
Lyli melajukan kendaraannya dengan sangat kencang. Entah,
sudah berapa lampu merah saja yang sudah ia trobos. Bahkan di persimpangan
jalan, dia juga hampir saja menabrak truk fuso yang membuat banyak barang berat. Ia merasa senang sekaligus takut atas apa yang baru saja dia perbuat.
Tapi, ketakutan itu berakhir saat mobil yang ia kendarai sudah tiba di depan
gerbang rumah miliknya.
Bondan, yang selalu duduk bersantai di teras halaman depan
mendapati Lyli seperti orang yang dikejar hewan qurban yang tengah mengamuk lantas bertanya,
“Ada apa, Nyonya?”
“Tidak ada apa-apa. Aku Cuma mau ke kamar mandi saja,” ucap
Lyli. Tanpa banyak bicara lagi, wanita itu pun pergi menuju kamarnya. Sejak
kejadian itu, sampai tiga hari Lyli tidak pernah lagi keluar ke mana-mana.
Hidupnya terasa seperti tidak tenang penuh dengan teroran. Tapi, apa? Tak ada satu pun yang tahu. Dia tidak bercerita pada saiapapun termasuk pada Bondan, dan pak Darto yang dia anggap orang yang paling bisa diandalkan dan melindungi.
Suatu siang, saat ia bersantai di halaman samping usai berenang, ia mendengar suara gerbangnya seperti digebrak berulang-ulang oleh seseorang dari luar. Merasa tidak nyaman, Lyli beranjak ke
depan hanya mengenakan pakaian renang yang ia tutup dengan sarung bali di
bagian pinggang ke bawah.
“Bondan, ada apa ini?” tanya Lyli, marah.
“Saya juga tidak tahu, Nnyonya. Saya baru saja makan dan
mendengar suara brisik di sana,” jawab Bondan dan kemudian langsung bergegas menuju gerbang. Tak mau ketinggalan. Lyli dengan pakaiannya yang seperti itu pun juga keluar karena penasaran.
“Ada apa, Mbak? Siapa anda?” tanya Bondan yang juga
terkejut.
“Di mana pemilik rumah ini? Lyli keluar kau!” Tiba-tiba saja seorang wanita
berambut pirang mengamuk dan menerobos masuk sambil berteriak memabggil nama Lyli berulang kali.
Lyli yang semula penasaran ingin tahu, sekalian memarahi siapa yang datang ke rumahnya dengan cara tidak sopan begini mendadak wajahnya pucat setelah tahu siapa yang datang. Dia terkejut. Tapi, untuk pergi melarikan diri juga sudah
telat. Queen yang dari dulu memang sangat gesit, tahu-tahu kedua tangannya sudah menjabak rambut Lyli saja.
“Kau, apa yang kau lakukan pada papaku, Hah? Dasar wanita
jahat gak punya hati. Gara-gara kau tujuh tahun silam aku kehilangan nenek dan
kedua kakekku, bahkan papa mamaku koma antara hidup dan mati selama dua tahun lebih, dan sekarang kau benar-benar membunuh papaku. Maumu itu apa, Lyli? Aku
salah apa sama kamu?” teriak Queen dengan kencang karena merasa kesal.
“Bondan! Apa yang kau
lakukan? Kenapa diam saja? Lepaskan wanita gila ini!” teriak Lyli. Karena
merasa tidak segera mendapatkan pertolongan dari bodyguardnya.
“Ba… baik, Nyonya!” Seketika Bondan pun mencoba melerai
Queen dan Lyli. Dia berhasil memisahkan keduanya. Tapi, rambut Lyli banyak yang
rontok. Kemungkinan dia juga sudah botak sampai separuh.
“Hey, siapa kau? Jangan ikut campur! Dia telah membunuh
papaku!” teriak Queen pada pria bertubuh sekal yang telah memeganginya dari
belakang. Dengan cepat wanita itu melakukan tendangan ke belakang sehingga
mengenai tulang kering Bondan hingga dia terlepas. Seolah bisa membaca Gerakan
lawan, Queen sudah bersiap mengokohkan kedua kakinya saat Bondan kembali hendak
memegang tangannya dari belakang, Queen yang terbilang memiliki tubuh mungil bisa dengan mudah membanting tubuh Bondan melewati atas kepalanya. Sekalipun dia sambil membungkuk.
Melihat pemandangan itu, Lyli terkejut. Bagaimana bisa Queen
melakukan itu? Bondan juga nampak tak berdaya setelah tubuh kekarnya dibanting
dengan begitu keras di atas paving depan rumahnya. Tak mau ambil resiko, wanita itu segera
berlari menuju rumah, tapi, Queen yang sudah terlanjur marah tak kehilangan akal. Diraihnya tongkat pel-pelan dan dilemparkannya ke arah kaki Lyli sehingga
wanita itu terjatuh sampai mulutnya berdarah karena terbentur tangga.
Dengan cepat kembali Queen menghampiri Lyli dan menghajarnya
tanpa ampun. “Dasar wanita jahat! Apa yang kau lakukan pada papaku empat hari
__ADS_1
yang lalu, hah? Dasar pembunuh!” teriak Queen sambil menangis.
“Kau mau tahu apa yang aku lakukan sama papamu? Aku tidak
menyentuhnya sama sekali. Ini tidak adil jika kau menghajarku seperti ini,
dasar wanita gila!”
Seolah tahu kalau ada orang yang hendak menangkapnya kembali
dari belakang, Queen langsung berkata,”Siapapun kau, sudah kuperingati. Wanita
di depanku ini adalah pembunuh. Melindungi penjahat, samadengan penjahat.”
Seketika, Bondan berhenti. Ia tidak berkutik.
“Aku datang ke sana karena kukira yang di situ adalah mantan
tunanganku yang sekarang kau rebut. Ternyata, mertua gagalku. Ya sudah,
terpaksa, aku katakan padanya, apa yang sudah putra angkatnya lakukan padaku. Tak ku
sangka, dia selemah itu. padahal kelihatannya masih muda, oke dan ganteng pula.
Dia langsung roboh sambil memegangi dadanya. Setelah kupastikan dia tidak
bergerak, segera aku keluar. Percuma ngomong sama mayat. Gak guna,” ucap Lyli
dengan Banga.
“Dasar kau wanita psychopath! Tak punya hati kau!” teriak
Queen sambil menangis tubuhnya seketika roboh. Seluruh tulangnya seakan lolos
dari tubuhnya.
"Aku tidak melakukan perbuatan sadis kau mengataiku Psycopath. Lalu, bagaimana dengan Al yang melakukan tindakan kekerasan padaku dan keluargaku itu? Hah? Kau mikir tidak?" Protes Lyli tidak terima.
“Aku salah apa sama kamu, Lyli? Jika kau mencintai suamiku,
dari awal dia tak pernah mencintaimu. Hubunganmu sudah lama berakhir kurang lebih sepuluh tahun silam. Sementara aku menikah dengannya juga baru tujuh tahun. Siapa sebenarnya yang kau benci? Al melakukan itu karena memang kau, kan yang menyebabkan kecelakaan sampai kakek dan nenekku kehilangan nyawa? Sampai papa dan mamaku koma selama dua tahun lebih?"
“Salah apa? Aku benci
sama kamu, kau bisa mendapatkan segalanya. Terlahir dari keluarga kaya. Wajah yang cantik, sementara aku? Dan kebencianku padamu kian memuncak saat aku tahu hubunganmu dengan Al lebih dari saudara,” teriak Lyli sambil menendang tubuh Queen.
"Kau sadar tidak? kalau kebencian mu padaku itu kian tak masuk akal. Aku ragu dengan kewarasan mu.. Sepertinya kau masih gila dan kabur dari rumah sakit jiwa kala itu," ucap Queen kesal.
Lyli melotot tatkala menyadari aibnya terbuka. Bondan tidak tahu asal usulnya selama ini. Ia melihat ke arah pria itu, dia terlihat begitu kaget saat Queen mengatakan kalau dirinya belum sepenuhnya waras sudah keluar dari rumah sakit jiwa.
***
Sudah dua hari ini Al ada tugas di luar kota. Dia kembali
disibukkan mengurus dua perusahaan sekaligus. Kadang pagi dia di garmen,
siangnya ke interior, begitu saja terus tidak bisa anteng sejenak duduk di satu
meja kerja dalam sehari. Baru kemarin rasanya dia bertemu dan melihat papanya kembali aktif
bekerja. Kini, dia pergi lagi, dan tak akan pernah kembali.
Tiba-tiba saja Al merasa hatinya tidak enak. Di benaknya
terbayang wajah Queen tiada henti, membuat kosentrasinya buyar. ‘Sayang, kau kenapa?’ batinnya. Kemudian dia membuka alat pelacak yang terpasang pada leontin kalung blue safir yang pernah ia berikan beberapa bulan yang lalu.
Baru saja ia membuka suara rekaman di sana, ia langsung mendengar tangisan Queen dan suara seorang wanita yang terus memakinya. 'Di mana dia?' batinnya.
Merasa ada yang tidak beres, Al langsung melacak alamat
rumah di mana Queen berada. Setelah ketemu, dia mencari info pemilik rumah tersebut. Cukup rumit memang. Ini tidak bisa dia kerjakan sendiri dan
mengandalkan internet saja. Harus ada seseorang yang membantunya. Akhirnya, ia
pun menghubungi Vico, yang kini ia pasrahi memegang kendali anak buahnya. Dia
memang tidak ikut terjun lagi di dunia gelap. Tapi, saat butuh mata-mata, ia
tetap menggunakan. Hanya saja, dia sudah berjanji pada Queen tidak akan lagi main kotor dan membunuh orang. Menyuruh atau memprovokator agar orang membunuh
lawannya juga sudah tidak. Memang itu berat bagi Al. apalagi dalam situasi yang
seperti ini.
“Vic, bantu aku lacak siapa penghuni rumah ini (Al menyebut
sebuah alamat) dan siapa pembelinya. Aku butuh cepat,’’ ucap Al begitu
panggilan diangkat oleh sahabatnya dan langsung dimatikan sebelum sahabatnya menjawab sepatah katapun. Pikirannya benar-benar kacau. Dalam dua hari ini dia sudah pergi ke lima kota sekaligus hanya untuk rapat. Sementara di rumahbkondisi mama dan istrinya juga sedang tidak baik.
***
“Queen!”
__ADS_1
Lyli menghentikan tendangannya pada perut Queen dan menoleh ke arah gerbang.
Queen yang hanya diam meringkuk dan memegangi perutnya. Dengan
lemah ia berkata “Mama.” Tapi, tak mengeluarkan suara sama sekali saking
sakitnya dia.
“Siapa kau? Beraniya menyakiti putriku?” teriak Clara histeris. Rupanya dia diam-diam menguntit mobil putrinya. Memang dia sempat
kehilangan jejaknya. Tapi, ia merasa yakin kalau putrinya masuk ke dalam Kawasan perumahan elit ini. Mulanya ia curiga. Menemui siapa. Tapi, untuk apa dia datang juga hanya untuk di siksa.
“Ibu, apakah anda masih mengingat, saya? Saya Lyli yang dulu
hampir jadi jadi menantu anda. Tapi, gagal gara-gara putri anda sendiri, bukan?”
Clara melotot hampir tak percaya kalau mantan pembantunya berani dan tega berbuat seperti itu pada putrinya. Padahal, setelah terjadi kesalahpahaman itu, Queen juga
tetap berlaku baik pada Lyli. Lalu, apa yang membuatnya bisa sebenci itu?
“Lyli. Apa maksut mu berani berbuat demikian padanya? Salah apa
dia?” tanya Clara dengan tubuh bergetar. Ibu mana yang akan tega melihat putrinya sendiri di siksa orang lain di depan matanya?
“Salah apa? Harusnya kau tahu, bukan? Salah dia kenapa menjadi
istrinya Al? Siapapun yang kini menjadi pasangan pria yang aku sukai dia harus binasa!” jawab Lyli dengan penuh emosi membuat Clara hanya geleng-geleng kepala.
Bahkan, Bondan yang hanya mematung di tempatnya juga mungkin berfikir kalau orang yang dia kawal selama ini benar-benar edan dan tidak waras. Diam-diam, pria itu bergidik sendiri. ia teringat sudah berapa kali saja melakukan hubungan badan dengan wanita yang ternyata alumni rumah sakit jiwa. Sebab, apa profesi pak Darto sebenarnya, Bondan sendiri tidak lah tau. yang ia tahu, dia bekerja dan digaji tinggi oleh pria tua itu.
Clara berlari mencoba menghentikan perbuatan Lyli. Tapi,
wanita itu justru mendorong kuat Clara hingga terjatuh. Kepalanya membentur
ujung teras. Tapi, demi keselamatan putrinya, wanita itu terus bersikeras
memegangi kaki Lyli yang digunakan untuk menendangi Queen. Entah khilaf atau apa, Lyli memukulkan sebuah tongkat besi dengan keras tepat pada tengkuk Clara
hingga wanita itu roboh dan tak lagi bergerak.
“Mama!” teriak Queen. Sekuat tenaga wanita itu merangkak menghampiri
mamanya yang sudah tak lagi bernyawa. “Ma, bangun, Ma! Jangan diam begitu, Ma!
Mama… jangan takut-takutin Queen!” rengek wanita itu.
“Celaka! Dia mati, Bondan. Siapkan mobil, kita kabur!” ucap
Lyli dan buru-buru pergi menuju garasi.
Sementara Queen masih terus meratapi kepergian mamanya. Dia tidak
menyangka sama sekali, kalau pada akhirnya kedua orangtuanya mati terbunuh di
tangan mantan pembantunya.
Dengan cepat Queen mengambil ponselnya dan menelfon suaminya.
Ia tahu, suaminya berada di luar kota. Tapi, tepatnya mana dia tidak tahu
pasti. Dia butuh bantuannya.
“Al, tolong mama, Al. mama diam tidak bergerak,” ucap Queen
lirih dan terbata-bata karena tangisannya.
“Aku sudah tiba di Jakarta sayang. Limaratus merer lagi aku
sudah akan tiba di tempatmu,” jawab Al kian panik. Rupanya setelah menelfon
Vico tadi, dia langsung pulang, dan menyerahkan semua pertemuannya dengan clien pada asistennya.
Entah, deal atau tidak, yang dia tahu, istrinya adalah segalanya.
"Sialan! Bisa gak sih, Jalanan Jakarta satu kali aja tidak macet?" umpat Al seorang diri sambil menggebrak setir mobilnya. Tak puas dengan itu, berkali-kali ia memencet clakson. Sehingga tindakannya itu hanya meninggalkan kemarahan pengendara motor yang berdekatan dengan mobilnya. Sampai pada akhirnya barulah ia sadar, mau diclakson sampai jebol pun, kalau belum saatnya jalan ya tidak akan berjalan. Karena macet kali ini terbilang sangat padat.
"Ck. Mana situasi kian darurat lagi!" umpatnya lagi. Al pun menelfon salah satu anak buahnya agar mengambil mobilnya, sementara dia memutuskan berlari menuju lokasi di mana mama dan istrinya berada.
Tiba di perumahan elit, Al melihat dua mobil yang familiar. ya, satu milik istrinya dan satunya lagi milik mendiang papanya parkir berbaris di depan rumah mewah yang pagarnya terbuka lebar.
Al mengintip ke dalam untuk memastikan. Dari tempatnya berdiri ia melihat seorang wanita duduk bersimpuh menangis sambil memangku seseorang. Yakin kalau itu adalah Queen, Al segera menghampiri wanita itu.
"Sayang!" panggilannya dengan napas terengah-engah.
"Al, mama meninggal, Al. Tadi Lyli mendorong hingga kepa mama terbentur ujung teras, dan terakhir ia memukul tengkuk mama dengan besi itu sampai mama kehilangan nyawanya, Al," teriak Queen mengadukan semuanya pada Al.
Al mendengar ucapan istrinya yang disertai isakan tangis hanya mengepalkan kedua tangannya. dalam hati ia mengutuk Lyli.
"Kau sudah buat papa kami meninggal, dan sekarang mama kami, Lyli. Awas kau, tidak akan pernah kubiarkan!"
Seketika pandangan Al terasa kabur. Badannya terasa akan roboh saja. Tapi, ia bertahan demi wanita yang ia cintai. dia ke sini untuk menolongnya. Jika sampai ia pingsan, malah menambah bebannya.
Al hanya diam. Wajahnya membeku menatap lurus jenazah wanita yang telah merawatnya dengan penuh kasih sayang. Kini, ia tergeletak mati secara tak wajar, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Saat kejadian dia memang tidak berada di tempat. Dirinya datang juga sudah telat. Ia sadar kalau ia bukanlah tuhan yang bisa memberi kehidupan lagi pada yang sudah mati.
__ADS_1
Al memandang rumah yang ada di depannya. Ia berfikir, apakah ini rumah Lyli? ke mana dia sekarang? Bagaimana bisa dia tinggal di rumah semewah ini? Pasti ada pria hidung belang yang memeliharanya. Tapi, siapa?
Kembali Al melihat ke arah Queen. Dalam hati ia bergumam, kalau pergerakan istrinya sangatlah cepat, dan tak terprediksi olehnya. salahnya memang tidak memberikan pengawasan secara kusus. jika saja dia diam-diam memberi seorang bodyguard, pasti ia tidak kehilangan mamanya. Dia sengaja tidak katakan pada Queen karena ini yang Al takutkan. Tapi, sudah terlanjur terjadi. Padahal dia sudah berencana dengan Vico akan menjebak Lyli. tapi, malah keduluan istrinya.