
"Mama! Apakah kau sedang sibuk?" tanya Bilqis pada Queen yang kebetulan tengah bersantai sambil membaca buku tentang psikologi yang dia pinjam dari Axel.
Queen menoleh dengan anggun. Menatap seorang gadis yang mengenakan rok berbahan katun warna coklat susu sepanjang lutut serta atasan kaos putih lengan pendek bergambar hati di bagian tengahnya. "Tidak, Sayang. Ada apa? Duduk, sini!" ucapnya sambil menepuk tempat di sebelahnya. kebetulan ia duduk di kursi panjang yang terletak di halaman belakang rumahnya.
"Bilqis minta tolong dong, Ma. Coba deh ini Bilqis bawa dua kebaya model dan warna warna yang berbeda. Kira-kira mana yang bagus buat acara wisuda kak Acel besok," ucap gadis itu sambil membuka isi tas yang di bawahnya.
Queen tersenyum tertahan. Ia ikut mengintip isi dalam tas tersebut yang Bilqis taruh di atas kuris panjang di antara mereka. Kemudian, sebuah kebaya berwarna ungu pastel dan dusty pink dikeluarkan oleh Bilqis. Lalu, gadis itu menunjukkan pada Queen dan meminta pendapatnya. Mana kira-kira yang lebih bagus.
Setalah cukup lama Queen memperhatikan kebaya tersebut, wanita itu meraih satu persatu kebaya yang Bilqis bawa. Ia melihat dan meneliti nya kemudian pun menjatuhkan pilihan pada kebaya berwarna ungu pastel. "Kau pakai ini saja, Sayang," ucapnya kemudian.
"Bener yang ini, Ma?" jawab Bilqis sedikit ragu-ragu namun matanya menunjukkan binar kebahagiaan. Karena, Queen tidak asal memilih. Tapi, begitu memperhatikan dengan teliti.
Queen tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya tersenyum dan mengangguk lembut sambil memandang Bilqis dengan penuh kasih sayang.
"Oke, besok aku akan seragaman dengan Berlyn. Karena di setiap baju ini ada dua ukuran. Satu untuk aku, satu ukuran lagi untuk Berlin. Terima kasih, Mama," ucap Bilqis kegirangan. Lalu mencium pipi kanan Queen, dan pergi berlari berhambur menuju dalam rumah.
Queen yang mendapati tingkah anak tiri dari suaminya. Ia hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala saja. Wanita itu tidak menyangka, kalau di usianya yang sudah tak lagi muda, kini ia memiliki banyak anak walaupun ia tidak mengandung dan melahirkan nya sendiri. Ngomongin soal anak ia tiba-tiba saja teringat dengan Clarissa. Al berjanji kalau akhir bulan ini akan membawanya ke Jepang bersama Berlyn untuk bertemu dengan mertua dan salah satu putri kembarnya di sana. tiba-tiba ia teringat dengan Al yang kini katanya masih berada di luar kota.
'Aku ingin menelpon, dan menanyakan apakah besok dia pulang? Karena acara wisudanya Axel besok. Sedangkan Al masih belum ada kabar sama sekali,' batin Queen.
Diraihnya buku yang ia letakkan di atas meja tadi. Kemudian wanita itu itu masuk ke dalam rumah, dan mengambil ponselnya yang ia charge di dekat ruang tv. Kemudian ia menghubungi suaminya.
Dua kali ia mencoba menelpon tapi panggilannya tidak tidak diangkat bahkan yang terakhir nomor yang dituju sedang tidak aktif. Pikiran Queen seketika gundah dan tak bisa tenang ia mulai berpikir macam-macam tentang suaminya.
'Sebenarnya ada apa sih, Al dengan mu? Apa yang kau sembunyikan dariku? Kenapa kau seperti ini? kenapa kau tidak bisa dihubungi, dan kau sebenarnya ada di mana, sih?' ucapnya dalam hati.
"Seharusnya tidak akan ada hal buruk yang terjadi pada suami ku, kan? Dia pasti baik-baik saja. Mungkin dia kehabisan baterai. Sebab, tidak biasanya ia seperti ini," gumamnya seorang diri.
🌻🌻🌻
“Chen, bagaimana? Apakah kau sudah atur penerbangan untuk nanti malam ke, Jakarta? Aku harus segera kembali, sebab besok ada acara,” ucap Al sambil memegang benda pipih dan menempelkan di pipi kanannya.
“Baik, Tuan. Semua sudah saya atur sesuai keinginan anda. Tapi, apakah kondisi anda sudah membaik?” tanya pria itu dari seberang. Kelihatannya ia sangat mempedulikan kondisi fisik big bossnya.
“Aku sudah beristirahat total selama tiga hari, harusnya aku juga baik-baik saja, kan?” ucap Al dengan santai.
“Baik. Semua sudah saya kerjakan sesuai perintah. Nanti pukul tiga pagi saya akan menjemput anda,” ucap pria itu. lalu mengakhiri panggilannya.
“Papa benar-benar akan kembali besok?” tanya Clarissa yang sudah sedari tadi mendengarkan pembicaraan Al dengan pilot pribadinya, Chen. Pria berkebangsaan Jepang yang sudah bekerja dengan papanya selama duapuluh tahun.
“Iya, Sayang. Dua hari Di Indonesia, papa akan ajak mama dan saudarimu kemari, bagaimana?” ucap Al sambil tersenyum dan meraih Pundak putrinya lalu memeluknya.
Clarissa hanya tersenyum getir. Ia sebenarnya tidak tega dengan kondisi papanya. Tapi, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Mamanya di sana pasti juga terus bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya. Sebab, sakit ini hanya dia dan amanya saja yang tahu. Jika saja mama dan saudarinya tahu, pasti mereka tidak akan sekhawatir ini, tidak akan terus menanyakan kapan suaminya akan kembali.
“Kau, kenapa? Tersenyumlah, Sayang. Papa ini tidak apa-apa. Kau dengar sendiri, apa kata dokter kemarin, bukan? Papa sudah dinyatakan sembuh total setelah melakukan perawatan selama satu bulan. Lagi pula, sakitnya juga masih belum parah, kan? Itulah salah satu alasan papa merahasiakan dari mamamu. Karena papa yakin akan mampu melawan penyakit ini,” ucap Al lagi. Menghibur putrinya.
“iya, Clarissa percaya sama papa. Clarissa Cuma sedih saja. kita tidak bisa menikmati jajanan pinggir jalan lagi seperti dulu,” ucap Clarissa sambil tersenyum. Tapi, wajahnya masih saja datar.
“Kau ini, nakal sekali, ya?” ucap Al sambil mencubit hidung putrinya dan merangkulnya.
Clarissa membalas pelukan papanya. Bibirnya masih melengkung ke atas membentuk senyuman. Tapi, matanya mulai berair. Ia mengatakan itu hanya berbohong saja. Menutupi perasaannya. Karena, ia tidak ingin papanya terbebani oleh apapun. Apalagi dengan kesedihannya.
“Pa, ini sudah siang. kau istirahatlah, sebab, besok kau akan melakukan perjalanan jauh,” ucap Clarissa setelah menghapus air matanya.
Al yang tidak pernah bisa menolak permintaan putrinya, terlebih Clarissa, ia hanya mengiyakan saja. toh, permintaannya juga semata-mata demi kebaikannya sendiri. “Baik, Sayang. Papa juga mulai merasa sedikit ngantuk. Terimakasih, ya atas semuanya. Kau baru berusia sepuluh tahun. Tapi, kau sangat berbakti merawat papa yang sakit seperti gadis dewasa saja.” Al memandang kagum dan penuh rasa sukur pada Clarissa.
“Sudah menjadi kewajiban ku, Pa. kau mati-matian banting tulang demi aku dan Berlyn. Yang paling parah lagi, kau dan mama menahan sakit dan rindu karena berpisah denganku. Aku baik-baik saja bersama ama selama ini. Tapi, tidak dengan kalian, kan?” ucap gadis kecil itu. membuat Al kian terharu saja.
“Pa, ayo kita makan malam dulu. Aku sudah menyiapkan sate
dan gulai kambing, serta jus kurma, untukmu,” ucap Clarissa.
“Kau yang memasaknya?”
“Ya, tapi masih dibantu oleh ama,” jawab gadis itu sambil
tertawa.
“Baik, papa akan makan banyak, jika itu masakan putri papa,”
ucap Al kemudian ia beranjak sambil memegangi Pundak putrinya yang merangkulnya
dari samping dengan manja.
Usai sarapan, Al langsung menuju ke dalam kamarnya. Kembali
ia mengaktifkan ponselnya. Benar saja, di sana terdapat banyak chat dan
panggilan dari istrinya. Tak ingin istrinya bersedih dan berfikiran macam-macam
tentangnya, pria itu langsung menelfonnya. Ini belum terlalu larut. Apalagi di
Jepang juga dua jam lebih cepat dengan Jakarta. Pasti istrinya masih belum tidur.
__ADS_1
Tidak di sangka, baru beberapa panggilannya tersambung,
Queen langsung mengangkat telfonnya.
“Hallo, Al. kau ada di mana sekarang? Kenapa, seharian
nomermu sulit sekali dihubungi?” tanya Queen dengan senang, dan rasa panik yang
bersamaan.
“Maaf. Tadi aku kehabisan baterai, Sayang. Karena aku surevey
di lapangan, dan tidak sempat melihat hp. Kau lagi apa?” tanya Al dengan lembut
sambil merebahkan badannya.
“Tidak ada. Aku baru saja menemani anak-anak belajar dan
mempersiapkan untuk besok. Apakah kau bisa pulang?” tanya Queen lagi, dengan
sedikit ragu.
“Tentu, Sayang. Aku akan pulang. Kau segeralah beristirahat.
Aku juga sudah merasa sangat ngantuk. Mungkin aku lelah,” ucap Al saat melihat mami
Jeslyn di ambang pintu kamarnya yang kebetulan tidak ia tutup.
“Baik, jaga dirimu baik-baik. Selamat malam,” ucap Queen
sebelum mengakhiri panggilannya.
“Tentu. Begitu juga dengan dirimu, ya? Mcuah.” Al pun
langsung mematikan panggilannya dan menoleh ke arah maminya lalu mempersilahkan
wanita yang kini sudah kian menua dan keriput itu untuk masuk.
Dengan perlahan, Jeslyn masuk ke dalam dan duduk di tepi
ranjang. Ia mulai memberi nasehat pada putranya. Sampai, jam sudah menunjukkan pukul
sembilan malam waktu setempat, wanita itu berpamitan dan meminta agar Al segera beristirahat, buat jaga-jaga, jika nanti ia tidak bisa tidur di dalam pesawat. Karena, jika sudah tiba di Indonesia, ia yakin. Putranya tidak akan bisa beristirahat dengan cukup. Karena menantunya tidak tahu mengenai kondisi Al yang sebenarnya.
****
anak-anaknya. Ia melihat Axel mulai menapakki anak tangga berpakaian jas yang ia pilihkan sejak lima hari yang lalu. Pria blasteran Indonesia, Jerman dan Kanada itu terlihat kian tampan dan gagah saja dengan pakaian itu, belum lagi nanti, saat ia mengenakan toga dalam acara graduationnya. Pasti kian terpancar kewibawaannya.
Quren tersenyum menyambut Axel “Kau sudah siap, Xel?” tanya Queen. Ketika remaja itu sedah berdiri di dekatnya.
“Sudah, Ma. Sarapannya special sekali,” ucap Axel saat
melihat salmon bakar, dan cumi-cumi saus padang dan tumis aneka sayur tanpa kecap dan saus terhidang rapi di atas meja.”
“Benarkah? Mama rasa ini biasa saja. yang special adalah hari ini di diuntukmu,” jawab Queen sambil tersenyum pada Axel. Sementara tangannya
sibuk menyendokkan makanan untuk Berlyn dan juga Adriel.
Dari dalam kamarnya Berlyn, tiba-tiba saja Bilqis muncul. Sepertinya
gadis itu baru saja selesai mandi. Tapi, masih mengenakan baju santai.
“Cie… yang mau gradiation, dah ganteng saja, selamat ya, Kak?” ucap Bilqis sambil duduk di dekat Axel.
“Nanti saja kamu ucapinnya,” timpal Axel sambil menyendokkan
nasi ke dalam piringnya.
“Mengucapkan lebih dari satu kali tidak apa-apa, kan? Sah-sah saja, kok,” jawab Bilqis.
“Iya, terserah kamu,” timpal Axel yang terkesan mengalah.
“Sudah. Berhenti berdebat! Kalian cepat sarapan, oke? Axel. Kamu
jangan sampai telat, nanti, kami pasti akan datang,” ucap Queen. Meskipun ia sendiri ragu, Al bisa benar-benar datang apa tidak. Sebab, terakhir suaminya menelfon juga kemarin malam. Sampai saat ini ia masih belum bisa dihubungi.
Axel hanya diam mematuhi perintah Queen. sebenarnya ia ingin
menayakan soal papa Al. tapi, ia tidak berani. Sebab, melihat raut wajah mama angkatnya dia sudah bisa merasakan kesedihan yang di rasakan oleh wanita itu.
“Assalamualaikum!”
Seketika semua yang barda di meja makan menolah. Di sana, di
__ADS_1
ruang tengah yang menghubungkan ruang tamu dan tempat makan berdiri seorang pria dengan kemeja warna putih dan dasi warna biru motif kotak-kaotak klasik. Tangan
kanannya menentang tas kerja, sementara tangan kirinya membawa jasnya.
“Papa!” teriak Adriel, Bilqis dan Axel. Namun, Adriel lah
yang suaranya terdengar sangat kencang. Rupanya kedatangan pria itu langsung merubah suasana sarapan pagi yang selalu hening. Ya, hening. Pasti hanya pertanyaan melalui bahasa isyarat yang Berlyn lemparkan pada mamanya saja, kemana papa.
Lain dengan Berlyn yang tak bisa bicara. begitu melihat
papanya sudah tiba, gadis kecil itu langsung melompat dan meminta gendong papanya.
“Apa kabar kalian, Sayang?” ucap Al sambil berjalan ke meja
makan setelah meletakkan tas kerja dan jas yang dibawanya tadi.
“Kami baik-baik saja, Pa,” jawab Bilqis dan Adriel. Sementra
Axel hanya diam. Terlihat sekali ia sangat bahagia melihat Al tiba. Antara senang
dan terharu juga. tapi, ia hanya diam dan tetap bersikap tenang.
“Sayang, turunlah. Kembali ke bangkumu. Biar papa juga
sarapan,” ucap Queen pelan pada Berlyn yang masih enggan turun dari gendongan papanya.
Gadis kecil itu tersenyum, dan meminta turun dengan patuh. Meski
sebenarnya ia masih rindu dengan papanya. Sudah hampir dua minggu ini nyaris tidak pernah pulang.
“Kau duduk dan lanjutkan makanmu ya, Sayang?” ucap Al lirih
sambil mengecup pipi Berlyn.
Gadis itu tersnyum dan mengangguk sambil menatap wajah
papanya.
Berlyn diam sesaat. Mengunyah makanannya dengan lambat. Ia jadi
berfikir, ia yang tidak sampai dua minggu berpisah dengan papanya saja sudah begini rindunya. Bagaimana dengan Clarissa yang berada di Jepang? Tiga hari papa di sana kemarin itu ia pasti sangat senang. Tapi, itu hanya bersikap sesaat dan
sementara saja. setelahnya ia pasti juga akan menangis juga. sedewasa apapun pola pikirnya, tetaplah dia itu anak berusia sepuluh tahun, yang lahir selisih lima menit saja lebih dulu darinya.
“Pa, Ma. Axel berangkat dulu, ya? Axel tunggu di kampus,” pamit Axel tiba-tiba. Memcahkan lamunan Berlyn yang tengah memikirkan saudari
kembarnya.
“Iya, kamu hati-hati di jalan, Xel! Tunggu kami. Rencana,
kami akan berangkat bersama om Alex dan juga tante Zahara nanti,” ucap Al sambil merangkul Axel dan menepuk punggungnya.
“Terimakasih banyak, Pa!” seru Axel lirih sambil membalas
pelukan pria itu. ia terharu sekali, dan tak habis pikir kalau akan begini
jadinya. Jika pun ada seseorang yang pantas ia tumpangi rumahnya, itu
seharusnya adalah omnya sendiri. Om Alex. Satu-satunya adik kandung yang
dimiliki mendiang mamanya. Tapi, ia sendiri juga memiliki rumah peninggalan
dari kedua orantuanya dulu.
Hanya saja, ia tidak mungkin tinggal sendiri di sana. Ia terlalu
takut setelah tahu di bawah meja makan ada terowongan kusus yang menghubungkan
dengan ruang bawah tanah yang dijadikan mendiang papa kandungnya sebagai tempat
pembantaian wanita yang mirip dengan mendiang mamanya. Karena sikap psyco yang
papanya miliki pula, ia sampai harus kehilangan mamanya dengan cara yang tragis
pula. Bahkan, juga papa tirinya yang kebetulan mirip dengan mendiang papa kandungnya pun juga meninggal karena berusaha keras melindungi mamanya, dan menjadi korban
akibat dendam kusumat dari mamanya sendiri. Nenek Dian, nenek tiri Axel dan Adriel.
‘Mama, Papa. Apakah kalian melihatku dari alam sana? Aku
telah lulus sarjana matematika S1. Bahkan, aku juga sudah akan menjadi dosen. Apakah
ini cukup memanggakan untuk kalian?’ batin pria itu sambil mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
Awalnya remaja itu ingin pergi ke pemakaman kedua orang tuanya terlebih dahulu. Tapi, karena waktu sudah sangat mepet. Jadi, ia mengurungkan saja. ia bisa
datang nanti, setelah acara wisuda selesai. Setelahnya, baru ia mengatur waktu untuk ke Jogja, mengirim doa dan rangkaian bunga ke makan papa tirinya, Chandra. Mungkin juga sekalian ke makan nenek tirinya. Sebab, ia sudah berjanji untuk memaafkan, menghilangkan dendam demi kebaikannya sendiri. Sekalipun itu sangat sulit. Namun, harus. Karena menurut riset yang ia baca, kebanyakan para Psycopath adalah mereka yang memiliki dendam dalam hatinya. Tentu saja, ia tidak ingin begitu.