
Jika Helena mencari seseorang untuk merekayasa kecelakaan, Aditya mencari beberapa preman yang mau dibayar untuk mengakui bahwa merekalah yang melakukan ini terhadapnya.
Aditya juga tak tanggung-tanggung, memberi kopensasi dan jaminan hidup untuk keluarga mereka yang ditinggal selama dua tahun dipenjara. Setelah DP masing-masing limapuluh juta diberikan, mereka diminta untuk berlari sebelum akhirnya polisi menemukan dua orang tersebut, agar semua terkesan natural dan alami.
Sebelumnya, mereka juga memukul pelan Aditya guna meninggalkan sidik jari, tapi, Aditya juga mengancam kalau sampai mereka membocorkan rahasianya, Aditya tak akan segan-segan membunuh anak istrinya yang telah dia jamin kehidupannya.
setelah urusannya beres Aditya pura-pura tak sadarkan diri di sebuah jalan yang sepi dan jauh dari keramaian bersama barang bukti pecahan botol dan pipa untuk memukul.
****
Sementara Novita merasa ada sesuatu yang aneh, tidak biasanya nomor suaminya tidak aktif selama ini.
Meskipun pikiran buruk sering menghampiri, ia tetap berusaha positif thinking.
"Ah, mungkin mas Adit masih sibuk dan tak ingin diganggu," gumam Novita seorang diri.
Novita pun bersiap hendak menjemput Axel. Tapi, gawainya berbunyi. Sebuah panggilan masuk, dan betapa senangnya dia begitu melihat kalau yang menelpon adalah suaminya.
Dengan antusias wanita itu menjawab panggilannya. Tapi, dalam hitungan seberapa detik saja rout mukanya langsung berubah menjadi muram.
"Apa yang terjadi padamu, Dit? Di rumah sakit, mana kau sekarang? Dan bagaimana bisa kau dipukuli oleh preman?" tanya Novita sedih.
"Awalnya aku hanya menolong ibu-ibu bersama putranya yang tengah mereka palak. Tapi, aku tidak tahu kalau mereka membawa senjata. mereka berdua menghajar ku habis-habisan. Tidak apa-apa yang penting aku masih selamat dan masih bisa bertemu denganmu. Kau datanglah aku di rumah sakit medika tempat aku bekerja sejak semalam. aku dirawat di sini. Maaf baru mengabari, aku baru sempat mengecas ponselku."
"Baik, Dit. Aku akan segera kesana. Biar Axel dijemput mamaku."
Dengan tergesa-gesa wanita itu pun masuk ke kamar menyiapkan beberapa pakaian ganti untukku suaminya. Karena panik dan khawatir, Novita mengemukakan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera tiba di rumah sakit.
ππππ
Queen terkejut saat mendapati
Seorang pria mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna biru berdiri di sebelah mobil InovaΒ melempar senyum dan melambaikan tangan padanya.
Queen mempercepat langkahnya, setengah berlari menghampiri pria itu. seraya berkata, "Ini kan, baru hari Jum'at. Katanya kau kemari besok hari Sabtu. Apakah tidak apa-apa?"
Pria itu tertawa. "Memangnya kenapa? nggak boleh berlama-lama sama kamu ya?" ucapnya sambil membuka pintu mobil dan mempersilahkan Queen untuk masuk.
Queen pun masuk dan duduk di sebelah kemudi. Sementara Diaz berputar masuk ke pintu samping.
"Ini kita mau ke mana? Ke rumah kakek, apa ke apartemen kamu dulu?" tanya Diaz sambil memasang sabuk pengaman.
"Ke apartemen dulu aja yuk! Masih ada hal yang harus aku kerjakan untuk laporan besok agar saat kita ke Bandung aku tidak terbengkalai dengan pekerjaanku," ucap Queen.
Malam ini suasana ibu kota tidak begitu padat seperti biasanya, selain baru saja turun hujan, ini juga sudah cukup malam.
Diaz pun hanya mengangguk dan mulai mengemudikan mobilnya ke arah apartemen Queen meskipun dalam hatinya tiada henti meruntuk
__ADS_1
'Oh, imanku... Semoga tak tergoyahkan oleh makhluk ciptaanmu yang satu ini, ya Tuhaaan.'
Tidak ada obrolan di antara mereka berdua, Diaz terlalu fokus mengemudikan kendaraan yang lumayan kencang. Sementara Quen sedari tadi asik memandangi wajah Diaz dari samping. Bagi wanita berusia duapuluh lima tahun itu, pria yang tengah serius itu gantengnya berlipat.
Sekitar tiga ratus meter dari apartemen Queen, berulah Diaz sadar, kalau sepanjang perjalanan wanita itu terus mengamatinya hampir tanpa berkedip.
"Eh, kenapa? Ada yang salah, ya?" ucap Diaz gugup.
"Enggak, kok. Cuma lihatin kamu aja. Gak boleh, ya? Kamu ganteng deh," ucap Queen sambil terkikik.
Diaz semakin salah tingkah dibuatnya. Ia kembali berpura-pura fokus melihat ke depan, meskipun sebenarnya ia merasa grogi dipandangi oleh Queen seperti itu.
"Benar, kan. Ini belok ke kiri ke arah apartemen kamu?" tanya Diaz mengalihkan pembicaraan.
Bukannya mengiyakan. Hal itu malah digunakan Queen untuk menggoda Diaz lebih dalam.
"Ya iyalah, belok kiri. Kalau kita lurus gitu nanti akan ke villa dan jika belok kanan ke hotel. Emangnya kamu mau ajak aku chek in?" Queen kian tertawa terkikik.
Sedangkan Diaz hanya diam saja. Ia merasa, walaupun Queen tidak seperti Hanifah, tapi dia kian berani dan gencar saja memancing sisi kenormalannya.
Jika Hanifah ia berani meski tanpa respon. Sementara Queen baru seperti ini setelah Diaz menyatakan cinta kepadanya.
Diaz berfikir meskipun dia cenderung datar pada pria, tapi sepertinya tidak dengan pasangannya. Pantas saja Alex sangat sayang terhadap wanita ini sebelum kehilangan ingatannya. Dan sekarang, meski ia tak ingat apapun mengenai Quen. Diaz dapat melihat penyesalan yang terbesit di hati pria bule itu.
Tiba di apartemen Queen menawari minuman pada Diaz. Tapi, pria itu menolak dibuatkan sesuatu. Dia hanya ingin air putih biasa saja, dan mengambilnya sendiri di dispenser dapur.
Karena sudah malam, Diaz berpamitan untuk mencari hotel dekat apartemen kekasihnya itu, hanya saja, Queen yang nampak sangat rindu pada pria itu melarangnya. Ia meminta pria itu untuk bermalam di tempatnya.
Sebuah pilihan yang membingungkan pula bagi Diaz sebenarnya.
Di satu sisi ia tak ingin berpisah dulu dengan Queen tapi, di sisi lain ia juga takut hal buruk terjadi.
Kembali kata-kata abahnya terngiang di telinganya.
Jika dua pasang muda mudi menyepi, atau berapa di dalam ruangan berdua maka yang ketiga adalah setan.
"Tetaplah bersamaku malam ini. di sini ada dua kamar kou bisa menempati satu kamar lainnya," ucap Queen manja sambil memegangi lengan kiri Diaz.
Cinta dan nafsu memang beda tipis, dan jika dua hal itu berkumpul, susah pula untuk menolak bagi pria yang usianya sebaya dengan Quen.
"Baiklah." Diaz mengelus kepala Quen dan kembaki duduk di single sofa tersebut.
"Kaku sudah menyiapkan untuk sidang terakhirmu?" tanya Diaz mencari bahan pembicaraan untuk mencarikan suasana.
"Sidang apa? Bahkan besok saja pengacaraku sudah bisa mengambil akta ceraiku," ucap Quen.
"Loh, katanya hari Senin penentuan?'
__ADS_1
"Tidak, aku bohong sama kamu."
Dias mengumpulkan keberaniannya untuk mendekati Queen diraihnya tangan kanan wanita itu sambil berkata, "Jadi, setelah resmi bercerai wanita itu punya waktu Iddah selama empat bulan sepuluh hari. Kita nanti waktu itu bersama, ya? Lalu menikah sama aku?"
Ucapan yang berupa nasehat, dan juga lamaran itu benar-benar terucap tulus dari hati Diaz. Sehingga dengan sangat mudahnya Queen merasa tersentuh dan terharu. Wanita itu bahkan sampai menitikan air mata. Takpa berfikir apapun Queen memeluk Diaz dengan sangat erat.
"Iya, aku cuma akan menikah denganmu setelah ini, Diaz. Terimakasih sudah mau menerima aku apa adanya."
Perlahan Diaz melepaskan pelukannya. Ia menatap dalam mata Queen lalu berkata, "Untuk apa berterima kasih kepadaku? Sudah dari awal melihatmu. Aku tak peduli statusmu, apa. Selama itu bukan istri orang," ucap Diaz.
Lalu dengan perlahan ia memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya ke arah wajah Queen, dan memulai menngecup bibirnya dengan mata terpejam.
Kali ini sepertinya dia sudah benar-benar menyiapkan mental. Ia tak hanya sekedar mengecup seperti biasanya, tapi, juga melumat bibi merah alami itu. Mengikuti nalurinya sedikit mendorong tubuh Queen ke depan, meskipun tangannya tidak meraba ke mana-mana. Tetap ia letakan di belakang kepala dan rahang Queen.
Sedangkan wanita itu, seolah memberikan lampu hijau, ia membaringkan tubuhnya di atas single sofa Kedua tangannya menjambak lembut rambut Diaz dan merespon permainan lidah Diaz.
Kini posisi Queen ada dalam tindihan Diaz.
Diaz menarik bibirnya, memperhatikan ekspresi wanita di bawahnya. Wajah Queen yang memerah serta matanya yang sayu membuat ia ingin melakukan hal yang sama lagi. Kembali ia menciumnya, ia mengigit bibir bawah wanitanya dan kian turun ke dagu.
Bahkan Quen juga memberikan sinyal, ia mendongak dan menyilangkan kedua kaki jenjangnya pada pinggang pria itu.
Diaz makin tak dapat kontrol diri. Hatinya terus berkata stop, Diaz. Ini salah. Namun fisiknya berkata lain, tubuhnya ingin terus dan terus melakukan hal yang lebih dari ini, terlebih saat merasakan kedua kaki Quy menekan kuat pada pinggangnya, sementara posisinya ada di atas tubuh Quen.
Tapi, dalam hati, ia tiada henti berharap ada sesuatu yang kiranya dapat menghentikan perbuatan ini agar tidak sampai kebablasan. Terlebih, saat Queen mengeluarkan desahan lembut ketika ia mencumbu lehernya. Membuat pria itu semakin kehilangan akal sehatnya.
Ponsel Quen yang diletakan di atas meja tidak jauh dari tepat ia bercumbu berdering. Queen tetap memegangi leher dan kepala Diaz, tapi, ini adalah alasan Diaz agar dapat berhenti, ia pun berbisik di dekat telinga Quen.
"Kamu angkat saja dulu, siapa tahu penting."
Bagi Diaz ini adalah cara tepat untuk menyembunyikan suaranya yang serak karena nafsu, tapi, bagi Queen justru ini malah membuat ia kian naik.
"Baiklah!" jawabnya, bercampur dengan desahan karena napasnya masih berat.
Queen duduk dan merapikan rambutnya, lalu berkata, "Kak, Al." Sambil menunjukan layar ponsel pada Diaz.
Ia pun mengangkat panggilan itu, sementara Diaz kembali ke dapur untuk minum air putih sebanyak-banyaknya.
Usai mematikan telfon, Queen memandang ke arah Diaz yang masih nampak salah tingkah.
Lalu pria itu berkata "Kamu tidur, ya? Ini sudah malam. Kukannya besok kamu harus bekerja? aku janji, besok akan mengantarmu ke rumah sakit," ucapnya.
Dengan berat hati queen menuruti perkataan Diaz. Sebenarnya ya masih ingin bercumbu dengan Diaz. Di kalungkanya kedua lengannya pada leher Diaz dan berkata, "Baiklah aku akan tidur." Queen mengecup singkat bibir pria itu dan masuk ke dalam kamarnya.
Di sana wanita itu masih dapat merasakan hangatnya tubuh Diaz saat memeluknya. Serta permainan lidahnya, juga seolah masih berbekas rasanya, Quen tersenyum seorang diri. Lali memeluk guling dan mulai memejamkan matanya
Sementara Diaz, ia merasa hatinya gundah. Dalam hati bersyukur dengan adanya panggilan dari Al tadi, hanya saja, dia yang baru pertama kali bersentuhan dengan wanita dan seintim ini membuatnya gelisah, bahkan kepalanya pun terasa sakit. Ia tidak bisa tidur semalaman. Baru sejkitar pukul tiga lewat tiga puluh dini hari, baru ia dapat memejamkan mata.
__ADS_1