Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 226


__ADS_3

Nayla sedikit gelagapan saat mengetahui papa mertuaya sudah


kembali dari rumah sakit. Dalam hati ia mengumpat, kenapa tidak satu orang pun


yang mengabariku, sih? Apakah keberadaanku di rumah sudah tidak lagi di anggap.


Nayla melihat Queen


nampak lebih cantik dari terakhir ia melihat sekitar satu bulan yang lalu.


Wajah wanita itu terlihat sangat cerah dan seolah mengeluarkan pancaran cahaya


putih. Terlebih saat ia menujukkan senyumannya dan berkata, “Selamat datang


kembali, papa.”


Vano tersenyum dan menoleh ke belakang dan mendongak melihat


ke arah putrinya.


“Karena papa sudah ada di rumah, kamu cepetan pergi ke


kantor, ya? Jangan biarkan clien besar menunggu kalian,” ucap Vano.


Queen pun berjongkok di depan kursi roda papanya dan


menyentuh kedua tangan pria itu. “Queen janji, setelah semuanya beres, Queen


akan segera kembali.”


“Apakah itu artinya kau akan meninggalkan apartemenmu,


Queen?” timpal Andrean.


“Tidak, maksutnya selama masa liburku, aku akan pulang


kerumah untuk menemani papa, Kek.”


Al pun bahkan juga ikut berjongkok di depan Vano, sejajar


dengan Queen. Andrean tersenyum seorang diri melihat mereka berdua, seolah


bagai pasangan pengantin yang bersungkem pada orang tuanya.


“Papa jaga diri, ya? Telfon kami jika ada apa-apa. Ya sudah,


kami berangkat dulu,” ucap Vano kemudian memandang ke arah Queen dan memberi


isyarat untuk mengajak berangkat.


Queen pun berpamitan pada papa dan kakeknya sambil mencium pipi


kedua pria itu dan juga tak lupa berpamitan pada bik Yul dan menyapa Nayla. Al


pun juga melakukan hal yang sama. Hanya saja, ia hanya melihat sekilas ke arah


Nayla dan mengabaikannya.


Di dalam mobil keduanya saling berdiam diri, untuk memecah


kesunyian, Queen menanyakan prihal hubungan Al dan istri pertamanya. “Kenapa


tadi tidak menyapanya?”


“Siapa?”


“Istri pertamamu.”


“Jadi, kamu sudah mengakui kalau kau adalah istri keduaku?”


Queen menghembuskan napas dengan kasar dan membuang muka kea


rah jendela.


“Aku malas dengannya. Sudah kubilang, aku hanya mencintai


kamu saja,” jawab Al dengan cepat begitu menyadari perubahan ekspresi Queen.


“Kau bosan dengannya? Akan lebih baik aku tetap datar


padamu, atau saat aku mulai mencitaiku kau juga melakukan hal yang serupa terhadapku.”


“Tidak akan. Itu karena kesalahan Nayla sendiri, dia terlalu


posesif tapi…. “ Al tidak meneruskan kalimatnya. Dalam hati ia berkata, ‘Hampir


saja keceplosan.”


“Tapi, apa?”


“Tapi gak mau intropeksi diri. Dia salah mencemburui wanita.


Gak seharusnya cemburu sama kamu, karena aku dituduh, aku kan jadi jatuh cinta


beneran sama kamu. Gimana dong? Kamu juga cinta sama aku, ya?”


Queen menahan senyumnya, kembali menoleh menghadap jendela


dan menutup bibirnya dengan jemari tangan kanannya yang letik begitu mendapati


ekspresi dan nada bicara Al yang sangat jenaka. Kemudian ia menoleh kea rah Al


yang nampak serius mengemudikan mobil.


“sudah sampai, ayo turun!” ajak Al sambil melepas sabuk pengamannya.


“Iya, aku bakal turun.”


Queen berjalan mendahului Al yang masih sibuk dengan apa


entah ia tidak mau tahu. Ia sengaja mepercepat langkahnya. Tapi, dengan cepat


Al sudah mensejajari langkahnya. Kemudian meneliplan jemarinya pada sela-sela


jari tangan Queen. Mereka berdua jalan bergandengan.


Perlahan Queen mencoba melepaskan gandingan tangannya dari


tangan Al. Tapi, Al menolah dengan mengeratkan jarinya dan menatap lembut kea


rah Queen.


“Ini di kantor,” ucap Queen saat pandangan mata mereka


saling bertemu.


“Kenapa memangnya? Jika perlu aku akan menciummu di sini dan


mengatakan pada mereka kalau kau adalah istriku.”


“Cukup, jangan cari masalah deh.”


“Baiklah.” Al teringat masih ada Jevin di sini. Jika saja


tidak… Tetap saja ia tidak berani blak-blakan. Sebab, itu hanya akan membuat


orang lain lain menilai Queen seperti perebut suami orang saja. Begitulah orang


luar kalau menilai hanya melihat dari sudut pandangnya sendiri tanpa tahu


bagaimana kebenarannya.


“Kamu tidak di tempat para staf lagi, melainkan satu ruangan


denganku.”


“Baik, Pak.”


“Eh, itu Queen, kan? Sudah satu bulan lebih tidak bekerja


kukira dia sudah resigin saja.”


“Lihat, dia sepertinya sangat akrab denbgan bos kita. Apa


jangan-jangan… “


“Apakah dia ****** yang menggoda pak Al sehingga menjadi


simpanannya?”


“Sebutan ****** tidak pantas untuknya. Justru pak Al yang


terlihat tergila-gila padanya. Apa kau tak pernah lohat bagaimana dia keluar


dari ruangan pak Al dan bergabung dengan para staf? Ayolah, jangan iri


menjadikan kita menjatuhkan seseorang.”


“Siapa yang iri sama dia? Ok aku tahu mengenai dia, dia


adalah seorang dokter. Harunya dia sudah sangat sibuk kenapa masih bisa ada


waktu datang kemari? Apakah dia kurang kerjaan?”

__ADS_1


“Sudahlah, bukan urusan kita. Bagus kalau Queen kembali


bekerja di sini. Jika pak Al adalah Singa buas, Cuma dialah satu-satunya pawing


yang mampu menakhlukannya.”


“Terserah kamu deh. Kurasa kau akan menjilatnya.”


“Coba katakana, apa yang kudapat dengan menjilatnya? Apa


dengan membaikinya aku bisa mendapatkan posisinya apa dengan begitu kau pikir


pak Al akan memandangku? Lihat saja Iren yang dipecat. Kurang apa dia selama


ini dan berapa tahun bekerja di sini? Dipecat Cuma karena berani mengusik wanita


pak Al. Ayolah, kita bekerja di sini cari gaji bukan cari muka, semakin baik


kinerja kita, jmaka semakin tinggi jabatan yang kita miliki.”


“Al, banyak sekali gossip mengenaiku.”


“Jika kau mau, aku pecat mereka yang membicarakanmu.”


“tidak perlu. Kurasa aku cukup membantumu menyelesaikan


tugas dari rumah saja.”


“Lalu, bagaimana jika aku digoda oleh para wanita, Sayang?”


protes Al dengan nada memelas.


“Hah, bagaimana? Ya seperti selama ini kau menghadapi dong!”


“Kan selama ada kamu mereka tidak berani godain aku, Sayang.”


“Kamu gombal! Sebentar lagi juga ada papa yang pasti akan


ikut terjun membantumu.”


“Baiklah, kalau begitu, kamu diam saja dirumah. Sibuklah


dengan urusanmu sendiri. Jangan pedulikan aku dengan wanita lain.”


“Itu hak kamu. Kalau memang mau mengoleksi wanitam=, kenapa


tidak dari dulu saja? Ngapain harus nunggu sampai tua,” jawab Queen.


“Maksutmu, aku ini sudah tua?”


“Ya, kau tua!”


Al yang mulai geram dengan Queen yang kian melantur


menghampiri wanitanya dan mencengkeram kedua bahu wanita itu dan mendekatkan


wajahnya. “Kau bilang apa barusan? Aku tua? Mari kiyta buktikan bagaimana


kemampuan pria tua ini, apakah masih bisa membuatmu… “


“Toook… Took… Toook… “


“Argh… Sial!” umpat Al kemudian ia menjauh dari tubuh Queen


dan kembali duduk di tempatnya dengan tenang sambil berlagak melihat kea rah monitor


pada komputernya dengan tampang serius.


“Masuk,” jawab Al dengan nada dingin, namun terdengar sexy.


Seorang wanita dengan pakaian ketat dan sangat mini seperti


kurang bahan berdiri di ambang pintu dan memamerkan senyuman dan tatapan


menggodanya pada Al. “Pak, ini  ada


beberapa berkas yang perlu anda tanda tangani. Sebelumnya jangan lupa dicek


dulu, ya Pak,” ucap wanita itu dengan nada manja dan diselingi dengan desahan.


Queen yang sama-sama wanita, mendengarkannya sangat jijik.


Ia jadi berfikir, ‘Ketika bicara saja dia begitu, bagaimana kalau pas lagi di


atas ranjang? Hahaha, bahkan gerakannya di depan pria saja juga seperti itu.’


Al melirik kea rah Queen yang berlagak tidak peduli, di


“Jenie, apakah kau ada acara nanti saat jam makan siang?”


“Oh, tidak, Pak. Ada apa?” jawab wanita itu dengan nada yang


dibuat-buat.


“Kita makan siang bersama.” Pada saat mengatakan hal itu, ia


melirik kea rah Queen. Namun wanita itu masih saja seperti tidak peduli. Bahkan


saat ponselnya berdering, dengan segera ia mengambilnya dari dalam tas dan


menjawabnya.


“Halo.”


“…. ‘


“Oh, oke. Tentu saja aku bisa.”


“… ‘


“Baiklah! Kau mau aku menunggumu di mana?”


“Hahaha, tentu saja tidak. Kenapa memang?”


“… ‘’


“baiklah-baiklah. Aku akan menunggumu nanti. Ya sudah, aku


masih sibuk saat ini, aka nada clien yang ingin bertemu setengah jam lagi.”


“… “


“Itu, kamu tahu. Ya sudah, jangan bikin aku disemprot oleh


bosku karena joke-joke mu ini. Simpan saja untuk nanti. Byeee!”


Al mengamati Queen dengan tatapan cemburu dan tidak suka. Ia


takut kalau yang menelfonnya barusan adalah teman prianya. Tapi, siapa? Kenapa


dia nampak begitu akrab? Apakah Gea suka bercanda dan humoris? Sepertinya


tidak. Lalu siapa yang menelfon wanitanya sampai membuatnya terlihat begitu


bahagia. Bahkan saat ia sudah menutup panggilannya saja senyumannya masih


tersisa , hingga ia menghidupkan komputernya.


“Jenie, kau cepat keluar!” usir Al pada wanita yang bahkan baru


saja ia rayu untuk diajak makan.


Wanita itu pun buru-buru keluar karena takut saat melihat


perubahan wajah Al yang nampak berubah. Untuk menanyakan jadi atau tidaknya


makan siang nanti juga tidak berani.


“Siapa yang baru saja menelfonmu?”


Queen diam tak menjawab. Ia malah terlihat begitu sibuk


dengan berkas di depannya.


“Aku tanya sama kamu siapa? Jawab!”


“Anda bicara sama saya, Pak?” tanya Queen sambil meletakkan


berkas-berkas di tangannya dan memandang ke arah Al yang bahkan sejak awal


memulai bertanya pandangannya terus tertuju pada layar monitornya.


“Lalu, apa ada orang lain di sini selain kamu?”


“Kali saja anda video call.”


“Queen, kau ini kenapa, sih?” bentak Al sambil beranjak


menghampiri wanitanya lagi.


“Saya sedang bekerja, Pak.”


Al sangat kesal dengan tingkah Queen bahkan ia sampai

__ADS_1


menggebrak meja kerja yang digunakan Queen. “Apa kau sudah tidak menghargai aku


sebagai suami? Siapa yang menelfonmu barusan? Apakah itu Diaz? Atau pria lain?”


“deg!”


Jantung Queen rasanya berdetak cepat saat Al menyebut nama pria


yang masih ia cintai sampai saat ini. Bahkan aliran darahnya juga terasa


mengalir lebih deras.


“Jawab siapa yang barusan menelfonmu dan ingin bertemu


denganmu, cepat!”


Queen masih diam, ia hanya memalingkan wajahnya dari tatapan


Al.


“Aku tanya padamu sekjali lagi. Kau angap aku suamimu apa


bukan?”


“Kau kenapa bisa semarah ini, Al? Kita sekarang ada di


kantor. Aku Cuma mengangkat telfon, dan perbincangan kami juga termasuk wajar.


Lalu, bagaimana dengan dirimu barusan saat bersama Jenie? Apakah aku marah dan


berulah? Karena aku adalah istrimu saat di rumah, itupun hanya dihadapan para


sakti, selebihnya kau kakakku dan di sini kau adalah bosku.”


Al diam, ia kalah telak dengan jawaban Queen. Ia sadar, marah


hanya akan memperkeruh keadaan. Jika dia terus emosional membesarkan ego dan


cemburunya, bukannya mendapatkan cinta Queen. Yang ada wanita itu akan menggugatnya


cerai.


“Oke, baiklah. Kalau begitu, aku adalah bos mesum yang


tengah merayu stafnya. Dan kau tidak boleh menolak bos, atau dipecat,” ucap Al


sambil mulai mencium Queen.


“Hey, ini dikantor, jangan lakukan ini.” Queen mendorong


wajah Al menjauh darinya.


“Aku ini bos kamu, loh.”


“Baik, pecat saja saya, Pak,” jawab Queen masih


mempertahankan dirinya.


“Kreeeek!”


“Pak, hentikan ada yang datang. Ada yang membuka pintu,”


ucap Queen. Namun, sedikitppun Al tidak menggubrisnya. Ia tetap meneruskan aksinya


Sampai seorang pria yang berdiri di depan pintu itu


menegurnya. “Hey, pengantin baru, apakah semalam kalian gagal melakukan bulan


madu? Tunda saja dulu ayo! Tamu sudah menunggu kalian.”


“Bangsat kau Jun,” umpat Al, kesal sambil menjauh dari tubuh


Queen dan merapuhkan kemeja serta dasinya.


Sedangkan Queen ia justru menunjukkan ekspresi lega dan


memberi isyarat mata pada Juna ungkapan rasa terimakasih kerena telah


menolongnya kali ini.


Juna tersenyum penuh Arti saat menengok kebelakang melihat kea


rah Queen. Kemudia  ia merangkul pundak


Al dan berkata.


“Rupanya kau belum bisa menakhlukan dia, ya? Elu maennya


kasar kali.”


“Diam kau!”


“Hahaha, aku serius, bro. Cewek itu lembut dan suka diperlakukan


dengan halu. Jangan maen kasar asal nikmat sendiri.”


“Lu ngomong sekali lagi, bakal gua lakban mulut loe, Jun.”


“:Ayolah, aku mengajarimu jadi pria yang baik, agar dia


luluh.”


“Tak perlu kau ajari aku sudah tahu, dalam waktu satu bulan


dia juga bakal jatuh dalam pelukanku.”


“Yakin?”


“Kau mengajakku bertaruh?”


“Oh, tentu saja tidak. Saat SMA, dia adalah adikku.”


“Sudah, lepaskan tanganmu, kita serius bekerja.”  Al dan juna berjalan sejajar menuju ruang


pertemuan. Sementara Queen, ia berjalan di belakang dua pria itu sambil membawa


berkas-berkas yang nanti akan dibutuhkan.


** 123


Novita melihat suasana pagi yang terlihat mendung. Padahal


ini sudah pulkul Sembilan. Tapi, masih rerlihat seperti jam tujuh pagi saja.


“Nov, hari ini waktunya kamu control kandungan, kan? Kamu


mau berangkat jam berapa? Biar mama antar kamu.”


“Nanti Novi mau pergi sama Alex saja, Ma. Tidak apa-apa,


Novi takut mama kelelahan,” jawab Novita.


Meskipun suaminya sudah meninggal. Tapi, ia masih memiliki


hububgan baik dengan keluarga mendiang Aditya. Bahkan, semenjak ia kembali dari


Australia, ia juga tinggal dengan Livia, mama mertuanya.


“Apakah itu tidak akan mengganggu aktifitasnya?”


“Tidak, Ma. Lagipula, memang ada yang perlu Novi bahas sama


Alex, nanti.”


“Ya sudah, kalau begitu, cepat kau siap-siap, dan hati-hati


di jalan.”


Sekitar pukul setengah sebelas siang, Alex sudah tiba di


kediaman Novita. Tidak menunggu lama-lama Novita pun langsung mengajak adiknya


berangkat. Karena, menurut informasi yang dia dapat dari asisten dokter


kandungan yang akan ia datangi nanti, sekarang sudah mendekati nomor


antriannya. Kira-kira kurang tiga orang lagi.


“Lex, agak cepat sedikit, jika sampai kakak nantu telat, akan


menunggu urutan nomor satu lagi, dan kakak nomor empat puluh dua, nih.”


“Iya, Kak. Tenang, ini Alex juga cepet-cepet, kok.”


“Kaya gini kau bilang cepat? Apa perlu kakak yang menyopirnya?”


“Ih, biasanya aja kek gini kakak udah peringatin aku


sebanyak ribuan kali agar aku hati-hati dan lebih pelan. Apa ini bawaan bayi,


ya? Jangan-jangan keponakanku laki-laki lagi, dan dia jadi pembalap, hahaha.” Ucap


Alex. Sementara Novita memasang wajah sewot saat diledek oleh adiknya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2