
“Selamat siang, semuanya,” sapa Queen pada seluruh orang yang berada di dalam kamar rawat Adriel. Rupanya wanita itu tidak bisa menghilangkan kebiasaannya selama bekerja. Setiap kali memasuki bangsal, dia selalu mengucapkan kalimat itu. harusnya ia bisa menggantinya dengan salam. Karena jelas, yang berada di dalam sana adalah orang muslim semua.
“Queen? Kau katanya baru dari Bandung?” sambut Novita dengan hangat. Dua wanita itu saling berpelukan dan cupiki dan cupika, setelah Queen meletakkan parsel buah dan mainan robot-robotan untuk Adriel.
“Iya, kok tahu? Pasti dari bang Candra, ya?” jawab Queen sambil melirik pria berkemeja abu-abu, yang tengah berdiri di dekat Adriel. Lalu, mereka pun sama-sama tertawa.
“Hay, Zahara. Kau apa kabar? Semoga sehat selalu, ya? Selamat sampai lahir ibu dan anak," ucap Queen. Tanpa menunggu respon dari wanita yang mengenakan hijap merah maroon itu, Queen langsung memeluk dan saling cium pipi kiri dan kanan seperti yang dia lakukan pada Novita tadi.
Tak mau membuat suasana menjadi canggung, wanita yang berprofesi sebagai dokter umum di rumah sakit lain itu langsung menghampiri Adriel. Sementara Al, ia tengah ngobrol dengan Alex, dan juga Candra. Entah apa yang mereka bicarakan. Sekilas Queen melirik Al yang tengah ngobrol dengan mantan suamianya dulu, bahkan keduanya terlihat biasa dan tidak kaku sama sekali.
Tapi, lain halnya dengan Zahara. Dia lebih memilih menyendiri memainkan gawainya duduk di sofa yang sudah di duduki Axel dan Berlyn. Entah, apa yang mereka lihat di layar ponsel Axel. Keliahatannya sangat asik saja.
“Adriel, bagaimana kau bisa sampai terserempet mobil? Pasti kamu main lari saja, ya gak mau digandeng tangannya sama mama, ya?" tanya Queen.
“Kau bagaimana bisa tahu, Tante? Apakah kau adalah peramal?” tanya bocah itu dengan polos.
“Tentu saja bukan. Tante Cuma menebak saja.”
“Bagaimana bisa setepat itu?”
Queen mengangkat kedua pundaknya dan mengelus kepala anak itu dan berkata, “Lain kali, Adriel lebih patuh lagi sama mama, ya Sayang?”
“Iya, Tante. Tante Queen kan seorang dokter, kenapa tidak memeriksaku? Kapan aku bisa pulang, dan kembali bersekolah?”
“Asal Adriel nurut sama dokter, perawat yang ada di sini dan juga pada mama, pasti akan cepat boleh pulang.”
“Nurut tante saja. Kenapa tidak tante Queen yang memeriksaku. Kan tante juga dokter. Aku tidak suka dengan dokter yang ada di sini,’ ucap bocah itu setengah merengek.
“Memang kenapa? Bukankah semua dokter itu semuanya sama saja?”
“Tentu saja tidak, dokter di sini tua dan semuanya jelek. Galak lagi. Kalau tante Queen kan cantik.”
Seketika Novita dan Queen tertawa mendengar jawaban dari Adriel.
“Kamu ini dasar, masih kecil genit banget,” celetuk Novita.
“Justru yang sudah tua itu makin pinter, Driel. Karena pengalaman mereka jauh lebih banyak. Mengenai kenapa tante tidak bisa memeriksamu di sini, .… “
“Karena dia tidak bisa apa-apa, selain cuma omong doang,” sahut Zahara, memotong ucapan Queen.
Seketika semua diam dan menatap tajam Zahara, selain Queen. Wanita itu hanya tersenyum simpul saja dan berbisik lirih pada Novita. “Kak, mugkin aku pulang saja dulu. Ada banyak hal yang harus aku urus.” Kemudian, ia bergantian memandang pada Adriel yang diperban kepalanya. “Tante janji, lain kali tante akan jenguk kamu lagi, oke good boy?” ucap Qeeun dan mengajak tos pada Adriel dan bersiap hendak pergi meninggalkan kamar rawat itu.
“Lex, kau ini kalau punya istri ajari juga dia untuk tidak sembarangan berbicara. Ucapan seperti itu kira-kira menyinggung orang lain apa tidak? Bagaimana jika seandainya dia yang dibegitukan? Apakah dia akan baik-baik saja. Setahuku, istriku tidak pernah mengusik istrimu dan dia selalu bersikap baik pada istrimu. Apakah istrimu itu sedang sakit jiwanya?” ucap Al emosi.
“Al, Queen. Aku minta maaf atas nama Zahara, ya?'’ ucap Alex merasa tidak nyaman dengan Al dan juga Queen.
“Sudah, Al. aku tidak apa-apa. Mungkin maksut Zahara itu baik, hanya cara penyampaiannya saja yang kurang tepat. Sejak aku datang di sini, aku sudah mengajak Adriel bicara terus, dia kan habis kecelakaan dan kehilangan banyak darah, harusnya banyak beristirahat.”
Al menampik tangan Queen yang memgang lengannya dan mendekati Zahara. Dia tidak terima atas apa yang diucapkan tadi pada Queen.
“Zahara, kau ini berhijab, ilmu agamamu pasti juga lebih tinggi dari Queen. Harusnya tahu adab. Jika umikmu tahu kau seperti ini, apakah dia tidak kecewa? Kau menyinggung Queen, sama dengan menyinggungku. Kali ini aku mungkin memaafkanmu. Tapi, tidak lain kali. Tak peduli, sekalipun aku pernah dirawat oleh umikmu di panti asuhan,” ucap Al dengan geram.
“Al, sudah. Zahara itu lagi hamil. Wajar dia juga mungkin sedang sensitive saja.”
“kau dua kali hamil seperti itu apa tidak? Alex, kau tahu, kan bagaimana saat Queen hamil dulu? Apakah dia juga meledak-ledak seperti itu emosinya? Dulu dia adalah adikku, dan sekarang dia istriku, aku mengenalnya sangat baik dan lebih dari kalian semua.”
“Al, jangan ribut, kasian Adriel,” bisik Queen
Al pun diam dan berpamitan pada Novita, Alex, Candra dan juga Axel yang sedari tadi menjaga Berlyn.
“Bang, aku pamit dulu, ya? kak Nov… “
Novita langsung memeluk Queen dan berbisik, “Maaf, ya? aku jadi gak enak sama kamu.”
“tidak apa-apa, semoga Adriel cepat sembuh.”
Al menggendong Berlyn di sebelah kiri dan tangan kanannya meggandengeng tangan Queen. Keduanya diam sampai mereka tiba di mobil.
“kita mau ke mana lagi kita, Sayang?” tanya Al.
“Kita pulang saja, kalau Berlyn mau ke rumah papa dan mama kita antar nanti malam saja sekalian kita menginap di sana. Atau, biarkan mereka datang ke rumah juga tidak masalah, kan?”
Al tidak mengatakan apa-apa. Dia mengelus Pundak Queen dan mencium pelipisnya, lalu meminta agar istrinya memakai sabuk pengaman dan ia pun mulai menyalakan mesin dan meninggalkan area rumah sakit tersebut.
“Zahara, sudah berapa kali aku peringatkan kamu? Tadi sebelum Queen datang aku juga sudah mengajakmu untuk pulang dan kita bisa ke sini lagi setelah mereka pergi, kau menolak. Kau ini kenapa? Apa masalahmu?” ucap Alex.
Sementara Candra langsung memeluk pria itu dari belakang dan berkata lirih, “Sudah, Lex. Jangan ribut di sini. Mungkin kalian perlu bicara empat mata dari hati ke hati. Ingat, jangan ribut. Kasian bagaimana pun dia juga tengah mengandung calon anakmu.”
Sedangkan Novita hanya diam saja. Melihat ke Zahara juga tidak mau. Dia juga marah pada saudari iparnya yang telah berlaku tidak sopan. Kalaupun dia cemburu, Queen juga tidak menyapa sama sekali pada adiknya. Dia hanya fokus pada Adriel sejak ia tiba.
Alex berjalan menuju hospitalbad keponakannya dan berkata pada Adriel, “Adriel, kau tahu kenapa tante Queen tidak bisa memeriksamu? Dia bukan tidak bisa apa-apa. Tapi, dia tidak ditugaskan di sini. Kalau Adriel mau dirawat tante Queen, pindah saja ke rumah sakit tempat tante bekerja, bagaimana?”
“Mau, Om. Aku mau sekali,'’ jawab Adriel antusias.
“Alex, sudah jangan memperkeruh keadaan,” ucap Novita singkat. Kemudian, wanita itu mendekati Adriel dan mengatakan padaya untuk tidak berpindah ke rumah sakit. Karena di sini pun juga sama saja. Awalnya Adirel berontak. Tapi, karena Axel dan juga Candra bantu membujuk bocah itu, ia pun akhirnya menurut saja.
“Ayo kita pulang!’' ucap Alex dengan raut wajah yang geram pada Zahara.
“Aku masih ingin menunggu Adriel,” jawab wanita itu.
Awalnya Alex memaksa dan malah hendak meyeret. Tapi, Novita berhasil menenangkan adiknya. Merasa tidak nyaman di sini, Axel pun pamit pada mamanya untuk pergi, alasan mencari makan. Memang dia belum makan siang tadi di rumah. Tapi, setelah melihat apa yang terjadi pada adiknya, rasa lapar itu pun seketika lenyap.
“Ya sudah, hati-hati ya Xel?” ucap Novita.
Seketika ruangan yang tadinya penuh canda tawa sekalipun dalam musibah, kini jadi hening dan menegangkan lebih tegang dari sebelum ada kabar tetang Adriel yang masih berada di dalam ruangan IGD. Terlebih saat mendekati jam satu Candra pun juga berpamitan untuk kembali ke kantor. Novita rasanya terasingkan di tempat itu seorang diri.
“kak Nov lapar?”
“Tidak, aku tidak lapar.” Novita menuduk dan menghindari dari padangan Alex. dia ingin marah, tapi, bingung juga. sekarang dia tahu, sesabar apa adiknya menghadapi Zahara. Di depan orang banyak saja dia berani seperti ini. Apalagi kalau di rumah hanya berdua dengan Alex saja?
Ia juga heran, kenapa tiba-tiba wanita yang dulu sangat kalem, lemah lembut serta baik itu bisa seperti itu. Apakah ada yang salah?
__ADS_1
“Zahara, jika kau lelah kau tidak apa-apa kembali dulu. Sebentar lagi Axel juga pasti akan tiba. Dan nanti sore, Candra juga akan ke sini menggantikan aku,'’ ucap Novita yang sudah tidak tahan lagi meliha Zahara.
“Baik, Kak. Apa tidak apa-apa kalau kakak di sini sendiri?”
“Tidak apa-apa,” jawab Novita memaksakan diri untuk tetap tersenyum.
Akhirnya Alex dan Zahara pun pulang. Sampai di rumah Alex langsung masuk ke kamar tamu, kamar yang Queen tempati enam bulan terakhir sebelum bercerai dengannya dulu. Ia mengunci pintu kamar itu dan tak pedulikan Zahara yang beberapa kali memanggil dan mengetuk-ngetuk pintu kamar tersebut. Alex menutup kepanya dengn bantal agar tidak mendengar keberisikan di luar.
Saat suasanya kembali hening dan sepi, Alex menaikkan kasur tersebut dan melihat ada beberapa box plastic besar yang tersimpan di kolong tempat tidur tersebut. Ia membuka box bertutup pink di sana ada cangkang kerang besar dan kalung Mutiara milik Queen, dulu. Diambilnya dua benda itu, ia teringat bagaimana saat ia masih SMA dulu.
“Kau percaya dengan adanya jin wanita bernama Jinni yang tinggal di dalam cangkang kerang besar dari dasar lautan?” ucap Alex kala itu.
“Itu Cuma sinetron tv saja, Lex.” gadis itu terus memainkan butiran pasir putih yang halus tanpa menggubris kekasihnya yang mulai halu.
“Ini, coba aku gosok-gosok. Nah… kan, keluar jin cantik yang akan jadi pacarku.”
“Siapa?” Queen terbelalak kaget bercampur takut sambil melihat ke tempat sekitar, saat mereka sama-sama duduk di atas pasir putih pantai yang indah.
“Kau.”
“Enak aja aku di kata Jin,” protes Queen marah.
“Mcuah.” Alex dengan gentlenya langsung mencuri ciuman pada bibir Queen yang tipis dan mungil bak boneka.
“Hey, kau! Lancang sekali, beraninya kau mencuri ciuman pertamaku!”
“Oh, ya? bagus, dong!” Alex malah memeluk wanita itu dan kembali mencium bibirnya, karena keadaan pantai yang kebetulan sepi, ia pun melanjutkan dan terus ******* bibir itu.
“Ke hotel terdekat, yuk!” bisik Alex.
“Gak, ah. Ngapain?”
“Kamu cinta gak, sama aku?”
“Jika tidak, kenapa aku mau jadi pacarmu?”
“Buktikan kalau kau memang mencintaiku.”
“Apa?”
“Bercintalah denganku!”
“kau gila? Apakah bukti mencintai itu harus melakukan itu sebelum menikah? Ya, kalau kita bisa selamanya terus bersama sampai jenjang ke pernikahan. Kalau tidak? Apalagi kita masih kelas dua SMA. Masa depan kita masih panjang, Lex.”
Sejak saat itu, Alex terus merayu Queen agar mau berhubungan badan dengan dirinya. Tapi, karena kuatnya tekat Queen, ia pun tidak berhasil, dan malah melampiaskan pada wanita lain, Helena. Setelah enam bulan pacarana dia ketahuan dan Queen minta putus.
“Argh! Dasar bodoh kau Lex! Semua ini memang salahmu,” hardik Alex seorang diri . penyesalannya akan masalalu kini kia mendalam saja. Beruntung Helena sudah mati, jika saja tidak... dia juga taahu ingin melakukan apa pada wanita yang telah merusak hubungannya dengan Queen.
Sesampainya di rumah, Queen meminta putrinya ungtuk segera tidur. Sedangkan dia sendiri langsung menuju kamarnya. Di sana, ia kembali teringat dan terngiang kata-kata Zahara. Bukan masalah jika dia dikata tidak bisa apa-apa. Dia masih bisa berbaik sangaka, mungkin wanita itu kalimatnya belum selesai. Tidak bisa apa-apa karena dia bukan dokter di rumah sakit itu. tapi, kata-kata dan sorot matanya yang menunjukkan kebencian, membuat Queen akhrinya menangis juga.
“Ceklek!”
Cepat-cepat Quee menghapus air matanya, begitu mendengar pintu kamarnya dibuka oleh seseorang.
Queen diam. Tiba-tiba Al memeluknya dari belakang. “Kamu masih mikirin omongan Zahara tadi?”
Queen mau berkata tidak nyatanya juga demikian, ia pun memutar tubuh, berbalik padan, dan memeluk Al sambil menumpahkan segala kesesakan di hatinya.
“Aku salah apa sih, Al sama dia? Kenapa dia benci banget sama aku? Kalau dia benci aku, karena aku mantan istrinya Alex, apakah masa lalu bisa disalahkan?”
“Dia itu iri sama kamu, Sayang. Mungkin tanpa sadar Alex sering terlihat lebih membanggakanmu, makanya dia seperti itu.”
Queen masih saja menangis di pelukan Al, dan kedua tangannya memeluk kian erat saja.
“Kamu tenang, ya? Dia saat ini pasti juga dapat konsekwansinya. Dia akan menghadapi kemarahan Alex, serta perubahan sikap dari kak Novi. Mungkin dia iri karena kamu masih berhubungan dekat dengan keluarga mantan suamimu.” Al memeluk Queen, mengusap punggung dan menciumi ujung kepalanya terus.
“Jangan kamu pikirkan lagi, kamu mau apa sekarang? Capek tidak?”
“Gak tahu mau ngapain. Males sudah," jawab Queen.
“Tidur saja, yuk! Sepertinya aku lelah banget hari ini,”
Queen melirik jam dinging yang tergantung di kamarnya. Memang ini masih jam satu. Walaupun dia sebenarnya tidak terbiasa tidur siang, apa salaahnya tidur? Sekalipun fisiknya tidak merasa lelah, pikiran juga perlu istirahat, bukan?”
“Aku cuci muka dulu,” ucap Queen lalu beranjak ke kamar mandi.
Usai keluar dari kamar mandi, Queen mendapati Al sudah mengenakan pakaian santai. Kaus oblong berwarna abu-abu dan celana boxer hitam. Ia nampak bersandar sambil membaca buku. Tapi, saat melihat Queen sudah berada di dekatnya, dengan segera diletakkannya buku tersebut dan membetulkan posisinya untuk berbaring sambil memeluk istrinya.
Keduanya berbincang-bincang membahas soal lain unutk mengalihkan pikiran Queen dari Zahara. Tapi, Al malah salah ngomong, bagaimana tidak, dia kelepasan bicara menanyai pengalaman tentang di Bandung kemarin. Queen yang mulanya memiliki kesan mendalam tentang pelajaran hidup yang ia dapat semua telah berganti setelah pertemuannya Lyli.
“Oh, ya. kau melakukan itu pada Lyli kapan? Sepertinya dia gagal move on dari kamu,” ucap Queen kembali cemberut dan menghindari pandangan mata Al.
Al memandang istrinya sambil tersenyum simpul. Ia merasa geli saja mendapati istrinya merasa cemburu. Lagi pula, Lyli kan juga bukanlah kelasnya, mengapa harus cemburu?
“Gagal move gimana sih sayang? Aku dari dulu tidak benar-benar mencintainya. Kau tahu, kenapa aku mau berkencan dengannya kala itu?”
“Apa?”
“Aku Cuma menuruti kemauan adiku yang bawel itu,” ucap Al sambil mencubit hidung mancung Queen.
Queen tak mau berdebat, ia langsung memeluk tubuh Al. sekalipun Lyli berbohong padanya kemarin, tiba-tiba saja di benaknya ia membayangkan Al berpelukan dan melakukan adegan romantis dengan wanita lain. Sebelumnya dia juga pernah menikah dengan Nayla, atas pilihannya sendiri. Sekalipun dia sudah berdamai dengan wanita itu, hatinya tiba-tiba merasa sakit saja dan ada rasa tidak terima jika suaminya perhatikan dan pernah mencintai wanita lain.
“Aku gak mau peduli dengan masa lalumu. Yang penting sekarang hanya ada aku kan, di hatimu?” ucap Queen pada Al. sebenarnya kalimat itu ia lontarkan untuk menghibur dirinya sendiri.
“Memang apa, sih yang Lyli katakana kemarin, kau bisa sampai semarah itu?”
“Dia bilang, saat kau tahu dia memiliki kekasih lain kau tidak terima. Kau bantai keluarganya karena mereka tidak mendukungmu untuk jadikan Lyli wanita keduamu.”
Al hanya tertawa dan mengajak untuk tidur siang. Meskipun sebenarnya dia tadi tidak mengantuk, merebah dan mencium aroma bantal, terlebih ia juga tengah memeluk guling hidupnya membuat kantuk pun datang lebih cepat.
Queen kembali teringat dengan apa yang Zahara katakana tadi di rumah sakit. Tiba-tiba ia merasa tidak tenang saja. Ia tidak membencinya, justru malah kasian dengan wanita itu. sebab, jika kebenciaan terhadapnya berlanjut cuma karena dia pernah jadi mantan istri sekaigus mantan pacar semasa SMA dari pria yang dinikahinya, ia bisa-bisa mengalami sakit batin. Dari kebencian itulah, akal sehatnya tergerogoti.
__ADS_1
“Tidak, aku tidak bisa begini, aku harus menemuinya. Tapi, di mana dia sekarang? Masih di rumah sakit apa sudah pulang? Mungkin aku bisa menanyakan hal itu pada kak Novi,” gumamnya seorang diri.
Ia pun beranjak meninggalkan Al yang sudah terlelap, berganti pakaian lagi, dan pergi.
Bersamaan dengan Queen menutup pintu kamar, saat itu juga Al terjaga dan menghubungi Vico, meminta gara ia mengawasi istrinya, mau ke mana dia dan apa yang akan dia lakukan dalam keadaan suasana hati yang buruk seperti itu. setelahnya, ia kembali tidur, selain ia benar-benar mengantuk, memang selama ini Vico selalu bisa diandalkan.
Setelah mengetahui kalau Alex dan Zahara sudah pulang dari Novita, wanita itu mengemudikan mobilnya menuju rumah mereka. Dia memang perlu tahu sendiri darinya apa yang membuat wanita itu sangat membencinya. Queen sudah memutuskan, kalau memang dia dianggap salah, nanti dia tidak akan sungkan untuk meminta maaf dan melakukan apa yang diinginkah oleh Zahara. Tapi, jika asumsi suaminya yang benar, setidaknya dia tahu sendiri dan tak hanya menbak-nebak saja.
Tanpa ragu-ragu lagi, Queen mengetuk pintu rumah yang dulu juga pernah menjadi rumahnya. Kebetulan yang membuka pintunya adalah Zahara sendri. Jadi, itu sangat memudahkannya,
“Queen, mau apa kau ke sini?” tanya Zahara dengan sebal.
“Aku datang kemari karena memang ada yang harus kita bicarakan.”
“Aku tidak bisa, aku sibuk. Lain kali saja.” Zahara segera bebalik badan dan menutup pintu. Tapi, dengan cepat Queen mletakkan kakinya di depan pintu, jadi pintu itu tidak bisa tertutup karena tertahan oleh kakinya.
“Aku sudah datang jauh-jauh dari rumah, aku tidak mau kedatanganku ke sini sia-sia. Karena, kau yang kucari kau, dan kau pula yang membukakan pintunya untukku,” ucap Queen, bersikiras.
“Sebenarnya apa sih yang ingin kau bicarakan? Aku sibuk,” ucap Zahara, ketus.
“Oh, ya? tenang saja. Aku hanya perlu berbicara dengan kamu. Bukan dengan Alex. mungkin bisa di atas kita bicara agar dia tidak tahu," jawab Queen.
“Masuklah! Kita ke teras belakang saja,” ucap Zahara sambil berjalan ke dalam, dan Queen berjalan mengikuti tuan rumah tersebut di belakangnya.
“Nonya, Queen,” sapa bibi yang bekerja di rumah Alex.
Queen hanya membalas dengan senyuman saja. Kembali Zahara dengan ketus menegur bibi untuk tidak berlagak sok kenal dan sok dekat dengan tamu. Lalu, wanita paruh baya itu pun langsung ke dapur dan membuatkan minuman untuk majikan dan juga tamunya.
“Apa memang yang ingin kamu bicarakan?”
“Kurasa kau tahu. Sekarang jawab aku dengan jujur. Apa sebenarnya salahku sama kamu? Aku merasa sekalipun tidak pernah mengusik kehidupan kamu. Tapi, kenapa kamu benci banget sama aku? Jika ada yang salah dan tidak kau sukai dari prilakuku, katakan. Aku akan merubahnya.”
Tubuh Zahara seketika bergetar hebat mendengar kalimat-kalimat yang Queen katakana. Ia benar-benar sama sekali tidak menyangka kalau wanita yang selama ini dia anggap cukup lemah, pendiam dan tak banyak bicara ada keberanian mengajaknya berbicara empat mata dan membahas hal seperti ini. Memang dia tidak menunjukkan emosinya sedikitpun. Berbicara juga dengan nada rendah.
“kau jangan diam, Zahara. Aku ini bukan malaikan yang bisa mendengar apa kata hatimu. Jika saja bisa, mana mungkin aku ke sini dan menanyakannya langsung padamu?”
“Bukan urusanmu. Bukankah hakku untuk menyukai dan membenci siapapun di dunia ini?” jawab Zahara berlagak berani. Padahal nyatanya, tubuhnya sudah tersa seperti terkena sengatan arus listrik kecil namun bertubi-tubi dan keringat dingin pun juga membasahi tubuhnya, terlebih di kedua telapak tangan dan kakinya.
“Oh, ya. Tuentu, itu hakkmu. Aku tahu. Tapi, aku sebagai orang yang tiba-tiba kau benci tanpa alasan yang jelas juga berhak tahu, Zahara. Aku berhak menanyakannya padamu. Terlebih kata-katamu sangat menyinggungku tadi. Kau katakana aku sebagai dokter tidak bisa apa-apa. Apa kau pikir itu tidak bisa dibawa ke jalur hukum? Kau menjawab apa alasannya, apa aku cari tahu sendiri jawabannya lain waktu melalui jalur sidang?” Queen menatap tajam pada wanita yang ada di depannya. Sepertinya kemarahannya sudah benar-benar berada di puncak. Bertahun-tahun dia disindir dikatai seperti apapun juga hanya diam tak menanggapi. Tapi, makin ke sini Zahara kian menggila saja,
Dengan tubuh bergetar dan terisak Zahara menjawab pertanyaan Queen. Entah dia itu takut atau bagaimana, yang jelas, satu kalimat yang Queen lontarkan tanpa basa-basi tadi sudah cukup membuatnya gentar.
“Ya, aku benci sama kamu karena sekalipun kau sudah bercerai dengan Alex, kau masih saja berhubungan baik dengan keluarganya. Mertua dan keponakanku masih sering memujimu. Lain dengan aku yang hanya anak yatim, aku dan ibuku menggantungkan hidup juga hanya dari Yayasan panti asuhan.”
“Kau tidak pernah bercerai, Zahara. Tidak ada istilah mantan orang tua dan juga kakak. Yang ada hanyalah mantan suami dan mantan istri. Aku baik ke mereka, karena mereka juga keluargaku. Bukan untuk meminta dukungan agar Alex kembali rujuk denganku. Kurasa kau juga masih ingat, aku yang lebih dulu menikah dengan Al, baru kau yang menikah dengan Alex. itu pun aku juga sudah mengandung anakku.”
“tapi, kau menikahi Al karena terpaksa, bukan? Kau tidak mencintainya?” bantah Zahara. Seolah saat itu pria yang Queen cintai adalah Alex saja. Padahal Diaz.
“Kau benar. Aku dulu mencintai Diaz. Bukan Alex. kau ini aneh dan sangat tidak masuk akal Zahara. Tanyakan pada siapapun atas tindakanmu ini, dan jelaskan apa alasanmu membenciku, aku berani jamin, seluruh dunia yang mendengar mengangap kau gila. Aku sarankan padamu, sebelum semua ini berlanjut cepat temui psekeater. Jika tidak mempan juga, lakukan hipnoterapi agar hatimu tenang. Kau tidak ingin kan, ini berlanjut sampai anakmu lahir nanti. Aku juga kawatir dengan kondisi mu yang begini, akan sangat rentan terserang baby bluse.”
Keduda Pundak Zahara bergetar hebat karena menangis dan semua perasaan bercampur aduk. Mungkin selama ini dia tidak pernah berfikir kalau Queen akan melabraknya. Ada dalam bayangannya saja tidak. Tiba-tiba saja dia datang.
“Permisi Non, silahkan diminum.” Tiba-tiba bibi muncul dari balik pintu belakang. Di tangannya ia membawa dua gelas es berwana hijau. Mungkin sirup rasa melon.
Kembali Queen hanya menunjukkan senyuman ramahnya pada wanita paruh baya yang kurang lebih selama satu setengah tahun itu pernah membantu menyiapkan segala kebutuhannya dengan sangat baik.
“Makasih, ya Bik,” ucap Queen tak peduli dengan Zahara yang masih tertunduk dengan tubuhnya yang bergetar karena tak mampu meluapkan emosinya, dan mungkin juga merasa bersalah dan malu. Jika tidak pada Queen ya dengan dirinya sendiri, minimal dengan dirinya sendiri.
Meskipun kalem, kata-kata Queen juga cukup tajam. Padahal ia tidak membawa soal Pendidikan, umiknya dan juga agama.
Queen segera menghabiskan minuman yang sudah bibi sajikan untuknya lalu berpamitan dengan Zahara. Tapi, Zahara masih saja menunduk.
Beberapa langkah ia menjauh dari tempatnya duduk dia berhenti, menoleh pada Zahara dan kembali berpesan, "Selama di hatimu ada rasa Inging sekali jadi yang nomor satu. Maka, hatimu tak akan menemukan ketenangan. Karena nyatanya, kau bukan yang jadi nomor satu."
Bersamaan ia masuk rumah melalui pintu belakang, ia berpapasan dengan Alex. mungkin saja dia mencari istrinya. Atau, ia tahu dari bibi kalau dia ke mari dan berbicara degan istrinya berdua di belakang.
“Queen, kapan kau datang?”
“Sudah dari tadi. Aku pulang dulu, ya Lex.”
“Kok buru-buru, saja?”
“Ada banyak hal yang aku urus. Maaf jika telah membuat Zahara menangis. Cepat datangi dia, dan bawa dia ke psikolog, mungkin dia sakit.” Queen pun langsung pergi setelah mengatakan itu.
Alex mendapati istrinya masih menunduk dan menagis seorang diri. dia yakin, Zahara pasti juga masih keras dan menganggap dirinya benar. Apalagi meminta mmaaf pada Queen dan mengakui kesalahan. Itu mustahil.
“Ada apa?” tanya Alex sambil duduk di kursi yang tadi ditempati oleh Queen.
“Tidak apa-apa.”
“Jika kau tidak menjelaskan, orang lain tidak akan mengerti. Kau kedatangan tamu tapi, malah menangis di sini bukannya mengantarkan dia sampai gerbang.”
“Kau membelanya? Membela wanita yang lancang dan dengan beraninya kemari… “
“Cukup! Cukup Zahara.”
Zahara kian menangis dan menutup bibirnya, ia tak percaya kalau Alex telah membentaknya di pernikahannya yang ke enam tahun, di saat ia mengandung anak pertama mereka.
“Jangan kau pikir aku tidak mengetahui semuanya. Aku sedari tadi berada di sana dan mendengar apa yang telah Queen katakana padamu, semua itu adalah benar.”
“Kau membelanya, Lex?”
“Aku tak peduli dia siapa. Yang jelas dia benar dan tidak bersalah. Kau bilang dia lancang? Lancangnya di mana? Itu hak dia menuntut jawaban darimu. Sekarang coba pikirkan jika saja kau brada di posisi Queen, apa yang kau lakukan? Jika kau memiliki cukup mental mungkin juga melakukan hal yang sama sepertinya. Jika tidak, dia sudah meminta suaminya untuk turun tangan. Kau tidak tahu, kan siapa sebenarnya suami Queen? Al sudah mengancammu. Kuharap kau tidak main-main. Atau, kau akan menyesal.”
“Al adalah anak pungut yang diasuh oleh orangtua Queen, kan? Dan dia mencintai adik angkatnya lalu menikahinya?”
“Kau hanya memandang orang dari harta dan kedudukan. Aku bingung, kau ini sebenarnya Zahara yang dulu aku nikahi, atau bukan sih? Zahara yang dulu itu dia sangat baik dan lembut. Tidak memiliki kebencian pada siapapun dan dia itu tulus. Kenapa kau bisa seperti ini, Zahara? Untuk kegiatan dakwah, kau juga sudah tak lagi aktif. Terserah jika hamil jadi alasan utama. Tapi, jangan rubah sikapmu seperti orang yang tak berpendidikan.”
Zahara hanya diam dan tak mau memandang Alex.
“Mungkin yang kau tahu Al adalah anak yang diasuh di panti asuhan yang kini dipegang oleh umik. Tapi, kau tidak tahu, saat panti asuhan itu akan digususr karena tanah yang dijadikan bangunan itu milik perusahaan asing. Siapa yang menebusnya? Al, Zahara. Al dan Queen yang menebus sebanyak empat puluh milyar. Kau pikir uang segitu tidak banyak? Kau tak ada alasan untuk membenci Queen. Dia memang benar-benar baik melakukan semua tanpa pamrih. Sekalipun itu demi Al. mana? Banyak, kan anak yang dulu diasuh di panti itu, mereka sukses mendengar itu hanya berkata prihatin saja, dan sepeserpun juga tak mau menyumbang untuk dana tebusan. Kalau Queen pamrih, dia sudaah memviralkan ini, dan dia sudah mendapat banyak pijian dari semua orang dan juga netizen.”
__ADS_1
“Aku lelah, dan akan aku tanyakan ini pada umik nanti,” ucap Zahara tiba-tiba saja pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara Alex, ia hanya menghela napas panjang dan menggelengkan kepala saja, mungin yang Queen katakana benar. Zahara perlu menemui dan berkonsultasi dengan seorang psikolog. Tingkat keanehannya benar-benar akut.