
Usai memasak, Al menghampiri Queen dan mengajaknnya makan
siang bersama.
“Ayo, kau dan dia pasti sudah sangat lapar,” ujar Al kepada Queen.
Wanita itu yang semula membuka isi tabloid yang selalu
datang tiap bulan dari beberapa penerbit pun meletakan benda itu di atas meja, ia mendongak melihat Al dengan keringat yang mengalir di kedua pelipis dan
sebagian berbaris rapi seperti butiran embun di kumisnya yang baru saja dicukur, yang menyisakan bulu-bulu halus. Mata Queen turun ke bawah, melihat dua kancing
teratas kemejanya sudaha ia lepaskan, serta dasi yang ia longgarkan.
‘Suamiku maskulin, banget,’ batin Queen sambil tersenyum
simpul, dan mengalihkan padanganya pada lengan kekar pria di depannya.
“Ayo! Apa perlu aku menggendong, mu?”
“Baik, ayo! Kamu masak apaan, sih? Harumnya tercium sampai
sini, loh!’’
“Sesuatu yang special buat kamu.” Al pun langsung
menggandeng tangan Queen dan mengajaknya ke meja makan.
Tiba di sana, Queen tertawa sambil menutup mulut dengan
tangannya.
“Wah, kamu masak sebanyak ini, Al? Astaga.”
“Sudahlah, dimakan saja, ini aku memasakan cumi asam manis,
bagus untuk perkembangan otak janin, biar dia kelak jadi anak yang cerdas, aku juga masak sayur bayaam, agar dia bisa sehat dan kuat serta memiliki tibuh yang
tinggi dengan tulang yang kuat,” ucap Al.
Queen tertawa kian keras saja dan berkata, “Sejak kapan
suamiku menjelma sebagai dokter kandungan dan ahli gizi?”
“Tapi, apa yang aku katakana padamu juga tidak salah, kan?”
“Iya, benar. Makasih, ya? Aku kagum banget sama kamu?’’
“Ya sudah ayo makan!”
Saat makan, Al meberikan banyak sayur ikan dan juga seafood
yang ia masak tadi. Memang, ia tidak mengerjakan sendiri. Sebua butuh bantuan
dari bik Yul juga. Tapi, bagian mengolah tetap saja dia. Entah sudah berapa banyak yang Queen makan. Perutnya terasa penuh dan begeh karena kenyang.
“Al, sudah! Aku sudah sangat kenyang ini.”
“Kau harus makan lebih banyak lagi, Sayang! Ingat janin
dalam rahimmu itu, mendapatkan makanan juga hanya dari kamu, dia sangat lemah dan
butuh banyak asupan nutrisi,” jawab Al sambil menyuapkan lagi makanan pada Queen.
“Al, asal aku kenyang saja juga sudah cukup. Tidak perlu
berlebihan, yang ada tubuhku nanti akan melar.”
“Hahaha, tidak apa-apa melar. Kamu akan tetap cantik, kok.”
Queen hanya bersungut-sungut saja pada Al untuk
mengekspresikan kekesalannya. Seketika, keduanya pun hanya tertawa dan menyudahi makannya.
“Kamu gak balik ke kantor, Al?’’
“Tidak, aku masih mau menemanimu saja dulu.” Al mendekatkan
tubuhnya ke arah Queen. Wanita itu tau, kalau sudah seperti ini, artinya
suaminya sedang ingin bermanja-manja padanya.
Wanita itu membetulkan posisi duduknya dan menepuk pahanya
sambil tersenyum pada Al. Pria itu pun langsung ambil posisi berbaring dalam pangkuan Queen. Quen mengelus rambut Al, dan keduanya mulai bercengkrama. Ada saja yang menjadi topik pembicaraan
mereka, mulai dari urusan perkerjaan, teman. Bahkan apapun. Termasuk bagaimana lucunya mereka saat jadi adik kakak. Queen dulu sangat manja.
“Mas, Al! Di mana kau? Ada yang harus kita bicarakan!”
Ketika keduanya mulai asik, terdengar suara teriakan dari
luar. Sepertinya itu suara Nayla.
“Apakah itu Nayla, Al? “ tanya Queen. Dia tidak takut dengan
apa yang akan Nayla lakukan padanya. Tapi, ia takut, Al mau memberi maaf dan
kesempatan pada perempuan itu.
Al pun langsung beranjak dan menghadap ke arah Queen lalu
menenangkannya. “Mungkin dia akan menjemput Bilqis dan mengambil
barang-barangnya.”
Queen menatap mata pria itu sangat teduh dan memberikan
ketenangan dalam hatinya. Rasanya ia ingin memeluknya terus dan tak relakan
untuk menemui Nayla, sekalipun hanya berbicara.
“Baiklah!” ucapnya lirih, sambil memalingkan muka.
Al mengerti apa yang dirasakan oleh Queen, Ia juga tak
menyangka kalau wanita yang belum ada satu tahun ia nikahi ini sangat
pencemburu sekali. Al tersenyu dan beberapa kali mengecup kening wanitanya,
kemudian mengelus perut ratanya yang sudah tertanam calon anak mereka di sana.
“Kamu percaya sama aku, kan Sayang?”
Wanita itu kembali mendongak memandang wajah suaminya, dan menjawab dengan anggukan saja.
Dengan langkah santai dan ekspresi datar, Al pun berjalan
menuju ruang tamu. Ia melihat Nayla yang tak menunjukkan rasa bersalah
sedikitpun. Tak mau buang-buang waktu, Al langsung berkata, “Bilqis ada di kamarnya, mungkin juga dia masih tidur. Sambil menunggunya bangun, kau bisa
pergunakan untuk mengemasi barang-barangmu!” Al pun pergi melangkah hendak
menyusul Queen yang masih ada di teras belakang.
“Mas, aku mau bicara sama kamu. Kamu gak bisa dong seperti
ini, Cuma mengetahui aku bersama laki-laki lain saja kau sudah menceraikanku.
Tapi, saat kau tiba-tiba menikahi adik angkatmu aku bahkan juga diam.”
Al tertawa miring dan membalikkan badannya. “Jika memang kau
__ADS_1
tidak terima, kenapa tidak minta cerai. Lagi pula wajar bukan pria memiliki
dua istri?”
“Tidakkah sadar kau mas aku begini juga krena kamu. Kau selalu
abaikan aku, makanya kau coba cari kebahagiaan diluar,” jawab Nayla, membela
diri. “jika saja kau tak mau abaikan aku, aku juga tidak akan begini, karena
yang kucintai kamu, bukan Jevin atau yang lain.”
“Kamu itu omong kosong, Nay. Aku sudah muak melihatmu.
Kukasih waktu satu jam harusnya cukup untuk mengemasi barang-barangmu. Akan
kupanggil bibi dan Dedi untuk membantumu.” Pria itu pun pergi kmenuju halaman
belakang dan mengabaikan Nayla dengan air mata buayanya.
“Mas, Al. Kau sebenarnya masih cinta, kan sama aku? Kau
mencerakikanku hanya karena menagkap basah aku selingkuh dengan karyawanmu dan
di depan Queen. Jika saja tidak, hal ini tidak akan terjadi, kan?” Bahkan Nayla
masih tidak mau menyerah. Ia terus mengikuti Al dan melontarkan kalimat itu ketika
Al bersama Queen.
“Kalau cinta tidak akan bercerai, Nay,” jawab Al singkat
“Ya. Tapi, kau masih peduli denganku, Mas. Buktinya, kau
meminta Vico agar mengurus kebebasanku, memberi uang jaminan agar aku tidak
dipenjara. Bahkan, sekalipun kau tidak mengizinkan aku untuk tinggal di sini
lagi kau juga memberikan aku sebuah rumah, kan? Aku tahu, dengan begitu, itu akan memudahkan dirimu menjengukku sewaktu-waktu, kan?
Queen diam, ia berusaha menguasai diri. Tapi, setiap kata
dari kalimat yang Nayla ucapkan, memang benar-benar membuatnya terpengaruhi.
“Kau jangan buang-buang waktu, Nay. Cepat kemasi barangmu,
sudah sepuluh menit berlalu. Waktumu tinggal limapuluh menit lagi. Oh, soal
kau kubebaskan,m, aku hanya berfikir, akan ikut dengan siapa Bilqis jika kau dipenjara,
Mengenai rumah, aku Cuma tidak tega saja jika kau kembali seperti kehidupanmu semula. Jadi, terima saja. Tapi, kau jangan berulah, karena sertifikat rumah itu masih ada pada diriku, dan atas nama Queen. Kau hanya bisa menempati, tapi
yang berhak atas tempat itu tetap saja Queen dan calon anaknya.”
Nayla langsung melotot. Seolah dia tidak percaya kalau Queen
sudah hamil. Secepat itu, kah?
“Nay, kau sudah lihat bukan? Kalau mas Al bukanlah pria yang mandul seperti yang pernah kau katakan?
Baru berapa bulan juga aku menikah dengannya, benihnya juga sudah tertanam
dirahimku. Jika sampai bertahun-tahun menikah denganmu kalian tak juga
mendapatkan keturunan. Kurasa tuhan memang tahu, jika kau tak beres. Tuhan tak biarkan Al dan anaknya mengalami hidup rumit akibat ulahmu yang tak jelas. Soal
scandalmu dengan Jevin, aku tahu ini bukan yang pertama. Sudah satu tahun kau berlangganan
di hotel itu dan melakukan hubungan layaknya suami istri. Wajar saja mas Al jijik untuk menyentuhmu.”
“Lalu apa bedanya denganmu? Kau juga seorang janda, Queen!”
“Benar aku janda. Tapi, yang mendapatkan prawanku dia.
Sementara kau! Al yang dulu adalah kakakku menikahimu kau sudah memiliki anak. Sekarang, kau pergilah. Untuk siapa kau di sini? Al bukan lagi suamimu. Dia
anak yang kulahirkan nanti.”
Nayla terdiam. Lalu kemudian, setengah berlari ia
menghampiri Queen dan hendak menyerangnya. Queen yang pernah diserang Nayla
sebelumnya, ia jadi lebih waspada dan siap, bahkan Al pun juga langsung
menggunakan tubuhnya untuk melindungi Queen. Jadi, sedari tadi, Nayla hanya
memukuli punggung Al saja.
Diam-diam Queen tertawa. Al melindungi dia, ya sudah,
sayang. Mama tidak perlu capek-capek mengeluarkan tenaga untuk melawannya.
Papamu sudah melindungi kita, batin Queen pada calon anaknya.
“Dasar kau wanita ******! Kau telah merebut suamiku dan
membuatnya menceraikanku,” teriak Nayla tidak terima.
Merasa tidak terima dikatakan demikian, Queen melepaskan
diri dari pelukan suaminya. Dia sebenarnya sadar, Nayla sudah mulai tidak waras, berkata demikian sangat tidak pantas untuknya, karena pernikahan Queen
dan Al bukan keinginan dari dua belah pihak.
“Jika aku ******, lalu kau apa?” bentak Queen.
“Setidaknya aku tidak merebut suami orang seperti yang kau lakukan.
Dasar janda gatel.”
“Plak!” sebuah tamparan keras mendarat di wajah Nayla.
‘’Berani kau mengataiku merebut suami orang. Kau ini dungu
apa gimana sih, Nay? Aku tidak pernah merebut suamimu sekalipun, dia yang
menginginkanku. Baiklah, jika dengan mulut kau tak bisa mengerti, ini aku katakan
padamu”
“Plak”
“Satu tamparan, untuk mengembalikan tamparanmu dulu padaku.
Ini satu lagi, kau menghianati Al, saat dia masih jadi kakakku. Oh, tidak
kurang!”
“Plak plak plak plak!” Queen menampar lagi empat kali pipi
Nayla kiri kanan sampai memerah bahkan mulai membengkak. Dan ini, bonus
terakhirmu yang berani-beraninya mau menaruh obat pengering Rahim padaku!”
Dengan keras Queen menendang pertu Nayla hingga wanita itu jatuh perpelanting.
Queen benar-benar gelap mata. Ia tak peduli siapa lawannya. Cukup baik dia
tidak menghajar wanita itu seperti menghajar seorang maling.
Seketika, Nayla pun langsung roboh, memegangi perutnya yang
merasa sakit luar biasa hingga dia susah bernpas aja susah.
__ADS_1
“Kau yang keterlalun. Aku tidak mau melakukan ini. Tapi, kau
terus saja menguji kesabaranku, Nay. Sudah berkali-kali kutegaskan. Aku ini
bukanlah orang yang sepenuhnya baik-baik. Aku juga bisa berlaku kejam. Aku begini menahan
emosiku karena orang tua dan juga kakekku adalah publik figure, aku gak mau karena kejelekanku justru malah membuat nama baik mereka tercoreng. Kau boleh
mengadu ke kantor polisi jika memang tidak terima atas tindakanku. Tapi, ingat. Aku bisa membela diri dengan
rekaman cctv yang ada di sini.”
Nayla pun memandang ke atas. Dan benar saja ada dua cctv
dari beberapa arah yang memantau tempat dimana ia berkelahi dengan Queen. Mau
tidak mau, ia yang lebih dulu mendahului menyerang. Sedangkan untuk bisa menang
melawan Queen juga susah, dengan ia bercerai dengan Al, uang juga tidak akan
punya banyak. Sekarang ia harus berfikir tentang kelangsungan hidupnya dan juga
Pendidikan anaknya. Bukan menyalurkan lagi dendamnya pada Queen yang berhasil membuat dirinya diceraikan oleh Al. ‘Sialan! Kenapa aku tidak lihat-lihat tempat?’ umpat Nayla dalam hati.
Queen berjalan menghampiri Nayla yang masih tersungkur di
atas lantai, ia memegang dagu wanita itu dan mengarahkan padangannya ke
wajahnya, “Lihat aku! Jika aku ****** karena kau anggap mengambil suami orang, setidaknya aku janda dan tak ada ikatan. Lalu bagaimana dirimu yang berstatus
istri orang malah selingkuh dengan lelaki gak jelas sampai berkali-kali di
hotel melakukan hubungan suami istri? Kau tahu, Jevin itu bukan lagi bujangan.
Dia sudah menikah sejak dua bulan lalu. Dan wanita yang ia ciumi dalam video
itu adalah istri yang baru dinikahinya.”
Nayla pun hanya diam. Wajahnya menunjukkan kalau ia
benar-benar syock berat.
“Tidaaak! Kau bohong. Kau pembohong, Queen,” teriaknya
sambil menangis histeris.
Al merangkul tubuh Queen dari belakang dan berbisik, “sudah
sayang. Tak ada gunanya berdebat dengannya. Kamu istirahat saja dulu, biar aku
urus dia.”
Dengan patuh Queen pun pergi. Tapi, di hatinya marerasa tak
rela jika suaminya masih bersama mantan istrinya. Sekalipun sekarang Al terlihat benci. Tapi, ia melihat rasa iba di matanya ketika Nayla ia perlakukan seperti itu. Queen berhenti sejenak dan
menoleh ke belakang. Ia melihat Al berjongkok dan membantu Nayla untuk berdiri. Bagaimana pun, Al menikahi Nayla dulu
juga berawal dari rasa kasihan dan iba yang tumbuh menjadi cinta. Queen
tiba-tiba saja menangis dan berlari menuju ke lantai atas, ke kamarnya.
“Aku minta maaf atas nama Queen yang sudah berbuat seperti
ini padamu, Nay. Kau harus maklum. Wanita hamil emang tidak bisa control emosi.”
“Dia beneran hamil anakmu, Mas?” tanya Nayla seolah masih
tak percaya. Karena ia anggap tadi saat Al dan Queen berkata begitu hanya untuk
membuatnya pergi dari kehidupan Al saja.
Al menjawab dengan mengangguk sambil menundukkan kepalanya.
“Mas. Maafkan aku. Terimakasih atas segala yang kau berikan.
Memang semua ini salahku. Aku harus pergi. Aku sadar memang aku bersalah. Tapi,
aku masih sangat mencintaimu, Mas. Aku tak pandang harta. Tapi, jujur, yang kumau hanya kamu. Bukan apa-apa.” Nayla benar-benar
menangis menyesali semuanya. Tapi, sepertinya ini sudah terlambat mengingat apa
yang sudah coba ia lakukan untuk mencelakai Queen. Bahkan, kasus mengenai Aditya juga ia dan Jevin yang menjadi dalangnya.
“Aku maafin kamu. Kita berdua kenal secara baik-baik. Jadi, aku mau,
berpisahpun juga baik_baik. Sekarang kamu kemasi barangmu. Kau tak perlu
mengembalikan apa yang sudah kuberikan padamu, tidak apa-apa.”
Nayla pun beranjak. Saat ia sampai di atas. Semua sudah
dipacking tanpa tersisa satupun barang pribadinya. Sementara Al masuk ke dalam kamar Queen.
Queen ternyata sedari tadi mengintip ke bawah mengawasi Al
dan Nayla. Memang tak ada gerakan badan yang mencurigakan. Tapi, tetap saja. Cemburu
memenuhi hatinya. Menyadari Al akan masuk ke dalam kamarnya buru-buru wanita itu berlari dan menelungkupkan tubuhnya di atas kasur. Menyembunyikan air
matanya.
Begitu masuk, Al melihat ada yang tidak beres dengan Queen.
Sekalipun ia tak lagi memberi harapan kepada Nayla yang sudah ia jatuhkan talak. Tetap saja Al membuat Queen cemburu. Ia menyesal karena itu. Tapi, apa yang ia bicarakan dengan Nayla tadi juga kurang tepat jika diucapkan di depan Queen.
Yang ada malah keduanya berantem lagi.
“Sayang,” panggil Al sambil menyentuh punggung Queen.
Queen masih diam, Hanya punggunya saja yang terus bergerak
naik turun karena terisak.
Al pun sedikit merebahkan badannya di samping Queen dan
masih mengelus punggungnya. “Semua urusanku dengan Nayla sudah selesai, Sayang. Sekarang, kita
fokus saja dengan masa depan kita dan anak-anak kita.”
Queen masih diam dan bergeming. Melihat Queen menangis
diam-diam karenanya. Karena cemburu bukti rasa cintanya terhadap dirinya, hati
Al merasa sakit dan perih sendiri.
“Sayang, maafin aku ya? Mungkin ini membuatmu sakit. Tapi,
aku melakukan juga untuk kebaikan bersama. Aku akan segera resmi bercerai dengan Nayla, Queen. Dia juga sudah bisa terima.”
Queen masih saja diam. Ia terlalu malu menunjukkan
tangisannya pada Al.
“Queen. Jangan buat aku jadi merasa sangat bersalaah.
Kemarilah, peluk aku,” ujar Al, sambil duduk.
Dengan cepat Queen juga beranjak dan memeluk Al dengan
sangat erat. Al tersenyum seorang diri. Benar kata pepatah jika wanita mampu
menyembunyikan rasa cintanya sebesar apapun itu. Tapi, wanita sungguh tak mampu
__ADS_1
menyembunyikan kecemburuannya sekecil apapun. Ia sudah melihatnya dengan jelas.
Karena cemburu juga Queen sampai seperti ini.