
Kenapa kau menolaknya, Nak? apakah bayaran itu terlalu rendah?"
"Tidak, Kek. justru itu terlalu tinggi. dan tidak sepadan dengan tenaga yang saya keluarkan."
Andrean kian bingung di buatnya. bukankah kebanyakan anak muda di jaman sekarang suka sekali dengan pekerjaan yang ringan tapi, gaji besar. lagi-lagi Diaz ini berbeda dari yang lain. yang membuatnya semakin penasaran saja.
"Nak, apakah itu masalah? Aku ingin kau bekerja bersama ku, menjadi asisten pribadi lah istilahnya nya. Kakek butuh teman, Nak. Kau tahu sendiri, Al cucu kakek sibuk dengan perusahaan kami. Sementara Quen dia kuliah dan juga terpaksa ikut terjun ke pekerjaan membantu kakaknya. Kakek tidak berani menuntut terlalu banyak pada mereka. Cukup saat waktu luang dan istirahatnya saja ada untuk kakek, kakek sudah sangat bersyukur."
Diaz terdiam. Hatinya merasa trenyuh. Bahkan ia tidak menyangka kalau Queen sekarang juga bekerja. Sungguh gadis luar biasa, selalu saja ada hal yang membuatku terkejut dan terkesan kepadanya. Puji Diaz dalam hsti.
"Kakek. Saya sudah tidak punya kakek dan ayah lagi. Biarlah Diaz menjaga anda layaknya papa Diaz sendiri," ucap anak muda itu masih menunduk.
"Apakah aku ini seusia ayah, mu?"
"Tidak. Tapi, seperti paman saya. Kakak dari ayah saya."
"Baiklah. Kau jika ada waktu jangan sungkan-sungkan datang kemari, kakek selalu menunggu kedatanganmu," ujar Kakek Andrean.
Bersamaan dengan itu, Queen dan Alex datang hanya dengan ucapan salam untuk mereka berdua. Kebetulan, pintu utama memang tidak tertutup karena ada tamu.
"Kakek, kami pulang," ucap gadis itu seraya berhambur ke arah Andrean yang tengah duduk di kursi roda. Ia Quen langsung berjongkok memeluk sang kakek.
Sementara Alex, hanya bersalaman saja. Lalu mereka berdua menyapa Diaz yang ternyata juga ada di sana.
"Loh, kamu ada di sini, Diaz?" tanya Queen yang memang sedikit surprise dengan kedatangan tekan satu jurusan itu.
"Iya, main sambil jenguk kakek," jawab Diaz sambil tersenyum lembut.
"Queen, kau pasti capek. Mandilah dulu, biar aku yang temani Diaz di sini sama kakek," ucap Alex.
Quen menghentakan sebelah kakinya pelan sambil menatap manja sambil sedikit merajuk pada Alex, memberikan isyarat agar dia juga ikut naik ke atas.
Alex yang sudah paham dengan kode yang Queen berikan, ia berlagak seolah tidak paham. Ia hanya tersenyum sambil menyuruh istrinya sekali lagi naik ke atas, "Ya sudah, air hangat sudah di siapkan di batub, mandi dulu, gih."
Quen pun berdecak kesal lalu menuruti kemaua Alex. Dia menaiki tangga perlahan dan masuk ke dalam kamarnya.
Queen sengaja berlama-lama di kamar mandi agar saat Alex masuk, ia bisa mengajaknya bermain bisa sekalian. Tapi, sampai setengah jam, hingga air yang semula hangat sudah terasa dingin di kulitnya Alex tak muncul juga.
Jelas hati Queen kian dongkol saja.
Ia pun keluar dan memilih pakaian santai, matanya tertuju pada sebuah lingeri berwarna merah menyala, ia tersenyum seolah menemukan sebuah ide.
Tapi, sementara gadis itu mengabaikan dulu lingerinya. Ia mengenakan rok berwarna Milo selutut dan kaus oblong putih dengan gambar tikus lalu membiarkan rambutnya tergerai indah steelah seharian diikat ekor kuda, sungguh membuat kepalanya terasa sakit saja.
Dengan santai Queen menuruni tangga. Terlihat olehnya Nayla dan Bik Yul yang nampak sibuk mondar-mandir dari dapur ke meja makan menyiapkan menu makan malam sementara di ruang tamu, ia juga melihat Al yang sudah tiba. Mereka bertiga nampak ngobrol sambil sedikit melontarkan candaan.
Awalnya Quen hendak menyapa kakaknya dulu, tapi urung sepertinya ipar dan bibi baru yang bekerja di rumahnya masih sibuk dan banyak yang mereka masak. Apakah karna Diaz? Apakah kakek mengajaknya makan malam bersama?
Ah, itu nanti juga akan tahu jawabannya. Gumam Quen dalam hati.
"Hay, Queen. Bagaimana harimu pertama membantu kakakmu di kantor? Pasti melelahkan bukan? Apalagi tadi juga ke rumah sakit, kan?" sapa Nayla.
"Ya, lumayan. Besok selama dua hari aku tidak ada jadwal praktik, kak. Mungkin bisa fokus dengan pekerjaan. Walau tidak bisa membantu sebanyak papa. Tapi... " Queen diam sengaja tidak melanjutkan kalimatnya. Malah ia menatap ke arah piring-piring yang sudah terisi makanan.
"Aku bantu kalian," ucapnya berusaha mengalihkan topik.
Usai makan malam dan Diaz pun juga sudah pupang, Queen dan Al ke ruang baca sebentar. Al membari tahu dan mengajari tentang bisnis. Kali ini Al masih membahas soal garmen, begitu nanti dia sudah paham akan memperkenalkan semua tentang perusahaan konstruksi ya dan memperkenalkan jenis-jenis mater untuk bahan-bahan bangunan.
__ADS_1
Queen mengeliat dan merobohkan badannya ke atas meja. Sambil berkata, "Ah, ini mungkin alasan kenapa papa dulu menyarankan aku untuk ambil jurusan bisnis. Tapi, aku malah menolak tetap ingin jadi dokter, dan mama membelaku, sebab, dulu dia juga ingin jadi dokter tapi sering ke kantor akhirnya jurusan yang di ambil pun berubah bisnis dan setelah menikah menjadi ibu rumah tangga saja, haha." Queen tertawa seorang diri.
Al memperhatikan sang adik yang nampak begitu kelelahan. Ia sebenarnya tidak tega. Tapi, kembali soal keturunan asli dari pemilik perusahaan adalah Queen bukan dirinya, jadi, Quen harusnya lebih berkuasa. Termasuk bisnis perpesawatan yang ada di Jepang yang kini juga telah memiliki anak perusahaan di Indonesia sebagai jasa sewa privat jet.
"Queen, andai jika kau sudah menguasai semuanya, dan kau mengusirku, aku akan terima. Tapi, satu hal yang tak bisa aku lakukan adalah membencimu," gumam Al dalam hati.
"Kak, kenapa kau bengong? Kau tidak apa-apa, kan?"
Al tersenyum kecil dan memalingkan wajahnya. "Tidak apa-apa. Kau pasti lelah, istirahatnya. Kakak juga akan istirahat lebih awal besok akan ada perjalanan ke Garut menyurvey lahan yang untuk di dirikan gedung. Kau ikut?"
"Apakah sampai menginap?"
"Tidak, kita cuma survey saja."
"Baik aku akan ikut denganmu besok," ucap Quen bangkit dari duduknya dan memeluk Al singkat lalu keluar.
Saat ia masuk kamar Queen mendapati Alex hanya mengenakan celana boxer tanpa baju. Sepertinya dia baru saja mandi, selain rambutnya basah, badannya juga belum sepenuhnya kering. Tapi, karena dia masih ngambek, ia pun mengabaikan Alex dan pura-pura membuka laptop mempelajari anatomi tubuh manusia, padhal tugasnya sudah diselesaikan di ruang baca tadi. Al meminta sebelum ia mempelajari tentang perusahaan dia harus mengerjakan tugasnya dari kampus dulu agar tidak keteteran dan menganggu.
Alex memeluk Queen dari belakang dan menciumi pipi wanitanya samnil menggosokkan kumis tipisnya pada pipi Queen. Sudah tiga menit prianitu melakukan hal itu tapi tidak mendapatkan respon dari istrinya.
"Kamu marah, ya? Maaf kan ga enak ada tamu tidak ditemui," ucap Alex merasa bersalah.
Tapi, Quen masih saja diam, enggan menjawab.
Alex pun memeluk Queen dari belakang dan sedikit memainkan area dadanya sambil terus menciumi leher dan rahang gadis itu dari belakang.
Sementara konsentrasi Queen kian buyar, ia tidak dapat lagi fokus dengan apa yang dibacanya. Wanita itu benar-benar menyerah.
"Ah... Lex." Tangannya meraih kepala Alex yang ada di belakangnya, ia menjambak rambut pria itu, "Stop, don't do this." Gadis itu pun melenguh.
Sementara Alex tersenyum penuh kemenangan. Pria itu beralih posisinya di depan Quen sambil berjongkok dan berkata, "Jadi, apakah kau sudah memaafkan ku, Sayang?"
Entah ini ungkapan rasa sukur atau kebahagiaan di hatinya yang tiada Tara setelah pernah berpisah karna penghianatan lalu, pria itu kembali padanya lagi sebagai suami yang sempurna dan idaman semua wanita.
"Untuk kali ini aku memaafkan mu. Tapi, tidak untuk selanjutnya." Queen masih berlagak merajuk agar Alex semakin menggodanya. Dari dulu hingga sekarang Quen masih saja suka dengan godaan yang Alex berikan padanya.
Alex menenggelamkan wajahnya pada perut Queen sambil kedua lengannya melingkar erat pada pinggang Quen.
Queen tersentak diam, ia berfikir apakah Alex benar-benar menginginkan seorang bayi? Apakah dia masih belum bisa terima kalau bayinya meninggal?
Hal ini selalu ia lakukan semenjak mengetahui kalau Queen hamil.
"Alex, apakah kau sudah ingin memiliki seorang anak?" tanya Queen dengan hati-hati.
"Ah, tidak juga. Kita belum ada satu tahun menikah, kan? Kita nikmati saja dulu seperti orang pacaran," jawab Alex dengan tenang.
Queen diam. Hatinya tiba-tiba merasa sakit. Ia tahu kalau Alex hanya menghibur agar tidak merasa bersalah karena tidak dapat menjaga calon bayinya dengan baik hingga mengalami keguguran.
🍁 🍁 🍁 🍁
Pagi ini Quen dan Al berangkat ke Gatut untuk surver. Sementara Alex dia ada jadwal mengajar pagi ini.
Begitu keluar dari gang rumah Queen. Ia merasa ada sebuah mobil yang mengikuti nya. Dan benar saja, saat di tempat sepi mobil itu menghadangnya lalu memaksa Alex keluar.
Entah apa yang terjadi setelah itu. Alex tau-tau sudah tak sadarkan diri.
****
__ADS_1
"Kamu pakai helmnya, sini kakak pasangkan." Al memasangkan helm kuning pada Queen sebelum memasuki area bangunan untuk menghindari adanya hal-hal yang tak diinginkan.
Quen sedikit mendongak melihat ke arah Al ia terpaku memandang wajah itu, teringat akan masa kecil mereka. Al yang mengajarinya bersepeda dulu, juga sering memasangkan helm untuknya, bahkan jika Quen memakai sepatu bertali, Al pula yang mengikatian talinya saat terlepas di tengah jalan.
"Kenapa bengong?" Tanya Al sambil sedikit tersenyum.
"Gak. Rasanya baru kemarin kakak memasangkan helm di kepalaku sebelum kita bersepeda mengelilingi kompleks dan kakak juga sering menggedongku ketika aku lelah berjalan. Sekarang kita sudah sama-sama dewasa dan berkeluarga." Quen tersenyum tipis.
Al hanya diam dan membatin. "Ya, Queen. Kita memang sudah sama-sama menikah. Tapi, pernikahan kita berbeda kau mencintai pria yang jadi suamiku, tapi, aku tidak. Aku malah mencintai ibu kandungmu."
"Ya sudah, ayo kita masuk ke dalam agar cepat selesai dan kembali ke Jakarta siang ini!" Seru Al.
Baru setengah jam Al meneliti dan meminta Quen menulis laporan sesuai yang di dapat. Tiba-tiba ponselnya.
Al memandang ke arah Queen. Tapi, gadis itu tetap berusaha fokus dengan apa yang Al ucap dan mengabaikan panggilan itu.
"Queen, coba di angkat dulu, siapa tahu penting," ucap Al dengan nada tegas.
"Apakah tidak apa-apa, Pak?"
Al mengangguk sambil tersenyum sementara Queen mencari tempat yang agak sepi tidak jauh dari tempatnya berdiri sebelumya.
"Sekertaris baru, pak? Cantik, ya seger," sapa petugas lapangan yang memang lumayan akrab dengan Al.
Al tidak menimpali dia hanya diam saja. Karena memang tidak mau mengungkap identitas Quen, sesuai permintaan adiknya sendiri.
"Ngomong-ngomong baru kali ini kami lihat bapak tersenyum pada wanita, loh."
Al tertawa, "Dia masih baru, dan belum ada pengalaman kerja, mana mungkin saya galakin dia."
"Iya Pak, kami paham. Kalau jodoh, emang tidak akan kemana."
"Pffff." Al tertawa tertahan.
Tiba-tiba Quen dengan terisak berlari ke arahnya dan berkata, "Alex mengalami kecelakaan. Katanya ada mobil yang sengaja menabraknya dari depan, belakang dan samping dia tidak sadarkan diri."
Wajah Al langsung berubah 180 derajat mendengar itu dari Queen.
"Bagaimana bisa? Di rumah sakit mana dia sekarang? Ayo kita kembali ke Jakarta!" Seru Al terburu-buru dan begitu saja meninggalkan tempat itu.
Sementara para petugas lapangan yang tadi sempat ngobrol dengan Al sangat bingung dan tak habis pikir dengan sikap bosnya yang tidak biasa.
"Barusan itu benar pak Al, kan? Kok sifat mendadak jadi pak Vano yang lembut dan pemurah dengan wanita?"
"Entahlah, mungkin karna wanita itu mirip mama tuan Al."
"Siapa? Istri pak Vano?"
"Ya iyalah, tau sendiri kan pria itu menganggap ibunya lah yang paling cantik. Mungkin karna dia mirib Bu Clara. Hanya saja dia masih sangat muda, hehe."
Sementara saat perjalanan menuju Jakarta Queen tiada henti terus menangis. Pikirannya dibayangi akan hal-hal buruk, baru satu bulan kecelakaan menimpa keluarganya bahkan papa mamanya juga belum sadar, kini malah suaminya.
Sedangkan Al bingung harus menenangkan Quen seperti apa lagi, dia bahkan kehingangan akal. Belum lagi kondisi jalanan yang macet sebelum tiba di jalan tol.
Al mengusap punggung Queen dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya ia gunakan untuk menyetir.
"Tenang, ya. Semoga tidak terjadi hal buruk dengan Alex," lirih Al dengan raut wajah sedih.
__ADS_1
Quen terus terisak sambil mengangguk.
Sementara Al memacukan mobilnya dengan kecepatan tinggi saat sudah masuk gerbang tol. Queen yang sudah tidak bisa berfikir normal karena terlalu kawatir, ia pun hanya diam dan tak ada ekspresi ketakutan saat Al melajukan kendaraan itu layaknya seorang pembalap. sebab, biasanya Quen pasti sudah berteriak-teriak sambil memukuli Al. tapi, kali ini dia cuma menangis sambil bersandar di pintu mobil.