
Tepat pukul Sembilan lewat tiga puluh, sebuah mobil Alphad warna
hitam memasuki Gedung kantor di mana Al tengah menjabat menjadi CEO sementara.
Mungkin, setelah dua penumpang dari mobil tersebut turun dan mengadakan
pertemuan secara resmi, semua akan berubah seperti semula.
Dengan cara resmi dan profesional pula, Al menyambut dua
orang tersebut sebagai CEO sebenarnya dan, owner perusahaan. Di rumah mereka
adalah papa dan kakeknya. Tapi di sini? Dia tetap dibayar sebagai ceo
pengganti, saat papanya tidak bisa memegang perusahaan dikarenakan kecelakaan
yang nyaris merenggut nyawanya, dua tahun silam. Kini, ahirnya ia akan kembali
juga.
Setelah diberitakan pengumuman, Al mulai minggu depan akan
pindah kantor. Ia menghela napas Panjang, dan berseru dengn lega, “Haaaah,
akhirnya mulai minggu depan anteng, gak perlu bolak-balik sana sini lagi.”
“seneng, kamu Al?” tanya Andrean saat melihat cucunya terlihat
lega.
“Lumayan, Kek. Hehehe.”
“Ya sudah, kakek dan papa akan kembali dulu. Kami akan ke
rumah sakit untuk melihat keadaan mamamu.”
“Baik, Kek. Hati-hati.”
Setelah mengantarkan kakek dan papanya sampai halaman depan,
dan menyempatkan diri melihat sampai keduanya masuk ke dalam mobil, Al pun
kembali ke ruangannya, dan kembali bekerja.
Sedangkan para staf pada heboh. Terlebih staf muda yang
masih magang, ataupun yang baru lulus kuliah, mereka sangat merasa kehilanganh
sosok Al. Walau selama ini juga mereka tidak pernah kenal dan dekat secara
pribadi, bertemu juga jarang, kalaupun ada kesempatan berbicara juga tidak
labih dari membahas masalah pekerjaan saja. Tapi, dengan hanya memandangnya
saja, jelas ada kebahagiaan tersendiri bagi mereka.
Tapi, sebagian besar juga ada yang suka dengan kembalinya
Vano sebagai bos besar mereka. Karena, Vano orangnya ramah, baik dan mudah
bergaul dengan siapa saja. Lain dengan Al yang cenderung memiliki kepribadian
dingin dan terkesan angkuh. Walau hubungan mereka adalah anak dan bapak. Tapi,
dari segi wajah dan postur tubuh juga tidak beda jauh. Entah Al yang boros,
atau Vano yang awet muda?
“Pak Vano dan pak Al benar-benar seperti saudara kembar
saja, ya? Apalagi pas pak Al mewarnai rambutnya dengan warna abu-abu kaya uban
dan berkumis gitu. Jadi seperti orang yang tengah bercermin saja.”
“Ya, benar. Ngomong-ngomong, sudah hampir dua tahun pak Vano
tak sadarkan diri, dia tetap gagah dan seganteng dulu. Tak ada perbuhan.”
“Jelas saja, bahkan nanti jika istrinya sadar juga akan
lebih cantik. Kan putri mereka adalah dokter yang bekerja di rumah sakit di
mana beliau dan isyrinya di rawat. Kemarin salah satu staf tinggi ada yang
menjenguk ke sana, katanya putrinya meberikan perawatan wajah, masker seminggu
dua kali, dan tiga minggu sekali juga faciel.”
“Sungguh anak yang berbakti, ya?”
“Benar. Tapi, aneh. Kenapa dia tidak melanjutkan perusahaan
milik kakeknya saja, ya? Seperti papa dan juga kakaknya.”
“Entahlah, mungkin itu juga sudah sebagian takdir mreka.
Apakah kamu sudah tahu, seperti apa adiknya pak, Al?”
“Belum, pasti ya cantik banget. Bu Clara saja cantic, masa
anaknya tidak.”
“Apakah kau sudah tahu dengan istri pak Vano?”
“Tentu saja, sudah berapa tahun aku bekerja di sini? Hampir
sepuluh tahun, looh. Dulu, beliau sering membawakan makan siang untuk pak Vano.”
“Eh, istri pak Al kok jadi gak pernah, ya? Apakah mereka
baik-baik saja?” ucap salah satu dari tiga wanita yang tengah bergosip itu.
“Sudah, jangan pikirkan itu, kalaupun mereka bercerai, juga
pak Al akan menikahi Queen, hahaha.”
“Iya, mereka sangat serasi, baru dengan wanita itu pak Al
benar-benar dikalahkan.”
Juna yang kebtulan mendengar perbincangan para rekan
kerjanya, hanya tertawa tertahan saja. Pria itu membantin, ‘Adiknya, Pak itu,
adalah asiten pribadinya yang juga dokter itu, masa tidak curiga sama sekali?’
Lagi pula, siapa pula yang akan menyangka dan berfikir
demikian, di kantor mereka memang tidak nampak seperti kaka beradik saja. Cara
Queen bekerja saja yang memang sudah professional, tidak mau mengandalkan
kekuatan keluarganya.
Al melihat arloji di tangannya. Ia menghitung detik demi
detik untuk sampai pada pukul 12 siang. Tik… Tik… Tik… “Yes! Saatnya
istirahat,” gumamnya seorang diri.
Dengan langkah cepat dan sedikit buru-buru Al menuju ke
parkiran. Dengan cepat pula ia melajukan kendaraannya seperti jet menuju ke
rumah sakit di mana Queen belerja.
Sesampainya di sana, ia belum melihat Queen di tempat
biasanya menunggu, ia pun memutuskan untuk menunggunya di dalam mobil, sambil
melihat keadaan sekitar.
Hampir limabelas menit lamanya Al menunggu, Ia merasa mulai
bosan, ia pun mengambil ponsel di dalam saku kemejanya. Baru saja ia menyalakan
gawainya, seorang wamita masih dengan mengenakan jas putih masuk di damam
mobilnya.
Al yang tak tahu kapan dia datang, dan tahu-tahu maen masuk
saja, ia sedikit terkejut dibuatnya. Tapi, ia tidak mengatkan keterkejutannya
selain tersenyum dan menyapa wanita itu.
“Sudah selesai, Sayang?” Al mendekatkan tubuhnya ke arah
Queen, memberi sedikit pelukan dan mengecup keningmya.
“Kita mau ke kemana?” tanya Queen, langsung ke inti.
“Terserah, memang kamu mau ke mana? Ke mall gimana? Kita
makan, terus aku antar kamu belanja? Selama jadi suamimu aku belum pernah
membelikan apapun padamu.”
__ADS_1
Queen menahan tawanya saat ia mendengar kalimat yang
diucapkan oleh Al seolah dia suami yang tak berguna. Tapi, memang benar juga
apa yang dia katakannya. Hanya saja nada bicaranya membuat dia geli sendiri. Tak
mau dalam suasana yang melo, Queen giliran mendekatkan diri pada Al dan menecup
pipinya.
“Ya, deh, traktir aku yang banyak ya, Suamiku.”
Al terperenjat dengan panggilan yang baru saja Queen gunakan
untuknya. Bagaimana tidak? Melayani saja harus diperkosa dulu, sekarang kok
malah…
“Baik, apapun yang kau mau, aku akan membelikan untukmu,
asal, kau jangan minta pria muda dan tampan untuk kau jadikan teman.”
Queen melihat ke wajah Al dan tersenyum. “Apa-apaan, sih?”
Wanita itu pun memegang lengan Al yang tengah menyetir, dan berkata, “Aku sudah punya kamu sebagai
kakak, suami, dan juga teman.”
Al yang mendapati sikap Queen yang tidak biasa ini masih
belum bisa percaya. Ia menganggap ini semua hanya mimpi dan ilusi semata. Lalu,
dia mencubit pahanya sendiri, dan ternyata masih sakit. Artinya, itu bukanlah
mimpi. Tapi, ini nyata.
Queen terdiam, pandangannya lurus ke depan seolah dia
benar-benar fokus melihat jalanan. Padahal sebenarnya, pikirannya menerawang
nun jauh ke awang-awang. Tanpa sengaja, dia tadi membuka akun sosmednya saat
waktu longgar. Baru saja online, ia sudah disuguhkan dengan pemandangan yang
tidak enak dihatinya.
Bagaimana tidak, ia melihat postingan Hanifah berupa video
singkat ketika dia sarapan bersama dengan tunangannya dengan caption yang
sepertinya keduanya sama-sama cinta. Walau tanpa caption tersebut, dia juga
sudah bisa menilai bagaimana gestgur dan cara Diaz memandang Hanifah.
‘Apa yang Shinta katakana tadi pagi memanglah benar. Tak
seharusnya aku memikirkan masa lalu, walaupun kita sama-sama cinta. Tapi,
seiring berjalannya waktu, cintanya untukku juga akan pudar, dia sudah mulai
menerima Hanifah. Lalu, kenapa aku tidak menrima Al sebagai suami? Memang
faktanya begitu, kan? Dia berbuat begitu larena benar-benar sayang dan cinta
sama aku, jika tidak, kenapa ia harus melakukan tindakan segila itu. Pada
dasarnya dia adalah pria yang lembut, jika akum au sedikit patuh dan
menyenangkannya.’
“Al, katanya kamu mau bilang sama papa tenteng pernikahan
ini, kapan?” tanya Queen tiba-tiba.
“Bagaimana reaksi papa kira-kira, Sayang? Dia marah tidak?
Nanti kalau aku diusir bagaimana?” jawab Al.
“Memang apa alasannya mengusirmu?”
“Aku adalah anak yang dia adopsi sejak kecil. Harusnya aku tetap menjadi
kakakmu. Namun, dengan lancangnya aku malah melakukan hal buruk dan menikahimu secara paksa.”
“Jika aku berkata dengan suka rela, apakah papa masih akan
marah?” Queen memandang serius ke arah Al yang tengan mengemudikan mobilnya.
Sedangkan pria itu nampak berfikir berat dan hanya mengankat
kedua bahunya saja.
perceraian resmi. Itupun jika antara kita mau. Kau tidak mungkin melakukan itu,
kan?” ucap Queen bersungguh-sungguh.
“Ya. Tapi, jika papa tetap dengan keras menentang, dan
mengusirku dari rumah… “
“Aku akan ikut bersamamu.” Dengan cepat Queen menjawab
perkataan Al sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya.
Al menoleh ke arah Queen dan tersenyum lalu kemudian ia
mengelus belakang kepala wanita itu. Tapi, dalam benaknya masih bertanya-tanya,
ada apa ini sebenarnya? Bukankah tadi dia masih sentiment banget sama aku.
Lalu, kenapa dengan sekejap seolah kami ini adalah pasangan yang sejak awal sudah saling mencintai?
Tiga puluh menit mengendarai mobil dengan kecepatan santai
mereka pun telah tiba di sebuah pusat perbelanjaan atau mall. Tempat yang
mereka tuju selanjutnya, adalah food coard. Queen melirik tangan Al yang
berjalan di sebelah di sebelahnya. Entah, dia ingin menggandeng tangan pria itu
namun ragu-ragu, atau berharap Al menggandeng tangannya? Mungkin juga
dua-duanya.
Al yang menyadari Queen melihat pada tangannya pun langsung
memasukan kelima jarinya di sela-sela jemari Queen dan keduanya berjalam
bersama. Al menunduk melihat ke wajah Queen, sedangkan Queen mendongak untuk
memandang wajah tampan pria yang menggenggam erat tangannya. Jadi, pandangan
keduanya pun saling bertemu.
“Biar kutebak, kamu pasti belum makan siang,” ucap Al.
“Kurasa kau juga demikan.”
“Kita makan dulu, baru kita keliling, aku temani kamu
berbelanja.”
“Apakah kau tidak akan kembali ke kantor?”
“Tidak masalah kalau hanya sekali ini, dan sepertinya juga
nanti akan sering begini.” Al terkekeh sambil menatap genit ke arah Queen.
“Dasar! Jadi nakal gitu sih kamu?”
“Kalau tidak nakal, kamu mana bisa menyadari besarnya cintaku.”
“Jangan gombal, ah. Banyak orang tu, malu,” ucap Queen dengan
manja.
“Baik. Ayo kita makan dulu.”
Usai makan siang, Al pun menepati janjinya. Ia mengantarkan
Queen berbelanja baju, tas, sepatu dan juga kosmetik. Awalnya Queen menolak,
karena sudah pasti ia merasa capek baru pulang bekerja dan keliling-keliling.
Tapi, sekali lagi, Al mampu membujuknya. Jadi, Queen pun bersedia saja.
“Kamu gak beli kosmetik, mekap atau mungkin parfum?” tanya
Al.
“Aku kayaknya capek banget hari ini, Al.”
“Ayolah, mumpung kita keluar, sekali-sekali tidak masalah,
kan?”
Queen menatap dalam mata Al yang openuh harap. Akhirnya
__ADS_1
wanita itu pun tak mapu menolak dan menuruti kemauannya. Lagi pula, Nayla juga
belum pasti mendapatkan kesempatan seperti ini, kan? Walaupun Queen istri
kedua, tapi selalu jadi yang utama. Terlebih, ketika Al berkata kalau nanti sampai rumah ia bersedia memijit kaki Queen, bahkan seluruh tubunya juga akan dipitinnya.
Saat berjalan ke tempat kosemetik dan parfum, Al dan Queen
melintasi toko pakaian dalam wanita. Tiba-tiba saja mata Al memandang ke sebuah
lingeri berwarna hitam. Memandang sekilas saja Al sudah tertarik, Akhirnya, ia
pun diam-diam berbelok untuk membeli benda itu. Tanpa sepengetahuan Queen
tentunya.
Queen yang merasa janggal, Ia pun menoleh kebelakang. ‘Di
mana Al? Kenapa tiba-tiba saja menghilang?’
Queen pun memutusakan menunggu Al sambil memilih lipstick
yang cocok dengan warna kulitnya, dan yang dia belum punya tentunya. Dia
berfikir kalau Al mungkin ke toilet. Lalu, kenapa tidak pamit?
“Queen!” panggil seorang wanita dari belakangnya.
Merasa familiar dengan suara tersebut Queen pun menoleh ke
belakang. Dan ternyata benar, seorang gadis seumuran dengannya, dengan
postur tubuh tinggi langsing, wajah tirus, rambut Panjang hitam berombak dan
kulit putih bersih, tersenyum dan melambaikan tangan padanya.
“Shinta?”
But wait, seperti ada yang aneh. Apa, ya? Oh, pria yang
disebelahnya, membantunya membawakan tas belanjakaan dan juga hand bagnya.
‘Vico? Itu Vico teman kak Al, kan?’ batin Queen.
“Hey, kukira kau ada urusan lain bagaimana tiba-tiba bisa
berada di sini? Jika memang mau kemari kenapa tidak menghubungiku lagi? Kita
bisa, kan pergi bersama?” ucap Shinta saat mereka sudah dekat.
Menerima cecran pertanyaan dari sahabatnya, Queen pun sampai
lupa untuk menanyakan bagaimana bisa ia bersama Vico kemari. Jika memang sudah
saling kenal. Sejak kapan? Dan kenalnya di mana? Bukankah selama ini Shinta
jarang sekali ada di Indo? Atau, saat Vico berada di luar negeri kemarin,
mereka kenal di luar negeri dan pulang bersama-sama?’
“Hey, Queen. Kok bengong? Aku lagi ngomong sama kamu? Kenapa
tidak menghubungiku jika mau berbelanja? Kan enak kita bisa bareng-bareng,”
ucap Shinta sekali lagi, dan benar-benar mengagetkan Queen yang memang sedikit
melamun, bingung antara Vico bisa bersama Shinta, dan juga bingung di mana
keberadaan Al.
“Eh, aku sebenarnya kemari sama… Sama Al, Shin,” jawab Queen
lirih. Ia tahu benar bagaimana Vico, kalau sampai ketahuan pasti dia akan
mebulinya habis-habisan.
“Oh, benarkah? Di mana dia? Bagaimana dia bisa meninggalkan
mu sendirian?” tanya Shinta sambil ,mengedarkan
pandangannya ke seluruh penjuru mall.
Queen sendiri bingung harus menjawab apa, sebenarnya, dia
juga tidak tahu di mana keberadaan suaminya.
Di waktu yang tepat, Al tiba-tiba muncul di belakang Queen.
“Sayang, maaf membuatmu menunggu. Tadi aku masih harus ke toilet. Shinta,
kebetulan sekali, dengan siapa kau kemari?” tanya Al sedikit surprise dengan
keberadaan Shinta. Sebab kejutan sebenarnya ketika ia mendengar jawaban Shinta,
dan melihat kebenaran yang tak masuk akal di deoan matanya.
“Aku kemari bersama Vico, Kak Al.”
‘Ah, kenapa pula ketemu raja ulat bulu di sini, menyebalkan
sekali. Oh, dia bersama Shinta, ya? Dia tidak akan membuliku. Tapi, kali ini
akulah yang akan membulinyam hihihi,’ batin Al. Tapi, membuli apa, juga Al
bingung, karena dia tidak terbiasa
dengan hal itu. Melihat dua pasangan baru di depannya juga nampak serius.
Bahkan, aura mempermainkan juga tak nampak sedikitpun di wajah Vico.
“Sejak kapan kalian saling kenal?” tanya Al dengan raut
wajah datar, walau sebenarnya dia cukup terkejut pula dibuatnya.
“Kamu mau tahu aja, apa mau tahu banget?” goda Vico sambil
tertawa kea rah Al.
“Ah, terserah. Ya sudah, kalian lanjut saja,” ucap Al
berniat mengakhiri perbincangan mereka.
“al, kurasa kita biarkan saja dia wanota kita ini pergi
bersama, aku ada hal yang mau kubicarakan bersamamu,” sela Vico.
“Sekarang?”
“Iya, sekarang, yang benar saja masa tahu depan.”
“Sepenting apa? JIka kau mau mengatakan tentang yang biasa,
aku gak mau ikut campur.” Al nampaknya sudah bisa menebak apa yang ingin Vico
katakana. Dan memang, pria ini selalu jengah jika membahas mengenai perempuan,
sebelum jatuh cinta pada Queen, baginya tidak ada wanita yang semenarik mama
angkatnya. Meskipun ia sudah menikah dengan Nayla pun rasa cinta pada mama
angkatnya juga masih sangat erat melekat di hatinya.
“Ya, itu nomor yang ke duapulu, serratus, atau seribu. Tapi,
ini benar-benar penting, mengenai hasil yang kudapatkan dari Jepang, Al.”
Mendengar jawaban itu, barulah Al tertarik dan menyetujui
permintaan Vico. Tidak masalah dia berbicara ke tempat yang sepi dulu, nanti
setelah selesai barulah mereka bisa menjemput wanitanya masing-masing dan
sekalian makan malam bersama. Seumur-umur Al juga belum pernah mengajak
istrinya makan bareng dengan Vico. Yang ada, Al sendiran Vico atau pun Juna membawa
pasangan masing-masing.
“Ya sudah.” Akhirnya Al pun menyetujiinya.
Vico pun meminta izin
pada Shinta, begitu pun Al, dengan cara yang sweet menyampaikan niatnya untuk
pergi sebentar dengan sahabatnya ini.
“Sayang, karena sudah ada Shinta, kalian berdua saja belanja
dulu, kami akan keluar sebentar, nanti kalau sudah kami akan segera kembali
untuk menjemput kalian berdua, ok.” Al mengecup mesra kening Queen di depan
Vico dan Shinta, dandi depan orang-orang yang berada di sana juga tentunya.
“Iya, sekalian kamu ambil barang dipenitipan ya, bawa
bersamamu, taruh di bagasi, agar nanti tidak kerepotan,” jawab Queen dengan
__ADS_1
lembut, membuat Shinta juga senyum-senyum sendiri dibuatnya. Sebab, tadi pagi sahabatnya ini masih terdengar kesal dari cara berbicaranya mengenai Al. Tapi, kini di depan matanya mereka serti pasangan yang dimabuk cinta.