Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION#2 9


__ADS_3

Quen nampak melihat Al kakaknya menggeser sesuatu pada gawainya. Ia mengamati sambil berjalan mendekat.


"Kakak ngapain lihat-lihat hp, Quen?" tanyanya dengan tatapan penuh selidik.


"Maaf, cuma lihat walpaper kamu saja, bagus." Al meletakan kembali ponsel adiknya di atas meja. Dan tanpa sepatah katapun ia pergi meninggalkan Quen di ruangan itu.


Sementara Quen mengecek semua ponselnya mulai dari pesan chat dan semuanya tidak ada yang mencurigakan.


"Ah, mungkin benar kakak cuma liat walpaperku. Hmmm, cantik, sih." Quen tersenyum melihat foto dirinya saat di dalam kelas.


Di sebuah caffe yang tak jauh dari tempatnya Al menikmati sepuntung rokok yang ia sematkan di antara jari manis dan telunjuknya.


Dihisapnya dalam-dalam dengan tenang, sesekali ia melirik arloji di pergelangan tangan kanannya, seolah tengah menunggu orang.


Sepuluh menit berlalu, ia mulai merasa tidak sabar, dimatikannya rokok yang dia pegang pada asbak di meja.


Ia mulai bangkit hendak meninggalkan tempat itu. tapi, dari depan terlihat seseorang sedikit berlari menghampirinya.


"Kak, Al. Tunggu!" ia mengatur napasnya sebelum akhirnya mulai ngobrol dengan Al.


Telat sepuluh menit bagi masyarakat Indonesia bukanlah masalah, itu sudah lumprah, hanya saja Al sudah lima tahun hidup di Jepang dan selalu on time. jelas hal itu membuatnya tidak sabar dan tersulut emosi.


"Janjiannya jam brapa, sih?" Sinis Al pada orang di depannya.


"Maaf, Kak. Tadi aku keluar dari ruangan les musik juga sedikit terlambat dari biasanya," jawab Anak itu.


Al diam, mengamati ekspresi orang di hadapannya yang menunjukan kesungguhannya saat bicara. Dengan Cool dia mengambil lagi sebatang rokok dan menyalakannya.


"Ada apa Kak Al kok ngajak ketemu di sini?" tanya anak itu, penasaran.


Al menghembuskan asapnya ke atas udara, dan mengambil napas dalam-dalam sebelum akhirnya memulai pembicaraan.


"Kau sudah brapa lama kenal adikku, Quen?"


"Sejak dia masuk SMA 2, Kak, ada apa?"


"Tidak apa-apa. Aku penasaran saja, apa hubunganmu dengannya, sepertinya kau sangat akrab dengan mama kami."


"Tidak ada kak, hanya sebatas junior dan senior saja. Aku dekat dengan tante Clara saat masa pengenalan lingkungan sekolah dulu katanya Quen sakit, jadi, tante menemui ketua osis untuk menitipkan anaknya itu saja," jawab Juna, jujur.


"Oh, lalu selanjutnya?"


"Tante sering mengajakku mampir,  dan dia mempercayaiku untuk menjaga Quen. Jadi, aku mengawasinya dari jauh, karena dia baru saja putus dengan Alex, kurasa dia perlu seseorang untuk mengalihkan kegalauannya. Terlebih satu minggu lagi juga ujian smester."


"Ok, makasih, ya udah, aku juga titip adikku. Mungkin dalam waktu dekat ini aku akan kembali ke Jepang," ucap Al dengan tenang.


"Iya, kak. Aku juga sudah anggap Quen seperti adikku sendiri," ucap juna.


Setelah keduanya berbincang dan menghabiskan kopinya masing-masing, Al lebih dulu pergi meninggalkan Juna karena sebuah urusan.


Sementara Juna, di parkiran menatap galau sebuah foto gadis kecil pada layar sentuhnya.


"Andai kau masih berada diantara kami, dik. Kau pasti seumuran dengan Quen. Dia juga lincah dan manja sepertimu dulu." Juna tampak menyeka matanya ketika melihat foto itu.


*******


Di ruang baca bersama Andrean dan Andreas Al nampak serius menatap menitornya.


Mendadak sebuah telfon masuk mbuyarkan kosentrasinya.

__ADS_1


"Ck... Sialan, siapa sih, ini." Dengan malas mengambil kopi lalu meminumnya, sementara tangan kirinya meraih gawai yang tergeletak di sisi kanan laptopnya.


"Pff....!" Al, tersedak kopinya sendiri begitu melihat nama kontak yang memanggilnya.


Bersamaan duo Andre menoleh pada cucunya yang nampak tak wajar.


"Siapa yang menelfonmu? Cepat angkat!" Seru Andreas.


Al masih diam nampak ragu-ragu sambil membersihkan mulut dan dagunya yang blepotan.


"Ada apa kau menelfonku semalam, ini?" jawab Al, kesal.


"...."


"Apa? Kau di bandara Soekarno Hatta? Serius?"


"...."


"Kau ini... Hah! Apa sih, maumu?" ucap Al tanpa sadar dengan nada tinggi.


"Al, ada apa? Yang tenang," tegur Andreas.


Al menatap ke arah Andreas lalu kembali berbicara dengan orang yang menelfonnya dengan nada lebih rendah.


"Baiklah, tunggu sebenta!" Serunya lalu mematikan telefon.


Perlahan Al berjalan menghampiri Andreas dan membisikan sesuatu.


Bersamaan denga itu Andeas nampak terkejut dan memandang Al, "Serius?"


"Iya, kek." Wajah Al nampak sangat tegang.


"Ya, sudah. Sana pergi!" Seru Andreas.


Dijawab anggukan oleh Al, lalu ia pun berpamitan pada kakek Andrean.


"Kek, Al pergi dulu, ya." Dengan tergesa-gesa Al berlari menuju garasi.


Sepeninggal Al yang sudah keluar dari ruangan Andreas tersenyum geli menahan tawa.


"Ada apa, kak?" tanya Andrean.


"Cucu kita sudah dewasa, Ean," jawab Andreas terkekeh.


"Ooo." Andrean tersenyum penuh makna. Dan keduanya pun kembali pada pembahasan topik awal.


*****


Quen mencari sesuatu di dapur untuk di makan rupanya sudah tidak ada apa-apa, dan mamanya juga sudah beristirahat.


Dia melihat jam baru pukul dua puluh satu lewat lima belas menit. Jam segini biasanya Lyli masih begadang.


Iseng-iseng dia mengintip ke dalam kamar Lyli yang kebetulan tidak tertutup rapat.


Ternyata benar, nampak olehnya Lyli yang tengah tersenym sambil menatap smart phonenya sambil sesekali ia belai-belai.


Karena penasaran sering melihat Lyli yang seperti itu, Quen perlahan melangkah berdiri di depannya agar dapat melihat apa sebenarnya yang membuat Lyli seperti itu.


"Waaah, Kak Lyli diam-diam naksir abangku. Ya." Dengan cepat gadis itu merebut ponsel Lyli dari belakang.

__ADS_1


"Nona, Quen... Plis, Non kembalikan hp saya," ucap Lyli, wajahnya memucat.


Quen tertawa merasa menang. Sambil melihat lagi ke arah gadget Lyli. Ternyata benar, foto itu adalah Al. Kalai tidak salah foto itu saat Al menemani dirinya belajar di meja makan beberapa hari yang lalu.


"Ah, ini yang keberapa kau ambil foto abangku secara diam-diem? Kamu naksir dia?" tanya Quen. Sambil tertawa.


"Non, saya mohon jangan bilang-bilang pada tuan Al, dan pada semua, ya."


"Kalau aku bilang, kenapa?"


"Haduh, jangan deh, Non. Apa gini aja, bulan ini gaji saya sudah sepuluh juta, bagaimana jika semuanya saya berikan pada Nona, Quen?"


"Kamu nyogok aku nih? Wah kulaporin mama nanti kamu ajarin aku gak bener," ancam Quen.


"Lalu, bagai mana agar Nona Quen tidak ngomong?"


Terlihat oleh Quen Lyli nampak mulai menangis karena ketakutan. Akhirnya ia pun mengembalikan ponselnya, karena merasa kasihan.


"Uda jangan mewek lah, masakin aku sesuatu donk, kak, aku laper, nih."


"Nona Quen mau makan apa?"


"Aku suka mie goreng kecap buatanku kapan lalu itu, kak. Enak banget. Masakin itu, ya?" mohon Quen pada Lyli.


"Baiklah, tapi jangan dilaporin pada Nyonya dan tuan, ya?"


"Beres! Ayuk, Kak Quen bantu biar cepet selelai dan kita makan bareng," Ajak Quen bersemangat.


****


Sementara Al, nampak semakin kesal kala seorang gadis berambut hitam sebahu dengan poni yang hampir menyentuh matanya tersenyum melambaikan tangan sambil meneriakan namanya.


"Aaal! Aku di sini?" sekali lagi, gadis pemilik kulit putih beraih dan mulus itu berteriak berjalan sambil menyeret kopernya.


Al menatap dingin pada gadis asia itu, matanya yang sipit seolah nampak terjepam saat ia tersenyum.


"Al, bahkan kau tetap berdiri kaku tanpa menyapaku," ucapnya lagi.


"Siapa yang menyuruhmu ke sini?"


"Tidak ada, aku kangen sama kamu, Al," tambahnya lagi.


"Kau... Ck," Al diam tidak melanjutkan kalimatnya. "sialan." Dengan gemas ia mengepalkan tangan kanannya dan menggebeak bagasi mobil.


"Cepat masuk, taruh sendiri kopermu di belakang," ucap Al, cuek sambil masuk ke dalam mobilnya.


"Kita akan ke rumahmu, Al?" tanya gadis itu, matanya nampak senang dan berbinar.


"Tidak, kau tidak boleh datang kerumahku!" Mata Al tetap terfokus pada jalanan di depannya.


"Lalu, aku...."


"Tidurlah di hotel," potong Al.


"Kenapa harus di hotel, Al?" protes gadis itu.


Al mengerem mobilnya mendadak, dengan emosi ia berkata, "Turun kau jika tidak mau tidur di hotel, tidurlah di kolong jembatan atau diemperan toko sana."


"Ba... Baiklah, tapi kau menemaniku, kan?"

__ADS_1


"Maksutmu, apa? Jelas aku harus pulang, lah," jawab Al kesal.


__ADS_2