
Meskipun di dapur ia tidak sendiri, Nayla melakukan semuanya tanpa meminta bantuan dan bicara apapun kepada Lyli. Sejak ia diajak ngobrol mama mertuanya dan sedikit memahami bagaimana hubungan Al dan Quen, pikirannya kini mulai terbuka.
"Apa yang kau masak, Sayang?" tanya Clara setelah kembali dari teras belakang.
Nayla menoleh ke belakang, lalu menjawab, "Pokcoy saus tiram dan youbg tofu, Ma."
"Pesanan, nenek?"
"Iya, tapi ini Nay masak agak banyakan, soalnya lihat mas Al kemarin kayaknya suka."
"Al itu apapun suka, Nay. Dia tidak pernah protes dengan apapun yang sudah dimasakan untuknya."
Nayla nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, emang selama di Jepang pria itu tidak pernah protes apapun yang dia masak untuknya. Selalu di makan dan pasti habis. Bahkan Nayla sendiri hampir tidak tahu makanan apa yang di sukai suaminya meski sudah tiga tahun menikah.
"Lyli, kau beres-beres rumah saja, dulu, biar urusan dapur saya dan Nayla yang bereskan," ucap Clara sambil membersihkan sisik ikan mas.
"Baik, Bu." Gadis itu pun pergi menunggalkan dapur sambil sedikit melirik ke arah Nayla saat ia melintas di depannya.
"Mau di apain itu, Ma?" tanya Nayla heran. Sebab, ia sudah memasak banyak makanan. Kenapa mamanya masih saja mengeluarkan ikan emas dari dalam kulkas yang di belinya tadi.
"Mumpung ikannya masih segar, kita pepes saja, kan ada Vico. Nanti juga akan ada tamu yang ikut makan malam bersama kita."
"Siapa, Ma?" tanya Nayla penasaran. Tebakan dia sih, Quen. Tapi, sepertinya salah.
"Nanti kau juga tahu," jawab Clara sambil meneruskan pekerjaannya.
Dua puluh menik kemudian semua sudah selesai, tinggal menunggu ikan mas masak saja. Karena semua perabot sudah di cuci dan lantai dapur sudah di pel, Clara menyuruh Nayla untuk mandi terlebih dahulu, sementara dia masih di dapur, menunggu.
***
Ketika Lyli akan memberihkan teras belakang tanpa sengaja dia menangkap obrolan Al dan Vico.
"Serius Al kau tidak pernah?" tanya Vico yang nampak penasaran.
"Dibilangin tidak percaya, emang ada ya, tampang nakal di mukaku?" jawab Al serius. Tapi, setengah bercanda.
"Ya gak gitu juga, sih. Kebanyakan orang sepertimu identik dengan sapaan buaya darat."
"Sialan, kau!" cetus Al. Tangannya meraba rokok dan korek api di atas meja, mengambilnya satu batang dan menyalakannya.
"Gimana kelanjutannya kamu sama Mega tadi? Jadi balikan, nih?"
"Coba tebak? Kalau kau bisa menebaknya dengan benar, nih. Buat kamu!" Seru Vico sambil mengeluarkan dua lembar tiket bioskop dari dalam sakunya.
Al melirik sambil memainkan asap rokoknya, lalu tersenyum miring sedikit menyeringai.
__ADS_1
"Kena harus horor? Gak tertarik aku, berikan saja itu pada Quen dia pasti menyukainya."
"Hay, film horor itu film yang romantis buat ditonton sama cewek, so pas doi takut dia akan memeluk kita erat-erat, gimana?"
"Hah, kau pernah melakukan itu?"
"Sekali sama Mega saja."
"Selebihnya paling film biru, dan berbuat di kursi bioskop bareng Si...."
Al menghentikan pembicaraannya ketika Lyli permisi membersihkan tempat itu. Dalam hati dua pria itu meruntuk, bagaimana bisa satu pun dari mereka tidak ada yang mendengarnya?
Tapi, aman-aman saja, Al tidak berbicara yang aneh-aneh, sementara Vico, dia masih bujang. Jadi, wajar saja.
"Udah petang nih, aku balik dulu, ya?"
"Kemana? Kamu gak makan dulu?"
"Tidak deh, lain kali saja aku kemari untuk makan malam, ok?"
"Oh, Ok. Ya sudah hati-hati. Semoga sukses bro!" Seru Al sambil membuang puntung rokoknya asal.
Pukul enambelas tiga puluh tamu yang ditunggu pun tiba. Semua keluarga sudah siap menyambut. Hanya Quen dan Alex saja yang belum tiba. Katanya sih, terjebak macet.
"Iya, donk. Kan sudah smester lima." ucap wanita berambut ikal sebahu itu.
"Ayo, mari, duduk. Bagaimana kabar papa dan mama, Yun?" sapa Vivian pada wanita itu yang hanya datang dengan Candra, Putranya.
"Mama dan papa baik-baik saja, Tante." Wanita itu pun duduk, melihat ke arah Vano, kemudiam pandangannya teralihkan pada Al yang baru saja selesai membersihkan badan turun dari tangga bersama Nayla. Seketika wanita itu terbengong.
"Bagaimana? Makan dulu apa bahas soal bisnis ini, Yun?" ucap Vano yang membuat Yuna tersadar dari lamunannya.
"Eh, ya enaknya gimana? Terserah kamu lah." jawab Yuna sedikit tergagap.
"Makan dulu saja, Yuk. Keburu makanannya dingin, loh!" Sahut Clara.
"Quen belum datang, Sayang."
"Sudah, gak sampe dua menit dia tiba, kok."
Dan benar saja, dari ambang pintu gadis bersama pria bule muncul dan menyapa semua yang ada di dalam ruangan.
Kembali Yuna terbengong saat melihat Quen tiba. Lalu berkata pada Clara dan Vano, "Tunggu, biar aku tebak. Ini sepasang anak kalian?"
"Yang cowok adik kembarku," ujar Vano bercanda sambil terkekeh.
__ADS_1
"Dasar, tua narsis!" cetus Yuna.
Dan di ikuti gelak tawa oleh semua.
"Al, Quen, sayang. Kenalkan ini tante Yuna, dulu sahabat papa kalian sekak SMA, loh," ucap Clara mengenalkan dua anaknya pada Yuna. Lalu kemudian, ia memperkenalnan Alex dan Nayla sebagai menantu dari putra putrinya.
"Ya ampun... Van, kau sudah jadi kakek?" ucap Yuna nampak ceria.
"Ya Clara juga donk, dia Nenek. Kenapa malah cuma ke aku gitu ngarahinnya yang seolah udah tua?"
"Ya, ok baiklah. Cinta kalian sejati dan abadi, sampai kakek nenek," ucap Yuna.
"Sudah, sudah ayo kita makan dulu, keburu makanan dingin!" Seru Vivian.
Dan mereka pun semua berpindah ke meja makan untuk menikmati hidangan yang sudah disiapkan sedari sore. Sementara mata Yuna tidak lepas pandangannya dari Al dan Quen. Vano yang menyadari hal itu, melemparkan candaannya.
"Ngapain lihat-lihat anak kami? Pengen punya sepasang kek gitu? Bikin lagi. Candra udah kuliah masa belum punya adek? Suami suruh pulang jangan cuma keliling dunia saka, Yun. Hahaha."
"Dasar kau, Van. Dari dulu sama menyebalkannya."
Usai makan dan sedikit obrolan untuk mendekatkan antar hubungan persaudaraan, kini Vano di temani Al berdiskusi dengan Yuna. sedangkan Candra, ia ngobrol di teras dengan Alex bersama kedua kakek, dan juga nenek mertuanya.
"Tamunya itu, Ma? Siapa sih, dia?" tanya Nayla penasaran.
"Dia adalah sahabat papa sejak SMA," jawab Clara.
Tapi, tetap saja menantunya tidak puas dengan jawabannya sebab, Nayla merasa seperti ada yang Clara sembunyikan.
"Cuma sahabat? Tidak yakin, deh Nay, Ma. Dari cara bicara sih ok. Tapi kayaknya memang ada yang Mama sembunyiin."
"Dulu, mereka di jodohkan. Pernah tunangan juga. Tapi, papap gak mau daj tetap pilih mama," jawab Clara sambil tertawa.
"Tapi, tante Yuna mau sama papa?" Wanita itu semakin bertambah penasaran.
"Jelas, siapa yang gak mau sama papa Vano, dia ganteng, kan?" ucap Clara sambil tertawa.
Kali ini Nayla tidak dapat berkomentar, dalam hati ia merasa kagum dengan mama mertuanya. Bisa menerima kedatangan mantan tunangan suaminya dengan baik layaknya saudara. Lalu, kenapa dia tidak bisa menerima kedekatan Quen dan Al? Mereka tumbuh bersama sejak masih bayi di asuh oleh orang tua yang sama meski kenyataanya beda orang tua.
Ini malah teman dekay dari SMA yang tidak menjamin di antara salah satu dari mereka tidak tumbuh cinta,bahak sempat tunangan mertuanya bisa dengan enteng membiarkan mereka berada dalam satu ruangan. Walau ada Al, tapi, ada kemungkinan besar kan kalau Al di jepang mereka hanya berdua saja?
"Mama Hebat, Nay harus banyak belajar dari Mama." Hanya itu kalimat yang terucap dari bibir Nayla.
"Nay, kau tahu pondasi dalam langgengnya suatu hubungan itu apa? Satu saling percaya, dua jujur. Papa sudah menikah dengan mama dan menolak wanita lain artinya hanya ada mama di hatinya, gak ada yang lain. Cemburu boleh, karena kalau ga sayang ga cinta ga bakal cemburu, misal kamu lihat pak makmur tiba-tiba pdkt dengan janda muda, kau biasa saja, yang ada malah mendukung dari pada hanya menduda. Kenapa? Karena kau tidak cinta. Tapi, jika Al yang demikian? Jelas kau akan marah bahkan sampai lupa diri melakukan banyak hal gila. Tapi, terlalu cemburu juga tidak baik, karena hanya akan membuat pasangan kita menjadi risih dan bosen sama kita."
Nayla diam sesaat, merenungi setiap kalimat yang Clara sampaikan.
__ADS_1