
Saat bibi tengah memasak di dapur, Clarissa mengamati dari
ruang tengah. Kemudian, ia melempar batu yang dia ambil dari halaman rumah hingga tepat mengenai jam dinding sampai jam itu jatuh dan pecah. Meninmbulkan
suara berisik hingga terdengar sampai dapur.
Mendengar suara berisik, bi Yul langsung saja meninggalkan
dapur guna mengecek suara apa yang barusan jatuh dan pecah. Sementara Clarissa yang di kira orang-rang adalah Berlyn, dia tetap asik mewarnai dengan husuk, seolah tidak terjadi apapun. Mungkin juga dia lupa, kalau saudarinya tidaklah
tuli. Dia bertingkah seolah tak mendengar papaun. Atau, sengaja meniru kebiasaan saudari kembarnya, jika sudah asik dengan satu hal, dia tak peduli
apapun. Lain dengannya.
“Ya ampun, siapa ini yang melempar batu? Untung Cuma ngenai
jam dinding, kalau sampai pialanya non Queen dan tuan Al bisa tamat sudah,” ucap bibi seorang diri, sambil geleng-geleng. Kemudian ia mengambil sapu dan
cikrak ke belakang untuk membersihkan pecahan-pecahan beling yang berserakan di lantai.
Mungkin saja sebentar lagi juga akan menghampiri om Dedi, saat ketiga majikannya makan malam, mengira kalau dia pelakunya, atau tidak teliti jaga rumah sampai tidak tahu kalau ada yang melempar batu ke dalam rumah.
Saat itulah, Clarissa gunakan untuk menyelinap masuk ke
dapur, Ketika bibi tengah sibuk membersihan beling yang berserakan. Setelah apa
yang ingin ia perbuat terlaksanakan, gadis kecil itu tertawa jahil dan berlari
ke ruang tengah, kembali anteng mewarnai gambar-gambar yang dia dapatkan dari
bersekolahan tadi.
Sebenarnya, Clarissa itu sangat bosen dan paling males jika
hanya mewarna menari bertepuk tangan mengiringi murid-murid lain yang tidak
bisu bernyanyi selama di sekolahan. Itu terlalu kekanak-kanakan baginya. Tapi, terpaksa dia lakukan demi saudarinya. Sudah baik saudarinya mau tuker posisi
dengannya. Padahal, awalnya terlihat
sekali Berlyn enggan dan tak berani ambil resiko. Mungkin saja gadis itu takut di sekolahan jadi kacau kalau dirinya digantikan oleh Clarissa. Sebab, dia
sangat nakal dan entahlah. Tapi, karena dia percaya pada kembarannya, ingin
menuntaskan pelakor atau toxic keluarganya, ia pun mau dan fine-fine saja tinggal lama di Singapura. Dia tidak dirugikan sama sekali. Kapan lagi ada kesempatan bisa tinggal berlama-lama bersama ama jika tidak sekarang? Mungkin nanti bisa. Tapi, tidak semua kesempatan baik akan datang sampai dua kali, bukan?
“Halo sayang, apa yang kau lakukan?” sapa Queen yang baru
saja tiba bersama Al. seharian dia berada di rumah. Saat putrinya tidur siang jam satu tadi, barulah ia bersiap untuk berangkat ke klinik. Sekitar jam satu lewat tiga puluh lah dia berangkat. Lalu, jam empat dia sudah kembali bersama
suaminya.
Dengan girang dan senyuman yang mengembang di bibirnya gadis
kecil itu menunjukkan hasil mewarnainya yang rapi.
“Kian hari kau kian pinter saja,’’ ucap Queen sambil mencium
pipinya. Kemudian, pandangan wanita itu diedarkan pada dapur yang nampak kosong, namun sedikit berantakan. Terlihat sekali, seseorang belum kelar masak,
tapi masih ditinggal. “Di mana bibi, Sayang?”
Bocah itu menoleh ke arah belakang dan menunjuk ke arah
samping. Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya berbadan tinggi besar berkulit kuning langsat muncul dari balik pintu, dan langsung menghampiri Queen
dan Al yang baru saja tiba.
“Non, maaf ini tadi jam dinding di situ jatuh dan pecah,” ucap wanita itu, melapor.
“Jatuh? Kok bisa, Bi?” tanya Queen heran sambil melihat ke
dinding yang kini sudah kosong.
“Saya dendiri juga kurang tahu, Non. Saat itu saya sedang masak.”
“Oh, ya sudah tidak apa-apa. Jadi, tidak ngenain siapa-sapa,
kan ya?” tanya Queen dengan santainya.
“Tidak Non. Dan bekas beling pecahannya sudah saya bersihkan
tadi,’' jawab bibi Yul.
“Ya sudah, Bi. Tidak apa-apa. Terimakasih, ya?” ucap Al ikut
menimpali.
“Berlyn, main dulu sama papa, mama bantuin bibi masak dulu,
oke? Kamu mau makan apa?” tanya Queen pada putrinya.
Clarissa yang di sangka adalah Berlyn itu diam nampak
berfikir. Setelah itu barulah dia menuliskan, “Cumi-cumi saus padang.”
“Ih, kamu suka? Baru kemarin, kan makan kaya gini pas maen
ke rumah tante Gea?” ucap Queen sambil tertawa. Kali ini dia berada di zona aman. Karena, mama dan papanya juga baru pertama kali mengajak Berlyn makan cumi saus padang. Tapi, tidak tahunya, itu adalah anaknya yang lain. Mungkin
cukup aneh saja dia bisa menyukai hidangan indonsia yang pedas. Sebab, dari awal sudah sering tinggal di Singapura dan sehari-harinya juga makan makanan khas orang
sana. Seba tumis iris gemprek dan oriental dan tidak pedas. Karena, sebagian besar orang cina tidak suka cabe.
__ADS_1
“Baik, mama akan memasakkannya unutkmu. Di sini belajar sama
papa dan jangan nakal, oke?” ucap Queen sambil beranjak ke kamarnya dulu untuk
meletakkan tas dan berganti pakaian.
Beruntung, Clarissa sangat jeli dan gampang menguasai apa
yang dia lihat. Jadi, selama beberpa minggu saja melihat kebiasaan kembarannya
pada papa dan mamanya dia sudah bisa meniru dengan sangat persis dan tidak menimbulkan sedikitpun kecurigaan.
Selang tiga puluh menit, makan malam pun sudah siap. Riques
Berlyn juga ada di sana. Mereka pun makan bertiga. Terlihat indah dan sangat harmonis sekali jika seperti ini, tanpa seorang penganggu. Karena masalah Lyli, sudah Clarissa tungaskan. dan
sepertinya, Clarissa juga lumayan suka dengan Bilqis. Selama satu bulan dia di sini, anak bawaan dari mantan istri papanya itu sering sekali datang, dan tak jarang menginap. Setidaknya, ia tahu kalau saudari kembarnya tidak begitu
merasa kesepian. Ada seorang yang masih menganggapnya adik dan sepenuhnya sayang sama dia.
Tidak seperti biasa, Al dan Queen yang kecapekan langsung
tidur saja. Padahal, ini baru jam delapan lewat. Tak terkecuali bi Yul. Belum ada jam sembilan dia juga sudah tidur.
Entah ini hawanya yang enak buat tidur, semua orang
kelelahan, atau karena factor lain, Dedi juga tidur lebih awal. padahal
biasanya dia selalu tidur lewat jam satu dini hari. Jadi, baru pukul setengah
sepuluh saja kediaman Al dan Queen sudah sepi dan gelap. Dikarenakan semua penghuninya sudah lelap tertidur dan berlayar ke pulau kapuk alam mimpi.
***
Seperti biasa, pukul sembilan malam waktu Singapura Jeslyn
sudah berhasil menidurkan cucunya. Dia selama ini memang selalu disiplin. Tdak pada Berlyn, tidak pada Clarissa, pukul sembilan anak-anak harus sudah berada
di dalam kamarnya dan tidur, sementara dia sendiri, pukul setengah sepuluh juga
sudah terlelap. Karena, besok pagi-pagi sekali dia juga sudah harus bekerja, memasok seafood ke beberapa restoran dan rumah makan di seluruh penjuru negara
Singapura. Bahkan, seafood Indonesia dagangannya juga sudah sampai ke manca negara, Malaysia. Jadi, hampir setiap hari dia keluar masuk ke negara yang disebut Jiran oleh masyarakat Indonesia itu.
Sekitar pukul sebelas malam, terdengar suara berisik
seseorang di balkon apartemen milik Jeslyn.
Ada dua orang pria berpakaian serba hitam menggunakan tutup
kepala menerobos jendela kamar yang ditempati Berlyn. Tidak menunggu lama,
kurang lebih lima menitan saja, dua orang itu sudah berhasil membobol jendela
kamar yang sudah terkunci. Bahkan, tralis yang terpasang di sana juga sempat ia
itu sudah bisa masuk ke dalam kamar Berlyn tanpa menimbulkan suara berisik.
Tapi, saat salah satu dari dua orang itu melompat dari
jendela kurang hati-hati, ia menimbukan suara yang cukup mengagetkan Berlyn
hingga gadis kecil itu terjaga.
“Maa!!” teriaknya panik dengan suara berat dan ketakutan.
Dengan sigap salah satu dari orang itu
langsung membekap mulut gadi kecil itu hingga pingsan dan membawanya keluar
lewat pintu rumah. Sementara salah satunya, tetap tinggal di sana untuk
memperbaiki tralis dan jendela yang dia rusak barusan, dan ikut keluar
meninggalkan rumah flat itu juga melalui pintu rumah.
Sepertinya dua orang itu sudah sangat handal dan super.
Pekerjaannya sangat bersih. Jika saat itu juga Jeslyn terjaga dan melihat
keadaan cucunya, ia tidak akan menyangka kalau cucunya diculik. Tapi, keluar rumah entah ke mana. Sebab, selama ini Jeslyn tidak pernah lupa mengecek kunci pintu dan semua jendele rumahnya sebelum tidur.
***
Sedangkan di Indonesia, tepatnya Jakarta Pusat, Clarissa
terbangun dan menyelinap keluar dengan hanya membawa tas cangklong kecil yang
hanya berisi ponsel pribadinya dan milik Berlyn yang dia rahasiakan dari kedua orangtunya. Ia sudah
yakin, papa mama dan juga bibi pengurus rumahnya pasti sudah teler oleh ulahnya. Diam-diam dia tadi memasukkan obat tidur dengan dosis yang lumayan tinggi yang dia ambil dari kotak obat mamanya.
Sebenarnya Clarissa tidak mengerti tentang farmasi. Tapi, apa
gunanya memegang ponsel canggih yang sudah difasilitasi wifi, jika tidak
digunakan untuk browsing. Kebetulan, salah satu nama dan merk obat tidur
tersebut ada di kotak obat mamanya. Jadi, dia mengambilnya, dan memasukkan pada
tempat minum yang biasa disiapkan di meja makan. Semakin banyak mengambil air
putihnya, semakin cepat mengantuknya.
__ADS_1
“Hihihi, maafkan aku, Ama. Bukannya aku tidak memperingati
sebelumnya. Tapi, kau yang keras kepala,” gumam bocah itu seorang diri. kemudian,
ia keluar pagar setelah memastikan kalau Dedi sudah benar-benar tidur. Dia memang
tidak membuka pagar. Tapi, dia mengendalikan anak buah papanya, dan mengatakan
melalui akun yang dia bajak, kalau segela kekuasaannya dipindahkan padanya. Jadi,
dia tidak perlu repot-repot lagi, menggunakan identitas papanya. Hanya saja, dia tidak mengizinkan satu pun dari mereka membocorkan identitasnya. Jika ada masalah dan perlu mengadu pada MR.Akhira, cukup melalui nomor yang biasa digunakan saja.
“Miss Jenie, apakah anda sudah siap?” tanya seorang pria berpakaian
serba hitam yang baru saja melompat dari atas pagar setinggi tiga meteran itu.
“Ya, ayo, jangan tunda-tunda lagi,” ucap gadis kecil itu,
segera masuk ke dalam mobil jaguar hitam yang di dalamnya sudah ada seorang yang siap nelajukan mobil dengan cepat menuju bandara. Tidak menunggu lama, begitu ia memasuki dalam kabin privat jet milik papanya, pesawat tersebut langsung take off dan akan landing di Changi air line Singapura. Demi apa, jika bukan demi bertukar tempat kembali pada habitanynya masing-masimg.
Tidak menunggu sampai satu jam, Clarissa sudah tiba di blok
apartemen amanya. Ia melihat seorang pria tengah menggendong kembarannya,
dengan segera, ia menyuruh pria itu membawanya ke Bandra dan mengembalikannya
ke rumah papa dan mamanya.
“Hah, dia kok bisa sampai pingsan begitu?” tanya Clarissa
kaget. Ia takut, akan terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada kembarannya.
“Tidak apa-apa, Miss. Dia hanya terkena pengaruh bius saja. Sebentar
lagi, dia juga sudah sadar.” Jawab pria bertopeng itu dengan tegas.
“Baik kalau begitu, ini ponsel miliknya. Jika dia sudah
sadar, minta dia buka pada video. Aku telah membuat rekamnan untuknya. Dia itu
kalem, jangan bikin dia ketakutan pada kalian, bersikaplah baik dan ramah
padanya,” ucap Clalissa yang menggunakan nama samaran Jennie. Kemudian, gadis
itu segera berlari menuju lip dan naik ke apartemennya. Karena tadi dibuka dari dalam, jadi, pintu tersebut tidak terkunci. Dengan mudah bocah kecil tersebut masuk dan mengunci
pintu rumah amanya kembali dari dalam. Kebetulan memang, kunci selalu menempel di sana jika orangnya berada di dalam rumah.
Sebelum ia masuk ke dalam kamarnya, ia langsung menuju kamar
mandi yang terletak di dekat dapur untuk mencuci tangan, wajah dan kaki. Setelahnya,
ia menengok amanya yang sudah pulas tertidur.
“Besok, kau bangun tidur tidak membangungkan Berlyn lagi, Ama.
Tapi, aku. Princess of mafia, miss Jennie, hehehe,” umpat bocah itu sambil tertawa tertahan dan menutup mulutnya dengan tangan kanan. Sementara tangan kirinya memegang ganggang pintu. Setelah
itu, barulah, dia menuju kamar yang sudah sebulan dia tinggalkan, dan ditempati oleh saudarinya, Berlyn.
Baru saja dua orang itu masuk ke dalam privat jet yang tadi digunakan menjemput Clarissa dari Indonesia,
Berlyn langsung tersadar. Padahal, pesawat juga belum take off.
“Emm… em!” teriak Berlyn sambil memasang wajah ketakutan.
“Nona kecil jangan takut. Kami ini adalah teman papamu. Saudari
kembar anda meminta agar kami menjalankan ini. Kami akan antar anda ke Indonesia
dan menjalani kehidupan yang normal kembali di sana. Tenang, ya?” ucap seorang pria bertubuh tinggi. Tidak besar, dan tidak begitu kecil sedang lah.
“Gadis itu langsung diam, dan nampak mengamati pria di
depaqnnya yang terlihat merogoh saku kemejanya. Sebuah benda pipih berwana merah ia keluarkan dari dalam sana, lalu, pria itu menyerahkan pada Berlyn dan berkata, “Ini katanya milik anda, di dalam, kembaran anda sudah membuat rekaman, agar anda percaya dan tidak takut pada kami.”
Dengan sedikit ragu, Berlyn mengambil ponsel yang benar itu
adalah miliknya dari tangan pria itu. dan mulai membuka video. Ternyata benar,
terlihat Clarissa duduk di kamarnya tepat menghadap kamera.
“Hy,Linn. Maaf jika aku menakuti dan membuatmu terkejut. Kau
tahu, bukan, aku tidak bisa meninggalkan sekolahku terlalu lama? Ama terlalu sungkan pada papa dan mama kita. Padahal, dia itu orang tua. Harusnya, dia tahu, dirinya itu harusnya lebih berharga daripada harta yang papa miliki,
bukan? Jadi, aku mengambil inisiatif, secaea diam-diam minta tolong pada om-om
ini yang adalah teman baik papa agar mengantarku ke singapura, dan menjemputmu
kembali ke Indonesia. Kau tenang saja. Tak perlu kawatir. Orang rumah,
sekalipun itu semut, tidak tahu akan ini. Karena, saat makan malam, aku meletakkan obat tidur pada air putih yang akan mereka minu. So, aman. Dan ini, juga pasti akan menjadi kejutan untuk ama. Hahaha. Kau tetaplah jadi kau yang baik, jangan
ikut nakal sepertiku agar ama tidak kian darah tinggi oleh dua cucunya.”
Berlyn tersenyum setelah melihat rekaman saudari kembarnya,
dia benar-benar keren dan penuh aksi di usianya yang baru enam tahun. Seperti orang
dewasa saja. Sangat berani dalam mengambil tindakan.
Lalu, ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada pada pria
__ADS_1
yang ada di depannya. Entah itu isyarat sebagai ucapan terimakasih, atau maaf karena sudah berprasangka buruk padanya. Sepertinya,
dua-duanya benar. Karena jika dihubungkan, dua kata itu sangat nyambung.