Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 2 PART 182


__ADS_3

Baru beberapa menit  Queen duduk di tempatnya, sebuah panggilan dari telfon kantor yang ada di


meja-nya berdering. Khawatir itu adalah panggilan penting, wanita itu langsung mengankatnya tanpa berfikir panjang.


“Halo, selamat pagi.”


“Selamat pagi, benar dengan asisten Queenza?”


“Iya, saya sendiri.”


“Pak Al memanggil anda untuk segera ke ruangannya sekarang,


anda diminta agar menemaniya rapat yang akan dimulai sepuluh menit lagi.”


Queen mendesah kasar, harusnya ia berfikir lebih cepat lagi


di mana dia bekerja, kalau pun bahas soal atasan juga gak jauh-jauh dari Al


selama papanya belum kembali terjun di perusahaan.


Mau tidak mau ia pun meninggalkan ruangan itu dan kembali ke


ruangan  Al.


🍁🍁🍁🍁


Diaz melihat jadwal praktiknya, hari ini praktik pagi, jadi jam sebelas siang sudah pulang, sementara besok, ia tugas sif malam. Jadi, dia


akan memanfaatkan waktunya dengan baik.


“Dokter, ada seorang gadis yang menunggu anda di depan


tempat registrasi.” Ucap salah satu perawat saat Diaz hendak mengambil


ponselnya untuk dinyalakan.


“Siapa, Sus? Apakah dia berambut pirang?” tanya Diaz. Ia


menebak kalau yang datang adalah Queen.


“Tidak, Dok. Dia berambut hitam panjang dan lurus.”


“Baik, akan saya temui dia sebentar lagi,” jawab pria itu, kalem, tenang dan penuh wibawa. Dengan segera Diaz bergegas membereskan


barang-barangnya, kebetulan, ini juga sudah waktunya pulang. Ia berniat pulang ke Bandung untuk menemui umiknya di sana.


Keluar dari ruang prakteknya, Diaz melihat seorang gadis


mengenakan kaus putih longgar, namun tetap membentuk lekuk tubuhnya, karena bahannya yang mungkin memang lentur, dengan stelan celana jeans ¾ model sobek


brwarna biru dan sepatu kets putih duduk dengan posisi kaki menyilang.


“Hanifah!”


Gadis itu menoleh dengan anggun dan seolah menghipnotis siapapun


yang memandangnya sambil tersenyum lembut, membuat ia terlihat semakin cantik saja. Sungguh, bukan seperti Hanifah yang biasanya. Lalu, di mana Hanifah yang


selalu ceria, berisik dan lasak itu perginya?”


“Kamu, sudah pulang, Diaz? Ada yang mau aku bicarakan sama kamu,


makan siang di luar, yuk!” ajak gadis itu. Tidak ada paksaan dan penekangan


dalam kalimatnya, berbeda sekali dengan dia yang biasanya.


Diaz diam tidak menjawab, bagaimana  pun, sejak semalam dia tidak menghidupkan


ponselnya, pasti Queen sudah berkali-kali mencoba menghubunginya. Ia khawatir


jika saja saat ia keluar makan dengan Hanifah yang juga bertepatan dengan jam


istirahat kantornya, tanpa sengaja mereka bertemu dan Queen menuduhnya yang


bukan-bukan.


“Sebentar saja, bagaimana kalau di kantin rumah sakit ini


saja?” ucap Hanifa. Seolah wanita itu dapat membaca isi hati dan pikiran Diaz.


Diaz mengangguk pelan dan berkata lirih, sangat lirih, bahkan


hampir tak bisa di dengar, “Baiklah.”


Hanifah tersenyum lembut dan memberi isyarat dengan tangan


kanannya agar Diaz berjalan lebih dulu, sementara dia mengekor di belakangnya.


Tiba di kantin, mereka hanya memesan minuman saja, Karena


Hanifah bilang kalau ia tidak bisa berlama-lama di sini. Tentu saja hal itu


juga menguntukngkan untuk Diaz yang ingin segera menemui Umik-nya.


“Maafkan prilaku ku yang semalam ya Diaz. Aku tahu aku salah,


karena bagaiman pun kau sudah menjalin hubungan dengan saudariku. tak seharusnya akau seperti itu. Tapi, aku ini manusia biasa Diaz, yang tak mampu selamanya menanggung beban dari sakitnya cinta dalam diam,” ucap Hanifah, mulai


membuka percakapan.


“Aku mengerti, aku juga minta maaf sama kamu, dari awal aku


memang sudah menyukai Queen dan sekarang kami juga sudah mulai menjalani hidup


bersama.” Diaz menunduk, kata-katanya juga sangat lirih. Beruntung Hanifah


memiliki pendengaran yang baik, jadi, ia tidak perlu meminta Diaz mengulangi lagi


jawabannya.


‘’Ya sudah, karena apa yang mau aku katakana sudah aku


katakana, dan aku juga sudah tak ada waktu banyak , karena satu jam lagi aku harus terbang ke Amerika, aku pamit, ya. Terimaksih atas waktunya, Diaz.” Gadis


itu pun berdiri, dan pergi meninggalkan Diaz yang masih membeku di tempatnya itu.


Sedangkan Hanifah melambatkan jalannya dengan harapan agar pria

__ADS_1


yang baru saja ditemuinya itu memanggil namanya, meminta dirinya berhenti dan


bertanya untuk apa harus pergi ke Amerika secara mendadak? Sementara atau


selamaya? Tapi, sepertinya harapan tinggalah harapan saja, sudah hampir ia


keluar dari area kantin yang luas laki-laki itu juga tak ada memanggilnya.


Diaz terpaku memandang Hanifah yang sudah jauh dari


pandangannya, sekali-kali tubuh wanita itu tak Nampak tertutup oleh orang yang


tengah lalu-lalang beraktifitas di kantin. Entah itu pelayan kantin, atau keluarga pasien


yang membeli makanan.


Rasanya ia ingin berlari untuk menghentikan gadis itu dan bertanya, kenapa, untuk apa dan sampai kapan dia


kesana, dan kenapa pula harus mendadak? Tapi, hal itu ia tahan dengan alasan


takut gadis itu merasa dipedulikan dan dipupuk dengan sejuta harapan yang


nyatanya palsu. Sebab, jauh di dalam hatinya hanya ada nama Queen seorang.


Hanifah menghentikan langkahnya saat ia tiba di gang yang


menghubungkan kantin, bangsal dan juga pintu keluar menuju parkir. Gadis itu


memejamkan matanya sambil bergumam dalam hati, “Diaz, ayolah segera bergegas,


kejar aku dan sejajari langkahku. Kita keluar dari sini barengan, yuk!’’ Cukup


lama ia menunggu, akhirnya ia pun membuka matanya dan menoleh ke belakang


melihat ke arah laki-laki yang masih berpakaian jas putih khas seorang dokter, ia nampak santai menikmati minumannya di sana.


Hanifah pun tersenyum dan kembali melangkah menuju tempat di


mana mobilnya di parkirkan sambil menyeka air matanya yang mengalir begitu saja tanpa di minta.


Setelah Diaz menghabiskan minumannya, dengan langkah lamban


ia pergi ke mushola rumah sakit untuk menunaikan ibadah sholat Dzuhur agar tak


menghambat perjalanannya menuju ke Bndung.


Usai menunaikan kewajibannya, pria itu pun segera menuju ke


tempat parkir. Ia rasanya sudah tak sabar untuk bertemu dengan Umiknya dan


mengadukan semua yang telah menimpanya saat ini sambil tiduran dipangkuan Umiknya, mendengarkan Umiknya mengaji sambil tangannya mengelus-elus kepalanya.


Tepat pukul dua lewat empatpuluh menit, mobil Diaz sudah


memasuki halaman rumahnya. Pria itu mengedarkan pandangannya ke arah gazebo di


mana biasa Umiknya mengajar anak-anak sekitar rumahnya itu nampak sepi, karena hari ini hari


Jumat dan libur.


“Assalamualaikum!”


lalu pintu pun terbuka lebar. “Mas Diaz, kamu pulang? Di mana kak Queen? apakah


dia ikut ke mari?" Gadis itu dengan ceria menyapanya dan mengeluarkan


setengah badannya untuk melihat halaman rumah. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh halaman terutama


kea rah mobil Diaz.


Alih-alih menjawab pertanyaannya, Diaz malah justru bertanya


balik, “Di mana umik, Mah?”


Fatimah, gadis belia usia Sembilan belas tahun itu pun Cuma


tersenyum penuh arti, tersenyum sedikit meledek tepatnya. “Kenapa pulang-pulang


mukanya langsung kusut gitu? Dan langsung nanya umik lagi? Hayo ada masalah,


ya? Berantem sama kak Queen, ya?”


“Mas gak disuruh masuk ini?” ucap Diaz, mengalihkan topik


pembicaraan.


Fatimah pun menggeser tubuhnya memberi akses untuk kakak


satu-satunya itu lewat. Keduanya pun duduk di ruang tamu, dan gadis itu pun


memberikan air mineral pada kakaknya yang memang sudah tersedia di meja ruang


tamu.


“Dalam suatu hubungan itu wajar, Mas kalau ada masalah. Jangankan yang


masih pacaran, yang sudah menikah saja kadang juga ada aja maslahnya. Tergantung


gimana kita menyikapi saja.’’ Fatimah pun mulai. “Masalah itu, ibarat segenggam


garam, Mas. Kalau kita mencampurnya dengan segelas air putih, maka air itu pun


akan terasa sangat asin bahkan pahit. Namun, jika kita mencampurkannya ke


dalam air sumur maka garam itu sedikitpun tidak akan mempengaruhi rasa dan


kesegaran air sumur tersebut. Sama halnya dengan masalah, Mas, jadi hati kita


harus lapang-lapang dan ikhlas menerimanya,’’ ucap Fatimah panjang lebar. Cara


menasehati kakaknya seolah ia lebih tua saja. Padahal selisihnya dengan Diaz


adalah lima tahunan.


“Dasar, kamu kalau dah menasehati mas kaya yang lebih tua


saja,” ucap Diaz sambil tertawa dan mengelus ubun-ubun Fatimah sebagai rasa

__ADS_1


ungkapan bangganya. Sebab, meskipun begitu, dalam hati pria itu juga


membenarkan nasehat adiknya itu.


“Loh, tapi benr, to? Coba aja amalkan apa yang aku


nasehatkan barusan, pasti hidupnya Mas juga bakalan tenang.’’


“Iya… Iya, Terimakasyuh, ya sudah menasehati Mas. Yasudah,


mas mau siap-siap sholat Ashar, sambil nunggu umik, nanti kita sama-sama ke


makam abah, ya?” Diaz pun beranjak membawa ranselnya menuju ke kamarnya.


Sepulang dari acara rutinan ibu-ibu Umik Halimah melihat


mobil putranya terparkir di halaman, ia mendebak-nebak, apakah ia mengajak


Queen atau tidak. Tapi, saat sudah tiba tidak jauh dari teras, susasana rumah


Nampak hening, sepertinya putranya pulang sendirian.


Sebelum menapakkan kakinya ke lantai teras rumahnya sekali


wanita paruh baya itu membuka kardus snack yang didapatnya. Ia tersenyum saat melihat


ada kue lumpur di dalamnya.


“Jadi, ini emang rejekinya bocah itu,’’ gumamnya seorang


sendri seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Begitulah seorang ibu, dalam keadaan apapun dan sampai


kapanpun selalu saja ingat dengan makanan kesukaan anaknya. Meskipun ia tahu,


kalau putranya pasti tidaklah kesulitan mendapatkan kue lumpur atau apapaun


yang jadi favoritnya, termasuk soto kudus di Ibu kota sana. Terlebih, saat ini


dia adalah seorang dokter yang bertugas di salah satu rumah sakit besar yang ada di sana. Dengan gaji yang didapat, jelas ia bisa membeli apapun yang di dapat. Tapi, sekali lagi yang namanya ibu. Tak peduli itu. Yang ia tahu, di sini ada makanan kesukaan anaknya ya kepikiran. Walaupun si anak sudah dewasa dan menikah sekalipun, mereka tetap menganggap anak itu ya anak-anak yang masih perlu dibimbing, dinasehati dan disayang layaknya bayi.


Apalagi, Diaz pun, juga begitu, setiap kali kepingin apapun


selalu pulang ke rumah, meminta pada umiknya dengan alasan makanan apapun akan


terasa lebih enak jika tangan umiknyanyang masak, karena di luaran sana tidak


ada makanan yang enaknya menyamai masakan umiknya. Hal itu membuat Umik Halimah kian


sayang dan selalu kepikiran saja saat ada tetangga yang kasih makanan dan


terlebih ada kesukaan putranya yang tidak berkumpul di rumah.


“Assalamualaikum!”


“Waalaikumssalam,” jawab Fatimah dan Diaz bersamaan dan


mereka berdua pun berhambur, berlomba-lomba lebih dulu meraih tangan tangan


kanan umiknya untuk dicium.


“Diaz, kamu pulang, Nak? Kebetulan ini ada kue basah


kesukaan kamu sama kue dadar kesukaan Fatimah, dimakan gih!” ucap wanita paruh


baya itu seraya menyerahkan kardus kecil yang didapatnya dan langsung saja


disahut dengan girang oleh Fatimah.


Umik merasa ada yang aneh dengan putranya, biasanya jika


mendengar kue lumpur langsung disahut dan memakannya setlah mengucapkan


terimakasih, ini kok tidak?’’ Dia malah diam saja dan bergelandut manja seperti


bocah dua tahun.  Karena ini bukan yang


pertama kali, Umik Halimah pun Cuma menaggapinya dengan tersenyum dan mengelus


rambut putranya. Umik mau sholat Ahsar dulu, ya?”


Dugaan umik kian kuat saat Diaz tidak menghampiri adiknya


yang tengah menikmati kue basah. Melainkan malah mengekor mengikuti dirinya


yang hendak bersiap sholat.


Usai menunaikan ibadah sholat ashar, Diaz mencium lagi


punggung tangan kanan umiknya sebanyak tiga kali, ia bahkan rebahan di pangkuan


umikmnya saat umiknya tengah berwirit dan membaca surat Al-Waqiah.


Hal ini sudah biasa terjadi ketika ia sedang menghadapi


masalah, larinya selalu ke umiknya, mencurhatkan semua yang ada di dalam isi


hatinya dan tak jarang pula sampai ia terlelap dalam pangkuan umiknya, meski


dia sadar sekarang dia sudah bukan anak-anak lagi, tapi, kebiasaan itu sudah


terlanjur melekat dalam dirinya dan susah dihilangkan. Usai wirit dan mengaji,


Umik, Diaz dan juga Fatimah pergi ke makan abah mereka mengirimi belau dan juga


mendiang kakek dan nenek dari abahnya yang sudah tiada.


Sebenarnya Umik Halimah adalah orang jawa tengah tepatnya


daerah Salatiga, Solo. Makanya, Fatimah memanggil Diaz dengan panggilan Mas,


bukan Aak atau Abang layaknya orang daerah Jawa Barat pada umumnya, karena


mereka cenderung kental di adat jawa nya.


Sedangkan mendiang Abah mereka, adalah orang Sunda. Asli Bandung. Dan tempat yang mereka tinggali ini adalah peninggalan mendiang Abah mereka.

__ADS_1


__ADS_2