
Fatimah hanya terkikik melihat ekspresi Diaz dan Queen yang
menurutnya sangat lucu, sebenarnya gadis itu masih ingin menggoda pasangan itu.
Tapi, takut nanti malah ketahuan Umik saja.
“Kalian ngobrol saja di taman, aku akan membantu Umik dulu,”
ucap Fatimah.
Diaz menatap Queen dengan isyarat kalau dia menyetujui saran
dari adiknya dan hendak mengajak Queen pergi ke taman.
“Apa kamu tidak apa-apa. Diaz?” tanya Queen khawatir.
“Tidak perlu sekawatirkan itu, ayo,” ucap Diaz sekali lagi
sambil mengulurkan tangan hendak menggandengnya.
Wanita itu pun beranjak sambil menerima ulurang tangan diaz,
keduanya berjalan ke teras depan sambil berpegangan tangan. Diaz berani
begitu karena tahu, kalau umiknya pasti sedang sibuk di dapur, kalau saja ada,
mana mungkin berani dia.
Sampai di teras, keduanya hanya duduk di kursi depan
berjajar dan dipisahkan dengan satu meja yang ada di antara dua kursi itu.
“Kamu kapan kira-kira bisa balik ke Jakarta lagi?” tanya
Queen memulai percakapan.
“Secepatnya. Kamu sudah kangen ya sama aku?” goda Diaz lagi,
namun kali ini dia berhenti sampai di situ saat melihat perubahan mimik wanita
di sebelahnya tiba-tiba saja serius.
“Kemarin sebelum kamu balik ke Bandung sempat ketemu
Hanifah, ya? Saat ponselmu seharian tidak dapat aku hubungi. Kalian bertemu di
kantin rumah sakit tempat kamu bekerja, kan?”
Pria itu tidak berani menatap ke arah Queen, nada suaranya
penuh penekanan, ia Nampak sangat kecewa. Bahkan Diaz pun bingung harus
menjelaskan atau tidak dia juga tidak tahu, ia hanya tak ingin kalau sampai
Umik dan adiknya tahu akan masalah ini. Dia harus tetap menjelaskan agar tidak
terjadi salah paham antara dia dan Queen. Bagaimana pun yang ia cintai hanyalah
Queen, bukan Hanifah.
“Queen, dengerin aku, iya waktu itu tiba-tiba Hanifah datang
ke rumah sakit pada saat aku jam pulang, aku juga tidak tahu bagaimana bisa
tepat sekali, kebetulan, atau memang dia diam-diam tahu dengan jadwalku. Aku
pun juga terkejut.”
“Lalu apa yang kalian berdua bahas di halaman belakang di malam sebelumnya?
Kenapa tiba-tiba saja Hanifah pergi sambil menangi? Gak mungkin kan kau tidak
tahu?”
Diaz diam, ia tahu selain menjenguknya, Queen memang ingin
menanyakan ini secara langsung. Lalu, tahu dari mana dia kalau Hanifah
menemuinya?
“Queen, apapun yang terjadi, dan apa saja yang aku bicarakan
sama Hanifah, kamu percaya tidak kalau aku Cuma sayang kamu?”
“Buktikan kalau begitiu.” Wanita itu pun sedikit
memalingkan wajahnya. Terlihat sekali
kalau dia kecewa. Hanya saja dia tidak ingin menunjukkannya.
“Kita nikah saja secepatnya, agar kita bisa tinggal bareng
satu rumah dan satu kamar, biar tidak ada lagi salah paham diantara kita.”
Queen masih membisu. Ia berfikir benar kalau Diaz hanya
mencintainya, Aditya yang begitu jelas hanya menciptakan jarak di antara dia
dan Diaz saja. Wanita itu sedikit mengarahkan wajahnya untuk menghadap pada Diaz dan
perlahan mulai menatap wajahnya, meski belum mampu menatap ke dalam mata pria
itu.
“Kalau begitu kapan kamu akan datang melamarku? Biar aku
sampaikan pada kakekku.”
Diaz tersenyum, ia meletakan tangannya di atas punggung
tangan Quuen yang ada di atas meja. Sebenarnya pria itu ingin memeluk sekali lagi
wanitanya. Tapi, tidak mungkin. Karena berada dalam situasi yang canggung Queen
pun mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan Umik dan juga Ftimah. Lalu begitu
saja wanita itu ngeloyong ninggalin Diaz di teras. Queen pergi ke dapur
membantu Umik dan Fatimah yang tengah menyiapkan makan malam.
“Nanti kamu nginep, Queen? Tanya Umik dengan ramah dan
sabar.
“Eh, tidak Umik, saya akan pulang nanti ba’da Magrib.”
“Kirain kamu nginep, dan besok pagi ke Jakarta barengan sama
Diaz. Kalau iya, tidak apa-apa, tidur saja sama Fatimah.”
“Terimakasih Umik, saya akan pulang, Tidak baik juga, kan
kalau wanita menginap di rumah pria sebelum ada ikatan apapun.”
Wanita paruh baya itu pun tersenyum, ia membatin, ‘wajar
saja Diaz sangat menyukai Queen, dia sangat ngerti tata krama. Meski dia tidak begitu
religious dia bisa membawa diri dalam bermasyarakat, mana yang pantas dan mana
yang tidak ia juga sangat tahu.”
Sekitar setengah jam Queen membantu Umik di dapur, tiba-tiba
saja ponselnya yang ada di dalam tasnya berdering. Wanita itu segera mencuci
tangan dan mengambil benda pipih itu dari dalam tasnya lalu mengangkatnya.
“Halo, kak. Ada apa?”
“Kamu di mana? Cepat pulang sekarang!” cetus Al dengan otoliter,
seolah tak mau mendengar alasan apapun dan tak memberi kesempatan untuk Queen
menjelaskannya.
Queen melihat ke arah Umik dan juga Fatimah yang juga ada di
dapur, gadis itu baru saja tiba entah, tadi ia kemana saja.
“Kak, aku ada di Bandung, habis Magrib nanti aku juga akan
pulang, kok.”
“Tidak, kau harus tiba di rumah sebelum Magrib, kamu mau pulang
sekarang atau kakak yang akan datang kesana membawamu pulang dengan paksa?”
Queen merasa Al saat ini benar-benar emosi. Ia menunjukan
secara terang-terangan betapa tidak Sukanya dia jika ia pergi menemui Diaz.
Bahkan untuk merayu dan merengek agar diberi waktu pun juga dia tidak berani.
“Ya sudah, kak. Aku kembali sekarang,” jawab Queen lirih
dengan kecewa. Lalu mematikan ponselnya dan melihat ke arah Umik halimah dan
juga Fatimah. Queen berfikir mereka terlihat senang dan bahagia dengan
kedatangannya sampai masak banyak makanan juga untuk menyambut dirinya. Apa
kira-kira kakanya tidak marah jika menundanya? Queen dari lahir sudah kenal
dengan Al dia itu seperti apa, sulit marah tapi jika sudah marah… Dia akan
melakukan apapun yang telah diucapkan. Terlebih sekarang tidak ada mama,
satu-satunya orang yang bisa meredam kemarahan kakaknya.
Dengan sangat berat hati Queen pun akhirnya harus pamit,
entah alasan apa yang akan ia pakai. Melihat keceriaan di wajah yang mulai
menua itu ia tidak tega. Tapi, bukan kah jauh lebih kasian jika nanti Al
datanaag kemari sambil marah-marah dan menyeretnya keluar dari rumah ini?
“Umik… Sebelumnya saya minta maaf, saya harus segera kembali
sekarang.” Queen hanya menunduk tak mampu melihat wajah yang akan kecewa dengan
kalimatnya.
“Loh kenapa, Queen? Apakah ada masalah? Umik masak juga
belum mateng, kamu belum makan pula.” Benar juga, wanita paruh baya itu
terdengar kecewa sekali.
“Barusan kakak telfon, katanya masih ada hal yang perlu
segera di selesaikan, Umik,” jawab Queen terpaksa berebohong.
“Ya sudah tidak apa-apa, hati-hati di jalan, ya? Lain kali
datanglah kemari lebih awal, mungkin kakakkmu khawatir jika kau pulang malam.
Tidak apa-apa, salam buat kakak dan kakekmu, ya?”
Karena rasa sedih,
kecawa dan marah yang bercampur jadi satu di hati Queen, membuat ia sampai
menangis di perjalanan. Selang beberapa menit dalam perjalanan, Al kembali
menelfon, pria itu pasti memastikan ia sudaah pulang atau belum.
“Sudah pulang belum?” tanyanya dingin begitu ia mengangkat
__ADS_1
panggilannya.
“Iya, ini ada di perjalanan,” jawab Queen sambil sedikit
terisak.
Tak ada jawaban dari Al, sebenarnya pria itu juga merasa
sedih dan hancur jika melihat Queen sampai menangis, terlebih yang membuatnya
menangis adalah dirinya sendiri. Tapi bagaimana? Ia sepertinya yang dikatakan
Kakek, Juna dan juga Vico dulu itu benar, ia benar-benar telah jatuh cinta
pada adiknya. Pria itu pun langsung mematikan panggilannya begitu saja. Dia tidak
kuat jika terlalu lama mendengarkan adiknya menangis.
Queen melempar asal ponselnya ke atas dashboard mobil sebagai
pelampiasan rasa kesalnya, ia terus menangis dan terisak, benda pipih itu pun
kembali berdering. Tanpa melihat siapa yang menefonnya, Queen mebentak orang
itu, karena mengira dia adalah Al.
“Ada apa lagi, Kak? Sudah kubilang, kan kalau aku sudah pulangg,
ini aku lagi nyetir, sudah tidak di rumah Diaz lagi, apa kau ingin aku tidak
fokus agar aku tertarak dan mati?”
“Maaf, Queen.’’
Queen terkejut mendengar suara yang lembut itu, ia melihat
ternyata bukan Al, melainkan Diaz.
“Diaz, maafkan aku, aku kira tadi… “
“Sudah tidak apa-apa, kamu hati-hati di jalan ya? Hubungi
aku jika sudah sampai,” jawab pria itu dengan lembut.
‘’Maafin aku Diaz, sampaikan maafku pada umik dan Fatimah, juga ya? Aku
dah ngecewain mereka,’’ ucap Quuen, kian terisak.
“iya, tidak apa-apa,
ya sudah, hati-hati di jalan ya Sayang.” Pria itu pun mematikan panggilannya. Ia
melamun sebentar merasa kalau Al benar-benar tidak menyukainya, apapun yang
sudah ia korbankan sekalipun demi adiknya sepertinya dia juga tidak mau tahu, sedikitpun hatinya seolah tidak pernah terketuk.
Diaz pun masuk ke dalam rumah karena dia belum sholat ashar,
baru saja ia hendak menutup pintu rumahnya, sebuah mobil warna hitam memasuki
halaman dan menclaksonnya sebanyak dua kali.
Diaz berhenti melihat mobil itu, lalu turun seorang wanita
dengan pakaian celana jeans Panjang berwana biru terang, dan atasan bluse putih
lengan Panjang melempar senyum padanya.
“Hanifah?” gumamnya lirih, Ia jadi semakin bingung saja, ini
kebetulan atau memang sudah diatur? Tapi siapa? Apa benar Al? bukankah Al
selalu memprioritaskan kebahagiaan adiknya selama ini?
Entah sejak kapan wanita itu mulai berjalan, tanpa sadar
Hanifah sudah berdiri tepat di hadapannya saja. “Diaz! Hey, kamu ngelamunin
apa?” ucap gadis itu dengan ramah. Sambil menyapukan tangannya di depan wajah
Diaz.
“Hanifah? Kapan kamu tiba dari luar negeri?”
“Baru saja, aku langsung kemari tadi tuh, mau nunjukin
sesuatu,” ucap Hanifah dengan riang.
“Nunjukin apa? Tanya Diaz, heran.
“Ini.” Gadis itu pun tanpa berfikir panjang melepas bebrapa
kancing baju teratasnya dan mengekspose dadanya yang mulus tanpa tato.
“Hanifah, apa yang kau lakukan?” teriak Diaz dengan reflek
sambil memalingkan panggilannya.
“Aku kasih tahu kamu kalau aku ke Amerika kemarin itu, buat
hapus tato aku,” jawab gadis itu dengan riang sambil memasang lagi kancing
bajunya.
“Ada siapa Diaz kok rame sekali?” tanya Umik dari dalam
rumah. “Loh, siapa ini Diaz? Kok tidak di suruh masuk?”
Tak lama kemudian Fatimah juga menyusul dari belakang Umik.
Gadis belia itu mengamati Hanifah mulai dari atas sampai bawah.
“Ini Hanifah, Umik,” ucap Diaz memperkenalkan.
Sebelumnya Umik Halimah Nampak diam, Ia mencoba
Hanifah. Dengan ramah, Umik pun mempersilahkan tamunya masuk ke dalam.
“Hanifah, kamu sama Umik dan adikku dulu, ya? Aku belum
shlat Ashar tadi,” ucap Diaz, lalu pergi ninggalin Hanifah di ruang tamu.
“Iya, tidak apa-apa,” jawab wanita itu dengan senyumannya
yang selalu ceria, dan selalu menunjukan keramahannya di manapun.
“Kamu kalau tidak slah, saudaranya Queen, ya?’’ tanya Umik
Halimah dengan ramah dan bersahabat.
“Iya tante, benar.” Jawab Hanifah. Seketika suasana jadi
kian canggung dan hening. Fatimah merasa aneh saja wanita yang di mana-mana
juga selalu dipanggil Umik termasuk oleh Queen pula kini dipanggil tante.
“Barusan kak Queen juga dari sini buat jenguk kakakku,
kenapa kau datang setelah dia pulang?”tanya Fatimah to the point.
“Oh, iyakah? Apakah dia sudah lama di sini?” tanya Hanifah
lagi.
“Cuma sebentar saja, Nak Hanifah. Tadi kakaknya telfon ada
urusan mendadak katanya,” sahut umik sebelum keduluan Fatimah.
“Fatimah, tolong ambilkan minum buat kak Hanifah, gih.”
“Baik, Umik, jawab gadis belia itu dengan jengkel pergi ke dapur. Setelah menyajikan minuman pun ia kembali ke belakang dengan alasan
mengembalikan nampan. Tapi, gadis itu menunggu kakaknya selesai sholat.
“Fatimah, kok tidak ikut menemui kak Hanifah?” sapa Diaz
pada adiknya yang malah nonton tv di ruang tengah.
“Kakak suka sama dia? Kalau iya, kenapa harus mengajak kak
Queen tunangan?” tanya Fatimah dengan sorot mata yang tajam.
Diaz tidak menjawab, ia duduk di sebelah adiknya sambil
memegang kepalanya. “Kakak Cuma mencintai kak Queen saja, Fatimah. Tapi, juga
tidak tega dengan kak Hanifah, di balik keceriaannya itu, sebenarya ia
sangatlah rapuh.
“Kalau kakak gak bisa tegas, kasian kak Queen juga dong,
kalau emang gak suka sama dia, ya sudah, katakana saja tidak, jangan Cuma kasih
harapan palsu.’’
“Tidak, Fatimah.”
“Kalian berdua kok malah asik ngumpul di sini, sih. Yuk
kita makan sekarang saja, habis ini kak Hanifah mau kembali ke Jakarta
katanya.”
Umik pun sibuk menyiapkan hidangan yang tadi ia masak
berdua dengan Queen.
“Biar aku tebak ya, Tante, ini pasti yang masak Tante sama,
Queen, deh.” Ucap Hanifah berlagak cceria. Memang gadis yang usianya tiga tahun
lebih muda dari Queen itu paling pandai menyembunyikaan kesedihannya. Lebih
suka tertawa dari pada menunjukan kondisi
hati dan perasaannya yang sebenarnya.
“Kalian pasti sudah sangat akrab, ya sampai hafal ciri khas
masakan dia?” ucap Umik, sambil tersenyum ramah.
“Ya, begitulah tante, dia dari kecil memang hobi di dapur,”
jawab Hanifah, dan semuanya pun tertawa. Bahkan, Fatimah yang awalnya ilfeel
dengan gadis itu pun juga bisa akrab, dari segi mana pun tak Nampak kalau
Hanifah seperti sedang cari muka apalagi merebut kakak semata wayangnya dari Queen.
Ketika semuanya sedang santai, dan bercengkrama setelah makan
Diaz mulai mengutarakan kemauannya yang Fatimah sendiri juga sempat denger tadi
sebelumnya. Pria itu sengaja mengatakan di depan Hanifah, agar dia tak lagi
berharap padanya lagi. Soal Al yang tak suka dengannya? Ah, pikir belakangnan
saja.
“Umik, Diaz pengen segera tunangan dengan Queen, kapan kita bisa kesana untuk
melamarnya?”
Seketika sauna pun menjadi hening, Hanifah pun Nampak kaget
dan hampir tidak mempercayainya. Tapi, jika ia berbah murung bukan Hanifah
Namanya, ‘Tenang Hanifah, jangan lebai, tunjukan pada mereka kalau kau saudara
__ADS_1
yang baik, lemah hanya untuk Diaz aja selain kakek Andrean.’
“Kalian sudah saling bicara?”
“Ya, sudah, Umik. Queen malah maunya kita cepet nikah saja.”
“ya sudah, sampaikan padanya, biarkan dia dan keluarganya mengatur
tanggalnya saja, nanti kita bertiga sama keluarga kesana,” ucap Umik Halimah.
🍀🍀🍀🍀
Sedangkan pukul setengah enam sore, Queen baru tiba di
rumah. Di ruang tamu ia melihat Al yang tengah dudk sambil membaca surat kabar.
Wanita itu tidak menyapanya, ia berlalu begitu saja melewati kakaknya.
Al sadar kalau adiknya masih merasa jengkel dengannya, ia
juga tidak mau menambah kejengkelanny. Tapi, untuk tidak menyapanya Ia pun
tidak bisa.
“Sudah pulang kamu Sayang?”
“Iya,” jawab Queen singkat, dan berlalu begitu saja.
Al yang tidak terima di cuekin pun meletakan surat kabar di
atas meja dan mengikuti Queen, bahkan menerobos ke kamarnya sebelum wanita itu
menutup pintu.
“Kak, keluarlah, aku capek perlu istirahat, besok aku sudah
harus kembali praktek,” ujar wanita itu sambil melemparkan tasnya di atas
tempat tidur.
“Maafin kakak jika selama ini terlalu keras sama kamu, kakak
Cuma khawatir dan takut kamu kenapa-napa,” ucap Al di belakang telinga Queen.
Queen tidak menjawab, ia hanya berusaha melepaskan diri
dekapan kakaknya yang memeluknya dari belakang.
“Sudah jangan begini, lepaskan aku!” ucap Queen, merasa
risih.
“Queen, aku…. “ Kalimat Al mengambang tak terselesaikan
ketika adiknya mendorong dirinya keluar lalu mengunci kamarnya.
“Papa, Mama suah pulang!”
Al menoleh melihat Nayla yang tengah menggendong Bilqis, ia
menahan senyumnya lalu berlalu begitu saja, dan menuruni anak tangga.
Bilqis menatap mamanya sambil tersenyum menghibur, “Papa
mungkin masih merasa lelah, Ma. Jangan ambil hati, ya? Mama yang sabar, ya?
Jangan sampai penghuni rumah ini seperti musuh, papa sudah berantem sama tante,
masa kalian berempat semuanya saling marahan?’’
“Iya, Sayang. Terimakasih ya sanyang.” Nayla pun mengajak
putrinya masuk ke dalam kamarnya, ia meminta Bilqis tetap diam di atas
ranjangnya sementara dia mandi dulu sebentar. Kurang lebih sepuluhmenit Nayla
sudah selesai dan kembali menemani Bilqis sambil keduanya saling bercengkrama.
Selama seharian penuh tidak bwertemu dengan putrinya membuat
Nayla merasa sangat Rindu karena dia memang hampir tidak pernah berpisah selain
putrinya sekolah.
“Mama, kenapa sih kok jahat?” tanya bocah bermata lebar itu
dengan polos.
Nayla tersentak kaget saat mendengar pertanyaan seperti itu dari putrinya, ia
khawatir jika seharian ini Queen atau bahkan Al mengatakan sesuatu pada Bilqis.
“Loh, Bilqis kok bilang gitu?”
“Habis, mama melukai tante sampai bikin tante Queen marah,
bahkan yang melaporkan papa ke polisi juga mama, kan?”
Nayla merasa jengkel, bagaimana bocah yang usianya baru
menginjak lima tahun bisa berkata demikian? Tak mau dipandang sebelah mata oleh
putrinya sendiri, Nayla pun malah menjadikan Queen sebagai kambing hitamnya.
“Mama terpaksa melakukan itu, Sayang, seperti itu hanya demi
mempertahankan apa yang menjadi milik mama dan Bilqis. Memang ini kelihatannya
jahat. Tapi, sebenarnya tidak kok, Sayang.”
“Maksut Mama apa?”
“Kamu apa tidak merasa jika sekarang semenjak tante Queen
pergi ke kantor, papa jadi cuek sama mama? Itulah kenapa mama lebih sering
menghibur diri dengan cara dia-diam bertemu dengan om Jevin. Mama sengaja melakukan
penculikan terhadap tante Queen agar jika dia tidak ada papa bisa kembali
normal seperti dulu, baik sama mama dan perhatian pada Bilqis. Tapi, lihat,
papa malah melindungi dia, kan? Bahkan sampai membunuh orang yang menculik tante
Queen?”
“Lalu, kenapa, Mama malah melaporkan papa ke kantor polisi?
Jelas tante marah jika kakak satu-satunya dipenjarakan.”
“Tujuan mama adalah, agar dia yang mengambil alih dan
mengakui kalau dialah yang mebunuh om Adit, biar dia yang menggantikan masuk
penjara. Tapi lihat, dia sangat egois, bahkan tidak punya rasa terimakash
sedikitpun, kan pada papa? Kau lihat sendiri tadi, papa mau bicara saja malah
diusir dari kamrnya, dan kita pun jadi kena imbas, papa menjadikan kita
pelampiasan rasa kesalnya pada tante.”
“Kenapa gak marah balik sama tante saja, Ma?”
“Papa tidak berani, karena dia adiknya, dan dia harus melindunginya yah, jadi
seperti itulah, masalahnya adalah tante Queen.”
Nayla tersenyum sambil memeluk putri kecilnya lalu ia
meminta Bilqis segera ke kamarnya untuk belajar.
🌛🌛🌛🌛
Di café dekat tempat penjemputan bandara Soekarno Hatta,
Seorang pria memainkan gadgetnya sambil terus melihat waktu di pojok kiri atas.
Tanpa sadar sudah hampir setengah jam ia menunggu kedatangan kakak dan
keponakannya. Tapi, belum juga tiba.
Demi mengusir sepi, pria itu pun membuka aplikasi game
cacing yang sedang viral dimainkan oleh semua kalangan dan juga usia. Baru
beberapa menit Alex pun berhasil masuk sepuluh besar, bersamaan dengan
pemberitahuan itu pula, orang yang ditunggunya menelfon.
“Halo, kak. Apakah kau sudah landas?”
“Aku bersama Axel ada di tempat parkir mobil, kamu ada di
mana?”
‘’Aku ada di café, Kak, tunggu sebentar aku akan keluar,”
ucap pria itu, lalau Alex pu keluar dan langsung pandangannya tertuju pada
seorang wanita yang tengah menggandeng tangan anak laki-laki berpostur lebih
tinggi dibandingkan dengan anak seusia duabelas tahun lainnya. “
“Itu om alex, Mama.” Bocah itu tersenyum sambil menujuk kea
rah dirinya.
Alex pun berlari ke arah mereka dan mengambil alih
barang bawaan mereka berdua. Alex sempat
terpaku melihat body kakaknya yang terlihat lebih berisi dari sebelum ia
berangkat ke Australia.
“Kakak bahagia tinggal di Australia, ya?”
“Tentu saja tidak, Kakak sangat bahagia tinggal di sini lah,
Kita mau ke mana sekarang?”
“Badan kakak kelihatan berisi gitu sekarang, kirain bahagia
saja,” ujar Alex sambil memasukan barang bawaan Novita dan Axel ke dalam
bagasi. “kita ke rumah lamamu bersama Aditya, dulu, Kak. Mertuamu sudah menunggu di
sana.”
“Aku akan punya adik bayi, Om. Mama sebenarnya hamil,
makanya kelihatan sedikit gendut,” ucap Axel sambil tertawa kecil.
Sedangkan dua orang dewasa itu sama-sama terdiam. Alex juga
terlihat canggung mau berbicara apa, apalagi bertanya itu anak siapa, sangat
tidak enak baginya. Namun, Novita yang bisa menangkap gelagat adiknhya segera
memberi jawaban pada adik semata wayangnya itu.
“Tiba di sana, akan aku ceritakan, agar sekalian mertuaku
tahu.”
Alex pun mengangguk dan meminta semuanya masuk ke dalam
mobil dan mengemudikan mobilnya menuju kediaman lama Novita.
__ADS_1