
Setelah beberapa menit Lyli mengatur napas, dia mulai mengangkat wajahnya.
"Kenapa meminta maaf? Tidakah memang seharusnya aku terbuka denganmu, agar kau tahu dan semuanya, jika kau tidak dapat terima, kepergianmu tidak menimbulkan masalah besar untukku kelak," jawab Lyli.
"Aku janji tidaka akan meninggalkanmu apapun itu. Biarlah yang lalu berlalu. Seperti apapun dia, tetaplah ibumu." Al terus mengelus punggung Lyli dengan tangan kirinya sementara tangan kananannya fokus dengan setir mobil.
Lyli terdiam dan mencuri pandang kepada Al.
Dia adalah pria baik hangat dan penuh pengertian, wajar saya, Quen sangat sayang kepada kakak macam dia, aku tidak seharusnya menyembunykan kebenaran tentang diriku. Jika dia pergi, biarlah. Dia berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih bail dariku.
Tanpa sadar air mata Lyli meleleh merasakan ketulusan hati Al. Entah apa dia menangis tanpa alasan hatinya terasa tiba-tiba sakit.
"Ibuku dulu pernah berhubungan dengan seorang pria, selama satu tahun mereka pacaran ibuku mengandung anaknya, dan ketika meminta pertanggung jawaban pria yang telah menghamilinya dia malah meminta untuk menggugurkannya. Dengan alasan pria itu sudah beristri.
Hanya saja ibuku menolak, dia tetap melahirkan bayinya sampai pada akhirnya ia sangat terpaksa membuangnya. Dengan harapan ada yang menemukan dalam keadaan hidup.
Dan sampai akhirnya dia menemukan seorang pria yang mau menikahinya dan memiliki anak aku. Ayahku adalah penjudi dan pemabuk berat, banyak benda-benda rumah yang habis terjual untuk mendapatkan uang untuk mabuk dan berjudi.
Sampai pada akhirnya ibuku kembali hamil anak kedua setelah pernikahannya dengan ayahku. Ibuku merasa sedik karena selain aku masih kecil, ekonimi keluarga dengan hobi ayahku yang seperti itu rasanya tidak memungkinkan untuk menambah satu anak lagi.
Tapi, suatu hari saat ibu pulang dari belanja sambil menggendongku yabg baru berusua satu tahun ada seorang wanita paruh baya menangis meminta anak yang nanti dilahirkan ibuku untuknya saja. Karena, susah sepuluh tahun lebih dalam pernikahannya ia tak juga mempuanyai anak.
Yang itu aku jelas tidak ingat. Hanya tahu dari sebagian orang yang mau mengatakan kebenaran itu saja. Sementara yang ku ingat ayah ibuku sangat senang hamil dan menjual bayinya sudah empat kali. Jadi, aku tidak tahu berapa semua saudaraku."
Gadis itu menyeka air matanya setelah bercerita panjang lebar kepada pria yang akan menjadi calin suaminya, hatinya begitu sakit dan perih.
"Sudah, jangan menangis. Aku tidak peduli dengan semua itu dan masa lalu keluragamu. Seperti apapun mereka orang tuamu dan sudah kewajiban anak untuk selalu menghargai ibunya."
"Kau sudah tahu reputasiku sangat buruk. Cukup saja mengatakan kalau kau majikanku dan karena searah dengan tujuanmu maka kau sekalian mengantarkanku, Tuan. Tidak masalah. Kau tidak pantas untukku." gadis itu berusaha tersenyum meski jauh dari hatinya tidak rela kehilangan.
Ya, dia mencintai Al. Tapi, ada rasa sakit yang tak mampu ia jelaskan jika harus menikah dengan pria sesempurna Al. Dan lagi-lagi air mata gadis itu meleleh.
"Jangan menangis, sudahlah. Sejak kapan kau berubah menjadi cengeng seperti ini?" goda Al.
Lyli masih sesenggukan sambil berkali-kali menghapua air matanya.
Melihat Lyli yang terus menangis, Al menghentikan usapan pada punggung gadis itu, ditariknya Lyli pada pelukannya. Dia memeluk sambil mengemudi.
"Sudahlah. Ada aku di sini, jangan sedih lagi, ya?" bisik Al.
Ini adalah kali pertama dia menenangkan seorang wanita bahkan sampai memeluk selain1 Quen. Entah apa, dengan kejujuran Lyli dia ingin selalu melindunginya dan memberikan kebahagiaan.
Limapuluh meter lagi ada perempatan. Silahkan belok kiri.
Lokasi yang akan anda tuju akan tiba sekitar duaratus limapuluh meter lagi. Barat jalan.
Lyli segera menarik kepalanya dari dada Al. Kali pertama bagi Lyli menyandarkan kepala di bahu seorang pria, ternyata memang sangat nyaman. Sampai dia lupa diri. Beruntung suara dari google maps itu segera menyadarkannya.
"Benar ini rumah kamu?" Al menolehkan pandangannya ke arah Lyli.
"I... Iya, Tuan."
"Jangan panggil aku tuan, lagi!"
"Iya, Mas."
Al menarik napas panjang dan menghembuskannya sedikit kasar. Dilepaskannya sabuk pangaman dan ia pun turun dari mobil.
Bersama Lyli ia berjalan memasuki pagar rumah itu yang lumayan luas. Rumah bercat putih dengan dua jendela di kiri kanan pintu itu nampak sangag asri dengan dua pohon rambutan di depannya.
"Ibu, aku pulang!" teriak Lyli sambil mengetuk pintu.
Tak lama kemudian pintu di buka oleh seorang wanita paruh baya. Melihat ke arah Lyli dan terpaku tatapannya kepada Al sampai akhirnya dia terdadar dan mempersilahkan tamunya untuk masuk.
"Kau pulang, Lyli? Ayo masuk! Siapa dia?" tanya ibunya Lyli.
"Dia.. Dia.... " Lyli bingung memberi jawaban apa. Dilihatnya Al yang tersenyum dan memasang ekspresi santai.
"Dia cucu dari majikanku, Bu. Ayah mana?" jawab gadis itu lalu mengedarkan pandangannya ke dalam ruangan.
"Dia tidak ada di rumah." Segera wanita itu menjawab dan mencari pengalihan topik dengan cepat. "Den, kok bisa mengantarkan Lyli ke rumah?"
"Panggil saja saya Al, Ibu... Saya bukan mengantar Lyli. Tapi justru sebaliknya. Saya kemari untuk memibta restu dari orang tua Lyli untuk hubungan kami yang serius." jawab Al dengan tegas dan lugas.
Lyli hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan Al. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Sungguh di luar dugaan dan tak habis pikir, bagaimana ada pria seperti ini di dunia nyata dan jaman sekarang? Dalam novel dan komic foksi saja, pria akan ngambek dulu. Lalu kembali baikan setelah sadar dan baru tahu rasanya kehilangan. Tapi ini?
Sekuat tenanga Lyli mencoba menahan buliran yang mengembun di matanya. Tapi, tak urung jua, buliran bening itu telah lolos dan membasahi pipinya.
__ADS_1
"Kau, kenapa lakukan ini?" ucap Lyli sambil memandang Al.
"Lyli. Kau ini bagaimana? Baik pacarmu kemari menunjukan kesungguhannya tapi kau malah preotes?" tanya ibunya Lyli heran.
Sementara Al hanya diam tak menjawab apapun. Dia masih bisa memasang ekspresi tenang.
"Nak, Al. Maaf bukannya dia ini labil, dia belum pernah dekat dengan pria selama ini, mungkib dia masih kaget dan tidak percaya." ucap ibunya Lyli berusaha menjelaskan.
"Iya, Bu. Tidak apa-apa. Saya akan keluar dulu," ucap Al pamit duduk di kursi teras sambil menikmati sebatang rokok. Itung-itung dia juga memberi waktu untuk Lyli dan ibunya berbicara.
Lylo keluar dengan membawa secangkir teh untuk Al.
"Mas, mau duduk di dalam, apa di sini saja?" sapa Lyli.
"Di sini, deh, aku suka pemandangannya," jawan Al sambil memainkan kepulan asap rokok yang dinikmatinya.
Lyli memandang Al dengan tatapan penuh rasa cinta dan kagum.
Pria yang berambut lebay dan hitam, tampan, hidungnya mancung, bibirnya sexy serta lehernya yang jenjang. Sungguh sempurna sekali kau, mas Al. Beruntungnya aku bisa dicintai kamu, Mas. Akan kuperjuangkan dirimu selama kau juga mencintaiku. Batin Lyli.
"Nak, Al. Ayo makan siang dulu," ajal ibunya Lyli dari dalam pintu.
"Ayuk!" ajak Al bangkit setelah mematikan puntung rokoknya.
Baru beberapa langkah Al beranjak, tiba-tiba terdengar dari dalam sakunya hand phone nya berdering.
Diambilnya lalu ia melihat nama siapa yang tercantum di kayar sentuhnya.
"Sebentar, Quen yang menelfon biar ku angkat dulu." Al mengangkat tangannya dan melihat ke arah Lyli dan ibunya bergantian.
"Iya, Sayang ada apa?" jawab Al
"Apakah kau masih lama, Kak?" sahut suara itu ceria.
"Ini mau makan siang dulu habis itu kakak akan pulang, apakah kau merindukan kakakmu, ini?" goda Al sambil tersenyum, meski ia tahu kalau Quen tidak akan melihat senyuman itu.
"Tidak, jika kau masih lama aku akan pergi dengan teman-temanku,"
"Baiklah, jangan pulang terlalu larut. Hati-hati, ya."
Al pun bergegas masuk ke dalam rumah dan ikut bergabung bersama Lyli dan ibunya.
"Ini juga sudah cukup, Bu. Saya memang sangat suka sayuran," jawan Al sambil menarik kursi dan duduk di sebelah ibunya Lyli.
Rika, ibunya Lyli sempat terpaku mengamati Al, dia tersenyum dan membatin, Anak ino luar biasa tampan dan sopan. Tidak seperti anak orang kaya kebanyakan, pasti ayah ibunya sangat hebat bisa mendidik anaknya seperti ini.
Tapi, tiba-tiba Maya Rika terpana pada belakang telinga Al saat ia menoleh ke arah putrinya.
Apa-apaan ini? Hah, lucu sekali. Umpatnya dalam hati.
"Nak, kau punya tahi lalat di belakang telinga, ya?"
Al pun menoleh ke arah Rika. Sambil tersenyum sopan.
"Iya, Bu, kata mama ini tanda lahir," jawannya sopan.
🌸 🌸 🌸
"Quen, apakah kamu pacaran dengan Senior?" tanya Gea, teman satu jurusan, maha siswa medokteran.
"Senior siapa?" tanya Quen bingung dan nampak berfikir.
"Itu, anak kelas akutansi." Gea menoleh ke arah seorang pira yang berjalan tidak jauh dari mereka berdiri dengan tampilan modis dan stylis.
"Oh, kak Juna maksutmu?" jawab Quen begitu melihat pria yang di maksutkan Gea.
"Iya, kata Bela kau dan dia sudah deket sejak SMA," jawab Gea penuh dengan rasa ingin tahu.
"Tidak, dia sudah ku anggap kaya kakakku sendiri. Kenapa sih?"
"Bukannya kamu juga punya kakak yang katanya Dela ganteng di rumah?"
"Walau aku dirumah sudah punya kakak, tapi anggap dia sebagai kakak juga tidak masalah, bukan?"
"Iya, juga ya." Mata Gea kembali melirik ke arah Juna.
Quen menangkap gelagat aneh pada diri temannya ini, dia merasak kalau Gea naksir sama Juna.
"Kak Juna," teriaknya. "kemarilah." Quen memberi isyarat untuk memanggil Juna.
__ADS_1
Pria itu pun tersenyum dan mendekat ke arah mereka dengan gayanya yang cool dan macho.
"Quen, kau apa-apaan, sih?" protes Gea nampak grogi semakin membuatnya yakin kalau Gea menaruh hati pada Juna.
"Apaan?" ucap Quen sambil melihat ke arah Gea.
"Udah selesai kuliah kok ga buru-buru pulang?" tanya Juna begitu sudah berada di dekat Quen.
"Kakak sendiri?"
"Nunggu Candra, katanya habis ini kita mau ngerjain tugas di kos-kosnnya.
Quen mengangguk-angguk mengerti.
"Oh, iya kak. Kenalin dia temanku Gea." Sambil menunjuk ke arah Gea yang wajahnya sudah memerah.
"Juna," ucap pria itu sambil menjabat tangan Gea.
Begitu keduanya sudah berkenalan dan sedikit terlibat dalam obrolan segera Gea mengajak Quen pergi. Karena dia tidak biasa dengan perasaan grogi dan berdebar seperti ini saat dekat dengan pria.
Begiti berada di dalam mobilnya Quen, Gea mengomeli temannya habis-habisan.
"Quen, apa sih maksut kamu pake ngenal-ngenalin aku segala dengan si Juna itu? Hah?
Dan lagi kenapa dia sok-sok an keren pake nama Juna gitu, apakah dia merasa ganteng dan manly kaya chef Juna?" Gadis itu mengomel bahkan tidak berani melihat ke arah Quen.
"Emang Juna nama aslinya, keles. Bukan sekedar nama beken. Kenapa? Akui aja kalau dia lebih cool dan manly di si chef galak itu, ah. Kau suka nonton master itu ya? Hahaha," ledek Quen sambil tetap fokus menyetir.
"Ok. Stop dia emang keren. Juna siapa sih namanya? Junaidi, Jumadi atau Jainudin?" tanya Gea sambil menolehkan wajahnya ke arah Quen.
"Kau mau tahu siapa nama asli dia? Namanya Arjuna. Dan dia merasa nyaman dipanggil dengan Juna saja." Tanpa menoleh Quen menjawab pertanyaan Gea.
Gea terdiam. Kembali ingatannya kepada wajah tampan dan body proposional Juna. Memang nama Arjuna sangat pas buat dirinya. Dia juga termasuk mahasiswa cerdas di sana.
"Kenapa harus melamun? Jika memang suka ya bilang saja suka, banyak saingan loh," sindir Quen masih dengan wajah menatap lurus ke jalanan.
"Ih, apaan sih kamu Quen?" protes Gea merasa malu.
"Tidak apa-apa. Kau ikuy aku ke rumah apa pulang saja, nih?"
"Aku pulang saja lah,'' jawb Gea singkat.
Sesuai permintaan, Quen menurunkan Gea di depan rumahnya.
"Kau tidak mampir dulu, Quen?" icap Gea sambil mengintip ke dalam mobil.
"Lain kali saja, ini sudah petang. Pulang dulu, ya... Daa sampai besok." Quen pun melajukan mobilnya pelan.
Besok tidak ada kuliah, kan? Harusnya tidak apa-apa aku main ke caffe om Reza. Gumam Quen seorang diri.
Benar saja gadis itu memarkirkan mobilnya di depan cafe Reza, sahabat mamanya di masa SMA dulu. Hanya saja, sepertinya Reza tidak ada. Hanya ada beberapa barista saja yang menyambut kedatangannya.
"Satu coffe latte ya, kak." Quen mengisaratkan dengan satu telunjuknya lalu duduk di kursi paling dekat dengan barista itu.
Berhubung Reza tidak ada, Quen sengaja tidak ingin berlama-lama. Hanya memesan satu latte dan pulang. Tapi, ternyata dia salah. Sosok berbadan tinggi dengan kumis tipis itu tiba-tiba saja muncul dan duduk di meja kasir. Sepertinya mengecek pemasukan.
Quen sengaja tidak menyapa. Biar Reza sendiri yang melihatnya dan menemaninya duduk. Sementara istrinya tante Lusi, sudah jelas dia pasti ada di rumah sakit.
"Halo cantik!"
Quen menoleh ke sumber suara itu yang jelas tengah menyapanya.
"Pak, Aditya," ucap Quen sedikit surpriese.
Pria berbadan tegap dan atletis itu tersenyum sambil melihat ke arah Quen.
Gadis itu berdiri mempersilahkan Pria itu yang tak lain adalah dosennya untuk duduk di depannya.
"Mari, Pak silahkan duduk."
"Trimaksih." pria itu pun duduk di depan Quen. Lalu memesan capucino kepada barista.
"Sendirian saja?"
"Kan, sama Bapak?" jawan Quen bercanda.
"Ya... Sama pacar mungkin."
"Tidak, Pak. " Quen tersenyum sambil mengaduk lattenya yang lenih datang dulu.
__ADS_1
Aditya diam, melihat dari raut muka Quen, sepertinya dia tidak suka diajak membahas soal pacar. Dan lagi, dari kabar yang dia tahu, Quen tidak pernah berpacaran. Pernah satu kali, tapi tidak lama laku putus. Hanya dengan satu pria itu saja.