Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 2 PART 205


__ADS_3

Queen terkejut saat ia terjaga dari tidur siangnya sudah


berpindah tempat. Tidak hanya itu, bahkan yang tadinya dia tidur sendirian kini


dia malah bersama dengan Al. Pria itu dengan pulasnya melingkarkan kedua


tangannya pada tubuh wanita itu. Bahkan, wajahnya yang terlalau dekat dengan


pipinya membuat Queen merasa geli dengan hembusan napasnya.


“Hey, apa yang kau lakukan? Menyingkirlah!” teriak Queen,


memberontak dan mendorong tubuh pria itu.


“Sayang, ada apa denganmu, kenapa berisik sekali? Aku masih


sangat ngantuk!” seru Al dengan nada malas dan semakin erat mendekap tubuh yang


sedari tadi sudah ada dalam pelukannya itu.


“Hey, lepaskan aku, aku harus pergi bekerja!”


Mendengar seruan Queen Al memang merenggangkan pelukannya.


Tapi bukannya malah melepaskannya, melainkan justru menenggelamkan wajahnya


pada dada wanitanya itu, bermanja-manja seperti bayi.


Queen yang merasa jengkel dengan Al yang malah kian lengket


seperti gurita pun akhirnya menunduk menarik dengan lembut kepala Al dan


menggigit daun telinganya sampai kencang membuat Al kesakitan sekaligus kaget.


“Aduh! Sejaka kapan sih, Queen kamu punya hobi menggigit?


Sakit tahu.”


“Kamu tuli atau budge sih? Dengar tidak dari tadi bahkan aku


memintamu untuk melepaskan aku, aku akan bekerja.”


“Apakah kau sudah lupa kalau baru tadi pagi aku mengatakan


kau tidak perlu pergi ke rumah saki? SAku sudah mengizinkanmu selama satu


minggu.” Al kembali membenarkan posisinya, dipangkuan Queen yang sudah duduk


sambil melingkarkan kedua lengannya pada pinggang wanita itu.


“Kau berani sekali, Al? Kenapa sih kamu lacing banget?


Memang apa yang kau jadikan alasan sampai selama itu?”


“Aku bilang kamu mau nikah, dan kita akan adakan bulan madu,


hehe,” jawab Al  sambil terkekeh.


Queen sudah merasa benar-benar muak dengan Al, ia pun


mendorong tubuh oitu sampai jatuh ke lantai.


“Sayang, sejak kapan kau berubah menjadi sekejam ini?”


Queen mengabaikan Al, ia akan tetap ingin pergi bekerja,


Diambilnya baju kerja yang sudah ia simpan di dalam lemari, dan diletakkannya


pada sandaran kursi, kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam sana ia


tak hentinya mengumpat saat ia melihat pantulan dirin ya yang tengah


bertelanjang di depan cermin penuh dengan cupangan yang bukan lagi berwarna


merah, melainkan ungu kebiruan dan cenderung hitam. Entah bagaimana cara Al


semalam mencupangnya sampai bisa seperti itu. Bahkana, Queen sendiri tak yakin,


bekas ini akan hilang sampai sepuluh hari mendatang.


Usai mandi dan masih berlilitan dengan handuk saja, ia


melihat Al sudah bersandar di ranjangnya sambil memainkan gawainya, Queen


memakai kemeja Panjang dan memasangkan semua kancingnya agar lehernya tertutup


demi menyembunyikan warna menjijikkan yang ada di lehernya.


“Kau bandel juga ya rupanya? Baiklah, karena kau ngotot


tetap ingin bekerja, aku akan mengantarmu,” ucap Al bergegas sambil mengambil


kemeja lengan Panjang berwarna biru dongker itu.


“Tidak usah repot-repot, aku bisa berangkat sendiri.” Queen


masih memasang ekspresi tak pedulinya, ia lelah mengatai pria tak tahu malu


itu, dan kehabisan cara untuk mengusirmnya. Jadi, taka da pilihan selain


mengabaikannya.


Sambil mengancingnkan baju pada kedua lengannya, Al


mengamati Queen yang tengah memasang sepatu pantofel hitam tersebut, bahkan ia


menggandeng tangan wanita itu saat tiba di dalam lip.


“Lepaskan aku,” Queen menghempaskan tangan Al, kemudian


bergeser.


“Sayang, tunjukan sisi romantismu sebagai pasangan baru,”


jawab Al sambil terkekeh. Membuat Queen kian jengkel saja dengannya. Bagaimana


tidak? Dari tadi ia marah-marah terus melontarkan kata makian dan bahkan


menyakitinya bukannya marah, ia justru menjawab semua dengan jawaban-jawaban


konyol dan gak masuk akal, apa lagi kalau bukan gila?”


“Memang kapan kita menikah?” jawab Queen jutek membuat Al


kian tertawa terpingkal-pingkal saja.


“Hey, Namanya pasangan itu tak harus menikah bukan? Pasangan


kekasih misalnya, mereka belum menikah, kalau sudah ya Namanya pasangan suami


istri. Hemmmbbb… Kurasa kau sudah ingin menikah denganku saja, Sayang. Baiklah,


kau tenang saja akan aku urus segera.”


Mendengar jawaban itu, Queen tak bisa lagi berkata apapun,


dia terlalu terbawa emosi, jadi tidak dapat mencerna dengan baik kalimat yang


Al ucapkan.


Begitu keluar dari lip, tiba-tiba ponsel Al berdering.


Dengan gaya cool dan elegantnya Al pun mengambil ponsel dari dalam saku celana


jeans nya dan mengangkat panggilan tersebut sambil berjalan beriringan dengan


Queen.


“Halo, apakah ada masalah?”


“Baik, tunggu duapuluh menit lagi aku akan tiba di sana.” Al


pun kembali mematikan panggilannya dan menarik lengan Queen memaksanya masuk ke


dalam mobil. Dia mengabaikan teriakan wanita itu, toh sekuat apapun dia


memberontak, jika tak akan menag melawan dirinya yang seorang laki-laki.


‘Percuma saja memberontak dan melawannya, yang ada dia malah


kian menjadi dan membuatku emosi sendiri, lebih baik aku diam saja,’ batin


Queen.


Tak seperti biasanya, kali ini Al bahkan mengantarkan Queen

__ADS_1


sampai ke dalam, rumah sakit, jadi ia bisa bertemu dengan teman-teman sprofesi


adiknya atau kekasihnya yang masih belum jelas ini.


“Queen, kamu kok masuk kerja, katanya kamu mau berbulan madu


selama seminggu?” sapa salah satu temannya.


“Aku sebenarnya… “ Belum sempat Queen meneruskan kalimatnya,


Al malah lebih dulu menjawab mereka.


“Sebenarnya istrikunlagi datang bulan, jadi kami menunda minggu


depan, aku titip dia, ya?”


‘Apa-apaan orang ini kenapa jadi semakin konslet gini, ya


otaknya, perasaan kepalanya sama sekali tidak terbentur apapun.’ Queen memukul


wajahnya sendiri, ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya, sebab, itu juga


akan mempermalukan dirinya sendiri. Mau marah dan menghardik Al pun bahkan ia


juga tidak bisa.


Al menarik pinggang Queen mendekatkan ke arah nya dan


kemudian mengecup kening wanita itu sebelum ia pergi meninggalkan rumah sakit.


“Jaga diri baik-baik ya sayang,” bisiknya lalu ia pun pergi sambil melambaikan


tangannya padanya dan juga teman-temannya.


 “Ih, itu ya suami


kamu? Ganteng banget Queen.”


“Punya calon seganteng itu dari dulu kenapa disembunyiin


sih? Kukira dia jelek, tua, pendek kaya om-om botak, loh.’’


Queen mengabaikan mereka yang sedari tadi berkomentar


tentang Al, beruntung sekali, dalam hal apapun termak asmara dia tipe orang


yang tertutup kecuali mereka yang pernah datang ke rumahnya, dan bertemu dengan


anggota keluarganya. Hal itu cukup menolongnya.


***123


Berkali-kali Nayla menelfon Jevin menanyakan suaminya berada


di kantor atau tidak, namun dia selalu mendapatkan jawaban yang sama. Entah


kenapa, tiba-tiba saja ia merasa takut, kawatir dan panik bercampur aduk


menjadi satu.


“Kamu kenapa sih, Nay, gak biasanya kamu seaneh ini.


Biasanya kalau Al tidak ada, bukannya kamu lebih suka bertemu denganku?”


“Ini masalahnya lain, Jev. Sudah beberapa hari dia menghilang entah kemana,


kurasa kau tahu itu, sebab dia tidak datang ke kantor. Dan semalam dia pulang


membawa pergi Queen yang akan bertunangan entah kemana, tadi pagi kembali


mengantarkan adek kesayangannya itu memunguti barang dan sekarang entah kemana


aku tidak tahu Jev,” keluh Nayla.


“Lalu apa masalahnya, Nay? Dia Cuma pergi dengan


adiknyabukan dengan wanita lain, apalagi itu adik kandungnya,” jawab Jevin,


kian hari merasa kalau Nayla kian aneh saja.


“Kamu tidak tahu, Jev… “


Sebenbarnya Nayla ingin mengatakan hubungan antara Al dan


Queen yang sebenarnya sejak dulu. Tapi, ia tidak ada keberanian karena Al sudah


Nayla.


“Apa, Nay? Kau makin hari makin seperti orang gila,


lama-lama aku capek tahu gak hadapin kamu!”


“Kamu kok bentak aku, sih Jev? Kamu nantangin aku?”


“Apa? Memang kau bisa apa? Mau bongkar scandal kita? Ok


tidak masalah, aku mungkin Cuma dipecat dan bisa lah, cari pekerjaan di tempat


lain. Tapi kamu dan anakmu? Jangan main-main sama aku,” ucap Jevin penuh


ancaman. Lalu kemudian dia mematikan sambungannya.


“Aaaarrgh… Sial! Kenapa masalah datang bareng-bareng sih?


Mana Nayla gak bisa diandelin lagi!” umpat Jevin seorang diri sambil mengobrak


abrik berkas yang ada di mejanya.


“Kreeek!”


Burur-buru Jevin memunguti kertas-kertas yang berserakan di


atas lantai.


“Ada apa, Jev?” tanya Juna saat melihat teman satu


ruangannya terlihat gugup.


“Tidak apa-apa, ada apa Jun?”


“Ini, kamu cek lagi pekerjaanmu, pak Al tadi marah besar


melihat ini, kenapa kamu jadi begini sih, Jev? Yang bener dong kerja. Aku gak


anggap kamu sebagai bawahanku, tapi partner dalam tim, aku juga gak enak buat


negur kamu, tapi ingat ini menyangkut nama perusahaan.” Juna meletakan dengan


kasar map berwanrna kuning itu di atas meja Jevin dan kemudian dia keluar.


Sesampainya di luar, Juna menelfon seseorang, dengan nada


marah-marah, pria itu menyampaikan kekesalannya.


“Uda kutegur dia, salah itu Cuma satu dua tiga kali saja,


ini sudah sering bahkan pernah diam-diam menggelapkan mutase keuangan


perusahaan, untuk apa penyakit seperti ini dipelihara?”


“Kau sabar dulu, Jun. Cukup awasi saja, dan jangan sampai


ada bukti yang tak kau pegang, tunggulah tuan putriku luluh dulu.”


“Argh.. aku tahu duit segitu tak akan membuat kau jatuh


miskin. Apalagi kau yabg terbudak oleh cinta, aslinya aku sudah bosen. Tapi,


karena kamu bosnya… “


“Hehehe, kalau kau tidak tahu, cintamu pada gea itu biasa


saja, Jun,” timpal Al dari seberang.


“Kau, ada di mana sekarang, Kak? Apakah masih bersama si


dia?”


“Tidak, ini aku ada di base camb sekarang urusan dengan


perusahaan bawah tanah.”


“Oh.”


Al pun mematikan panggilannya, ia sedang mengintrogasai

__ADS_1


salah satu anak buahnya yang tengah berkhianat, memberikan informasi tentang


identitasnya kepada pihak lawan. Beruntung sekali, Al memiliki ratusan anak


buah yang setia dan sangat jeli. Jadi, mereka bisa bergerak cepat jika ada


salah satu temannya yang berlaku sedikit aneh.


Dua orang berbadan kekar itu pun menarik paksa seorang


dengan postur tubuh sedang. Tubuhnya sudah banyak mendapatkan bekas luka


cambukan sampai baju yang dikenakan pria itu koyak. Dalam keadaan dua tangan


terborgol ke belakang, dengan kasar dua pria badan kekar itu melemparnya sampai


jatuh bersujud di bawah kaki Al yang tengah duduk di sebuah kursi tunggal.


Al diam tak langsung bertindak, dia mengamati baik-baik


wajah yang sudah lebam akibat tonjokan dan pukulan dari dua orang yang


mendorongya tadi, hingga nyaris tak ketemu bentuknya. Pria itu bersujud dalam


posisi tangan terikat dibelakang, mengeuarkan air mata meminta maaf tanpa


habisnya kepada Al.


“Tolong ampuni saya, Bos… Maafkanlah kelancangan saya yang


berani-beraninya memberi identitas asli anda kepada mereka.”


“Kau sudah berapa lama bergabung dalam organisasi mafia ku


ini? Kau nuga tahu, aku tudak hanya memegang kendali saham


diperusahan-perusahaan besar di seluruh Jepang dan Indonesia, bahkan aku juga


menjadi salah satau pewaris dari tiga perusahaan yang aku pegang. Aku banyak


lawan dan musuh di luar sana, pada siapa kau memberikannya?”


“Saya.. Saya memberitahukan itu kepada mr.X, Bos. Dan saya


baru satu tahun bekerja bersama anda membantu organisasi di bidang pemasaran


barang.”


“Mr.X itu siapa? Tidakkah kau tahu kalau itu hanya samara saja?


Dan bagaimana kau bisa tahu kalau nama asliku adalah Al Fatih bukan Akira Onishi?”


“Tanpa sengaja saya menemukan kartu identitas anda sebabagai


CEO di salah satu perusahaan. Di sana terdapat foto anda dan nama Indonesia,


lalu saya mencari nama itu di jejaring social, Bos.”


“Hem… lumayan cerdik juga kamuy a? Aku suka itu. Tapi, kamu


tahu tidak kalau aku paling benci dikhianati? Dan kurasa belum ada setahun ini


aku juga menangani seorang penghianat. Kau pasti tahu itu seprti apa yang dia


dapat walau penghianatan tak sebesar yang kau berikan. But, ok. Aku lagi dalam


suasana hati yang baik dan aku tak lagi ingin mengotori tanganku, aku tidak


akan melakukan apapun terhadap kamu, melainkan lima ekor harimau yang ada di kendang


itulah yang akan menggantiukan tugasku.”


Pria itu mendelik matanya terbelalak kaget tidak percaya,


memang di tempat ini ada kendang harimau, dan benar memang ada lima ekor. Terlebih


mereka tidakklah jinak. ‘Apakah bos Akira sedang bercanda? Tapi, kapan dia pernah


bercanda? Bahkan sekalipun dia tidak pernah menrima candaan yang seperti


apapun, Dia terkenal dingin dan bengis saat menghadapi lawan terlebih orang dalam


yang berkhianat.


“Kalian berdua kenapa masih mematung saja di sana pakah


tidak denga?” Bentak Al.


“Baik, Boss…” Dua pria itu pun mengangkat paksa orang yang


ytelah berkianat itu menyeretnya membawanya ke kendang harimau yang sengaja


sudah dua dari kemarin tidak dikasih makan.


“Bos… Ampuni saya, Bos…. Saya berjanji tidak akan


mengulanignya laki!” teriak peria itu sambil meronta-ronta.


“Taka da gunanya kau minta maaf! Sejak awal masuk di sini


kau juga sudah tahu bukan peraturannya seperti apa? Boss kita tidak akan pernah


main-main dalam urusan seperti ini, Kau juga sudah menandatangi apapun


konsekwensi jika melakukan penghianatan serta tunjangan jika bekerjamu bagu.


Ayo ikut kami!” bentak dia orang itu sambil terus menyeretnya.


Al mengeluarkan pistol yang selalu ia selipkan pada pinggangnya


dan mengankat benda itu menepatkan posisinya lalu menarik pelatuknya.


“DOOOR!!!”  Seketika tak


ada kegaduhana lagi di depannya, peruru itu tepat mengenai sasaran pada orang tersebut


di kepalnay. Seketika, tubuh itu tergeletak tak bernyawa, darah berserakan di


mana-mana, termasuk dua orang yang menyeretnya itu pun juga terkena muncratan


darah dan sebagian potak yang keluar akibat peluru yang tembus dari kepala


belakang ke kepala depan tersebut.


Dua pria itu pun menoleh kea rah Al yang sudah meletakkan


kembali pistolnya dan bertanya, “Boss, kenapa begini?’ tanya mereka hampir


bersamaan.


“Dengan begitu setidaknya mengurangi rasa sakitnya. Aku juga


sedang tidak mau dengar suara berisik apapun. Ambilkan data diri tentang pria


itu cepat! Akum au lihat.”


“Baik, Boss.”


Seorang dari mereka bergegas mengambil data dirinya,


sedangkan yang lain menyeret jasat yang baru terpisah dengan nyawanya it uke kendang


harimau.


Tak lama kemudian, pria yang sama membawa sebuah map yang


berisi data pribadi orang tersebut. Al menerimanya dan membaca isinya.


“O, Namanya Setiawan, ya? Punya satu istri dan dua anak yang


berusia sepuluh dan delapan tahun. Nama tak sesuai kelakuan, hehm.” Al


menyeringai dan melemparkan map terseebut ke samping.


“Katakan pada keluarganya kalau dia kecelakaan di luar negeri,


jasadnya belum ditemukan, sementara masih dinyatakan hilang, beri mereka uang serratus


juta dan tunjangan sekolah untuk dua anaknya sampai lulus sarjana,” ucap Al


lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Al lumayan kaget saat jekuar melihat suasana hari sudah sore.


Tanpa terasa, lama juga mengurusi satu penghianat. Tpi tidak masalah, ia akan

__ADS_1


ke apartemen untuk mandi dan berdandan rapi, masih ada waktu satu jam menunggu jam


kerja Queen berakhir dan ia akan menjemputnya.


__ADS_2