Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 35


__ADS_3

Assalamualikum!"


Semua mata tertuju pada seorang gadis muda di depan pintu yang mengenakan setelan celana putih, baju tunik berwarna navy dan phasmina abu-abu muda. membuatnya terlihat cantik dan anggun.


"Waalaikumssalam," jawab seisi ruangan itu bersamaan.


"Zahara, kau sudah pulang, Nak?" sapa Umi Fatiya pada gadis itu.


"Sudah, Umi." Gadis itu mencium tangan uminya, wanita di seblahnya, lalu Clara, dan menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya sambil melihat ke arah Vano dan Al.


"Ini putri bungsu saya, Kakaknya dia melanjutkan study di Chairo, sudah smester akhir," ucap Umi Fatiya memperkenalkan Zahara.


Gadis itu pun masuk ke dalam, namun, dia mengintip sebentar di belakang pintu, melihat Al yang menurutnya sangat tampan.


Zahara setelah dewasa ini sering datang ke panti asuhan membantu mengajar pelajaran religi dan mengaji, sementara saat kecil dulu sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah. Jadi, Al tidak tahu. Kalaupun tahu, pasti juga sudah lupa.


"Al, Umi tanya sama kamu, jawan jujur, apakah kau ingin melihat ibu kandungmu?"


Al menoleh ke arah Clara lalu Vano. Mendapat jawaban lewat kontak mata, Al pun turut mengangguk.


"Umi tanya sekali lagi, apakah kau membencinya?"


"Sama sekali tidak," jawab Al tegas.


"Baiklah, Wanita itu satu bulan yang lalu kembali datang kemari, tanpa putus asa terua menantimu dalam doanya, dan usaha dia adalah dengan tetap tinggal di sini dan turut membantu mengasuh anak-anak panti, kau tahu siapa dia, Al?" Umi Fatiya tersenyum menunjukan wibawa dan kelembutan hatinya.


Sementara Al mengelengkan kepala.


"Dia adalah wanita di samping Umi. Di hadapanmu, Al."


Semua mata menoleh ke arah wanita berhijab syar'i putih itu yang tersenyum dalam tangisan harunya. Dia memanggil nama Al tanpa berani menyentuhnya.


"Al Fatih!"


Al nampak masih syock. Ternyata wanita ini lah yang melahirkan sekaligur melindunginya dengan cara menaruhnya di panti asuhan.


Al kembali melihat ke arah Clara. Dilihatnya mama angkat yang tersenyum sambil memberi isyarat agar ria memeluk ibu kandunya.


Al pun bangkit duduk bersimpuh mencium berulang kali tapak tangan Jeslyn.


Semua mata yang melihatnya ikut terharu. Tapi, Clara tiba-tiba pergi berlari ke luar.


Jauh dari keramaian di bawah ayunan dia berjongkok melipat kakinya memmeluk lutut menunduk menenggelamkan wajahnya menyembunyikan tangisannya.


Dia terus terisak, karna rasa takut kehilangan putra yang sudah duapuluh satu lebih dia rawat, dan juga cemburu karna nyatanya dia hanyalah ibu angkat, dan jelas saja dia tidak bisa melarang Al ikut ibu kandungnya juka dia mengintinkannya.


Clara segera mengankat wajahnya dan menyapu air mata yang membasahi kedua pipinya saat menyadari ada tangan yang menyentuh punggunnya.


Orang itu pun ikut duduk di samping Clara lalu memeluknya memberi kekuatan.


"thank you very much for looking after my son well.  and love her wholeheartedly," bisik wanita itu.


Clara hanya bumkam dan masih terisak.


"Memang aku ibu kandungnya, tapi, kurasa kita sama-sama tidak memiliki kuasa atas Al. Dia putra kita. Biarkan dia yang menentukan. Tapi, jika dia memilihmu, bolehkah aku mengunjunginya jika aku bermain ke Indo?"


Lagi-lagi Clara terisak dan lebih parah, malah Jeslyn memiliki hati lebih lapang darinya. Andai Clara di posisi Jeslyn, sudah pasti akan memperjuangkan Al mati-matian, tapi, Jeslyn lebih menghargai perasaannya, rela mengesampingkan keinginannya tinggal bersama Al. Bagi Jeslyn dengan mau mengakuinya dan tidak membencinya saja sudah cukup.

__ADS_1


"Jangan menangis, ayo kita ke dalam!" ajak Jeslyn.


Al dan Vano sudah bisa menebak kalau Clara pasti akan menangis dengan masalah ini, dia akan sedih dan takut kalau Al akan ikut ke luar negeri dengan ibu kandungnya.


"Al, kau sudah menemukan orang tua kandungmu, kami tidak bisa melarang jika memang kau ingin bersama mereka," ucap Clara di kuat-kuatkan.


Melihat Clara terpukul seperti itu Al tidaklah tega. Tapi, berusaha menghilangkan kecengengannya juga tidak salah, kan?


"Benar kah, Ma? Al boleh ikut petgi bersama Momy?" ucap Al sok serius.


Clara mengangguk tersenyum. Tapi, air matanya lebih deras mengalir.


"Terimakasih, Ma sudah merawat dan membesarkanku dengan kasih sayang selama ini. Kau yang terbaik dari yang baik. Semoga Mama dan papa bahagia, Al akan tentap tinggal dengan kalian, Ma." Al pun memeluk Clara.


🌸 🌸 🌸


"Al, kau mungkin benci sama ibu, Nak, dan malu mengakui aku ini ibumu karna aku wanita kotor, tapi, itu memang kenyataannya, Nak. Pulanglah, ibu tidak meminta apapun dari keluarga ini, kamu juga tak perlu membawa apapun yang diberikan mereka, ibu cuma mau kamu bukan harta." Rika menangis tersedu-sedu di hadapan Al, memohon belas kasihan.


"Bu, maaf. Anda salah mengenali orang. Saya dari kecil tinggal di panti asuhan, dan saya ditemukan oleh pimpinan panti itu di depan pintu gerbang. Anda salah, Bu." Sebisa mungkin Al berusaha memberi pengertian.


Sementara Quen, Vano dan Clara sudah bisa menerima karena mereka sudah mengetahui kebenarannya.


"Tante, apakah ayah biologis kak Al itu seorang bule?" tanya Quen.


"Banyak orang asli indonesia tapi seperti blasteran, Nak Quen. Contohnya Luna Maya," ucap Rika bersikukuh.


Quen pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ya mungkin bisa jadi begitu.


Quen pun pergi meninggalkan tempat itu yang menurutnya seperti panggung pertunjukan drama. Dia merasa bosan. Lalu, memutuskan menelfon panti asuhan meminta Umi Fatitya dan Tante Jeslyn untuk datang.


Jika hanya diam, mereka tidak akan kemari, karna ibu bukan film India yang tiba2 polisi/mobil pemadam juga ambulan datang di setiap kasus tanpa di panggil.


"Assalamualaikun!"


"Waalaikumssalam."


"Bu, lihatlah wanita berhijab hijau muda itu! Tidakah kau merasa aku mirib dengannya?" Lirih Al, agar hanya Rika yang mendengarnya.


"Lalu, apakah maksutmu dia ibu kandungmu dan Pak Vano ayah biologimu? Kalian juga mirib dari awal, jika aku tidak melihat tanda lahir itu, aku pun juga tidak akan mengenalinya," teriak rika.


"Permisi, kami sudah menyelidiki kasus ini ke kepolisian, Jika memang Al putra anda, Coba, di bagian leher kiri atau kanan tanda lahir itu terletak?" tanya Jeslyn yang terlanjur mendengar.


"Aku Lupa, tapi, sebelum itu, aku ingay ada tanda biru besar yang akan terus membesar seriring pertumbuhannya di belikat kiri," jawab Rika yakin.


Mendengar hal itu, Al langsung melepas kemeja dan singletnya di hadapan semua orang dan meminta semuanya melihatnya, "Apakah ada?" Tanyanya.


Dan ternyata tidak.


Wajar Rika langsung memerah antara malu dan tak percaya, tapi, memang benar kata Quen kalau Al seperti Blasteran, sementara Bram sama spertinya, Indonesia tulen.


"Bu Rika, apakah anda benar-benar merindukan putra anda?"


"Iya, Bu. Saya menyesal telah mentelantarkannya," ucap Rika terisak.


"Apakah anda menerima dia sperti apapun keadaannya andai tidak seganteng dan sesempurna mas Al?"


"Sekalipun dia cacat, tetaplah anak pertamaku, Bu. Saya akan menerimanya dengan tangan Terbuka," jawab Rika mantap.

__ADS_1


"Zahara, bawa mereka kemari, Nak," ucap Umi Fatiya sedikit kencang.


Tak lama kemudian Zahara masuk dengan sepasang suami istri muda yang menggendong buah hatinya ke dalam.


Semua mata melihat ke arah pria yang ada di belakang Zahara.


"Lihat, Bu! Pria yang gagah itu, adalah Akbar, Putra kandungmu, bersa istri dan putranya."


Pria berkulit kuning berpawakan tinggi itu langsung bersalaman kepada Rika.


Beruntung sekali Rika telah menaruh bayinya di rumah orang sholeh, ustadz di tempat itu, maka, kekuarga yang sudah lama menikah dan belum juga dikaruniai anak selama sebelas tahun itu mengadopsinya secara resmi, kebetulan, melewati panti asuhan yang di urus Umi Fatiya, jadi, sangat mudah bagi Umi melacaknya begitu mendengar penjelasan Al dari awal.


"Akbar, ini istrimu, Nak? Dan inikah cucu Ibu? Maafkan ibu Nak ibu salah, ibu terpaksa Nak."


"Sudah Akbar maafkan, Bu. Insyaallah akabar sudah memaafkan dari jauh hari dan juga mengerti posisi ibu, Umi dan Abah sudah tiada, jadi, Akbar cuma punya Ibu."


Lyli pun berjalan mendekati kakak kandungnnya, dia tidak bisa mengucapkan sepatah katapun, entah terlalu syock, atau malu dengan apa yang pernah dia lakukan terhadap Quen.


Tapi, dengan sangat lapang Quen memaafkan Lyli, dia pun juga meminta maaf tethadap Lyli karena sempat menghajarnya habis-habisan.


Tiba-tiba Al meringis saat perutnya dicubit Quen yang entah sejak kapaj dia berdiri di sebelahnya.


"Hay, kau pamer perut sexy, ya? Dilihatin hijabers, tuh!" Goda Quen yang ternyata sadar kalau Zahara berkali-kali mencuri pandang ke arah Al.


Semuanya pun ikut tertawa sementara Al melempar singletnya di muka Quen dan mengenakan kemarjanya dikancingkan dengan asal pula.


Rika dan Lyli kembali meminta maaf pada keluarga besar Clara atas kesalah pahamannya, dan mereka pun hidup dengan tenang bersama keluarga masing-masing. Dan Lyli masih tetap bekerja di rumah itu dan bersahabat dengan Quen.


"Kak, Anak kandung Bu rika seusiamu saja sudah punya anak, kamu bahkan masih jomblo?" Goda Quen.


"Ya belum ketemu jodoh lah, Quen, ada gak temanmu yang cantik dan baik seperti mama?" ucap Al sambil tertawa.


"Kenapa kau selalu mengatakan wanita baik itu mama bukan aku?" Protes Quen sambil manyun.


Mendengar pertanyaan Quen, Al sadar kalau dia hampir saja keceplosan, memang dia tidak pernaj menaruh hati pada wanita manapun saat ini. Beruntung Al cerdas, jadi, dengan mudah dia menemukan alasan yang logis.


"Ok, baiklah, aku sebelumnya anggap kalian keluarga kandung, dan setiap anak laki-laki pasti mengidolakan wnaita seperti ibunya, begitupun anak perempuan dia merasa bahwa ayahnya lah pria terbaik dan tersempurna di dunia, kelak jika ingin menikah akan menikahi lelaki seperti ayahnya, iya, atau tidak?"


Quen diam berfikir sejenak dalam hati ia membenarkan apa yang Al katakan.


"tuk!"


Al mematuk jidak Quen pelan dengan jarinya, "Bengong saja, sih?"


"Iya, kakak benar, kelak aku akan mencari lelaki baik dan setia seperti Papa," ucap Quen. Karna dia sadar selama ini kedua orangtuanya nampak tetap harmonis dan ramantis aja, beda dengan orang tua teman-temannya, kalau tidak berpisah, ya bertahan dalam kesakitan di antara wanita ketiga.


"Al Fatih, bahkan Momy lihat kaliam berdua sangat akran dari kemarin, kenapa tidak menikah saja?" ucap Jeslyn yang tiba-tiba saja nimbrung.


Al tersenyum sambil merangkul pundak adiknya, "Mom, dia itu adik kandung bagiku, kalau aku menikahinya, itu tidak akan baik."


"Ya, biasanya lelaki tuh ngeselin kalau dah jadi suami, kalau suamiku ngeselin aku ngadu ke siapa kalau tidak punya kakak, Mom? Mantan pacar? Ya diketawain," ucap Quen sabil tertawa.


"Hay, Quen sayang, kau panggil aku apa?" tanya Jeslyn tidak percaya.


"Momy, kenpa? Anda keberatan?"


Jeslyn menitikan air mata haru, "Tidak, Quen. Justru tante senang, seolah setelah kehilangan putra, dia kembali dan memberi putri untukku, apakah kau tidak membenciku karna menelantarkan kakakmu?"

__ADS_1


"Kau tidak punya salah padaku, lantas kenapa aku membencimu? Kau mengizinkan kak Al tetap menjadi kakakku, dan putra papa mamaku. Jadi, sama seprti kak Al, kau juga Momyku."


Jeslyn meletakan tehnya di atas teras dan memeluk Quen. Dia menyukai gadis itu, ramah, baik dan pemaaf, walau memiliki sisi buruk terlalu tempramen dan belum begitu mampu kontrol emosi. Tapi, intinya Quen itu baik, bukankah wanita sering menjadi jahat katena lelah dan menjadikan kejahatan sebagai bentuk pelampiasan kesal dan keceanya?"


__ADS_2