
"Vano mana, Ra?" tanya Vivian saat melihat putri dan cucunya datang berdua.
"Vano ke kantor, Ma. Dia buru-buru jadi tidak mampir," ucap Clara berbohong.
"Oh, sifat gila kerja papanya Quen belum hilang, ya?" ucap Vivian sambil mengambil Quenza dari gendongan Clara.
Clara hanya tersenyum getir, duduk di samping Vivian yang meninmang cucu pertamanya.
"Ayah masih di Jogja, Ma?" Pandagan Clara diedarkan ke pintu kamar Vivian dan Andrean.
"Iya, mungkin nanti pulang. Kamu sarapan dulu sana! Biar Quen sama mama," ucap Vivian berhambur ke halaman depan sambil menggendong Quen.
Clara masih saja di tempat, ponselnya berdering tanda pesan masuk.
Diambilnya benda pipih itu dari dalam saku celanya dan membuka pesan yang masuk.
"Nanti pulang kerja aku susul kamu."
Begitu isi pesan dari Vano.
Ingin rasanya Clara membalasnya tidak usah, tapi dia tidak mau membut masalahnya semakin keruh, yang ada di benak Clara saat ini hanyalah jauh-jauh dari Vano.
Entah cintanya sudah berubah benci atau dia terlalu cemburu.
Siang harinya Clara merasa bosan berada di rumah terus, lagi pula Quenza juga dari tadi bermain dengan omanya.
Akhirnya ia memutuskan pergi berkumpul dengan gengnya di cafe Reza.
Tapi, baru saja ia mau meminta izin pada Vivian, Vano sudah datang.
Tanpa sepatah kata pun Vano langsung memeluk Clara di depan kamar.
Clara hanya diam saja tidak memberikan sedikitpun perlawanan. Mungkin benar, jika dia itu terlalu cemburu.
"Pulang sama aku, ya!" Seru Vano berbisik di telinga Clara.
Clara masih belum menjawab sepatah kata pun. Tapi, Vano mendorong tubuh Clara ke dalam kamar lalu mengunci pintunya.
"Apa yang kau lakukan Van?" Clara menjauhkan badannya dari Vano.
"Menurutmu?" Vano menyeringai sambil melepakan ikatan dasi di lehernya, perlahan mendekati Clara sambil membuka beberapa kancing kemeja teratasnya.
"Van, aku mau menyusui Quen dulu, dia sama mama di belakang." Clara berusaha lewat samping Vano, tapi, dengan cepat pria itu meraih pinggang istrinya dan memeluknya lagi lebih erat.
Lagi-lagi tubuh Clara tidak bisa memberi penolakan terhadap apa yang Vano lakukan.
"Van, lepasin aku," minta Clara dengan suara datar.
Vano melepaskan pelukannya, tangannya memegang kedua lengan Clara erat-erat.
"Kita pulang saja, dulu. Biarkan Quen di sini bersama neneknya."
"Untuk apa aku harus pulang? Bukannya di rumah sudah ada.... "
"Ada ayah Andreas di sana. Menunggumu," ucap Vano memotong kalimat Clara.
Clara nampak bingung dan memasang ekspresi yang menurut Vano sangat menggemaskan.
Tanpa berkata apa-apa, Vano lansung mencium istrinya dan mengajaknya keluar.
"Ayo, kita temui mama dulu," ucap Vano sambil menggandeng tangan Clara keluar.
Tiba di kediaman mereka, nampak pria paruh baya dengan dua orang bodyguardnya yang memijati kaki dan pundaknya.
"Ayah," sapa Clara. Dengan sigap dua bpdyguard itu pun sigap berdiri di samping tuannya.
"Clara... Mana Quen kok tidak ikut? Tinggal sama omanya, ya?" sapa Andreas.
"Iya, Ayah. Ayah sudah lama di sini?"
Clara pun duduk di sebelah Andreas.
Matanya mengarah ke Vano yang berdiri di sebelahnya, lalu diedarkan ke penjuru ruangan. Kini Clara semakin gelisah.
"Kamu kenapa, Ra? Tidak enak badan?" tanya Andreas.
"Tidak kok, Yah." Clara berusaha tersenyum mesti mungkin ada yang sedang ia sembunyikan.
Cukup lama Andreas di rumah Clara dan Vano, sekitar satu jam setengah ia pun pamitan pergi untuk menjemput Andrean.
Cukup lama mereka berdiam dirinsetelah kepergian Andreas, lalu keduanya saling pandang.
"Di mana Della?" tanya Clara, berusaha tenang. Meski dalam hatinya ia juga menertawakan dirinya sendiri. 'harusnya kau senang dia tidak ada, bukan malah menanyakan,' batinnya.
__ADS_1
"Oh, dia menemani anaknya sekolah," jawan Vano canggung.
Clara mengangguk-angguk lalu berniat untuk ke dalam. Tapi, tiba-tiba dari luar terdengar suara langkah anak kecil berlari kencang kearah mereka.
"Papiii!" seru anak itu, berteriak sambil tertawa riang lalu memeluk Vano.
Clara memandang dengan tatapan tak percaya juga emosi yang tertahan. Tak lama kemudian Dela berlari mengikuti sambil mencobe melepas pelukan Revan dari Vano.
"Revan, jangan begitu, ya," ucap Della lembut sambil berusaha melepaskan tangan Revan dari pinggang Vano.
"Ahh, tida. Revan kangen papi, Mi."
Clara pun mendekati Revan lalu berjongkok,
"Revan, kamu yakin om Vano itu papi kamu?" tanyanya perlahan.
"Tentu saja, mami mengajakku pinfah ke Jakarta untuk mencari papi, dan di seklah tadi, mami bilang kami sudah tinggal sama papi."
Clara tercenggang, diam seribu bahasa. Ia berdiri menatap Vano sekilas lalu melangkah pergi ke belakang.
Ia duduk di toilet dan menangis dengan tenang, tidak bersuara. Namun, air matanya terus deras mengalir di kedua pipinya.
Clara segera mencuci wajahnya dengan air dingin begitu mendengar pintu toiletnya dinketuk dari luar, ia mengira Vano yang di luar, ternyata bukan. Tapi, Dela.
Clara berusaha tenang dan langsung pergi, ia mengira Dela akan menggunakan toilet belakang, karena di lamar tamu tidak ada toiletnya.
"Clara, aku mau bicara sama kamu."
Clara pun berhenti lalu menoleh ke arah Dela, "Apa yang mau kau katakan?"
"Maafkan aku, sebenarnya saat aku putus dengan Vano enam tahun lalu, aku tengah hamil, dan Revan itu...."
"Ya, aku mengerti. Memang aku kurang peka melihat persamaan antara mereka berdua, ternyata memang sepasang anak dan ayah." Clara pun tersenyum lalu kembali melangkah pergi.
Dela menunduk di sesaat, lalu berjalan menuju kamarnya.
Clara masih saja menangis di dalam kamarnya. Ia masih belum bisa menerima kenyataan, akhirnya ia makin tidak tahan. Di raihnya hand bagnya lalu pergi meninggalkan rumah.
"Ra, Clara!" Vano mencari Clara ke seluruh ruangan. Karena tidak ketemu, Vano berfikir kalau Clara kembali ke rumah Vivian untuk menjemput putri mereka.
Di persimpangan jalan mobilnya di hadang oleh Reza. Ia berhenti dan mengampiri Reza yang lebih dulu sudah turun dari mobilnya.
"Kamu ada perlu sama aku, Rez?" tanya Vano saambil menyetir.
"Iya. Maaf kalau aku terlalu ikut campur, kalian itu sudah punya anak, seharusnya kalian sudah bahagia," ucap Reza to the point.
"Kau sudah tahu? Apa Clara sekarang ada di tempatmu?"
"Tidak, dia sekarang bersama Selly dan Lusi, tadi memang di ke Caffe ku."
"Lalu, apa kau akan memukulku seperti yang Hans lakukan padaku?" ucap Vano sambil serius mengemudi.
"Tenanglah, Sob. Kami ada untuk kalian, akan kami bantu. Ok." Reza memberikan senyum persahabatan sambil menepuk bahu Vano.
********
"Ini kenapa kamu jadi lembek gini, Ra? Lawan saja Dela usir jauh-jauh biar gak rebut Vano." Geram Selly.
"Sel, aku bisa saja kaya gitu, cuma masalahnya anak yang bersamanya itu darah dagin suamiku, Vano." Kesal Clara sambil menyeka kasar air mata di pipinya.
"Kamu yakin dia anak Vano?" tanya Selly lagi.
"Bagaimana tidak, mereka mirip dari wajah, hobi, kepribadian dan semuanya sama, Sel."
"Mirip itu tidak harus anak dan ayah, Clara, dan mirip belum tentu saudara." Susah payah Lusi bsrusaha memberi pengertian kepada Clara yang kini merasa rapuh.
"Kalian tidak tahu sendiri, sih." kesal Clara. Ia beranjak meraih tas dan mengeluarkan pompa asi di dalamnya.
"Kau tahu Ariwibowo dan Billy Davitson? Mereka sudah layaknya anak dan bapak tapi tak ada hubungan apapun," Tukas Lusi.
Lusi dan Selly mengamati Clara yang tengah memompa asinya hinga me dapat 200ml.
"Kamu itu stres, tapi asi tetap lancar aja ya, Ra," ucap Lusi heran.
"Ya. Karna sepanjang hari aku makan terus," jawab Clara singkat sambil meletakan sebotol penuh asi di dalam tas nya.
Dari luar terdengar suara mobil masuk, karena penasaran, Clara mengintip dari balik jendela, ternyata itu mobil Vano. Dan benar saja dari dalam keluar pemiliknya bersama Reza.
"Dia ada di dalam, Van. Kalian bicara baik-baik, ya!" Reza kembali menepuk pundak Vano.
"Clara, dengerin aku dulu," ucap Vano meraih tangan Clara.
__ADS_1
"Sudahlah, Van. Tak ada yang perlu dijelaskan. Aku yang salah, seharusnya dulu aku tidak membiarkanmu begitu saja putus dengan Dela. Dan kesalahan terbesarku adalah mencintaimu memaksakan untuk memilikimu, dan akhirnya seperti ini, kan?" ucap Clara lemah.
"Tidak, Ra. Aku dan dia tidak pernah melakukan apapun." Vano mengusap wajahnya keras.
"Mana ada dua ssjoli tidak ngapa-ngapain di hotel, bukannya kalian dulu dah hampir nikah?"
"Ra, dengerin aku dulu, plis percaya sama aku."
"Sudahlah, aku sudah muak sama kamu, mungkin setelah Dela akan ada banyak wanita lagi yang terang-terangan meminta pertanggung jawaban darimu." Clara berlari keluar.
Dengan Cepat Vano berusaha mengejar Clara.
Clara berlari terlalu cepat hingga jaraknya dengan Vano sangat jauh. Belum lagi, Ia masih sedikit menjelaskan kepada tiga sahabatnya dulu.
Di tengah-tengah keramaian ibu kota Clara jongkok sambil menangis merasakan perih hatinya yang bahkan lebih sakit dari yang ia rasakan dulu saat bermasalah dengan Raisha.
Dia mengangkat kepalanya saat merasakan tangan seseoramg menyentuh pundaknya.
"Buat apa kau kemari? Pergi!" teriak Clara sambil mendorong tubuh Vano agar jauh darinya.
"Ra, ini sudah jam dua belas malam, ayo kita pulang!" Lembut Vano.
"Pulang saja sendiri, aku tidak akan ikut denganmu," teriaknya sambil mendorong tubuh Vano.
Bahkan keduanya tidak sadar jika telah menjadi bahan tontonan para pengamen jalanan, mereka masih saja berantem.
Sampai para pengamen jalanan lari berhambur karna ada Satpol PP juga mereka masih berantem, tidak peduli dengan sekitar.
"Hey, ngapain kalian tengah malam di sini? Ayo ikut kami!" Seru salah satu petugas Satpol PP sambil menagkap Vano dan Clara.
"Loh, pak, kenapa kalian tangkap kami?" ucap Clara heran dan masih tidak paham dengan maksut para Satpol PP.
"Sudah, diam! Ayo iku kami ke kantor!"
"Pak, kalian salah tangkap, Pak!" Seru Vano yang tangannya juga diborgol.
"Ndan, kami telah menangkap pasangan mesum yang tengah bertengkar di tepi jalan tadi."
"Apa? Pak, kami ini bukan pasangan mesum, kami ini suami istri," ucap Clara berusaha menjelaskan.
"Itu akal-akalan kalian saja, kan? Sudah ayo jelaskan di kantor saja!"
Mau tidak mau akhirmya Clara dan Vano pun di bawa bersama para pengamen jalanan yang tertangkap, dan di dalam mobil, mereka lah yang tengah jadi pusat perhatian.
*****
"Ya sudah, ku beri kalian waktu sepuluh menit untuk menghubungi keluarga kalian, manfaatkan dengan baik!"
Clara dan Vano saling pandang sebelum mengambil gagang telfon yang di sodorkan.
"Kartu keluarga dan buku nikah kita ada di mana?" tanya Vano.
"Masih ada di rumah mama, aku simpan di laci kamarku," jawab Clara.
Vano menghela napas lega,"Aku atau kamu yang telfon rumah?"
"Aku saja, deh," ucap Clara sambil meraih gagang telfon dari tangan Vano.
["Halo, Ma. Ini aku Clara. Aku minta tolong dong, Ma,"] ucap Clara memelas.
["....."]
["Ituz tolong carikan kartu keluarga aku sama Vano dan buku nikah kami, bawa ke kantor satpol PP,"]
["...."]
[" Panjang ceritanya, Ma. Yang penting tolong kami dulu, ya. Cepat."]
Sekitar dua pulih menit kemudian Andreas, Andrean dan Vivian datang membawa surat-surat yang diminta Clara.
Begitu masalah selesai, mereka bertiga tertawa terpingkal-pingkal melihat anak menantunya jadi korban salah tangkap oleh Satpol PP.
Akhirnya merekapun bisa kembali pulang tanpa masalah, dan pihak Satpol PP pun juga meminta maaf.
"Kalian ini sudah dewasa dan jadi orang tua, bagaimana bisa berantem kaya anak kecil di pinggir jalan, dan sampai di tangkap Satpol PP, kalian tidak malu?" omel Vivian di sepanjang jalan.
Keduanya hanya diam, begitupun duo Andre, mereka berusaha keras menahan tawa di sepanjang jalan.
Sesampai di rumah Vivian juga masih belum selesai memarahi keduanya, dan meminta mereka tidur berdua saja, sementara Quen akan tidur bersama Vivian.
__ADS_1