Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Will die 4


__ADS_3

“Huh, ngeselin banget, sih tu bocah? Lagian, kenapa juga,


aku kenal dia setelah kematian om Chandra dan tante Novi?” umpat Sherly seorang diri sambil melempar buku tebal di depannya ke arah pintu. Sehingga menimbulkan


suara brisik karena buku tersebut mengenai hiasan yang berada di ruang tamu.


“Sherly! Kau ini kenapa, sih? Mama heran sama kamu,


akhir-akhir ini kamu jadi berubah jadi gadis pemarah,” umpat Nia, mamanya


Sherly.


‘Duh, mati aku!’ umpat Sherly dalam hati. Kemudian ia


buru-buru keluar kamar dan dengan tergesa-gesa pula gadis itu menuruni tangga.


“Kamu lihat! Akibat kelakuan kamu, sudah berapa hiasan mama


yang kau rusak, hah? Kau tahu, Vas bunga ini mama dapatkan dari Prancis,


harganya juga tidaklah murah, tapi kau…. “ mama Nia tidak meneruskan kalimatnya.


Ia sudah terlanjur jengkel duluan dengan ulah putri semata wayangnya. Tapi, memilih untuk diam dari pada


melepas kata kutukan pada putrinya yang manja, dan berubah aneh jadi gadis pemarah.


‘Mampus, kau Sher. Vas kesangan mama pecah!’ umpat Sherly


lagi dalam hati sambil memejamkan matanya dengan rapat.


“Kau tahu, kan ini hari apa?” tanya mama Nia dengan emosi


tertahan.


“Hari minggu, Ma,” jawab Sherly dengan kepala tertunduk.


Sebab, ia juga merasa bersalah.


“Bagus. Jadi kau ingat, ya kalau nanti kau akan bertemu


dengan pria yang akan mama jodohkan padamu. Maka, kau bersiap-siaplah, lakukan


perawatan dan pilih baju terbaikmu untuk nanti malam. Jam tujuh tepat tidak bisa lebih.” Setelah mengatakan hal itu dengan tegas, mama Nia membalikkan badan dan pergi meninggalkan putri semata wayangnya yang masih belum bisa terima dengan perjodohan ini.


“Mama, sudah aku katakana berapa kali, sih? Aku tidak mau


dijodohkan dengan siapapun. Ini menyangkut hidup dan masa depanku, biarlah aku


sendiri yang menentukan siapa yang akan jadi pendamping hidupku!” teriak Sherly


sambil menangis.


Mendengar teriakan putrinya yang terkesan sangat melawan,


mama Nia berhenti dan menoleh. “Kau selalu mengatakan hal itu sejak lima tahun silam. Dulu mama diam saja karena kurasa kau cepat atau lambat juga akan menemukan pria yang mau serius dan menikahimu. Tapi, kau sekarang sudah berusia duapuluh enam tahun, Sher. Kau bukan anak-anak atau remaja yang hanya bisa kelayapan saja ke sana kemari seperti anak usia sembilan belas tahunan.  Di usia segitu harusnya kau sudah berkeluarga dan memiliki setidaknya seorang anak.”


Sherly hanya diam tidak berani menjawab apa yang mamanya


katakana. Memang pada kenyataannya juga benar. Dia juga sudah tak lagi muda.


Tapi, sebagai wanita karir sepertinya, apakah usia duapuluh enam tahun itu tua sebagai seorang wanita lajang? Yang menikah di usia duapuluh sembilan bahkan tigapuluh satu saja juga banyak. Tapi, kenapa dia yang baru usia duapuluh enam


kok sudah mendapatkan tekanan seperti ini? Semua menggap dirinya adalah perawan tua, bahkan mamanya sendiri yang harusnya mengerti dirinya juga menganggap ini


adalah sebuah aib. Ke sana ke mari sibuk mencari pria terbaik untuk dijodohkan dengannya. Rasanya, ia tidak lebih dari barang lama dari sebuah mall yang diobral saja.


“Mama dulu bisa katakana terserah padamu. Tapi, sepertinya


tidak dengan sekarang. Jika bukan mama yang memperjuangkan masa depanmu, siapa?


Membiarkan kau memilih lagi. Tapi, berapa kali kau ditinggalkan oleh laki-laki PHP? Apakah kau tidak ingat itu?”


“Aku benci Mama yang seperti ini!” teriak Sherly dengan


jengkel lalu berlari menaiki tangga dan masuk ke dalam kamrnya. Ia menangis sepuas-puasnya.


“Ya Tuhaaaan! Kenapa hidup ini selalu tidak adil padaku?


Kenapa, setiap yang aku cintai pergi meninggalkan aku?” umpat Sherly,


melampiaskan kekesalannya.


Lelah dengan air matanya, wanita itu berusaha mencari


ketenangan dengan mengguyur tubuhnya dengan shower di kamar mandi menggunakan


air dingin. Ia merenung sambil berusaha mencari jalan keluarnya. Hingga keluar


sebuah ide.


“Waktunya sudah kian mepet. Jika tidak sekarang, mau kapan


lagi?” ucapnya seorang diri. kemudian gadis itu bergegas berganti pakaian,


membawa hand bagnya lalu, dengan Langkah mengendap-endap ia keluar rumah menuju


garasi.


“Sherly! Mau pergi ke mana, kau!” teriak mama Nia saat


mengetahui mobil putrinya keluar pagar dan meninggalkan rumah besar tersebut.


“Fiuuh! Akhirnya, bisa juga keluar dari kendang macan!”


Diabaikannya beberapa panggilan dari mamanya. akirnya ia mematikan ponsel karena merasa terganggu dengan dering dan getaran


yang berasal dari ponselnya, agar dia bisa fokus mengemudi, melakukan perjalan dari Jogja ke Jakarta seorang diri. ia mencoba melakukan peruntungan nasibnya.


Soal gagal atau berhasilnya biar Tuhan yang menentukan yang penting, ia sudah berusaha sebisa dan semampunya. Tidak hanya bawel dan diam di tempat.

__ADS_1


Tepat pukul sembilan, gadis itu akhirnya tiba juga di Jakakarta.


Sebelumnya, ia pernah diajak ke rumah Axel saat acara pernikahan omnya dulu.


Tapi, ia sedikit rada lupa-lupa ingat. Menyerah tak dapat menemukan, dan juga


ini sudah siang, akhirnya gadis itu pun menghubungi Axel.


Tapi, sudah berkali-kali ia mencoba menelfon pria itu, pria


yang usianya tiga tahun lebih muda darinya tidak mendapat respon. Bahkan, ini


sudah panggilannya yang ke limabelas kali, dan masih tidak diangkat juga.


“Ya sudah, aku akan menunggumu, Xel mungkin kau sedang sibuk,”


ucapnya seorang diri. meletakkan benda pipih itu ke atas dash boart mobil, dan mengabaikan ribuan pesan yang masuk dari mamanya.


Sherly memegang kepalanya sendiri dengan kedua tangan


dan bersandar di atas setir. Ia merasa lelah dengan semuanya. Ingin terbebas dari semua ini, atau, setidaknya, ia ingin sekali menemukan seseorang yang bisa


dijadikan tempat mengadu, dan sandaran Ketika dirinya merasa rapuh. Tapi, siapa? Papa? Mana mungkin? Dia bukan tidak memiliki seorang ayah. Tapi, ayahnya


yang tidak begitu peduli dengan keluarga. Lebih suka menghabiskan waktu luang bersama dengan perempuan lain dari pada dengan keluarganya. Pulang saja juga


belum tentu sebulan sekali.


Sherly menangis lirih sambil terus meratapi nasibnya yang


baginya itu sial. Benar-benar sial sekali. Lahir diantara keluarga yang broken dan tak memiliki saudara. Dulu, sebelum Chandra meninggal, dia adalah satu-satunya


keluarga, atau omnya yang peduli dengannya. Tapi kini? Dia seperti tak lagi memiliki siapa-siapa. Sebatang lara di tengah-tengah keluarga berada.


Deringan ponsel di atas dash board mengangetkan lamunannya. Awalnya


ia mengabaikan panggilan itu. tapi, entah apa yang membawanya untuk menengok. Dengan


lemah diulurkannya tangannya mengambil benda pipih tersebut dan melihat pada


layar, siapa yang menelfonnya.


Dirinya yang patah dan hampir menyerah juga hampir tak percaya


melihat nama kontak yang muncul di layar. Dengan segera, dihapusnya air mata yang mengalir di kedua pipi cantiknya, dan dengan segera mungkin ia mengangkat panggilan


tersebut.


“Halo, Xel,” jawabnya dengan tangan bergetar, antara suka terharu


dan tak percaya. Tapi, initinya dia sangat senang sekali saat pria yang sedari tadi ia hubungi dan tidak mengangkat panggilannya, malah menelfonnya balik. Jadi,


dia sedikit grogi.


“Ada, apa?” tanya pria itu dengan dingin,


sedikit tergesa-gesa.


“Aku berada di GYM. mau pulang.”


“Oh.” Hanya itu yang terucap dari bibir Sherly. Tapi, hatinya


berkata banyak hal, pikirannya juga sudah memikirkan bermacam-macam. ‘Wajar ya kalau tubhuh dia bagus dan keren, suka di GYM, ternyata, duh. Gimana ya rasanya dipeluk dia?’


“Ada apa?” tanya Axel lagi, membuyarkan lamunan Sherly.


“Aku di jarta sekarang. Ada di jalan panglima. Mau ke


rumahmu aku lupa jalan.”


“Kenapa?”


“Aku mau bicara sama kamu, kita ketemu, yuk!” ucap gadis


itu, dengan semangat dan sedikit tergesa-gesa.


Tak ada jawaban dari Axel.


“kamu tenang saja. Aku tidak akan bahas lagi mengenai


masalah tadi pagi. jadi, kita bertemu di mana?” ucap Sherly segera menjelaskan pada Axel.


Axel melihat tangan yang melingkar di pergelangan


lengannya. Masih pukul 10.30 WIB. Artinya, masih ada cukup waktu jika ia akan makan siang di rumah tante Queen bersama adik-adiknya.


“Di cafe anak sultan. Cari di goole map. Lima menit tidak datang


aku pulang.” Tanpa basa-basi, Axel langsung mematikan panggilannya.


“Baik, Xel.” Sherly melihat ke arah layar sentuhnya dan


ternyata panggilannya benar-benar sudah terputus. “Ini bocah, kaku banget, sih?


Terlahir di kutup, apa ya, dulu tuh? Atau, saat tante Novita hamilnya dia,


nyidam makan es dari kutub Utara dan kutub Selatan?” gumam Sherly seorang diri.


kemudian ia buru-buru menyalakan mesin dan melajukan mobilnya. Karena Axel hanya


akan memberi waktu untuknya selama lima menit. Dasar tu bocah benar-benar edan.


Umpat Sherly dalam hati.


Tapi, yang menguntungkan baginya adalah, ternyata tempat itu


tidak lah jauh letaknya dari tempat ia memarkirkan mobilnya. Sampai-sampai ia


ragu, benar apa tidak kalau ini tempatnya. Tapi, ia yakin saat ia melihat sebuah

__ADS_1


mobil  jaguar merah milik Axel terparkir


di sana.


Buru-buru gadis itu memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam café


tersebut dan mengedarkan padangannya ke seluruh penjuru café. Hingga pandangannya


terkunci di sebuah sudut cafe. Ia melihat seorang pria tampan dengan rambut coklat keemasa berkulit


putih duduk di sana sambil memainkan ponselnya sambil bersandar pada kursi.


“Axel, maaf sudah membuatmu menunggu lama,'’ sapa Sherly


sambil duduk di depan pria tersebut.


Axel hanya diam. Tidak menimpali sapaan wanita yang kini


sudah duduk di depannya. Ia jengah melihat pakaian Sherly yang terlalu mini.


“Kamu cepet banget? Apakah tempat kamu nge GYM tidak jauh


dari sini?” tanya Sherly.


“Aku tadi kebetulan sudah di jalan.”


“Oh, pantesan.” Dalam hati Sherly mengumpat, mengatai kalau


Axel curang karena beraninya hanya mampir di café yang mungkin kebetulan dekat. Atau, mungkin saja ia tadi justru saat tepat lewat di depan café ini? Makanya dia hanya memberi waktu padanya hanya lima menit saja.


“Mau bicara apa?”


“Aku sebelumnya minta maaf sama kamu terkait soal tadi pagi.


aku lagi bermasalah dengan mamaku, Xel. Makanya aku berlaku seperti itu. Maaf, ya jika kesannya memakasa dan sangat egois.”


“Lanjutkan!”


“Aku memaksa kamu itu karena aku memiliki tujuan. Sekali lagi


maaf jika ini terkesan memanfaatkan dirimu. Sebab, jika kau berada di posisi itu, aku bisa menolak permintaan mamaku dengan mudah. Aku dipaksa menikah


dengan pria pilihan mamaku, Xel. Aku sudah berkali-kali menolak tapi, ia selalu saja bersikukuh. Dia gak mau dengerin aku, dan masih saja mengira aku mengharapkan mantanku Gio kembali. Padahal, sama sekali aku sudah tidak peduli


lagi dengannya. Jadi, kedatanganku ke sini sekarang tidak akan membahas soal kantor milik om Chandra yang memang diwariskan pada kau dan Adriel adikmu. Tapi,


aku minta bantuanmu.”


“Apa?”


“Ikutlah ke Jogja, bilang pada mamaku kalau kita sebenarnya sudah lama pacaran.” Sherly menatap Axel dengan tatapan yang memelas. Berharap agar pria di depannya mau


berbaik hati dan mengabulkan permintaannya. Tapi, ia tak kunjung mendapatkan


jawaban dari pria itu. “Kamu mau, ya? plis!” ucapnya sambil menangkupkan kedua tangan


di depan dadanya sebagai tanda permohonan.


“Mamamu tidak butuh pria yang hanya mengaku jadi pacar mu,


Sher. Tapi, ia butuh menantu. Mana mungkin aku bisa menolongmu. Yang ada, suatu saat aku diminta agar menikahimu.”


“Itu bisa diatur, Xel. Kita bisa saja pura-pura putus, kan? Yang


penting hari ini. Karena nanti aku akan bertemu dengannya.”


“Maaf. Aku tidak bisa.” Axel pun meraih ponsel miliknya yang


tergeletak di atas meja. Meningglakan selembar uang lima puluh ribuan untuk membayar


minuman miliknya dan milik Sherly di atas meja, ia tindih dengan gelasnya


setelah memanggil salah satu pelayan. Kemudian pria itu pun pergi meninggalkan


Sherly yang datang dengan ide gila itu.


“Axel! Tunggu aku!” Buru-buru gadis itu mengejar Axel. Di depan


café, dengan sigap Sherly meraih lengan Axel seperti wanita yang ditinggalkan pacarnya saja.


“Xel, aku mohon. Kau jangan gitu.”


“Sher. Kau ini apa-apaan, sih?” Axel terbelalak kaget


terlebih saat melihat orang-orang di sekitar mereka pada melihat.


“Aku akan teriak nih kalau kau sudah menghamili aku!” ancam


Sherly.


“Terserah! Kau teriak saja. Pacaran sama kamu saja tidak!”


ucap Axel sambil menarik tangannya dan masuk ke dalam mobil.


Belum sempat pria itu menyalakan mobil, dia melihat Sherly


ngesot di trotoar ia berteriak, “Xel! Tega kau mutusin aku, dalam perutku ini adalah anakmu!”


Axel hanya menghela napas saja sambil geleng-geleng kepala, “Apakah


kebanyakan wanita jaman sekarang itu begitu kalau sedang jatuh cinta?


Benar-benar tidak tahu malu!” umpatnya. Tanpa pedulu pria itu menyakan mobil dan melajukannya. ‘Ck, dasar wanita… wanita. Baru saja terbebas dari tingkah konyol Bilqis


sekarang malah wanita tua itu berlaku lebih gila darinya,’ batin Axel. Sambil


menyetir mobil.


Ia masih tak habis pikir. Bagaimana bisa Sherly berbuat seperti itu di depan umum. Tidakkah ia tidak memiliki rasa malu? Batin Axel.

__ADS_1


__ADS_2