Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 235


__ADS_3

Tepat pukul Sembilan lewat tiga puluh, sebuah mobil Alphad warna


hitam memasuki Gedung kantor di mana Al tengah menjabat menjadi CEO sementara.


Mungkin, setelah dua penumpang dari mobil tersebut turun dan mengadakan


pertemuan secara resmi, semua akan berubah seperti semula.


Dengan cara resmi dan profesional pula, Al menyambut dua


orang tersebut sebagai CEO sebenarnya dan, owner perusahaan. Di rumah mereka


adalah papa dan kakeknya. Tapi di sini? Dia tetap dibayar sebagai ceo


pengganti, saat papanya tidak bisa memegang perusahaan dikarenakan kecelakaan


yang nyaris merenggut nyawanya, dua tahun silam. Kini, ahirnya ia akan kembali


juga.


Setelah diberitakan pengumuman, Al mulai minggu depan akan


pindah kantor. Ia menghela napas Panjang, dan berseru dengn lega, “Haaaah,


akhirnya mulai minggu depan anteng, gak perlu bolak-balik sana sini lagi.”


“seneng, kamu Al?” tanya Andrean saat melihat cucunya terlihat


lega.


“Lumayan, Kek. Hehehe.”


“Ya sudah, kakek dan papa akan kembali dulu. Kami akan ke


rumah sakit untuk melihat keadaan mamamu.”


“Baik, Kek. Hati-hati.”


Setelah mengantarkan kakek dan papanya sampai halaman depan,


dan menyempatkan diri melihat sampai keduanya masuk ke dalam mobil, Al pun


kembali ke ruangannya, dan kembali bekerja.


Sedangkan para staf pada heboh. Terlebih staf muda yang


masih magang, ataupun yang baru lulus kuliah, mereka sangat merasa kehilanganh


sosok Al. Walau selama ini juga mereka tidak pernah kenal dan dekat secara


pribadi, bertemu juga jarang, kalaupun ada kesempatan berbicara juga tidak


labih dari membahas masalah pekerjaan saja. Tapi, dengan hanya memandangnya


saja, jelas ada kebahagiaan tersendiri bagi mereka.


Tapi, sebagian besar juga ada yang suka dengan kembalinya


Vano sebagai bos besar mereka. Karena, Vano orangnya ramah, baik dan mudah


bergaul dengan siapa saja. Lain dengan Al yang cenderung memiliki kepribadian


dingin dan terkesan angkuh. Walau hubungan mereka adalah anak dan bapak. Tapi,


dari segi wajah dan postur tubuh juga tidak beda jauh. Entah Al yang boros,


atau Vano yang awet muda?


“Pak Vano dan pak Al benar-benar seperti saudara kembar


saja, ya? Apalagi pas pak Al mewarnai rambutnya dengan warna abu-abu kaya uban


dan berkumis gitu. Jadi seperti orang yang tengah bercermin saja.”


“Ya, benar. Ngomong-ngomong, sudah hampir dua tahun pak Vano


tak sadarkan diri, dia tetap gagah dan seganteng dulu. Tak ada perbuhan.”


“Jelas saja, bahkan nanti jika istrinya sadar juga akan


lebih cantik. Kan putri mereka adalah dokter yang bekerja di rumah sakit di


mana beliau dan isyrinya di rawat. Kemarin salah satu staf tinggi ada yang


menjenguk ke sana, katanya putrinya meberikan perawatan wajah, masker seminggu


dua kali, dan tiga minggu sekali juga faciel.”


“Sungguh anak yang berbakti, ya?”


“Benar. Tapi, aneh. Kenapa dia tidak melanjutkan perusahaan


milik kakeknya saja, ya? Seperti papa dan juga kakaknya.”


“Entahlah, mungkin itu juga sudah sebagian takdir mreka.


Apakah kamu sudah tahu, seperti apa adiknya pak, Al?”


“Belum, pasti ya cantik banget. Bu Clara saja cantic, masa


anaknya tidak.”


“Apakah kau sudah tahu dengan istri pak Vano?”


“Tentu saja, sudah berapa tahun aku bekerja di sini? Hampir


sepuluh tahun, looh. Dulu, beliau sering membawakan makan siang untuk pak Vano.”


“Eh, istri pak Al kok jadi gak pernah, ya? Apakah mereka


baik-baik saja?” ucap salah satu dari tiga wanita yang tengah bergosip itu.


“Sudah, jangan pikirkan itu, kalaupun mereka bercerai, juga


pak Al akan menikahi Queen, hahaha.”


“Iya, mereka sangat serasi, baru dengan wanita itu pak Al


benar-benar dikalahkan.”


Juna yang kebtulan mendengar perbincangan para rekan


kerjanya, hanya tertawa tertahan saja. Pria itu membantin, ‘Adiknya, Pak itu,


adalah asiten pribadinya yang juga dokter itu, masa tidak curiga sama sekali?’


Lagi pula, siapa pula yang akan menyangka dan berfikir


demikian, di kantor mereka memang tidak nampak seperti kaka beradik saja. Cara


Queen bekerja saja yang memang sudah professional, tidak mau mengandalkan


kekuatan keluarganya.


Al melihat arloji di tangannya. Ia menghitung detik demi


detik untuk sampai pada pukul 12 siang. Tik… Tik… Tik… “Yes! Saatnya


istirahat,” gumamnya seorang diri.


Dengan langkah cepat dan sedikit buru-buru Al menuju ke


parkiran. Dengan cepat pula ia melajukan kendaraannya seperti jet menuju ke


rumah sakit di mana Queen belerja.


Sesampainya di sana, ia belum melihat Queen di tempat


biasanya menunggu, ia pun memutuskan untuk menunggunya di dalam mobil, sambil


melihat keadaan sekitar.


Hampir limabelas menit lamanya Al menunggu, Ia merasa mulai


bosan, ia pun mengambil ponsel di dalam saku kemejanya. Baru saja ia menyalakan


gawainya, seorang wamita masih dengan mengenakan jas putih masuk di damam


mobilnya.


Al yang tak tahu kapan dia datang, dan tahu-tahu maen masuk


saja, ia sedikit terkejut dibuatnya. Tapi, ia tidak mengatkan keterkejutannya


selain tersenyum dan menyapa wanita itu.


“Sudah selesai, Sayang?” Al mendekatkan tubuhnya ke arah


Queen, memberi sedikit pelukan dan mengecup keningmya.


“Kita mau ke kemana?” tanya Queen, langsung ke inti.


“Terserah, memang kamu mau ke mana? Ke mall gimana? Kita


makan, terus aku antar kamu belanja? Selama jadi suamimu aku belum pernah


membelikan apapun padamu.”

__ADS_1


Queen menahan tawanya saat ia mendengar kalimat yang


diucapkan oleh Al seolah dia suami yang tak berguna. Tapi, memang benar juga


apa yang dia katakannya. Hanya saja nada bicaranya membuat dia geli sendiri. Tak


mau dalam suasana yang melo, Queen giliran mendekatkan diri pada Al dan menecup


pipinya.


“Ya, deh, traktir aku yang banyak ya, Suamiku.”


Al terperenjat dengan panggilan yang baru saja Queen gunakan


untuknya. Bagaimana tidak? Melayani saja harus diperkosa dulu, sekarang kok


malah…


“Baik, apapun yang kau mau, aku akan membelikan untukmu,


asal, kau jangan minta pria muda dan tampan untuk kau jadikan teman.”


Queen melihat ke wajah Al dan tersenyum. “Apa-apaan, sih?”


Wanita itu pun memegang lengan Al yang tengah menyetir, dan berkata, “Aku sudah punya kamu sebagai


kakak, suami, dan juga teman.”


Al yang mendapati sikap Queen yang tidak biasa ini masih


belum bisa percaya. Ia menganggap ini semua hanya mimpi dan ilusi semata. Lalu,


dia mencubit pahanya sendiri, dan ternyata masih sakit. Artinya, itu bukanlah


mimpi. Tapi, ini nyata.


Queen terdiam, pandangannya lurus ke depan seolah dia


benar-benar fokus melihat jalanan. Padahal sebenarnya, pikirannya menerawang


nun jauh ke awang-awang. Tanpa sengaja, dia tadi membuka akun sosmednya saat


waktu longgar. Baru saja online, ia sudah disuguhkan dengan pemandangan yang


tidak enak dihatinya.


Bagaimana tidak, ia melihat postingan Hanifah berupa video


singkat ketika dia sarapan bersama dengan tunangannya dengan caption yang


sepertinya keduanya sama-sama cinta. Walau tanpa caption tersebut, dia juga


sudah bisa menilai bagaimana gestgur dan cara Diaz memandang Hanifah.


‘Apa yang Shinta katakana tadi pagi memanglah benar. Tak


seharusnya aku memikirkan masa lalu, walaupun kita sama-sama cinta. Tapi,


seiring berjalannya waktu, cintanya untukku juga akan pudar, dia sudah mulai


menerima Hanifah. Lalu, kenapa aku tidak menrima Al sebagai suami? Memang


faktanya begitu, kan? Dia berbuat begitu larena benar-benar sayang dan cinta


sama aku, jika tidak, kenapa ia harus melakukan tindakan segila itu. Pada


dasarnya dia adalah pria yang lembut, jika akum au sedikit patuh dan


menyenangkannya.’


“Al, katanya kamu mau bilang sama papa tenteng pernikahan


ini, kapan?” tanya Queen tiba-tiba.


“Bagaimana reaksi papa kira-kira, Sayang? Dia marah tidak?


Nanti kalau aku diusir bagaimana?” jawab Al.


“Memang apa alasannya mengusirmu?”


“Aku adalah anak yang dia adopsi sejak kecil. Harusnya aku tetap menjadi


kakakmu. Namun, dengan lancangnya aku malah melakukan hal buruk dan menikahimu secara paksa.”


“Jika aku berkata dengan suka rela, apakah papa masih akan


marah?” Queen memandang serius ke arah Al yang tengan mengemudikan mobilnya.


Sedangkan pria itu nampak berfikir berat dan hanya mengankat


kedua bahunya saja.


perceraian resmi. Itupun jika antara kita mau. Kau tidak mungkin melakukan itu,


kan?” ucap Queen bersungguh-sungguh.


“Ya. Tapi, jika papa tetap dengan keras menentang, dan


mengusirku dari rumah… “


“Aku akan ikut bersamamu.” Dengan cepat Queen menjawab


perkataan Al sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya.


Al menoleh ke arah Queen dan tersenyum lalu kemudian ia


mengelus belakang kepala wanita itu. Tapi, dalam benaknya masih bertanya-tanya,


ada apa ini sebenarnya? Bukankah tadi dia masih sentiment banget sama aku.


Lalu, kenapa dengan sekejap seolah kami ini adalah pasangan yang sejak awal sudah saling mencintai?


Tiga puluh menit mengendarai mobil dengan kecepatan santai


mereka pun telah tiba di sebuah pusat perbelanjaan atau mall. Tempat yang


mereka tuju selanjutnya, adalah food coard. Queen melirik tangan Al yang


berjalan di sebelah di sebelahnya. Entah, dia ingin menggandeng tangan pria itu


namun ragu-ragu, atau berharap Al menggandeng tangannya? Mungkin juga


dua-duanya.


Al yang menyadari Queen melihat pada tangannya pun langsung


memasukan kelima jarinya di sela-sela jemari Queen dan keduanya berjalam


bersama. Al menunduk melihat ke wajah Queen, sedangkan Queen mendongak untuk


memandang wajah tampan pria yang menggenggam erat tangannya. Jadi, pandangan


keduanya pun saling bertemu.


“Biar kutebak, kamu pasti belum makan siang,” ucap Al.


“Kurasa kau juga demikan.”


“Kita makan dulu, baru kita keliling, aku temani kamu


berbelanja.”


“Apakah kau tidak akan kembali ke kantor?”


“Tidak masalah kalau hanya sekali ini, dan sepertinya juga


nanti akan sering begini.” Al terkekeh sambil menatap genit ke arah Queen.


“Dasar! Jadi nakal gitu sih kamu?”


“Kalau tidak nakal, kamu mana bisa menyadari besarnya cintaku.”


“Jangan gombal, ah. Banyak orang tu, malu,” ucap Queen dengan


manja.


“Baik. Ayo kita makan dulu.”


Usai makan siang, Al pun menepati janjinya. Ia mengantarkan


Queen berbelanja baju, tas, sepatu dan juga kosmetik. Awalnya Queen menolak,


karena sudah pasti ia merasa capek baru pulang bekerja dan keliling-keliling.


Tapi, sekali lagi, Al mampu membujuknya. Jadi, Queen pun bersedia saja.


“Kamu gak beli kosmetik, mekap atau mungkin parfum?” tanya


Al.


“Aku kayaknya capek banget hari ini, Al.”


“Ayolah, mumpung kita keluar, sekali-sekali tidak masalah,


kan?”


Queen menatap dalam mata Al yang openuh harap. Akhirnya

__ADS_1


wanita itu pun tak mapu menolak dan menuruti kemauannya. Lagi pula, Nayla juga


belum pasti mendapatkan kesempatan seperti ini, kan? Walaupun Queen istri


kedua, tapi selalu jadi yang utama. Terlebih, ketika Al berkata kalau nanti sampai rumah ia bersedia memijit kaki Queen, bahkan seluruh tubunya juga akan dipitinnya.


Saat berjalan ke tempat kosemetik dan parfum, Al dan Queen


melintasi toko pakaian dalam wanita. Tiba-tiba saja mata Al memandang ke sebuah


lingeri berwarna hitam. Memandang sekilas saja Al sudah tertarik, Akhirnya, ia


pun diam-diam berbelok untuk membeli benda itu. Tanpa sepengetahuan Queen


tentunya.


Queen yang merasa janggal, Ia pun menoleh kebelakang. ‘Di


mana Al? Kenapa tiba-tiba saja menghilang?’


Queen pun memutusakan menunggu Al sambil memilih lipstick


yang cocok dengan warna kulitnya, dan yang dia belum punya tentunya. Dia


berfikir kalau Al mungkin ke toilet. Lalu, kenapa tidak pamit?


“Queen!” panggil seorang wanita dari belakangnya.


Merasa familiar dengan suara tersebut Queen pun menoleh ke


belakang. Dan ternyata benar, seorang gadis seumuran dengannya, dengan


postur tubuh tinggi langsing, wajah tirus, rambut Panjang hitam berombak dan


kulit putih bersih, tersenyum dan melambaikan tangan padanya.


“Shinta?”


But wait, seperti ada yang aneh. Apa, ya? Oh, pria yang


disebelahnya, membantunya membawakan tas belanjakaan dan juga hand bagnya.


‘Vico? Itu Vico teman kak Al, kan?’ batin Queen.


“Hey, kukira kau ada urusan lain bagaimana tiba-tiba bisa


berada di sini? Jika memang mau kemari kenapa tidak menghubungiku lagi? Kita


bisa, kan pergi bersama?” ucap Shinta saat mereka sudah dekat.


Menerima cecran pertanyaan dari sahabatnya, Queen pun sampai


lupa untuk menanyakan bagaimana bisa ia bersama Vico kemari. Jika memang sudah


saling kenal. Sejak kapan? Dan kenalnya di mana? Bukankah selama ini Shinta


jarang sekali ada di Indo? Atau, saat Vico berada di luar negeri kemarin,


mereka kenal di luar negeri dan pulang bersama-sama?’


“Hey, Queen. Kok bengong? Aku lagi ngomong sama kamu? Kenapa


tidak menghubungiku jika mau berbelanja? Kan enak kita bisa bareng-bareng,”


ucap Shinta sekali lagi, dan benar-benar mengagetkan Queen yang memang sedikit


melamun, bingung antara Vico bisa bersama Shinta, dan juga bingung di mana


keberadaan Al.


“Eh, aku sebenarnya kemari sama… Sama Al, Shin,” jawab Queen


lirih. Ia tahu benar bagaimana Vico, kalau sampai ketahuan pasti dia akan


mebulinya habis-habisan.


“Oh, benarkah? Di mana dia? Bagaimana dia bisa meninggalkan


mu sendirian?” tanya Shinta sambil  ,mengedarkan


pandangannya ke seluruh penjuru mall.


Queen sendiri bingung harus menjawab apa, sebenarnya, dia


juga tidak tahu di mana keberadaan suaminya.


Di waktu yang tepat, Al tiba-tiba muncul di belakang Queen.


“Sayang, maaf membuatmu menunggu. Tadi aku masih harus ke toilet. Shinta,


kebetulan sekali, dengan siapa kau kemari?” tanya Al sedikit surprise dengan


keberadaan Shinta. Sebab kejutan sebenarnya ketika ia mendengar jawaban Shinta,


dan melihat kebenaran yang tak masuk akal di deoan matanya.


“Aku kemari bersama Vico, Kak Al.”


‘Ah, kenapa pula ketemu raja ulat bulu di sini, menyebalkan


sekali. Oh, dia bersama Shinta, ya? Dia tidak akan membuliku. Tapi, kali ini


akulah yang akan membulinyam hihihi,’ batin Al. Tapi, membuli apa, juga Al


bingung, karena  dia tidak terbiasa


dengan hal itu. Melihat dua pasangan baru di depannya juga nampak serius.


Bahkan, aura mempermainkan juga tak nampak sedikitpun di wajah Vico.


“Sejak kapan kalian saling kenal?” tanya Al dengan raut


wajah datar, walau sebenarnya dia cukup terkejut pula dibuatnya.


“Kamu mau tahu aja, apa mau tahu banget?” goda Vico sambil


tertawa kea rah Al.


“Ah, terserah. Ya sudah, kalian lanjut saja,” ucap Al


berniat mengakhiri perbincangan mereka.


“al, kurasa kita biarkan saja dia wanota kita ini pergi


bersama, aku ada hal yang mau kubicarakan bersamamu,” sela Vico.


“Sekarang?”


“Iya, sekarang, yang benar saja masa tahu depan.”


“Sepenting apa? JIka kau mau mengatakan tentang yang biasa,


aku gak mau ikut campur.” Al nampaknya sudah bisa menebak apa yang ingin Vico


katakana. Dan memang, pria ini selalu jengah jika membahas mengenai perempuan,


sebelum jatuh cinta pada Queen, baginya tidak ada wanita yang semenarik mama


angkatnya. Meskipun ia sudah menikah dengan Nayla pun rasa cinta pada mama


angkatnya juga masih sangat erat melekat di hatinya.


“Ya, itu nomor yang ke duapulu, serratus, atau seribu. Tapi,


ini benar-benar penting, mengenai hasil yang kudapatkan dari Jepang, Al.”


Mendengar jawaban itu, barulah Al tertarik dan menyetujui


permintaan Vico. Tidak masalah dia berbicara ke tempat yang sepi dulu, nanti


setelah selesai barulah mereka bisa menjemput wanitanya masing-masing dan


sekalian makan malam bersama. Seumur-umur Al juga belum pernah mengajak


istrinya makan bareng dengan Vico. Yang ada, Al sendiran Vico atau pun Juna membawa


pasangan masing-masing.


“Ya sudah.” Akhirnya Al pun menyetujiinya.


 Vico pun meminta izin


pada Shinta, begitu pun Al, dengan cara yang sweet menyampaikan niatnya untuk


pergi sebentar dengan sahabatnya ini.


“Sayang, karena sudah ada Shinta, kalian berdua saja belanja


dulu, kami akan keluar sebentar, nanti kalau sudah kami akan segera kembali


untuk menjemput kalian berdua, ok.” Al mengecup mesra kening Queen di depan


Vico dan Shinta, dandi depan orang-orang yang berada di sana juga tentunya.


“Iya, sekalian kamu ambil barang dipenitipan ya, bawa


bersamamu, taruh di bagasi, agar nanti tidak kerepotan,” jawab Queen dengan

__ADS_1


lembut, membuat Shinta juga senyum-senyum sendiri dibuatnya. Sebab, tadi pagi sahabatnya ini masih terdengar kesal dari cara berbicaranya mengenai Al. Tapi, kini di depan matanya mereka serti pasangan yang dimabuk cinta.


__ADS_2