
"Kau sudah ada gadis yang kau incar? Cepat kejar dia! Jika dapat, bawa pulang, dan kenalkan pada kami."
"Masih proses, Pa. Sabar saja dulu," jawab Axel lagi, sambil sesekali kakinya menyenggol kaki Berlyn.
Berlyn mulai merasa kesal Cepat dihabiskannya makanan yang ada dipiringnya. Kemudian, ia segera beregas meninggalkan meja makan dan segera ke kamarnya.
"Lyn, kamu makan cepat banget, Sayang?" tanya Al ketika ia merasa kalau ada yang aneh dengan putrinya.
Gadis itu hanya tersenyum. Kemudian dengan bahasa isyarat ia menjawab, bahwa dirinya merasa lelah dan ingin segera istirahat. Sebab, besok ia akan mengituti seleksi lomba matematika. Jika terpilih ia akan menjadi wakil dari sekolahannya.
"Ya sudah, selamat malam, Sayang, mimpi yang indah, ya?" ucap Al. Kemudian ia beranjak menghampiri putrinya dan mengecup keningnya. Hal itu juga dilakukan oleh Queen.
"Tidak inta cium kak Axel juga, Lyn? Hehehe."
Berlyn tidak menimpali selain hanya melotot pada pria itu karena sudah merasa sangat kesal.
Tiba di kamar, awalnya Berlyn ingin chat dengan Adriel. Menanyakan tentang salah satu suporter yang tadi dibahas oleh Axel, malah keduluan panggilan vido dari kembarannya berbunyi.
"Fiuuuh!" Berlyn hanya menghela napas. Diraihnya benda pipih itu diatas nakas lalu mengangkatnya.
"Alyn. Aku punya saran buat kamu," ucap gadis itu to the point begitu panggilannya dibuka.
Berlyn tidak menjawab, ia hanya sedikit memajukan dagunya sebagai isyarat kata apa. Sambil memperhatikan kembarannya dari balik layar yang sepertinya tengah membanggil jasa warna rambut ke losmen yang disewanya. Jelas saja, ia tidak berani menunjukkan diri di depan kedua orangtua mereka dengan rambut warna terang seperti itu. Kecuali coklat masih tidak masalah.
"Kamu, jika ingin tahu seberapa besar cintanya Adriel padamu, jangan tunjukkan padanya kalau kau bisa berbicara. Axel sudah menghabiskan banyak waktu berusaha mengajarimu kata demi kata agar kau bisa berbicara. Tapi, tidak dengan adiknya, kan? Percayalah, yang terbaik itu tidak akan pernah pergi dengan alasan tak sempurna."
Berlyn nampak berfikir. Memang selama ini komunikasi antara dia dan Adriel sangat nyambung dan terjadi sangat lancar. Tapi, sekalipun remaja itu tak pernah mengajarinya untuk berbicara kata demi kata seperti yang kakaknya lakukan Axel memiliki ketulusan dan cinta yang begitu luar bisa. 'Ah, kenapa aku jadi memikirkan bocah itu?' umpat Berlyn dalam hati.
"Bagaimana? Apakah kau sudah mempertimbangkan? Sesekali uji juga itu si Adriel dengan ketidak nyambunganmu. Jika memang dia masih setia, fix kau boleh ambil salah satu dari kakak beradik itu tanpa ragu," imbuh Clarissa sambil membiarkan seorang wanita memasang pewarna rambut di rambut panjangnya.
Berlyn tersenyum dan menacungkan ibu jarinya pada Clarissa. "Thak's, ya?"
"Oke, sama-sama. Sekarang, kau belajarlahlah. Aku juga ada beberapa yang perlu dikerjakan!" seru Clarissa kemudian mengakhiri panggilannya.
Sekitar pukul setengah sepuluh,malam Berlyn sudah merasa lelah dan mengatuk. Ia mengeliatkan tubuhnya dia tas kursi belajarnya sambil memijit tengkuknya dengan lembut. Tapi, tiba-tiba saja terdengar ketukan pintu dari luar kamarnya. Tanpa pikit panjang gadis itu beranjak dan tak mengintipnya dulu dari lubang kunci. Karena sudah malam, ia berfikir yang datang pasti papanya menanyakan belajarnya sampai mana, sudah dipersiapkan atau belum. Sebab, yang biasa seperti itu juga selalu papanya. Mamany? dia bukan tidak peduli. Tapi, sudah percaya sekaki dengannya.
"Tok... took... toook!" Pintu itu terus diketuk dengan suara yang tak begitu nyaring. Benar-benar ketukan khas dari papa Al.
Dengan wajah yang sudah tersenyum Berlyn membuka pintu kamarnya. Tapi, ia dibikin terkejut dengan sosok yang berdiri di depan kamar. Dia langsung membekap mulutnya dan mendoronnya masuk kamar dan menguncinya dari dalam. Ia salah terka, pria itu bukanlah papanya.
"Kak Axel! Apa yang kau lakukan?" bentak gadis itu dengan suara tertahan dengan mata yang terbelalak kaget.
Sementara Axel hanya tertawa dan cengar-cengir saja terus tanpa menghiraukan kemarahan gadis di depannya.
"Mau apa, kau?" bentak Berlyn dengan tubuh bergetar. Ia cukup takut saja dan pikirannya mulai kemana-mana.Apalagi, baru-baru ini terjadi hal buruk menimpa kak Bilqis. Membuat Berlyn kian parno an saja. 'Ya, Tuhan! Dia masih manusia dan berprikemanusiaan, kan? Aku takut, ya Tuhan,' ucap Berlyn dalam hati. Ia juga mulai benci dengan pikirannya sendiri. Mungkin dia terlalu banyak baca cerpen-cerpen yang beredar di media sosial kalau banyak karena cinta si cowol ditolak, si cowok nekat perkosa si gadis dan menghamilinya agar mau dengannya. Perlahan, Bilqis melangkah mundur.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Axel melangkah mendekati Berlun, diraihnya pnggang gadis itu yang ramping dan mendekatkan pada tubunha, sebelah tangannya meraba punggung Berlyn dan menempelkan pada tubuhnya memeluk erat sambil menciumnya dengan cukup lama.
__ADS_1
Berlyn terpaku hanya diam san sedikit mengeluarkan desahan halus dari mulutnya karena merasa kehabisan napas. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa Axel berani melakukan ini. "Haaaah," Akhirnya Berlyn bisa bernapas lega juga setelah sekitar hampir dua menit menahan napas karena Axel mengulumnya.
"Wow, manis sekali sayang. Selamat tidur, ya?" ucap ria itu sambi tersenyum.
"Dasar pria gila!" umpat Berlyn.
"Apa? Gila? Emang aku gila dan tergila-gila padamu. Kau tenang saja. Aku tidak semesum itu. Tapi, jika kau mau, aku tidak keberatan. Aku sudah siap menjadi ayah untk anak-anak kita kelak. Selamat malam sayang. Cepatlah tidur, semoga tidurmu nyenyak!" ucap Axel sambil mengecuk kening Berlyn. Lalu, dia menyelinap keluar dan kembali ke kamarnya.
Rumah sudah sangat sepi sekali. Papa Al dan mama juga sudah berada di dalam kamarnya. Mungkin juga sudah tidur. Pasti mereka juga lelah setelah seharian beraktifitas.
Merasa tidak tenang meninggalkan adiknya seorang diri, Axel memutuskan untuk pulang saja. Dia sudah biasa seperti itu. Bilangnya nginep tapi pulang. Bilang tidak menginap, tapi malah ketiduran.
Sementara Berlyn masih saja bengong, tiba-tiba dipeluk dan dicium laki-laki sampai begitu intens. Tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan kehangatan tubuh Axel saat memeluknya juga masih terasa. Sekarang, Berlyn merasa kalau tubuhnya melayang dan tak memiliki bobot seoerti kapas. Siap melayang kpan saja ketika angin menerpanya.
*****
Pukul enam tiga puluh, para tamu undangan yang sebagian besar berasal dari teman-teman sekolah Berlyn sudah banyak yang datang memenuhi halaman depan rumahnya. Berlyn berdiri memandang ke arah pagar menunggu sosok yang baginya spesial. Tapi, sayang. Sosok itu tidak juga kunjung nmenampakkan batang hidunya.
"Kamu nunggu pacar kamu, ya? Aku juga penasaran, loh," ucap seorang gadis berambut ikal panjang sebahu. Ia mengenakan dress selutut warna hijau botol dengan bagian belakang memanjang seperti ekor hingga menyentuh tanah. Cntik dan elegan. Pas sekali denga postur tubuh gadis itu yang ideal dan wajahnya yang rupawan.
Oh iya, Berlyn meskipun dia memiliki keterbatasan tidak bisa bicara, dia bisa masuk sekolah umum dan sekolahan favorit karena kecerdasannya. Meskipun tidak bisa bicara, dia bisa memberi penjelasan pada guru melalui tulisan.
Berlyn hanya tersenyum pada teman sekelasnya itu. Tidak lama kemudian, dari halaman dua orang pria mengenakan jas warna hitam dan kemeja putih di dalamnya menyapa dirinya dan membawakan kado untuknya.
Inez, terkejut melihat dua pria blasteran yang gantengnya maximal itu. Memang, selisih usia diantara keduanya sangat jauh, Axel berusia tigapuluh tahun, sedangkan Adriel baru delapanbelas tahun. Tapi, seperti ada yang aneh dengan mereka berdua.
Berlyn diam terpaku melihat dua wajah itu yang terlihat seperti seumuran. dalam hati ia membatin, 'Inikah devinisi makin tua makin ganteng? Atau, karena dia sukanya sama gadis belia, jadi awet muda. Apa memang mataku yang salah saja, saking seringnya menerima ciuman darinya merasa kalau kak Axel lebih keren dari Adriel?'
"Biar aku tebak. Pacar kamu yang sebelah kiri pasti, ya?" ucap Inez, sambil merangkul pundak Berlyn di balik balutan gaun berwarna putih salju itu.
Gadis itu hanya mengelengkan kepalanya beberapa kali. Kemudian beranjak ke arah papanya yang tengah mengobrol dengan teman kerja dan didampingi juga oleh mamanya.
"Ini putri anda, Pak? Wah cantik sekali, saya seperti melihat boneka barbie hidup saja," puji salah satu golega papanya. Dari segi usia dia tidak tua. sepertinya seumuran dengan Axel. Berlyn jadi kian eneg saja. Pergi mendekati papanya dengan harapan agar terhindar dari godaan Inez, ini malah teman kerja papanya.
Berlyn hanya tersenyum, mengangguk pelan kemudian ia pergi meninggalkan tempat tersebut. Acara ulang tahun yang sangat megah dan didatangi oleh banyak tamu undangan sungguh benar-benar membuatnya merasa tidak nyaman. Ia mencari tempat yang sepi, kemudian menghubungi Clarissa kembarannya dengan maksut agar dia datang menggantikan dirinya. Tapi, gadis rubah itu malah dengan teganya mengatakan tidak.
"Tidak mau! Ini pesta kamu, ya nikmati saja. Kenapa harus repot-repot aku menggantikanmu?" tilis bocah itu pada pesannya.
"Hey, kau jangan begitu, lah. Aku mohon sama kamu gantikan aku. Aku tidak nyaman berada di pesta seperti ini. Kau kan sudah terbisa berkumpul dengan orang banyak dalam acara perjamuan dan sebagainya," tulis Ber;yn, pantang menyerah.
"Ya, kau benar. Tapi, saat perjamuan, aku kan menjadi dirku sendiri tanpa repot-repot bawa reputasimu sebagai gadis yang kalem. Kalau aku khilaf, bagaimana?" bantah Clarissa.
"Khilaf yang bagaiman dulu?"
"Emang kamu berani berapa, sih suruh aku gantiin kamu?"
"Aku berikan Axel padamu," balas Berlyn.
__ADS_1
Clarissa tidak membalas. hanya stiker pentol tertawa saja. Lucu sekali, Berlyn memberi imbalan pada sesuatu yang ia anggap mengusik.
"Bagaimana? Kau mau, tidak?"
"Berlyn!" Seketika gadis itu terkejut sampai ponselnya terjatuh diatas rerumputan hias yang sengaja di tanam untuk mempercantik taman.
Gadis itu menoleh cepat, didapatinya Axel yang mengenakan jas rapi dan rambut yang ditata rapi model jambul ala-ala anak muda.
Pria itu berjalan mendekat berdiri di hapadannya. Sesaat ia melihat wajah Berlyn yang sedikit panik, lalu menunduk melihat pada benda pipih milik Berlyn tadi yang terjatuh ketika tanpa sengaja ia membuatnya kaget. Axel menunduk dan memberikan padanya sambil berkata, "Maaf, jika membuatmu terkejut."
Gadis itu tersenyum. lalu, mengelengkan kepalanya perlahan dan tersenyum. Memang dia tidak menyalahkan Axel. Dia saja yang terlalu fokus dengan ponselnya dan lagi, dia tengah chat dengan seseorang yang memang tidak boleh orang lain tahu tentang dirinuya. Wajar saja dia sampai begitu terkejut.
"Ini adalah pesta ulang tahunmu. Kenapa kau malah menjauh dari para tamu undangan? Sapalah mereka," ucap Axel dengan lembut sambil memperhatikan wajah gadis dihadapannya yang tertunduk malu-malu.
Berlyn tidak menjawab.
Axel kembali memajukan langkahnya selangkah lebih dekat dengan gadis itu."Kau bicaralah! Hanya ada kita berdua saja di sini. Kita jauh dari keramaian," bisik Axel.
"Tidak apa-apa," ucap Berlyn lirih, dan hampir tidak terdengar oleh Axel. Terlebih alunan musik yang disetel juga lumayan kencang.
Axel diam sejenak. Ia berusaha berfikir mengingat bagaimana keseharian Berlyn. Selama ini setiap ulang tahun juga tidak pernah digelar semewah ini. Paling hanya menundang keluarga terdekat saja juga sudah cukup banyak. Karena, masing-masing dari sahabat papa Al dan mama Queen juga sudah pada memiliki anak yang seumuran dengannya. Hanya dia dan Bilqis saja yang merasa paling tua diantara mereka.
"Kau tidak menyukai keramaian, ya? Ayo biar kak Axel temani kamu," tawar Axel.
Tapi, gadis itu hanya diam. Menjauh agar tidak digoda Inez, malah ini mau sama Axel saja di depan umum. Apa tidak kian fatal saja kesalah pahaman ini.
"Eh, kalian di sini rupanya, aku mencari kalian, lo," sapa Adriel setelah berhasil mendapati mereka berada di tempat yang sedikit jauh dari keramaian.
"Kalian mau ngobrol berdua? Silahkan saja, aku cabut dulu," ucap Axel. Menunjukkan sikap biasanya pada Berlyn di depan Adriel. Sungguh tidak nampak sekali kalau dia diam-diam juga menyukai dirinya.
'Pria, ini... ektingnya benar-benar tingkat oskar. Berlaku sopan dan menganggap aku adik di depan Adriel, tapi mesum di belakang Adriel. Bahkan, selama ini Adriel belum pernah menciumku. Tapi, dia malah berkali-kali,' umpat Berlyn dalam hati.
Kini, di tempat itu hanya ada Adriel dan Berlyn. Keduanya terlihat sangat canggung. Sesekali saling memandang dan tertawa.
"Kenapa menyepi sendiri di sini?" tanya Adriel memulai percakapan.
Gadis itu menoleh dan kemudian tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Ayo, biar aku temani," tawar Adriel sambil mengulurkan tangannya pada gadis di sebelahnya.
Dengan senang hati, Berlyn menerima tangan itu dan mereka pun berjalan bersama.
Sementara Axel yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua dari jauh merasa terbakar hatinya saat menyaksikan bagaimana mesranya dua insan itu. Bahkan, Berlyn juga nampak manja sekali pada adiknya. Tatapan mata itu begitu meneduhkan. Lain dengan caranya ketika menatap dirinya.
"Coba kita lihat, akan bertahan berapa lama begitu? Kelak, tatapan manja itu akan berubah manja saat menatapku," gumam Axel lirih.
Di sebelah kanan, tidak jauh dari tempatnya, terlihat oleh Axel segerombolan gadis SMA dengan pakaian yang lumayan sexi. Bahkan kelihatannya, pakaian itu juga tidak murah, pasti anak orang kaya. Axel tersenyum miring ketika menemukan ide. Lalu, ia berjalan menghampiri mereka yang terdiri dari tiga orang.
__ADS_1