
"Queen ini sudah larut. Apakah kau tidak pulang?” tanya
Nayla setelah melirik kea rah jam dinding yang tergantung di ruang tamunya. “maaf,
bukannya aku mengusir. Aku hanya kawatir nanti Al mencarimu," ucap Nayla
kemudian. Segera memberi penjelasan agar tidak timbul kesalah pahaman.
Queen diam sesaat mencoba berfikir dalam mengambil
keputusan. Ia memang ingin pulang. Dia merasa lelah dan lagi seharian ini dia
belum ke kliniknya sama sekali. Di sisi lain, ia khawatir jika Nalya sendiri ia
akan prustasi dan melakukan sesuatu yang aneh-aneh dan nekat. 'Ah, aku bisa
menundanya sebentar,' batinnya.
"Al tidak ada di rumah, Kak. Dia keluar bersama
anak-anak. Tadi, rencananya juga sama Bilqis. Ya sudah, kau tenang saja. Cepat
atau lambat, aku akan menemukan Bilqis dan mengajaknya pulang."
"Terimakasih, Queen. Kau memang saudariku. Kau
benar-benar baik dan tulus," ucap Nayla sambil memeluk Queen.
"Ya sudah, aku kembali dulu. Nanti jika ada kabar
terkait Bilqis, aku akan segera hubungi kakak, ya?" ucap Queen lalu
akhirnya ia pun berpamitan untuk pulang.
Di persimpangan jalan, Queen melihat sekelibat seorang
wanita tengah berjalan bersama seorang pria yang sepertinya jarak usianya
seperti bapak dan anak. Sepertinya itu adalah Tiara. Dengan cepat Queen
memarkirkan mobilnya dan mengejar wanita tersebut. Tapi, sayang, ia kehilangan
jejaknya. Karena sudah berputar-putar di area Mall itu kurang lebih selama
setengah jam dan tidak menemukan sosok yan di carinya, Queen pun memutuskan
kembali ke rumah saja. Ia perlu mandi dan berendam air hangat dengan aroma
terapy untuk merileksasi pikirannya, badannya juga sebenarnya sangat lelah.
Melihat Queen sudah keluar dan masuk ke dalam mobil, Tiara
menyeringai dan keluar dari persembunyiannya.
"Dia siapa, Sayang?" tanya pria tua berusia kira-kira
lima puluh tiga tahun yang bersa Tiara tadi.
"Dia itu mama tirinya Bilqis. Entah, aku heran,
bagaimana ada anak dan istri pertama bisa akur dengan pelakor," umpat
Tiara kesal. Karena, ia pernah mengalami dijambak dan di seret sepanjang jalan
dari hotel ke kantor poslisi dan jadi tontonan orang-orang di jalanan yang
kebetulan melihatnya. Tapi, meski demikian, ia masih saja terus lanjut dan tak
kapok. Malah dia sepertinya mengalami kelainan jiwa. Dia suka dilabrak istri
sah. Semakan ektrime istri sah menghajarnya, ia semakin suka pula dia. walau
seluruh badannya lebam, penuh luka, sampai ditelanjangi di jalan pun Tiara
hanya tertawa. tidak menunduk menyembunyikan wajah apalagi menangis. Ekspresi
seperti itu, membuat istri sah kian geram saja. Bagi Tiara cuma satu, asal
tidak dibunuh saja. Dia menyadari itu salah, tapi menyukainya dan mengangap itu
sebagai kesenangan pribadi yang orang lain tidak tahu dan bisa merasakannya.
Makanya, ia tidak pernah mau melawan istri sah yang bertubi-tubi memberikan dia
serangan.
"Kamu yang sabar, ya? Aku tidak mengkin menceraikan
istriku. Jika sampai itu terjadi, mana bisa aku memanjakan dirimu?" ucaap
pria yang bersamanya. Karena, salah satu istri sah yang pernah menghajar Tiara
adalah istrinya. Wanita yang jadi ibu dari ketiga anaknya. Dari raut wajah pria
yang lebih pas jadi bapaknya Tiara itu seperti hendak menjelaskan sesuatu
terkait istrinya. Tapi, Tiara tidak peduli dan sepertinya tidak pernah mau
tahu. Mungkin ini juga alasan kenapa banyak om-om yang merasa nyaman dengan
Tiara. Wanita itu tidak seperti wanita lain yang hanya bisa morotin dan
akhirnya minta dinikahin secara sah, dan minta untuk menceraikan istri
pertamanya. Bahkan, Tiara juga tidak memiliki dendam dengan istrinya setelah dihajar
habis-habisan.
Tiara hanya tersenyum miring. "Memang kenapa? Aku suka
dengan suami orang. Jika aku tak ingin menerima resiko dlabrak, bisa saja aku memilih
duda kaya dan tajir. Tapi, tidak ada tantangan di dalamnya. Kalau cuma bersaing
dengan wanita lain yang juga mencintai dirinya, dan dia Sukanya cuma sama aku,
itu biasa, banyak kudapatkan kisah-kisah itu di dalam novel," jawab Tiara
sekenanya sambil berjalan menuju food courd.
Sementara pria itu berjalan mengikuti Tiara dan menyamai
langkahnya. Ia dalam hati, lelaki itu penasaran dengan pola pikir gadis muda
yang ada di sampingnya. Dan lagi, ia penasaran, kenpa Tiara sepertinya takut
jika bertemu dengn wanita yan barusan. Padahal, dia kan pandai berbohong dan pura-pura,
kalaupun dia tadi menanyakan Bilqis padanya, bisa saja pasang muka sok gak tau
dan sok kaget.
Tiba di rumah, Queen mendapati rumahnya sudah sepi. Mungkin
anak dan suaminya akan kembali nanti jam sembilan kalau tidak jam sepuluhan.
Tidak masalah kan anak gadis keluar sampai larut jika itu bersama ayahnya?
Paling juga setelah nonton masih jalan-jalan. Kali ini yang perlu Queen lakukan
adalah segera menyiapkan air hangat di dalam bethup. karena masih lama, sambil
menunggu ia gunakan waktunya untuk mencari seustau yang bisa di makan ke dalam
kulkas dapur. Karena pertunya lumayan lapar. Sejak siang tidak kemasukkan
apa-apa. Namaun, ia sendiri menyalahkan Nayla yang tidsak menemukan apa-apa di
sana meskipun hanya seteguk air putih. Dia memang lagi dalam kondisi tidak
baik.
__ADS_1
Bersamaan dengan dia selesai makan apel dan melon, bettupnya
sudah terisi air hangat sudah setengah lebih. Cukup dan sudah pas untuk
berendam. Ia tinggal menetinya aroma terapi dan sabun cair dan siap berendam di
dalamnya.
"Huuuh... begini, kan enak banget," gumam Queen
seorang diri setelah ia masuk dan berbaring sambil bersandar di ujung
bentupnya. Seketika Queen memejam kan mata dan sempat tertidur untuk beberapa
saat. Mungkin juga saking lelahnya, ditambah lagi, ia merasakan nyaman dalam
rendaman air hangat dan aroma therapy yang ia hirup.
Ia terperanjat kaget saat ponsel yang ia letakkan di dekat
kepalanya berdering dengan volume maximal.
"Halo, Al," jawabnya, dengan nada suara yang lesu
ketika mengankat panggilan dari suaminya.
"Kamu di mana, Sayang? Kamu tidur, ya?" tanya Al
dari balik telfon genggam yang ia letakkan di depan telinga Queen.
"Aku ketiruan pas berendam. Capek banget, kalian belum
selesai?" tanya Queen sambil membenarkan posisinya menjadi duduk.
"Ini mau pulang. Kamu sudah makan, apa belum? Jam
berapa kamu pulang dari tempat Nayla tadi?" tanya suaminya dengan penuh
perhatian.
"Belum, aku belum makan. jam berapa tadi, ya? sekitar
jam enam lewat aku pulang dan sampai di rumah berendam."
Terdengar kalau Al tertawa tertahan di seberang sana. Artinya,
Queen sudah berendam kurang lebih dua jam. Jika dia bilang ketiduran, pasti
sudah cukup pulas juga.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Queen merasa heran
dengan suaminya.
"Tidak. Tidak kenapa-napa. Ya sudah kau siap-siap saja.
Kami sudah hampir selesai makan dan akan pulang. Aku bawakan kamu nasi,
ya?" tawar Al.
"Oke, terimakasih." Queen mematikan panggilannya.
meletakkan ponselnya di dekat wastafel kemudian, ia mengguyur tubuhnya dengan
air hangat yang penuh dengan sabun di bawah shower, dan meraih handuk model
baju warna pink yang sudah ia siapkan sebelumnya tadi.
Ia keluar sambil membuka beberapa pesan yang masuk dari
Nayla.
"Hah, gila, aku tidur cukup lama di dalam air. ini
sudah jam sembilan lebih ternyata. Pantas saja, Al tadi tertawa," gumam
Queen seorang diri saat ia melihat jam di dalam layar ponselnya. Setelah
kembali.
“Adriel, apakah kau akan menginap di sini?” tanya Queen pada
remaja yang sudah ia anggap seperti anak sendiri itu.
“Tidak, Ma. Adriel mau pulang saja. Kasien kak Axel kalau di
rumah sendiri,” jawab remaja itu kemudian berpamitan pada Al dan Queen yang ia
hormati layaknya kedua orang tuanya.
Niat Adriel pulang sebenarnya bukan karena kasian dengan
kakaknya yang tinggal di rumah sendirian. Tapi, memang karena dia ingin tahu
lebih banyak tentang wanita yang bersama dengan kakaknya tadi. Axel mungkin
tidak menyadari, kalau Adriel tadi melihatnya tengah bersama dengan seorang
wanita cantik Ketika acara film sudah selesai dan para penonton mulai keluar.
Tiba di rumah, di dapatinya sang kakak nampak terlihat
santai bermain game di pc. Adriel hanya tertawa tertahan yang memberi kesan
mengejek dan meledek pada sang kakak yang dia anggap memang sengaja mengelabuhinya.
Memasang mka datar dan tetap fokus dengan santai. Seolah-olah sejak tadi dia
berada di rumah saja. tidak kemana-mana.
Memang benar, jika saja tadi Adriel tidak melihat Axel
dengan mata kepalanya sendiri. Pasti remaja itu tidak akan menyangka kalau kakaknya
juga habis kencan menikmati malam minggu.
“Kok murung gitu, kak? Gak ada ceria-cerianya saja. padahal,
kan kakak baru saja kencan,” timpal Adriel setelah melemparlan jaket yang baru
ia pakai ke atas sofa.
“Kencan apanya?” jawab Axel tanpa mengalihkan padangan pada
layar pc-nya.
“Lah, la tadi sama siapa itu? Calon kakak ipar, ya? buruan
nikah deh, kak. Kakak itu sudah kepala tiga dan gak muda lagi,” ucap Adriel
sambil merangkul sang kakak dari belakang.
Axel hanya diam. Ia enggan menimpali perkataan seperti itu.
Dia jua tidak pernah curhat pada adiknya terkait asmaranya. Sejauh ini, Adriel
juga tidak tahu, siapa kira-kira gadis beruntung yang dicintai oleh sang kakak
yang tampan, tajir di usia muda tapi, dingi seperti kutub utara dan selatan.
“Lagian tabungan kaka Axel juga sudah banyak. Buat honeymoon
keliling dunia atau sebulan ke Maldives juga bisa, kan? Nikahin saja dia, kak,”
imbuh Adriel lagi.
“Di aitu Cuma teman, Driel,” jawab Axel.
“Berawal dari teman, lalu saling menguatkan. Selanjutnya,
terserah kalian,” jawab Adriel. Lalu melepaskan rangkulan pada pundak Axel dan
__ADS_1
duduk di sofa.
Axel mematikan komputernya. Ia melihat ke arah Adriel yang
masih tidak percaya dengan status hubungan antara dia dan bu Laudia. Tapi, Axel
hanya akan memberitahu sekali saja. tidak pernah mau berusaha menjelaskan untuk
yang kedua kalinya. Karena, ini bukan materi pelajaran. Jika pun akan terjadi
ke salah pahaman juga bukan masalah besar, kan?
“Kok sampai malam banget, pulangnya?” tanya Axel pada
adiknya.
“Iya, kak. Tadi papa Al, ngajak makan malam dulu sambil
jalan-jalan.”
Axel mengerutkan keningnya. Jadi, ia salah kalau hanya
mengira Adriel hanya berdua saja dengan Berlyn. Memang, selama nonton dia tidak
perhatian dengan keadaan sekitar. Ketika semuanya usai pun juga dia langsung
saja pulang. Dengan harapan, Adriel atau Berlyn tidak melihatnya. Tapi, malah
ketahuan. Jadi, wajar jika tidak melihatnya.
“Mama Queen juga ikut?”
“Tidak. Dia ada urusan dengan tante Nayla. Jadi, Cuma kita,
om Dedi om Alex tante Zahara dan Lutfi saja.”
“Oh, mereka ikut, ya?” timpal Axel. Ia juga tidak penasaran
urusan apa antara Queen dan Nayla. Mungkin juga masalah Bilqis. Ia sudah lelah
dengan gadis itu. berkali-kali diingatkan juga tidak bisa, kalau dilarang malah
seperti yang di suruh. Axel berasumsi kalau tante Nayla Stess karena Ketika melarang
Bilqis agar jaga jarak dengan Tiara malah nglunjak. Makanya, ia butuh bantuan
mama semua anak. Ya, mungkin itu julukan yang tepat untuk Queen. Aebandel
apapun seorang anak, yang bahkan orangtuanya saja sudah menyerah dan angkat
tangan, ia bisa mengatasinya dengan mudah. Harusnya, dia menjadi dokter psygoloy
anak saja. Itu cocok dengan karakternya. Rasa trauma Adriel kala melihat mama
dan papanya saja terbunuh juga mama Queen yang berhasil menanganinya.
“Kak Axel sudah makan malam?” tanya Adriel.
Axel hanya mengelengkan kepalanya saja.
“Kenapa pacarnya tidak diajak makan sekalian tadi, kak? Karena
kau belum makan, bagaimana kalau aku yang memasakkan sesuatu untukmu?” tawar
Adriel penuh perhatian. Sebagai saudara yang sudah tak memiliki satu pun orang
tua mereka memang saling menyayangi dan selalu ada antara satu sama lain. Saling
mendukung di kala salah satu ada yang terjatuh. Hanya saja, untuk urusan
asmara, keduanya sama-sama tertutup. Axel mungkin karena malu untuk mengakui
siapa yang selama ini diam-diam ia sukai. Sementara Adriel, mungkin ia juga takut
pada sang kakak. Karena dia baru kelas tia SMA. Jadi, tahan dulu. Katakana saja
kalau sudah tiba waktunya.
“Pacar… pacar, apaan? Dia itu Cuma teman sesame dosen saja
di kampus, dan kebetulan lagi sama-sama gabut.” Axel mematok kening adiknya
dengan gemas. “Oke, kau bisa siapkan satu porsi kentang goreng, roti bakar
dengan telur mata sapi di dalamnya. Jangan lupa sambal saus dan mayonisenya,”
jawab Axel. Menerima tawaran sang adik dengan senang hati.
“Oke, ceff Adriel saatnya beraksi,” ucap remaja itu sambil
beranjak ke dapur yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari ruan tengah. Sedangkan
Axel hanya geleng-geleng saja melihat kelakuan adiknya.
****
Karena pulang terlalu larut, Berlyn langsung berpamitan pada
kedua orang tuanya kalau ia akan ke kamar dulu. Di sana ia melakukan pangilan
video call dengan kembarannya yang kini sudah tidak sudah tak lagi perlu
belajar. Tapi, menanggung banyak beban pekerjaan. Katanya, hidup sensiri di
negeri orang tidaklah membuatnya sepi. Ia tidak mempermasalahkan itu. Selama
komunikasi dengan Berlyn masih terjaga. Why not?
Sementara di ruang tamu, Al dan Queen kembali membahas
masalah Bilqis dan Nayla. Queen menceritakan semuanya secara mendetil pada suaminya.
Al diam sesaat berusaha berfikir. Di benaknya, ia bisa menggali informasi pada
Axel. Mungkin sedikit banyak, pria itu tahu ke mana saja selama ini Tiara biasa
nongkrong dan bisa di temukan. Sebab, selama ini pula pria itu telah
menyelidiki secara diam-diam.
“Apa ada kemungkinan, Bilqis bersama Tiara?” tanya Al pada
istrinya.
“Etahlah. Jika memang iya, kenapa tadi saat aku telfon dia
seperti itu, ya?” jawab Queen sambil berfikir.
“Seperti itu? baaimana maksutmu?” tanya Al penasaran.
“Ya, dia nangis sesenggukan. Merasa terbuang, dan tak lagi
diinginkan keberadaannya oleh kita semua. Padahal, di sini kita semua sangat
mencemaskan dan mencari di mana keberadaannya.”
“Satu-satunya cara kita temui Tiara dan menanyakan padanya
saja.”
“Iya, kau benar.”
“Ya sudah kau sudah kan makannya? Sekarang istirahatlah!”
seru Al pada istrinya.
“Kau juga dong!”
“Iya, sebentar.” Al melihat jam sudah pukul sebelas malam
lewat. Ingin menghubungi Axel, kawatir dia sudah tidur. Mungkin, ia bisa
__ADS_1
menghubunginya besok pagi, dan memintanya untuk datang.