Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Part 26


__ADS_3

Nayla masuk ke dalam rumah dan memberikan tas karton


tersebut pada Queen.


“Queen, aku titip tiramisu untuk papa dan mama, ya? Dan ini


ada black forest untuk kamu di rumah. Baru saja, karyawanku datang mengantarkan ini,” ucap Nayla pada wanita yang masih terlihat asik dengan putrinya.


“Kak Nay, kok repot-repot, sih? Makasih, lo ya?” jawab


Queen.


“Tidak repot, kok.”


“Ya sudah, karena Al sudah menunggu, aku pamit dulu, ya? Lain kali aku akan mampir lagi ke sini, dan kalian datanglah ke rumah jika


memang sedang ada waktu luang,” ucap Queen lalu beranjak meninggalkan tempat tersebut.


Queen setengah berlari saat mendapati mobil merah yang tadi


mengantarkan ia bekerja dan mengajaknya makan siang sudah terparkir di samping pintu gerbang


prumahan Nayla. Ia sudah bisa membayangkan, bagaimana ekspresi wajah kesal pemilik mobil tersebut.


Tanpa berbasa-basi, wanita itu langsung saja masuk ke dalam.


Setelah meletakkan dua buah kue pemberian Nayla, ia langsung mencondongkan badannya memeluk dan mencium pipi Al yang nampak pasang muka datar karena kesal sudah menunggu lama.


Jelas saja Al kesal, hampir setengah jam dia menunggu di


sini, terlebih Queen berlagak tidak mengerti saat ia menelfon yang kedua tadi. Karena, cowok adalah makhluk yang tidak suka menunggu.


“Sayang, jangan marah gitu, dong. Aku tadi gak langsung


keluar juga karena kak Nay minta aku menunggu karyawatinya datang. Dia titip sesuatu untuk diberikan pada mama,” ucap Queen merayu pria yang berada di sebelahnya itu.


Tapi, Al sedikitpun tidak menggubris. Pandangannya tetap


lurus ke depan. Kemudian menyalakan mobil dan melajukannya.


Merasa usahanya tidak berhasil, Queen kembali berkata, “Aku


sebenarnya juga sudah tahu kalau kau pertama menelfonku sudah berada di depan pos satpam. Tapi, aku gak mungkin kasih tahu kaka Nay dan Bilqis juga, kan? Aku


harus jaga perasaan mereka. Jika mereka tahu, pasti mereka berfikir kalau kaunmasih membenci kak Nay, Al.”


Al tersenyum kecil, memamerkan deretan giginya yang putih


dan rapi. “Kau sepertinya akrab sekali dengannya? Apakah kau ingin aku kembali menikahinya lagi, menjadikan dia madumu seperti dulu?”


“Aku baik sama dia, juga tidak harus kembali berbagi suami


dong, Al,” ucap Queen dengan kesal lalu memalingkan wajahnya menghadap ke


jendela.


Al masih tertawa, walau tidak sampai mengeluarkan suara. Ia


memperhatikan istrinya. Saat berada di lampu merah, Al melepaskan sabuk


pengamannya. Toh, kaca filmnya bagus, tak akan nampak dari luar. Ia


mencondongkan tubuhnya pada Queen dan langsung mencium wanita tersebut.


“Sudah, jangan marah gitu, aku cuma bercanda saja, kok,” ucap Al.


Queen membalikkan kepalanya dan menghadap pada suaminya.


Matanya saling bertemu. Sekitar lima detik keduanya terpaku. Menyadari senyuman di bibir suaminya, Queen berfikir kalau suaminya sudah tidak marah lagi.


“Al, kamu gak marah sama, aku?” tanya Queen ragu-ragu.


“Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin aku bisa marah terlalu


lama padamu?” jawab Al enteng. Kemudian, ia kembali pada posisinya dan memasang kembali sabuk pengamannya, sebelum lampu hijau menyala.


“Apakah milik Diaz dan Hanifah sudah kau berikan padanya


tadi, Sanyang?” tanya Al membuka percakapan.


“Belum. Aku tidak bertemu dengannya tadi. Kata Gea, dia


dapat bagian praktik malam.”


“Bagaimana kalau sebelum ke rumah mama kita antar saja dulu


ini ke rumah mereka?” usul Al.


“Apakah kau tidak keberatan?” Queen menatap suaminya dengan


seksama.


“Tentu saja tidak. Lagi pula, kita juga searah, kan?”


“Oke, baiklah!”


Mereka berdua pun akhirnya memutuskan unutk ke rumah Diaz


dan Hanifah dulu sebelum menjemput putrinya di rumah orangtua mereka.


****


Sore ini, Clara


menemani Berlyn cucunya yang tengah belajar mewarna sambil menunggu siaminya


pulang dari kantor. Sekarang, setiap kali Berlyn berada di sini, wanita paruh


baya itu lebih memilih meminta semua pembantu saja yang mengerjakan. Seluruh


waktunya, ia gunakan untuk menemani cucunya saja, sambil belajar. Ia juga kan


tetap di dapur untuk mengerjakan sesuatu. Tapi, itu hanya yang ringan saja. Itung-itung sambil mengajari cucu kecilnya. Agar dia senang, namun juga tidak beresiko.


“Nyah, untuk nanti malam kita masak apa?” tanya seorang


wanita yang kira-kira dia susia dengan putrinya.


“Apa, ya Nja? Kamu masak omelet, salmon panggang dan balado


kentang sama daging saja. Masak yang agak banyak, ya? Nanti anak-anak ibu juga akan kemari, untuk makan,” jawab Clara.


“Baik, Nyah.”


Wanita bernama Anja itu pun beranjak kembali ke dapur.


Sementara Calara, masih dengan sabarnya menemani cucunya menggambar dan mewarnai.


“Berlyn menggambar apa?” tanya Clara, sambil melihat lebih dekat pada kertas gambar polos berwana putih itu, yang kini sudah penuh dengan warna carayon.


Gadis itu dengan riangnya menunjukkan gambar yang hampir sempurna dan tinggal mewarai


itu. Ia tersenyum tanpa menggerakkan bibirnya. Sepertinya ia berharap, dengan menunjukkan gambar itu saja, neneknya sudah bisa mengerti.

__ADS_1


Clara memperhatikan degan sesksama. Beberapa detik kemudian senyuman di bibirnya mengebang lebar.


“Kau menganggambar seluruh keluarga besar kita, Sayang? Lalu, kau ini yang mana?”


tanya Caclara. Sambil menatap gambar itu. Meskipun tidak sempurna, ini cukup bagus untuk hasil dari anak berusia lima tahun.


Berlyn tersenyum sambil menunjuk gambar anak yang dipangku seorang wanita. Baju mereka sama, hanya beda warna, dan yang satunya di pangku oleh pria.


“Jadi, ini yang mangku Berlyn mama?” tanya Clara lagi. Ia kagum dengan gambaran cucunya.


Jelas sekali di sana duduk tiga orang pria, dan tiga orang wanita dewasa. Dua orang di tengah telah memangku anak kecil, dan itu, adalah Berlyn dan Clarissa. Sementara yang lain, jelas, papa, mama, kakek, nenek, ama dan juga kakek buyutnya. Dengan sisi samping tanaman bunga-bunga. Seekor kucing dan dua ekor


kelinci.


“Kamu hebat sekali, Sayang. Apakah kau belajar dari Clarissa?”


Gadis itu tersenyum, dan mengacungkan jempolnya ke atas. Dan mulai berbicara dengan Bahasa


isyarat.


“Oh, saudarimu Clarissa pandai mengnggambar? Kau juga. lihat saja ini, Nenenk tidak bisa menggambar sebagus ini.”


Kemudian, Berlyn mencium pipi neneknya sebagai ungkapan rasa terima kasihnya.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumssalam!”


seru Clara. Ternyata suaminya sudah tiba duluan. Mungkin sebentar lagi Al dan Queen juga akan tiba. “Berlyn di sini dulu, ya? Nenek akan membukakan pintu dulu, kakekmu sudah tiba. Mungkin sebentar lagi, papa dan mamamu juga kan sampai di sini. Dan kita makan malam bersama.”


Gadis kecil


itu lagi dan lagi hanya tersenyum dan mengangguk saja pada Clara.


Lalu, Clara


beranjak menuju ruang utama dan membukakan pintu. Nampak dua orang pria di


sana, yang tak lain papa Andrean dan suaminya, Vano.


“Di mana Berlyn?” tanya dua orang pria tersebut hampir bersamaan.


“Dia ada di ruang tengah, tengah belajar menggambar dan mewarnai,” jawab Clara.


Seperti biasa, yang paling bersemangat dalam hal ini adalah papa mereka. Dengan cepat


Andrean masuk ke dalam dan menghampiri ccicitnya. Sekalipun dia istimewa, tetap


saja,  tak mengurangi rasa sayangnya


terhadap Berlyn. Pun dengan Clarissa. Walau belum pernah bertemu sekalipun, ia, Vano dan juga Clara juga sering Video call agar tetap merasa dekat walau tak bisa menyentuh.


Sementara Vano, ia masih ngobrol dengan istrinya, sambil sesekali memeluk dan menciumnya. Usia boleh tua. Tapi, tidak dengan cinta mereka. Rasanya masih saja sama seperti dulu.


“Hallo, Berlyn sayang! Apa yang sedang kau lakukan?” sapa kakek Andrean pada cicitnya.


Melihat kedatangan kakek buyutnya, seketika bocah berusia lima tahun tersebut langsung lompat kegirangan. Ia berlari sambil tangan kirinya membawa kertas gambar dan


tangan satunya lagi membawa salah satu carayon.


“Kau menggambar apa ini, bagus sekali, Sayang? Apakah kakek buyut juga ada di sini?” Andreas menatap pada cicitnya yang tengah tersenyum. Mata lebar dan bulu mata


yang lentik itu benar-benar, membuat gadis kecil itu kian cantik bak malaikat.


Gadis itu tersenyum, dan menujuk pada gambar pria yang rambutnya berwarna putih keseluruhannya. Sambil tersenyum. Seketika Andrean tertawa girang. Ia gendong


bocah itu dan membawanya ke depan, menyusul Clara dan Vano.


“Kalian, sudahkah melihat mana gambar kalian di sini? Lihatlah! Berlyn telah menggambar kita semua!” seru Andrean.


rasa suka dan kagum. Bahkan, Clara juga berkata pada cucunya akan membuatkan


frame untuk karya tersebut, dan memajangnya di ruang kerja kakek dan buyutnya.


Tanpa terasa waktu sudah hampir menunjukkan pukul tajuh. Tapi, Queen da Al masih juga belum tiba.


“Sayang, Al dan Queen jadi ke sini mala mini, kan? Kok belum sampai? Makan malamnya sudah hampir siap. Coba, kau telfon mereka,” ucap Vano pada istrinya.


Clara melihat jam yang tergantung pada dinding ruang tengah tersebut. Dalam hati, ia juga membenarkan kata suaminya. Sudah hampir jam tujuh bahkan mereka juga belum


pulang.


Clara menjawab suaminya dengan anggukan kemudian ia beranjak mengambil gawainya di meja


televisi. Kemudian menghubungi Al. ia berfikir kalau mingkin putranya tengah


lembur. Sebab, ia tahu, kalau Queen tadi chat dirinya mengabarkan kalau ia


tengah berada di rumah Nayla menunggu Al datang menjemput.


“Halo, Ma,” jawab seorang wanita dari seberang sana.


“Halo, Queen. Kau sudah bersama suamimu, sekarang?” tanya Clara.


“Iya, Ma. Ini baru saja dari rumah Diaz dulu tadi, ngasih oleh-oleh buat mereka.”


“Oh, apakah dia tidak satu jadwal denganmu?”


“Iya, tidak. Makanya tadi Al ngajak mampir dulu sebentar,” jawab Queen.


“Oh, ya sudah, kami tunggu kalian. Cepatlah kembali,” ucap Calara.


“Iya, Ma. Mungkin sepuluh menit lagi kita juga sudah akan sampai,” jawab Queen, sambil melirik suaminya yang tengah fokus mengemudi.


“Ya sudah, kalian hati-hati.” Panggilan pun dimatikan. Clara kembali berkumpul bersama


cucu, papa dan juga suaminya.


Sementara


bibi pengurus rumah nampak mondar-mondir menyiapkan hidangan di meja makan.


Sekitar lebih


dari lima menit, suara bel berbunyi. Dengan segera Clara beranjak untuk


membukakan pintu.


“Itu pasti mama dan papamu, Berlyn. Nenek coba lihat dulu, ya?”


Ketika Clara membuka pintu, ia melihat putrinya tengah berpegangan pada lengan Al. sepertinya


kakinya sakit.


“Kamu kenapa, Queen?” tanya Clara sambil melihat ke bawah.


“Terkilir dia, Ma,” jawab Al sambil memapah istrinya. Sementara Queen masih meringis sambil memegangi lutut bagian kanannya.


“Kok bisa? Terkilir di mana?” tanya Clara panik.


“Gak tahu, tadi pas jalan di sana, Ma. Tiba-tiba saja


terkilir,” jawab Queen sambil menunjuk ke arah halaman.

__ADS_1


Clara memandangi halaman yang ditunjuk putrinya. Kemudian ia


nampak mengerutkan keningnya.


“Padahal jalannya rata. Apa kamu tidak sengaja menginjak


batu?”


“Kayaknya tidak, Ma. Ya, mungkin memang lagi apes saja, atau


aku yang ceroboh.”


“Ya, sudah, ayo masuk. Kamu gosok dengan minyak urut dulu sana.”


“Oh, iya, Ma. Ini ada titipan untuk Mama dari kak Nay.”


Queen memberikan dua kantong sekaligus pada mamanya. Karena ia berfikir akan


membuka dan memakan kue pemberian dari Nayla di rumah mamanya.


“Ma… ma….” Ucap Berlyn sambil menunjukkan gambar hasil


karyanya pada Queen yang tengah duduk di ruang tamu. Sedangkan Al, ia mengambil minyak gosok di kotak P3K.


“Apa, itu, Sayang? Bisa tolong kamu yang kemari menghampiri


Mama?” ucap Queen, ia tetap berusaha bersikap tenang dan meminta putrinya


menghampiri dirinya agar Berlyn tidak tahu kalau kakinya sakit.


Dengan girang, bocah itu berlari menuju ke arah mamanya. Dan


menunjukkan hasil karyanya.


Wah, bagus banget… satu minggu saja kau belajar pada


saudarimu sudah sehebat ini. Bagaimana kalau lebih lama di sana?’’ Queen memeluk putrinya, dan masih dalam posisi duduk.


“Kamu mau kursus menggambar, sayang?” tanya Queen sambil


menatap putriya dengan penuh perhatian.


Tapi, bocah kecil itu mengelengkan kepalanya, dan memberi


isyarat, kalau ia tidak perlu kursus menggambar. Ia melakukan hanya di saat ingin saja. Bidang yang dia sukai hanyalah membaca dan menulis.


“Oke, baiklah. Apapun cita-cita Berlyn, mama akan selalu dukung kamu.”


Tak lama kemudian, Al kembali dari tempat penyimpanan P3K


dengan minyak gosok di tangannya, dan juga satu baskom kecil es batu dan waslap. Tanpa mengucap sepatah kata pun, pria itu duduk berjongkok di bawah Queen dan melepaskan sepatu wanita itu dengan perlahan.


“Aduh! Hati-hati, Al.” Queen meringis sambil memejamkan


matanya.


“Ini aku sudah pelan, Sayang. Kamu tahan sedikit dulu, ya?’


pria itu mengangkat kaki Queen, meletakkan di atas sofa, lalu mulai


mengompresnya dengan es batu yang sudah ia masukkan ke dalam kantong waslap.


“Ma?” Berlyn  terlihat panik saat mengetahui kalau mamanya sakit. Hanya saja, apa penyebabnya,


ia masih belum tahu.


“Mama tidak apa-apa sayang. Cuma terkilir saja, nanti juga


bakal baikkan, kok,” uca Queen menghibur putrinya. Tapi, rupanya anak itu masih saja tidak puas dengan apa yang baru saja mamanya katakan. Wajahnya masih menunjukkan rasa khawatir dan panik pada mamanya.


Kemudian, ia menarik lengan baju papanya, dan memandang


dengan tatapan penuh tanda tanya.


“Mama Cuma terkilir saja, kok Sayang. Dia tidak apa-apa. Kamu


jangan panik, kan dia seorang dokter. Tentu saja ia akan tahu bagaimana kondisinya


yang sekarang,” hibur Al sambil mengusap ujung kepala putrinya.


AL. bagaimana kondisi Queen? Apakah dia baik-baik saja?”


tanya Vano.


“Kayaknya tidak apa-apa, Pa.”


“Ya sudah, kami tunggu kalian di meja makan,” ujar Vano.


Al memandang istrinya. Sementara Berlyn putri mereka sudah pergi


ke ruang makan bersama kakeknya tadi.


“Apa masih sakit?”


“Sudah lumayan lebih baik, ya sudah, ayo kita makan,” ajak


Queen.


“Ayo!” Al berusaha membantu Queen untuk duduk dulu sebelum


akhirnya berdiri. Berjalanpun juga sangat pelan dan juga hati-hati sekali.


“Perlu aku gendong?”


“Tidak, Ah, aku bisa jalan sendiri,” jawab Queen, tegas.


“Kenapa? Biasanya merasa pegal saja juga dijadikan alasan


buat minta gendong,” ledek Al.


“Kapan? Itu lain lagi, dong. Beda dengan sekarang.”


“ya, di sini banyak orang. Bilang saja malu.”


Queen mencubit lengan Al. dan mereka pun sama-sama duduk


berkumpul di meja makan.


Al menarik salah satu kursi dan membantu Queen duduk dengan hati-hati. Bahkan, pria itu juga bersedia mengambilkan nasi dan juga lauk apa yang ingin ia makan.


"Mau makan sama apa? Omelet dan balado?" Al menatap Queen dengan tatapan yang penuh dengan kasih sayang. Membuat jiwa para jomblo meronta-ronta.


"Iya, deh boleh itu sama. Tapi, itu kurangin, nasinya."


"Segini, cukup?" Tanya Al sambil menunjukkan  nasi di piring yang ia pegang.


"Ya, segitu saja. Tapi, kurangin dikit lagi," jawabnya manja.


"Bagaimana kondisi kakimu, Queen? Apakah sudah baikan?" Tanya Vano.


"Iya, Pa. Aku tidak apa-apa. Sama Al juga sudah dikompres dengan es batu tadi."


"Lain kali, hati-hati. Lebih baik jangan gunakan lagi sepatu yang terlalu tinggi," ucap Vano datar. Namun, sangat mencerminkan kasih sayang pada putri semata wayangnya.

__ADS_1


"Iya, Pa. Terimakasih," jawab Queen.


"Ya sudah, ayo kita semua makan, keburu dingin," ujar Vano.


__ADS_2