
Queen terkejut saat ia terjaga dari tidur siangnya sudah
berpindah tempat. Tidak hanya itu, bahkan yang tadinya dia tidur sendirian kini
dia malah bersama dengan Al. Pria itu dengan pulasnya melingkarkan kedua
tangannya pada tubuh wanita itu. Bahkan, wajahnya yang terlalau dekat dengan
pipinya membuat Queen merasa geli dengan hembusan napasnya.
“Hey, apa yang kau lakukan? Menyingkirlah!” teriak Queen,
memberontak dan mendorong tubuh pria itu.
“Sayang, ada apa denganmu, kenapa berisik sekali? Aku masih
sangat ngantuk!” seru Al dengan nada malas dan semakin erat mendekap tubuh yang
sedari tadi sudah ada dalam pelukannya itu.
“Hey, lepaskan aku, aku harus pergi bekerja!”
Mendengar seruan Queen Al memang merenggangkan pelukannya.
Tapi bukannya malah melepaskannya, melainkan justru menenggelamkan wajahnya
pada dada wanitanya itu, bermanja-manja seperti bayi.
Queen yang merasa jengkel dengan Al yang malah kian lengket
seperti gurita pun akhirnya menunduk menarik dengan lembut kepala Al dan
menggigit daun telinganya sampai kencang membuat Al kesakitan sekaligus kaget.
“Aduh! Sejaka kapan sih, Queen kamu punya hobi menggigit?
Sakit tahu.”
“Kamu tuli atau budge sih? Dengar tidak dari tadi bahkan aku
memintamu untuk melepaskan aku, aku akan bekerja.”
“Apakah kau sudah lupa kalau baru tadi pagi aku mengatakan
kau tidak perlu pergi ke rumah saki? SAku sudah mengizinkanmu selama satu
minggu.” Al kembali membenarkan posisinya, dipangkuan Queen yang sudah duduk
sambil melingkarkan kedua lengannya pada pinggang wanita itu.
“Kau berani sekali, Al? Kenapa sih kamu lacing banget?
Memang apa yang kau jadikan alasan sampai selama itu?”
“Aku bilang kamu mau nikah, dan kita akan adakan bulan madu,
hehe,” jawab Al sambil terkekeh.
Queen sudah merasa benar-benar muak dengan Al, ia pun
mendorong tubuh oitu sampai jatuh ke lantai.
“Sayang, sejak kapan kau berubah menjadi sekejam ini?”
Queen mengabaikan Al, ia akan tetap ingin pergi bekerja,
Diambilnya baju kerja yang sudah ia simpan di dalam lemari, dan diletakkannya
pada sandaran kursi, kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam sana ia
tak hentinya mengumpat saat ia melihat pantulan dirin ya yang tengah
bertelanjang di depan cermin penuh dengan cupangan yang bukan lagi berwarna
merah, melainkan ungu kebiruan dan cenderung hitam. Entah bagaimana cara Al
semalam mencupangnya sampai bisa seperti itu. Bahkana, Queen sendiri tak yakin,
bekas ini akan hilang sampai sepuluh hari mendatang.
Usai mandi dan masih berlilitan dengan handuk saja, ia
melihat Al sudah bersandar di ranjangnya sambil memainkan gawainya, Queen
memakai kemeja Panjang dan memasangkan semua kancingnya agar lehernya tertutup
demi menyembunyikan warna menjijikkan yang ada di lehernya.
“Kau bandel juga ya rupanya? Baiklah, karena kau ngotot
tetap ingin bekerja, aku akan mengantarmu,” ucap Al bergegas sambil mengambil
kemeja lengan Panjang berwarna biru dongker itu.
“Tidak usah repot-repot, aku bisa berangkat sendiri.” Queen
masih memasang ekspresi tak pedulinya, ia lelah mengatai pria tak tahu malu
itu, dan kehabisan cara untuk mengusirmnya. Jadi, taka da pilihan selain
mengabaikannya.
Sambil mengancingnkan baju pada kedua lengannya, Al
mengamati Queen yang tengah memasang sepatu pantofel hitam tersebut, bahkan ia
menggandeng tangan wanita itu saat tiba di dalam lip.
“Lepaskan aku,” Queen menghempaskan tangan Al, kemudian
bergeser.
“Sayang, tunjukan sisi romantismu sebagai pasangan baru,”
jawab Al sambil terkekeh. Membuat Queen kian jengkel saja dengannya. Bagaimana
tidak? Dari tadi ia marah-marah terus melontarkan kata makian dan bahkan
menyakitinya bukannya marah, ia justru menjawab semua dengan jawaban-jawaban
konyol dan gak masuk akal, apa lagi kalau bukan gila?”
“Memang kapan kita menikah?” jawab Queen jutek membuat Al
kian tertawa terpingkal-pingkal saja.
“Hey, Namanya pasangan itu tak harus menikah bukan? Pasangan
kekasih misalnya, mereka belum menikah, kalau sudah ya Namanya pasangan suami
istri. Hemmmbbb… Kurasa kau sudah ingin menikah denganku saja, Sayang. Baiklah,
kau tenang saja akan aku urus segera.”
Mendengar jawaban itu, Queen tak bisa lagi berkata apapun,
dia terlalu terbawa emosi, jadi tidak dapat mencerna dengan baik kalimat yang
Al ucapkan.
Begitu keluar dari lip, tiba-tiba ponsel Al berdering.
Dengan gaya cool dan elegantnya Al pun mengambil ponsel dari dalam saku celana
jeans nya dan mengangkat panggilan tersebut sambil berjalan beriringan dengan
Queen.
“Halo, apakah ada masalah?”
“Baik, tunggu duapuluh menit lagi aku akan tiba di sana.” Al
pun kembali mematikan panggilannya dan menarik lengan Queen memaksanya masuk ke
dalam mobil. Dia mengabaikan teriakan wanita itu, toh sekuat apapun dia
memberontak, jika tak akan menag melawan dirinya yang seorang laki-laki.
‘Percuma saja memberontak dan melawannya, yang ada dia malah
kian menjadi dan membuatku emosi sendiri, lebih baik aku diam saja,’ batin
Queen.
Tak seperti biasanya, kali ini Al bahkan mengantarkan Queen
__ADS_1
sampai ke dalam, rumah sakit, jadi ia bisa bertemu dengan teman-teman sprofesi
adiknya atau kekasihnya yang masih belum jelas ini.
“Queen, kamu kok masuk kerja, katanya kamu mau berbulan madu
selama seminggu?” sapa salah satu temannya.
“Aku sebenarnya… “ Belum sempat Queen meneruskan kalimatnya,
Al malah lebih dulu menjawab mereka.
“Sebenarnya istrikunlagi datang bulan, jadi kami menunda minggu
depan, aku titip dia, ya?”
‘Apa-apaan orang ini kenapa jadi semakin konslet gini, ya
otaknya, perasaan kepalanya sama sekali tidak terbentur apapun.’ Queen memukul
wajahnya sendiri, ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya, sebab, itu juga
akan mempermalukan dirinya sendiri. Mau marah dan menghardik Al pun bahkan ia
juga tidak bisa.
Al menarik pinggang Queen mendekatkan ke arah nya dan
kemudian mengecup kening wanita itu sebelum ia pergi meninggalkan rumah sakit.
“Jaga diri baik-baik ya sayang,” bisiknya lalu ia pun pergi sambil melambaikan
tangannya padanya dan juga teman-temannya.
“Ih, itu ya suami
kamu? Ganteng banget Queen.”
“Punya calon seganteng itu dari dulu kenapa disembunyiin
sih? Kukira dia jelek, tua, pendek kaya om-om botak, loh.’’
Queen mengabaikan mereka yang sedari tadi berkomentar
tentang Al, beruntung sekali, dalam hal apapun termak asmara dia tipe orang
yang tertutup kecuali mereka yang pernah datang ke rumahnya, dan bertemu dengan
anggota keluarganya. Hal itu cukup menolongnya.
***123
Berkali-kali Nayla menelfon Jevin menanyakan suaminya berada
di kantor atau tidak, namun dia selalu mendapatkan jawaban yang sama. Entah
kenapa, tiba-tiba saja ia merasa takut, kawatir dan panik bercampur aduk
menjadi satu.
“Kamu kenapa sih, Nay, gak biasanya kamu seaneh ini.
Biasanya kalau Al tidak ada, bukannya kamu lebih suka bertemu denganku?”
“Ini masalahnya lain, Jev. Sudah beberapa hari dia menghilang entah kemana,
kurasa kau tahu itu, sebab dia tidak datang ke kantor. Dan semalam dia pulang
membawa pergi Queen yang akan bertunangan entah kemana, tadi pagi kembali
mengantarkan adek kesayangannya itu memunguti barang dan sekarang entah kemana
aku tidak tahu Jev,” keluh Nayla.
“Lalu apa masalahnya, Nay? Dia Cuma pergi dengan
adiknyabukan dengan wanita lain, apalagi itu adik kandungnya,” jawab Jevin,
kian hari merasa kalau Nayla kian aneh saja.
“Kamu tidak tahu, Jev… “
Sebenbarnya Nayla ingin mengatakan hubungan antara Al dan
Queen yang sebenarnya sejak dulu. Tapi, ia tidak ada keberanian karena Al sudah
Nayla.
“Apa, Nay? Kau makin hari makin seperti orang gila,
lama-lama aku capek tahu gak hadapin kamu!”
“Kamu kok bentak aku, sih Jev? Kamu nantangin aku?”
“Apa? Memang kau bisa apa? Mau bongkar scandal kita? Ok
tidak masalah, aku mungkin Cuma dipecat dan bisa lah, cari pekerjaan di tempat
lain. Tapi kamu dan anakmu? Jangan main-main sama aku,” ucap Jevin penuh
ancaman. Lalu kemudian dia mematikan sambungannya.
“Aaaarrgh… Sial! Kenapa masalah datang bareng-bareng sih?
Mana Nayla gak bisa diandelin lagi!” umpat Jevin seorang diri sambil mengobrak
abrik berkas yang ada di mejanya.
“Kreeek!”
Burur-buru Jevin memunguti kertas-kertas yang berserakan di
atas lantai.
“Ada apa, Jev?” tanya Juna saat melihat teman satu
ruangannya terlihat gugup.
“Tidak apa-apa, ada apa Jun?”
“Ini, kamu cek lagi pekerjaanmu, pak Al tadi marah besar
melihat ini, kenapa kamu jadi begini sih, Jev? Yang bener dong kerja. Aku gak
anggap kamu sebagai bawahanku, tapi partner dalam tim, aku juga gak enak buat
negur kamu, tapi ingat ini menyangkut nama perusahaan.” Juna meletakan dengan
kasar map berwanrna kuning itu di atas meja Jevin dan kemudian dia keluar.
Sesampainya di luar, Juna menelfon seseorang, dengan nada
marah-marah, pria itu menyampaikan kekesalannya.
“Uda kutegur dia, salah itu Cuma satu dua tiga kali saja,
ini sudah sering bahkan pernah diam-diam menggelapkan mutase keuangan
perusahaan, untuk apa penyakit seperti ini dipelihara?”
“Kau sabar dulu, Jun. Cukup awasi saja, dan jangan sampai
ada bukti yang tak kau pegang, tunggulah tuan putriku luluh dulu.”
“Argh.. aku tahu duit segitu tak akan membuat kau jatuh
miskin. Apalagi kau yabg terbudak oleh cinta, aslinya aku sudah bosen. Tapi,
karena kamu bosnya… “
“Hehehe, kalau kau tidak tahu, cintamu pada gea itu biasa
saja, Jun,” timpal Al dari seberang.
“Kau, ada di mana sekarang, Kak? Apakah masih bersama si
dia?”
“Tidak, ini aku ada di base camb sekarang urusan dengan
perusahaan bawah tanah.”
“Oh.”
Al pun mematikan panggilannya, ia sedang mengintrogasai
__ADS_1
salah satu anak buahnya yang tengah berkhianat, memberikan informasi tentang
identitasnya kepada pihak lawan. Beruntung sekali, Al memiliki ratusan anak
buah yang setia dan sangat jeli. Jadi, mereka bisa bergerak cepat jika ada
salah satu temannya yang berlaku sedikit aneh.
Dua orang berbadan kekar itu pun menarik paksa seorang
dengan postur tubuh sedang. Tubuhnya sudah banyak mendapatkan bekas luka
cambukan sampai baju yang dikenakan pria itu koyak. Dalam keadaan dua tangan
terborgol ke belakang, dengan kasar dua pria badan kekar itu melemparnya sampai
jatuh bersujud di bawah kaki Al yang tengah duduk di sebuah kursi tunggal.
Al diam tak langsung bertindak, dia mengamati baik-baik
wajah yang sudah lebam akibat tonjokan dan pukulan dari dua orang yang
mendorongya tadi, hingga nyaris tak ketemu bentuknya. Pria itu bersujud dalam
posisi tangan terikat dibelakang, mengeuarkan air mata meminta maaf tanpa
habisnya kepada Al.
“Tolong ampuni saya, Bos… Maafkanlah kelancangan saya yang
berani-beraninya memberi identitas asli anda kepada mereka.”
“Kau sudah berapa lama bergabung dalam organisasi mafia ku
ini? Kau nuga tahu, aku tudak hanya memegang kendali saham
diperusahan-perusahaan besar di seluruh Jepang dan Indonesia, bahkan aku juga
menjadi salah satau pewaris dari tiga perusahaan yang aku pegang. Aku banyak
lawan dan musuh di luar sana, pada siapa kau memberikannya?”
“Saya.. Saya memberitahukan itu kepada mr.X, Bos. Dan saya
baru satu tahun bekerja bersama anda membantu organisasi di bidang pemasaran
barang.”
“Mr.X itu siapa? Tidakkah kau tahu kalau itu hanya samara saja?
Dan bagaimana kau bisa tahu kalau nama asliku adalah Al Fatih bukan Akira Onishi?”
“Tanpa sengaja saya menemukan kartu identitas anda sebabagai
CEO di salah satu perusahaan. Di sana terdapat foto anda dan nama Indonesia,
lalu saya mencari nama itu di jejaring social, Bos.”
“Hem… lumayan cerdik juga kamuy a? Aku suka itu. Tapi, kamu
tahu tidak kalau aku paling benci dikhianati? Dan kurasa belum ada setahun ini
aku juga menangani seorang penghianat. Kau pasti tahu itu seprti apa yang dia
dapat walau penghianatan tak sebesar yang kau berikan. But, ok. Aku lagi dalam
suasana hati yang baik dan aku tak lagi ingin mengotori tanganku, aku tidak
akan melakukan apapun terhadap kamu, melainkan lima ekor harimau yang ada di kendang
itulah yang akan menggantiukan tugasku.”
Pria itu mendelik matanya terbelalak kaget tidak percaya,
memang di tempat ini ada kendang harimau, dan benar memang ada lima ekor. Terlebih
mereka tidakklah jinak. ‘Apakah bos Akira sedang bercanda? Tapi, kapan dia pernah
bercanda? Bahkan sekalipun dia tidak pernah menrima candaan yang seperti
apapun, Dia terkenal dingin dan bengis saat menghadapi lawan terlebih orang dalam
yang berkhianat.
“Kalian berdua kenapa masih mematung saja di sana pakah
tidak denga?” Bentak Al.
“Baik, Boss…” Dua pria itu pun mengangkat paksa orang yang
ytelah berkianat itu menyeretnya membawanya ke kendang harimau yang sengaja
sudah dua dari kemarin tidak dikasih makan.
“Bos… Ampuni saya, Bos…. Saya berjanji tidak akan
mengulanignya laki!” teriak peria itu sambil meronta-ronta.
“Taka da gunanya kau minta maaf! Sejak awal masuk di sini
kau juga sudah tahu bukan peraturannya seperti apa? Boss kita tidak akan pernah
main-main dalam urusan seperti ini, Kau juga sudah menandatangi apapun
konsekwensi jika melakukan penghianatan serta tunjangan jika bekerjamu bagu.
Ayo ikut kami!” bentak dia orang itu sambil terus menyeretnya.
Al mengeluarkan pistol yang selalu ia selipkan pada pinggangnya
dan mengankat benda itu menepatkan posisinya lalu menarik pelatuknya.
“DOOOR!!!” Seketika tak
ada kegaduhana lagi di depannya, peruru itu tepat mengenai sasaran pada orang tersebut
di kepalnay. Seketika, tubuh itu tergeletak tak bernyawa, darah berserakan di
mana-mana, termasuk dua orang yang menyeretnya itu pun juga terkena muncratan
darah dan sebagian potak yang keluar akibat peluru yang tembus dari kepala
belakang ke kepala depan tersebut.
Dua pria itu pun menoleh kea rah Al yang sudah meletakkan
kembali pistolnya dan bertanya, “Boss, kenapa begini?’ tanya mereka hampir
bersamaan.
“Dengan begitu setidaknya mengurangi rasa sakitnya. Aku juga
sedang tidak mau dengar suara berisik apapun. Ambilkan data diri tentang pria
itu cepat! Akum au lihat.”
“Baik, Boss.”
Seorang dari mereka bergegas mengambil data dirinya,
sedangkan yang lain menyeret jasat yang baru terpisah dengan nyawanya it uke kendang
harimau.
Tak lama kemudian, pria yang sama membawa sebuah map yang
berisi data pribadi orang tersebut. Al menerimanya dan membaca isinya.
“O, Namanya Setiawan, ya? Punya satu istri dan dua anak yang
berusia sepuluh dan delapan tahun. Nama tak sesuai kelakuan, hehm.” Al
menyeringai dan melemparkan map terseebut ke samping.
“Katakan pada keluarganya kalau dia kecelakaan di luar negeri,
jasadnya belum ditemukan, sementara masih dinyatakan hilang, beri mereka uang serratus
juta dan tunjangan sekolah untuk dua anaknya sampai lulus sarjana,” ucap Al
lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Al lumayan kaget saat jekuar melihat suasana hari sudah sore.
Tanpa terasa, lama juga mengurusi satu penghianat. Tpi tidak masalah, ia akan
__ADS_1
ke apartemen untuk mandi dan berdandan rapi, masih ada waktu satu jam menunggu jam
kerja Queen berakhir dan ia akan menjemputnya.