
Alex terkejut melihat seluruh keluarga Quen di meja makan ada enam orang, sedangkan dia hanya membawa bubur cukup untuk porsi dua orang saja.
"Alex, mereka kakek nenenkku, itu papa mamaku. Dan ini kakakku," ucap Quen dengan bangga mengenalkan keluarganya.
Usai berkenalan Alex menarik kursi di sebelah Al. Keduanya sudah pernah berjumpa sebelumnya saat awal dia baru kembali dari Jepang.
Alex memberikan senyum persahanatan kepada Al yang masih saja beku. Bukan membenci Alex, tapi, takut dia kembali untuk mempermainkan Quen lagi.
Sebab, pada saat itu yang Al tahu berdasarkan informasi orang kepercayaanya, salah satunya Juna. Alex tidak pernah mencintai Quen sama sekali melainkan dirinya sendiri. Dia hanya mendekati wanita yang menurutnya menarik, terkebih wanita itu adalah primadona dan jadi rebutan para lelaki. Jadi, seperti ada
kesenangan tersendiri baginya jika sampai memacari gadis tersebut.
Tapi, saat ia ketahuan jalan dengan Helen di kantin, dia baru sadar kalai wanita yang dia cari selama ini seperti Quen. Gadis itu tidak pernah menuntut apapun hingga ia kehilangan jati dirinya. Tidak pernah meminta Alex berubah menjadi yang dia inginkan.
Selama itu ia berusaha mati-matian mendapatkan Quen, tepatnya ketika kenaikan kelas 3 SMA. Alex mulai berubah menjauhi wanita-wanitanya, membuang jauh cap play boy darinya jika kelak imagenya menjadi baik. Dia akan kembali mengejar Quen. Dan benar saja, sejak masuk kuliah pria itu sering mengajak Quen makan dan mengantar jemput ke kampus.
"Ma, Alex bawain aku bubur ayam, lo," ucap Quen sambil membuka box di atas meja makan.
"Iya kah? Siapa yang membuatnya?" tanya Clara ramah kepada Alex.
"Mama dan kakak saya, Tante. Maaf cuma bawa sedikit, tadi saya kira Quen ada di apartemen sendiri ternyata dia pulang," ucap Alex merasa sungkan.
"Wah, kamu perhatian sekali sama Quen, sudah kenal berapa lama?"
"Sebenarnya kami teman SMA, tante dan...."
"Cuma dulu kita tidak dekat." Potong Quen, langsung menyahut agar Alex tidak melanjutkan kalimatnya. Seperti apapun dia tidak mau terlihat konyol di depan keluarganya kalau Alex adalah mantannya dulu, yang dia cintai, tapi cintanya bertepuk sebelah tangan.
Usai sarapan Alex memohon diri utuk pulang dengan alasan ada hal yang perlu dikerjakan. Sementara Quen ngobrol dengan Clara di ruang tengah saat semuanya sudah pergi, hanya tinggal Lyli yang mencuci piring bekas sarapan dan menyiapkan masakan untuk makan siang.
"Ma, tandanya seorang lelaki serius sama perempuan itu, gimana sih?"
"Ya dia tidak hanya memberi perhatian dan rayuan gombal, dia menunjukan keseriusannya untuk berkomitmen."
"Ke pernikahan?" tanya Quen ragu-ragu.
"Iya, kenapa tiba-tiba tanya seperti itu? Clara bertanya balik.
"Tidak apa-apa, tapi, Ma. Kalau lelaki itu baru beberapa kali bertemu dan belum lama dekat meski sudah lumayan lama saling tahu, langsung melamar, apakah dia tidak aneh?"
"Mama rasa, sih tidak sayang. Justru pria itu sudah yakin dan benar-benar ingin hidup berama wanita punaannya, tak mau memberi kesempatan pada pria lain untuk berusaha mendapatkannya."
Quen mengangguk-angguk mengerti, tapi. Hatinya masih ragu untuk menerima Aditya, jujur dia masih merasa nyaman saat bersama Alex, selain usia mereka sama, Alex lebiu bisa mengerti Quen, dan Quen tidak.merasa kaku saat bersama Alex, semuanya alami mengalir apa adanya tanpa rada kaku dan canggung.
Kembali dia terbesit ingatan bersama Alex terakhir ini, dia hapir setiap hari datang membawa makanan dari rumahnya semenjak Quen bilang tidak boleh makan di luar terus sama mamanya.
Terlihat konyol buat anak seusianya, tapi, justru hal itu membuat Alex semakin menyukai Quen. Bahkan pria itu berharap suatu saat bisa membawanya pulang dikenalkan kepada ibunya sebagai menantunya.
"Quen, kok ngelamun! Kau mikirin apa?" tanya Clara mulai curiga.
"Ah, tidak Ma. Emmmnbbb Mama sama Papa dulu nikah usia berapa?" Mama ya? Usia duapuluh tahun, terus usia duapuluh satu punya anak kamu dan kak Al," jawab Clara jujur karena Quen sudah tahu keberanrannya, jadi, buat apa ditutupi?
"Gak lulus kuliah, donk?"
"Ya habis nikah sama kuliah, Quen. Sempat izin saat hamil besar dan melahirkan. Setelahnya, mama kembali sampai S1," ucap Clara.
"Kasian ya, kuliah S1 tp pengangguran," umpat Quen dalam hati, sementara ia senyum-senyu. Menahan tawanya.
"Kenapa? Ada yang melamarmu ya?" tanya Clara.
"Emb, iya Ma. Tapi.... " Quen tidak melanjutkan kalimatnya. Melihat raut wajah putrinya Clara tahu kalau Quen masih ragu menerimanya, tapi, saat melihatnya bersama Alex tadi pagi sepertinya dia suka dengan pria itu.
"Siapa yang melamarmu? Alex?"
"Bu... Bukan, Ma," jawab Quen cepat.
"Terus siapa? Kamu suka gak sama dia? Dan dia gimana baik atau tidak?"
"Dia orangnya baik, Ma. Dia seorang dokter yang sudah punya praktek sendiri, sesekali ya bekerja di rumah sakit Medica, dia adalah dosennya Quen."
"Kamu tidak perlu buru-buru. Kau masih muda, dan masa depanmu masih panjang, kenali dia lebih dulu, tapi ingat pesan mama. Lelaki yang benar-benar tulus mencintaimua, ia tidak pernah berusaha mendapatkan tubuhmu saja. Jika dia merayau atau apalah demi satu hal itu sebelum menikah sekalipun sudah tunangan, jangan ragu-ragu meninggalkannya!" Seru Clara dengan tegas.
__ADS_1
"Baik, Ma. Makasih, ya?" ucap Quen memeluk Clara.
🌸 🌸 🌸 🌸
"Kita mau kemana sih kek?" tanya Al mulai bosan dengan perjalanan yang tak tahu kemana tujuannya. Sudah hampir satu jam di mobil tapi, tidak juga menemukan kemana tujuan Andreas mengajaknya pergi.
"Sebentar lagi juga tiba," jawab Andreas.
Dan ternyata benar saja, mereja sampao di sebuah warung kopi angkringan dari bambu, dengan bangunan serba bambu berwana natural terlihat clasik tapi tempatnya masih asri dan nyaman.
"Hari ini kita santau di sini saja, ayo turun. Pesanlah kopi untuk kita berdua!" Perintah Andreas kepada cucunya.
Saat keduanya sudah santai Andreas menunjukan sesuatu kepada Al berupa beberapa lembaran kertas.
"Apa ini, Kek?" tanya Al sambil mencermati isi tulisan dalam kertas itu dengan serisu.
"Kau baca saja jangan terus bertanya!"
Sesaat kemudian raut wajah Al berubah, pria ber iris cokelat keemasan itu menunjukan binar kebahagiaannya, ia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja di bacanya.
"Serius, kek? Terimakasih ya kek." ucap Al bahagaia.
Andreas hanya mengangguk sambil tersenyum kecil, ia turut merasa bahagia atas Al.
"Kapan Kakek membubarkan organisasi ilegal itu. Kek? Jadi, Al cuma fokus dengan usaha perpesawatan di Jepang saja, ya tanpa kembali berkecimpung di dunia hitam?" Lirih Al.
"Iya, kakek sudah turutinpermintaanmu, sebagai gantinya turuti juga permintaan kakek."
"Apa, keka?"
"Satu, mulai saat ini tekuni usaha ini dengan serius, dua jaga baik-baik adikmu Quen. Dan ketiga, tetaplah jadi cucu dan putra krluaga ini, meskipun sekarang kau sudah menemukan keluarga kandungmu," ucap Andreas dengan tulus setengah memohon.
"Baik, kakek. Apapun yang terjadi.kalian yang sudah merawatku sejak kecil. Aku tidak mungkin meninggalkan kalian," ucap Al. "ngomong-ngomong, kapan Kakek mengurus pembubaran geng kiya di Jepang ini?"
"Sudahlah kau tak perlu tahu, bukankah ini permintaanmu sejak lama?" ucap Andreas sambil menyeruput kopinya yang sudah disajikan sejak tigapuluh menit lalu.
"Usiamu sekarang sudah duapuluh enam lebih, Al. Tidakkah kau ingin menikah? Gadis mana yang kau sukai? Bilang sama kakek biar kakek yang melamarkan untukmu," ucap Andreas tiba-tiba.
"Al juga tidak tahu, Kek."
"Apa kau benar suka sama Lyli?"
Al mengangkat kepalanya memandang ke arah Andreas sambil tersenyum getir ia mengelengkan kepalanya, "Al cuma menuruti Quen saja."
"Kau sayang sama Quen?"
"Tentu saja, jika tidak, dari awal sudah kutolak saja Lyli."
"Apa kau mau menikah dengan Quen?"
"Apaan, Kek? Tidak! Tentu saja tidak. Dia adikku, aku mau dengan Lyli karena Quen menyukainya, jika dia jadi saudari ipar agar akrab karena sudah cocok satu sama lain."
"Lalu siapa wanita yang kau sukai?"
"Kami sudah tidak bisa bersama lagi, Kek. Dunianya sudah berbeda." Al nampak murung.
Andreas menepuk pundak Al. Memberinua semangat dan dorongan, "Semoga dia tenang di sana, dan kau juga mendapatkan ganti yang sepertinya bahkan lebih baik lagi.
Di sini Al hampir saja tertawa, kalimat Al memang sangat ambigu, tidak salah juga jika Andreas mengartikan seperti itu, padahal maksut Al beda dunia itu, adalah dirinya yang menyendiri dan Clara yang sudah lebih dulh bersuami.
"Kelak kalau sudah waktunya aku juga ketemu dengan yang seperti itu kek."
🌸 🌸 🌸 🌸
Aditya terlihat sangat tidak tenang. Melihat duduknya dengan menggerak-gerakan kakinya berulang kali, dan entah sudah keberapa kali dalam sepuluh menit dia melihat ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
"Selamat siang, Pak..."
Aditya menoleh dilihatnya seorang gadis mengenakan rok turun pinggang seatas lutut, dan kemeja sebatas lengan dengan sepatu weadges berwarna putih, membuat ia terlihat semakin tinggi saja.
"Jangan memanggilku Pak," ucap Aditya dengan wajah datar.
__ADS_1
Gadis itu terkikik geli lalu duduk di sebelah Aditnya dan meletakan tasnya di antara dia dan lelaki di sampingnya.
"Lalu, aku memanggil anda apa? Papanya Axel?"
"Panggil aku calon suami," ucap Aditya sambil memandang Quen yang seolah tiada kesan serius jika terus saja tertawa seperti itu.
Quen terdiam sesaat. Ia tahu, jawabannya nanti akan membuat lelaki di sampingnya sakit. Tapi, nyatanya dia benar tidak mampu berperang dengan batinnya sendiri. Selagi semua belum terlanjur dan terlambat.
"Kenapa aku harus memanggilmu calon suami, Pak? Yang jelas dan sudah pastu anda adalah dosen saya di Kampus," ucap Quen masih dengan senyumnya.
"Lalu, apakah itu berarti kau menolak lamaranku?"
"Pak, sepertinya benar anda terlalu cepat, saya baru menginjak smester du..." kalimat Quen mengambang karena terpotong dengan kata-kata Aditya.
"Ya, aku tahi masa depanmu masi panjang sebab kau... " ucap Aditya enggan melanjutkan kalimatnya.
"Masih muda?" ucap Quen sambil tertawa.
"Well... Dan aku." Aditya meluruskan pandangannya tidak lagi melihat ke arah Quen yang duduk di sampingnya.
"T-U-A," ucap Quen membuat tawanya semakin menjadi seperti orang kesurupa.
Bahkan, ia sempat memegangi perutnya dengan medua tangannya, merasa ekspresi yang Aditya tunjukan sangat lucu, lebih kocak dari pada seorang badut sekalipun.
"Hahaha, aduh, pertuku, hahaha maaf, Pak. Aku belum bisa berhenti tertawa, hahaha." Ia pun menyeka air mata yang keluar karena saking terpingkal-pingkalnya. Lalu mengatur napas sejenak dan berusaha untuk tenang tidam tertawa.
"Aku tidak tua, Quen. Aku cuma dewasa saja. Ya mungkin kau keberatan, sebab perbedaan usia yang terlalu jauh, apalagi statusku adalah duda beranak satu.
"Bukan itu, Pak. Aku tidak mempermasalahkan statusmu, tapi, aku ingin kita jalani saja dulu semua ini, simpan cincin ini untukku, jika kelak aku sudah lulus silahkan lamar aku lagi tapi, jangan seperti kemarin." ucap gadis itu menyerahkan cincin itu kembali. Lalu, tanpa pamit dia pun pergi meninggalkan Aditya di taman.
Aditya memperhatikan gadis itu berjalan cepat, karena ia tahu, kalau saat ini gadis itu tengah ada kelas di kampusnya, dan bukan dia yang mengisinya.
Semakin lama langkah Quen semakin lamban, senyuman di wajahnya yang membuatnya nampak ceria kini memudar dan cenderung murung.
"Maafkan aku, Pak. Aku sulit berperang dengan batinku, bukan aku tidak menyukaimu, dari awal puj aku seperti mereka juga turut mengagumimu, sebelum rasa kagumku berubah cinta, mungkin aku bisa mencegahnya seperti ini, kelak jika kau bukan jodohku, biar aku tidak terlalu sakit melepaskanmu. Dan semoga kau menemukan wanita yang benar-benar mencintaimu, bisa menerima dan diterima Axel.
Beruntung waktu itu Quen menceritakan pada mamanya tentang Aditya yang dia ketahui, sebagai seorang ibu, jelas Clara tak ingin anak-anaknya salah memilih pendamping, begitu mendengar kalau lelaki yang melamar putrinya juga bekerja di Rumah Sakit papanya Lusi, ia pun langsung menelfon lusi untuk mencari informasi.
"Hay, Lus, apakah kau sedang sibuk?"
"Tidak, Ra. Hari ini aku libur, ini aku di Cafe menemani suamiku, kau jika senggang, kemarilah bersama kami."
"Ok baiklah, aku ke sana sekarang, ya?" ucap Clara lalu mematikan panggilannya. Ia meraih tas cangklongnya lalu ke garasi mengemudikan mobilnha menuju ke cafe Reza.
Tiba di sana Clara sudah di sambut oleh Lusi yang duduk di pojok tempat mereka dulu biasa nongkrong bersama-sama. Sekarang setelah semuanya menikah dan mempunyai kehidupan sendiri-sendiri jadi jarang bertemu, maximal mereka Video call an bersama.
"Sepertinya ada yang mau diomongin, nih?" Tebak Lusi saat Clara duduk di depannya.
"Iya, kau memang selalu tahu tentang kami sejak dulu, harusnya jadi peramal saja, jangan dokter." Canda Clara. Dan Lusi pun tertawa mendengar ucapan sahabat kecil suaminya ini.
"Udah jangan sungkan-sungkan, kenapa? Apa kau hamil dan malu karena anak-anakmu sudah dewasa, takut dikira cucumu? Tenang kau masih muda dan pantas kok, punya baby."
"Baby, apaan. Aku lagi dapet," ucap Clara cemberut. "Lus, aku mau tau dong tentang dokter Aditya yang bekerja di Rumah Sakit papamu."
Lusi diam sejenak nampak mencoba mengingat-ingat hanya ada satu dokter yang bernama Aditya di Rumah Sakitnya.
"Aditya Mahendra, dia dokter THT dan kalau tidak salah dia juga menjadi dosen di kampusnya Quen lo, ada apa, Ra?"
"Nah, aku perlu informasi tentang dia Lus, plis bantu aku." Clara memohon dengan raut wajah di melas-melaskan.
"Dia kalau tidak salah tu duda, punya anak satu, udah dua tahun rumah tangga dengan istrinya hancur karena istrinya kepincut dengan seorang pilot. Istrinya pramugari, tapi baru tiga bulanan ini dia resmi menyandang status Duda, karena lelah mempertahannya istrinya. Kenapa, Ra?"
"Dia adalah dosennya Quen, dan dia dekat dengan Quen hanya saja ia tidak menceritakan secara gamblang saja."
"Maksutmu Aditya dan Quen saling menyukai? Ya kalau jodoh gak papa sih, Ra. Aditya masih keren dan ok loh di usianya yang ke tigapuluh satu. Sperti Vano dulu, betapa banyaknya yang mengejar sampai sekarang, hahaha." Lusi tertawa mengingat saat Clara kabur dari rumah soal Raisha.
"Sudah, jangan ingat-ingat hal itu lagi, Lus," ucap Clara cemberut sambil meminum jus jerul yang sudah disiapkan Lusi sebelumnya.
"Sebenarnya banyak yang menyukai Aditya, Ra di rumah sakit, beberapa perawat dan staf dokter lainnya, hanya saja begitu, Aditya bilang dia tidak sekedar mencari istri, melainkan ibu untuk putranya. Jika putranya suka, dia akan menikahi wanita itu sekalipun tidak cinta, tapi, kalaupun dia terlanjur cinta dan putranya tidak menyukai wanita pilihannya ia tetap menolaknya, begitu yang pernah dia katakan padaku, karena dia pun lumayan dekat denganku di rumah sakit."
Ucap Lusi menjelaskan panjang lebar, kawatir hal buruk terjadi pada Quen. Selain putri sahabatnya, ia pun juga memiliki seorang putri yang usianya satu tahun lebih muda dari Quen.
__ADS_1