Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION#2 6


__ADS_3

Dengan menggandeng tangan Lyli, Al berjalan menuju ke arah kakeknya. Begitu tiba di hadapan sang kakek, dengan tenang Al menjelaskan.


"Kakak tadi menyapu di tepi kolam, mungkin dia tergelincir sampai jatuh. Dan ternyata Kak Lyli tidak bisa berenang."


Andreas bersendeku sambil tangan kanannya memegang dagu, ia tidak begitu fokus dengan apa yang dikatakan cucu jagoannya, tapi, pandangannya malah tertuju pada tangan Al yang masih menggandeng tangan Lyli.


"Baiklah, kalian segeralah ganti pakaian. Dan kamu Al. Habis ini temui kakek di ruang baca, ya," ucap Andreas lalu masuk ke dalam lebuh dulu.


Dengan cepat Lyli langsung menarik cepat tangan kanannya yang digenggam oleh Al.


Wajahnya memucat, jantungnya kian tidak terkontrol.


"Tu... Tuan, saya permisi ke dalam dulu, terimakasih atas pertongan, Tuan." Lyli membungkukkan badan lalu permisi pergi.


Al menghela napas dalam-dalam dsn menghembuskannya dengan cepat melihat ke arah gadis yang empat tahun lebih muda darinya itu.


Mengingat sudah ditunggu kakek Andreas, ia segega ke kamar untuk mengganti pakaian.


******


"Kamu kena marah mamamu, atau papamu, Quen? Bajumu kok baru lagi?" goda teman se gank nya.


"Abangku yang minta aku pakai baju kaya gini," jawab Quen, cemberut.


"Adek abang, patuh sekali, ya... Hahaha," ejek teman-teman Quen.


"Uda! Uda! Stop!" Seru Quen.


Sejenak dua temannya pun hanya diam saja.


"Kita ke kantin dulu, Yuk!" ajak Quen pada Sinta dan Bela.


"Eh, Quen. Gak salah tuh, si Alex?" Bela menunjuk pada pria kelas reguler yang tengah berjalan sambil merangkul seorang siswi.


Dengan kompak Quen dan Sinta menoleh ke luar.


Quen yang melihat pemandangan itu langasung berdiri dan hendak mengejar pria bernama Alex tersebut.


"Tenag dulu, Quen! Kita lihat dulu mereka. Jangan asal nyamperin," ucap Bela lagi sambil menahan Quen agar tidak pergi.


"Ya sudah, kita ikuti mereka. Kalau aku lihat mereka aneh-aneh, jangan cegah aku lagi," ucap Quen menahan kesal.


Atas permintaan Quen, Sinta dan Bela mengikuti Alex diam-diam dari belakang.


Rupanya mereka berdua menuju kantin, keduanya memesan satu mie goreng porsi jumbo dan memakannya bersama.


Quen mengepalkan kedua tangannya, menahan marahnya. Tapi, saat melihat pria yang sudah enam bulan ini ia pacari menyuapi gadis di depannya, ia tidak bisa diam lagi.


Tanpa menegur ia langsung meninju keras mata Alex, saking kerasnya ia sampai terjengkang jatuh ke belakang dari kursinya.


Quen mengeratkan giginya ia berusaha menhan diri untuk menghajar pria di depannya.


"Hey, apa-apaan, kamu?" teriak gadis yang bersama Alex.


Quen melirik papan nama di dada kiri gadis itu, 'Helen, ya?' batinya.


Dengan sigap Quen menangap tangan Helen saat hendak menaparnya, ia menguntir sedikit lalu mengibaskan.


Melihat Helen yang kesakitan Quen tersenyum sinis sambil memutar bola matanya, "Pastikan dulu kekuatnmu sebelum menyentuhku, ok?"


Ia pun berjongkok melihat Alex yang masih terkapar sambil kedua tangannya memegagi bekas tinjuan Quen di mata kanannya.


"Jangan cari aku lagi, kan sudah ada dia, kita putus aja, ya?"


Quen pun kembali berdiri melihat dengan pandangan menghina ke arah Helen sambil tersenyum licik, lalu melangkah pergi.


Helen pun berjongkok menolong Alex yang kesakitan, "Alex, kau tidak apa-apa, kan?" tanyanya panik.

__ADS_1


"Aduuh, sakit banget!" Alex meringis kesakitan tanpa melepaskan kedua telapak tangannya dari matanya.


"Coba, sini aku lihat?"


Helen menganga kaget melihat mata kekasihnya yang dengan cepat sudah membiru dan sedikit bengkak.


"Ya ampun, Alex? Bagaimana bisa begini?" ucap Helen shock berat.


"Alex, bola matamu tidak pecah saat ditinju Quen aja uda suatu berkah karna nyakitin dia, lho!" ujar salah satu murit yang tetap cuek saat melihat insiden itu.


"Sebenarnya apa hubunganmu dengan wanita itu, Lex?" tanya Helen, serius.


"Kau pergi saja, aku kesakitan tidak perlu introgasi!" bentak Alex.


"Ma... Maaf. Baiklah, kita ke UKS, ya. Biar kurawat lukamu!" ucap Helen takut.


Alex diam sesaat seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Aku tidak mau ke UKS, kalau kau mau rawat aku, ikut pulang denganku!" Seru Alex serius.


Helen nampak berfikir sejenak, dengan berat hati. Akhirnya ia pun bolos sekolah demi pria yang baru kemarin ia pacarin.


Sementara Quen dia nampak sangat kesal, di kantin yang satunya lagi, ia duduk sambil menikmati minuman dingin yang ia pesan.


"Quen, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Sinta.


"Emangnya kenapa?" jawan Quen datar.


"Jangan diem saja, kami takut kamu kesambet, lah!" jawab Sinta lagi.


Sementara Bela, ia hanya diam, baru pertama kali ini ia melihat Quen benar-benar marah.


"Aku gapapa, lima menit lagi jam istirahat berakhir, ayuk kita masuk kelas!" Dengan semangat Quen meninggalkan kantin menuju kelas.


"Anaknya guru Biologi, wajarlah semangat, kan bapaknya yang mengajar," celetuk Bela pada Sinta.


"Iya, sih. Nilai kelulusan dari SMP nya aja nomor satu tingkat kabupaten," jawab Bela lagi.


****


Usai jam sekolah Quen membuka pesannya, dari bebedapa Chat, ia melihat ada nama Alex.


[Quen, maafin aku, kamu jangan asak putusin aku, donk!]


Quen enggan membalasnya, ia sibuk mengirimkan pesan balasan oasa chat yang lain.


Mungkin merasa pesannya sudah dibaca dan mekihat status WA Quen aktif, kembaki Alex mengirimkan pesan bahkan menelfonnya.


["Quen, dengerin penjelasan aku dulu jangan asal main putus,"] ucap Alex begitu telfonnya diangkat.


["Apa lagi yang mau kau jelaskan? Apakah dia juga memutuskanmu? Harusnya dari awal aku percaya sama kak Juna saja, ya?"]


["Quen, kau sudah membuat sebelah mataku hampir pecah, tidakkah kau puas?"]


["Ketika kau mulai menghinatiku, apakah kau tidak berfikir?"]


Quen pun menutup telfonnya, ketika ia berdiri di depan gerbang, seorang anak kira-kira satu tahun lebih tua darinya menghentikan motornya di depan Quen.


"Kita, kan searah, yuk nebeng," tawar siswa itu yang merupakan kakak kelas Quen.


Tanpa ragu-ragu Quen naik di belakang kak Juna dan berpegangan pada pinggangnya.


"Karna kakak yang menawari. Jadi, aku tidak akan sungkan!" Gadis itu tersenyum.


Motor pun melaju dengan santai, terkena angin di wajahnya Quen menjadi ngantuk, ia melirik spido di depan ternyata Juna hanya menjalankan motornya dengan keceptan 40km/jam. Pantas saja.


"Kak,"

__ADS_1


"Iya, Quen. Ada apa?"


"Tidak bisa berjalan sedikit cepat, kah?"


"Kenapa? Apakah kau buru-buru?"


"Bukan, aku ngantuk kalau berjalan pelan seperti ini." Quen menutup mulut dengan tangan kanannya saat menguap.


"Baiklah, pegangan yang kuat, ya!" ucap Juna.


Ia pun melajukan motor Ninja empat tag hijaunya dengan cepat. Meski kecewa karena tidak bisa berlama-lama dengan Quen, tapi, ia tidak ada alasan untuk menolak juga, kan?


Di depan rumah besar dengan halaman luas Juna menghentikan motornya. Quen pun turun, ia merapihkan rambutnya yang berantakan terkena angin.


"Ayuk, Kak. Mampir dulu!" ajak Quen.


"Iain kali saja, ya. Hari ini aku ada les musik," jawab Juna sambil tersenyum.


"Ok. Makasih ya kak, hati-hati." Quen tersenym sambil melambaikan tangannya kepada Juna.


Karena Juna sudah jauh dan tak nampak lagi dari pandangannya, gadis itu pun masuk ke halaman rumah, ia mendapati rumah yang sangat sepi. Tidak ada siapapun selain Lyli yang tengah santai di ruang tengah senyum-senyum sambil melihat ke arah gadgetnya.


"Kak, rumah sepi banget? Pada kemana?" tanya Quen.


Dengan cepat Lyli mematikan gawainya, memasukan ke dalam saku, "Tuan Andreas dan Tuan Andrean tadi bergi bertiga dengan Tuan Al juga, Non, sementara nyonya katanya arisan dan Non Clara belum kembali dari antar dokumen ke kantor Tuan Vano."


"O, ya sudah lah? Kakak masak apa?"


"Ada iga bakar bikinan Non Clara ini, Non Quen."


"Baiklah, aku mau itu aja, tolong ya kak. Aku mau ganti dulu," ucap Quen naik ke lantai atas.


Saat Quen kembali turun ke bawah makan siangnya sudah di siapkan di meja makan, sementara Lyli, dia tidak nampak lagi di sana.


"Kak... Kak Lyli."


"Iya, Non?"


"Uda makan siang, belum? Ayo sini temani aku makan!" Seru Quen sambil duduk mengambil nasi.


"Non makan saja, dulu,"


"Ayolah temani aku, kenapa sih? Gapapa!"


Karena Quen terus memaksa, Lyli pun menuruti saja, duduk di kursi sebelahnya dan sama-sama mulai makan siang.


Saat keduanya tengah makan, ada panggilan Video dari ponsel Quen.


Tanpa ragu-ragu Quen menjawab panggilan itu, meletakan di ataa Vas bunga hp nya agar pandangan penelfon jelas melihat ia tengah menikmati makan siang.


"Kenapa?" jawab Quen dengan nada ketus.


"Kau sudah pulang, Quen?"


"Ya, aku lagi makan, ada perlu apa?"


"Aku mau jelasin tentang tadi, itu cuma salah paham aku dan Helen .... "


"Sudahlah, gak ada yang perlu dijelasin, kita juga uda putus, kan? Aku mau makan dulu. Dan kau jangan lupa makan dari pada mati!"


Quen pun mematikan ponselnya.


Lyli bengong mendengar kata-kata yang digunakan saat berbicara barusan.


Pasalnya tiga tahun bekerja di sini, ia menilai Quen adalah sosok yang baik, sopan dalam bertutur, ini kok kasar banget, ya?


Lyli melihat aneh pada Quen, nonanya yang ini setiap hari terlihat baik-baik saja, makan masih doyan, tapi melihat saat ia mengobrol harusnya lagi patah hati, bukan?

__ADS_1


"Ah, bukan urusanku juga, kan? Non Quen kan cantik dan memiliki segalanya, putus dengan satu pria tidak akan jadi masalah buatnya, kan?"


__ADS_2