Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 249


__ADS_3

Usai memasak, Al menghampiri Queen dan mengajaknnya makan


siang bersama.


“Ayo, kau dan dia pasti sudah sangat lapar,” ujar Al kepada Queen.


Wanita itu yang semula membuka isi tabloid yang selalu


datang tiap bulan dari beberapa penerbit pun meletakan benda itu di atas meja, ia mendongak melihat Al dengan keringat yang mengalir di kedua pelipis dan


sebagian berbaris rapi seperti butiran embun di kumisnya yang baru saja dicukur, yang menyisakan bulu-bulu halus. Mata Queen turun ke bawah, melihat dua kancing


teratas kemejanya sudaha ia lepaskan, serta dasi yang ia longgarkan.


‘Suamiku maskulin, banget,’ batin Queen sambil tersenyum


simpul, dan mengalihkan padanganya pada lengan kekar pria di depannya.


“Ayo! Apa perlu aku menggendong, mu?”


“Baik, ayo! Kamu masak apaan, sih? Harumnya tercium sampai


sini, loh!’’


“Sesuatu yang special buat kamu.” Al pun langsung


menggandeng tangan Queen dan mengajaknya ke meja makan.


Tiba di sana, Queen tertawa sambil menutup mulut dengan


tangannya.


“Wah, kamu masak sebanyak ini, Al? Astaga.”


“Sudahlah, dimakan saja, ini aku memasakan cumi asam manis,


bagus untuk perkembangan otak janin, biar dia kelak jadi anak yang cerdas, aku juga masak sayur bayaam, agar dia bisa sehat dan kuat serta memiliki tibuh yang


tinggi dengan tulang yang kuat,” ucap Al.


Queen tertawa kian keras saja dan berkata, “Sejak kapan


suamiku menjelma sebagai dokter kandungan dan ahli gizi?”


“Tapi, apa yang aku katakana padamu juga tidak salah, kan?”


“Iya, benar. Makasih, ya? Aku kagum banget sama kamu?’’


“Ya sudah ayo makan!”


Saat makan, Al meberikan banyak sayur ikan dan juga seafood


yang ia masak tadi. Memang, ia tidak mengerjakan sendiri. Sebua butuh bantuan


dari bik Yul juga. Tapi, bagian mengolah tetap saja dia. Entah sudah berapa banyak yang Queen makan. Perutnya terasa penuh dan begeh karena kenyang.


“Al, sudah! Aku sudah sangat kenyang ini.”


“Kau harus makan lebih banyak lagi, Sayang! Ingat janin


dalam rahimmu itu, mendapatkan makanan juga hanya dari kamu, dia sangat lemah dan


butuh banyak asupan nutrisi,” jawab Al sambil menyuapkan lagi makanan pada Queen.


“Al, asal aku kenyang saja juga sudah cukup. Tidak perlu


berlebihan, yang ada tubuhku nanti akan melar.”


“Hahaha, tidak apa-apa melar. Kamu akan tetap cantik, kok.”


Queen hanya bersungut-sungut saja pada Al untuk


mengekspresikan kekesalannya. Seketika, keduanya pun hanya tertawa dan menyudahi makannya.


“Kamu gak balik ke kantor, Al?’’


“Tidak, aku masih mau menemanimu saja dulu.” Al mendekatkan


tubuhnya ke arah Queen. Wanita itu tau, kalau sudah seperti ini, artinya


suaminya sedang ingin bermanja-manja padanya.


Wanita itu membetulkan posisi duduknya dan menepuk pahanya


sambil tersenyum pada Al. Pria itu pun langsung ambil posisi berbaring dalam pangkuan Queen.  Quen mengelus rambut Al, dan keduanya mulai bercengkrama. Ada saja yang menjadi topik pembicaraan


mereka, mulai dari urusan perkerjaan, teman. Bahkan apapun. Termasuk bagaimana lucunya mereka saat jadi adik kakak. Queen dulu sangat manja.


“Mas, Al! Di mana kau? Ada yang harus kita bicarakan!”


Ketika keduanya mulai asik, terdengar suara teriakan dari


luar. Sepertinya itu suara Nayla.


“Apakah itu Nayla, Al? “ tanya Queen. Dia tidak takut dengan


apa yang akan Nayla lakukan padanya. Tapi, ia takut, Al mau memberi maaf dan


kesempatan pada perempuan itu.


Al pun langsung beranjak dan menghadap ke arah Queen lalu


menenangkannya. “Mungkin dia akan menjemput Bilqis dan mengambil


barang-barangnya.”


Queen menatap mata pria itu sangat teduh dan memberikan


ketenangan dalam hatinya. Rasanya ia ingin memeluknya terus dan tak relakan


untuk menemui Nayla, sekalipun hanya berbicara.


“Baiklah!” ucapnya lirih, sambil memalingkan muka.


Al mengerti apa yang dirasakan oleh Queen, Ia juga tak


menyangka kalau wanita yang belum ada satu tahun ia nikahi ini sangat


pencemburu sekali. Al tersenyu dan beberapa kali mengecup kening wanitanya,


kemudian mengelus perut ratanya yang sudah tertanam calon anak mereka di sana.


“Kamu percaya sama aku, kan Sayang?”


Wanita itu kembali mendongak memandang wajah suaminya, dan menjawab dengan anggukan saja.


Dengan langkah santai dan ekspresi datar, Al pun berjalan


menuju ruang tamu. Ia melihat Nayla yang tak menunjukkan rasa bersalah


sedikitpun. Tak mau buang-buang waktu, Al langsung berkata, “Bilqis ada di kamarnya, mungkin juga dia masih tidur. Sambil menunggunya bangun, kau bisa


pergunakan untuk mengemasi barang-barangmu!” Al pun pergi melangkah hendak


menyusul Queen yang masih ada di teras belakang.


“Mas, aku mau bicara sama kamu. Kamu gak bisa dong seperti


ini, Cuma mengetahui aku bersama laki-laki lain saja kau sudah menceraikanku.


Tapi, saat kau tiba-tiba menikahi adik angkatmu aku bahkan juga diam.”


Al tertawa miring dan membalikkan badannya. “Jika memang kau

__ADS_1


tidak terima, kenapa tidak minta cerai. Lagi pula wajar bukan pria memiliki


dua  istri?”


“Tidakkah sadar kau mas aku begini juga krena kamu. Kau selalu


abaikan aku, makanya kau coba cari kebahagiaan diluar,” jawab Nayla, membela


diri. “jika saja kau tak mau abaikan aku, aku juga tidak akan begini, karena


yang kucintai kamu, bukan Jevin atau yang lain.”


“Kamu itu omong kosong, Nay. Aku sudah muak melihatmu.


Kukasih waktu satu jam harusnya cukup untuk mengemasi barang-barangmu. Akan


kupanggil bibi dan Dedi untuk membantumu.” Pria itu pun pergi kmenuju halaman


belakang dan mengabaikan Nayla dengan air mata buayanya.


“Mas, Al. Kau sebenarnya masih cinta, kan sama aku? Kau


mencerakikanku hanya karena menagkap basah aku selingkuh dengan karyawanmu dan


di depan Queen. Jika saja tidak, hal ini tidak akan terjadi, kan?” Bahkan Nayla


masih tidak mau menyerah. Ia terus mengikuti Al dan melontarkan kalimat itu ketika


Al bersama Queen.


“Kalau cinta tidak akan bercerai, Nay,” jawab Al singkat


“Ya. Tapi, kau masih peduli denganku, Mas. Buktinya, kau


meminta Vico agar mengurus kebebasanku, memberi uang jaminan agar aku tidak


dipenjara. Bahkan, sekalipun kau tidak mengizinkan aku untuk tinggal di sini


lagi kau juga memberikan aku sebuah rumah, kan? Aku tahu, dengan begitu, itu akan memudahkan dirimu menjengukku sewaktu-waktu, kan?


Queen diam, ia berusaha menguasai diri. Tapi, setiap kata


dari kalimat yang Nayla ucapkan, memang benar-benar membuatnya terpengaruhi.


“Kau jangan buang-buang waktu, Nay. Cepat kemasi barangmu,


sudah sepuluh menit berlalu. Waktumu tinggal limapuluh menit lagi. Oh, soal


kau kubebaskan,m, aku hanya berfikir, akan ikut dengan siapa Bilqis jika kau dipenjara,


Mengenai rumah, aku Cuma tidak tega saja jika kau kembali seperti kehidupanmu semula. Jadi, terima saja. Tapi, kau jangan berulah, karena sertifikat rumah itu masih ada pada diriku, dan atas nama Queen. Kau hanya bisa menempati, tapi


yang berhak atas tempat itu tetap saja Queen dan calon anaknya.”


Nayla langsung melotot. Seolah dia tidak percaya kalau Queen


sudah hamil. Secepat itu, kah?


“Nay, kau sudah lihat bukan? Kalau mas  Al bukanlah pria yang mandul seperti yang pernah kau katakan?


Baru berapa bulan juga aku menikah dengannya, benihnya juga sudah tertanam


dirahimku. Jika sampai bertahun-tahun menikah denganmu kalian tak juga


mendapatkan keturunan. Kurasa tuhan memang tahu, jika kau tak beres. Tuhan tak biarkan Al dan anaknya mengalami hidup rumit akibat ulahmu yang tak jelas. Soal


scandalmu dengan Jevin, aku tahu ini bukan yang pertama. Sudah satu tahun kau berlangganan


di hotel itu dan melakukan hubungan layaknya suami istri. Wajar saja mas Al jijik untuk menyentuhmu.”


“Lalu apa bedanya denganmu? Kau juga seorang janda, Queen!”


“Benar aku janda. Tapi, yang mendapatkan prawanku dia.


Sementara kau! Al yang dulu adalah kakakku menikahimu kau sudah memiliki anak. Sekarang, kau pergilah. Untuk siapa kau di sini? Al bukan lagi suamimu. Dia


anak yang kulahirkan nanti.”


Nayla terdiam. Lalu kemudian, setengah berlari ia


menghampiri Queen dan hendak menyerangnya. Queen yang pernah diserang Nayla


sebelumnya, ia jadi lebih waspada dan siap, bahkan Al pun juga langsung


menggunakan tubuhnya untuk melindungi Queen. Jadi, sedari tadi, Nayla hanya


memukuli punggung Al saja.


Diam-diam Queen tertawa. Al melindungi dia, ya sudah,


sayang. Mama tidak perlu capek-capek mengeluarkan tenaga untuk melawannya.


Papamu sudah melindungi kita, batin Queen pada calon anaknya.


“Dasar kau wanita ******! Kau telah merebut suamiku dan


membuatnya menceraikanku,” teriak Nayla tidak terima.


Merasa tidak terima dikatakan demikian, Queen melepaskan


diri dari pelukan suaminya. Dia sebenarnya sadar, Nayla sudah mulai tidak waras, berkata demikian sangat tidak pantas untuknya, karena pernikahan Queen


dan Al bukan keinginan dari dua belah pihak.


“Jika aku ******, lalu kau apa?” bentak Queen.


“Setidaknya aku tidak merebut suami orang seperti yang kau lakukan.


Dasar janda gatel.”


“Plak!” sebuah tamparan keras mendarat di wajah Nayla.


‘’Berani kau mengataiku merebut suami orang. Kau ini dungu


apa gimana sih, Nay? Aku tidak pernah merebut suamimu sekalipun, dia yang


menginginkanku. Baiklah, jika dengan mulut kau tak bisa mengerti, ini aku katakan


padamu”


“Plak”


“Satu tamparan, untuk mengembalikan tamparanmu dulu padaku.


Ini satu lagi, kau menghianati Al, saat dia masih jadi kakakku. Oh, tidak


kurang!”


“Plak plak plak plak!” Queen menampar lagi empat kali pipi


Nayla kiri kanan sampai memerah bahkan mulai membengkak. Dan ini, bonus


terakhirmu yang berani-beraninya mau menaruh obat pengering Rahim padaku!”


Dengan keras Queen menendang pertu Nayla hingga wanita itu jatuh perpelanting.


Queen benar-benar gelap mata. Ia tak peduli siapa lawannya. Cukup baik dia


tidak menghajar wanita itu seperti menghajar seorang maling.


Seketika, Nayla pun langsung roboh, memegangi perutnya yang


merasa sakit luar biasa hingga dia susah bernpas aja susah.

__ADS_1


“Kau yang keterlalun. Aku tidak mau melakukan ini. Tapi, kau


terus saja menguji kesabaranku, Nay. Sudah berkali-kali kutegaskan. Aku ini


bukanlah orang yang sepenuhnya baik-baik. Aku juga bisa berlaku kejam. Aku begini menahan


emosiku karena orang tua dan juga kakekku adalah publik figure, aku gak mau karena kejelekanku justru malah membuat nama baik mereka tercoreng. Kau boleh


mengadu ke kantor polisi jika memang tidak terima atas tindakanku. Tapi, ingat. Aku bisa membela diri dengan


rekaman cctv yang ada di sini.”


Nayla pun memandang ke atas. Dan benar saja ada dua cctv


dari beberapa arah yang memantau tempat dimana ia berkelahi dengan Queen. Mau


tidak mau, ia yang lebih dulu mendahului menyerang. Sedangkan untuk bisa menang


melawan Queen juga susah, dengan ia bercerai dengan Al, uang juga tidak akan


punya banyak. Sekarang ia harus berfikir tentang kelangsungan hidupnya dan juga


Pendidikan anaknya. Bukan menyalurkan lagi dendamnya pada Queen yang berhasil membuat dirinya diceraikan oleh Al. ‘Sialan! Kenapa aku tidak lihat-lihat tempat?’ umpat Nayla dalam hati.


Queen berjalan menghampiri Nayla yang masih tersungkur di


atas lantai, ia memegang dagu wanita itu dan mengarahkan padangannya ke


wajahnya, “Lihat aku! Jika aku ****** karena kau anggap mengambil suami orang, setidaknya aku janda dan tak ada ikatan. Lalu bagaimana dirimu yang berstatus


istri orang malah selingkuh dengan lelaki gak jelas sampai berkali-kali di


hotel melakukan hubungan suami istri? Kau tahu, Jevin itu bukan lagi bujangan.


Dia sudah menikah sejak dua bulan lalu. Dan wanita yang ia ciumi dalam video


itu adalah istri yang baru dinikahinya.”


Nayla pun hanya diam. Wajahnya menunjukkan kalau ia


benar-benar syock berat.


“Tidaaak! Kau bohong. Kau pembohong, Queen,” teriaknya


sambil menangis histeris.


Al merangkul tubuh Queen dari belakang dan berbisik, “sudah


sayang. Tak ada gunanya berdebat dengannya. Kamu istirahat saja dulu, biar aku


urus dia.”


Dengan patuh Queen pun pergi. Tapi, di hatinya marerasa tak


rela jika suaminya masih bersama mantan istrinya. Sekalipun sekarang Al terlihat benci. Tapi, ia melihat rasa iba di matanya ketika Nayla ia perlakukan  seperti itu. Queen berhenti sejenak dan


menoleh ke belakang. Ia melihat Al berjongkok dan membantu Nayla untuk berdiri. Bagaimana pun, Al menikahi  Nayla dulu


juga berawal dari rasa kasihan dan iba yang tumbuh menjadi cinta. Queen


tiba-tiba saja menangis dan berlari menuju ke lantai atas, ke kamarnya.


“Aku minta maaf atas nama Queen yang sudah berbuat seperti


ini padamu, Nay. Kau harus maklum. Wanita hamil emang tidak bisa control emosi.”


“Dia beneran hamil anakmu, Mas?” tanya Nayla seolah masih


tak percaya. Karena ia anggap tadi saat Al dan Queen berkata begitu hanya untuk


membuatnya pergi dari kehidupan Al saja.


Al menjawab dengan mengangguk sambil menundukkan kepalanya.


“Mas. Maafkan aku. Terimakasih atas segala yang kau berikan.


Memang semua ini salahku. Aku harus pergi. Aku sadar memang aku bersalah. Tapi,


aku masih sangat mencintaimu, Mas. Aku tak pandang harta. Tapi, jujur,  yang kumau hanya kamu. Bukan apa-apa.” Nayla benar-benar


menangis menyesali semuanya. Tapi, sepertinya ini sudah terlambat mengingat apa


yang sudah coba ia lakukan untuk mencelakai Queen. Bahkan, kasus mengenai Aditya juga ia dan Jevin yang menjadi dalangnya.


“Aku maafin kamu. Kita berdua kenal secara baik-baik. Jadi, aku mau,


berpisahpun juga baik_baik. Sekarang kamu kemasi barangmu. Kau tak perlu


mengembalikan apa yang sudah kuberikan padamu, tidak apa-apa.”


Nayla pun beranjak. Saat ia sampai di atas. Semua sudah


dipacking tanpa tersisa satupun barang pribadinya. Sementara Al masuk ke dalam kamar Queen.


Queen ternyata sedari tadi mengintip ke bawah mengawasi Al


dan Nayla. Memang tak ada gerakan badan yang mencurigakan. Tapi, tetap saja. Cemburu


memenuhi hatinya. Menyadari Al akan masuk ke dalam kamarnya buru-buru wanita itu berlari dan menelungkupkan tubuhnya di atas kasur. Menyembunyikan air


matanya.


Begitu masuk, Al melihat ada yang tidak beres dengan Queen.


Sekalipun ia tak lagi memberi harapan kepada Nayla yang sudah ia jatuhkan talak. Tetap saja Al membuat Queen cemburu. Ia menyesal karena itu. Tapi, apa yang ia bicarakan dengan Nayla tadi juga kurang tepat jika diucapkan di depan Queen.


Yang ada malah keduanya berantem lagi.


“Sayang,” panggil Al sambil menyentuh punggung Queen.


Queen masih diam, Hanya punggunya saja yang terus bergerak


naik turun karena terisak.


Al pun sedikit merebahkan badannya di samping Queen dan


masih mengelus punggungnya. “Semua urusanku dengan  Nayla sudah selesai, Sayang. Sekarang, kita


fokus saja dengan masa depan kita dan anak-anak kita.”


Queen masih diam dan bergeming. Melihat Queen menangis


diam-diam karenanya. Karena cemburu bukti rasa cintanya terhadap dirinya, hati


Al merasa sakit dan perih sendiri.


“Sayang, maafin aku ya? Mungkin ini membuatmu sakit. Tapi,


aku melakukan juga untuk kebaikan bersama. Aku akan segera resmi bercerai dengan Nayla, Queen. Dia juga sudah bisa terima.”


Queen masih saja diam. Ia terlalu malu menunjukkan


tangisannya pada Al.


“Queen. Jangan buat aku jadi merasa sangat bersalaah.


Kemarilah, peluk aku,” ujar Al, sambil duduk.


Dengan cepat Queen juga beranjak dan memeluk Al dengan


sangat erat. Al tersenyum seorang diri. Benar kata pepatah jika wanita mampu


menyembunyikan rasa cintanya sebesar apapun itu. Tapi, wanita sungguh tak mampu

__ADS_1


menyembunyikan kecemburuannya sekecil apapun. Ia sudah melihatnya dengan jelas.


Karena cemburu juga Queen sampai seperti ini.


__ADS_2