Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
WILL DIE 23


__ADS_3

"Queen ini sudah larut. Apakah kau tidak pulang?” tanya


Nayla setelah melirik kea rah jam dinding yang tergantung di ruang tamunya. “maaf,


bukannya aku mengusir. Aku hanya kawatir nanti Al mencarimu," ucap Nayla


kemudian. Segera memberi penjelasan agar tidak timbul kesalah pahaman.


Queen diam sesaat mencoba berfikir dalam mengambil


keputusan. Ia memang ingin pulang. Dia merasa lelah dan lagi seharian ini dia


belum ke kliniknya sama sekali. Di sisi lain, ia khawatir jika Nalya sendiri ia


akan prustasi dan melakukan sesuatu yang aneh-aneh dan nekat. 'Ah, aku bisa


menundanya sebentar,' batinnya.


"Al tidak ada di rumah, Kak. Dia keluar bersama


anak-anak. Tadi, rencananya juga sama Bilqis. Ya sudah, kau tenang saja. Cepat


atau lambat, aku akan menemukan Bilqis dan mengajaknya pulang."


"Terimakasih, Queen. Kau memang saudariku. Kau


benar-benar baik dan tulus," ucap Nayla sambil memeluk Queen.


"Ya sudah, aku kembali dulu. Nanti jika ada kabar


terkait Bilqis, aku akan segera hubungi kakak, ya?" ucap Queen lalu


akhirnya ia pun berpamitan untuk pulang.


Di persimpangan jalan, Queen melihat sekelibat seorang


wanita tengah berjalan bersama seorang pria yang sepertinya jarak usianya


seperti bapak dan anak. Sepertinya itu adalah Tiara. Dengan cepat Queen


memarkirkan mobilnya dan mengejar wanita tersebut. Tapi, sayang, ia kehilangan


jejaknya. Karena sudah berputar-putar di area Mall itu kurang lebih selama


setengah jam dan tidak menemukan sosok yan di carinya, Queen pun memutuskan


kembali ke rumah saja. Ia perlu mandi dan berendam air hangat dengan aroma


terapy untuk merileksasi pikirannya, badannya juga sebenarnya sangat lelah.


Melihat Queen sudah keluar dan masuk ke dalam mobil, Tiara


menyeringai dan keluar dari persembunyiannya.


"Dia siapa, Sayang?" tanya pria tua berusia kira-kira


lima puluh tiga tahun yang bersa Tiara tadi.


"Dia itu mama tirinya Bilqis. Entah, aku heran,


bagaimana ada anak dan istri pertama bisa akur dengan pelakor," umpat


Tiara kesal. Karena, ia pernah mengalami dijambak dan di seret sepanjang jalan


dari hotel ke kantor poslisi dan jadi tontonan orang-orang di jalanan yang


kebetulan melihatnya. Tapi, meski demikian, ia masih saja terus lanjut dan tak


kapok. Malah dia sepertinya mengalami kelainan jiwa. Dia suka dilabrak istri


sah. Semakan ektrime istri sah menghajarnya, ia semakin suka pula dia. walau


seluruh badannya lebam, penuh luka, sampai ditelanjangi di jalan pun Tiara


hanya tertawa. tidak menunduk menyembunyikan wajah apalagi menangis. Ekspresi


seperti itu, membuat istri sah kian geram saja. Bagi Tiara cuma satu, asal


tidak dibunuh saja. Dia menyadari itu salah, tapi menyukainya dan mengangap itu


sebagai kesenangan pribadi yang orang lain tidak tahu dan bisa merasakannya.


Makanya, ia tidak pernah mau melawan istri sah yang bertubi-tubi memberikan dia


serangan.


"Kamu yang sabar, ya? Aku tidak mengkin menceraikan


istriku. Jika sampai itu terjadi, mana bisa aku memanjakan dirimu?" ucaap


pria yang bersamanya. Karena, salah satu istri sah yang pernah menghajar Tiara


adalah istrinya. Wanita yang jadi ibu dari ketiga anaknya. Dari raut wajah pria


yang lebih pas jadi bapaknya Tiara itu seperti hendak menjelaskan sesuatu


terkait istrinya. Tapi, Tiara tidak peduli dan sepertinya tidak pernah mau


tahu. Mungkin ini juga alasan kenapa banyak om-om yang merasa nyaman dengan


Tiara. Wanita itu tidak seperti wanita lain yang hanya bisa morotin dan


akhirnya minta dinikahin secara sah, dan minta untuk menceraikan istri


pertamanya. Bahkan, Tiara juga tidak memiliki dendam dengan istrinya setelah dihajar


habis-habisan.


Tiara hanya tersenyum miring. "Memang kenapa? Aku suka


dengan suami orang. Jika aku tak ingin menerima resiko dlabrak, bisa saja aku memilih


duda kaya dan tajir. Tapi, tidak ada tantangan di dalamnya. Kalau cuma bersaing


dengan wanita lain yang juga mencintai dirinya, dan dia Sukanya cuma sama aku,


itu biasa, banyak kudapatkan kisah-kisah itu di dalam novel," jawab Tiara


sekenanya sambil berjalan menuju food courd.


Sementara pria itu berjalan mengikuti Tiara dan menyamai


langkahnya. Ia dalam hati, lelaki itu penasaran dengan pola pikir gadis muda


yang ada di sampingnya. Dan lagi, ia penasaran, kenpa Tiara sepertinya takut


jika bertemu dengn wanita yan barusan. Padahal, dia kan pandai berbohong dan pura-pura,


kalaupun dia tadi menanyakan Bilqis padanya, bisa saja pasang muka sok gak tau


dan sok kaget.


Tiba di rumah, Queen mendapati rumahnya sudah sepi. Mungkin


anak dan suaminya akan kembali nanti jam sembilan kalau tidak jam sepuluhan.


Tidak masalah kan anak gadis keluar sampai larut jika itu bersama ayahnya?


Paling juga setelah nonton masih jalan-jalan. Kali ini yang perlu Queen lakukan


adalah segera menyiapkan air hangat di dalam bethup. karena masih lama, sambil


menunggu ia gunakan waktunya untuk mencari seustau yang bisa di makan ke dalam


kulkas dapur. Karena pertunya lumayan lapar. Sejak siang tidak kemasukkan


apa-apa. Namaun, ia sendiri menyalahkan Nayla yang tidsak menemukan apa-apa di


sana meskipun hanya seteguk air putih. Dia memang lagi dalam kondisi tidak


baik.

__ADS_1


Bersamaan dengan dia selesai makan apel dan melon, bettupnya


sudah terisi air hangat sudah setengah lebih. Cukup dan sudah pas untuk


berendam. Ia tinggal menetinya aroma terapi dan sabun cair dan siap berendam di


dalamnya.


"Huuuh... begini, kan enak banget," gumam Queen


seorang diri setelah ia masuk dan berbaring sambil bersandar di ujung


bentupnya. Seketika Queen memejam kan mata dan sempat tertidur untuk beberapa


saat. Mungkin juga saking lelahnya, ditambah lagi, ia merasakan nyaman dalam


rendaman air hangat dan aroma therapy yang ia hirup.


Ia terperanjat kaget saat ponsel yang ia letakkan di dekat


kepalanya berdering dengan volume maximal.


"Halo, Al," jawabnya, dengan nada suara yang lesu


ketika mengankat panggilan dari suaminya.


"Kamu di mana, Sayang? Kamu tidur, ya?" tanya Al


dari balik telfon genggam yang ia letakkan di depan telinga Queen.


"Aku ketiruan pas berendam. Capek banget, kalian belum


selesai?" tanya Queen sambil membenarkan posisinya menjadi duduk.


"Ini mau pulang. Kamu sudah makan, apa belum? Jam


berapa kamu pulang dari tempat Nayla tadi?" tanya suaminya dengan penuh


perhatian.


"Belum, aku belum makan. jam berapa tadi, ya? sekitar


jam enam lewat aku pulang dan sampai di rumah berendam."


Terdengar kalau Al tertawa tertahan di seberang sana. Artinya,


Queen sudah berendam kurang lebih dua jam. Jika dia bilang ketiduran, pasti


sudah cukup pulas juga.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Queen merasa heran


dengan suaminya.


"Tidak. Tidak kenapa-napa. Ya sudah kau siap-siap saja.


Kami sudah hampir selesai makan dan akan pulang. Aku bawakan kamu nasi,


ya?" tawar Al.


"Oke, terimakasih." Queen mematikan panggilannya.


meletakkan ponselnya di dekat wastafel kemudian, ia mengguyur tubuhnya dengan


air hangat yang penuh dengan sabun di bawah shower, dan meraih handuk model


baju warna pink yang sudah ia siapkan sebelumnya tadi.


Ia keluar sambil membuka beberapa pesan yang masuk dari


Nayla.


"Hah, gila, aku tidur cukup lama di dalam air. ini


sudah jam sembilan lebih ternyata. Pantas saja, Al tadi tertawa," gumam


Queen seorang diri saat ia melihat jam di dalam layar ponselnya. Setelah


kembali.


“Adriel, apakah kau akan menginap di sini?” tanya Queen pada


remaja yang sudah ia anggap seperti anak sendiri itu.


“Tidak, Ma. Adriel mau pulang saja. Kasien kak Axel kalau di


rumah sendiri,” jawab remaja itu kemudian berpamitan pada Al dan Queen yang ia


hormati layaknya kedua orang tuanya.


Niat Adriel pulang sebenarnya bukan karena kasian dengan


kakaknya yang tinggal di rumah sendirian. Tapi, memang karena dia ingin tahu


lebih banyak tentang wanita yang bersama dengan kakaknya tadi. Axel mungkin


tidak menyadari, kalau Adriel tadi melihatnya tengah bersama dengan seorang


wanita cantik Ketika acara film sudah selesai dan para penonton mulai keluar.


Tiba di rumah, di dapatinya sang kakak nampak terlihat


santai bermain game di pc. Adriel hanya tertawa tertahan yang memberi kesan


mengejek dan meledek pada sang kakak yang dia anggap memang sengaja mengelabuhinya.


Memasang mka datar dan tetap fokus dengan santai. Seolah-olah sejak tadi dia


berada di rumah saja. tidak kemana-mana.


Memang benar, jika saja tadi Adriel tidak melihat Axel


dengan mata kepalanya sendiri. Pasti remaja itu tidak akan menyangka kalau kakaknya


juga habis kencan menikmati malam minggu.


“Kok murung gitu, kak? Gak ada ceria-cerianya saja. padahal,


kan kakak baru saja kencan,” timpal Adriel setelah melemparlan jaket yang baru


ia pakai ke atas sofa.


“Kencan apanya?” jawab Axel tanpa mengalihkan padangan pada


layar pc-nya.


“Lah, la tadi sama siapa itu? Calon kakak ipar, ya? buruan


nikah deh, kak. Kakak itu sudah kepala tiga dan gak muda lagi,” ucap Adriel


sambil merangkul sang kakak dari belakang.


Axel hanya diam. Ia enggan menimpali perkataan seperti itu.


Dia jua tidak pernah curhat pada adiknya terkait asmaranya. Sejauh ini, Adriel


juga tidak tahu, siapa kira-kira gadis beruntung yang dicintai oleh sang kakak


yang tampan, tajir di usia muda tapi, dingi seperti kutub utara dan selatan.


“Lagian tabungan kaka Axel juga sudah banyak. Buat honeymoon


keliling dunia atau sebulan ke Maldives juga bisa, kan? Nikahin saja dia, kak,”


imbuh Adriel lagi.


“Di aitu Cuma teman, Driel,” jawab Axel.


“Berawal dari teman, lalu saling menguatkan. Selanjutnya,


terserah kalian,” jawab Adriel. Lalu melepaskan rangkulan pada pundak Axel dan

__ADS_1


duduk di sofa.


Axel mematikan komputernya. Ia melihat ke arah Adriel yang


masih tidak percaya dengan status hubungan antara dia dan bu Laudia. Tapi, Axel


hanya akan memberitahu sekali saja. tidak pernah mau berusaha menjelaskan untuk


yang kedua kalinya. Karena, ini bukan materi pelajaran. Jika pun akan terjadi


ke salah pahaman juga bukan masalah besar, kan?


“Kok sampai malam banget, pulangnya?” tanya Axel pada


adiknya.


“Iya, kak. Tadi papa Al, ngajak makan malam dulu sambil


jalan-jalan.”


Axel mengerutkan keningnya. Jadi, ia salah kalau hanya


mengira Adriel hanya berdua saja dengan Berlyn. Memang, selama nonton dia tidak


perhatian dengan keadaan sekitar. Ketika semuanya usai pun juga dia langsung


saja pulang. Dengan harapan, Adriel atau Berlyn tidak melihatnya. Tapi, malah


ketahuan. Jadi, wajar jika tidak melihatnya.


“Mama Queen juga ikut?”


“Tidak. Dia ada urusan dengan tante Nayla. Jadi, Cuma kita,


om Dedi om Alex tante Zahara dan Lutfi saja.”


“Oh, mereka ikut, ya?” timpal Axel. Ia juga tidak penasaran


urusan apa antara Queen dan Nayla. Mungkin juga masalah Bilqis. Ia sudah lelah


dengan gadis itu. berkali-kali diingatkan juga tidak bisa, kalau dilarang malah


seperti yang di suruh. Axel berasumsi kalau tante Nayla Stess karena Ketika melarang


Bilqis agar jaga jarak dengan Tiara malah nglunjak. Makanya, ia butuh bantuan


mama semua anak. Ya, mungkin itu julukan yang tepat untuk Queen. Aebandel


apapun seorang anak, yang bahkan orangtuanya saja sudah menyerah dan angkat


tangan, ia bisa mengatasinya dengan mudah. Harusnya, dia menjadi dokter psygoloy


anak saja. Itu cocok dengan karakternya. Rasa trauma Adriel kala melihat mama


dan papanya saja terbunuh juga mama Queen yang berhasil menanganinya.


“Kak Axel sudah makan malam?” tanya Adriel.


Axel hanya mengelengkan kepalanya saja.


“Kenapa pacarnya tidak diajak makan sekalian tadi, kak? Karena


kau belum makan, bagaimana kalau aku yang memasakkan sesuatu untukmu?” tawar


Adriel penuh perhatian. Sebagai saudara yang sudah tak memiliki satu pun orang


tua mereka memang saling menyayangi dan selalu ada antara satu sama lain. Saling


mendukung di kala salah satu ada yang terjatuh. Hanya saja, untuk urusan


asmara, keduanya sama-sama tertutup. Axel mungkin karena malu untuk mengakui


siapa yang selama ini diam-diam ia sukai. Sementara Adriel, mungkin ia juga takut


pada sang kakak. Karena dia baru kelas tia SMA. Jadi, tahan dulu. Katakana saja


kalau sudah tiba waktunya.


“Pacar… pacar, apaan? Dia itu Cuma teman sesame dosen saja


di kampus, dan kebetulan lagi sama-sama gabut.” Axel mematok kening adiknya


dengan gemas. “Oke, kau bisa siapkan satu porsi kentang goreng, roti bakar


dengan telur mata sapi di dalamnya. Jangan lupa sambal saus dan mayonisenya,”


jawab Axel. Menerima tawaran sang adik dengan senang hati.


“Oke, ceff Adriel saatnya beraksi,” ucap remaja itu sambil


beranjak ke dapur yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari ruan tengah. Sedangkan


Axel hanya geleng-geleng saja melihat kelakuan adiknya.


****


Karena pulang terlalu larut, Berlyn langsung berpamitan pada


kedua orang tuanya kalau ia akan ke kamar dulu. Di sana ia melakukan pangilan


video call dengan kembarannya yang kini sudah tidak sudah tak lagi perlu


belajar. Tapi, menanggung banyak beban pekerjaan. Katanya, hidup sensiri di


negeri orang tidaklah membuatnya sepi. Ia tidak mempermasalahkan itu. Selama


komunikasi dengan Berlyn masih terjaga. Why not?


Sementara di ruang tamu, Al dan Queen kembali membahas


masalah Bilqis dan Nayla. Queen menceritakan semuanya secara mendetil pada suaminya.


Al diam sesaat berusaha berfikir.  Di benaknya, ia bisa menggali informasi pada


Axel. Mungkin sedikit banyak, pria itu tahu ke mana saja selama ini Tiara biasa


nongkrong dan bisa di temukan. Sebab, selama ini pula pria itu telah


menyelidiki secara diam-diam.


“Apa ada kemungkinan, Bilqis bersama Tiara?” tanya Al pada


istrinya.


“Etahlah. Jika memang iya, kenapa tadi saat aku telfon dia


seperti itu, ya?” jawab Queen sambil berfikir.


“Seperti itu? baaimana maksutmu?” tanya Al penasaran.


“Ya, dia nangis sesenggukan. Merasa terbuang, dan tak lagi


diinginkan keberadaannya oleh kita semua. Padahal, di sini kita semua sangat


mencemaskan dan mencari di mana keberadaannya.”


“Satu-satunya cara kita temui Tiara dan menanyakan padanya


saja.”


“Iya, kau benar.”


“Ya sudah kau sudah kan makannya? Sekarang istirahatlah!”


seru Al pada istrinya.


“Kau juga dong!”


“Iya, sebentar.” Al melihat jam sudah pukul sebelas malam


lewat. Ingin menghubungi Axel, kawatir dia sudah tidur. Mungkin, ia bisa

__ADS_1


menghubunginya besok pagi, dan memintanya untuk datang.


__ADS_2