Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
will die 24


__ADS_3

Pukul 8.30 pagi, ketika mentari sudah mulai memancarkan sinarnya yang tajam, beberapa kali ponsel yang terletak di atas nakas kamar Axel membunyikan suara bising.


Namun, si pemilik sepertinya tidak terusik dengan itu. Padahal sudah tiga kali lebih ponsel itu berbunyi. Si pemilik masih juga belum terjaga. Jangankan bangun, menggerakkan sedikit tubuhnya saja tidak. Mungkin karena dia terlalu lelah dan tidur kemalaman akibat begadang semalam bersama Adriel hingga lewat pukul dua dini hari.


"Uh... siapa, sih pagi-pagi begini menelpon?" ucap pria itu sambil mengeliatkan tubuhnya. Kemudian tangan kanannya meraih benda pipih itu di atas nakas dengan kondisi mata masih terpejam. Ia berusaha keras membuka matanya melihat siapa yang telah menelfon sepagi ini. Ya... mungkin dia pikir ini masih pagi pukul jam lima dini hari. Padahal, sudah jam delapan lebih.


"Papa? Kenapa dia menelpon sepahi ini?" Buru-buru Axel langsung duduk dan mengangkat panggilan itu, dengan suara serak khas pria bangun tidur. "Halo, selamat pagi Pa. Ada apa Pa, sepagi ini menelpon? Tumben," tanya nya. Sambil mengucek matanya yang masih terasa lengket.


"Kau baru bangun tidur, Xel? Semalam tidur sampai jam berapa, memangnya? Ini bukan paginlagi. Tapi menjelang siang," ucap Al dari seberang telepon.


Kembali Axel mengucek matanya dengan sebelah tangan, tangan yang lainnya ia gunakan untuk memegangi ponselnya. dia terkejut ketika melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 8.45.


"Loh ini ternyata sudah siang, ya?" tertawa seorang diri


"Kamu ada acara tidak, pagi ini?" tanya Al


"Tidak ada, Pa. Ada apa memangnya?" tanya pria itu.


Sebenarnya, sih dia memang memiliki rencananya mengajak Berlin jogging pagi tadi. Tapi, karena bangunnya kesiangan. Itu pun terbangun karena dering ponsel nada panggilan berkali-kali. Jika saja tidak, mungkin ia juga masih tidur, dan bisa jadi bangunnya masih nanti siang. Tidak masalah, mungkin bisa lain kali. Ia berharap papa Al memanggilnya kali ini tidak ada hal serius dan sebentar saja. Agar, dia bisa mengajak jalan Berlyn berdua saja meski hanya sebentar.


"Ya sudah kamu cuci muka dulu, dan kemarilah. Papa ada perlu sedikit sama kamu. Terserah kamu mau sarapan dulu di rumah, atau sarapan di sini. Biar Mama yang siapin," ucap Al dengan nada yang santai dan ke bapak-bapak an.


"Baik Pa. Axel akansegera ke sana," jawab remaja itu. Kemudian mematikan panggilannya dan segera menuju kamar mandi mengguyur tubuhnya dengan air dingin dan buru-buru berangkat. Mumpung adiknya masih tidur dan belum bangun. Ia juga begitu berhati-hati saat membuka dan menutup pintu.


Bahkan saking takutnya Adriel terbangun, ia sampai menuntun sepeda motornya hingga jauh dari rumah setelah sekitar 200 meter dari pagar barulah remaja itu menyalakan mesin nya dan mengendarai motor tersebut. Ia berharap kali ini ia berhasil mengajak jalan Berlin berdua saja. Tanpa ada orang lain yang kedatangannya hanya mengganggu


Tiba di rumah Al dan Queen. Pagar rumah tidak dibukakan oleh om Dedi. Tapi, Berlyn. Jelas hal ini membuat pria bermata biru keabu-abuan itu merasa seneng dan berharap ini adalah awal keberuntungannya di hari ini.


"Selamat pagi, Berlyn," sapa Axel.


Gadis itu mengangguk sambil tersenyum lembut. Kemudian memberitahu dengan bahasa isyarat kalau papa sudah menunggunya.


"Jadi, kau disini sengaja menunggu? Sengaja membukakan pintu untuk ku, Lyn?" tanya aaxel, ragu-ragu. Dia tidak berani berharap, karena takut kecewa.


Lagi, gadis itu tersenyum dan mengangguk. Berjalan mengiringi Axel yang tengah menuntun sepeda motornya nya.


"Berlin!"


Gadis itu menoleh ke arah Axel bersamaan dengan menyelipkan anak rambut yang teriup angin mengenai sebagian wajahnya ke belakang telinga. "Ya," jawabnya singkat. Namun terlihat anggun sampai Axel sempat terpana melihatnya.


"Terima kasih, ya? Sudah mau menungguku, dan membukakan pagar. Terima kasih. Aku senang, sekali," ucap pria itu dengan menatap ke arah mata Berlyn.


Gadis itu tersipu malu bahkan pipinya pun sampai memerah. Dipalingkan wajahnya dari Axel, dan tak mampu menatap keelokan dua bola mata yang tengah menatapnya penuh arti. Namum, apa? Gadis itu tidak mengerti dengan jelas. Hanya saja ia merasakan ada sesuatu di dalam hati Axel yang belum pernah diucapkan padanya sekalipun.


"Kamu diam saja, kamu tidak suka, ya?" tanya Axel lagi.


"Axel! Kau sudah datang?" sapa Al yang kebetulan keluar dari rumah sambil membawa buku besar di tangannya.


"Iya, Pa. Axel baru saja datang," jawab pria itu kemudian buru-buru memarkirkan motornya dan menghampiri Al, dan duduk disampingnya nya.


"Ada apa, Pa? Tumben pagi-pagi sekali," ucap Axel lagi. Masih berkata pagi-pagi. Ini sudah jelang siang. Atau mungkin karena dia baru bangun? Entahlah, hanya dia dan Tuhan yang tahu.


"Sebenarnya papa ada perlu, sama kamu. Dari semalam sejak pulang nonton kepikiran ingin menghubungimu. Tapi, papa rasa kamu sudah istirahat. Jadi papa tunggu pagi saja. Ada hal yang perlu papa tanyakan pada mu."


"Silakan, Pa," ucap Axel, sambil menatap penuh perhatian pada Al dan siap mendengarkan apa yang akan diucapkan oleh pria yang ia anggap sebagai papanya sendiri setelah om Alex.


"Papa mau bahas terkait Bilqis. Kemarin kan dia di sini. Tiba-tiba, mamanya menelpon dan memintanya pulang entah apa yang terjadi tapi saat mama Queen ke sana, tante Nayla menceritakan katanya dia mengintrogasi tentang hubungannya dengan Tiara. Tante Nayla tak ingin putrinya terlalu dekat dengan wanita yang tidak benar. Awalnya tahu darimu, sih. Jelasnya ja menyelidiki sendiri.

__ADS_1


"Iya pa. Axel tahu itu sejak lama sejak mereka kelas 3 SMA Tiara itu sudah menjadi mami dan memiliki banyak anak buah. Sebagai saudara tentu saja aku mengkhawatirkan Bilqis. Aku menasehatinya dan mengatakan kalau dia itu bukan anak baik-baik, aku minta agar Bilqis jaga jarak bukan menjauhi tapi yang dilakukan malah sebaliknya seolah-olah dia seperti disuruh untuk mempererat hubungan persahabatannya saja," ucap Axel sambil geleng-geleng karena kesal dengan tingkah Bilqis.


"Oh jadi benar, ya? Waktu itu saat kamu mengatakan pada tante Nayla, Tante Naila diam-diam menyelidiki Tiara dan ternyata informasi yang didapatkan dari mu itu adalah benar kamu tidak bilang siapa Tiara sih ya cuma dia cari sebabnya aja dan mungkin itu sebabnya.


Axel diam terus menyimak kata demi kata yang diucapkan oleh Al.


"Dan kemarin itu tanpa berbicara Nayla mengajak Bilqis keluar. Sampai di tengah jalan, Bilqis baru tahu kalau ia diajak bertemu dengan pria yang akan menjadi calon suaminya. tante Nayla menjodohkan dia dengan pria yang dia sendiri tidak tahu. Itu pun juga tanpa persetujuan dari Bilqis. Sehingga dia nekat loncat dari mobil dalam keadaan berjalan dan berlari entah kemana sampai sekarang Bilqis belum ditemukan."


Mengetahui berita itu dari papa Al, Axel cukup terkejut juga. Secara refleks ia berkata, "Jangan-jangan dia bersembunyi di tempat Tiara, Pa? Bagaimana kalau kita mencarinya dan tanya langsung padanya, Pa?" ucap Axel.


Awalnya Papa juga berpikir demikian. begitupun juga Mama Queen. Tapi, dia ragu karena sebelum mama menelpon tante Nayla dan tahu masalah ini, dia menelpon Bilqis dulu. Bilqis menangis dan dia seperti orang frustasi. Mengatakan kalau dirinya merasa dibuang dan tidak diinginkan lagi oleh kita. Padahal, di sini kita sangat mengkhawatirkannya, dan bingung mencari di mana keberadaannya.


Axel mengerutkan keningnya kemudian dia berkata lagi, "Satu-satunya cara ialah mencoba menanyakan pada Tiara. Mungkin Tiara tahu di mana dia. Bagaimanapun mereka sudah cukup lama bersahabat. Meskipun dilarang juga tetap saja, kan Biqlis, kan pa?"


"Iya Kau benar juga. Kemarin mama Queen sepulang dari tempat tante Nay juga melihat Tiara. Tapi sayang dia kehilangan jejak saat ia masuk ke dalam mall."


"Benar-benar kehilangan jejak, atau sengaja menghindar?" tanya Axel dengan tatapan penuh tanda tanya.


Sementara Al hanya mengangkat kedua tangan dan bahu nya saja. Mengisyaratkan kalau dirinya tidak tahu kalau benar Tiara menghindari artinya memang ada apa-apa, dan ada kaitanya dengan menghilangnya Bilqis. Tapi jika itu sebuah ketidaksengajaan ya mungkin memang dia tidak tahu, dan mungkin Queem mencarinya berlawanan arah.


"Axel, kau sudah sarapan apa, belum? Mama menyiapkan nasi goreng untukmu," ucap Queen dari dalam dan masih mengenakan celemek. Sepertinya nasi goreng yang dimaksud juga masih fresh dari wajan.


"Kebetulan belum, Ma. Terima kasih ya, Ma. Maaf sudah merepotkan," jawa pria itu sambil tertawa.


Masuklah! Habiskan sarapanmu dulu. Nanti kita bahas lagi, oke? Ucap Queen kemudian ia mengambil alih duduk ditempat Axel. Sementara pria muda itu masuk kedalam menuju meja makan untuk menghabiskan sarapan yang baru saja di siapkan olehnya.


****


Merasa tidak tenang dan terus kepikiran putrinya, Nayla berkali-kali menghubungiku Queen. Tapi, yang didapatkan masih nihil. Belum ada informasi terkait Bilqis yang jelas. Mereka memang sudah melacak keberadaan Bilqis melalui email ponselnya. nomor itu terakhir aktif di sebuah hotel dekat dengan pusat perbelanjaan namun. Namun, saat mendatangi langsung ke sana ternyata Bilqis sudah tidak ada di sana lagi. Itupun tanpa pamit pada petugas hotel, dan kunci ditinggalkan di kamarnya jadi kemana perginya dia tak seorang pun yang tahu.


Kehilangan putrinya belum sampai 24 jam saja Nayla sudah seperti mau gila saja rasanya. Beberapa kali dia menyusuri sepanjang jalan di mana ia akan bertemu dengan pria yang akan dijodohkan dengan putrinya, berharap ia menemukan Bilqis di sana. Tapi yang ia temui bukanlah Bilqis melainkan Tiara bersama seorang pria yang lebih pantas menjadi ayahnya.


Gadis itu pun menoleh dan menyapa balik ke arah Nayla dengan wajah yang ramah seperti biasanya. "Tante Nayla, apa kabar? Kebetulan banget bisa ketemu di sini Tante mau ke mana?" tanya gadis itu, seolah-olah tidak ada apa-apa.


"Tiara, tante mau nanya sejak kemarin sore Bilqis pergi menghilang entah ke mana nomornya juga tidak aktif. Apakah kamu tahu di mana, dia?" tanya Nayla menatap lekat mata gadis itu dengan penuh harap.


"Apa, Tante? Memangnya kemana? Apakah Bilqis tidak pamit? Ke rumah tante Queen, ada tidak? tanya Tiara dengan muka polos menunjukkan bahwa dirinya benar-benar tidak tahu keberadaan sahabatnya.


"Tidak tante Queen juga mencarinya, dan kita semua sibuk mencari dia barangkali kamu tahu"


"Maaf Tante Saya benar-benar tidak tahu tapi saya akan bantu cari dia. Nanti kalau saya ketemu, saya kabari tante, dan saya sampaikan padanya kalau kalian menghawatirkan, dan menginginkan dia pulang. Memangnya ada masalah apa, Tante kok sampai begitu?" tanya Tiara penuh perhatian.


Tak ingin Tiara tahu, Nayla tidak menjawab pertanyaan itu. Dia hanya mengatakan kalau diantara mereka hanya ada sedikit kesalahpahaman saja. Tapi Bilqis tidak mau menerima penjelasan dari Nayla, dan malah kabur begitu saja. Sampai sekarang bahkan di mana keberadaannya tidak diketahui."


"Ya sudah, Tiara. Terima kasih. Nanti kalau kamu ketemu diaz tolong kabari tante, ya?" ucap Nayla lalu berbalik arah menuju mobilnya lagi.


Di dalam mobil, kembali Nayla menghubungi Queen. Sepertinya wanita itu sudah menyiapkan diri selalu dekat dengan ponselnya. Baru saja panggilan tersambung langsung diangkatnya.


"Halo, kak Nay? Kau di mana sekarang? Ini aku dan Al mau ke tempatmu."


"Aku berada di luar, Queen. Aku mencari Bilqis. Baru saja aku ketemu dengan Tiara. Tapi, dia mengatakan kalau dia tidak tahu apa-apa mengenai Bilqis."


"Apa kita bikin laporan orang hilang saja nanti sore, setelah genap dua puluh empat jam?"


"Iya, Queen. Kau benar," jawab Nayla dengan antusias.


"Tanyakan di mana dia. Kau susul saja dia. Kalian cari berdua, aku akan mencarinya sendiri. Kota berpencar saja biar cepat ketemu," ucap Al lirih pada sang istrinya.

__ADS_1


Queen hanya mengangguk sambil menatap suaminya. Kemudian, ia berkata pada Nayla, "Kak. Sekarang posisimu di mana?"


"Aku di jalan Gajah Mada. Kenapa?"


"Tetaplah di situ. Aku akan ke sana. Kita cari Bilqis berdua. Al biar mencari ke tempat lain."


"Baiklah! Kalau gitu aku tunggu."


Nayla mematikan panggilan. 10 menit kemudian mobil Al dan Queen sudah tiba. Sepertinya saat menelpon, mereka memang berada tidak jauh dari tempat Nayla.


Setelah setelah istrinya masuk ke dalam mobil Nayla. Al mengambil gadgetnya, dan langsung menghubungi seseorang. Sepertinya yang dihubunginya adalah Vico. Sebab, sejauh ini hanya Vico yang paling Al andalkan dalam hal penyelidikan seperti ini. "Vic, tolong bantu aku temukan Bilqis sebelum jam lima sore," ucap Al kemudian mematikan panggilan.


Sekalipun Vico bisa diandalkan, Al tidak akan pernah tinggal diam apalagi bersantai saja. Dia akan tetap berusaha mencari. Entah, siapa dulu yang dapat menemukannya. yang penting secepat mungkin Bilqis harus segera ketemu, dan jangan sampai melibatkan polisi. Karena Al sendiri paling benci berurusan dengan pihak kepolisian. Jika dia dan pasukannya bisa diandalkan, kenapa tidak? Dia diam karena tidak mau memperpanjang urusan. Dari pada runyam. Karena istrinya lebih menyukai jalur hukum daripada jalur gelap seperti yang pernah ia geluti.


Setelah memastikan Nayla benar-benar pergi, Pria itu menatap kearah Tiara. Lalu bertanya, "Itu, barusan mama kandungnya Bilqis. Kenapa kau tidak menghindarinya?" tanya lelaki paruh baya itu. Sepertinya dia benar-benar penasaran.


"Iya sayang, kamu benar. Yang barusan itu adalah mama kandungnya Bilqis. Tapi, dia tidak bisa membedakan mana yang sandiwara, dan mana yang bukan. Kalau yang kemarin itu, dia bukan orang sembarangan. Dia psikolog. Dari gestur tubuh saja dia sudah bisa menilai antara sandiwara dan yang bukan. Bohong atau jujur. Makanya, lebih baik menghindarinya daripada berurusan dengan orang itu. Suaminya pun juga bukan orang sembarangan."


"Hahaha, Tiara. Kau ternyata ada takutnya juga, ya?" ucap pria itu sambil terbahak. Mungkin baginya lucu saja. Tiara yang tidak pernah takut dan kapok dihajar oleh istri sah tiba-tiba takut dengan wanita lain, yang suaminya bukanlah selingkuhannya. ya benar-benar aneh kan?


"Tentu saja, tidak. Aku kan sudah katakan, dia bukan orang sembarangan. Tidak akan mungkin dia hanya menghajarku seperti yang dilakukan oleh istrimu, dan istri pria lain terhadapku. Dia itu orangnya tegas, dan melek hukum. bisa-bisa aku di jebloskan di dalam penjara seumur hidup. Lagi, suaminya yang keren itu, pasti akan menyuruh orang dalam untuk mengejar ku hingga mati. Aku masih muda. Usiaku masih panjang. Sayang jika harus mati konyol seperti itu. Aku masih pantas untuk bersenang-senang, kan?" timpalnya dengan cuek dan terus melangkah menuju mobil.


Baru saja Tiara memasukan sebelah kakinya ke dalam mobil, sebuah tangan kekar putih dan berbulu tipis lurus memegang lengannya dengan sangat kuat hingga ia kesakitan.


"Katakan, di mana Bilqis!" ucapnya penuh ancaman dan intimidasi.


"Aku tidak tahu! Apa kau tidak lihat, alu tidak sedang bersamanya," ucap Tiara sambil berusaha berontak. Tapi, sepertinya sia-sia saja.


"Heh, kau jangan ganggu wanitaku, ya?" ucap pria om-om yang tidak terima dengan ulah pria yang baru saja muncul dan tiba-tiba menyakiti pacarnya.


"Berani, kau cari masalah padaku? Aku tahu, siapa kau. Berani berulah, aku berikan video rekaman mu bersama wanita murahan ini pada istrimu."


"Ha-ha-ha, berani kau memangnya? Siapa dirimu berani menentangku?" tantang lelaki tua itu dengan lagak yang begitu sombongnya.


"Siapa aku, itu tidak penting. Tapi, aku tahu, kau dan istrimu memiliki janji pra nikah. Jika sampai salah satu diantara kalian ketahuan selingkuh. Maka kalian akan bercerai tanpa mendapat sepeserpun harta gono gini. Tidak masalah jika kau tak takut dan merasa tak lagi butuh seorang istri. Anak-anak mu juga sudah sukses, kan? Apa kau pikir istrimu yang baik hati itu akan mau terus memaafkanmu? Ini bukan satu dua tiga kali, loh."


Mendengar jawaban dari pria muda bertubuh kekar di hadapannya, seketika lelaki tua itu langsung kelabakan. Mukanya seketika memerah antara takut dan malu. Yang dia sesalkan, kenapa dia mengatakan di depan pacarnya, dan lagi, dari mana dia bisa tahu masalahnya sedetil ini.


"Baik. Aku tidak akan ikut campur. Tapi, Nak. Apakah kau tidak sadar jika kau menyakitinya?"


"Jawab dulu, di mana Bilqis. Atau, aku akan patahkan tanganmu dengan satu gerakan!"


"A... Aku, benar-benar tidak tahu, Kak. Sumpah, barusan tante Nayla juga bertemu denganku," jawab Tiara tergagap. Antara menahan sakit di lengannya dan rasa takut dengan kemarahan pria yang selama ini tidak pernah ia ketahui marah dan selalu sabar.


"Bohong! Tidak mungkin kau tidak tahu. Cepat, jawab!" bentaknya sambil memperkuat cengkraman pada lengan gadis itu.


"Oke, dia kemarin memang menemui ku dalam keadaan terluka ringan. Dia menangis sedih karena diam-diam tante Nayla akan menjodohkannya dengan pria yang dia sendiri tidak tahui. Dia tidak terima lalu, menemui ku. Tapi, setelah itu aku sudah tidak tahu di mana dia. Bilqis pergi tanpa pamit. Dia kabur."


"Kabur dari hotel? Kenapa kau membawanya ke hotel jika kau sendiri punya rumah?" Bentak Axel lagi.


"Aku... Aku.... "


Seorang gadis mengenakan dress putih sepanjang lutut memegang lembut lengan Axel yang tengah mencengkram Tiara. Gadis itu menatap tajam pada mata Axel dan mengeleng lembut, seolah mengatakan kalau dia tidak perlu buang-buang waktu. Karena kak Tiara tidak tahu di mana kak Biqlis, cukup jangan tanya lagi. Lebih baik kita segera pergi dan mencarinya.


Berlyn memang kelemahan Axel. Apapun yang ia minta, Axel tidak pernah mampu menolaknya. Dengan kesal pria itu melepaskan cengkeramannya menghempaskan dengan kasar lalu pergi meninggalkan Tiara dengan pacarnya.


Mendapati Axel yang nampak benar-benar emosi, Berlyn tersenyum lembut. Mengusap dadanya dengan gerakan dari atas ke bawah dan memberinya minum saat mereka sudah tiba di mobil.

__ADS_1


Axel berusaha meredam emosinya dengan mengatur napas..kemudian menatap ke arah wajah Berlyn dan memegang tangan lembut itu yang masih ada di dadanya. Dua pasang mata itu saling bertemu dan saling menatap untuk waktu yang cukup lama. Tapi, itu dikacaukan oleh suara telfon dari ponsel Axel sendiri.


"Arrgh... Siapa, sih ini mengganggu saja!" Umpatnya dalam hati. sambil menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangan.


__ADS_2