
Usai rapat yang berlangsung sekitar empatpuluh menit, Queen
meminta izin secara formal di depan peserta rapat kepada Al. Ia merasa risih
jika harus berlama-lama berada di samping kakaknya yang baginya sudah kurang ajar.
“Pak, Al. karena rapat sudah selesai, saya minta izin
kembali ke tempat saya untuk menyiapkan persentasi nanti sore,” pamit Queen dengan lirih.
“Nanti, ya? Biar Juna saja yang mengerjakan untukmu, tenang
saja semua sudah kuatur, kau di sini saja dulu sebentar,” jawab Al dengan santai, dan meneruskan kembali obrolannya dengan coleganya.
Ruang rapat memang sudah sepi, hanya ada beberapa orang saja
yang masih ada di dalamnya. Tentunya mereka adalahn orang-oranmg yang memiliki hubungan baik dengan Vano, dan Al sendiri tentunya.
Karena tidak diizinkan pergi, Queen mengekspresikan
kekesalannya dengan mendesah kesal, dan menghentakan sebelah kakinya ke lantai.
Al hanya tersenyum tertahan melihat tingkah Queen yang
menurutnya menggemaskan itu. “Kamu duduklah di sini, berdiri terus selama
hampir satu jam apakah kakimu tidak pegal?”
Queen diam tidak menjawab, ia malah terkesan kesal dan
menghempaskan dirinya di atas kursi. Sebenarnya ia buru-buru kembali ke tempat
para staf agar bisa membuka ponsel dan menghunbungi Diaz. Tapi, Al justru malah melarangnya buru-buru.
“Itu asisten barunya ya, Pak Al? Cantik, ya?’’ puji salaah
satu peserta rapat yang bertubuh tinggi besar.
“Iya, dia ini juga seorang dokter aslinya. Karena dari sejak jaman kuliah sudah bekerja di sini sebagai kerja sampingan, dan saya puas dengan hasil pekerjaanya, jadi saya tetap minta dia menjadi asisten saya dan
saya kasih dia kebebasan free time,” jawab Al dengan tegas dan penuh wibawa.
Ketegasan memang sudah menjadi ciri khasnya sejak dulu, tepatnya saat dididik oleh mendiang kakek Andreas.
“Oh, seorang dokter?’’ pria itu tampak terkejut dan hampir
tidak percaya dengan apa yang baru saja Al katakan.
“Tunggu, kalau tidak salah, ini dokter Queen, ya? Dia adalah
dokter umum yang bertugas di rumah sakit Medica Sehat, betul?’’ sahut
satu orang lainnya yang memiliki postur tubuh yang sama namun dia berkulit
cenderung lebih gelap, dan lebih tinggi sedikit dari orang yang lebih dulu membuka pembicaraan tadi.
“Bapak tahu?” tanya Queen, spontan.
“Ya, saat itu saya melihat anda keluar dari ruang ICU ketika
saya menjenguk orang tua pak Al, pak Vano dan istrinya di sana.”
Queen hanya mengangguk-angguk saja saat mendengar jawaban
itu. Sedangkan Al memandang adiknya
sambil tersenyum tipis, dengan harapan agar dia mengakui siapa dia sebenarnya.
Tapi, itu juga nihil wanita itu hanya tersenyum malu-malu saja ketika salah satu
dari mereka menggoda kalau Al dan Queen itu serasi, sebab, Queen dirasa mirip
dengan mamanya si bos yang tanpa mereka ketahui memang dialah putri kandungnya.
Yang ajaib itu Al, gak ada hubungan darah, tapi bisa mirip dengan Vano.
🍁🍁🍁🍁
Siang itu di sebuah café, seorang pria mengenakan kaus polos
berwarna hitam tengah duduk di sudut café sambil memainkan gawainya, ia Nampak
cemas menunggu kedatangan seseorang yang sudah hampir setengah jam ini tak
datang-datang. Berkali-kali pria itu memandang ke arah jam tangan dan mengecek
layar ponselnya, namun sepertinya ia tak dapatkan apapun, sebab, setelah
melihat kea rah jam tangan di pergelangan kanan dan juga nyala layar ponselnya,
ia mengedarkan pandangannya ke arah pintu masuk dan keluar café.
“Kutunggu lima menit lagi, jika dia tidak datang, maka aku
akan pergi,’’ gumamnya seorang diri, sambil menggoyang-goyangkan kakinya, demi
mengusir rasa bosan dan lelah menunggu.
Lima menit berlalu, tidak ada tanda bahwa orang yang
ditunggunya akan tiba, dan lagi minuman di gelasnya juga sudah habis, maka pria
itu pun menjijnjing ranselnya mencangklong di pundak kanannya dan bersiap untuk
pergi.
“Alex, maaf sudah membuatmu menunggu, maaf aku terlambat!”
teriak seorang gadis yang mengenakan setelan celana jeans biru dan sweeteer
abu-abu dipadukan dengan hijab berwarna colat susu.
Dengan berat hati, Alex pun kembali duduk di tempatnya tadi,
namun ekspresi wajahnya telah berubah, bahkan ia sempat menggerutu, “Kau telah membuat waktuku sia-sia selama tigapuluh menit.’’ Sebagai seorang yang besar
dan tumbuh di luar negeri, dan Negara maju. Alex sudah terbiasa hidup displin,
sedari kecil ia sudah didokterin untuk tidak menyia-nyiakan waktu meski hanya sedetik. Tapi, wanita di depannya ini membuat ia membuang waktunya dengan sia-sia selama setengah jam.
“Maafkan aku, tadi aku terjebak macet, Lex. Oh, iya, kamu
mau pesen minuman lagi?”
“Tidak perlu, jika kau mau, pesanlah untukmu sendiri,
Sekarang katakana apa yang ingin kamu katakan, karena aku Cuma ada waktu sepuluh menit dari sekarang, karena aku harus on time tiba di kampus.”
Gadis itu tersenyum kecut untuk menutupi rasa tidak enaknya
kepada Alex. Lagian, bagaimana bisa ia lupa kalau telah membuat janji dengan
Alex, dan bahkan ia lupa Alex itu siapa, bukan hanya penampilan dan tampangnya
saja yang bule, tapi, gaya hidupnya pun juga bule banget yang memiliki slogan
waktu adalah emas.
“Ya sudah aku minta maaf sekali lagi, sebagai permintaan
maafku, gimana kalau sekarang aku yang traktir makan?” usul gadis itu sambil
tersenyum.
“Aku tidak terbiasa ditraktir oleh perempuan, tidak perlu
__ADS_1
lebay gitu, asal jangan diulangi lagi.” Muka pria itu masih terlihat sangat
kesal, “Lalu, apa yang ingin kau bicarakan padaku? Aku tidak punya waktu
banyak,” ucapnya terkesan tergesa-gesa.
Gadis itu tersenyum mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya
dan memberikan sebuah kertas undangan berwarna crem kepada Alex sambil berkata,
“Karena kamu buru-buru, aku to the point saja, ya?’’
Dengan wajah sedikit kusut Alex menerima secarik kertas
undangan itu dan membacanya lalu berkata, “Undangan ulang tahun? Kamu yang
ulang tahun?”
Gadis itu tersenyum sambil menganggukan kepalanya beberapa
kali, dan berkata, “Iya, aku merayakannya di panti sama anak-anak, kau juga
berkesempatan ketemu mantan istrimu, kudengar kau masih ingin kembali rujuk
bersamanya, kan?’’
Pria itu tidak mau memperpanjang masalah mengenai dirinya
dan Queen, sebab ia sudah berjanji dengan Al agar tidak mengusik hidupnya
bersama Diaz. Sebab, keselamatan kakak dan keponakannya lah yang jadi taruhannya
kalau ia sampai mengingkari janjinya sendiri.
“Cuma kasih undangan saja sampai harus membuatku menunggu di
sini setengah jam. Ngomong kek dari awal,’’ umpat Alex.
“Aku kan sudah minta maaf,” jawab Zahara dengan muka yang di
buat melas.
“Ya sudah, terimakasih undangannya, aku harus ke kampus
sekarang juga,” ucap pria itu lalu beranjak meninggalkan area café. Sementara Zahara hanya tersenyum memandang
punggung pria yang beberapa tahun lebih
muda darinya itu sampai lenyap dari pandangannya.
Awalnya Alex hendak ke GYM, bukan ke kampus, itu cuma alasan dia saja. Tapi, begitu mendengar apa yang
di katakana Zahara terkait ulang tahunnya yang juga mengundang Queen, ia merasa
tak yakin bisa menghadirinya. Terlebih jika Queen bersama Diaz, ia rasanya
tidak akan mampu melihat wanita yang masih ia cintai bersama pria lain, Alex
pun akhirnya putar balik dan kembali ke rumah. Moodnya mendadak berubah buruk saat itu juga.
🍁🍁🍁🍁
Siang itu, Aditya tengah bersantai di teras rumahnya sambil
menikmati secangkir kopi dan membaca berita harian yang datang dari surat kabar
langganannya. Saat ia tengah serius membaca sebuah berita, tiba-tiba terdengar
suara gerbang rumahnya di ketuk dan seorang pria berteriak, “PAKET!”
Aditya bergegas ke depan, melihat kira-kira apa yang akan
datang, sebab ia tidak merasa memesan apapun di toko online beberapa hari ini.
salah kirim, jika memang iya, lalu siapa pengirimnya? dan isinya apa?
Aditya membuka sedikit pagar cukup hanya untuk keluar atau
masuknya satu orang saja yang berbadan sedang, di sana ia melihat seorang pria
berdiri mengenakan jaket identitas ekspedisinya berwana oren dan membawa
lembaran map berwarna coklat. Dengan senyum lebarnya pria itu bertanya dengan
ramah, “Benar ini alamat Pak Aditya
Mahendra?”
“Iya, Saya sendiri, itu apa ya pak?” tanya Aditya penasaran.
“Tidak tahu pasti isinya apa, pak, sepertinya ini dokumen
penting untuk bapak,” jawab kurir itu sambil meyerahkan paket serta bukti
terima untuk ditandatangani.
Usai menandatangani Aditya membaca pengirim surat itu, “NOVITA.”
Pria itu pun tersenyum dan menbak-nebak isi di dalamnya. Dengan rasa penasaran
dan tak sabar Aditya membuka isi dari surat itu dan benar saja isinya adalah
akta cerainya bersama novita, dan ini adalah perceraiannya yang kedua dan
dengan wanita yang sama pula.
Laki-laki itu menyeringai, lalu tertawa kian lama kian
terbahak seperti orang gila saja. “Terimakasih sayang sudah memberiku kebebasan
mengejar Queen, dan mengasuh Axel putra kita, kuharap kau tidak akan menikah
lagi dengan pria manapun kecuali dia
bisa sesayang aku padanya Axel.”
Aditya pun pergi dengan membawa surat cerai itu, ia mencoba
melacak keberadaan Queen melalui gps ponselnya. Ia segera mengacukan mobilnya
saat mengetahui Queen berada di kantor perusahaan milik orangtuanya yang kini
dikelola oleh kakanya.
Tiba di depan kantor, kebetulan juga pas jam istirahat,
Aditya meminta izin pada security dengan alas an memberi surprise pada
pacarnya, beruntung Queen bukan orang penting seperti Al karena menyembunyikan
identitas pribadinya, kalau saja tidak, Aditya akan kesulitan.
Ketika Aditya memasuki loby kantor, ia melihat Queen dan Al
berjalan menuju kantin sambil mengobrol, sedangkan di depan dan di belakang
mereka banyak para staf karyawan dan karyawati yang juga ingin mengisi perut
lapar mereka saat jam istirahat.
Seolah tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, pria itu
memanggil wanita yang selalu memenuhi pikirannya selama ini. “Queen!”
“Wanita yang semula tengah mendengarkan kakaknya berbicara
__ADS_1
itu pun menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya dan di ikuti oleh
staff lain yang kebetulan ada di sana.
“Aditya? Kau ada hubungan dengan dokter gila itu lagi?”
tanya Al dengan tatapan penuh selidik.
Queen yang juga bingung dan kaget dengan kedatangan Aditya
yang tiba-tiba itu seolah suaranya hilang tak dapat muncul, ia hanya menjawab
dengan gelengan kepala saja.
Al pun berjalan menghampiri pria itu dan bertanya dengan
suara rendah namun penuh dengan
penekanan, “Kenapa kau kemari mencari adikku? Tidakkah kau merasa malu setelah
apa yang pernah kau lakukan padanya?’’
“Apa? Bukankah itu wajar bagi orang yang jatuh cinta?”
“Tidak, kau itu gila! Dia sama sekali tidak menyukaimu, dan
itu pun sampai terjadi, itu hanyalah keinginan sepihak, kau merampas hak asasi dia,’’ ucap Al dengan emosi tertahan.
Queen yang sedari tadi mendengarkan argument dua pria itu
akhirnya menghampiri ingin tahu apa yang kiranya ingin Aditya sampaikan
padanya, bagaimana dia sampai bisa senekat itu datang ke kantor hanya untuk
menemuinya?
“Dit, ada apa kau datangmkemari?”
‘Sah-sah saja, kan? Manggil Cuma nama? Dia bukan lagi istri
kak Novita,’ batin Queen.
Dengan semangat Aditya menunjukan lembaran kertas akta cerainya
dengan Novita. “Aku sudah resmi bercerai dengan mamanya Axel, Queen. Dia lagi-lagi meninggalkanku hanya saja kali ini Axel dibawa bersamanya, entah di mana aku juga tidak tahu, aku ingin kembali memulai hidup bersamamu, kau pun juga sudah bercerai dengan Alex, kan?”
‘Oh, surat cerainya sudah sampai pada dirinya, ya?’ Jelas
saja kak Novi ninggalin kamu, siapa yang mau punya suami psychopath dan gila
sepertimu?’ batin Al.
“Maaf, Dit aku tak bisa. Kurasa kau juga sudah tahu
bagaimana hubunganku dengan Diaz, kan?’’ Wanita muda yang juga berstatus
janda itu pun pergi ninggalin dua pria
itu. Tadi pagi dia Cuma sarapan sedikit karena hatinya dongkol, jadi sekarang
dia benar-benar sangat kelaparan.
Al tidak langsung menyusul adiknya yang lebih dulu pergi
demi melanjutkan argumennya bersama Adit. Padahal tadi ia ingin mengajak Queen untuk makan di luar saja. Tapi, karena ada masalah dan sepertinya wanita itu
sudah sangat kelaparan, ia pun pergi lebih dulu di kantin perusahaan tempat
para staff untuk memesan makanan.
Tiba di sana, Al melihat Queen sudah memakan setengah porsi
dari makanannya, ia tidak banyak berkomentar, hanya meliriknya sekilas lalu
mulai memakan makanannya sendiri. Barulah, ketika Queen menghabiskan makannya
Al baru berbicara, “Makannya yang enak apa kamu kelaparan, sih? Tumben bisa
habis satu porsi.”
“Aku lapar,” jawab Queen, lalu tangannya meraih es teh yang
ada di hadapannya.
“siapa suruh pake ngambeg segala.” Al melihat kevarah Queen
sambil tersenyum tipis. Tak ada tanggapan dari wanita itu. “Bagaimana bisa
Aditya bisa mengetahui kau ada di sini? Kukira kau masih mau berhubungan dengan
pria gila yang hampir melecehkanmu itu setelah perceraiannya dengan istrinya.
Rupanya Al tidak sadar dengan apa yang dikatakannya barusan,
Atu dia lupa kalau dia pernah hampir saja melakukan hal serupa walau tak
memaksa. Jadi, ia kalah telak saat mendengar jawaban singkat adiknya yang
sangat mengena.
“Apa bedanya dengan kakak bebrapa hari lalu?” Wanita itu pun
beranjak meninggalkan kantin.
Sedangkan Al tertawa seorang diri menertawai dirinya sendiri.
Saat kejadian di mana Aditya nampak di tolak Queen dan
sekaligus berhadapan dengan Al, Jevin melihatnya, jadi, ia pun penasaran dan
buru-buru mengejar pria itu dengan harapan bisa mendapatkan sesuatu.
“Tunggu!” teriak Jevin beruasaha menghentikan langkah Aditya
yang hampir saja memasuki mobilnya.
“Siapa, anda?” tanya pria itu dengan santun.
“Maaf, saya tadi melihat anda sepertinya di tolak
mentah-mentah oleh wanita tadi, apakah anda mengejarnya?” tanya Jevin seolah
benar-benar ingin tahu.
Aditya bersendeku memutar badan menghadap ke arah Jevin dan
bersandar pada mobilnya, “Jika anda ingin tahu, sekalian saya kasih tahu, dia
itu mantan kekasih saya, kami sempat hampir menikah dan di hari pernikahan itu,
dia menggagalkan pernikahan kami, dengan alasan mantan istri saya minta rujuk,
dan dia pun menikah dengan mantan pacarnya, sementara saat itu pula saya
menikah dengan mantan istri saya, sekarang seperti yang kau tahu, jika kau
tahu, dia sudah bercerai, dan istri saya kembali meninggalkan saya. Jadi, saya ingin mengajaknya balikan,
tapi, sepertinya dia menolak karena dokter muda itu.”
“Lalu apakah kau ingin menyerah begitu saja? Tidak inginkah
merencanakan sesuatu untuk dia agar bisa kembali bersamamu?” ucap Jevin, seolah memiliki sebuah ide yang bagus dan sangat menjanjikan.
Aditya pun meluruskan tubuhnyabtak lagi bersandar pada mobil, ia memandang Jevin dengan tatapan rasa ingin tahu.
__ADS_1