Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION#2 16


__ADS_3

Terik mentari menusuk netra saat sinarnya menembus kaposan gorden tipis di kamar yang di tempati Al, di rimah Vico.


Dengan malas ia beranjak untuk memncuci muka dan keluar kamar, ternyata tidak ada seorang pun. Nampaknya Vico juga masih tidur.


Menyadari kalau dia semalam tidak sempat pamit kepada siapapun yang ada di rumah, Al merogoh saku mengambil ponselnya bermasuk mengabari orang rumah. Tapi, belum juga dia membuka kontak, Quen sudah menelfonnya.


"Hallo, Quen."


"...."


"Maaf, kakak ada di rumah teman, semalam terlalu larut pergi jadi, tidak sempat pamit."


"...."


"Baiklah, habis ini kakak akan pulang."


Al mematikan sambungannya, dari belakangnya Vico sudah berpenampilan rapi dan hendak menghampiri Al.


"Mau sarapan apa bro pagi ini?" tanya Vico.


"Kerumahku aja, Yuk!"


Tanpa menunggu lama, Vico langsung menyetujui hal itu, selain sudah lama tidak lagi bermain ke rumah Al sejak lulus SMA, dia juga penasaran dengan Clara. Seperti apa sekarang, kenapa Al masih saja belum mendapatkan pacar. Apakah Al masih menyukai mama angkatnya itu?


Di dalam perjalanan, Vico menyetir sambil menceritakan masalahnya, kalau ART dirumahnya menyukai dirinya, selain dari Quen, Al juga sudah merasakan gelagat tak wajar yang Lyli lakukan saat dekat dengannya. Gadis sembilan belas tahun iti selalu saja menemukan cara untuk mencuro perhatiannya.


Menurut Vico tidak buruk, lebih baik Al jatuh cinta dan menikah dengan seorang ART rumahnya dari pada dengan mama angkatnya, sekalipun dia janda saja sudah tidak baik apalagi bersuami.


Dan dari yang Vico lihat, Vano sangat memanjakan istrinya. So, tidak ada celah buat Al untuk menjadi orang ketiga diantara mereka. Cukup jadi anak yang baik dan berbakti saja kepada orang tua, itulah saran Vico.


Tanpa sadar, mobil sudah toba di rumah besar dengan pagar besi bercat putih dan emas, mereka masuk ke dalam halaman yang megah dan memarkirkan mobil itu di sana.


Begitu mereka memencet bell langsung keduanya disambut oleh seroang gadis berkulit kuning langsat, rambutnya sebahu dan di kuncir asal.


"Oh, Tuan sudah pulang," sapanya sambil menunduk.

__ADS_1


Al hanya tersenyum pada gadia itu tanpa menjawab, sementara Vico, dia mengekor berjalan di belakang Al.


"Itu yang nanamnya Lyli, bro?" bisik Vico sambil merangkul Al.


"Iya, gimana?"


"Art aja dia dah kek gitu, apalagi dia jadi nyonya. Tambah cantik, mending dia aja, lupakan Clara!"


"Braninya kau menyebut namanya langsung? Dia itu mamaku, kau harus menghormatinya, panggil dia tante!" Seru Al sambil melotot.


"Hohoho, sory bro. Jangan menatapku seperti itu, aku takut," ucap Vico sambil mengangkat kedua tapak tangannya di depan dadanya.


Saat kedua pria itu tiba di meja makan, mereka hanya mendapati kedua orang tua, nenek dan dua kakeknya Al. Sementara Quen tidak berada di sana.


"Kau sudah datang, Al? Siapa yang bersamamu itu?" tanya Clara memperharikan teman putranya.


"Ini Vico, Ma. Masa mama lupa?"


"Vico... Vico, bentar! Oh, teman SMA kamu, ya?" Clara tersenyum saat kemlali mengingat sosok itu. "Vico, apa kabar kamu? Ayuk sini ikut sarapan bareg!"


"Terimakasih Tante, kabar saya baik Tente." Vico menarik kursi duduk di sebelah Al.


"Dia masih ada di atas."


Baru saja diomongin turun seorang hadis berkulit putih, dengan mini dres berwarna maroon kira-kira panjanganya sekitar 15cm dari atas lututnya.


Kehadirannya membuat Vico terpana, ia bagaikan melihat sosok bidadari turun dari kayangan.


Gadis itu menarik kursi dan duduk tepat di samping Vico, karena memang hanya kursi itu yang tersisa. Bahkan sebelum duduk ia sempat menoleh pada pria di sebelah kakaknya sambil memberikan senyumannya.


Vico semakin kelabakan, mangap sampai hampir tak bisa mingkem.


Menyadari sahabatnya menatap Quen dari ujung rambut sampai kaki, Al menepuk punggung Vico dan mengenalkannya kembali, "Dia Quen, adikku!"


Melihat pakaian Quen Al benar-benar gemas dibuatnya, ingin rasanya dia mecubit pahanya agar kapok tidak menakai pakaian terlalu mini lagi. Tapi, memang Quen aja yang susah menaaehatin, tidak nenek dan mamanya semua hanya diam dari pada ribut dengan satu anak gadis di rumah mereka.

__ADS_1


Bahkan saat makan pun Al memperhatikan Vica yang sempat-sempatnuya melirik ke arah Quen, tepatnya ke arah pahanya yang saat duduk dreeanya ketari otomatis hibgga setengah dari pahanya terbuka.


Merasa jengkel dengan itu, Al mengambil bubuk cabai dan menuanhkan cukup banyak di dalam lapisan roti Vico lalu dia memalingkan wajah sambil tersenyum.


Begitu tawanya sudah di netralisirka, dia mengajak bicara papanya seolah-olah dia tidak melakukan apa-apa terhadap Vico.


Sepertinya cuma Vano yang menyadari perbuatan Al, dia juga nampak menahan tawanya.


"Besok kan hari Sabtu, Pa. Tidak ada rencana jalan-jalan?" tanya Al membuka percakapan.


"Kalian mau ke mana memangnya?" tanya Vano.


"Terserah Papa aja, sekali-kali lah sekeluarga refresing ke mana gitu mumpung Quen juga liburan sekolah."


Tiba-tiba semua perhatian tertuju pada Vico yang mendadak terbatuk-batuk. Wajahnya memereh dengan segera ia meraih air putih di sebelahnya dan meminumnya dengan buru-buru.


Bivo membuka lapisan roti sanwichnya dan menatap tajam ke arah Al, sementara Al berlagak cool dengan menggenggam tangan di letakan di depan mulutnya sambil tertawa tertahan.


"Aku tidak melakukan apa-apa sekarang."


"Ya, tapi sebelumnya kau yang menaruh bubuk cabe pada rotiku."


"Kau tahu?" tanya Al masih dengan menahan tawa.


"Siapa lagi jika bukan kamu, kan kamu yang duduk di dekatku."


"Quen juga duduk di dekatmu, kenapa kau tidak menuduhnya." Dan akhirnya tawa Al pun meledak.


Sementara Vico tidak bisa menjawab, karena ketahuan dia tengah meperhatikan bagiam tubuh Quen yang terekpose.


"Al, kau ini jahil sekali, tidak boleh begitu," ucap Vivian yang sejak awal sudah kawatir dengan Vico.


Al terus terkekeh sambil memegangi perutnya sampai Lyli datang membawakan roti sanwich yang baru untuk Vico.


Dan acara sarapan pun berlanjut sampai akhirnya Al kembali meminta pendapat Vico mengenai Lyli.

__ADS_1


🌸🌸🌸


Ok. bocoran dikit buat kalian tentang Al. Al tidak akan dengan Lyli. meskipun nanti Quen tau kebenaran kalau Al adalah kakak angkat, dia tetap menghormati Al layaknya kakak kandung begitupun dengan Al. rasa sayangnya terhadap Quen tidak lebih dari seorang abang pada adik perempuannya saja.


__ADS_2