
Karena tidur lebih awal, Pukul empat pun ia sudah bangun. Ia
keluar kamar melihat bibi nampak mondar-mandir di sekitar dapur, membuka lemari
es dan lemari-lemari penyimpanan bumbu-bumbu dan juga saus.
Queen yang hendak keluar untuk lari-lari memutari halaman
rumah pun bertanya, “Bibi mau ke pasar?”
“iya, nih Non. Nyatetin apa saja yang perlu di beli. Kalau
tidak begitu, seringnya lupa,” jawab wanita paruh baya tersebut.
Queen mengamati list daftar belanjaan nampak banyak. Pasti
juga membutuhkan waktu yang lama. Bik Yul memang lebih suka belanja di pagi
buta, karena, sayur dan buah-buahan yang didapatnya juga nanti akan lebih
segar, dan termasuk orang pertama yang memilih, jadi akan dapat bahanyang kwalitasnya lebih bagus, tak
kalah dengan yang ada di hyper****.
“Bi, belanjanya kan banyak, tuh. Nanti gak apa-apa kalau
memang bibi belum datang nanti biar saya saja yang menyiapkan sarapan,” ucap Queen.
“Aduh, kan jadi merepotkan, Non. Ini akan cepat kok, jam
setengah enam juga pasti sudah tiba di rumah. Saya ajak nak Dedi, kemarin saya sudah bilang dan dia setuju.”
Dedi adalah salah satu anak buah Al yang diminta untuk jaga
rumah. Dia seusia anak bibi di kampung. Jadi, kalau lihat dia, Bik Yul seperti lihat
anaknya yang pertama.
“Ya sudah, baguslah kalau gitu,” jawab Queen sambil tersenyum
pada bik Yul.
Sebelum berlari, ia melakukan pemanasan dulu. Sengaja Queen
hanya memakai daster katun yang ia kenakan untuk tidur tadi malam. Selain bahannya
tebal, gak nerawang, dia juga tidak keluar area pagar, dan tak akan ada yang
melihatnya. Jika pun ada salah satu anak buah Al melihat juga tak jadi masalah.
Karena daster yang dikenakannya juga termasuk sopan, memiliki lengan pendek dan
Panjang sebatas lutut.
Queen berlari mengelilingi dua putaran halaman rumah megah
dan luas itu saja sudah membuatnya lelah dan berkeringat. Sekitar pukul
setengah enam pagi, ia menyudahi olahraganya. Ia mengelap keringat
kemudianmenuju dapur menyiapkan sarapan untuk keluarga. Sebab, ia hari
ini berangkat pagi, sebelum jam setengah tujuh, sedangkan Al, Bilqis dan yang
lain jam enam lewat lima belas menit juga harus siap sarapan.
Tapi, baru saja dia menyiapkan bahan-bahan untuk membuat
sandwich, Al kembali menghampirinya di dapur. Tanpa banyak bicara, dia langsumg
membekap Queen dari belakang.
“Hey, apa yang kau lakukan?” ucap Queen dengan nada tertahan.
“Sudah kubilang, jangan mengunci pintu. Kenapa semalam kau
masih mengunnci pintunya, hah?”
“Aku gak mau layanin kamu terus, apalagi di rumah ini. Tidak!”
“Memang pernah, kita melakukannya di sini? Ayo, ikut aku! Bair ini jadi yang pertama kali kita lakukan di sini."
“Gak, mau.”
Al menyeringai, kembali membalikkan tubuh Queen
kehadapannya, dengan penuh nafsu dia menyingkap baju tidurnya dan melakukan apa
yang telah tertunda semalam, dalam posisi berdiri.
Mata Queen memandang wajah Al dengan tatapan sayu, ia
menahan desahan sebisa mungkin agar tidak timbul masalah baru.
“Apakah kau sudah gila? Bagaimana jika ada yang lihat kita?”
ucap Queen di sela-sela desahannya, dengan suara terbata-bata.
“Kenapa memang? Kau istriku. Jika perlu, aku tunjukkan pada
semuanya saat ini juga. Mau sampai kapan, kita menyembunyikan ini dari Nayla
dan juga papa? Kelak, tak lama lagi kau juga akan mengandung anakku.” Mata Al
terus menatap tajam pada mata Queen sambil terus melakukan gerakan keras dan
kasar.
“Aaaau!” pekik Queen tertahan, sambil mencengkeram punggung
Al, sebelah tangannya lagi bergelandut pada leher Al. Lututnya terasa kelu,
tidak hanya kaki, badannya terasa lemas.
“Mengerang saja yang keras, Sayang. Tidak akan jadi
masalah,” Ucap Al sambil menggigit daun telinga Queen. Al melihat seklebat
bayangan wanita di ambang pintu. Jelas sekali terlihat dari kaca microwife yang
bersih mengkilat itu. Ia nampak terpaku melihat ke arahnya yang tengah
menggauli Queen dalam keadaan berdiri.
Merasa di perhatikan bibi yang baru saja pulang dari pasar,
Al kian mengeraskan gerakkannya, hingga Queen mencengkeram lebih kuat
punggunggnya dan juga leher, sementara untuk menahan erangan dan desahan,
wanita itu menggigit dadanya kuat-kuat.
“Oh, apakah kau gila? Hentikan! Hentikan sekarang juga,” racau
Queen memohon. Tulang wanita itu terasa lolos dari tubuhnya. Rupanya dia sudah
mendapatkan orgasmenya. Tapi, Al masih terus semangat melakukan dengan gerakan
kian cepat, keras dan kasar.
Bik Yul yang tanpa sengaja melihat mereka pun ikut bergetar.
Antara takut, atau apa, jantungnya berdetak lebih cepat. Bahkan desahan dan
racauan Queen dan yang Al ucapkan juga sangat jelas terdengar. Diam-diam,
wanita paruh baya itu menyesal pulang lebih awal, jika saja dia pulang
terlambat dan membiarkan Queen yang menyiapkan sarapan, pasti dia juga tidak
akan melihat adegan ini.
“Ya, aku memang gila sejak kemarin siang, bahkan malamnya
sudah kuperingatklan untuk tidak mengunci pintu kamarmu, kenapa kau
__ADS_1
menguncinya?”
Bibi menutup mulut dengan kedua tangannya saat mendengar
jawaban Al. Dari situ, ia memiliki kesimpulan, kalau Al yang selalu memaksa
Queen. Tapi, kenapa nona Queen hanya diam dan tak mengadukan pada tuang Vano, atau tuan Andreas? Nona Queen yang malang.
Bibi pun berlari keluar, ia tidak mau kalau sampai tuan Al
ataupun nona Queen melihatnya di sana, ia berharap, salah satu dari mereka
tidak melihat kalau ia mnegetahui aktifitasnya di dapur.
‘Bukannya tuan Al sudah punya istri? Kenapa tidak melakukan
pada istrinya saja? Kenapa harus melakukan pada adiknya? Ini salah. Tuan Andrean harus
tahu. Dosa besar jika aku tetap diam membiarkan kedzoliman, karena mereka
adalah saudara kandung,’ pikir bik Yul dalam hati.
Setelah mendapatkan puncak kepuasannya, Al membiarkan Queen
jatuh bersimpuh dan kedua tangannya bertumpu pada lantai seperti orang
merangkak. Al merapihkan lagi pakaiannya dan berkata dengan nada penuh ancaman,
“Nanti pulang kerja kujemput kau, kita teruskan ronde kedua kita nanti.”
Queen hanya diam tak menjawab, ia berusaha mengumpulkan
tenaganya kembali. Dalam hati ia mengutuk perbuatan Al. Tapi, entah kenapa,
walau dia tak menginginkan, kenapa tubuhnya merespon? Sungguh, sangat
bertentangan dengan hati.
Sebisa mungkin Queen berusaha berdiri, meraih tisu dapur
yang tergantung pada salah satu melari kitchen set yang tak jauh dari
jaungkauannya. Dengan segera ia membersihkan cairan miliknya dan juga milik Al
yang berceceran di lantai sebelum bibi kembali.
Belum juga ia selesai, dan masih kurang sedikit, Bibi
rupanya sudah kembali dengan membawa banyak belanjaan.
“Ngapai, Non?” tanya bibi dengan raut wajah khawatir begitu
melihat wajah Queen yang tadi tidak kenapa-napa nampak berkeringat dan sedikit
pucat.
“Tidak apa-apa, Bi. Bibi sudah datang? Saya belum memasak
apapun.”
“Non Queen sakit? Kok pucet gitu?”
“Tidak, Bi. Mungkin aku kecapekan saat olah raga tadi.”
Queen melemparkan tisu dapur di tangannya pada ranjang sampah dan pergi ke
westafel di antara meja makan dan dapur untuk mencuci wajahnya. Ia tampak
menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan beberapa kali,
kemudian pergi meninggalkan dapur. Mungkin saja dia juga akan ke kamarnya.
Bik Yul memandang iba ke arah Queen, diam-diam ia merasa
kasian dengan Nayla yang diselingkuhi dengan ipar dari suaminya sendiri, dan
juga Queen. Pertunangannya dihancurkan oleh kakaknya sendiri dan dijadikan
pemuas napsu kakaknya.
pada kakek dan papamu karena nanti yang ada malah timbul masalah besar dalam
keluarga ini. Tapi, bagaimana lagi? Hal seperti ini tak bisa didiamkan
terus-terusan. Aku harus melapor pada tuan Andreas. Ya, tuan andreas saja, aku
lebih dekat dengannya.’
Queen yang berencena berangkat lebih awal gagal gara-gara
ulah gila Al. Akhirmnya mereka semua pun berkumpul jadi satu di meja makan.
Andrean mengamati wajah Al yang terlihat cerah dan penuh semangat. Ada apa ini?
“Al, kelihatannya ceria banget, ada apa?”
Vano yang mendengar pertanyaan papanya pun juga nampak
memperhatikan wajah Al. Memang, tidak seperti biasa. Namun, dua orang tua itu
pun juga sudah bisa menebaknya. Sebab, saat melihat ke arah Queen mukanya
tampak cemberut.
“Emang kelihatan lagi bahagia, ya Kek?” timpal Al, malah balik bertanya.
“Ya tidak seperti biasa saja, sih.”
“Oh, mungkin ini pekan terakhir aku menghendle tiga perusaan
segaligus sendirian. Bukannya minggu depan papa sudah akan kembali?” jawab Al
sambil tertawa dan melirik Queen penuh arti.
“Oh, begitu, ya? Berarti, dengan begitu, kau punya lebih
banyak lagi waktu untuk kau habiskan dengan istrimu, Al.”
Mendengar jawaban kakek Andrean, Nayla nampak tersenyum.
Mungkin dia berfikir, kalau dialah satu-satunya istri Al. Padahal yang
dimaksutkan kakek mertuanya bukanlah dia.
“Queen, makan cepet banget, sih? Awas! Nanti tersedak,” goda Al.
“Tersedak kan, aku. Bukan kamu.”
“Kau apa tidak pernah lihat, banyak orang tersedak sampai
mati, loh.”
“Mati ya di kubur.” Queen pun beranjak mencangklong tasnya
dan berpamitan pada kakek dan juga papanya untuk berangkat lebih awal.
***123
Pagi ini, Hanaifah menyiapkan sarapan untuk Diaz. Walau
sudah hampir setengah tahun lamanya gadis itu dicuekin, dia tetap tidak mau
menyerah. Berusaha sebisa mungkin mendapatkan hati pria yang sudah lama dia cintai itu.
Tidak hanya usaha pendekatan. Perlahan-lahan, Hanifah juga
mulai mengikuti pola hidup Diaz yang memang religious. Banyak hal yang ia
tanyakan pada Fatimah calon adik ipar, bagaimana wanita itu bisa dipandang
baik.
Satu dari segi pakaian. Akhlak atau kepribadian Jika sudah
menguasai hal itu dengan baik, maka dia adalah wanita yang baik.
__ADS_1
Usai menyiapkan semua bekal, termasuk susu hangat, Hanifah
masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Ia mengambil rok plisket berwarna
coklat tua, dipadukan dengan kemeja putih lengan panjang dengan motif daun
kering yang berwarna coklat muda keemasan. Dia berputar-putar di depan cermin,
sambil tersenyum sangat manis.
“Perlahan saja, ya Di? Aku akan berusaha menjadi baik agar
aku pantas bersanding denganmu. Untuk berhijab, aku masih belum siap, biar
kuubah pakaianku jadi begini saja dulu,” gumam Hanifah, seorang diri.
Dengan hati ceria dan semangat 45 Hanifah mementeng tas
berisi sarapaj untuk dia dan Diaz di kotrakan pria itu. Ia yakin, dengan
begini, lambat laun Diaz juga akan luluh. Kerasnya batu, yang hanya kena
tetesan air di tengah hutan saja bisa berlubang, apalagi hati Diaz yang lembut?
Seperti biasa, Hanifah selalu berdebar-debar jika hendak
mendatangi Diaz ke kontrakannya. Padahal juga belum sampai masuk rumah.
Jangankan masuk rumaha, mobilnya saja baru menginjak halaman.
Gadis itu menarik napas dalam-dalam dan menghembukannya
perlahan lewat mulut sebanyak tiga kali. Tak lupa, dia membaca bismillah
sebelum menemui Diaz. Ia teringat akan kata-kata Fatimah, apapun urusan kitam
jika kita selalu melibatkan Allah di dalamnya, maka semua akan berjalan dengan
baik.
Hanifah mengambangkan tangannya di depan pintu, sudah
beberapa detik, inging mengetuknyatapi ragu, dia merasa tidak pede dengan
pakaiannya. Bukan karena malu atau dikira kampungan. Ynag ia khawatirkan, Diaz
malah shock dan parahnya kejang-kejang lihat dia berubah begini. ‘Ah, Hanifah,
itu Cuma bujukan setan yang terkutuk saja. Ayo, lakukan apa yang ingin kamu
lakukan.’
Dengan pasti, walau sedikit gemetar Hanifah akhirnya
mengetuk pintu dan mengucapkan salam dengan pelan. (sudah audisi, dan Fatimah
lah jurinya :D.)
“Tok… Tok… Tok!
Assalamualaikum.” Hanifah menahan tawanya sendiri, sangat tidak seperti
dirinya. Biasanya dia suka banget teriak-teriak begitu, ini kok jadi kalem,
hihihi.
“Waalikumssalam.” Seorang pria dari dalam menjawab salamnya.
Kemudian pintu di buka, berdiri seorang pria tampan yang sempat tercengang
melihat penampilan Hanifah yang tidak biasa.
Pakai rok Panjang sampai mata kaki, kemeja juga lengan
Panjang dan rambut lurusnya dibiarkan terurai kebelakang berdiri dengan kotak
makanan dan memberikan senyum kedamaian pada pria itu.
“Di, aku bawakan sarapan, nih. Biar kutebak, kau pasti belum
sarapan, dan pagi ini membuat roti bakar dengaan isi telur mata sapi, tomat dan
saus sambal,” ucap Hanifah sambil tertawa kalem.
“Hanifah? Ayo,
masuk!” ucap Diaz setelah sadar dari bengongnya.
Dengan langkah gemulai pula, Hnaifah berjalan dan masuk.
“Aku bawakan kamu ayam goreng, sambal terasi dan sayur sop.
Semoga kamu suka, ya? Kamu bukannya jadwal praktik jam setengah dua belas, aku
bawakan pula brownies buatanku untuk mengganjal perut.”
“Makasih, Hanifa. Tapi, maaf, jika sampai detik ini aku
masih belum bisa sepenuhnya mencintaimu.”
“Berarti, walau sedikit, kamu juga uda mulai cinta aku,
kan?” jawabnya dengan ceria.
“Setidakknya, aku sudah bisa menerima kalau kau adalah
tunanganku.”
Hanifah tersenyum mendengar jawaban dari Diaz. Ia
beranjak mengambil piring dan sendok
untuk mereka sarapan, setelahnya, Hanifah pamit untuk pulang, karena dia ada
jadwal kuliah.
Diaz mengantarkan gadis itu sampai pintu. Sebenarnya ia
ingin mengantarkannya ke kampus. Tapi, Hanifah kemari mengendarai mobil. Jadi,
hanya itu saja yang bisa ia lakukan. Tapi, saat gadis itu hendak melangkaha kan
kaki turun dari teras rumahnya, Diaz memanggilnya.
“Hanifah!”
Dengan penuh pesona, Hanifah menoleh ke belakang dengan
wajah imut dan anggunnya. “Iya, Di.”
“Aku suka cara berpakaianmu hari ini, pertahankan! Tapi,
akan lebih cantic lagi, jika kau mau mengenakan hijab.”
Mendengar perkataan Diaz, hati Hanifah seketika bergemuruh.
Jantungnya berdetak cepat seperti habis lari marathon. Tpi, Dia tetap berusa
tenang. Masih dengan gerakan anggun dan lembut ia mengangguk dan menjawab. “Iya,
Diaz. Aku akan terus berusaha meperbaiki diri.”
“Ya sudah, hati-hati Hanifah. Assalamualaikum.”
“Waalaikumssalam.” Gadis itu masuk ke mobil dan mulai menlajukan
kendaraannya meninggalkan kediaman Diaz. Begitu sudah jauh dari tempat Diaz, bawaan
Hanifah yang memang sedikit lasak juga kumat lagi, dia teriak-teriak kegirangan.
Di sebuah tempat yang agak sepi, gadis itu meminggirkan
mobilnya ke tepi dan orang pertama yang dia hubungi adalah kakek Andreas, dan yang kedua Al.
Al yang moodnya juga kebetulan sedang baik, ia merespon curhatan Hanifah dengan santai. sebab, pagi ini dia sudah mendapatkan apa yang ingin dia dapatkan sejak kemarin. tinggal nunggu lagi nanti siang.
__ADS_1