Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 20


__ADS_3

Quen merasa kalau dirinya tengah menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung Cafe. Entah apa yang mereka pikirkan melihat seorsng gadis belia duduk berhadapan dengan pria dewasa di sebuah caffe.


Jika mereka kami sepasang anak gadis dan papa, tidak kan? Atau malah yang kebih buruk mengiraku simpanan om om? Kurasa tidak, Pak Aditya tidak seperti om-om. Dia modish, tampan mempesona. Tidak ada tampang nakal sedikitpun di wajahnya.


Quen mengamati dosennya yang tengah menyeruput perlahan capucinonya.


Pak Aditya tampan, mapan dia juga seorang dosen yang baik, setiap siwa siswinya menyukai cara dia menyampaikan materi, selain itu dia juga sosok Dokter yang baik dan sabar.


Siapapun yang kelak akan jadi istrinya, pasti dia adalah wanita yang beruntung di dunia ini.


Quen berdecak pelan. Ia mengalihkan pandangan ke samping kanan. Tidak mau memandang Pak Aditya lagi, tidak mau kebersamaannya selama ini menjadi suka.


Cukup Quen kau mencuri pandang saat kelas dia saja, dan ini ada kebersamaan singkat jangan sampai kau jadi suka padanya. Siapa tahu saja dia sudah berkeluarga. Apa kau ingin jadi pelakor?


BIG NO....!!!


Astaga... Quen. Kau baru masuk kuliah empat bulan yang lalu dan kau sudah memikirkan pernikahan? No away. Runtuknya dalam hati.


"Kau tidak ingin makan, Quen? Aku akan mentraktirmu," ucap Pak Aditnya tiba-tiba.


"Ah, apa, Pak?"


"Pesanlah makanan yang ingin kau makan, aku akan mentraktirmu kali ini."


Pria itu menyodorkan daftar menu kepada Quen.


"Bapak saja ingin apa, Quen ngikut saja," ucap gadis itu tampak sungkan dan malu-malu.


Aditya diam sesaat mengamati daftar menu yang ada, lalu ia seperti menemukan sesuatu yang menarik.


"Apkah kau suka makan mie yamin?" bibir pria itu terangkat ke atas membentuk senyuman.


"Ya, lumayan. Jadi, kita akan makan itu sekarang? Tidak masalah," jawab Quen santai sambil memangku dagu dengan tangan kanannya.


Pramusaji datang dengan nampan berisi dua porsi mie yamin dan jus jeruk.


Aditya mulai mengaduk aduk mie nya dengan sumpit dan memakannya setelah saus dan cabe tercampur rata.


Keduanya menikmati sambil sedikit berbincang-bincang.


Quen kembali mencuri pandang pada Aditya, pria yang kira-kira berusia tigapuluh dua tahun itu.


Aditya tersenyum memaerkan deretan giginya yang berwarna putih dan rapih itu, sambil berkata, "Kau tidak biasa memakai sumpit, Quen?"


"Hehe, iya pak. Seringnya ya pakai garpu sama sendok. Indonesia tulen pokoknya," jawab Quen sambil memandang Aditya, tapi segera menduduk setelahnya.


Ya Tuhaaan, sempilkan sedikit potongan cabai atau sawi di sela-sela giginya agar aku tidak memandangnya sebagai pria yang terlalu sempurna lagi.


Do'a Quen dalam hati, benar-benar memohon dengan tulus pada tuhannya agar melihat sisi kurang dari pria di hadapannya.


Begitu usai makan dan Aditya membayar semua tagihan, termasuk latte yang di pesan Quen sebelul dia datang. Keduanya memutuskan untuk pulang.


Quen berjalan di depan Aditya beberapa langkah. Tapi, mendadak dia teringat akan menanyakan sesuatu kepada dosennya. Darinpada harus chat, takut mengganggu me timenya dengan keluarga Quen memutuskan bertanya sekarang juga.


Quen menghentikan langkah dan berbalik mendadak. Otomatis menabrak telak Aditya yang berjalan persis di belakangnya.


Wajah Quen mendarat sukses di dada Aditya, meninggalkan noda lipstik di kemeha biru muda.


Quen panik, reflek tangannya mengusap-usap noda di kemeja Pria yang merupakan dosennya di campus dengan maksut membersihkannya.


Namun, gerakannya tersebut malah persis seperti membelai-belai dada bidang pria itu. Sejurus kemudian Quen tersadar.


Ya tuhan, apa yang aku lakukan? Wanita itu mengumpat dalam hati. Dia buru-buru menarik tangannya. Serta merta wajahnya terasa panas karena malu. Seperti menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.


Aditya tertawa melihat tingkah siswinya itu, dia mengeluarkan sapu tangan dari dalam sakunya dan mulai membersihkannya.


"Ada apa, Quen?" tanya Aditya, seolah mengerti maksut gadis itu.


Tapi, karena insiden barusan, Quen telah melupakan segalanya. Seperti ada yang ingin dia sampaikan tapi apa, dia tidak tahu. Dia amnesia dadakan. Semuanya hancur buyar tak tersisa.


Gadis itu tidak menjawab sepatah katapun selain menunduk dan mengelengkan kepalanya berulang kali.


"Ya sudah, kita pulang saja kalau begitu. Kau bawa mobil, kan?"


Lagi dan lagi, gadis itu juga cuma mengangguk. Seolah enggan mengeluarkan suaranya.


Setibanya di rumah, Quen buru-buru masuk kamar. Di nyalakannya laptop dan mulai on IG. Dengan menggunakan alamat email Aditya dia melakukan pencarian dan berharap mendapatkan hasil.


Beberapa detik kemudian muncul sebuah profil.


Aditya Mahendra


Dengan profil foto dirinya sambil menggendong anam laki-laki sekitar umur empat tahunan.

__ADS_1


Karena penasaran, Quen stalking profilnya. Beruntung tidak diprivacy. Jadi, dia bisa leluasa menggali informasi dari IG nya.


Beberapa menit kemudian ternyata dugaan Quen benar. Balita yang di gendongnya adalah putra beliau.


Di sana ada beberap foto yang tengah memamerkan kebersamaannya dengan anak ktu dengan caption me time with my soon.


Quen menghela napas lega dan langsung menyandarkan punggungnya di tempat tidurnya.


Setidaknya dia tahu kalau pria yang hampir dia sukai tadi benar-benar sudah berkeluarga.


Tapi, tunggu. Kenapa tidak ada foto wanita di sana? Apakah... Ah, iya. Jika dia wanita mungkin ada pikiran kalau hamil di luar nikah dan membesarkan anaknya sendiri sebagai secon mother. Tapi, dia pria. Mungkin saja tidak ingin mengekspose foto wanitanya untuk menghindari kejahatan.


Quen menutup kembali laptopnya, dia beranjak mandi. Dan turun setekah mengenakan pakaian santai. Di bawah, ia melihat Al tengah bersantai dengan lembaran tugasnya.


Tanpa menyapa kakaknya, Quen duduk begitu saja di sebelahnya sambil menyandarkan punggung di sofa.


"Kau sudah pulang, Quen? Tumben sampai selarut ini?" sapa Al tanpa memalingkan pandangannya dari kertas-kertas di tangannya.


Quen tidak menjawab. Moodnya lagi buruk.


Al menoleh melihat wajah adiknya yang hampir tidak pernah terlihat sedatar ini, jelas hanya diam saja Quen sudah berhasil menarik perhatian siapapun karena kepribadiannya hangat, ceria dan penuh akan senyuman.


Al meletakan berkas di tangannya lalu mendekati adiknya, "Kau kenapa? Ada masalah?"


"Tidak ada." Quen memalingkan wajah. Dia benar-benar tidak ingin bercanda.


Al masih berusaha tersenyum sambil memandang adiknya yang hampir cemberut.


Merasa risih dan tidak nyaman, Quen beranjak dan kembali ke kamarnya meninggalkan Al. Dia sempat menghentikan langkahnya dan berpesan kepada Al agar tidak memanggilnya untuk makan malam.


"Kak, aku mau istirahat lebih awal. Jangan panggil aku, baru saja aku sudah makan dengan teman." kembalu gadis itu melangkah ke arah tangga dan berlari buru-buru ke kamar.


Al mengamati gelagat aneh yang ada pada diri adiknya. Dia terus melihat Quen pergi ke atas sampai tak terlihat dari pandangannya.


"Sepertinya tadi mama dengar suara Quen," ucap Clara yang tengah menyiapkan makan malam.


"Iya, Ma. Dia kembali lagi ke kamarnya."


"Ya sudah, panggil saja dia, ajak makan malam bersama!" Seru Clara sambil berjalan ke dapur.


Al masih bergeming tanpa menjawab. Sampai dua puluh meniy kemudian. Semua isi rumah juga sudah berkumpul di meja makan.


"Quen mana?" tanya Vano mengamti satu bangku kosong.


"Sayang, Quen kenapa sih kok tidak biasanya begini?" tanya Vano pada Clara.


"Aku aja belum ketemu dia lo, Van. Dia baru saja datang."


Vano pun mengambil nasi pada piring dan beberapa sayur dan lauk kesukaan Quen dan membawanya ke kamar Quen.


"Quen, apakah kau sudah tidur, Sayang?"


Quen membuka pintu, ia sudah memakai baby doll lengan panjang dengan rambut sepinggangnya dibiarkan tergerai indah.


"Papa," ucap Quen dan membiarkan Vano ke dalam kamarnya.


"Kau kenapa tidak ikut makan malam dengan kami?" tanya Vano.


"Kak Al tidak bilang, ya?"


"Sudah. Tapi, sejak kapan putri papa hanya cukup makan di luar sebelum menikmati nasi di rumah?" ucap Vano sambil tersenyum sementara tangannya sudah menyodorkan sesendok nasi dan lauk di depan mulut putrinya.


Quen tersenyum melihat tingkah papanya yang selalu sukses mencairkan suasana hatinya yang tak nyaman.


Tanpa menunggu diperintah, Quen langsung melahap setiap kali disuapi papanya.


"Lihatlah dirimu! Bahkan kau masih perlu disuapin saat tidak mau makan," goda Vano setelah nasi di piring itu habis.


"Papa hanya membariku makan tanpa membawakan minuman untukku." Quen tersenyum dan memeluk papanya.


Dia ingin rasanya menangis membayangkan andai papanya direbut pelakor. Dia tidak akan mendapatkan kasih sayang dari keluarga yang utuh. Jadi, dengan ini dia bertekat akan menjauhi Aditya. Tidak akan mencuri pandang dan cari kesempatan selain benar-benae butuh.


"Ada masalah, ya? Cerita sama papa." Vano mengelus kepala Quen dengan kasih sayang.


"Ayo kira turun ke bawah dengan yang lain!" Seru Vano mengajak putrinya.


"Quen kan udah makan, Pa," protes gadis itu sambil melepas pelukannya.


"Kan belum minum, bagaimana kalau nasinya tadi tersangkut di kerongkonganmu?" goda Vano sambil tertawa.


"Ah, papa selalu saja ada cara supaya aku pergi saat aku tidak mau." Quen bersungut-sungut kesal. Tapi, akhirnya dia pun juga menutu dan ikut turun juga.


Begitu Quen duduk dia tidak merasa seperti biasa. Entah, suasanya yang berubah, tau memang hatinya saja yang masih ingin menyendiri. Bahkan untuk menanyakan bagaimana Al dan Lyli tadi saja, dia sudah tak ingat.

__ADS_1


"Aku sudah makan barusan, aku mau minum saja," ucap nya mengambil segelas air putih dan meneguknya habis.


"Quen, ini ada buah apel, nenek mengupaskannya untukmu," ucap Vivian menyodorkan sepiring apil yang sudah dipotong.


"Trimakasih, Nek." Gadis itu tersenyum dan mulai melupakan pikiran yang membebaninya ternyata.


Quen tidak jadi pergi ke kamarnya, akhirnya ia kembali mendapatkan goodmoodnya. Terkadang suasan hati Quen menang gampang berubah,lebih cepat dari bentuk awan putih di langit.


Tapi, seperti apapun itu, tetap saja dia dikenal sebagai sosok yang ceria dan periang.


"Apakah Al tadi sudah melakukan tugasnya dengan baik?" sahut Andrean.


"Sudah dong, Kek. Semuanya insyaallah akan berjalan sesuai keinginan."


"Lalu bagaimana? Apakah orang tua Lyli menyetujuinya?" tanya Andrean. Kali ini dia menujukan pertanyaan kepada Lyli yang selalu duduk di dekat Clara.


Gadis itu tidak langsung menjawab. Ingin mengatakan iya, tapi saat iti ia menagkap keraguan pada sikap ibunya. Hanya saja sang ibu tidak menunjukan sedikitpun rasa tidak suka atau benci terhadap Al.


"Lyli, bagaimana dengan oran tuamu?" bisik Clara perlahan.


"Waktu itu saya dan Mas Al hanya bertemu dengan ibu, Tuan. Sementara ayah saya tidak di tempat."


Andrean mengangguk-angguk paham. Berfikir mungkin ibunya tidak akan memberi keputusan sepihak.


"Baiklah. Al kau sabar menunggu kan? Tidak buru-buru untuk menikah bukan?" goda Andreas yang sedari tadi hanya menjadi pendengar.


Al nampak malu dia tidak menjawab, malah berusaha mengalihkan topik mengajak bicara Quen.


"Kau tadi kemana saja? Tidak biasanya pulang sampai lewat petang begini?"


"Aku nganter Gea pulang ke rumahnya, Kak," jawan Quen tanpa menghentikan mengunyah apel yang dikupaskan nenenknya.


"Oh, tadi om Reza melihatmu tapi, tidak Gea," ucap Al lagi.


Pffff... Uhuuuukhh... Uhuuhkh!


Gadis itu langsung tersedak mendengar perkataan kakaknya. Mungkin terlalu kaget dan buru-buru ingin menjelaskan, sementara apel tiba dikerongkongan terjadilah dia tersedak dan terbatuk-batuk.


"Apaan. Kenapa om Reza harus laporan ke kakak dan tidak menyapaku langsung saja biar dia taju dengan siapa aku," protesnya sambil menyelap mulut menggunakan lengan kanannya.


"Quen, jorok ih. Ada tisu lengan buat ngelap," protes Clara.


"Tisunya tak terjangkau, Ma." Gadis itu dengan cuek memberikan jawaban seperti itu.


"Tadi awalnya om Reza melihatmu sendiri di sana, baru saja mau menghampirimu, dia melihat seorang pria datang dan duduk di depanmu."


"Oh, itu ya? Itu dosenku kebetulan saja kok kami ketemu, gak ada janjian," jawab Quen, santai tanpa mengubah ekspresinya.


"Lalu, kenapa kau pulang-pulang dengan mood hancur? Apakah kau..."


"Apaan? Buruan nikah sudah. Habis gitu. Aku akan menyusuk jika sudah resmi menjadi dokter, ok!" Quen menyela perkataan Al dan dia pun langsung berlari ke kamarnya.


Vano dan Clara keduanya saling pandang dan tersenyum.


Seolah mengisyaratkan bahwa anak-anaknya menginjak dewasa akan menikah dan memiliki keluarga sendiri.


Usai makan malam Al berada di dlam kamarnya, ia memainkan laptopnya tapi, rupanya tidak bisa terfokus. Dia terus dihantui bayangan saat Lyli menangis dan bersedih.


Meski keduanya berkumpul dalam satu rumah. Tetap saja Al bisa berlaku profesional. Bisa membatasi saat bersama keluarga dan waktu luang dengan mereka.


Ia pun meraih gawainya dan mengirim pesan chat kepada Lyli.


"Kenapa kau tadi tidak memberi jawaban, iya? Apakah kau takut ayahmu tidak merestui?"


Tak lama kemudian Lyli membalas, "Maaf. Selama keduanya belum mengatakan dengan pasti aku tidak brani buru-buru, Mas. Tidak apa-apa kan?"


Al menghela napas panjang-panjang dan menhembuskannya lewat mulut. Dia paham, ternyata gadis itu bukan type yang asal-asalan. Selalu berfikir panjang dalam bertindak atau mengambil keputusannya.


"Besok hari minggu. Tidakkah kau ingin jalan-jalan?"


"Bersama nona, Quen?"


"Tidak, kita berdua saja."


"Mana bisa?"


"Ya bisa. Kau ini pacarku apa pacar adikku kok kemanapun harus mengajaknya?"


Lyli tersenyum membaca balasan ini dari Al. Bukannya dia saat mencari pcar sudah seperti duda mencarikan ibu tiri untuk putrinya.


Hanya saja, sia tidak ingin berdebat.


"Baiklah! Tapi, aku tidak bisa menolak kalau Quen ingin ikut serta." balas Lyli.

__ADS_1


Dan kali ini Al yang tersenyum dengan balasan Lyli. Dia merasa kalau kelak jika Al lebih mendahulukan kepentingan adiknya setelah menikah, Lyli tidak akan mempermasalahkannya.


__ADS_2