kiri masih digunakan untuk nenyincinkan baru, dan baru ia biarkan menyapu lantai saat kakinya tak lagi berpijak pada tanah.


"Oh, itu dia Quen. Quen sayang, kemarilah, Nak!" Seru mama Rita memanggilnya tiba-tiba saat ia asik mengobrol dengan orang berdarah USA yang sebaya dengan beliau.


Quen awalnya ragu-ragu, tapi, Alex mampu menumbuhkan rasa percaya dirinya akhirnya, dengan mantap serta langkahnya yang elegan ia berjalan ke arah mama mertuanya. Sambil menyapa semua dengan senyumannya yang hangat.


"this girl is Quen.  I have been married to my son Alex in one month in Indonesia.  and tomorrow we will have a wedding for them to come back, you guys come!" ("Gadi ini adalah Quen, dia sudah menikah dengan putraku Alex sebuoan yang lalu di Indonesia. Dan besok kami akan mengadakan pesta pernikahan kembali utntuk mereka, kalian hadirlah kemari,") ucap mama Rita dengan penuh kebahagiaan dan nampak bangga.


"wow, beautiful girl.  How lucky you are, Rita has a daughter-in-law this beautiful, as the name suggests, Quen,"("Wah, Gadis yang cantik, kau sangat beruntung Rita memiliki menantu secantik ini,") puji salah satu dari mereka dan di sertai anggukan dan tatapan kagum dari yang lain, dan hal itu sukses membuat Quen tersipu malu wajahnya memerah.


"Good noight Aunty," (Selamat malam Tante,") sapa Quen sambil tersenyum hangat pada kelima rekan mama mertunya itu.


"Quen, you look so young.  are you still in school?"(Quen, kau terlihat masih muda, apakah kau masiy bersekolah?" tanya salah satu dari mereka yang berambut hitam dan di biarkan tergerai lurus sebahu.


"Wow, hebat, dia pasti akan segera dinobatkan menjadi dokter termuda dan tercantik!" Seru mereka.


Quen hanya diam dan tersipu malu, di liriknya Alex yang tengah berkumpul dan mengobrol dengan pria yang juga sebaya dengannya. Quen hanya memandang, berharap Alex juga melihat ke arahnya lalu menghampirinya, ia merasa canggung bersama mertua dan teman-temannya. Tapi, rupanya Alex sangat merindukan teman dan juga saudara-saudaranya yang ada di New York.


Selang beberapa menit, MC mulai berdiri di panggung acara potong kue Rita, bersama sang suami, ditemi oleh kedua anak, para menantu dan juga cucunya Axel naik dan berdiri di depan kue tar yabg besar dan sangat mwmewah, sebelum ia memotong, ia memperkenalkan Quen kepada semua tamu yang hadir.


Mama Rita juga tak lupa mengatakan pada mereka kalau sengaja Alex putranya tidak mengabari prihal pernikahannya dengan Quen di Indonesia sebulan yang lalu untuk memberinya kejutan di hari ulang tahunnya yang ke limapuluh tahu agar tidak terjadi salah paham dari mereka.


Usai acara potong kue, saat ini adalah acara dansa, di mana di putaran musik kedua pasangan wanita berputar dan bertukar pasangan secara acak. Mungkin ini menjijikan bagi Quen yang tak akran dengan budaya barat. Tapi, di sini sudah umum. Lagi pula hanya sebatas dansa saja bukan sampai adekan ranjang.


"Alex, apakah tidak apa-apa jika aku nanti berdansa dengan pria lain?" ucap Quen lirih saat menyandarkan kepalanya pada dada bidang Alex sambil mengikuti irama mellow.


"Aku tidak masalah, memang sudah umum di sini seperti ini. Tapi, jika kau keberatan ya tidak usah," bisik Alex.


"Baiklah, sebentar saja agar aku tidak dikata sombong, ya?"


"Baiklah, nikmati saja pestanya sayang. Semua juga tahu kau adalah istriku, tak akan ada yang berani macam-macam. Percaya sama aku, ok."


Quen tersenyum pada Alex, mengakungkan kedua lengan pada leher Alex dan menciumnya sambil tertawa jail.


"Hay, apakah tidak nanggung dengan caramu berjinjit hanya mencium pipiku saja?" tanya Alex dengan tatapan yang susah di jelaskan.


"Lalu, apakah kau minta dicium kening? Aku jarus berjuang lebih keras lagi, padhal aku sudah menggunakan hells tinggi, loh." Gurau Quen terus menggoda Alex.

__ADS_1


"Lurus dengan kening, paling bawah nomor dua tepat diatas dagu. Cium bagian itu." ucap Alex memerintah.


"Aku tidak mau," jawab Quen dengan nada keras kepalanya yang selalu lekat dalam benak Alex.


"Baik, kau pilih, mencium bibirku, atau aku mencium lehermu dan meninggalkan bekas kepemilikanku di sana?" ucap Alex penuh kemenangan.


Quen mendengus kesal, ia melihat sekeliling kanan dan kiri, sepertinya semua pasangan yang mayoritas sudah bukan muda lagi, dalam artian lebih dewasa sibuk dengan gandengan masing-masingn pasti tak akan ada yang tahu kalau ia mencium Alex. Lagi pula, Alex kan suaminya tentunya juga ga bakal jadi masalah, kan?


Quen benar-benar menciun bibir Alex dan seketika itu irama musik berubah, para pria melepaskan wanitanya dan menerima wanita baru untuk berdansa begitupun dengan wanitanya.


Quen terkejut saat melihat wajah yang menarik pergelangannya dengan sedikit kencang, sebab, laki-laki ini terkesan memaksa dan merebut. Sebab, sebelumnya ada tangan lain yang hendak menariknya.


Aditya. Batin Quen. Tiba-tiba saja ia merasa canggung sendiri. Sebab, selain pernah ada hubungan dan mengecewakan pria di hadapannya, ia kini adalah suami dari kakak iparnya. Astaga... Ternyata dunia pun tak lebih lebar dari lantai dansa. Seperti ini berputar-putar menemui orang baru tapi masih ada hubungan dekat dengan orang yang telah ditinggalkan.


"Kau cantik sekali malam ini, Quen." Puji Aditnya.


Sedangakan Quen hanya diam tertunduk sedikit membuang muka ke samping. Sedikit mundur agar tidak terlalu dekat.


Sedangkan Aditya semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Quen dan sedikit mencengkram. Membuat Quen mendongak melihatnya.


"Lihatlah dirimu! Dengan ekspresi itu sungguh membuatku penasaran saja, aku menyelas dengan gaya pacaran kita yang kuno dulu, harusnya aku lebih berani kepadamu, agar saat melihatmu dengan yang lain aku tidak sesakit ini, karna lelaki itu hanya mendapatkan sisaku," ucap Aditya menyeringai.


"Pak Aditya yang terhormat! Anda jangan kurang ajar, aku ini istri adik iparmu, jangan menimbulkan masalah." ucap Quen menahan marah dengan sorot mata yang tajam.


Aditya tidak menggubris. Ia kehilangan kesadaran sepenuhnga setelah melihat Quen. Seban, sebelumnya ia sempat meminum miras untuk menghormati tamu besar papa mertuanya. Ia bahkan semakin berani menarik Quen dalam pelukannya dan terus tangannya mencekeram pinggang Quen.


Lihat, aku hanya begini saja kau sudah berubah ekspresi, napasmu juga terdengar berat Quen. Aku makin penasaran saja bagaimana ekspresimu saat bercinta, hah? Pasti Alex sangat bersemangat menghujammu, benar?"


Kali ini Quen benar-benar marah, ia merasa sebagai wanita telah dilecehkan. Ia tak menyangka Aditya yang baik dan sesopan itu bisa berubah drastis malam ini. Ada apa?


Quen berusaha berlari, walau tangannya gatal ingin menapar laki-laki ini, itu mustahil, di sini banyak orang dan akan menjadi pusat perhatian dan jelas saja. Nama baik mertua dan suaminya akan hancur malam ini.


Sekuat Hati Quen menahan dan memikirkan cara agar bisa lolos dari pria terkutuk ini.


"Kau kenapa terlihat gelisah begitu, Quen? Memang memeluku tidak senikmat memeluk Alex. Tapi, bagiku memelukmu seribu kali jauh lebih nikmat dari meneluk Novita, apakah kau tidak penasaran dan mencoba melakukan dengan pria lain?"


Quen kali ini benar-benar marah, ia menginjak keras kaki Aditya dan segera berlari, awalnya ia mencari Alex, tapi, dia tidak menemukan suaminya ia berlari ke dalam rumah ke kamarnya dan menangis sepuas-puasnya.


Memang sakit sekali saat mengetahui kebejatan laki-laki yang selama ini kita hargai dan dianggap baik oleh siapapun tapi sangat kurang ajar. Quen berlari ke kamar mandi dan menyalajan shower, ia merasa dirinya benar-benar kotor. Semua riasan wajah dan hair staylisnya rusak dan luntur bersama guyuran air hangat yang membasahi dirinya.


Sedangkan Alex, ia mendapat pasangan Byonce, sepupunya yang merupakan trnasgender dari pria menjadi wanita cantik jelita, sehingga siapapun yang melihatnya tidak akan pernah mengira kalau dia adalah waria. Ya, hanya orang-orang di masa lalu Byonce saja yang tahu akan hal itu.


"Alex, kukira rumor tentang kau menikah itu adalah bohong. Rupanya benar, dan seleramu sangat bagus. Sepertinya dia terlahir dari keluarga kaya dan terpelajara," ucap Byonce sambil memeluk kedua pundak Alex.


"Sotoy, kau. Rupanya jiwa peramalmu masih kekat saja sampai kau berubah kelamin." cetus Alex.


"Hay, sembarangan. Aku cuma merubah penampilanku. Tidak merubah jenis kelaminku, sebab suatu saat aku juga akan tobat, kok. Jika kau tidak percaya, aku akan menunjukannya padamu nanti," ucap Byaonce.


Alex tertawa malu dengan perkataan saudara sepupunya ini.


"Eh, Lex. Tapi, dugaanku benar, kan tentang permaisurimu itu?"


"Ya, kau tahu dari mana?"

__ADS_1


"Dari penampilannya yang elegan dan dari cara dia berbicara, duh, jiwa kejantananku, meronta-ronta memaksaku agar segera tobat saja,Lex."


"Ya sudah buruan tobat sebelum mati, tapi, setelah kau kembali menjadi kelelaki normal awas, jangan berani-beraninya mendekati apalagi menggoda istriku, ya?" ancam Alex sambil mengepalkan tangan di depan muka Byonce.


__ADS_2