Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 165


__ADS_3

Sepulang dari bekerja, Aditya sudah disambut oleh anak istri dan juga ibunya. Mereka menyiapkan makanan kesukaan Adit, dan menikmati bersama penuh dengan suka cita.


Aditya merasa bahagia dengan hidup yang ia jalani, dan tidak sadar, kalau ini mungkin terakhir kalinya dia dan keluarga kecilnya bisa berkumpul, sebab, setelah besok mengantarkan sang ibu ke Bandung, keesokannya Novi dan Axel lah yang akan pergi.


"Gimana, Dit? Enak tidak? Seharian aku belajar masak ini sama mama, biar rasanya sama. Jadi, aq ga akan repot jika kau tiba-tiba kangen masakan mama," ucap Novita dengan senyuman yang tulus seolah tanpa beban.


"Loh, ini kamu, yang masak, Nov? Kirain mama." Aditya langsung mendaratkan sebuah kecupan di pipi kanan istrinya sambil tertawa. Artinya, jika begitu ia tengah merasa bangga pada Novi.


"Dit, Axel, sudah besar, apa tidak saatnya dia memiliki adik?" ucap Livia, sementara Novita hanya menunduk sambil menahan tawa.


Ia berfikir kalau ibu mertuanya sangat lihai dalam memainkan perannya. Padahal, atas usul beliau pula agar dia melakukan suntik kb tadi pagi, kawatir ada kecelakaan dengan Aditya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kini malam harinya malah sok-sokan usul adik untuk Axel.


"Gimana, mau hamil lagi tidak kamu?" ucap Aditya pada istrinya yang masih tertunduk. Ia mengira kalau Novita malu, dan mengambil kesimpulan kalau mamanya pergi ke Bandung agar dia kembali berbulan madu.


"Sudah, ah. Ayo kita makan dulu, keburu dingin nanti tidak enak, Lo," ucap Novita mengalihkan pembicaraan.


"Hahaha, dia malu, Ma."


Livia pun tersenyum dan memberi isyarat mata pada Novita. Sementara Axel, dia memang sangat cuek dg masalah seperti ini. Yang dia tahu hanyalah belajar belajar dan belajar. Lagipula dia juga sudah tahu kalau yang mama dan neneknya ucapkan hanyalah sebuah sandiwara kecil saja.


Dia mengerti diam-diam mamanya akan mengurus perceraian dengan papanya. Tapi, dia tidak tahu kalau papanya seorang Psycopath dan sudah melakukan banyak kejahatan. Yang bocah laki-laki yang hampir menginjak masa remaja itu tahu, mamanya tidak bahagia karena papanya hanya menjadikan dia pelampiasan. Yang dicintai bukanlah mamanya lagi, melainkan tantenya dulu. Tante Queen.


Diam-diam Axel pun juga sudah mengetahui tentang kamar rahasia papanya. Di sana banyak foto-foto Tante Queen yang terpasang, dan maneqin seperti manusia persis menyerupai tantenya. Tidak hanya itu, pada tubuh boneka itu, banyak sekali bekas sayatan dan bercak darah, jelas itu darah sang papa yang sengaja ditaruh pada boneka itu.


Beruntung Alex memiliki jiwa yang kuat. sehingga ia tidak terguncang dengan masalah sebesar ini. Dia tidak membenci Quen, karena wanita itu tidak tahu apa-apa. Dan tidak pula membenci sang ayah, hanya saja, dia tak bisa lagi menghormatinya. Meskipun tidak pernah melawan. Dia lebih menurut pada mamanya saat ini.


"Axel, apakah kau besok ada PR?" tanya Novita. Membuyarkan lamunan putra semata wayangnya.


"Ada, Ma. Matematika, habis makan malam temani Axel, ya?" jawab bocah itu, singkat.


Keceriaan Axel pun kini juga kian memudar bersama masa. Meskipun usianya baru menginjak dua belas tahun, tapi cara berpikirnya sudah dewasa.


Novita sudah menyelesaikan makannya lebih awal, ia memandangi putranya yang makan dengan lahap, ia ingin menjerit dan menangis sambil memeluk Axel, tapi, ia menahannya. Diam-diam dia menyesali keputusannya telah rujuk dengan mantan suaminya.


'Kasihan sekali kau, Nak. Dewasa sebelum waktunya. Andai saja mama dulu tidak meninggalkan papamu, pasti tidak akan seperti ini. Dan jika pun itu takdir, harusnya mama tidak se egois itu memaksanya untuk rujuk dengan mama, dan sekarang, untuk yang kedua kalinya kau menjadi korban lagi, harusnya mama biarkan papamu dengan Tante Queen. Dia wanita yang baik dan penuh kasih sayang, kau pasti akan terurus dan tidak akan menderita lagi seperti ini. Maafkan mama, nak,' batin Novita.


Tanpa sadar air mata wanita itu menetes, buru-buru pula ia menghapusnya agar tidak terlihat oleh mertua dan suaminya.


"Mama, aku sudah selesai makan, ayo temani Axel belajar," ajak bocah itu sambil menarik tangan mamanya.


"Eh, Axel. Iya Sayang. Sebentar, ya. Mama bereskan dulu piring-piring ini, kamu ke kamar dulu nanti mama menyusul setelah semuanya selesai, ok?"


"Emmm... Ok, baik mama." Bocah itu pun akhirnya menurut juga berjalan menuju ke kamarnya.


Novita hanya tersenyum dan geleng-geleng melihat tingkah putranya. Memang usianya belum remaja, dan seharusnya anak seusianya juga wajar kan kalau bersikap kekanak-kanakan.


Novita pun segera membawa piring dan sisa-sisa makanan ke dapur untuk di bereskan, sementara mama mertuanya lebih dulu masuk ke kamarnya, dan Aditya, ia sudah berpamitan mengoreksi hasil tugas dari para siswa-siswinya di kampus.


Usia mencuci piring, Novita segera menyusul Axel di kamarnya, ia melihat putranya yang nampak serius menghitung dengan jari.

__ADS_1


Perlahan Novita melangkah dan duduk di sebelah putranya.


"Bagian mana yang sulit, Sayang?" tanyanya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Sebentar, Ma. ini Axel kerjakan yang mudah-mudah dulu, nanti yang belum Axel kerjakan akan Axel lingkari, jika sudah mentok dan tidak bisa, barulah Axel tanya Mama," jawab bocah itu.


Novita tersenyum dan mengelus kepala anaknya, ia tahu, itu hanya alasan bocah itu saja agar memiliki lebih banyak waktu dengannya. Sebab, Novita paling tahu, kalau Axel itu paling menyukai mata pelajaran ini. baginya ini tidak sulit karena hukum dalam matematika adalah mutlak dan sudah pasti seperti halnya 9-4\=5 itu sudah pasti dan tidak bisa ditawar lagi, beda halnya dengan ilmu sejarah, Axel tidak begitu menyukainya tapi, dari kegemarannya membaca itu, dia mengerti banyak tentang sejarah, jadi saat ada ulangan harian yang diadakan oleh guru secara diadakan,dia selalu siap dan mendapat nilai yang memuaskan.


tanpa terasa tiga puluh menit sudah Novita menemani putranya mengerjakan pr. tapi, sekalipun Axel tidak terlihat menemukan kesukaran, ia malah hampir menyelesaikan seluruh soal yang ada.


"Sudah selesai? Bahkan sekalipun ku tidak bertanya pada mama, hebat memang putra mama ini, semuanya bisa terselamatkan dengan mudah dan cepat," puji Novita sambil mencium kedua pipi Axel.


"Hahaha, aku suka jika saat belajar dan mengerjakan tugas dari sekolah ditemani mama, rasanya lebih semangat, Ma. terimakasih, Ma sudah menemani Axel," ucap bocah itu sambil mengecup pipi mamanya.


"Ok, karena sudah beres mengerjakan PR, nya. Sekarang axel siap-siap tidur ya? Cuci tangan, cuci kaki, sama gosok gigi, oke?" ucap Novita sambil menggiring putranya menuju ke kamar mandi. Setelah semuanya beres ,Novita menemani putranya sebentar memasangkan selimut dan mematikan lampu kamar hanya menyalakan lampu tidur, lalu meninggalkan putranya yang sudah terlelap dan menuju ke dalam kamarnya sendiri.


Noviya mendapati kamarnya masih kosong, ia berfikir tentang suaminya jika tidak benar-benar mengoreksi hasil ulangan siswa siswinya di fakultas, paling juga sibuk dengan boneka sex nya.


Wanita itu tidak ambil pusing, ia langsung menuju kamar mandi, untuk menggosok gigi dan cuci muka.


barulah, dia mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur atau piyama. sejak kejadian itu Novita tidak pernah lagi mengenakan pakaian sexy untuk memancing birahi suaminya, bahkan merasa jijik dengan Aditya yang seperti itu.


Entah, benar-benar jijik atau tidak mau dijadikan bahan pelampiasan, Novita sendiri juga tidak tahu, saat tengah melayani Adita, bukan lagi kenikmatan yang dia dapat. melainkan rasa sakit yang dia dapat.


"Kreeeekk!"


Wanita itu menoleh ke belakang ketika mendengar suara pintu kamarnya terbuka, ternyata Aditya, ia masuk kamar dengan wajah yang lelah,tidak ada raut kepuasan di wajah suaminya selain letih dan stres akibat berfikir. jadi, Aditya benar-benar mengoreksi hasil ulangan siswanya. bukan karena urusan lainnya.


"Iya, sudah. Axel sudah menyelesaikan tugasnya?"


"Iya, sudah. Bahkan dia juga sudah tidur tadi, aku sempat menemaninya sebentar."


Aditya pun memeluk Novita danulai menciumi lehernya.


"Dit, istirahat saja dulu, besok kan kita ada perjalanan dan kamu yang nyopir, biar vit, oke?" Dengan perlahan, Novi mendorong lembut tubuh suaminya itu.


"sebentar, saja" rengek Aditya seperti bocah berusia lima tahun saja. tapi, wanitanita itu berhasil membuat Aditya menyudahi dan mau beristirahat ke oh awal.


tapi, sebagai gantinya, pria itu terus memeluknya selamalaman penuh, meskipun dia tidak tahu apa-apa, tapi, tubuhnya seolah sudah mengerti lebih dulu. dan setiap Novi terjaga, suaminya ada dan tak pernah melepaskan pelukannya. padahal biasanya setiap kali dia terjaga, pasti Aditya tidak ada.


🍁🍁🍁🍁


Keesokan paginya, usai sarapan, Aditya sekeluarga sudah bersiap hendak mengantarkan Livia ke tempat kakaknya.


tidak ada obrolan yang spesial di antara mereka, selain membicarakan Alex. lagi-lagi tanpa sengaja Aditya melihat mobil Alex dari spion tengah, dan dia pun bertanya kepada istrinya, "Nov, apakah Alex, tidak bekerja? emm makstdku, akhir-akhir ini apakah dia sering free day?"


Beruntung, Novita segera menangkap maksut suaminya, jadi, ia bisa langsung berpura-pura seolah-olah mereka tak lagi ada komunikasi.


"Aku tidak tahu, Dit. Emangnya ada apa?"

__ADS_1


"Tidak, cuma nanya saja, coba deh, kamu tanya lagi apa dia sekarang!" perintahnya.


"coba Aku telfon dia, ya?" ucap Novita sambil mengeluarkan benda pipih dari dalam tasnya.


"Nomor yang anda tuju sedang sibuk atau berada di luar jangkauan, tunggulah sesaat lagi!"


Novi me oleh ke arah suaminya dan berkata, "Tidak aktif, Dit. mungkin dia sedang mengajar di kampus."


"OOO, ya sudah." Aditya tersenyum kecil sambil mengangguk beberapa kali.


"Memang ada apa?" tanya Novita berlagak tidak tahu apa-apa.


"tidak, tidak ada, kok," jawab Adit.Tapi dalam hati ia tertawa, dan membatin, 'hehm, kau pikir kau sudah cukup hebat memata-matai diriku? kau kurang canggih, minimal, ya jangan pakai mobilmu sendiri, lah.'


Aditya bersorak merasa dia benar-benar berada di atas segalanya dari Alex, memang, sekilas Alex tidak mahir dakam urusan seperti ini. Tapi, setelah tahu sifat asli dan kebenaran dirinya, membuat Alex menjadi banyak belajar bagaimana cara mengelabuhi lawan, termasuk juga orang-orang di sekitarnya. Aditya tidak sadar bahwa yang mereka lakukan itu semua hanyalah sandiwara dan salah satu strategi yang sudah mereka susun secara matang sebelumya.


🍁🍁🍁🍁


Queen mengeliat malas di atas tempat tidurnya, sebenarnya ia masih sangat mengantuk, tapi cahaya matahari yang menembus korden begitu menyilaukan matanya. jadi, mau tidak mau ia pun harus bangun. terlebih, hari ini dia tidak libur.


dengan mata yang masih terpejam, ia pun masuk ke kamar mandi bahkan sempat memejamkan mata lagi ketika duduk di atas closed.


Rupanya dia benar-benar ngantuk berat, semalaman dia lembur mengerjakan tugas kantor dari kakaknya, sampai pukul dua dini hari. mungkin juga efek lelah, dan kurang tidur. Tapi, meskipun begitu ia tidak bisa seenaknya sendiri berangkat telat, ia harus tetap disiplin meskipun jika dia terlambat masuk, tidak ada yang akan memarahinya.


"Uh, jam. berapa ini? takut telat, ah kalau santai-santai gini," gumamnya lalu, ia pun mulai menyalakan shower air hangat, karena tidak kuat bila harus mandi dengan air dingin.


usai mandi dan memakai pakaian kerja, Quen turun ke bawah, semua orang sudah berkumpul di meja makan, hanya dia saja yang belum.


"selamat pagi, Kakek,kakak, Bilqis," ucap Quen nampak lemas dan terlihat kalau ia masih mengantuk.


sementara Al yang melihat kondisi adiknya hanya terkikik saja, ia ingat, semalam memberinya tugas banyak, dan dia malah meninggalnya tidur di kamarnya.


"Kamu seperti orang kurang tidur saja, Quen. Tidur jam berapa semalam?" tanya kakek Andrean.


"jam dua, kek." Berkali-kali Queen menguap sambil mengucek kedua matanya, terlihat jelas kalau ia masih benar-benar sangat mengantuk.


"Al, bagaimana adikmu bisa sampai semalam itu? Dan kamu malah enak-enakan bisa tidur? adikmu sekarang juga sudah punya tanggungan jawab mengabdi di rumah sakit, kamu harusnya mengerti itu, jika memang kau kelelahan, jangan bebankan pada, dia. kakek bisa bantu kamu. begini kalau dia tidak fokus, salah memberi obat, apakah itu baik?" omel Andrean panjang lebar.


Al sudah memprediksi ini, jelas kakeknya akan marah, tidak dia, atau Quen siapapun yang jail, pasti kena marah. tapi, Al tidak peduli. setidaknya dia sudah mengerjai adiknya dan ada kepuasan tersendiri.


"Maaf, kek. Ya sudah, habis ini kamu aku antar ke rumah sakit, ya? jangan nyetir sendiri bahaya," ucap Al kepada Quen.


"Tidak usah, Kak. Aku naik taksi online aja," jawab Quen dengan malas.


Karena menerima penolakan dari adiknya Al tahu, kalau Quen masih marah, hanya saja dia tidak memperlihatkan. Akhirnya ia pun berinisiatif pergi ke dapur membuatkan satu gelas kopi dengan tangannya sendiri khusus untuk Queen dan memberikannya saat semuanya masih berkumpul di meja makan.


"Maaf udah jail, semalam, kamu minum ini, ya. Anggap aja sebagai permintaan maaf kakak, Ok?"


Tanpa menjawab, Quen pun mulai menyeruput kopi itu secara perlahan Karen masih panas. tapi, setelah mencicipi dia berhenti, ia merasa aneh dengan rasa kopi itu.

__ADS_1


"itu namanya kopi jahe, biar kamu tetap fit dan gak masuk angin, makan yang banyak, ya?" bujuk Al.


Dengan muka cemberut Quen meneruskan minumnya, benar saja, badannya berangsur-angsur menjadi nyaman. bahkan, setengah dari sisanya ia mau membawanya ke rumah sakit untuk di minum di jalan katanya.


__ADS_2