Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 407


__ADS_3

Masih dengan wajah yang kaku, Axel menapakki anak tangga tepat di belakang Queen. ia sangat jengah pada Sherly yang terlalu over mengejar dirinya. Memang, sejak beberapa tahun silam lalu gadis tua itu memang sudah berusaha mendekatinya. Berbagai upaya telah iya lakukan Ketika ia masih magang di perusahaan tersebut. Mulai cara wajar, tidak wajar dan cara yang menjatuhkan harga dirinya sebagai wanita pun juga sudah pernah dilakukannya. Tapi, hal itu justru malah membuat Axel kian jijik dan tidak respect padanya.


Menurutnya, gadis yang baik itu , adalah gadis yang kalem dan anggun. Dia bersikap wajar pada siapapun, santun tapi, hanya berpilaku spesial hanya pada satu pria saja. Seperti Berlyn misalnya. Hanya saja sayang, dia masih kecil.


Melihat tante Queen dan Axel sudah tiba, Sherly langsung berdiri dari duduknya dan menatap pada dua orang tersebut.


“Sherly, karena makanan sudah disiapkan oleh bibi, dan takut keburu dingin, mending kita makan siang saja dulu, ya? soal masalah kalian, habis ini di bahas. Sambil nunggu para bocil tidur juga, kan?” ucap Quen pada tamunya. Ia bisa saja menyelesaikan langsung masalah ini, dan membuat Sherly segera kembali. Tapi, berdasarkan karakter Axel yang seperti itu, ia khawatir, jika masalah kian runyam ia malah kembali ke kamar dan mengunci diri selama beberapa hari seperti yang sudah-sudah saja. Jadi, sebagai antisipasi, jika hal itu terjadi setidaknya Axel sudah makan dulu.


“Baik, Tante,” jawab Sherly sambil menatap ke arah Axel.


Baru saja Queen duduk di meja makan, tiba-tiba saja ia teringat dengan Bilqis. Bagaimana tidak? Makanan yang terhidang di atas meja juga hasil jerih payah bersama. Kini, tiba-tiba saja ia malah memaksakan diri untuk pulang. Kenapa? Apakah ia cemburu pada Sherly? Batin Queen.


“Kalian makan lah dulu, ya? Tante mau telpon om Al dulu,” ucap Queen sambil melihak ke arah Sherly yang baru saja menyentuh piringnya. Sedangkan anak-anak, Adriel dan Berlyn, mereka sudah memakan makanannya.


“Baik,” jawab Al singkat. Tapi, dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri. Kenapa masih saja bingung dalam mengucap panggilan pada Queen. mama, atau tante?


Queen hanya tersenyum, ia menggeser kursinya kebelakang kemudian berdiri dan meninggalkan tempat tersebut. Ia keluar dari dalam rumah dan beridri di teras belakang. Dengan segera ia menghubungi suaminya yang mungkin kini juga masih jalan-jalan dengan salah satu putri kembar mereka yang tinggal di Jepang.


“Halo, Sayang. Kenapa kau menelfonku? Apakah ada masalah?” tanya Al dengan nada yang sabar dan penuh kasih sayang.


“Ya, sedikit, dan aku perlu bantuanmu dalam menyelesaikan ini, apakah kau bersedia?” ucap Queen dengan manja.


“Tentu saja, selagi aku mampu. Coba, kau katakana, Sayang,” jawab Al yang terkesan masih saja sangat bucin. Padahal pernikahan mereka berdua kurang lebih juga sudah sebelas tahunan. Mau tidak harmonis, juga siapa yang ditiru? Papa dan mama mereka tetap harmonis dan romantis meski sudah memiliki cucu. Bahkan, sampai akhir hayat mereka, Al dan Queen belum pernah melihat keduanya bertengkar, jangankan ribut, terlihat aneh dan saling diam saja tidak.


“Begini, tadi Bilqis tiba-tiba saja memaksa minta pulang setelah capek-capek masak bareng. Padahal, dia yang paling semangat sebelumnya."


“Terus? Emang kenapa?"


“Dia belum makan. Apa karena ada Sherly di sini, ia jadi marah dan pergi pulang, ya?”


“Sherly? Keponakannya mendiang Chandra? Kenapa dia datang ke sana, Sayang? Terus, apa hubungannya dengan Biqlis kok tiba-tiba saja dia pergi?”


“Gini, dia datang sama Axel, dan saat ia buka pintu, Sherly langsung menggandeng tangan Axel dan memeluk lengannya. Mungkin saja dia cemburu.”


“Mereka pacaran?”


“Tidak. Tapi, Sherly lah yang suka dan meminta Axel agar mengatakan pada mamanya kalau selama ini mereka pacaran. Supaya,perjodohannya dibatalkan.”


“Apa?”


“Akan kuceritakan nanti saat kau sudah kembali ke dari Jepang, oke? Sekarang, aku minta tolong ke kamu, telfon Bilqis, bujuk dia agar kembali, sebab kak Nay baru saja menelfon, pulangnya diundur besok. Karena ada kendala hari ini tidak jadi seminar. Baru akan diadakan seminarnya besok.”


“Oke, ya sudah. Aku telfon dia sekarang kalau begitu,” ucap Al. lalu mengakhiri panggilannya, dan Queen kembali ke meja makan.


Sampai di sana, ia mendapati Axel dan Sherly yang sama-sama makan. Tapi, sama-sama tidak menganggap ada.


"Adriel sama Berlyn sudah selesai makannya?" ucap Queen saat ia sudah kembali duduk di tempatnya tadi.


"Kami sudah selesai, Ma," jawab Adriel sambil menunjukkan piringnya dan piring milik Berlyn yang sudah kosong.


"Pinter. Kalau gitu, kalian cuci tangan, wajah dan kaki lalu tidur siang, oke?"


"Baik, Ma... Ayo, Berlyn," ajak Adriel sambil menggandeng tangan putrinya. Keduanya sama-sama berjalan cepat setengah berlari menuju kamar mandi dekat dapur, dan masih bergandengan tangan.


Sementara Axel hanya melirik adiknya. Ekor matanya terus mengikuti keduanya yang kini sudah tiba di sana dan sedikit gaduh. Mungkin bermain air.

__ADS_1


Seketika ruang makan pun menjadi hening. Tidak ada percakapan diantara ketiga insan di sana.


"Mama, kau makanlah," ucap Axel sedikit tergagap dan sedikit grogi saat mengatakan kata mama pada Queen.


Queen hanya tersenyum dan menjawab, "Mama belum lapar. Karena, saat masak tadi juga menyicipi semua hidangan." Padahal, itu cuma alasannya saja. Kebenarannya, ia tidak selera makan karena sedikit masalah yang menyangkut anak-anaknya.


"Bibi, tolong anak-anak, minta mereka segera ke kamar untuk tidur siang," ucap Queen pasa bi Yul.


"Baik, Non." Seketika wanita paruh baya itu meninggal pekerjaannya dan langsung menuju ke kamar mandi.


"Karena ini sudah siang, dan katanya Sherly juga ada urusan keluarga, mungkin masalahnya di selesaikan sekarang saja, ya?" ucap Queen langsung menuju ke topik pembicaraan.


Axel membenarkan posisi duduknya, memperhatikan ke arah Queen dan melirik sekilas ke arah Sherly dengan muka muak.


"Ada masalah apa antara kau dan Axel, Sher?" tanya Queen.


Sherly diam nampak berfikir, ia tidak langsung mengatakan apa masalahnya. Antara takut dan ragu-ragu mungkin.


'Bagai mana ini? Aku ngomong jujur apa ginana? Setahuku, tante Queen itu orangnya biar kalem sangat tegas. A ya A, dan B ya B,' batinnya.


"Sherly?" ucap Queen lagi.


"Eh, iya tante. Sebelumnya saya minta maaf. Kedatangan saya kemari, saya perlu bantuan dari Axel. Tapi, dia menolak," jawab Sherly, sedikit tergagap.


"Bantuan apa?" Tanya Queen pada Sherly. Lalu, kemudian pandangannya tertuju pada Axel. Ketika Sherly hanya diam tak menjawab.


"Apakah benar, Xel kau menolak membantunya?" tak lupa, Queen juga memberi isyarat mata agar Axel mengatakan yang sebenarnya. Sebab, di sini ia berlagak seolah tidak tahu apa-apa mengenai permasalahan mereka berdua.


"Benar. Karena aku tidak bisa menolongnya. Kalaupun bisa, ini sangat konyol dan tidak pantas," jawab Axel.


Keadaan menjadi hening. Dua anak muda di depan Queen sama-sama diam.


Tiga menit berlalu Axel menunggu Sherly berbicara. Tapi, gadis itu tak kunjung berkata-kata, jadi, ia yang menjawab pertanyaan terakhir Queen.


"Dia akan dijodohkan oleh mamanya, dan nanti jam tujuh mereka akan dipertemukan. Sherly menolak perjodohan ini. Hanya saja mamanya tidak terima dan tetap bersikeras. Karena selama ini mamanya melihat putrinya selalu lajang, dan takut jadi perawan tua, Ma."


"Benar Tante. Saya minta tolong Axel berpura-pura jadi pacar saya di depan semua orang. Terlebih pada mama, saya ingin dia mengatakan padanya kalau sebenarnya kami sidah lama pacaran. Sengaja disembunyikan karena Axel belum lulus kuliah."


"Tapi, itu salah, Sher. Kau tidak bisa seperti itu," ucap Queen.


"Maaf. Saya memang sudah menyukai Axel sejak dulu. Saya melakukan ini juga dengan tujuan agar kedepannya saya bisa benar-benar menikah dengan Axel, tante."


Seketika suasana jadi hening. Hanya suara isakan Sherly saja yang terdengar.


"Kau lebih baik kembalilah, aku tidak mau melakukan itu. Masalah dan rasa takut itu untuk dihadapi, bukan dinikmati atau dihindari, ucap Axel lalu pria itu pergi meninggalkan tempat makan.


Sementara Queen hanya bisa memberi pengertian dan arahan pada Sherly. Sampai akhirnya gadis itu mau kembali ke Jogja menghadapi masalahnya tanpa harus melibatkan orang lain yang memang tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya.


*****


Puas menangis dan meratapi hal tidak penting, tiba-tiba saja mata Bilqis tertuju pada lemari pakaian yang besar di dapam kamarnya. Seketika bibir gadis itu melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman.


"Oh, jadi yang seperti Sherly, ya, yang jadi seleramu?" gumamnya seorang diri. Kemudian Bilqis beranjak membuka lemari tersebut dan melihat baju yang tergantung rapi di dalam. Lemarinya.


"Karena aku sudah tahu, Kak. Mulai sekarang aku tidak akan mengejarmu seperti itu lagi, dan tak akan mengatakan bagaimana perasaanku padaku, atau bertanya tentang perasaanmu, kak Axel. Tapi, aku akan berusaha menjadi apa yang kamu inginkan. Apa yang sekiranya bisa membuat kau jatuh hati padaku, akan aku lakukan," ucapnya lagi sambil menunduk melihat tumpukan baju-baju lamanya.

__ADS_1


Dengan sangat cekatan, Bilqis memilah beberapa baju lama yang sudah tidak terpakai. Ia tertuju pada sebuah mini dress yang sudah lama tidak dikenakannya. Bukan karena tidak muat. Tapi, karena terlalu pendek. Jadi sengaja tidak dipakaikarena malu. Tapi, semenjak melihat Sherly tadi, sepertinya ia akan kehilangan rasa malu. Sayang sekali.


Diperhatikannya dress warna biru, mustart dan putih tulang. Beberapa kasus strit dan rok mini serta hot pant yang sudah berserakan di lantai. Di cobanya satu demi satu ia mix agar terlihat kekinian dengan. Style ala-ala barat yang biasa artis-artis muda kenakan. Ia tertawa lagi, menertawai dirinya.


"Hahaha, aku seperti bukan aku. Tapi, cantik sih. Malah sepertinya lebih cantik dari gadis tua itu." Bilqis berputar-putar di depan cermin melihat pantulan dirinya sendiri di cermin yang mengenakan setelan rok pendek hitam selutut ia padulan dengan kemeja warna putih dengan renda pita di depan dada, gaya ala korea. Dan rambut panjangnya ia gerai begitu saja. 'Cantik,' batinnya.


Saat ia tengah asik dengan pakaiannya, tiba-tiba sebuah panggilan masuk menderingkan ponselnya yang ia meletakkan di atas kasur.


Gadis itu menoleh, berfikir siapa kira-kira yang menelfon-nya. Ia menebak kalau tidak mama Queen, ya mamanya sendiri. Tapi, ternyata dugaannya salah. Papa Al yang menelfon-nya.


"Halo, Pa?" Jawab gadis itu sambil duduk.


"Iya, Halo. Kamu di mana, Bilqis? Sudah makan siang belum?" tanya Al seberang sana.


Biqis diam tidak menjawab. Hatinya merasa tersentuh atas perhatian yang Al berikan. 'Kenapa papa tiba-tiba saja menelfonku dan menanyakan hal tak penting ini? Apakah mama Queen mengatakan sesuatu padanya?' batin gadis itu.


"Halo, Bilqis."


"Eh, i... iya, Pa. Sudah," jawabnya tergagap.


"Kenapa tiba-tiba saja pulang? Katanya kau sudah memasak banyak bersama mama dan adikmu?"


"Bagaimana Papa tahu? Apakah mama mengatakan sesuatu padamu, Pa?"


"Dia mengkhawatirkan mu. Mama Nayla akan kembali kapan katanya?"


"Katanya nanti malam, Pa," jawab Bilqis, seadanya.


"Mama Queen tadi bilang, kalau mamamu akan pulang besok. Jadwal di undur. Tadi gagal mengadakan seminar karena ada kendala. Jadi, pulangnya pun juga di tunda. Kau kembalilah ke rumah. Jangan tinggal di rumah sendiri. Sebentar lagi, om Dedi akan menjemputmu," ucap Al.


"Terimakasih, Pa," jawab Bilqis.


"Ya sudah, kau bersiap-siaplah. Masih ada hal yang perlu papa kerjakan," ucap Al lalu menutup panggilannya.


"Sudah kau menelfon-nya, Pa?" sapa Clarissa yang sedari tadi duduk di sebelah Al.


"Sudah, Sayang. Sekarang, kita pulang, ya? Ini sudah sore, ucap Al.


"Tapi aku masih ingin makan ramen di kedai itu, Pa," ucap Clarissa sambil menunjuk ke sebuah kedai yang ramai pengunjung.


"Sayang, besok kau harus bekerja pagi-pagi sekali, dan siangnya kau ke kampus mengumpulkan skripsimu. Apakah sudah kau kerjakan?" tanya Al sambil memandang putrinya dengan tatapan tegas, namun penuh kasih sayang.


Clarissa tidak menjawab selain terus merengek gak jelas seperti layaknya bocah berusia sepuluh tahun dan memanyunkan bibirnya.


"Kamu jawab dulu, pertanyaan Papa, Sayang. Jangan kira papa tidak bisa lihat jadwal kamu, loh!" Al terus menatap putrinya sambil tersnyum tipis.  'Memang kau ini masih anak-anak. Belum saatnya kau menanggung tanggung jawab sebesar ini. Hanya berdua bersamamu, tanpa ada Berlyn, akhirnya kau menunjukkan sisi lain dirimu, Nak. Sisi kekanak-kanakan mu yang hilang belum saatnya,' batin Al.


Pria itu tersenyum lebar. Mengelus ujung kepala putrinya dan membeli rambut panjang dan lebatnya yang tergerai indah ke belakang. 


"Ayo, kita ke sana dulu. Tapi, janji dulu pada papa, kalau itu adalah tempat terakhir yang akan kita kunjungi, oke?" ucap Al pada akhirnya.


Yang akhirnya disambut senyuman mereka dan wajah ceria dari putrinya, Clarissa. Terlihat sangat jelas sekali, kalau gadis itu sangat senang dan bahagia. Dengan semangat 45 gadis itu memegang tangan papanya dan menggandengnya sambil berlari menuju ke kedai tersebut.


"Sayang, kau tidak perlu berlari, Nak. Cukup jalan saja, pelan-pelan!" tegur Al pada putrinya.


"Ayo, Pa. Cacing-cacing dalam perutku tidak mau kompromi," jawab hadis itu sambil tertawa riang.

__ADS_1


Akhirnya Al pun mengimbangi putrinya dan sedikit berlari. Karena, memang tidak ada pilihan lain selain mengikuti kemauan putrinya yang satu ini. Mau kapan lagi, coba? Bukankah kesempatan seperti ini sangat jarang? Terlebih dia hanya akan menginap tiga hari saja di Jepang.


__ADS_2