
Usai memeriksa dan memberikan beberapa obat tertentu Quen menjelaskan pada Novita agar Aditya tidak terlalu setres. Ya, dia tahu sih apa penyebabnya. Tapi, kali ini dia bertugas memeriksanya. Meski baginya sangat konyol menyampaikan hal ini pada kakak iparnya.
"Kakak bisa mengajaknya ngobrol, cari kesibukan bersama misal refresing dan olahraga. Atau yoga itu lebih bagus," ucap Quen sambil melirik ke arah Alex.
"Iya, akan aku coba. Terimakasih ya, Quen."
Quen hanya mengangguk dan tersenyum miris. Lalu menghampiri Alex mengajaknya untuk segera beristirahat.
Mendapati kondisi Aditya kian hari kian memburuk serta tingkahnya semakin gila, Quen merasa dia tak aman kalau terus bersama dalam saru ruangan. Ia memberi usul pada Alex supaya pulang lebih dulu dari mereka.
"Lex, maaf bukannya aku merusak suasana kebersamaan kalian, sepertinya alangkah baiknya kalai kita kembali ke Indo lebih awal. Jika ingin kemari, kita bisa saat libur atau ambil cuti dan tentunya tidak bersama mereka." Dengan pelan dan hati-hati Quen mengutarakan niatnya.
Alex hanya diam ia mengerti ia masih merindukan kedua orang tuanya. Tapi, Quen juga tidak nyaman jika harus saru rumah dengan Aditya yang kian hari makin tak waras itu.
"Kita tidur saja dulu, yuk! Kita bicarakan saka besok," bujuk Alex sambil menarakan dada kanannya untuk tidur Quen.
Tanpa menjawab, Quen pun juga menuruti, awalnya banyak yang ia pikirkan, tapi, beberapa saat kemudian dengan mencium aroma Alex dan menempel di dadanya ia pun mampi terlelap juga akhirnya.
🍁 🍁 🍁 🍁
Al dan Vico menghampiri mobil ferarry merah. Sepertinya papa Vano baru saja menelfon seseorang. Nampak ia mematikan sebuah panggilan dan menyimpan kembali benda pipih itu ke dalam saku kemejanya. Seutas senyum juga nampak menghiasi bibir pria berusia empat puluhaan tahun itu.
"Al, Vico. Kalian sudah di sini? Masuklah!" Perintah Vano saat menyadari dua orang yang akan dia jemput sudah berdiri di depan pintu mobil.
Al duduk di depan, sementara Vico di jog belakang.
"Baru nelfon siapa, Pah?" tanya Al seraya memasang sabuk pengamannya.
"Quen, adikmu. Menanyakan prihal dirumu. Papa bilang kalau sudah landas tapi, papa belum melihat kalian." Mesin mobil pun dinyalakan dan mulai melaju meninggalkan parkiran bandara Soekarno Hatta.
Satu jam kemudian Al dan Vano tiba di rumah karena sebelumnya mereka mengantarkan Vico terlebih dahaukum awalnya Vano mengajaknya mampir. Tapi pria muda itu menolak dengan jokenya alasan tidak akan sanggub bertrmu Lyli dalam kondisi berantakan.
Padahak dalam jey privat Al dia bisa mandi dan melakukan perawatan seperti apapun. Yah, mungkin dia juga lelah dan ingin beristirahat senyaman-nyamannya di atas kasur dalam rumah.
"Kok sepi? Mama di mana Pa?" tanya Al. Langsung mamanya yang dicari, bukan istrinya. Dia adalah type cowok yang rapi dalam menyimpan rahasia terutama yang berbau dengan perasaan. So tak ada yang menyadari akan sikapnya. Bagi mereka, Al adalah sosok anak yang berbakti dan belum siap dewasa. Sama manjanja jika bersama mama seperti Quen. Tapi, Quen lebih manja pada dirinya dan papanya.
__ADS_1
"Ada di kamar Nenek mungkin bersama Nayla," jawan Vano sambil melipat lengan kemejanya hingga sebatas siku.
Kebetulan ada Lyli. Ia pun meminta agar gadis itu membawa kopernya ke dalam kamaenya, sementara dia langsung begitu saja masuk ke dalam kamar neneknya.
Dengan perlahan Al membuka pintu kamar kawatir neneknya tengah beristirahat. Ternyata tidak, mereka sedang duduk bertiga dan entah apa yang tengah merek Obrolkan.
"Nenek, bagaimana keadaan, mu?" tanya Al berhambur memluk Vivian dan mencium kedua pipinya. Lalu, melakukan hal yang sama pupa kepada mama Clara.
Dan, sedikit malas saat matanya memandang Nayla. Kerena di depan mama dan neneknya saja, ia memaksakan diri untuk memeluk dan mencium kening Nayla.
"Kau baik-baik saja?" tanya Al sekedar berbasa basi. Tapi, saat kedua mata itu bertemu, rasa iba pada gadis itu kembali muncul. Bahkan nasehat mamanya kemarin juga mulai terngiang di telinganya.
Ya, Al sadar dia menikahi wanita ini berawal dari rasa belas kasihan, lalu ingin melindungi membuatnya bahagia dan tumbuhlah rasa cinta itu. Tapi, selang beberapa bulan pernikahannya tau-tau Nayla marah-marah tak jelas. Dan lucunya lagi, dia membenci jia ia dekat-dekat dengan Quen adiknya sendiri. Kan, aneh.
"Iya, aku baik-baik saja, Mas. Aku merindukanmu." Tanpa rasa sungkan Nayla memanfaatkan situasi untuk bersandar di dada bidan Al. Sebab ia merasa kalau Al hanya bersandiwara saja saat memeluk dan menanyakan kabarnya barusan. Sebelum momen ini terlewatkan begitu saja.
"Al, kau istirahatlah. Biar mama yang temani nenek, ok?" ucap Clara yang turut senang melihat putranya sudah kembali berdai dengan istrinya.
Begitu pintu kamar tertutup serta yakin kalau mereka sudah jauh dari kamar Vivian, Vivian mulai berbicara pada Clara prihal kedua cucunya.
"Ra, apa perlu mama bilang pada Quen untuk sedikit menjaga jaraknya pada Al?" usul Vivian.
Vivian tersenyum melihat ekspresi Clara. Lalu, mengelus rambutnya. "Lihat. Walau kau sudah tua dan hampir memiliki cucu sikapmu masih saja sama seperti dulu, mudah tersulut emosi, juga keras kepala."
"Yah, habis mama gitu sih...." Clara mengusap keringat yang membasahi keningnya.
Saat itu Lyli hendak mengantarkan bubur untuk Vivian ke kamarnya sekalian juga jus jeruk untuk Al. Tapi, Al sudah meninggalkan kamar neneknya bersama Nayla dalam posisi masih memeluk pinggang Nayla.
Lyli yang dikuasai emosi dia tidak bisa berkata apa-apa. "Bagaimana bisa sebaik itu hubungannya? Bukankah Vico bilang mas Al hanya menghubungi Ibu dan Bapak saja? Lalu, kenapa tiba-tiba dengan Nayla seolah tak ada masalah?"celetuk Lyli dalam hati.
Tiba di kamae Nayla kembali memelik erat Al. Seolah wanita itu tak mau melepasnya lagi.
"Kau benar-benar kangen sama aku, ya?" ledek Al sambil setengah tertawa.
"Bahkan sudah satu bulan lebih kau mencuekkanku, Mas. Aku sedih sekali, beruntung tinggal di sini bersama mertua yang sangat baik hati atau aku tak akan tahan lagi."
__ADS_1
"Kau sudah memikirkan kesalahanmu apa? Ucap Al kembali dengan raut wajah seriusnya.
"Mas, kau istirahatlah, mungkin kau lelah. Kau mau minum apa biar ku ambilkan?" tanya Nayla mengalihkam pembicaraan.
"Cukup air putih saja yang dari kulkas," ucap Al sambil menarik dasinya menjadi longgar dan melepas dua kancing kemeja teratasnya lalu merebahkan diri ke atas kasur.
Nayla berfikir menanyakan akan hal beberpa bulan di awal pernikahannya saat ia mengigau kepada Al langsung agar tak timbul masalah dan dia bisa berdamai dengan Quen di dalam hatinya tapi, rasa kawatir akan kemarahan Al membeludak membuatnya lagi dan lagi menahan hingga bertahun-tahun lamanya. Ia mulao merasa kalau yang di sampaikan Lyli semua adalah bohong. Tapi, apa tujuan gadis itu berbohong padanya? Bukankah dia sudah dekat dengan keluarg ini? Tapi, jika iya, kenapa tetap dengan sebutan Nona kepada Quen sedang pada Al kenapa harus menyamai dirinya? Ada apa ini?
Tanpa sadar Nayla sudah berdiri di depan kulkas dapur. Walau tanpa melihat ia merasakan tatapan tajam dari Lyli terhadapnya.
"Haaah, dari awal dia memang tidak suka padakku, kenapa aku harus percaya padanya? Bodoh sekali aku. Aku akan tetap menunggu mencari kebenarannya sendiri, biar waktu yang menjawab. Ada hubungan apa antara mas Al dan Quen selain kakal beradik." batin Nayla.
"Ini Mas, minumnya." Nayla menyodorkam sebotol minuman dingin kepada Al dan duduk di samping Al sangat dekat sampai tak ada jarak.
"Lihat, kau terlihat kurus, apakah mamaku tidak memberimu makan dengan baik?" ucap Al tanpa sadar dialah yang tidak memberi perhatian selama hampir dua bulan dengan baik kepada istrinya.
"Tanyakan saja pada mama, berani tidak?" tantan Nayla menahan tawa walau hatinya merasa gemas dengan ucapan Al. Tapi, setidaknya dengan dia kembali membutanya mau bercanda sudah cukup.
"Biar aku tanya pada mama nanti, aku akan marah padanya jika membiarkan istriku kelaparan."
Nayla pun akhirnya tak mampu menahan tawanya. Dia tertawa terbahak sampai menutup mulut dengan kedua tangannya. "Dasar, kau yang membuatku kurus!" Runtuknya.
"Boleh aku tanya apa yang membuatmu benci dan cemburu pada Quen?" kembali dengan sorot mata tajam itu Al memandang Nayla.
"Mas, kau percaya atau tidak, orang yang mengigau saat tidur itu perkataannya jujur? Sesuai dengan yang ada pada hati dan pikirannya?"
"Ya jelas. Mereka tidak akan berbohong donk. Kenapa?"
"Kau pernah mengigau, Mas."
Al mengerutkan kedua alisnya hingga saling bertautan. "Tentang apa?" tanya Al serius.
Demi tuhan Nayla sebenarnya sudah bertekat menyimpan masalah ini dalam hati dak tidak akan mengeluarkannya termasuk kepada Al semdiri. Tapi, dengan caranya itu dia malah sakit sendiri. Dan bahkan ucapan Quen saat pertama dia kemari selalu saja terngiang dintelinganya.
'Kak, Nay, kau adalah wanita pertama yang dicintai kakakkuz titip kakakku ya? Walau dulu pernah dekat dan hampir tunangan dengan wanita lain kal Al tidak cinta. Cuma paksaan saja.'
__ADS_1
'Oh, ya? Benarkah? Kukira kakakku play boy loh.'
'Bukan. Dia baik. Kau kenal dengan dia, dia juga dekat denganmu sekarang.'