Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 2 PART 183


__ADS_3

Usai rapat yang berlangsung sekitar empatpuluh menit, Queen


meminta izin secara formal di depan peserta rapat kepada Al. Ia merasa risih


jika harus berlama-lama berada di samping kakaknya yang baginya sudah kurang ajar.


“Pak, Al. karena rapat sudah selesai, saya minta izin


kembali ke tempat saya untuk menyiapkan persentasi nanti sore,” pamit Queen dengan lirih.


“Nanti, ya? Biar Juna saja yang mengerjakan untukmu, tenang


saja semua sudah kuatur, kau di sini saja dulu sebentar,” jawab Al dengan santai, dan meneruskan kembali obrolannya dengan coleganya.


Ruang rapat memang sudah sepi, hanya ada beberapa orang saja


yang masih ada di dalamnya. Tentunya mereka adalahn orang-oranmg yang memiliki hubungan baik dengan Vano, dan Al sendiri tentunya.


Karena tidak diizinkan pergi, Queen mengekspresikan


kekesalannya dengan mendesah kesal, dan menghentakan sebelah kakinya ke lantai.


Al hanya tersenyum tertahan melihat tingkah Queen yang


menurutnya menggemaskan itu. “Kamu duduklah di sini, berdiri terus selama


hampir satu jam apakah kakimu tidak pegal?”


Queen diam tidak menjawab, ia malah terkesan kesal dan


menghempaskan dirinya di atas kursi. Sebenarnya ia buru-buru kembali ke tempat


para staf agar bisa membuka ponsel dan menghunbungi Diaz. Tapi, Al justru malah melarangnya buru-buru.


“Itu asisten barunya ya, Pak Al? Cantik, ya?’’ puji salaah


satu peserta rapat yang bertubuh tinggi besar.


“Iya, dia ini juga seorang dokter aslinya. Karena dari sejak jaman kuliah sudah bekerja di sini sebagai kerja sampingan, dan saya puas dengan hasil pekerjaanya, jadi saya tetap minta dia menjadi asisten saya dan


saya kasih dia kebebasan free time,” jawab Al dengan tegas dan penuh wibawa.


Ketegasan memang sudah menjadi ciri khasnya sejak dulu, tepatnya saat dididik oleh mendiang kakek Andreas.


“Oh, seorang dokter?’’ pria itu tampak terkejut dan hampir


tidak percaya dengan apa yang baru saja Al katakan.


“Tunggu, kalau tidak salah, ini dokter Queen, ya? Dia adalah


dokter umum yang bertugas di rumah sakit Medica Sehat, betul?’’ sahut


satu orang lainnya yang memiliki postur tubuh yang sama namun dia berkulit


cenderung lebih gelap, dan lebih tinggi sedikit dari orang yang lebih dulu membuka pembicaraan tadi.


“Bapak tahu?” tanya Queen, spontan.


“Ya, saat itu saya melihat anda keluar dari ruang ICU ketika


saya menjenguk orang tua pak Al, pak Vano dan istrinya di sana.”


Queen hanya mengangguk-angguk saja saat mendengar jawaban


itu. Sedangkan Al memandang  adiknya


sambil tersenyum tipis, dengan harapan agar dia mengakui siapa dia sebenarnya.


Tapi, itu juga nihil wanita itu hanya tersenyum malu-malu saja ketika salah satu


dari mereka menggoda kalau Al dan Queen itu serasi, sebab, Queen dirasa mirip


dengan mamanya si bos yang tanpa mereka ketahui memang dialah putri kandungnya.


Yang ajaib itu Al, gak ada hubungan darah,  tapi bisa mirip dengan Vano.


🍁🍁🍁🍁


Siang itu di sebuah café, seorang pria mengenakan kaus polos


berwarna hitam tengah duduk di sudut café sambil memainkan gawainya, ia Nampak


cemas menunggu kedatangan seseorang yang sudah hampir setengah jam ini tak


datang-datang. Berkali-kali pria itu memandang ke arah jam tangan dan mengecek


layar ponselnya, namun sepertinya ia tak dapatkan apapun, sebab, setelah


melihat kea rah jam tangan di pergelangan kanan dan juga nyala layar ponselnya,


ia mengedarkan pandangannya ke arah pintu masuk dan keluar café.


“Kutunggu lima menit lagi, jika dia tidak datang, maka aku


akan pergi,’’ gumamnya seorang diri, sambil menggoyang-goyangkan kakinya, demi


mengusir rasa bosan dan lelah menunggu.


Lima menit berlalu, tidak ada tanda bahwa orang yang


ditunggunya akan tiba, dan lagi minuman di gelasnya juga sudah habis, maka pria


itu pun menjijnjing ranselnya mencangklong di pundak kanannya dan bersiap untuk


pergi.


“Alex, maaf sudah membuatmu menunggu, maaf aku terlambat!”


teriak seorang gadis yang mengenakan setelan celana jeans biru dan sweeteer


abu-abu dipadukan dengan hijab berwarna colat susu.


Dengan berat hati, Alex pun kembali duduk di tempatnya tadi,


namun ekspresi wajahnya telah berubah, bahkan ia sempat menggerutu, “Kau telah membuat waktuku sia-sia selama tigapuluh menit.’’ Sebagai seorang yang besar


dan tumbuh di luar negeri, dan Negara maju. Alex sudah terbiasa hidup displin,


sedari kecil ia sudah didokterin untuk tidak menyia-nyiakan waktu meski hanya sedetik. Tapi, wanita di depannya ini membuat ia membuang waktunya dengan sia-sia selama setengah jam.


“Maafkan aku, tadi aku terjebak macet, Lex. Oh, iya, kamu


mau pesen minuman lagi?”


“Tidak perlu, jika kau mau, pesanlah untukmu sendiri,


Sekarang katakana apa yang ingin kamu katakan, karena aku Cuma ada waktu sepuluh menit dari sekarang, karena aku harus on time tiba di kampus.”


Gadis itu tersenyum kecut untuk menutupi rasa tidak enaknya


kepada Alex. Lagian, bagaimana bisa ia lupa kalau telah membuat janji dengan


Alex, dan bahkan ia lupa Alex itu siapa, bukan hanya penampilan dan tampangnya


saja yang bule, tapi, gaya hidupnya pun juga bule banget yang memiliki slogan


waktu adalah emas.


“Ya sudah aku minta maaf sekali lagi, sebagai permintaan


maafku, gimana kalau sekarang aku yang traktir makan?” usul gadis itu sambil


tersenyum.


“Aku tidak terbiasa ditraktir oleh perempuan, tidak perlu

__ADS_1


lebay gitu, asal jangan diulangi lagi.” Muka pria itu masih terlihat sangat


kesal, “Lalu, apa yang ingin kau bicarakan padaku? Aku tidak punya waktu


banyak,” ucapnya terkesan tergesa-gesa.


Gadis itu tersenyum mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya


dan memberikan sebuah kertas undangan berwarna crem kepada Alex sambil berkata,


“Karena kamu buru-buru, aku to the point saja, ya?’’


Dengan wajah sedikit kusut Alex menerima secarik kertas


undangan itu dan membacanya lalu berkata, “Undangan ulang tahun? Kamu yang


ulang tahun?”


Gadis itu tersenyum sambil menganggukan kepalanya beberapa


kali, dan berkata, “Iya, aku merayakannya di panti sama anak-anak, kau juga


berkesempatan ketemu mantan istrimu, kudengar kau masih ingin kembali rujuk


bersamanya, kan?’’


Pria itu tidak mau memperpanjang masalah mengenai dirinya


dan Queen, sebab ia sudah berjanji dengan Al agar tidak mengusik hidupnya


bersama Diaz. Sebab, keselamatan kakak dan keponakannya lah yang jadi taruhannya


kalau ia sampai mengingkari janjinya sendiri.


“Cuma kasih undangan saja sampai harus membuatku menunggu di


sini setengah jam. Ngomong kek dari awal,’’ umpat Alex.


“Aku kan sudah minta maaf,” jawab Zahara dengan muka yang di


buat melas.


“Ya sudah, terimakasih undangannya, aku harus ke kampus


sekarang juga,” ucap pria itu lalu beranjak  meninggalkan area café. Sementara Zahara hanya tersenyum memandang


punggung  pria yang beberapa tahun lebih


muda darinya itu sampai lenyap dari pandangannya.


Awalnya Alex hendak ke GYM, bukan ke kampus, itu cuma alasan dia saja. Tapi, begitu mendengar apa yang


di katakana Zahara terkait ulang tahunnya yang juga mengundang Queen, ia merasa


tak yakin bisa menghadirinya. Terlebih jika Queen bersama Diaz, ia rasanya


tidak akan mampu melihat wanita yang masih ia cintai bersama pria lain, Alex


pun akhirnya putar balik dan kembali ke rumah. Moodnya mendadak berubah buruk saat itu juga.


🍁🍁🍁🍁


Siang itu, Aditya tengah bersantai di teras rumahnya sambil


menikmati secangkir kopi dan membaca berita harian yang datang dari surat kabar


langganannya. Saat ia tengah serius membaca sebuah berita, tiba-tiba terdengar


suara gerbang rumahnya di ketuk dan seorang pria berteriak, “PAKET!”


Aditya bergegas ke depan, melihat kira-kira apa yang akan


datang, sebab ia tidak merasa memesan apapun di toko online beberapa hari ini.


salah kirim, jika memang iya, lalu siapa pengirimnya? dan isinya apa?


Aditya membuka sedikit pagar cukup hanya untuk keluar atau


masuknya satu orang saja yang berbadan sedang, di sana ia melihat seorang pria


berdiri mengenakan jaket identitas ekspedisinya berwana oren dan membawa


lembaran map berwarna coklat. Dengan senyum lebarnya pria itu bertanya dengan


ramah, “Benar  ini alamat Pak Aditya


Mahendra?”


“Iya, Saya sendiri, itu apa ya pak?” tanya Aditya penasaran.


“Tidak tahu pasti isinya apa, pak, sepertinya ini dokumen


penting untuk bapak,” jawab kurir itu sambil meyerahkan paket serta bukti


terima untuk ditandatangani.


Usai menandatangani Aditya membaca pengirim surat itu, “NOVITA.”


Pria itu pun tersenyum dan menbak-nebak isi di dalamnya. Dengan rasa penasaran


dan tak sabar Aditya membuka isi dari surat itu dan benar saja isinya adalah


akta cerainya bersama novita, dan ini adalah perceraiannya yang kedua dan


dengan wanita yang sama pula.


Laki-laki itu menyeringai, lalu tertawa kian lama kian


terbahak seperti orang gila saja. “Terimakasih sayang sudah memberiku kebebasan


mengejar Queen, dan mengasuh Axel putra kita, kuharap kau tidak akan menikah


lagi dengan pria manapun  kecuali dia


bisa sesayang aku padanya Axel.”


Aditya pun pergi dengan membawa surat cerai itu, ia mencoba


melacak keberadaan Queen melalui gps ponselnya. Ia segera mengacukan mobilnya


saat mengetahui Queen berada di kantor perusahaan milik orangtuanya yang kini


dikelola oleh kakanya.


Tiba di depan kantor, kebetulan juga pas jam istirahat,


Aditya meminta izin pada security dengan alas an memberi surprise pada


pacarnya, beruntung Queen bukan orang penting seperti Al karena menyembunyikan


identitas pribadinya, kalau saja tidak, Aditya akan kesulitan.


Ketika Aditya memasuki loby kantor, ia melihat Queen dan Al


berjalan menuju kantin sambil mengobrol, sedangkan di depan dan di belakang


mereka banyak para staf karyawan dan karyawati yang juga ingin mengisi perut


lapar mereka saat jam istirahat.


Seolah tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, pria itu


memanggil wanita yang selalu memenuhi pikirannya selama ini. “Queen!”


“Wanita yang semula tengah mendengarkan kakaknya berbicara

__ADS_1


itu pun menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya dan di ikuti oleh


staff lain yang kebetulan ada di sana.


“Aditya? Kau ada hubungan dengan dokter gila itu lagi?”


tanya Al dengan tatapan penuh selidik.


Queen yang juga bingung dan kaget dengan kedatangan Aditya


yang tiba-tiba itu seolah suaranya hilang tak dapat muncul, ia hanya menjawab


dengan gelengan kepala saja.


Al pun berjalan menghampiri pria itu dan bertanya dengan


suara rendah  namun penuh dengan


penekanan, “Kenapa kau kemari mencari adikku? Tidakkah kau merasa malu setelah


apa yang pernah kau lakukan padanya?’’


“Apa? Bukankah itu wajar bagi orang yang jatuh cinta?”


“Tidak, kau itu gila! Dia sama sekali tidak menyukaimu, dan


itu pun sampai terjadi, itu hanyalah keinginan sepihak, kau merampas hak asasi dia,’’ ucap Al dengan emosi tertahan.


Queen yang sedari tadi mendengarkan argument dua pria itu


akhirnya menghampiri ingin tahu apa yang kiranya ingin Aditya sampaikan


padanya, bagaimana dia sampai bisa senekat itu datang ke kantor hanya untuk


menemuinya?


“Dit, ada apa kau datangmkemari?”


‘Sah-sah saja, kan? Manggil Cuma nama? Dia bukan lagi istri


kak Novita,’ batin Queen.


Dengan semangat Aditya menunjukan lembaran kertas akta cerainya


dengan Novita. “Aku sudah resmi bercerai dengan mamanya Axel, Queen. Dia lagi-lagi meninggalkanku hanya saja kali ini Axel dibawa bersamanya, entah di mana aku juga tidak tahu, aku ingin kembali memulai hidup bersamamu, kau pun juga sudah bercerai dengan Alex, kan?”


‘Oh, surat cerainya sudah sampai pada dirinya, ya?’ Jelas


saja kak Novi ninggalin kamu, siapa yang mau punya suami psychopath dan gila


sepertimu?’ batin Al.


“Maaf, Dit aku tak bisa. Kurasa kau juga sudah tahu


bagaimana hubunganku dengan Diaz, kan?’’ Wanita muda yang juga berstatus


janda  itu pun pergi ninggalin dua pria


itu. Tadi pagi dia Cuma sarapan sedikit karena hatinya dongkol, jadi sekarang


dia benar-benar sangat kelaparan.


Al tidak langsung menyusul adiknya yang lebih dulu pergi


demi melanjutkan argumennya bersama Adit. Padahal tadi ia ingin mengajak Queen untuk makan di luar saja. Tapi, karena ada masalah dan sepertinya wanita itu


sudah sangat kelaparan, ia pun pergi lebih dulu di kantin perusahaan tempat


para staff untuk memesan makanan.


Tiba di sana, Al melihat Queen sudah memakan setengah porsi


dari makanannya, ia tidak banyak berkomentar, hanya meliriknya sekilas lalu


mulai memakan makanannya sendiri. Barulah, ketika Queen menghabiskan makannya


Al baru berbicara, “Makannya yang enak apa kamu kelaparan, sih? Tumben bisa


habis satu porsi.”


“Aku lapar,” jawab Queen, lalu tangannya meraih es teh yang


ada di hadapannya.


“siapa suruh pake ngambeg segala.” Al melihat kevarah Queen


sambil tersenyum tipis. Tak ada tanggapan dari wanita itu. “Bagaimana bisa


Aditya bisa mengetahui kau ada di sini? Kukira kau masih mau berhubungan dengan


pria gila yang hampir melecehkanmu itu setelah perceraiannya dengan istrinya.


Rupanya Al tidak sadar dengan apa yang dikatakannya barusan,


Atu dia lupa kalau dia pernah hampir saja melakukan hal serupa walau tak


memaksa. Jadi, ia kalah telak saat mendengar jawaban singkat adiknya yang


sangat mengena.


“Apa bedanya dengan kakak bebrapa hari lalu?” Wanita itu pun


beranjak meninggalkan kantin.


Sedangkan Al tertawa seorang diri menertawai dirinya sendiri.


Saat kejadian di mana Aditya nampak di tolak Queen dan


sekaligus berhadapan dengan Al, Jevin melihatnya, jadi, ia pun penasaran dan


buru-buru mengejar pria itu dengan harapan bisa mendapatkan sesuatu.


“Tunggu!” teriak Jevin beruasaha menghentikan langkah Aditya


yang hampir saja memasuki mobilnya.


“Siapa, anda?” tanya pria itu dengan santun.


“Maaf, saya tadi melihat anda sepertinya di tolak


mentah-mentah oleh wanita tadi, apakah anda mengejarnya?” tanya Jevin seolah


benar-benar ingin tahu.


Aditya bersendeku memutar badan menghadap ke arah Jevin dan


bersandar pada mobilnya, “Jika anda ingin tahu, sekalian saya kasih tahu, dia


itu mantan kekasih saya, kami sempat hampir menikah dan di hari pernikahan itu,


dia menggagalkan pernikahan kami, dengan alasan mantan istri saya minta rujuk,


dan dia pun menikah dengan mantan pacarnya, sementara saat itu pula saya


menikah dengan mantan istri saya, sekarang seperti yang kau tahu, jika kau


tahu, dia sudah bercerai, dan istri saya kembali meninggalkan  saya. Jadi, saya ingin mengajaknya balikan,


tapi, sepertinya dia menolak karena dokter muda itu.”


“Lalu apakah kau ingin menyerah begitu saja? Tidak inginkah


merencanakan sesuatu untuk dia agar bisa kembali bersamamu?” ucap Jevin, seolah memiliki sebuah ide yang bagus dan sangat menjanjikan.


Aditya pun meluruskan tubuhnyabtak lagi bersandar pada mobil, ia memandang Jevin dengan tatapan rasa ingin tahu.

__ADS_1


__ADS_2