Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 47


__ADS_3

“Sudah tiga hari aku di sini, masa gak boleh pulang,” ucap


Queen dengan nada bosan dan memelaa pada Al, suaminya.


“Sabar, ya Sayang. Kan aku temanin kamu terus,” jawab Al


dengan penuh kesabaran sambil mengelus ujung kepala Queen.


“Aku bosan di sini terus,” keluh wanita itu sambil memancal


selimutnya.


“Kamu mau jalan-jalan ke taman? Aku mintakan kursi roda dulu, ya?”


Queen hanya mengangguk perlahan saja sambil tersenyum tipis.


Al pun keluar meninggalkan ruang inap istrinya. Tak lama


kemudian ia datang sambil mendorong kursi roda. Dengan perlahan dan penuh


hati-hati ia menggendong istrinya dari atas hospitalbad, lalu mendudukannya di atas kursi roda yang baru di bawanya tersebut. Kemudian mendorongnya keluar sambil membawa infus.


Sampai di taman, aura Queen juga berubah. Rupanya rasa


bosannya juga sedikit hilang. Ia sudah terhibur dengan suasana taman meskipun


masih di dalam area rumah sakit.


“Kamu pengen makan sesuatu tidak?” tawar Al pada Queen yang


menikmati pemandangan taman yang ditata rapi dan indah di sana.


“Apa, ya? aku pengen makan salad buah, carikan di go food, ya?” ucapnya kemudian setelah cukup lama berfikir.


Dengan cepat Al langsung mengambil ponselnya yang berada di


dalam saku celananya memesan satu porsi salad buah dan beberapa makanan lain yang


menjadi favorit Queen. Entah di makan atau tidak, yang penting ia sudah


berusaha memberika yang terbaik agar bisa segera pulih dan bisa pulang.


Sambil menunggu orderan yang mungkin akan datang sedikit


lama, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Ia pikir mas-mas kurir yang menelfon dirinya,


cepet banget. Padahal belum ada sepuluh menit. Ternyata bukan. Melainkan Shinta dan Vico. Mereka datang untuk


menjengkuk Queen. Karena kebetulan saat kejadian itu mereka berdua berada di


luar negeri. Dan baru pulang, jadi langsung menyempatkan diri. jika tidak begitu, takut nanti malah ada acara dan tak bisa menjengkuk sahabatnya.


“Halo, Vic. Ada apa?” tanya Al.


“kamu di mana? Kamar rawat itrimu kosong,” jawab seorang


pria dari seberang sana.


“Oh, kau sudah tiba? Kenapa tidak ngabarin dulu? Aku masih


berada di taman sama Queen buat hilangin bosan. Ya


sudah, tunggu.” Panggilan pun dimatikan. Kembali Al mendorong kursi roda Queen menuju


kamarnya.


“Siapa, Al?”


“Vico sama Shinta. Dia ke sini dan langsung menuju bangsal ternyata gak ada orang sama sekali,” jawab Al.


“Shinta juga tidak ada ngabarin aku kalau mau ke sini, Al.


aku kira mereka berdua belum kembali dari luar negeri,” timpal Queen.


“Aku juga berfikir begitu.”


Hari ini , tanpa diduga, mereka kedatangan banyak tamu. Tak hanya Shinta dan Vico. Juna dan Gea, Haifah, Diaz dan juga teman-teman dokter serta perawat dari rumah sakit tempat Queen bekerja. Dengan kedatangan mereka secara bergilir


membuat wanita itu merasa senang dan hilang rasa bosannya. Tak hanya mereka.


Beberapa staff kantor di perusahaan yang Al dan Vano pegang pun juga banyak yang


datang menjenguknya. Tapi, kemarin. Mungkin karena Queen tidak begitu mengenal mereka, jadi tidak berpengaruh. Ia terus saja rewel meminta pulang seperti anak kecil yang meminta permen dan coklat. Padahal giginya sudah habis karena gigis.


Karena kondisi Queen berangsur-angsur membaik, di hari


keempat dia di rawat pun akhirnya dokter sudah mengizinkan pulang.


Mendengar kalau putrinya sudah diizinkan untuk pulang,


Calara dan juga Vano pun datang untuk membantu mengemasi barang. Tak terkecuali


Nayla dan Bilqis. Jika dia tidak merawat Berlyn saat Al bekerja dan mama Calara


menjaga Queen di rumah sakit, ia yang menjaga dan menemani Queen di sana. Tapi, kali ini dia ikut datang bersama Bilqis dan Berlyn. Hanya saja mereka bertiga menunggu di parkiran.


“Ini Queen mau pulang ke rumah mama apa di rumah sendiri?”


tanya Clara. Setelah selesai membereskan barang-barang milik putrinya.


“Di rumah sendiri aja, Ma. Tidak apa-apa,” jawab Queen saat


duduk di atas kursi roda.


“Ya sudah terserah. Tapi, mama lebih sreg kalau kamu tinggal


di rumah mama saja biar mama bisa jaga kamu saat Al dan papamu bekerja,” timpal Clara.


“Sayang. Kita kan bisa menginap dulu di sana untuk beberapa


hari. Biarkan saja dulu tanamanmu, kan ada Anja, titipkan sama dia,” ucap Vano.


“Anja mana bisa sih, Pa? Dia itu sudah repot dengan kerjaan rumah.”


“Yang penting disiram pagi dan sore, sudah, dan tanamanmu tidak mati saja beres. Masa lebih


berat sama sayur dari pada sama anaknya?” jawab Vano.


Queen dan Al hanya tertawa saja mendengar argument dari


kedua orang tuanya. Memang benar. Orangtua itu, terlebih wanita, semakin tua, semakin cerewet dan memiliki keinginan yang aneh, serta sulit untuk di pahami. Bertambah tua, bukan bertambah dewasa dan matang. Melainkan kian kembali seperti anak-anak. Walaupun tidak semuanya.


Kali ini Queen juga tidak mau mengalah untuk mau tinggal di


rumah papa dan mamanya. Empat hari di rumah sakit saja sudah pengorbanan besar


baginya. Masa harus tinggal di rumah orangtuanya setelah bisa pulang? Bukan dia


tidak betah. Tapi, sengaja tak ingin merepotkan mamanya. Karena selamain ini


dia juga lebih banyak mengasuh putrinya. Pasti lelah, dan akan sangat membebani jika dia pun ikut tinggal di sana.


Baru saja hendak keluar dari dalam lip, dan tiba di parkiran, ponsel Queen


berdering. Ternyata sebuah panggilan Video dari Clarissa, salah satu putri


kembarnya yang berada di singapura bersama orang tua kandung suaminya. Tapi,


karena ada Nayla dan juga Bilqis, ia pun tidak mengangkat panggilan tersebut.


Mereka juga sengaja tidak mengabari mami Jeslyn dan Clarissa kalau terjadi sesatu pada Queen.


Mungkin juga bocah itu merasa ada yang tidak beres. Sudah


hampir seminggu mamanya tidak pernah melakukan video call. Bahkan papanya pun saat melakukan video call juga selalu saat di kantor saja. Tak pernah terlihat berada di rumah, mungkin ia mulai curiga da menanyakannya secara langsung.


“Siapa, Queen kok tidak diangakat?” tanya Nayla.

__ADS_1


“Tidak penting. Aku juga sedang enggan mengangkat telfon


kali ini,” jawab Queen, mengelak tak mau meperpanjang hal ini. Akhirnya, ia pun


men-silent ponselnya, ia juga memberi isyarat pada suaminya, agar melakukan hal


sama. Kalau mama dan papanya jangan ditanya. Mereka memang jarang pegang hp.


Lebih fokus dengan apa yang ada di dunia nyata dan yang dekat saja. Mungkin juga karena efek factor U jadi, mereka pasti tidak terlalu menghiraukan dering


telefon. Kareran selalu memode silent jika berada di luar rumah, terlebih saat mengajak Berlyn.


****


Hari-hari pertama Lyli memang merasa nyaman dan betah-betah


saja berada di tempat itu. tapi, lama-lama ia merasa kalau tempat ini tidak jauh beda dengan penjara. Sekalipun ia bisa hidup enak dan serba kecukupan seperti layaknya seorang ratu, tetap saja, ia tidak bisa bebas  keluar kemana-mana. Memang ia sendiri sudah


tak lagi memiliki kerabat. Tapi, sejak perjumpaannya dengan Al membuatnya tak


tahan di sini, ia ingin keluar dan menemui pria yang mebuat hatinya tertawan.


Lyli yakin, jika saja ia mampu memikat hati Al, ia bisa dengan mudah menghabisi


si tua bangka itu. karena ia tahu siapa Al saat menjadi sandaranya, dia memang bukan orang sembarangan. Benar Al arogan. Tapi, itu dia lakukan demi membela orang yang dicintainya. Hal itu membuat wanita berkulit putih itu kian jatuh cinta saja pada Al.


Untuk menghilangkan rasa bosannya, Lyli menghabiskan


waktunya untuk membuat kerajinan tangan. Sebelumnya ia memiliki keahlian menyulam,


ia mendapatkan bahan dan alat dari salah satu asisten rumah tangga yang bekerja


di sana. Baru saja memulai, sepasang tangan kekar langsung memeluk punggungnya


denga erat. Serta kepala seorang pria disisipkan diantara lehernya dari belakang.


“Bagaimana hari-harimu di sini, Sayang? Apakah


menyenangkan?” tanya seorang pria tua itu pada Lyli.


Bahkan ini sudah minggu ketiga Lyli tinggal di tempat ini,


dan si tua itu baru pertama kali menemuinya. Lyli sendiri juga tidak tahu, apa


alasan pria itu. jika dia tidak sibuk, pasti juga ke tepat simpanannya yang


lain. Tapi, apa peduli dia? Dia di sini untuk balas dendam. Dari pada hanya hidup menghabiskan waktu bersama sekumpulan orang gila di RSJ.


“Aku mulai sedikit bosan. Meskipun rumah ini besar dan luas


serta memiliki fasilitas penuh di dalamnya. Tapi, aku juga terkurung, bukan? Aku tidak bisa menikmati dunia luar. Bertahun-tahun terkurung di rumah sakit


jiwa. Di sini juga akan begitu,” keluh Lyli.


“Kau mau jalan-jalan ke mana, Sayang?” ucap dokter Darto sambil terus memeluk manja pada Lyli dari


belakang.


“Aku tiba-tiba saja ingin pergi ke Ancol. Gimana, dong?”


tanya Lyli. Dia sebenarnya tidak benar-benar ingin ke sana . tapi, dia hanya sekedar ingin mengenang masa lalu saat ia kencan pertama dengan Al. tapi,


hubungannya kandas gara-gara ibunya salah sangka. Andai saja ibunya tidak


merasa kalau Al adalah anak kandungnya yang pernah dibuang. Pasti, dia yang bersama dengan Al


sampai saat ini bukan Nayla.


Tiba-tiba saja Lyli teringat saat-saat Al mengejar Queen dan


betapa bucinnya pria gungung es itu pada wanita ****** yang ia benci. Seketika, raut wajah yang semula bisa-biasa saja kini menjadi sedikit berubah karena terbawa emosi yang ada dalam dirinya. Napasnya juga terdengar berat karena amarah tertahannya.


“Kenapa tiba-tiba kamu kesal begitu, Sayang?” tanya si tua


itu sambil memandang Lyli dengan ekspresi wajah aneh, serta tertawa tertahan.


Lyli tidak menjawab. Ia hanya menghembuskan napas panjang


“Inget masa lalu?” tebak dokter Darto. Wanita itu hanya


menjawab dengan beberapa anggukan kepala saja.


Lagi-lagi pria itu hanya tersenyum saja. Lalu, ia beranjak


pergi meninggalkan Lyli. Entah kemana perginya. Di rumah seluas dan sebesar ini, ia tidak bisa menebaknya. Kamarnya saja ada sekitar limabelas. Kalau tidak


salah, rumah ini dibangung diatas tanah seluas dua hektar. Sungguh megah bak


istana. Pembantunya saja ada sekitar duapuluhan. Jika tidak lebih. Lyli memang sedikit cuek, dan tidak begitu perhatian, karena tidak ikut menggaji mereka. Lyli hanya mengenal dua orang dengan baik, yaitu orang yang bertugas khusus mengurus Lyli menyiapkan segala keperluannya mulai dari mandi, makanan sampai makanan pun ada


dua orang. Memang dia mandi, ya mandi sendiri, ganti baju pakai sendiri. Tapi, bagian merias sudah ada sendiri, salah satu dari dua orang yang mengurusnya tadi tentunya.


“Tuan di mana?” tanya Lyli pada salah satu pelayan yang


tengah membereskan meja makan.


“Tuan sedang keluar, Nyonya,” jawab wanita itu, kemudian melanjutkan


mengelap meja sebelum akhirnya makanan untuk makan siang siap untuk dihidangkan.


“Ya, Sudah,” jawab Lyli kemudian ia hendak masuk ke kamar.


Kembali rasa bosan dan jenuh meyelimuti hatinya. Bahkan ponsel saja dia tidak


pegang. Dia tidak diizinkan bermain media social. Karena, dokter darto tahu, kalau Lyli sudah tidak memiliki sanak saudara lagi. Jadi, ia tak ingin


melakuklan konspirasi dengan orang luar untuk melawannya secara perlahan dan


cara yang lebih licik tentunya. Jadi, ia hanya brantisipasi saja tidak


mengizinkan wanita peliharaannya tidak memegang smart phone.


“Ke mana lagi, si tua bangka itu. baru saja bilang mau ke


Ancol sudah ngilang tanpa kabar. Selain seorang dokter rumah sakit jiwa apa sebenarnya profesi si tua itu. mana mungkin dia bisa sekaya ini. Untuk dirinya


saja rumah sudah selebar istana. Bagaimana dengan rumah isrti sahnya yang juga


ditinggali anak-anaknya?” gumam Lyli mulai berfikir.


Sebab, Wanita yang baru ia ketahui bernama Karin yang


menjemputnya dari rumah sakit jiwa mengaku sebagai tante katanya wanita simpanan si tua itu ada lima, dan memiliki tempat tinggal sendiri-sendiri. Dia


itu adalah kaki tangan pria tua itu. Seri g mengawal satu demi satu setiap simpanan bosnya


secara bergilir. Lebih sering sih, ya di tempat Lyli. Karena ia merasa ada yang tidak beres dengannya. Mungkin apa yang ingin jadi rencana Lyli Karin bisa menciumnya. Jadi, Lyli pun juga maju mundur untuk melakukan perlawanan, atau kabur dari situ.


****


Hari ini adalah hari yang begitu ambigu bagi pasangan Alex


dan juga Zahara. Bagaimana tidak, kabar suka, dan duka datang di waktu yang bersamaan. Terutama Zahara yang kini sudah bisa bersama kembali dengan


suaminya, sekalipun Alex tidak langsung menyadari itu. Tapi, Zahara sangat


bersukur atas itu, di susul dengan kelahiran putra pertama mereka yang sudah


selama lima tahun lamanya mereka menantikan.


Tapi, di sisi lain, ia juga merasa sedih dan sangat berduka


atas kepergian umiknya. Terlebih beliau meninggal akibat ulah saudarinya sendiri.


Sungguh tragis sekali. Di depan mata kapalanya ia menyaksikan bagaimana tega


dan kejinya Zara menusuk umik mereka hingga meregang nyawa. Sungguh, luka

__ADS_1


mendalam yang tak dapat terukir oleh kata-kata.


“Sayang, makan dulu, ya? mumpung putra kita sudah tidur,”


ucap Alex sambil menyentuh Pundak Zahara dari belakang.


“Astagfirrullah.” Dengan cepat wanita itu mengusap air matanya dan mendongak ke belakng memandang suaminya.


“Kamu yang kuat, ya? yang sabar. Lebih bisa ikhlas lagi


dalam menghadapi ujian ini. Memang, ini berat bagimu. Tapi, ingatlah, kau masih memiliki Tuhan, dan aku ya g akan sekuat tenaga selalu ada untukmu," ucap Alex sambil duduk di dekat Zahara.


Zahara hanya diam. Buliran bening dari ujung netranya terus


berjatuhan seolah tak dapat lagi dibendung. Ingin rasamya wanita itu bertanya


kepada Alex, kenapa, dan bagaimana umiknya bisa ikut serta ke sana? Jika saja


beliau tidak ikut, mungkin saja hal buruk tidak terjadi padanya, dan saat ini


pasti beliau bisa menimang cucu yang sudah lama diharapkannya. Namun, apa daya,


jika ia bertanya nanti justru terkesan menyalahkan Alex, dan yang lain saja. Tapi,


jika dia tidak bertanya, ia tidak tahu kebenarannya. Sementara dari Queen


sendiri juga baru terungkap, kalau ia tahu dan sadar yang bersama Alex selama ini bulanlah dirinya. Saat Queen menguntit dan melihat dengan mata kepalanya sendiri, tidak akan yakin.


Seolah tahu apa yang ada dalam pikiran istrinya, tanpa


ditanya pun Alex langsung mengatakan bagaimana kronologinya.


“Maafin aku, ya Za. Aku tidak bisa mencegah umik. Andai saja


aku bersikeras melarang umik untuk ikut, pasti Umik saat ini masih berada di antara kita,” ucap Alex penuh sesal sambil mengelus kepala istrinya yang bersandar di bahunya.


“Bagaimana dia bisa tahu?” tanya Zahara akhirnya. Karena Alex


juga sudah mengatakan lebih dulu tanpa ia menanyakan bagaimana. Sebab, ia


berfikir Ketika Queen menghubungi suaminya, dan juga Al. Alex malah mengatakan hal tersebut pada umiknya. Dia sama sekali tidak menuduh Alex memiliki niat


tidak baik. Andai saja Alex yang mengajak, mungkin juga Alex berfikir kalau umik yang membujuk Zara, dia bisa mengerti. Tapi, nyatanya, malah umiklah yang ingin meminta ikut dan tetap bersikeras meskipun Alex sudah berusaha untuk ikut, hingga ia kehilangan nyawanya.


“Saat itu, kak Novi dan Candra berada di sini. Lalu,


bagaimana dan entah apa yang membawa umik datang juga ke sini untuk


membicarakan keanehan dirimu yang ternyata adalah Zara. Sejujurnya ia sudah


sadar dari awal kalau yang bersamaku bukanlah dirmu. Tapi, ia tak berani


mengatakan demi keselamatanmu. Beliau rela menanggung dosa zina antara aku dan


Zara demi keselamatanmu, karena keberadaanmu juga belum diketahui. Bersamaan dengan


itu, Queen mengirim sebuah pesan WA. Di mana di situ hanya sebuah foto dan


lokasi dirinya. Awalnya aku enggan membuka karena aku sempat berseteru


dengannya akibat hasutan Zara. Tapi, yang lain memintaku untuk membyukanya.”


“Dari situ, Umik memaksa untuk ikut?” tanya Zahara sambil


mengangkat kepalanya dari Pundak Alex.


Alex hanya mengangguk pelan dan penuh dengan penyesalan. Terlihat


jelas pada raut wajahnya.


“Sudah, kita ikhlaskan saja. Mungkin ini yang terbaik untuk


kita dari Allah. Bukankah setiap masalah ada jalan keluarnya? Pun dengan kesukaran.


Pati kelak akan menemui kemudahan,” ucap Zahara setelah mengambil napas panjang.


Kini, ia sudah tak lagi, berfiir dan terus bertanya-tanya mengapa dan bagaimana


umiknya bisa ikut serta. Memang benar, setiap ibu pasti memiliki feeling kuat atas apa yang akan terjadi pada anak-anaknya. Terlebih, jika itu hal buruk yang menimpa mereka.


“Iya. Ya sudah, kamu makan dulu, aku temanin. Jangan bawa


stress, ya? umik di alam sana juga tidak akan senang melihatmu bersedih begini,


yang beliau butuhkan saat ini hanyalah doa. Bukankah Queen sudah bilang kalau


stress dapat mengakibatkan gangguan pada produksi asi dan pertumbuhan? Umik tidak


akan suka ini,” bisik Alex. sebenarnya, ia sendiri juga sedih jika menyebut


nama umik. Ia khawatir  istrinya kian


sedih jika mengingatnya. Tapi, jika tak disebutkan sama sekali juga takut


disangkat tak peduli. Sungguh bagaikan makan buah si mala kama saja, bukan?


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumssalam. Lex. Ada tamu,” ucap Zahara sambil


beranjak melihat ke depan.


“Queen, kau sudah pulang?” tanya Zahara merasa surprieses Ketika


ia menilah Queen bersama Al dan juga putrinya datang ke rumahnya. Meskipun Queen


masih mengenakan kursi roda, dia tidak menyangka saja kalau dia sudah diizinkan untuk pulang secepat ini.


“Iya, sudah. Tadi siang aku sudah pulang.”


“Kan harusnya kami yang menjengukmu, kenapa malah kamu yang


ke sini, Queen? Kau istirahatlah dulu,” ucap Zahara sambil mendorong kursi roda


Queen masuk ke dalam rumahnya.


Dari ruang keluarga, nampak Alex juga keluar untuk menemui


tamunya. Pria itu berjabat tangan dengan Al dan saling berpelukan kemudian menyapa


bocah kecil yang kini sudah menginjak usia enam tahun, lalu menggendongnya. Sebab,


ia juga lumayan dekat dengan gadis itu. sebab, akhir-akhir ini Bilqis sering


mengajaknya bermain ke rumah kakaknya.


"Maaf lo, ya? Kami benar-benar sibuk dan belum sempat menjengukmu di rumah sakit. Malah yang sakit datang ke sini, gimana sih?" cuap Zahara lagi, merasa tidak enak.


“Aku kan waktu itu belum lihat putra kalian. Di mana, dia?


Tidur, ya?” tanya Queen sambil menatap Zahara.


“Iya, dia sudah berada di kamarnya. Tidur sejak setengah jam


yang lalu, kalian mau lihat? Kita ke sana saja, yuk!” ajak Zahara dengan ramah.


Queen hanya tersenyum dan menoleh ke arah Al. sekedar


memberi isyarat kalau memang berbeda sekali antara Zara dan Zahara. Benar apa


yang Al katakana dulu, kalau saat itu yang datang bukanlah Zahara. Melainkan orang


lain. Tapi, Queen bersikeras menganggap itu benar-benar Zahara. Dia berubah


karena terlalu paranoid dan stress sendiri, sehingga berubah menjadi seperti


itu. ternyata, dugaan Al yang benar.

__ADS_1


Tapi, ada baiknya juga, jika itu benar bukan Zahara. Setidaknya dia tidak perlu merasakan penyesalan setelah, banyak-banyak mengatai Zara gila dam tidak waras. Karena bukanlah Zahara yang baik yang ia buly kala itu.


Makasih, ya biak kalian yang selalu setia baca, komen positif dan like serta kasih vote di novel saya. Jadi, saya mau kasih tahu, kemungkinan di season ini akan saya selesaikan dulu hubungan antara Novita dan Candra serta Lyli, yang akhirnya mati. barulah akan lanjut ke kisah Berly, Clarissa Adriel, Bilqis dan Axel. Di tunggu saja ya, mohon bersabar. sekali lagi saya ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya. 🥰🥰🥰


__ADS_2