
Nayla sedikit gelagapan saat mengetahui papa mertuaya sudah
kembali dari rumah sakit. Dalam hati ia mengumpat, kenapa tidak satu orang pun
yang mengabariku, sih? Apakah keberadaanku di rumah sudah tidak lagi di anggap.
Nayla melihat Queen
nampak lebih cantik dari terakhir ia melihat sekitar satu bulan yang lalu.
Wajah wanita itu terlihat sangat cerah dan seolah mengeluarkan pancaran cahaya
putih. Terlebih saat ia menujukkan senyumannya dan berkata, “Selamat datang
kembali, papa.”
Vano tersenyum dan menoleh ke belakang dan mendongak melihat
ke arah putrinya.
“Karena papa sudah ada di rumah, kamu cepetan pergi ke
kantor, ya? Jangan biarkan clien besar menunggu kalian,” ucap Vano.
Queen pun berjongkok di depan kursi roda papanya dan
menyentuh kedua tangan pria itu. “Queen janji, setelah semuanya beres, Queen
akan segera kembali.”
“Apakah itu artinya kau akan meninggalkan apartemenmu,
Queen?” timpal Andrean.
“Tidak, maksutnya selama masa liburku, aku akan pulang
kerumah untuk menemani papa, Kek.”
Al pun bahkan juga ikut berjongkok di depan Vano, sejajar
dengan Queen. Andrean tersenyum seorang diri melihat mereka berdua, seolah
bagai pasangan pengantin yang bersungkem pada orang tuanya.
“Papa jaga diri, ya? Telfon kami jika ada apa-apa. Ya sudah,
kami berangkat dulu,” ucap Vano kemudian memandang ke arah Queen dan memberi
isyarat untuk mengajak berangkat.
Queen pun berpamitan pada papa dan kakeknya sambil mencium pipi
kedua pria itu dan juga tak lupa berpamitan pada bik Yul dan menyapa Nayla. Al
pun juga melakukan hal yang sama. Hanya saja, ia hanya melihat sekilas ke arah
Nayla dan mengabaikannya.
Di dalam mobil keduanya saling berdiam diri, untuk memecah
kesunyian, Queen menanyakan prihal hubungan Al dan istri pertamanya. “Kenapa
tadi tidak menyapanya?”
“Siapa?”
“Istri pertamamu.”
“Jadi, kamu sudah mengakui kalau kau adalah istri keduaku?”
Queen menghembuskan napas dengan kasar dan membuang muka kea
rah jendela.
“Aku malas dengannya. Sudah kubilang, aku hanya mencintai
kamu saja,” jawab Al dengan cepat begitu menyadari perubahan ekspresi Queen.
“Kau bosan dengannya? Akan lebih baik aku tetap datar
padamu, atau saat aku mulai mencitaiku kau juga melakukan hal yang serupa terhadapku.”
“Tidak akan. Itu karena kesalahan Nayla sendiri, dia terlalu
posesif tapi…. “ Al tidak meneruskan kalimatnya. Dalam hati ia berkata, ‘Hampir
saja keceplosan.”
“Tapi, apa?”
“Tapi gak mau intropeksi diri. Dia salah mencemburui wanita.
Gak seharusnya cemburu sama kamu, karena aku dituduh, aku kan jadi jatuh cinta
beneran sama kamu. Gimana dong? Kamu juga cinta sama aku, ya?”
Queen menahan senyumnya, kembali menoleh menghadap jendela
dan menutup bibirnya dengan jemari tangan kanannya yang letik begitu mendapati
ekspresi dan nada bicara Al yang sangat jenaka. Kemudian ia menoleh kea rah Al
yang nampak serius mengemudikan mobil.
“sudah sampai, ayo turun!” ajak Al sambil melepas sabuk pengamannya.
“Iya, aku bakal turun.”
Queen berjalan mendahului Al yang masih sibuk dengan apa
entah ia tidak mau tahu. Ia sengaja mepercepat langkahnya. Tapi, dengan cepat
Al sudah mensejajari langkahnya. Kemudian meneliplan jemarinya pada sela-sela
jari tangan Queen. Mereka berdua jalan bergandengan.
Perlahan Queen mencoba melepaskan gandingan tangannya dari
tangan Al. Tapi, Al menolah dengan mengeratkan jarinya dan menatap lembut kea
rah Queen.
“Ini di kantor,” ucap Queen saat pandangan mata mereka
saling bertemu.
“Kenapa memangnya? Jika perlu aku akan menciummu di sini dan
mengatakan pada mereka kalau kau adalah istriku.”
“Cukup, jangan cari masalah deh.”
“Baiklah.” Al teringat masih ada Jevin di sini. Jika saja
tidak… Tetap saja ia tidak berani blak-blakan. Sebab, itu hanya akan membuat
orang lain lain menilai Queen seperti perebut suami orang saja. Begitulah orang
luar kalau menilai hanya melihat dari sudut pandangnya sendiri tanpa tahu
bagaimana kebenarannya.
“Kamu tidak di tempat para staf lagi, melainkan satu ruangan
denganku.”
“Baik, Pak.”
“Eh, itu Queen, kan? Sudah satu bulan lebih tidak bekerja
kukira dia sudah resigin saja.”
“Lihat, dia sepertinya sangat akrab denbgan bos kita. Apa
jangan-jangan… “
“Apakah dia ****** yang menggoda pak Al sehingga menjadi
simpanannya?”
“Sebutan ****** tidak pantas untuknya. Justru pak Al yang
terlihat tergila-gila padanya. Apa kau tak pernah lohat bagaimana dia keluar
dari ruangan pak Al dan bergabung dengan para staf? Ayolah, jangan iri
menjadikan kita menjatuhkan seseorang.”
“Siapa yang iri sama dia? Ok aku tahu mengenai dia, dia
adalah seorang dokter. Harunya dia sudah sangat sibuk kenapa masih bisa ada
waktu datang kemari? Apakah dia kurang kerjaan?”
__ADS_1
“Sudahlah, bukan urusan kita. Bagus kalau Queen kembali
bekerja di sini. Jika pak Al adalah Singa buas, Cuma dialah satu-satunya pawing
yang mampu menakhlukannya.”
“Terserah kamu deh. Kurasa kau akan menjilatnya.”
“Coba katakana, apa yang kudapat dengan menjilatnya? Apa
dengan membaikinya aku bisa mendapatkan posisinya apa dengan begitu kau pikir
pak Al akan memandangku? Lihat saja Iren yang dipecat. Kurang apa dia selama
ini dan berapa tahun bekerja di sini? Dipecat Cuma karena berani mengusik wanita
pak Al. Ayolah, kita bekerja di sini cari gaji bukan cari muka, semakin baik
kinerja kita, jmaka semakin tinggi jabatan yang kita miliki.”
“Al, banyak sekali gossip mengenaiku.”
“Jika kau mau, aku pecat mereka yang membicarakanmu.”
“tidak perlu. Kurasa aku cukup membantumu menyelesaikan
tugas dari rumah saja.”
“Lalu, bagaimana jika aku digoda oleh para wanita, Sayang?”
protes Al dengan nada memelas.
“Hah, bagaimana? Ya seperti selama ini kau menghadapi dong!”
“Kan selama ada kamu mereka tidak berani godain aku, Sayang.”
“Kamu gombal! Sebentar lagi juga ada papa yang pasti akan
ikut terjun membantumu.”
“Baiklah, kalau begitu, kamu diam saja dirumah. Sibuklah
dengan urusanmu sendiri. Jangan pedulikan aku dengan wanita lain.”
“Itu hak kamu. Kalau memang mau mengoleksi wanitam=, kenapa
tidak dari dulu saja? Ngapain harus nunggu sampai tua,” jawab Queen.
“Maksutmu, aku ini sudah tua?”
“Ya, kau tua!”
Al yang mulai geram dengan Queen yang kian melantur
menghampiri wanitanya dan mencengkeram kedua bahu wanita itu dan mendekatkan
wajahnya. “Kau bilang apa barusan? Aku tua? Mari kiyta buktikan bagaimana
kemampuan pria tua ini, apakah masih bisa membuatmu… “
“Toook… Took… Toook… “
“Argh… Sial!” umpat Al kemudian ia menjauh dari tubuh Queen
dan kembali duduk di tempatnya dengan tenang sambil berlagak melihat kea rah monitor
pada komputernya dengan tampang serius.
“Masuk,” jawab Al dengan nada dingin, namun terdengar sexy.
Seorang wanita dengan pakaian ketat dan sangat mini seperti
kurang bahan berdiri di ambang pintu dan memamerkan senyuman dan tatapan
menggodanya pada Al. “Pak, ini ada
beberapa berkas yang perlu anda tanda tangani. Sebelumnya jangan lupa dicek
dulu, ya Pak,” ucap wanita itu dengan nada manja dan diselingi dengan desahan.
Queen yang sama-sama wanita, mendengarkannya sangat jijik.
Ia jadi berfikir, ‘Ketika bicara saja dia begitu, bagaimana kalau pas lagi di
atas ranjang? Hahaha, bahkan gerakannya di depan pria saja juga seperti itu.’
Al melirik kea rah Queen yang berlagak tidak peduli, di
“Jenie, apakah kau ada acara nanti saat jam makan siang?”
“Oh, tidak, Pak. Ada apa?” jawab wanita itu dengan nada yang
dibuat-buat.
“Kita makan siang bersama.” Pada saat mengatakan hal itu, ia
melirik kea rah Queen. Namun wanita itu masih saja seperti tidak peduli. Bahkan
saat ponselnya berdering, dengan segera ia mengambilnya dari dalam tas dan
menjawabnya.
“Halo.”
“…. ‘
“Oh, oke. Tentu saja aku bisa.”
“… ‘
“Baiklah! Kau mau aku menunggumu di mana?”
“Hahaha, tentu saja tidak. Kenapa memang?”
“… ‘’
“baiklah-baiklah. Aku akan menunggumu nanti. Ya sudah, aku
masih sibuk saat ini, aka nada clien yang ingin bertemu setengah jam lagi.”
“… “
“Itu, kamu tahu. Ya sudah, jangan bikin aku disemprot oleh
bosku karena joke-joke mu ini. Simpan saja untuk nanti. Byeee!”
Al mengamati Queen dengan tatapan cemburu dan tidak suka. Ia
takut kalau yang menelfonnya barusan adalah teman prianya. Tapi, siapa? Kenapa
dia nampak begitu akrab? Apakah Gea suka bercanda dan humoris? Sepertinya
tidak. Lalu siapa yang menelfon wanitanya sampai membuatnya terlihat begitu
bahagia. Bahkan saat ia sudah menutup panggilannya saja senyumannya masih
tersisa , hingga ia menghidupkan komputernya.
“Jenie, kau cepat keluar!” usir Al pada wanita yang bahkan baru
saja ia rayu untuk diajak makan.
Wanita itu pun buru-buru keluar karena takut saat melihat
perubahan wajah Al yang nampak berubah. Untuk menanyakan jadi atau tidaknya
makan siang nanti juga tidak berani.
“Siapa yang baru saja menelfonmu?”
Queen diam tak menjawab. Ia malah terlihat begitu sibuk
dengan berkas di depannya.
“Aku tanya sama kamu siapa? Jawab!”
“Anda bicara sama saya, Pak?” tanya Queen sambil meletakkan
berkas-berkas di tangannya dan memandang ke arah Al yang bahkan sejak awal
memulai bertanya pandangannya terus tertuju pada layar monitornya.
“Lalu, apa ada orang lain di sini selain kamu?”
“Kali saja anda video call.”
“Queen, kau ini kenapa, sih?” bentak Al sambil beranjak
menghampiri wanitanya lagi.
“Saya sedang bekerja, Pak.”
Al sangat kesal dengan tingkah Queen bahkan ia sampai
__ADS_1
menggebrak meja kerja yang digunakan Queen. “Apa kau sudah tidak menghargai aku
sebagai suami? Siapa yang menelfonmu barusan? Apakah itu Diaz? Atau pria lain?”
“deg!”
Jantung Queen rasanya berdetak cepat saat Al menyebut nama pria
yang masih ia cintai sampai saat ini. Bahkan aliran darahnya juga terasa
mengalir lebih deras.
“Jawab siapa yang barusan menelfonmu dan ingin bertemu
denganmu, cepat!”
Queen masih diam, ia hanya memalingkan wajahnya dari tatapan
Al.
“Aku tanya padamu sekjali lagi. Kau angap aku suamimu apa
bukan?”
“Kau kenapa bisa semarah ini, Al? Kita sekarang ada di
kantor. Aku Cuma mengangkat telfon, dan perbincangan kami juga termasuk wajar.
Lalu, bagaimana dengan dirimu barusan saat bersama Jenie? Apakah aku marah dan
berulah? Karena aku adalah istrimu saat di rumah, itupun hanya dihadapan para
sakti, selebihnya kau kakakku dan di sini kau adalah bosku.”
Al diam, ia kalah telak dengan jawaban Queen. Ia sadar, marah
hanya akan memperkeruh keadaan. Jika dia terus emosional membesarkan ego dan
cemburunya, bukannya mendapatkan cinta Queen. Yang ada wanita itu akan menggugatnya
cerai.
“Oke, baiklah. Kalau begitu, aku adalah bos mesum yang
tengah merayu stafnya. Dan kau tidak boleh menolak bos, atau dipecat,” ucap Al
sambil mulai mencium Queen.
“Hey, ini dikantor, jangan lakukan ini.” Queen mendorong
wajah Al menjauh darinya.
“Aku ini bos kamu, loh.”
“Baik, pecat saja saya, Pak,” jawab Queen masih
mempertahankan dirinya.
“Kreeeek!”
“Pak, hentikan ada yang datang. Ada yang membuka pintu,”
ucap Queen. Namun, sedikitppun Al tidak menggubrisnya. Ia tetap meneruskan aksinya
Sampai seorang pria yang berdiri di depan pintu itu
menegurnya. “Hey, pengantin baru, apakah semalam kalian gagal melakukan bulan
madu? Tunda saja dulu ayo! Tamu sudah menunggu kalian.”
“Bangsat kau Jun,” umpat Al, kesal sambil menjauh dari tubuh
Queen dan merapuhkan kemeja serta dasinya.
Sedangkan Queen ia justru menunjukkan ekspresi lega dan
memberi isyarat mata pada Juna ungkapan rasa terimakasih kerena telah
menolongnya kali ini.
Juna tersenyum penuh Arti saat menengok kebelakang melihat kea
rah Queen. Kemudia ia merangkul pundak
Al dan berkata.
“Rupanya kau belum bisa menakhlukan dia, ya? Elu maennya
kasar kali.”
“Diam kau!”
“Hahaha, aku serius, bro. Cewek itu lembut dan suka diperlakukan
dengan halu. Jangan maen kasar asal nikmat sendiri.”
“Lu ngomong sekali lagi, bakal gua lakban mulut loe, Jun.”
“:Ayolah, aku mengajarimu jadi pria yang baik, agar dia
luluh.”
“Tak perlu kau ajari aku sudah tahu, dalam waktu satu bulan
dia juga bakal jatuh dalam pelukanku.”
“Yakin?”
“Kau mengajakku bertaruh?”
“Oh, tentu saja tidak. Saat SMA, dia adalah adikku.”
“Sudah, lepaskan tanganmu, kita serius bekerja.” Al dan juna berjalan sejajar menuju ruang
pertemuan. Sementara Queen, ia berjalan di belakang dua pria itu sambil membawa
berkas-berkas yang nanti akan dibutuhkan.
** 123
Novita melihat suasana pagi yang terlihat mendung. Padahal
ini sudah pulkul Sembilan. Tapi, masih rerlihat seperti jam tujuh pagi saja.
“Nov, hari ini waktunya kamu control kandungan, kan? Kamu
mau berangkat jam berapa? Biar mama antar kamu.”
“Nanti Novi mau pergi sama Alex saja, Ma. Tidak apa-apa,
Novi takut mama kelelahan,” jawab Novita.
Meskipun suaminya sudah meninggal. Tapi, ia masih memiliki
hububgan baik dengan keluarga mendiang Aditya. Bahkan, semenjak ia kembali dari
Australia, ia juga tinggal dengan Livia, mama mertuanya.
“Apakah itu tidak akan mengganggu aktifitasnya?”
“Tidak, Ma. Lagipula, memang ada yang perlu Novi bahas sama
Alex, nanti.”
“Ya sudah, kalau begitu, cepat kau siap-siap, dan hati-hati
di jalan.”
Sekitar pukul setengah sebelas siang, Alex sudah tiba di
kediaman Novita. Tidak menunggu lama-lama Novita pun langsung mengajak adiknya
berangkat. Karena, menurut informasi yang dia dapat dari asisten dokter
kandungan yang akan ia datangi nanti, sekarang sudah mendekati nomor
antriannya. Kira-kira kurang tiga orang lagi.
“Lex, agak cepat sedikit, jika sampai kakak nantu telat, akan
menunggu urutan nomor satu lagi, dan kakak nomor empat puluh dua, nih.”
“Iya, Kak. Tenang, ini Alex juga cepet-cepet, kok.”
“Kaya gini kau bilang cepat? Apa perlu kakak yang menyopirnya?”
“Ih, biasanya aja kek gini kakak udah peringatin aku
sebanyak ribuan kali agar aku hati-hati dan lebih pelan. Apa ini bawaan bayi,
ya? Jangan-jangan keponakanku laki-laki lagi, dan dia jadi pembalap, hahaha.” Ucap
Alex. Sementara Novita memasang wajah sewot saat diledek oleh adiknya sendiri.
__ADS_1