Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 2 PART 194


__ADS_3

Fatimah hanya terkikik melihat ekspresi Diaz dan Queen yang


menurutnya sangat lucu, sebenarnya gadis itu masih ingin menggoda pasangan itu.


Tapi, takut nanti malah ketahuan Umik saja.


“Kalian ngobrol saja di taman, aku akan membantu Umik dulu,”


ucap Fatimah.


Diaz menatap Queen dengan isyarat kalau dia menyetujui saran


dari adiknya dan hendak mengajak Queen pergi ke taman.


“Apa kamu tidak apa-apa. Diaz?” tanya Queen khawatir.


“Tidak perlu sekawatirkan itu, ayo,” ucap Diaz sekali lagi


sambil mengulurkan tangan hendak menggandengnya.


Wanita itu pun beranjak sambil menerima ulurang tangan diaz,


keduanya berjalan ke teras depan sambil berpegangan tangan. Diaz berani


begitu karena tahu, kalau umiknya pasti sedang sibuk di dapur, kalau saja ada,


mana mungkin berani dia.


Sampai di teras, keduanya hanya duduk di kursi depan


berjajar dan dipisahkan dengan satu meja yang ada di antara dua kursi itu.


“Kamu kapan kira-kira bisa balik ke Jakarta lagi?” tanya


Queen memulai percakapan.


“Secepatnya. Kamu sudah kangen ya sama aku?” goda Diaz lagi,


namun kali ini dia berhenti sampai di situ saat melihat perubahan mimik wanita


di sebelahnya tiba-tiba saja serius.


“Kemarin sebelum kamu balik ke Bandung sempat ketemu


Hanifah, ya? Saat ponselmu seharian tidak dapat aku hubungi. Kalian bertemu di


kantin rumah sakit tempat kamu bekerja, kan?”


Pria itu tidak berani menatap ke arah Queen, nada suaranya


penuh penekanan, ia Nampak sangat kecewa. Bahkan Diaz pun bingung harus


menjelaskan atau tidak dia juga tidak tahu, ia hanya tak ingin kalau sampai


Umik dan adiknya tahu akan masalah ini. Dia harus tetap menjelaskan agar tidak


terjadi salah paham antara dia dan Queen. Bagaimana pun yang ia cintai hanyalah


Queen, bukan Hanifah.


“Queen, dengerin aku, iya waktu itu tiba-tiba Hanifah datang


ke rumah sakit pada saat aku jam pulang, aku juga tidak tahu bagaimana bisa


tepat sekali, kebetulan, atau memang dia diam-diam tahu dengan jadwalku. Aku


pun juga terkejut.”


“Lalu apa yang kalian berdua bahas di halaman belakang di malam sebelumnya?


Kenapa tiba-tiba saja Hanifah pergi sambil menangi? Gak mungkin kan kau tidak


tahu?”


Diaz diam, ia tahu selain menjenguknya, Queen memang ingin


menanyakan ini secara langsung. Lalu, tahu dari mana dia kalau Hanifah


menemuinya?


“Queen, apapun yang terjadi, dan apa saja yang aku bicarakan


sama Hanifah, kamu percaya tidak kalau aku Cuma sayang kamu?”


“Buktikan kalau begitiu.” Wanita itu pun sedikit


memalingkan  wajahnya. Terlihat sekali


kalau dia kecewa. Hanya saja dia tidak ingin menunjukkannya.


“Kita nikah saja secepatnya, agar kita bisa tinggal bareng


satu rumah dan satu kamar, biar tidak ada lagi salah paham diantara kita.”


Queen masih membisu. Ia berfikir benar kalau Diaz hanya


mencintainya, Aditya yang begitu jelas hanya menciptakan jarak di antara dia


dan Diaz saja. Wanita itu sedikit mengarahkan wajahnya untuk menghadap pada Diaz dan


perlahan mulai menatap wajahnya, meski belum mampu menatap ke dalam mata pria


itu.


“Kalau begitu kapan kamu akan datang melamarku? Biar aku


sampaikan pada kakekku.”


Diaz tersenyum, ia meletakan tangannya di atas punggung


tangan Quuen yang ada di atas meja. Sebenarnya pria itu ingin memeluk sekali lagi


wanitanya. Tapi, tidak mungkin. Karena berada dalam situasi yang canggung Queen


pun mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan Umik dan juga Ftimah. Lalu begitu


saja wanita itu ngeloyong ninggalin Diaz di teras. Queen pergi ke dapur


membantu Umik dan Fatimah yang tengah menyiapkan makan malam.


“Nanti kamu nginep, Queen? Tanya Umik dengan ramah dan


sabar.


“Eh, tidak Umik, saya akan pulang nanti ba’da Magrib.”


“Kirain kamu nginep, dan besok pagi ke Jakarta barengan sama


Diaz. Kalau iya, tidak apa-apa, tidur saja sama Fatimah.”


“Terimakasih Umik, saya akan pulang, Tidak baik juga, kan


kalau wanita menginap di rumah pria sebelum ada ikatan apapun.”


Wanita paruh baya itu pun tersenyum, ia membatin, ‘wajar


saja Diaz sangat menyukai Queen, dia sangat ngerti tata krama. Meski dia tidak begitu


religious dia bisa membawa diri dalam bermasyarakat, mana yang pantas dan mana


yang tidak ia juga sangat tahu.”


Sekitar setengah jam Queen membantu Umik di dapur, tiba-tiba


saja ponselnya yang ada di dalam tasnya berdering. Wanita itu segera mencuci


tangan dan mengambil benda pipih itu dari dalam tasnya lalu mengangkatnya.


“Halo, kak. Ada apa?”


“Kamu di mana? Cepat pulang sekarang!” cetus Al dengan otoliter,


seolah tak mau mendengar alasan apapun dan tak memberi kesempatan untuk Queen


menjelaskannya.


Queen melihat ke arah Umik dan juga Fatimah yang juga ada di


dapur, gadis itu baru saja tiba entah, tadi ia kemana saja.


“Kak, aku ada di Bandung, habis Magrib nanti aku juga akan


pulang, kok.”


“Tidak, kau harus tiba di rumah sebelum Magrib, kamu mau pulang


sekarang atau kakak yang akan datang kesana membawamu pulang dengan paksa?”


Queen merasa Al saat ini benar-benar emosi. Ia menunjukan


secara terang-terangan betapa tidak Sukanya dia jika ia pergi menemui Diaz.


Bahkan untuk merayu dan merengek agar diberi waktu pun juga dia tidak berani.


“Ya sudah, kak. Aku kembali sekarang,” jawab Queen lirih


dengan kecewa. Lalu mematikan ponselnya dan melihat ke arah Umik halimah dan


juga Fatimah. Queen berfikir mereka terlihat senang dan bahagia dengan


kedatangannya sampai masak banyak makanan juga untuk menyambut dirinya. Apa


kira-kira kakanya tidak marah jika menundanya? Queen dari lahir sudah kenal


dengan Al dia itu seperti apa, sulit marah tapi jika sudah marah… Dia akan


melakukan apapun yang telah diucapkan. Terlebih sekarang tidak ada mama,


satu-satunya orang yang bisa meredam kemarahan kakaknya.


Dengan sangat berat hati Queen pun akhirnya harus pamit,


entah alasan apa yang akan ia pakai. Melihat keceriaan di wajah yang mulai


menua itu ia tidak tega. Tapi, bukan kah jauh lebih kasian jika nanti Al


datanaag kemari sambil marah-marah dan menyeretnya keluar dari rumah ini?


“Umik… Sebelumnya saya minta maaf, saya harus segera kembali


sekarang.” Queen hanya menunduk tak mampu melihat wajah yang akan kecewa dengan


kalimatnya.


“Loh kenapa, Queen? Apakah ada masalah? Umik masak juga


belum mateng, kamu belum makan pula.” Benar juga, wanita paruh baya itu


terdengar kecewa sekali.


“Barusan kakak telfon, katanya masih ada hal yang perlu


segera di selesaikan, Umik,” jawab Queen terpaksa berebohong.


“Ya sudah tidak apa-apa, hati-hati di jalan, ya? Lain kali


datanglah kemari lebih awal, mungkin kakakkmu khawatir jika kau pulang malam.


Tidak apa-apa, salam buat kakak dan kakekmu, ya?”


 Karena rasa sedih,


kecawa dan marah yang bercampur jadi satu di hati Queen, membuat ia sampai


menangis di perjalanan. Selang beberapa menit dalam perjalanan, Al kembali


menelfon, pria itu pasti memastikan ia sudaah pulang atau belum.


“Sudah pulang belum?” tanyanya dingin begitu ia mengangkat

__ADS_1


panggilannya.


“Iya, ini ada di perjalanan,” jawab Queen sambil sedikit


terisak.


Tak ada jawaban dari Al, sebenarnya pria itu juga merasa


sedih dan hancur jika melihat Queen sampai menangis, terlebih yang membuatnya


menangis adalah dirinya sendiri. Tapi bagaimana? Ia sepertinya yang dikatakan


Kakek, Juna dan juga Vico dulu itu benar, ia benar-benar telah jatuh cinta


pada adiknya. Pria itu pun langsung mematikan panggilannya begitu saja. Dia tidak


kuat jika terlalu lama mendengarkan adiknya menangis.


Queen melempar asal ponselnya ke atas dashboard mobil sebagai


pelampiasan rasa kesalnya, ia terus menangis dan terisak, benda pipih itu pun


kembali berdering. Tanpa melihat siapa yang menefonnya, Queen mebentak orang


itu, karena mengira dia adalah Al.


“Ada apa lagi, Kak? Sudah kubilang, kan kalau aku sudah pulangg,


ini aku lagi nyetir, sudah tidak di rumah Diaz lagi, apa kau ingin aku tidak


fokus agar aku tertarak dan mati?”


“Maaf, Queen.’’


Queen terkejut mendengar suara yang lembut itu, ia melihat


ternyata bukan Al, melainkan Diaz.


“Diaz, maafkan aku, aku kira tadi… “


“Sudah tidak apa-apa, kamu hati-hati di jalan ya? Hubungi


aku jika sudah sampai,” jawab pria itu dengan lembut.


‘’Maafin aku Diaz, sampaikan maafku pada umik dan Fatimah, juga ya? Aku


dah ngecewain mereka,’’ ucap Quuen, kian terisak.


 “iya, tidak apa-apa,


ya sudah, hati-hati di jalan ya Sayang.” Pria itu pun mematikan panggilannya. Ia


melamun sebentar merasa kalau Al benar-benar tidak menyukainya, apapun yang


sudah ia korbankan sekalipun demi adiknya sepertinya dia juga tidak mau tahu, sedikitpun hatinya seolah tidak pernah terketuk.


Diaz pun masuk ke dalam rumah karena dia belum sholat ashar,


baru saja ia hendak menutup pintu rumahnya, sebuah mobil warna hitam memasuki


halaman dan menclaksonnya sebanyak dua kali.


Diaz berhenti melihat mobil itu, lalu turun seorang wanita


dengan pakaian celana jeans Panjang berwana biru terang, dan atasan bluse putih


lengan Panjang melempar senyum padanya.


“Hanifah?” gumamnya lirih, Ia jadi semakin bingung saja, ini


kebetulan atau memang sudah diatur? Tapi siapa? Apa benar Al? bukankah Al


selalu memprioritaskan kebahagiaan adiknya selama ini?


Entah sejak kapan wanita itu mulai berjalan, tanpa sadar


Hanifah sudah berdiri tepat di hadapannya saja. “Diaz! Hey, kamu ngelamunin


apa?” ucap gadis itu dengan ramah. Sambil menyapukan tangannya di depan wajah


Diaz.


“Hanifah? Kapan kamu tiba dari luar negeri?”


“Baru saja, aku langsung kemari tadi tuh, mau nunjukin


sesuatu,” ucap Hanifah dengan riang.


“Nunjukin apa? Tanya Diaz, heran.


“Ini.” Gadis itu pun tanpa berfikir panjang melepas bebrapa


kancing baju teratasnya dan mengekspose dadanya yang mulus tanpa tato.


“Hanifah, apa yang kau lakukan?” teriak Diaz dengan reflek


sambil memalingkan panggilannya.


“Aku kasih tahu kamu kalau aku ke Amerika kemarin itu, buat


hapus tato aku,” jawab gadis itu dengan riang sambil memasang lagi kancing


bajunya.


“Ada siapa Diaz kok rame sekali?” tanya Umik dari dalam


rumah. “Loh, siapa ini Diaz? Kok tidak di suruh masuk?”


Tak lama kemudian Fatimah juga menyusul dari belakang Umik.


Gadis belia itu mengamati Hanifah mulai dari atas sampai bawah.


“Ini Hanifah, Umik,” ucap Diaz memperkenalkan.


Sebelumnya Umik Halimah Nampak diam, Ia mencoba


Hanifah. Dengan ramah, Umik pun mempersilahkan tamunya masuk ke dalam.


“Hanifah, kamu sama Umik dan adikku dulu, ya? Aku belum


shlat Ashar tadi,” ucap Diaz, lalu pergi ninggalin Hanifah di ruang tamu.


“Iya, tidak apa-apa,” jawab wanita itu dengan senyumannya


yang selalu ceria, dan selalu menunjukan keramahannya di manapun.


“Kamu kalau tidak slah, saudaranya Queen, ya?’’ tanya Umik


Halimah dengan ramah dan bersahabat.


“Iya tante, benar.” Jawab Hanifah. Seketika suasana jadi


kian canggung dan hening. Fatimah merasa aneh saja wanita yang di mana-mana


juga selalu dipanggil Umik termasuk oleh Queen pula kini dipanggil tante.


“Barusan kak Queen juga dari sini buat jenguk kakakku,


kenapa kau datang setelah dia pulang?”tanya Fatimah to the point.


“Oh, iyakah? Apakah dia sudah lama di sini?” tanya Hanifah


lagi.


“Cuma sebentar saja, Nak Hanifah. Tadi kakaknya telfon ada


urusan mendadak katanya,” sahut umik sebelum keduluan Fatimah.


“Fatimah, tolong ambilkan minum buat kak Hanifah, gih.”


“Baik, Umik, jawab gadis belia itu dengan jengkel pergi ke dapur. Setelah menyajikan minuman pun ia kembali ke belakang dengan alasan


mengembalikan nampan. Tapi, gadis itu menunggu kakaknya selesai sholat.


“Fatimah, kok tidak ikut menemui kak Hanifah?” sapa Diaz


pada adiknya yang malah nonton tv di ruang tengah.


“Kakak suka sama dia? Kalau iya, kenapa harus mengajak kak


Queen tunangan?” tanya Fatimah dengan sorot mata yang tajam.


Diaz tidak menjawab, ia duduk di sebelah adiknya sambil


memegang kepalanya. “Kakak Cuma mencintai kak Queen saja, Fatimah. Tapi, juga


tidak tega dengan kak Hanifah, di balik keceriaannya itu, sebenarya ia


sangatlah rapuh.


“Kalau kakak gak bisa tegas, kasian kak Queen juga dong,


kalau emang gak suka sama dia, ya sudah, katakana saja tidak, jangan Cuma kasih


harapan palsu.’’


“Tidak, Fatimah.”


“Kalian berdua kok malah asik ngumpul di sini, sih. Yuk


kita makan sekarang saja, habis ini kak Hanifah mau kembali ke Jakarta


katanya.”


Umik pun sibuk menyiapkan hidangan yang tadi ia masak


berdua dengan Queen.


“Biar aku tebak ya, Tante, ini pasti yang masak Tante sama,


Queen, deh.” Ucap Hanifah berlagak cceria. Memang gadis yang usianya tiga tahun


lebih muda dari Queen itu paling pandai menyembunyikaan kesedihannya. Lebih


suka tertawa dari pada menunjukan  kondisi


hati dan perasaannya yang sebenarnya.


“Kalian pasti sudah sangat akrab, ya sampai hafal ciri khas


masakan dia?” ucap Umik, sambil tersenyum ramah.


“Ya, begitulah tante, dia dari kecil memang hobi di dapur,”


jawab Hanifah, dan semuanya pun tertawa. Bahkan, Fatimah yang awalnya ilfeel


dengan gadis itu pun juga bisa akrab, dari segi mana pun tak Nampak kalau


Hanifah seperti sedang cari muka apalagi merebut kakak semata wayangnya dari Queen.


Ketika semuanya sedang santai, dan bercengkrama setelah makan


Diaz mulai mengutarakan kemauannya yang Fatimah sendiri juga sempat denger tadi


sebelumnya. Pria itu sengaja mengatakan di depan Hanifah, agar dia tak lagi


berharap padanya lagi. Soal Al yang tak suka dengannya? Ah, pikir belakangnan


saja.


“Umik, Diaz pengen segera tunangan dengan  Queen, kapan kita bisa kesana untuk


melamarnya?”


Seketika sauna pun menjadi hening, Hanifah pun Nampak kaget


dan hampir tidak mempercayainya. Tapi, jika ia berbah murung bukan Hanifah


Namanya, ‘Tenang Hanifah, jangan lebai, tunjukan pada mereka kalau kau saudara

__ADS_1


yang baik, lemah hanya untuk Diaz aja selain kakek Andrean.’


“Kalian sudah saling bicara?”


“Ya, sudah, Umik. Queen malah maunya kita cepet nikah saja.”


“ya sudah, sampaikan padanya, biarkan dia dan keluarganya mengatur


tanggalnya saja, nanti kita bertiga sama keluarga kesana,” ucap Umik Halimah.


🍀🍀🍀🍀


Sedangkan pukul setengah enam sore, Queen baru tiba di


rumah. Di ruang tamu ia melihat Al yang tengah dudk sambil membaca surat kabar.


Wanita itu tidak menyapanya, ia berlalu begitu saja melewati kakaknya.


Al sadar kalau adiknya masih merasa jengkel dengannya, ia


juga tidak mau menambah kejengkelanny. Tapi, untuk tidak menyapanya Ia pun


tidak bisa.


“Sudah pulang kamu Sayang?”


“Iya,” jawab Queen singkat, dan berlalu begitu saja.


Al yang tidak terima di cuekin pun meletakan surat kabar di


atas meja dan mengikuti Queen, bahkan menerobos ke kamarnya sebelum wanita itu


menutup pintu.


“Kak, keluarlah, aku capek perlu istirahat, besok aku sudah


harus kembali praktek,” ujar wanita itu sambil melemparkan tasnya di atas


tempat tidur.


“Maafin kakak jika selama ini terlalu keras sama kamu, kakak


Cuma khawatir dan takut kamu kenapa-napa,” ucap Al di belakang telinga Queen.


Queen tidak menjawab, ia hanya berusaha melepaskan diri


dekapan kakaknya yang memeluknya dari belakang.


“Sudah jangan begini, lepaskan aku!” ucap Queen, merasa


risih.


“Queen, aku…. “ Kalimat Al mengambang tak terselesaikan


ketika adiknya mendorong dirinya keluar lalu mengunci kamarnya.


“Papa, Mama suah pulang!”


Al menoleh melihat Nayla yang tengah menggendong Bilqis, ia


menahan senyumnya lalu berlalu begitu saja, dan menuruni anak tangga.


Bilqis menatap mamanya sambil tersenyum menghibur, “Papa


mungkin masih merasa lelah, Ma. Jangan ambil hati, ya? Mama yang sabar, ya?


Jangan sampai penghuni rumah ini seperti musuh, papa sudah berantem sama tante,


masa kalian berempat semuanya saling marahan?’’


“Iya, Sayang. Terimakasih ya sanyang.” Nayla pun mengajak


putrinya masuk ke dalam kamarnya, ia meminta Bilqis tetap diam di atas


ranjangnya sementara dia mandi dulu sebentar. Kurang lebih sepuluhmenit Nayla


sudah selesai dan kembali menemani Bilqis sambil keduanya saling bercengkrama.


Selama seharian penuh tidak bwertemu dengan putrinya membuat


Nayla merasa sangat Rindu karena dia memang hampir tidak pernah berpisah selain


putrinya sekolah.


“Mama, kenapa sih kok jahat?” tanya bocah bermata lebar itu


dengan polos.


Nayla tersentak kaget saat mendengar  pertanyaan seperti itu dari putrinya, ia


khawatir jika seharian ini Queen atau bahkan Al mengatakan sesuatu pada Bilqis.


“Loh, Bilqis kok bilang gitu?”


“Habis, mama melukai tante sampai bikin tante Queen marah,


bahkan yang melaporkan papa ke polisi juga mama, kan?”


Nayla merasa jengkel, bagaimana bocah yang usianya baru


menginjak lima tahun bisa berkata demikian? Tak mau dipandang sebelah mata oleh


putrinya sendiri, Nayla pun malah menjadikan Queen sebagai kambing hitamnya.


“Mama terpaksa melakukan itu, Sayang, seperti itu hanya demi


mempertahankan apa yang menjadi milik mama dan Bilqis. Memang ini kelihatannya


jahat. Tapi, sebenarnya tidak kok, Sayang.”


“Maksut Mama apa?”


“Kamu apa tidak merasa jika sekarang semenjak tante Queen


pergi ke kantor, papa jadi cuek sama mama? Itulah kenapa mama lebih sering


menghibur diri dengan cara dia-diam bertemu dengan om Jevin. Mama sengaja melakukan


penculikan terhadap tante Queen agar jika dia tidak ada papa bisa kembali


normal seperti dulu, baik sama mama dan perhatian pada Bilqis. Tapi, lihat,


papa malah melindungi dia, kan? Bahkan sampai membunuh orang yang menculik tante


Queen?”


“Lalu, kenapa, Mama malah melaporkan papa ke kantor polisi?


Jelas tante marah jika kakak satu-satunya dipenjarakan.”


“Tujuan mama adalah, agar dia yang mengambil alih dan


mengakui kalau dialah yang mebunuh om Adit, biar dia yang menggantikan masuk


penjara. Tapi lihat, dia sangat egois, bahkan tidak punya rasa terimakash


sedikitpun, kan pada papa? Kau lihat sendiri tadi, papa mau bicara saja malah


diusir dari kamrnya, dan kita pun jadi kena imbas, papa menjadikan kita


pelampiasan rasa kesalnya pada tante.”


“Kenapa gak marah balik sama tante saja, Ma?”


“Papa tidak berani, karena dia adiknya, dan dia harus melindunginya yah, jadi


seperti itulah, masalahnya adalah tante Queen.”


Nayla tersenyum sambil memeluk putri kecilnya lalu ia


meminta Bilqis segera ke kamarnya untuk belajar.


🌛🌛🌛🌛


Di café dekat tempat penjemputan bandara Soekarno Hatta,


Seorang pria memainkan gadgetnya sambil terus melihat waktu di pojok kiri atas.


Tanpa sadar sudah hampir setengah jam ia menunggu kedatangan kakak dan


keponakannya. Tapi, belum juga tiba.


Demi mengusir sepi, pria itu pun membuka aplikasi game


cacing yang sedang viral dimainkan oleh semua kalangan dan juga usia. Baru


beberapa menit Alex pun berhasil masuk sepuluh besar, bersamaan dengan


pemberitahuan itu pula, orang yang ditunggunya menelfon.


“Halo, kak. Apakah kau sudah landas?”


“Aku bersama Axel ada di tempat parkir mobil, kamu ada di


mana?”


‘’Aku ada di café, Kak, tunggu sebentar aku akan keluar,”


ucap pria itu, lalau Alex pu keluar dan langsung pandangannya tertuju pada


seorang wanita yang tengah menggandeng tangan anak laki-laki berpostur lebih


tinggi dibandingkan dengan anak seusia duabelas tahun lainnya. “


“Itu om alex, Mama.” Bocah itu tersenyum sambil menujuk kea


rah dirinya.


Alex pun berlari ke arah mereka dan mengambil alih


barang  bawaan mereka berdua. Alex sempat


terpaku melihat body kakaknya yang terlihat lebih berisi dari sebelum ia


berangkat ke Australia.


“Kakak bahagia tinggal di Australia, ya?”


“Tentu saja tidak, Kakak sangat bahagia tinggal di sini lah,


Kita mau ke mana sekarang?”


“Badan kakak kelihatan berisi gitu sekarang, kirain bahagia


saja,” ujar Alex sambil memasukan barang bawaan Novita dan Axel ke dalam


bagasi. “kita ke rumah lamamu bersama Aditya, dulu, Kak. Mertuamu sudah menunggu di


sana.”


“Aku akan punya adik bayi, Om. Mama sebenarnya hamil,


makanya kelihatan sedikit gendut,” ucap Axel sambil tertawa kecil.


Sedangkan dua orang dewasa itu sama-sama terdiam. Alex juga


terlihat canggung mau berbicara apa, apalagi bertanya itu anak siapa, sangat


tidak enak baginya. Namun, Novita yang bisa menangkap gelagat adiknhya segera


memberi jawaban pada adik semata wayangnya itu.


“Tiba di sana, akan aku ceritakan, agar sekalian mertuaku


tahu.”


Alex pun mengangguk dan meminta semuanya masuk ke dalam


mobil dan mengemudikan mobilnya menuju kediaman lama Novita.

__ADS_1


__ADS_2